I F**KED YOUR BOYFRIEND (INDONESIAN)
by Becklypark

DISCLAIMER
Story Belongs to Chanyeoboo and the original story is here
www wattpad com/167017442
(spasi diganti titik)

.

WARNING
Smut, MPREG! = Male Pregnancy, Cheating, abuse/dubcon, slight noncon

Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Oh Sehun, and Others

.


ANESTHESIA


.

[WARN!]
(CHAPTER INI FOCUS KEPADA FLASHBACK HUNHAN DAN DI SINI ADA SLIGHT PAIR YAITU XIUHAN,
CLOSE THE TAB IF YOU DON'T LIKE IT. BAD COMMENTS ARE NOT ALLOWED, I'VE ALREADY TOLD YOU BEFORE.)

.

"Kita bersama sekarang." Minseok bernapas pada rambut halus si pirang, ujung rambut yang menggesek kulitnya, menggelitiknya sesaat bibirnya lanjut menggumamkan kata-kata lembut. "Let our scars fall in love."

Luhan mengerjap sesaat yang lebih tua membawa tangan bertautan mereka menuju dadanya, jantungnya berdegup dengan kencang sebagai respon. Mereka terduduk di bawah sinar rembulan, seluruh tubuh mereka dilingkupi oleh selimut, dan dengan punggungnya yang menyadar pada tubuh Minseok.

"Kenapa kita melakukan ini..." berada diantara lengan si rambut cokelat kastanye, dia merasa utuh. Utuh namun disaat yang sama... tidak. "Kau terlalu b-baik."

Ujung bibir Minseok melengkung ke atas,

"Kurasa aku terjatuh terlalu cepat. Menyedihkan, bukan?" Apa maksudmu dengan 'terjatuh'? "Pada saat itu juga, aku melihat kehidupan telah meninggalkan mata indahmu, bahkan jika kau tidak mati sekalipun." Tetapi kita tidak terjatuh, Luhan ingin membalas.

Minseok mulai mengendurkan rengkuhannya pada si pirang yang rentan, membalikkan yang lebih muda dalam rangka untuk melihat wajah menakjubkannya sesaat Ia dengan pelan mendorong dirinya pada selimut kemah itu.

Dengan perlahan membelai pipi memerah Luhan dengan cara yang memuja, dia mengamati bibir tebalnya, kemudian matanya, kemudian bibirnya lagi, dan kemudian matanya sekali lagi untuk terakhir kalinya.

"Tapi k-kau terlalu tua daripadaku..." mereka dapat merasakan napas hangat yang menerpa wajah masing-masing. Bahkan di malam yang dingin membeku ini mereka dapat merasakan panas tubuh yang lainnya yang saling memancar keluar.

"Apa umur sangat penting, kah?" dia terkekeh pelan, harapan menyembul di dalam suaranya. Luhan mengerjap tercengang.

Wajah mereka berpisah beberpa inchi, kaki mereka saling mengayun-ayun mengenai yang lainnya sesaat mereka bergerak, membuat ritme mereka sendiri.

Ibu jari Minseok dengan perlahan menyapu bibir Luhan yang sedikit terbuka, dia terus menatap matanya dengan cara yang lebih lembut lagi pada lelaki yang berada di bawahnya, memberitahukan perasaan sesak yang dimiliki Luhan ketika dia mengetahui sesuatu yang intens akan segera terjadi.

Dia menjilat bibirnya dengan sugestif, dan Luhan tahu. Minseok bermaksud untuk mengikis jarak itu, untuk menyatukan bibir mereka. Dan Luhan membiarkannya.

Malam adalah miliknya, dan sebuah kesempatan adalah miliknya. Sesuatu yang terasa salah dan juga sangat benar tentang hal itu, cukup benar ketika Luhan menghentikan suara-suara peringatan di dalam kepalanya sesaat bibir mereka akhirnya bersentuhan.

.

.

Luhan mulai membebaskan diri atas sebuah dunia yang tak mengenal cinta dan ketidakberanggapan, setelah dia menyadari dirinya memiliki Tuhan yang nyatanya memilki rencana terbaik untuknya yang tak melibatkannya pada sebuah tangisan di malam hari atau quote-quote menyedihkan Pinterest.

Mengesampingkan semuanya; menjaga dirinya sendiri dari cangkangnya.

Juga tidak ragu untuk mendorong dirinya, cinta pertamanya, menuju laci paling bawah sistemnya, sebuah laci pembuangan. Laci yang berada disamping salah satu laci yang berdebu dimana Ia mengunci perasaannya; pikirannya.

Dia tahu perasaannya tidak akan sama lagi, tetapi dia tetap mengatakan pada dirinya dia akan baik-baik saja. Tetapi jantung bodohnya itu tidak mau berhenti kesakitan dan jika Luhan bisa menanggalkan otot tak berguna itu keluar dan menghancurkannya, dia akan melakukannya.

Tetapi Minseok dengan cepat melompat masuk – untuk melumpuhkannya, untuk membius rasa sakitnya.

"Kita mengerti bisa menjadi seberapa bahayanya sebuah topeng. Kita semua menjadi apa yang kita pura-purakan." Kata Minseok.

Ketika dia bersamanya, Luhan dapat merasakan dirinya menjadi lebih baik. Seperti halnya Minseok memunguti serpihan kehancurannya dan menyusunnya kembali bersama-sama, dan hell, Luhan bahkan tidak tahu dia melakukan hal itu. Mereka tidak pernah membicarakan tentang itu. Mereka tidak pernah pergi untuk terapi. Apakah mungkin 'cinta'?

"Let our scars fall in love," kata Minseok.

Minseok jatuh cinta padanya, mulai mencintainya dan itu mungkinlah cukup.

Cinta... Cinta... Cinta berbalas. Itulah cinta; memberikan dan menerima. Itulah yang Luhan pelajari. Cinta berbalas identik dengan sebuah hubungan yang sehat. Luhan dan Minseok sama-sama nyaman.

Dan Minseok belajar mencintai hati luluh lantahnya.

Minseok belajar mencintai hati kelamnya. Kekelamannya, hati yang hampa— tetapi kenapa hal itu terus menerus kelam dan hampa dan semuanya bewarna abu-abu?

Luhan merasa curiga terhadap cinta, dan dia merasa curiga tentang apa arti dari jatuh cinta.

Dan dia juga merasa curiga tentang apa arti dari rasa mempertahankan cinta untuk seseorang.

.

.

"Aku tahu itulah yang orang-orang katakan— kau akan mengatasinya. Aku juga mengatakannya. Tetapi aku tahu itu tidaklah benar. Oh, kau akan menjadi senang lagi, tidak pernah ketakutan. Tetapi kau tidak ingin lupa. Setiap kali kau jatuh cinta akan seperti itu karena sesuatu di dalam pikiranmu mengingatkan dirimu akan dirinya." Itulah yang mama pernah katakan.

.

.

.

Dengan yakin, tetapi dengan sedikit ketakutan dan kegelisahan, Sehun melangkah di sepanjang koridor, huruf-huruf dari text yang Ia dapatkan di internet pada hari yang lainnya berkilasan di matanya.

Artian mendasar dari seorang pria gentle, kau harus menunjukkan bahwa kau adalah seorang laki-laki yang mereka inginkan. Kau harus menunjukkan kekuatan, kau harus menunjukkan perasaan sayang, kau harus menunjukkan pengertian, kau harus menunjukkan kerendah hatian dan kau harus menunjukkan rasa menghargai. Kau harus menunjukkan kelemahan dan kerentanan pada mereka, kau harus membiarkan mereka masuk.

Dia tidak dapat membiarkan dirinya meleset kali ini. Mungkin dia masih bisa melakukannya. Mungkin Tuhan masih bersabar dengan mereka, mungkin mereka ditakdirkan dan dimaksudkan bersama, mungkin itu hanyalah sebuah pembatas sementara yang mereka miliki untuk menuju pada akhir pencapaian kebahagiaan mereka.

Sehun mulai percaya akan dirinya dan Luhan.

Dan Sehun tidak butuh ataupun menginginkan maafnya segera, dia akan merasa cukup dengan menyatakan terus terang cintanya pada lelaki rusa itu dengan menunjukkannya cinta.

Dagunya mengeras, Sehun mencari loker lelaki yang dimaksud dengan sebuah buket yang mempesona, kali ini bunga kamelia berwarna merah jambu, di tangan kanannya.

Tetapi matanya membidik pada sesuatu yang lebih penting, pada sesuatu yang jauh lebih penting.

Napas Sehun tercekat dengan menelan ludahnya kepayahan sambil dirinya mencoba untuk menggunakan kakinya yang-kini-goyah untuk bekerja.

.

Di sana lah dia. Si rambut pirang bak malaikat yang selalu berkilauan dan

Sehun mengambil sebuah langkah, dan langkah lainnya, dan langkah selanjutnya— kakinya saat ini bergerak dengan sendirinya – dengan hatinya yang tertoreh dengan tajam oleh si pirang yang lebih tua.

mempesona, wajah yang cantik ciptaan Tuhan—

Jantung Sehun berdenyut pada dadanya akan kedekatan yang berkembang.

oh, sedikit yang dia tahu akan dirinya sendiri bahwa dia benar-benar jatuh cinta padanya—

.

Dan itulah ketika waktu dan tempat serta jantungnya yang semula-berdegup-cepat berhasil berhenti dalam sekejap.

Luhan tersenyum, matanya memancar cahaya redup dengan sesuatu yang tak dapat Sehun jelaskan.

Terdapat seseorang yang bersamanya, seseorang yang saat ini tengah merengkuh pinggang lelaki rusa itu dengan begitu posesif. Seseorang yang terlihat lebih tua namun memiliki wajah muda, seseorang yang jelas-jelas bukan anak sekolahan.

.

Sehun dapat merasakan pada saat malam yang lainnya Luhan akhirnya memutuskan untuk menemukan seseorang. Oh, betapa bodohnya dia selama ini.

Sehun mengigiti bibir bergemetarnya, inikah cerita yang telah kita bicarakan?

Tetapi dia dan Luhan— mereka ditakdirkan bersama. Mereka. Dia tahu, Luhan akan datang kembali suatu hari— mereka hanya akan tertawa sepanjang satu hari itu, mereka hanya akan menggenggam tangan satu sama lain sepanjang malam karena mereka hanya ingin seperti itu.

Tetapi hal paling buruk bahkan bukanlah sebuah kesepian, melainkan dilupakan oleh seseorang yang tak akan pernah kau lupakan.

.

.

.

Pipinya merona dengan merah padam, Luhan terkikik pada seseorang lainnya sedikit malu akibat pujian.

"A-aku tidak cantik..." Dia dengan bijak menjawab. Tidak lebih cantik dari Byun Baekhyun.

"Ya, kau lebih dari itu, kita tahu." Minseok tersenyum lebar kekanakan, dan Luhan hampir berpikir, bagaimana bisa di dunia sialan ini, lelaki yang berada di depannya ini juga merupakan seorang pemilik sebuah perusahaan besar?

Yang lebih muda akhirnya memeluk tengkuk yang lainnya, menyatukan bibir mendamba mereka dengan cara yang begitu emosional dan dalam, tersenyum dengan tak terkendali sesaat melakukannya. Tidak mengetahui apapun tentang sepasang mata yang tengah tertegun pada pasangan itu.

.

.

.

Malam yang lainnya, rutinitas yang lainnya. Kulit mulusnya bersinar dengan berseri-seri di bawah cahaya rembulan yang memancar dari jendela besar. Luhan menggosok mata mengantuknya sesaat Ia mendapati dering ringtonenya.

Itulah saat Ia menyadari mereka dengan tenang tertidur di ranjang king-sized Minseok, CEO itu melingkupinya dibelakang, benar-benar tertidur, nyenyak dan sedikit mendengkur.

Aku bersumpah, siapa bajingan yang membuat panggilan di tengah malam seperti ini?, batin Luhan seraya menggapai ponselnya di atas nakas. Dia mencoba untuk melihat ID penelepon, tetapi layarnya bersinar terlalu menyilaukan dan menusuk matanya, maka dari itu dia hanya menjawabnya.

"Halo?" Ia menggerutu, tidak terlalu senang terbangun seperti pada pukul 3 pagi.

"Luhan?" Luhan seketika bangkit, melepaskan dirinya dari rengkuhan Minseok sesaat tangannya mulai bergemetar terhadapa suara familiar itu. Berhalusinasi.

Matanya terbelalak dengan kengerian, mulutnya menghalanginya dari membentuk setiap kalimat. Dia pasti berhalusinasi.

"T-tolong, katakan sesuatu." Dia...terisak...? "Ini menyakitkan... Luhan, ini menyakitkan seperti neraka." Sebuah napas bergemetar. "Aku ingin itu... p-pergi."

"Sehun," Luhan berterimakasih pada Tuhan suaranya berhasil tidak pecah. Jantung dengan keras berdebar-debar pada dadanya, mengancam untuk benar-benar hancur sesaat nama itu keluar dari bibirnya. Luhan mendidih dengan tak nyaman sesaat sebuah simpul ketat mulai terbentuk di dalam rongga perutnya.

"Apakah sangat terlambat," Sehun berhenti, menarik napas dalam-dalam, "sangat terlambat untuk meminta maaf?"

Luhan tidak tahu apa yang membuatnya merasa seperti ini. Semuanya sempurna sekarang!

Dia sangat baik...

Maka dari itu kenapa dia menangis saat ini.

"tidaklah terlalu terlambat untuk meminta maaf, tetapi terkadang terlalu terlambat untuk memaafkan."

Sehun terkekeh dengan sedih, "Ketahuilah ini, Lu; kapanpun kau berpikir untuk pergi, sebagian dari dirimu telah pergi. Tetapi tidaklah pernah terlambat untuk mendapatkannya kembali, kan?"

Tubuh Luhan mulai bergemetar kesakitan, pipi hangatnya dibanjiri air mata.

"Aku baik, aku bahagia sekarang!" Luhan menangis, tetapi dengan suara yang tak dapat membangunkan kekasihnya, dia mencoba untuk menata kembali dirinya lagi. "K-kita berakhir... kita berakhir, jadi kenapa..." dia mencoba untuk menata kembali dirinya lagi.

"Aku tidak bisa melupakanmu! Aku tidak bisa melupakanmu, Lu-Luhan," Sehun mulai menangis diluar kendali. "Tidak ada yang lain... dan hatiku terus memanggil tidak ada selain dirimu. Tidaklah terlalu terlambat untuk memperbaiki sesuatu, kan? Jadi kumohon..."

Dusta. "Sangatlah menyenangkan untuk belajar mengenalmu, tertawa bersamamu dan membagi sebagian dari diriku denganmu. Dan, tak ada yang perlu dikhawatirkan tentang keluargaku dan teman-teman. Aku mengatakan pada mereka bahwa aku telah bosan dengan 'hubungan' kita" Jadi berhentilah berbohong. Kau sudah cukup berbohong.

Luhan tidak mampu melakukannya lagi.

"Aku mendapatkan sebuah nasihat yang panjang, tapi tak apa. Kau berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik, ngomong-ngomong. Seseorang yang akan membuatmu terus tertawa karena apapun, dan aku minta maaf aku bukanlah orang itu, aku minta maaf kau telah menyia-siakan waktumu denganku." Aku hanya ingin bersamamu lagi. Aku ingin kau menjadi milikku, aku ingin mencintaimu lagi, aku ingin merasakanmu. "Kuharap kau akan menemukan seseorang yang akan kau cintai sebesar mereka mencintaimu karena kau berhak mendapatkan yang lebih baik."

"Hentikan omong kosong itu, Luhan!" tangisan Sehun sedikit menular.

Luhan lagi-lagi mendapati hatinya hancur seperti gelas. Selama berminggu-minggu dia dengan bodohnya mencoba meyakinkan dirinya bahwa dia baik-baik saja hanya untuk menenggelamkannya lebih jauh ke dalam penderitaan.

"Aku mencintaimu..."

"Apa yang salah tentang aku yang mencintaimu, k-kita bisa mencintai lagi. Kita bisa memulai sesuatu yang baru!"

"Kita bisa berpura-pura bahwa kita sempurna... kita bisa berpura-pura tidak ada bekas luka yang tertinggal sebelumnya..."

"Aku tahu apa yang benar, kau tahu aku benar... jadi kumohon percayalah aku... kumohon, ayo pergi."

"Aku sangat membutuhkanmu dan kau menjadi canduku dan kau tahu bahwa aku minta maaf..."

"Letakkan ponsel itu, baby."

Luhan merasakan tangan Minseok menyelusup disekitar pinggangnya dari belakang, yang lebih tua mencium lehernya dengan lembut sesaat tangannya mulai menjelajah di balik kaos yang lebih muda.

"Itu, kan? Kau menyudahi kita— kau dengan laki-laki lain sekarang. Aku akhirnya menghilang jauh-jauh. Itulah yang kau inginkan," Sehun mengacau, dan dia tahu dia akan menyesali semua ini.

"Letakkan ponsel itu, maka aku tahu semua itu benar."

.

.

Dan Luhan dengan bergemetar meletakannya, menyerahkan dirinya pada lelaki lebih tua yang berada di belakangnya setelah dia memutuskan panggilannya.

.

.

.

Minseok mungkin membius rasa sakit itu, tetapi dia tidak akan pernah berhasil menggantikannya dengan sesuatu yang lebih sepadan.

.

TBC

.


(a/n:) aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf tetapi drama ini masih akan berlanjut dan lebih lama dari hanya dua part. (mungkin karena kurasa jika aku mempercepat beberapa scenenya, plotnya akan jadi lebih membingungkan dibandingkan yang sudah-sudah lmao) tetapi kuharap kalian tidak keberatan.


(t/n:) jadi intinya, authornya bilang kalau drama hunhan ini akan sedikit lebih lama, dia pikir dua part udah bisa selesai, nyatanya ga bisa nanti malah buat pembacanya makin bingung kaya chap sebelumnya. Jadi mungkin masih ada beberapa part tentang drama hunhan ini. Semoga kalian bisa memahaminya, soalnya ini pun untuk kebaikan kalian juga, biar kalian ga bingung dengan alur yang terburu-buru, ok love? Buat yang gasabar sama chanbaek moment harap bersabar yaaa~


.

Translated by
©becklypark
www fanfiction net/~becklypark
(ganti spasi dengan titik)

Original Story
I F**ked Your Boyfriend by Chanyeoboo
www wattpad com/user/chanyeoboo
(ganti spasi dengan titik)

Copyright © 2015 chanyeoboo
All Rights Reserved

.

p.s. Thanks for read and reviews.