Sekolah semester ini terasa sepi bagiku. Tidak, maksudkku tidak seperti tiba-tiba murid-murid berkurang drastis sehingga sekolah jadi sunyi. Tapi, entahlah, rasanya agak berbeda saja.

Semester lalu kami sudah kehilangan Erica dan Boyd, serta tiga orang guru—lima orang guru kalau Victoria Argent dan Jennifer Blake dihitung. Beberapa minggu kemudian Allison dan Aiden menyusul.

Itu bicara soal warga sekolah ini yang tewas, belum yang pindah sekolah. Kalau pindah sekolah saja sebenarnya terdengar normal. Tapi untuk kasus Jackson, aku tidak yakin itu sesuatu yang disebut normal.

Jadi, yah, Jackson pergi ke London, karena aku memang tidak akrab dengannya jadi aku tidak dapat kabar apa-apa darinya, entah ia beri kabar pada Lydia dan Derek atau tidak. Habis itu ada Ethan. Ia benar-benar menghilang bak ditelan bumi. Lydia bilang setelah kejadian Aiden, Ethan 'menghilang' begitu saja, tidak ada kabar, telepon tak diangkat, pesan tak dibalas, dan ia sudah tidak pernah muncul di sekolah. Danny pindah sekolah juga, yang ini agak membuatku kaget. Dan terakhir adalah Isaac, dia memutuskan untuk tetap tinggal di Paris, kupikir Beacon Hills pasti adalah tempat terkelam untuknya—tempat di mana ia kehilangan orangtua dan kakaknya serta teman dan orang yang ia sukai—makanya ia tidak ingin kembali ke sini.

Dengan tidak adanya orang-orang itu, rasanya jadi berbeda, aku merasa tahun ajaran ini akan terasa tegang untukku. Aku tinggal berharap bisa menyelesaikan sekolah dengan selamat.

.

.

Disclaimer: Jeff Davis
Warning: Tidak menjanjikan Lime / Lemon yang baik, rated M hanya lebih kepada bahasa yang agak menjurus. Berusaha mengikuti alur canon. Agak Mary-sue. Seperti sinetron.

.

The Sister
Chapter 37

by Fei Mei

.

.

Derek mungkin khawatir kalau tiba-tiba aku masuk dalam kondisi Heat saat ia tidak ada di dekatku. Jadi setelah melihat Beta Scott tadi pagi, ia tidak langsung pulang, ia masih menungguiku di tempat parkir. Makanya waktu aku dengan Scott dan Stiles sudah menyelesaikan kelas-kelas kami hari ini, aku bisa menemukan mobil Derek di tempat parkir.

Kuputuskan untuk menghampiri mobilnya. Kedua pemuda yang keluar dari gedung sekolah bersamaku ternyata mengekori juga. Kuketuk pintu pengemudi, dan Derek membuka pintu itu, tersenyum lembut padaku. Ia turun dari mobil dan langsung mencium bibirku—ia baru berhenti menciumku saat Scott dan Stiles berdeham.

"Eh, oke, Val, kau akan pulang dengan Derek?" tanya Scott.

Aku melirik Derek dan kulihat ia mengangguk kecil padaku."Yah, sepertinya begitu," ujarku pelan.

"Ke rumah mana? McCall atau Argent?" tanyanya lagi.

Sebelum aku menjawab, Stiles buka suara duluan. "Bagaimana kalau ke rumahku?" tanya Stiles.

Aku menyerngit pelan. Kudengar Derek menggeram di sampingku sambil memeluk pinggangku, serasa itu sikap protektif dari Mate-ku. Sedangkan Scott langsung menjitak kepala sahabatnya.

"Hei! Kalian kenapa, sih?!" tanya Stiles tidak suka.

"Val pacarku, dia Mate-ku," geram Derek.

"Val adikku," kata Scott garang.

"Yah, Val sahabatku!" ucap Stiles tidak mau kalah. "Uh, kalian kompak sekali, sih ... "

Aku terkikik kecil. "Tidak, Stiles. Bukan Scott dan Derek yang kompak, tapi kalian bertiga—Scott, Derek, dan kau, Stiles—kompak."

"Aku kan, masih kangen!" pekik Stiles lagi.

"Dan kau pikir aku sudah tidak kangen?" tanya Scott.

"Tapi—"

"—Oke, kalian, cukup," kataku menghentikan perkataan Scott. "Aku mau masak untuk ayah dulu, sebelum ia jadi kebiasaan makan makanan siap saji. Tapi nanti malam aku ke rumah McCall."

"Mama ada shift di rumah sakit malam ini, jadi mungkin hanya ada papa nanti malam di rumah," ujar Scott, memberitahu. "Kupikir kau mungkin jangan nonton pertandingan malam ini."

Aku menyerngit."Kenapa?"

"Aku takut ada pembunuh bayaran lain di luar lapangan selain pembunuh bayaran yang ada di tim. Aku takut kau yang menjadi target atau salah satu incaran mereka malam ini," ujar Scott cemas. "Mungkin sebaiknya kau tetap di rumah saja nanti, atau kalau mau ke mana-mana, dengan Derek saja biar ia bisa menjagamu."

"Aku setuju dengan Scott," ujar Derek. "Kita tidak tahu kapan dan di mana mereka akan muncul. Tapi kalau kita tahu salah satu dari mereka akan beraksi malam ini di sekitar lapangan, sebaiknya kau mengungsi."

"Aku? Bagaimana denganmu, Scott? Bagaimana kalau malam ini mereka mengincarmu? Atau Kira? Liam? Kalian bertiga ada di lapangan bersamaan! Dan, oh, bagaimana mereka salah perhitungan dan malah kena Stiles?" tanyaku.

"Val, dengar," kata Scott dengan lembut. "Kami tetap di lapangan untuk menangkap pelakunya. Sebisa mungkin kami tidak akan sampai ditusuk Garrett."

Aku terus menyerngit. "Garrett?"

"Scott, kau keceplosan," dengus Stiles.

"Siapa Garrett?" tanyaku.

"Eh, dia ... ng, salah satu dari pembunuh bayaran, dia sekelas dengan Liam, anak tim Lacrosse," jawab Scott.

Scott mendesakku untuk jangan datang untuk menonton pertandingan malam ini. Akhirnya aku setuju juga dengan tidak senang. Aku tahu ia mengawatirkanku, tapi aku, kan ingin melihat mereka main Lacrosse lagi, kangen aku melihatnya.

Kakakku memelukku sebentar lalu mencium pipiku. Stiles ingin melakukan hal yang sama juga, tapi Derek langsung menarikku pergi saat Stiles baru memelukku sebentar.

.

.

Aku meminta Derek untuk menemaniku ke Supermarket sebentar, beli bahan makanan. Tentu saja, baru kembali ke Beacon Hills setelah dua bulan tidak di sini, tidak akan ada bahan makanan apa pun di kulkas—bahkan kami sudah mengosongkan kulkas saat kami akan ke Paris.

Derek menggandeng tanganku selama di supermarket. Rasanya sudah lama sekali sejak ia menemaniku belanja begini. Kuingat pertama kali ia menemaniku, waktu pulangnya ia mencium leherku di depan rumah. Itu pertama kalinya Derek beraksi di leherku. Sekarang? Ia bahkan sudah beberapa kali melihat tubuh polosku.

Habis membeli sayur dan daging, kami kembali ke mobil, dan Derek mengendarai mobilnya pergi dari tempat parkir.

Ayah memutuskan untuk pindah apartemen, ia bilang mungkin akan lebih baik untuk tinggal di apartemen yang lain karena apartemen yang lama akan mengingatkan kami tentang Allison. Jadi waktu kami di Paris, ia mencari apartemen baru untuk kami lewat internet. Makanya sekarang Derek tidak mengantarku ke apartemen yang dulu, aku sudah memberitahunya apartemen ayah yang baru. Dan karena kemarin aku tidak pulang ke sana, jadi kuyakin pasti masih berantakan sekali, soalnya kami harus menata ruangan dari sangat awal, alias apartemen itu kosong melompong awalnya.

Sewaktu pindah ke apartemen sebelum ini, Allison pernah bilang bahwa ayah hanya bisa menata barang-barang besar seperti lemari, ranjang, meja, dan lainnya. Allison-lah yang merapikan selebihnya. Berarti kemungkinan saat aku datang ke apartemen baru saat ini, barang-barang besar sudah ada yang tertata, tapi kardus-kardus belum ada yang dibereskan—kecuali kardus baju ayah.

Yah, benar tebakanku. Saat aku dan Derek masuk sana, kardus-kardus masih berserakan di lantai. Kutemukan ayah sedang memasang selang gas di dapur. Karena sepertinya dapur belum siap kupakai, kuminta Derek membantu ayah, sementara aku memutuskan untuk melihat ke kamarku dulu.

Kamarku yang baru luasnya mungkin sama dengan yang di apartemen sebelumnya. Bedanya adalah yang dulu kamarku sudah penuh dengan barang, yang ini baru ada ranjang, lemari baju, lemari buku, meja dan kursi belajar, dan sofa. Seprei belum terpasang, lemari dan rak masih kosong, meja belajar masih bersih dari barang apa pun, tapi untungnya ayah sudah memasang tirai di jendela.

Kami sudah menamai setiap kardus dan plastik sesuai dengan isinya—seperti 'alat masak', 'baju ayah', 'buku Val', dan sebagainya. Dan, ya, akulah yang menandai itu semua.

Kuambil kardus baju dan mengambil seprei. Habis memasangkan seprei, kurapikan baju, lalu beberapa kantong plastik besar berisi boneka. Karena tadi sudah kubilang pada ayah dan Derek untuk memberitahuku kalau mereka sudah selesai dengan dapur—gas, kompor, dan alat-alat masak—biar aku bisa langsung masak, jadi aku berniat merapikan kamar sebisaku sambil menunggu. Tapi saat tinggal kardus buku saja yang tersisa, ayah maupun Derek belum memanggilku. Memang sengaja kubiarkan buku-buku itu terakhir, karena aku tahu merapikannya sangat lama, soalnya aku harus menahan iman untuk jangan membaca disela-sela merapikan.

Aku pergi ke dapur, melihat ayah dan Derek sedang merapikan piring. Karena kulihat dapurnya sudah bisa kupakai masak, jadi aku ikut masuk ke dapur dan mulai menyiapkan masakan.

.

.

Setelah makan, ayah ke basement untuk merapikan alat-alat berburu dibantu Derek. Aku menyuci piring dan kembali ke kamar untuk mandi. Habis itu aku menata buku di lemari dan rak sambil menunggu Derek selesai—ia bilang akan mengantarku ke rumah McCall.

Benar sesuai yang kutakutkan, aku harus menahan godaan yang sangat besar untuk membuka buku-buku itu. Aku memang baru beberapa malam tidur di apartemen Argent waktu itu, tapi aku tidak sempat melihat satu-satu buku di rak. Saat aku mengepaknya saat itu, karena buru-buru, aku tidak begitu memerhatikan judul-judulnya, sekarang aku baru bisa melihatnya. Untungnya aku berhasil menahan diri untuk tidak membuka buku-buku itu walau hanya selembar halaman saja—atau bahkan membaca sinopsis di belakangnya.

Saat akhirnya selesai juga dengan buku-buku itu, aku menghembus nafas lega. Yah, sebenarnya yang tadi itu aku hanya menata sesuai dengan huruf awal saja, sih, belum kulap covernya.

Tiba-tiba aku merasa tubuhku jadi panas dan kakiku lemas. Kupikir mungkin aku terlalu lelah habis merapikan kamar, jadi aku memutuskan untuk duduk sebentar di ranjang. Kudengar pintu kamar terbuka, aku melihat Derek masuk ke kamar sambil tersenyum dan ia menghampiriku. Waktu ia menghampiriku, ia menyerngit kecil.

"Val? Kau baik-baik saja?" tanyanya. "Wajahmu memerah."

"A-aku baik-baik saja," jawabku gugup.

"Kau yakin? Bahkan matamu sayup dan berkaca-kaca," ujar Derek cemas.

Ia mengulurkan tangannya dan menyentuh wajahku. Tepat saat jemarinya menyentuh kulitku, aku merasa seperti ada sengatan listik. Sentuhannya membuatku kaget, dan aku mendesah kecil. Derek segera menarik tangannya dengan bingung, tapi kemudian wajahnya menegang.

"Astaga, kau sedang Heat?" tanya Derek pelan.

Ap-apa? Jadi ini rasanya Heat?

"Aku t-tidak tahu ... " cicitku.

Derek meraih tanganku dan menggenggamnya pelan. Aku mendesah lagi. "Kau terangsang hanya karena aku menyentuh kulitmu, Val," gumamnya. "Selangkanganmu basah?" Dengan pelan dan agak terengah, aku mengangguk pelan. "Yah, kau sedang dalam Heat ... "

"D-Derek—aku, eh, rasanya aneh—"

Ia mencium keningku. "Tidak apa, Val, itulah rasanya Heat."

"Kumohon—tolong bantu aku?" pintaku.

"Val ... aku sudah pernah bilang jangan melihatku begitu—"

"Derek—kumohon?" pintaku lagi.

Derek merutuk pelan lalu mencium bibirku sambil merebahkan tubuhku di ranjang. Ia ada di atasku, menciumku terus. Ia baru melepaskan bibirnya dariku saat ia melepaskan seluruh pakaianku sampai tubuh polosku bisa dilihatnya langsung.

"Putingmu sudah mengeras, Val, selangkanganmu sangat basah," gumam Derek.

Lalu ia mencium leherku dan menggigit-gigit di sana. Ciumannya turun ke dadaku, mulutnya menemui putingku dan dikulumnya puncak buah dadaku. Memang bukan pertama kalinya Derek melakukan ini padaku, tapi aku bisa mendengar desahanku lebih keras daripada biasanya.

Selesai dengan putingku, ia menuju selangkanganku, mencium-cium kecil di sana. Aku mengerang, karena aku ingin merasakannya ada di dalamku, bukan hanya di luarnya.

"D-Derek! J-jangan menggodaku—"

"Aku tidak menggodamu, Val," katanya. "Kalau aku menggodamu, aku akan melakukan ini—"

Ia menggunakan satu jarinya mengelus mulut vaginaku. Aku mendesahkan namanya.

"Kau ingin aku memasukkannya?" tanyanya.

Aku mengangguk lemah. Derek menuruti keinginanku, ia memasukkan jarinya ia masuk ke dalamku, lalu jari lagi menyusul sehingga kedua jari itu mengobrak-abrik di bawah sana. Desahanku makin hebat saat Derek mengganti kedua jarinya dengan lidahnya.

"D-Derek—aku tidak—aku tidak tahaaann!"

"Keluarkan saja, Val, aku mau semuanya," kata Derek.

Dan aku benar-benar mengeluarkannya sampai puas. Derek menegak habis cairanku, bahkan masih menjilat di sana seakan kurang. Aku berusaha mengatur nafasku yang begitu terengah-engah.

"Bagaimana?" tanya Derek lembut saat wajahnya ada di hadapanku lagi. "Tubuhmu masih terasa panas?" Aku menggeleng pelan dan ia mencium keningku. "Berarti Heatnya sudah selesai."

"Kau tidak memasukkan kejantananmu ... " gumamku pelan.

Ia terkekeh. "Kau ingin aku memasukkannya?"

Wajahku menghangat. "A-aku hanya memberi pernyataan, b-bukan berarti ingin!"

"Jadi kau tidak mau?" tanyanya sambil menyengir.

Sebal karena ia menggodaku, aku menarik tubuhnya dan kucium bibirnya. Derek membalas ciumanku dengan liar. Habis itu ia melepaskan kaos dan celananya, memamerkan kejantanannya yang sudah tegak, mungkin sudah tegak daritadi. Ia menarik selimut untuk menutupi punggungnya sambil ia pelan-pelan memasukkan penisnya ke dalam lubangku.

"K-kenapa selimut?" tanyaku sambil terengah.

"Aku tidak mengunci pintu kamarmu saat masuk tadi. Biar ayahmu jangan langsung melihat ini saat tiba-tiba ia masuk," kata Derek. Saat kejantanannya sudah masuk sempurna, kami sama-sama mendesah. "D-dan lagi, aku tidak yakin aku mau meninggalkanmu yang begini beberapa detik saja hanya untuk bangun dan mengunci pintu."

Derek menyatukan pinggang kami dan mulai menggoyang pelan pinggangnya. Aku menikmati sensasi kejantanannya yang keluar-masuk di bawah tubuhku. Ia menciumku, menemui lidahku dengan lidahnya, aku jadi bisa merasakan cairanku sendiri dari mulutnya. Aku terus mendesah di mulutnya. Aku—

"DEREK!"

Itu bukan suaraku. Itu suara laki-laki. Aku dan Derek kaget dan menoleh ke pintu. Aku termegap melihat ayah di sana dengan wajah sangat garang. Dengan cepat Derek menarik keluar kejantanannya—itu agak membuatku mendesah pelan—lalu ia kesampingku sambil aku menarik selimut sampai di leherku.

"A-ayah, sejak kapan—?"

"Baru saja," jawab ayah garang. "Derek, ruang kerja, satu menit," geram ayah lalu keluar kamar.

Derek langsung mencium cepat pipiku kemudian mengenakan celananya. Kulihat ia menaikkan resletingnya pelan-pelan, karena kejantanannya masih tegak di sana. Setelah berhasil, ia mengenakan kaosnya dan keluar kamar. Kuputuskan untuk aku mengambil pakaianku dan berniat mandi lagi. Tapi baru aku akan masuk kamar mandi, aku bisa mendengar suara bentakkan ayah.

"KAU MENANDAI PUTRIKU?!"

Yep, itu suara ayah.

.

.

Pacarku itu membawaku dan ayah ke sekolah, tapi bukan masuk ke gedungnya. Ia bilang keluarganya punya ruang penyimpanan di bawah gedung sekolah, yang pintu masuknya ada di papan nama sekolah. Derek menceritakan apa yang Kate lakukan terhadapnya, ayah ingin tahu apa yang diinginkan adiknya, jadi Derek pun membawanya ke sini.

Awalnya Derek tidak ingin membawaku serta, karena Scott sudah bilang agar aku tetap di rumah saja malam ini. Tapi aku berhasil membujuknya untuk membawaku dengan alasan tidak akan jauh-jauh darinya—lagipula Scott juga bilang kalau aku ingin kemana-mana harus dengan Derek. Jadi dengan berat hati, ia pun membiarkan aku ikut.

Dengan kuku serigalanya, Derek memutar sesuatu yang ada di samping papan nama sekolah, setelah itu papan tersebut bergerak dan menampilkan tangga untuk turun ke bawah. Derek turun ke bawah duluan, lalu aku, ayah terakhir.

Di sana hanya disinari cahaya remang. Ada banyak rak berisi peti atau toples atau kotak yang entah apa isinya. Di tengah-tengah ruangan ada brankas yang pintunya terbuka. Dugaanku uang 117 juta Dollar yang dicuri dari ruang penyimpanan ini diambil dari brankas tersebut.

Derek mengambil sesuatu dari rak, lalu menyodorkannya pada ayah. "Dia kemari untuk ini."

Aku ikut melihat benda itu. Bentuknya lingkaran dan pipih, tidak terlalu besar atau kecil, pas di tangan ayah. Ada bentuk triskele di tengahnya, seperti tato di punggung Derek.

"Kami memakai ini untuk mengajar Beta yang masih muda bagaimana mengontrol diri saat bulan penuh," jelas Derek.

"Mengontrol diri tidak pernah jadi kekuatan Kate," kata ayah sambil mengembalikan benda itu pada Derek.

"Kau tahu kalau dia hidup, kan?" tanya Derek.

"Tidak yakin, tapi aku langsung mencaritahu sejak kau memperlihatkan peluru itu," jawab ayah.

"Apa yang akan kau lakukan saat kau menemukannya?"

"Aku bisa membawanya ke suatu tempat yang kutahu bisa mengurungnya."

Aku menyerngit. "Kau punya semacam penjara untuk manusia serigala?"

Ayah mengangguk. "Semacam itu. Keluarga kita punya tempat yang seperti itu."

"Dia tidak akan menurut untuk ikut," kata Derek.

"Aku tahu," kata ayah, "aku akan melakukan apa saja yang perlu dilakukan."

"Bagaimana kalau aku memintamu untuk tidak melakukannya?" tanya Derek. Aku menyerngit lagi dan menoleh padanya. "Dia mengambil sesuatu dariku. Awalnya kukira hanya sesuatu dari masa laluku. Aku mulai kehilangan yang lain."

"Yang lain?" gumamku.

"Indra penciuman sebagai serigala. Aku kehilangan kekuatanku sebagai manusia serigala," ujar Derek, lalu aku melihat matanya menyala kuning.

Aku bingung, kenapa warnanya kuning? Bukankah itu harusnya biru? Spontan aku menghampirinya dengan pelan dan menyentuh lembut pipinya. "Apa yang terjadi?"

Derek menggeleng pelan, menemui tanganku di wajahnya dan mengusap punggung tanganku pelan dengan ibu jarinya. "Aku tidak tahu ... ini adalah warna mataku sebelum aku ... kau tahu?"

Aku mengangguk, tahu maksudnya.

Itu warna mata Derek sebelum ia membunuh Paige.

.

.

Setelah itu ayah memutuskan untuk pulang. Aku sudah janji pada Scott dan mama akan pulang ke rumah McCall malam ini, jadi Derek akan mengantarku ke sana. Kubilang pada Derek kalau aku akan ke toilet dulu. Toilet terdekat dari pintu depan adalah yang dekat ruang loker, jadi Derek menunggu di lobi depan.

Saat aku melewati ruang loker laki-laki, kulihat pintunya terbuka dan ada seseorang berseragam Lacrosse warna hijau tergeletak di lantai dengan posisi tengkurap. Kupikir ada sesuatu yang terjadi padanya. Jadi tanpa pikir dua kali, aku masuk ke sana untuk melihat keadaan orang itu. Baru saja aku masuk, tiba-tiba kudengar pintu ruangan ini tertutup. Spontan saja aku langsung menoleh ke belakang, melihat ada seorang gadis berkulit gelap dan rambutnya panjang sedang tersenyum licik sambil memegang semacam tali.

"Sebenarnya aku mengharapkan Alpha Sejati yang datang," katanya sambil berjalan pelan menghampiriku, sedangkan aku mundur. "Tapi Veela pun tidak apa."

Aku termegap pelan. Gadis itu tahu aku seorang Veela, dan ia tahu tentang Scott. Inikah salah satu pembunuh bayaran? Gadis yang mungkin seumuran aku ini?

"Aku selalu penasaran akan kemampuan Veela untuk menyembuhkan—tapi aku tidak pernah dengar seorang Veela bisa menyembuhkan dirinya sendiri," kata perempuan itu sambil tersenyum dan terus melangkah. "Aku tidak tahu bagaimana denganmu, tapi aku penasaran dengan seperti apa rasanya menguliti seorang Veela."

Ia memasukkan tangannya ke dalam jaket, menarik keluar sebilah pisau. Lagi-lagi aku termegap. Astaga, dia bisa jadi Kate Argent kedua!

Gadis itu melompat menerjangku, aku memekik pelan tapi berhasil menangkap tangannya sebelum pisau itu mengenaiku. Ia berusaha melepaskan tangannya dariku, berusaha menggoreskan benda yang tajam itu padaku. Sedangkan aku, aku hanya bisa menahannya, karena aku bingung. Aku tidak tahu apa yang seharusnya kulakukan—Braeden dan ayah tidak mengajariku bagaimana mempertahankan diri kalau akan diserang pakai pisau, mereka hanya mengajariku tentang bagaimana pakai benda itu. Berarti untuk saat ini aku hanya punya rencana untuk mengambil pisau itu dari tangan gadis ini. Masalahnya, bagaimana caranya?

Entah aku yang lemah atau dia yang kuat, kedua tangannya berhasil lepas dariku. Kini ia menerjangku sampai aku terjatuh di lantai. Dengan cepat ia menggunakan pisaunya untuk menggores lenganku. Langsung saja aku memekik kencang sambil mengisak sakit. Kupaksakan diriku untuk bangun dan mendorongnya. Berhasil, sih, tapi pisau itu malah menggores tanganku lebih parah sebelum akhirnya terjatuh ke lantai. Gadis itu terjungkal ke belakang. Kupikir itu adalah kesempatan untukku mengambil pisaunya.

Tapi aku salah perhitungan, aku melupakan tali yang ia pegang waktu pertama kali aku melihat sosoknya di ruangan ini. Jadi begitu aku mengambil pisau itu, ia bergerak cepat ke belakangku, menyekikku dengan tali yang ia punya.

Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana rasanya. Antara merasakan perih di lenganku, merasakan darahku yang mengalir di sana. Atau rasa sakit karena tali, atau mungkin benang, yang begitu erat di leherku sembari gadis itu menarik talinya ke belakang. Dan aku mulai merasa sesak. Aku menangis dan meronta, berusaha melepaskan tali di leherku.

Tiba-tiba kurasakan tali itu mengendur, tidak lagi menyekikku. Langsung saja aku terjatuh ke lantai. Belum sampai seluruh tubuhku menyentuh lantai, aku merasakan sepasang tangan besar menangkap tubuhku. Dengan agak buram, aku bisa melihat itu Derek, ia yang menangkapku di lantai. Lalu aku sempat melihat Scott dengan kasar menabrakkan kepala gadis yang menyerangku itu ke salah satu loker sampai pingsan. Waktu pandanganku jadi gelap, aku masih bisa mendengar suara Stiles yang memanggil namaku dengan keras, sebelum akhirnya aku kehilangan kesadaran.

.

.

Dengan susah payah akhirnya aku bisa membuka kedua mataku. Aku melihat ada mama dan Derek di sebelah kiri dan kananku. Dari bau yang bisa kucium, aku tahu ini pasti kamar rawat di rumah sakit.

Bisa kurasakan perih di tanganku—aku ingat gadis berkulit gelap itu menggoreskan pisau di sana. Aku juga merasakan sakit di leherku. Uh, secara tidak langsung aku jadi ingat tentang bagaimana Peter melemparku ke tiang sewaktu aku dan Jackson ada di toko kaset tahun lalu. Astaga, itu tahun lalu? Kupikir sudah bertahun-tahun lalu karena rasanya sudah sangat lama!

"Val, Sayang, kau baik-baik saja?" tanya mama dengan wajah cemas.

Aku mengangguk pelan sambil berusaha untuk duduk. Derek dan mama membantuku. Saat sudah duduk aku bisa melihat tangan kananku, yang kena tadi kena pisau, sudah diperban. Lalu leherku yang sakit jadi terasa agak perih. Kugapai leher itu dengan jemariku, dan bisa kurasakan bekas cekikan di sana.

"Itu akan sembuh, Sayang, janji," kata mama.

Kuanggukkan lagi kepalaku. "M-mana yang lain?" tanyaku dengan suara yang agak serak.

"Scott harus menjelaskan apa yang terjadi pada Sheriff dan para polisi. Stiles pergi menghampiri Lydia dan Malia karena katanya Lydia sudah berhasil mendapatkan daftar Deadpool kedua. Chris tidak bisa dihubungi. Papamu ikut mengurus kasus di sekolah," jawab Derek lengkap.

Mama menghela. "Jadi seorang pembunuh bayaran menemukanmu?"

"Dia hanya seorang gadis," gumamku. "Kenapa dia tega melakukan pembunuhan?"

"Karena orang bisa dibutakan dengan uang," jawab Derek pelan.

"Oh, bagaimana dengan anak yang berseragam Lacrosse itu?" tanyaku.

"Namanya Brett Talbot, ia sudah diracuni dengan Wolfsbane, sengaja dibiarkan di sana sebenarnya untuk memancing Scott," jawab Derek.

Aku mengangguk. "Gadis itu juga bilang begitu tadi. Bagaimana dengan Brett? Dia baik-baik saja?"

"Setelah menjelaskan pada polisi, Scott langsung membawa Brett ke Deaton dengan Peter. Aku tidak tahu bagaimana dia sekarang," aku Derek.

Mama membelai pelan pipiku. "Kau istirahat saja di sini, oke? Ada polisi yang berjaga di depan."

"Ada aku, kau akan baik-baik saja," gumam Derek padaku.

Aku tersenyum kecil padanya. Mama menghela, lalu mencium keningku dan keluar dari kamar. Begitu mama keluar, Derek mengecup lembut bibirku. Saat bibirnya lepas dariku, aku bisa melihat pipi kirinya merah. Aku menyerngit.

"Ada apa dengan pipimu?" tanyaku pelan sambil memegang pipi itu, rasanya masih agak sedikit hangat di sana.

"Tidak ada apa-apa," gumamnya sambil mengelus pelan tanganku itu.

"Aku tidak perlu punya pendengaran super untuk bisa tahu kau berbohong, Derek," ujarku.

Derek tersenyum pahit. "Mamamu menamparku dengan sangat keras. Aku tidak menepati janjiku untuk melindungimu dari segala macam bahaya. Ia marah dan langsung menamparku."

Aku tercengang, membayangkan bagaimana mama menampar Derek, padahal menurutku ini tidak termasuk salahnya—tidak ada yang tahu kalau aku akan diserang tadi. "Oh," gumamku sambil mengusap pipi itu dengan ibu jariku. "Maafkan aku ... "

"Bukan salahmu," ujarnya pelan sambil tersenyum kecil. Ia mencium bibirku lagi, kali ini lebih lama. Habis itu ia menatapku sedih sambil menempelkan keningnya padaku. "Aku sudah mencoba untuk mengambil sakitmu daritadi, tapi tidak bisa—tidak ada yang terjadi, aku tidak bisa mengambilnya, aku tidak mengerti. Maafkan aku."

"Aku tidak menyalahkanmu," bisikku.

"Melindungimu adalah tugasku, dan aku lalai," gumamnya. "Seharusnya aku jangan menunggumu di lobi, harusnya aku memastikan kau sampai di toilet dengan aman."

Aku terkekeh kecil. "Mungkin sebaiknya kau ikut masuk juga ke kamar kecil," kataku geli.

"Yah, aku akan melakukannya lain kali," katanya sambil tersenyum juga. Derek mencium hidungku, lalu keningku. "Istirahat, Val, tidurlah."

Kugelengkan kepalaku. "Aku tidak yakin aku bisa tidur, aku akan dapat mimpi buruk gara-gara ini ... "

"Aku akan ada di sini, di sampingmu, " ujarnya lembut. "Kalau kau dapat mimpi buruk, aku tinggal memelukmu. Kau akan baik-baik saja. Aku tidak akan kemana-mana."

.

.

Benar dugaanku, aku tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Sebentar-sebentar aku terbangun sambil terengah dari tidurku, dan Derek langsung bangkit dari kursinya untuk bilang aku baik-baik saja lalu mencium keningku. Ia tidak meninggalkan sisiku sama sekali, memegangi tanganku—tangan yang tidak diperban—sepanjang malam, atau begitulah yang kutahu karena ia selalu di sampingku setiap kali aku terbangun.

Terakhir kali aku terbangun, aku sempat melihat jam dinding yang menunjukkan jam lima, sudah pagi. Karena kali ini aku terbangun tanpa terengah-engah atau apa pun, Derek masih tetap tertidur di kursi. Tangannya terus memegang tanganku, kepalanya ada di ranjangku. Aku tersenyum kecil melihatnya, lalu kuulurkan tanganku untuk membelai lembut kepalanya.

Derek mengerang pelan sambil terbangun, tapi ia langsung tersenyum melihatku. "Hei," gumamnya.

"Hei," balasku.

"Mimpi buruk lagi?" tanyanya lembut sambil bangkit dari kursinya dan mengelus pelan pipiku.

Aku menggeleng. "Tidak, kupikir aku baik-baik saja."

Ia tersenyum dan mencium keningku, habis itu mencium lembut bibirku beberapa kali.

"Val—oh—" Itu suara mama.

Derek langsung melepas ciumannya, kami melihat mama sudah ada di pintu. Jadi Derek langsung memisahkan diri dariku.

"Oh, aku mengganggu?" tanya mama. Aku menggeleng sambil tersenyum gugup. Mama menghampiriku sambil membawa kantong plastik. "Mama bawa baju gantimu. Kau mau mama bantu membersihkan tubuhmu? Aku tidak yakin kau bisa mandi dengan tangan seperti itu." Aku mengangguk. "Baiklah, ayo, pelan-pelan."

Mama membantuku turun dari ranjang lalu membawaku ke kamar mandi. Pelan-pelan mama membantuku melepas bajuku—baju pasien—agar jangan terkena tanganku yang diperban. mama bilang habis mandi nanti ia harus mengganti perbanku.

Kulihat mama membantuku membersihkan diri dengan wajah lelah. Ia tidak tersenyum, tapi bukan berarti cemberut juga. Entah kenapa aku melihatnya begitu murung. Bahkan saat ia tersenyum kecil pun, aku bisa melihat betapa lelahnya ia. Tapi saat kutanya ada apa, mama hanya bilang ia baik-baik saja.

Selesai mandi, mama membantuku pakai baju ganti, bukan baju pasien lagi. Ia bilang Scott akan mampir sebelum pemuda itu pergi sekolah. Sekolah. Tanpa kutanya pun aku tahu mama tidak akan membiarkanku masuk sekolah hari ini.

"Kapan aku bisa pulang ke rumah?" tanyaku.

"Kalau bekas jahitanmu sudah boleh kena udara luar," jawab mama.

Aku melongo. "Jahitan?! Tanganku dijahit?!"

"Lukamu memang ada yang hanya terbeset biasa, tapi ada yang begitu dalam, dan bahkan ada bagian yang sobek," jawab mama.

"L-lalu kapan perbannya bisa dilepas?" tanyaku.

"Secepatnya besok pagi."

Aku mendengus pelan. Mama tersenyum kecil dan mencium keningku.

Keluar dari kamar mandi, aku melihat Derek sedang sibuk menelepon dengan ponselnya. Ia tersenyum begitu melihatku kembali, tapi sambungan teleponnya belum ia matikan. Mama memintaku untuk duduk kembali di ranjang biar ia mengganti perbanku. Saat mama mulai membuka perbanku, Derek langsung mengantongi ponselnya dan memegangi tanganku.

Setelah semua selesai, mama mencium puncak kepalaku dan keluar dari kamar, meninggalkanku dengan Derek lagi.

"Chris marah besar di telepon tadi," gumam Derek pelan.

Aku menyerngit. "Ayah? Tadi itu dia yang menelepon?"

Derek mengangguk. "Ia sudah dengar kabar tentangmu. Sama seperti Melissa, ia membentakku, tapi di telepon. Kalau ia ada di sini, dia pasti menghajarku."

"Itu bukan salahmu," dengusku. "Malah harusnya aku yang disalahkan. Scott menyuruhku untuk tetap di rumah, tapi aku malah ikut kamu dan ayah ke sekolah—tempat yang sudah pasti ada pemburu bayaran di sana."

Ia menghela. "Dan Scott juga bilang, kau harus denganku kalau ingin kemana-mana. Nyatanya, padahal ada aku, tapi aku tidak bisa menghalau kejadian semalam sampai kau terluka begitu."

"Derek—"

Pemuda itu memotong perkataanku dengan mencium lembut bibirku. "Aku mencintaimu," bisiknya.

"Aku juga mencintaimu," gumamku.

Ia tersenyum kecil. Kemudian aku mendengar suara pintu yang terbuka. Kami menoleh, mendapati Scott dan Stiles yang mulai masuk kamar rawat ini. Senyumku mengembang. Scott langsung berjalan cepat menghampiriku, dan aku langsung masuk dalam dekapan eratnya.

"Astaga, Val! Aku cemas sekali!" sahut Scott sambil memelukku.

Setelah puas memelukku, dengan agak tidak rela kakakku itu mundur dan memberi ruang biar Stiles bisa memelukku juga. Kali ini Derek tidak melarang atau membuat suara tidak suka saat putra tunggal Sheriff itu mendekapku. Kuharap ia tidak lagi-lagi merasa bahwa ini salahnya sendiri sampai membuat Scott cemas begitu.

"Mama tidak mengizinkanmu sekolah hari ini?" tebak Scott.

Aku mengangguk. "Mama tidak perlu bilang pun, aku sudah hapal tabiatnya."

"Bagus, karena aku juga tidak akan membiarkanmu sekolah hari ini," kata Scott.

Aku tersenyum kecil, lalu ingat tentang gadis yang menyerangku kemarin. "Bagaimana dengan pembunuh bayaran yang di lapangan? Kalian berhasil menangkapnya?"

"Tidak," jawab Stiles. "Garrett, anak Lacrosse itu, kerjasama dengan Violet, yang menyerangmu semalam. Di lapangan, Garrett meracuni Brett dengan senjatanya yang tersembunyi dalam stik Lacrosse-nya, biar Brett dikeluarkan dari lapangan, dan Violet bisa membunuhnya. Violet berhasil ditangkap, Garrett lenyap."

"Derek bilang kalian membawa Brett ke Dr Deaton, dia baik-baik saja?" tanyaku.

Stiles mengangguk. "Racunnya sudah dikeluarkan, dia baik-baik saja."

Aku memegang lengan Scott. "Gadis itu mengincarmu, Scott," ujarku pelan. "Berarti ia sengaja membiarkan Brett terkapar di ruang loker kemarin biar kau datang."

"Tapi kau yang masuk ke sana, lalu ia menyerangmu," geram Scott.

"Yah, yang itu salahku," gumamku.

"Kita harus berhati-hati—lebih berhati-hati lagi," kata Scott tegas. "Dan, Val, kau benar-benar tidak boleh kemana-mana seorang diri."

Kuputar bola mataku. Ini lagi. "Oke, jadi saat aku ke kamar mandi, harus ada yang ikut menemaniku?"

"Oh, aku mau menemanimu kalau mau," goda Stiles sambil mengedipkan sebelah matanya.

Scott langsung memukul kepala sahabatnya, dan aku bisa mendengar suara geraman Derek di sampingku. Langsung saja aku meraih tangan pacarku, mengusapnya pelan sampai ia menghembus nafas tenang.

"Aku becanda, kalian terlalu serius, sih," dengus Stiles.

"Baiklah, kami akan ke sekolah. Kau mau titip sesuatu? Pinjam buku apa di perpustakaan mungkin, kau sudah lama tidak pinjam, kan?" tawar Scott.

Aku menggeleng. "Mm, aku hanya ingin titip catatan pelajaran. Aku sudah tidak masuk kelas selama dua bulan, sehari masuk, lalu ada di rumah sakit. Aku kangen baca buku catatan."

Scott terkekeh pelan dan mengangguk, kemudian ia mencium keningku. Stiles ingin melakukan hal yang sama, tapi kali ini bukan Derek yang menghentikannya, melainkan kakakku sendiri langsung menarik pemuda itu keluar dari kamar rawatku. Nah, baru setelah mereka berdua keluar, Derek menggeram.

Aku menoleh pada pemuda itu sambil menyerngit. "Kenapa?"

"Stiles ingin menyentuh pacarku, jelas aku akan cemburu," dengus Derek.

"Dia teman baikku, Derek," kataku meyakinkan. Derek hanya mengangguk saja. "Kau yakin mau tetap di sini? Maksudku, aku sudah baik-baik saja, dan akan baik-baik saja."

"Kau mau mengusirku?"

"Bukan, bukan," kataku sambil menyengir kecil. "Maksudku, kau tidak ada hal lain yang ingin kau kerjakan? Kau tidak bosan ada di sini dan tidak melakukan apa-apa?"

"Kalau aku pergi, aku takut terjadi sesuatu padamu," ujarnya.

"Aku akan baik-baik saja," kataku lembut. "Ada polisi berjaga di depan, ingat? Dan kalau aku butuh sesuatu, aku tinggal panggil mamaku."

"Kalau mamamu, aku yakin. Tapi bagaimana kalau polisi yang berjaga itu adalah salah satu pembunuh bayaran?"

"Derek, aku akan baik-baik saja," kataku lagi. "Dan kau butuh istirahat. Walau hanya duduk terus, tapi kuyakin tubuhmu pasti lelah menjagaiku terus di sini."

Derek menghela. "Baiklah, oke, kalau itu maumu. Mungkin aku akan pulang, istirahat sebentar, lalu kembali ke sini." Aku tersenyum puas mendengarnya. "Oh, apa kau ada kontak dengan Braeden?"

Aku menyerngit. "Braeden? Tidak. Terakhir kali aku bertemu dengannya saat membawamu dan Peter kembali ke Beacon Hills. Aku tidak punya nomor ponsel atau alamat emailnya. Ada apa?"

"Ia dibayar Araya untuk memburu Kate dan dibawa ke Meksiko hidup-hidup. Aku dan Peter menjanjikan bayaran yang lebih besar biar Braeden menemukan Kate untuk kami. Tapi aku tidak dapat kabar apa-apa sejak ia pergi mencarinya."

"Braeden akan baik-baik saja," kataku. "Dia kuat dan cerdas, ia selalu tahu apa yang harus dilakukan jika sesuatu terjadi."

"Yah, aku hanya berharap uang yang kami keluarkan untuknya tidak sia-sia," katanya sambil menyengir kecil.

Aku tersenyum. "Braeden, dia perempuan yang cantik, kan?"

Derek langsung memutar bola matanya. "Val, tidak itu lagi, oke? Perempuan cantik mana pun tidak akan membuat cintaku padamu lenyap. Tidak akan. Aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu."

"Aku Mate-mu, Derek. Mungkin itu yang membuatmu tetap mencintaiku. Seandainya aku bukan Mate-mu—"

"Aku akan tetap cinta padamu," potong Derek dengan wajah kesal. "Kenapa? Karena kita akan tetap bertemu di hutan, Val. Karena meski kau bukan Mate-ku, Scott akan tetap digigit Peter, Inhalernya akan tetap tertinggal di hutan biar aku mengambilnya, lalu kau akan ikut Scott dan Stiles ke hutan untuk mencari Inhaler itu, lalu aku akan melihatmu. Semuanya akan berjalan dengan sama!"

Aku tercengang melihatnya seperti itu. Ia tampak garang. Ia tidak pernah menatapku seperti itu. Berarti aku telah membuatnya kesal. "Maafkan aku," ucapku pelan.

Ia menggeleng. "Tidak, aku minta maaf, seharusnya aku tidak membentakmu. Kau benar, aku harus istirahat."

Sebelum aku mengatakan apa-apa lagi, Derek mencium pipiku dan langsung berjalan cepat keluar dari kamar ini. Bagus, aku telah membuatnya benar-benar kesal.

.

.

Sekitar jam sembilan pagi, ayah datang. Ia agak terkejut melihatku seorang diri di kamar ini, ayah sampai menanyai keberadaan Derek—karena ia pikir Derek menjagaiku di sini. Kubilang saja bahwa aku meminta pemuda itu pulang dan beristirahat, tentu saja tidak kubilang bahwa aku membuatnya kesal sampai ia benar-benar pergi keluar dari kamarku.

Ayah terus menemaniku di kamar ini sampai sekitar jam sebelas siang. Saat itu mama masuk kamar sambil membawa nampan makanan. Di belakang mama ada papa. Dan, yah, ini jadi canggung. Terakhir kali mama, papa, dan ayah ada di ruangan yang sama mungkin adalah saat mereka memberitahuku bahwa nama asliku adalah Argent, bukan McCall. Aku hanya menggigit bibir, bingung harus mengatakan apa, jadi aku diam saja melihat mereka bertiga saling tatap.

Akhirnya ayah berdeham. "Baiklah, ada sesuatu yang harus kukerjakan. Aku akan kembali lagi kalau sempat." Aku mengangguk dan ayah memelukku sebentar sebelum pergi.

Setelah ayah keluar dari kamar, barulah mama dan papa menghampiriku sambil menghembus nafas. Mama menaruh nampan di konter sebelah ranjangku, sementara papa langsung mencium puncak kepalaku.

"Tangan dan lehermu masih sakit?" tanya papa.

"Leherku masih agak perih, tanganku masih agak sakit, tapi kupikir aku masih bisa bertahan hidup," jawabku.

Papa tersenyum mendengarnya. "Violet akan dapat hukuman yang amat sesuai untuknya, aku jamin. Garrett pun sama."

"Kalian sudah mendapatkan Garrett?" tanyaku.

"Belum, polisi masih mencarinya. Tapi yang pasti, malam ini Violet akan dihukum," jawab papa.

"Oke, baiklah, kau makan siang dulu, Val," kata mama sambil memasangkan meja di ranjangku dan menaruh nampan makanan itu di meja di hadapanku. "Mana Derek?"

"Ah, oh, dia—kuminta ia pulang dan istirahat," jawabku.

Mama hanya menyerngit. "Kalian tidak bertengkar, kan?"

"Ap-apa?" tanyaku kaget.

Papa menghela. "Apa lagi yang ia lakukan selain membiarkanmu terluka?"

"Tidak ada!" ujarku. "Kami tidak bertengkar! Kami hanya—eh, aku membuatnya kesal."

"Kau membuatnya kesal?" tanya mama.

Aku mengangguk. "Derek meminta seorang ... seorang gadis, Braeden, untuk mencari sesuatu. Kubilang pada Derek kalau Braeden perempuan yang cantik, lalu Derek dengan kesal bilang bahwa ia akan tetap, eh, mencintaiku. Aku membuatnya kesal."

Kali ini mama yang menghela. "Baiklah, baiklah, kau makan dulu, habis itu papamu akan pergi ke kantor lagi, dan kau bisa curhat padaku."

"Apa? Kau mengusirku dari kamar putriku?" tanya papa.

"Biar Val bisa curhat, Raf. Itu akan jadi pembicaraan perempuan," tegas mama.

.

.

Derek tidak kembali ke kamarku sama sekali. Aku sudah coba meneleponnya untuk minta maaf, tapi ia tidak mengangkat ponselnya sama sekali. Entah sudah berapa kali aku menelepon ke ponselnya, tidak sekali pun ia menjawab. Mungkin ia tidak hanya kesal, tapi memang marah.

Satu hal yang tidak kumengerti adalah, kenapa ia harus kesal saat aku bilang Braeden cantik? Apa salahnya dengan pernyataan itu? Aku hanya memberitahukannya apa yang ada di pikiranku, karena menurutku perempuan yang satu itu memang cantik, seperti Lydia, atau Allison.

Aku mendengus pelan, karena tidak dapat paham tentang apa yang terjadi tadi pagi. Yang kutahu hanya aku salah dan harus minta maaf.

Bosan di kamar terus, aku memutuskan untuk keluar. Mama bilang aku belum boleh keluar dari rumah sakit, bukan berarti aku tidak boleh keluar kamar, kan? Jadi aku keluar kamar seorang diri, berniat hanya jalan-jalan saja di sekitar koridor. Tapi baru sekitar beberapa menit berjalan di lantai satu, aku melihat beberapa petugas berseragam putih berlari menuju pintu depan. Aku menyerngit dan berjalan cepat menyusul mereka, ingin melihat apa yang terjadi.

Aku termegap saat melihat dua ranjang pasien di dorong masuk dari luar. Itu bukan dua ranjang kosong, tapi masing-masing di atasnya berbaring pria yang terluka dan sama-sama tidak sadarkan diri. Aku makin termegap saat kutemukan dua pria itu adalah Sheriff dan papa.

"Val, Val, apa yang kau lakukan di sini?" tanya seorang suster yang menghampiriku. Kalau tidak salah namanya Sandra.

"A-aku bosan di kamar dan—" aku menggeleng, "apa yang terjadi pada mereka?"

"Katanya, mereka sedang ada di mobil untuk membawa Violet, lalu ada serangan. Violet dibawa kabur oleh siapa pun yang menyerang mobil itu, lalu Sheriff dan Agen McCall kena serang," jelas Sandra cepat.

"Mana mamaku?" tanyaku lagi.

Ia menyerngit. "Dia sudah pulang, Val, bukannya dia ada memberitahumu sebelum ia pulang tadi?"

"Ah, ya ampun, aku lupa," kataku.

"Oke, aku tahu kau mencemaskan papamu, sekarang, tapi kau harus kembali ke kamarmu, ya?" ujarnya lembut.

"Aku ingin melihat papa," kataku.

Sandra menghela. "Papamu akan diobati dulu, baru kau bisa melihatnya. Aku yakin mereka tidak akan membiarkan siapa pun menemuinya."

Dengan berat hati akhirnya aku membiarkan Sandra mengiringku kembali ke kamar rawatku.

.

.

Malam itu aku hampir tidak bisa tidur sama sekali. Mungkin kalau ditotal, jumlah jam aku berhasil terlelap hanya sekitar dua jam. Sisanya aku hanya tidur-tiduran atau berusaha untuk tidur. Tapi aku sangat sulit tidur, dan sering terbangun hanya untuk mendapati aku baru terlelap selama beberapa puluh menit.

Tidak ada mimpi buruk, aku hanya kepikiran soal papa dan Sheriff. Tapi ketika aku terbangun dengan tiba-tiba, tidak ada Derek yang bisa menenangkanku seperti malam sebelumnya.

Derek masih tidak kembali. Dia pasti benar-benar marah.

Waktu aku terbangun lagi, telingaku menangkap suara rintik hujan besar di luar sana. Aku menoleh ke jendela, memang hujan deras dan bisa kulihat pepohonan bergoyang karena angin. Kuharap itu bukan gara-gara aku, melainkan fenomena alam biasa.

Kulirik jam dinding, ternyata sekarang sudah jam tiga subuh. Aku menghela, sudah agak lelah untuk berusaha tidur lelap. Jadi aku bangkit dari ranjang, keluar dari kamar, agak mengendap ke kamar rawat papaku di lantai satu.

Kubuka pintu kamar papa perlahan. Papa tidak bergeming, ia terus menutup matanya dan tertidur. Mungkin ia dibius atau apa biar tertidur, aku tidak tahu. Tapi yang pasti sampai aku ada di sampingnya pun, ia tidak terbangun. Selimut menutupi sebagian besar tubuh papa, aku hanya bisa melihat bagian leher dan kepalanya saja. Tapi aku bisa melihat bekas luka di dahi papa—kuharap itu hanya goresan biasa.

Aku meraih kening papa, di dekat lukanya, mengusapnya pelan sampai luka itu hilang. Kuharap tidak ada luka lain di tubuhnya. Usai itu aku mengendap keluar dari kamarnya, sekarang pergi ke kamar rawat Sheriff yang ada tepat di sebelah kamar papa.

Berbeda dengan posisi selimut papa, selimut Sheriff hanya sebatas dadanya saja. Aku bisa melihat tangannya banyak goresan-goresan yang tidak dalam. Jadi aku menggenggam satu tangan Sheriff, kuusap punggung tangannya dengan lembut sampai kulihat goresan-goresan di tangannya hilang. Sama seperti papa, Sheriff tidak terbangun, berarti keduanya diberi obat yang sama.

Rumah sakit tidak pernah sepi, aku sadar itu. Mau jam berapa pun, akan ada suster dan dokter yang mondar-mandir. Akan ada pasien yang mendatangi suster untuk minta sesuatu. Ada orang-orang yang keluar masuk lewat pintu depan, mau jam berapa pun, seperti saat subuh begini.

Baru berjalan beberapa langkah dari kamar papa, aku mendengar suara Derek dari arah pintu depan.

"Dia tertembak!" seru Derek. Aku menyerngit dan langsung berlari ke pintu depan. "Kurasa ia sekarat!" seru Derek lagi.

Begitu aku sampai di pintu depan, aku melihat Derek menggendong Braeden yang sedang merintih. Beberapa suster langsung datang sambil membawa ranjang pasien. Perlahan Derek membaring Braeden di atas ranjang, membiarkan perempuan itu dibawa para suster.

"Apa yang terjadi?" Itu suara mama, menyuarakan apa yang kupikirkan. Tunggu dulu, mama? Ia sudah datang ke rumah sakit lagi? Mama menghampiri Derek bersamaan denganku, ia menoleh padaku. "Val kenapa kau di luar kamar?"

"A-aku habis mengunjungi kamar rawat papa dan kamar rawat Sheriff," jawabku jujur.

"Oh, astaga, harusnya aku tahu," kata mama, lalu ia melirik Derek. "Apa yang terjadi?" tanya mama lagi.

"Tidak, tidak di sini," kata Derek sambil agak terengah. "Kamar Val."

Aku dan mama mengangguk, jadi kami bertiga ke kamarku. Masuk kamar, aku langsung mengambil handukku dan kuberikan pada Derek biar ia mengelap tubuhnya yang basah karena hujan.

Sambil mengelap, Derek bilang bahwa ia dan Malia menemukan sebuah Pack di hutan, yang anggotanya sudah tewas semua di sana. Tewasnya pun seakan kena racun. Saat Derek mau meninggalkan Pack itu, tiba-tiba ia melihat Braeden yang masih bernyawa tapi ada bekas tembakan di tubuhnya. Jadi Derek membawa Braeden ke rumah sakit, sedangkan Malia pergi untuk menginformasikannya ke Scott.

"Pack Brett?" tanyaku.

Derek mengangguk. "Tapi yang kutemukan di sana hanya para Beta. Alpha-nya tidak ada."

"Kau tahu siapa Beta-nya?" tanya mama.

Ia mengangguk lagi. "Namanya Satomi. Dia seumuran dengan ibunya Kira, atau mungkin lebih tua."

"K-kau seharian di hutan mencari Pack itu dengan Malia?" tanyaku pelan. Derek mengangguk. "Kenapa kau tidak mengangkat teleponku?"

"Kau meneleponku?" tanyanya.

"Ya! Apa kau sebegitu kesalnya sampai tidak mau mengangkat teleponku?" tanyaku tidak sabar.

"Ya ampun, maafkan aku, Val," kata Derek. "Waktu sampai di hutan tadi, aku berniat untuk mengabarimu kalau aku mungkin akan mengunjungi lagi malam-malam, tapi saat itu aku baru sadar ponselku tertinggal di rumah. Jadi kupikir aku akan mencari Pack itu dengan cepat biar bisa mengunjungimu lagi, tapi ternyata malah begini."

"J-jadi kau tidak, eh, marah?" tanyaku.

"Tentu saja tidak, aku mana bisa marah padamu," ujarnya lembut sambil menatapku sedih.

Mama berdeham. "Oke, baiklah, aku akan meninggalkan kalian untuk—untuk apa pun. Oke." Ia pun benar-benar keluar dari kamar, meninggalkanku dan Derek di sini.

"Aku minta maaf, Derek," kataku pelan setelah mama keluar. "Aku membuatmu kesal. Aku tidak tahu itu membuatmu begitu marah padaku."

Derek meraih tanganku dan menggenggamnya erat. "Aku tidak marah, Val," ujarnya lembut, "aku hanya tidak suka dengan, yah, bagaimana kau terlalu merendahkan dirimu. Kau selalu membanding-bandingkan dirimu dengan perempuan lain. Aku tidak tahu apa tujuanmu, tapi bagiku kau seperti sedang mendorongku untuk berhubungan dengan mereka.

"Soal Mate dan cinta itu adalah dua hal yang berbeda, serius. Kita bisa jatuh cinta pada siapa pun, tidak mesti pada Mate sendiri. Kita bisa memilih untuk hanya bersahabat dengan Mate yang ditakdirkan, lalu menikahi orang lain yang kita cintai. Untuk kasusku, aku jatuh cinta pada Mate-ku sendiri—padamu, Val.

"Aku tidak marah. Mungkin lebih tepatnya, aku hanya kesal, karena kau seakan menuduhku, bilang bahwa rasa cintaku padamu itu hanya karena istilah bodoh bernama Mate," jelasnya. Derek mencium keningku. "Aku mencintaimu," bisiknya.

Kutarik wajahnya, kutempelkan bibirku pada bibirnya, kucium dia. Derek lansung merespon. Ia membalas ciumanku dengan agak liar, menarik tubuhku agar lebih menempel padanya, lalu satu tangannya ada di kepalaku seakan tidak ingin melepas ciuman ini.

.

.

Perbanku akhirnya dibuka oleh mama, dan katanya aku boleh pulang, asal dengan Derek atau pokoknya harus ada yang menjagaku. Tapi kuputuskan untuk tetap di rumah sakit. Bukan, bukan untuk menunggui papa atau Sheriff sampai keduanya sadar, tapi untuk memastikan Braeden baik-baik saja.

Papa dan Sheriff sudah terbangun dan keduanya diizinkan pulang. Kudengar dari mama, keduanya hanya mengalami luka-luka kecil dan mengalami sedikit syok, tidak ada yang serius. Dokter agak bingung waktu melihat luka atau goresan-goresan yang kedua pria itu punya sekarang sudah hilang. Sheriff dan mama mungkin sudah tahu kalau itu ulahku, Derek yang ada bersamaku saat itu pun pasti juga tahu, hanya tinggal papa yang tidak tahu kenapa.

Braeden sudah seperti mentorku. Yah, aku tidak ingin memanggilnya guruku, walau sebenarnya memang ia adalah guruku. Tapi panggilan 'guru' itu membuatku berpikir ia terlalu tua, padahal usianya pasti kurang lebih sama dengan Derek. Braeden mengajariku banyak hal yang berhubungan dengan menggunakan senjata walau hanya dalam hitungan jam. Kini ia terluka karena salah satu senjata yang pernah ia ajarkan padaku—ia tertembak. Karena tahu ini berhubungan dengan supernatural, mama mengajukan diri untuk merawat Braeden. Mama memberi obat tidur pada perempuan itu setelah mengobatinya, bilang ia harus istirahat. Tapi karena aku masih agak cemas, aku pun duduk di salah satu bangku di kamar rawat Braeden, ditemani Derek.

Beberapa jam setelah mama memberi obat tidur pada Braeden, tiba-tiba mama masuk lagi ke kamar rawat ini dengan agak tergesa-gesa. Spontan aku dan Derek langsung berdiri dari bangku. Kulihat mama mengankat sebuah alat suntik dan memasukkan semacam cairan transparan ke selang infus Braeden.

"Apa itu?" tanyaku.

"Naloxone, kita perlu membangunkannya," jawab mama.

"Seingatku kau bilang dia perlu istirahat," ujar Derek.

"Itu sebelum aku tahu tim CDC mengkarantina sekolah dengan Scott dan Stiles ada di sana," kata mama.

"Hari ini tidak ada sekolah, kan?" tanyaku bingung.

"PSAT hari ini, Val," kata mama.

"Val, kau tidak tahu hari ini PSAT?" tanya Derek dengan terkejut.

Aku menggeleng. "Tidak, aku tidak tahu. Tapi tidak masalah, aku sudah ikut itu tahun lalu dengan Lydia."

Derek menghembus nafas lega. Kupikir mungkin walau baru mengenalku selama kurang lebih setahun, ia sudah hapal dengan tabiatku yang akan stres sendiri kalau sampai harus meninggalkan pelajaran.

Kulihat tiba-tiba Braeden membuka matanya dengan kaget, berarti Naloxone-nya sudah bekerja. Mama langsung memegang pundak pasiennya, untuk menahan Braeden agar jangan melompat turun dari ranjang.

"Braeden, lihat aku," kata mama dengan cepat. "Kamu tertembak, tapi sekarang kamu ada di rumah sakit dan kau baik-baik saja. Kau paham?" Braeden melirikku dan Derek bergantian dengan wajah tegang, lalu menoleh pada mama dan mengangguk pelan. "Bagus, oke. Semalam kau ada di hutan dan kau menemukan suatu Pack? Apa yang terjadi pada mereka?"

"Aku sudah bilang, mereka keracunan," kata Derek.

Braeden menggeleng pelan. "Tidak, tidak," katanya dengan susah payah. "Mereka terinfeksi."

Aku menyerngit. "Infeksi? Seperti virus?"

Ia mengangguk. "Itu virus yang didesain untuk membunuh manusia serigala," kata Braeden, lalu menatap kami dengan tegang. "Itu berhasil. Itu membunuh mereka semua."

Aku termegap lalu menoleh pada mama. "Ma, menurutmu virus yang sama ada di sekolah?"

"Mama tidak tahu, Sayang. Tapi jika ya, berarti Scott dan yang lain dalam bahaya," kata mama. "Dengar, aku akan menghubungi Dr Deaton, kalian berdua tetap di sini."

"Ma—"

"—Val, tetaplah dengan Derek," kata mama lalu ia keluar lagi.

Dengan berat hati aku menurut. Maksudku, aku tidak masalah untuk tetap bersama dengan Derek saat ini. Aku juga tidak masalah tetap di kamar Braeden. Tapi aku ingin keluar, ingin ke sekolah, melihat dan memastikan kalau Scott dan Stiles dan yang lainnya baik-baik saja.

Kulihat Braeden memejamkan matanya, mungkin ingin tidur lagi, karena bagaimana pun ia dibangunkan secara paksa. Derek menarikku pelan untuk duduk di bangku lagi. Ia mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya, kutahu ia bermaksud menenangkanku.

Sekitar beberapa belas atau puluh menit kemudian, aku mendengar dehaman. Braeden membuka matanya dan menoleh padaku dan Derek.

"Kenapa kalian masih di sini?" tanyanya.

"Aku sedang melindungi invesmentku. Aku sudah membayarmu mahal," kata Derek. Aku terkekeh pelan.

Braeden melirikku, tepatnya melirik tanganku. "Apa yang terjadi pada tanganmu?"

"Oh, eh, kena pisau ... " jawabku pelan.

"Val jadi target seorang pembunuh bayaran dua malam lalu," tambah Derek.

Perempuan itu menyerngit. "Kau jadi target? Bukankah mereka hanya mengincar makhluk supranatural?"

Kugigit bibirku. Aku melirik Derek lewat sudut mataku dan mendapati pemuda itu sedang menatapku bingung.

"Oke, apa yang perlu kutahu tentangmu lagi, selain kau sebenarnya adalah seorang Argent?" tanya Braeden.

"Um, aku seorang Veela," gumamku.

"Fantasis," kata Braeden. "Oke, baiklah, bukankah aku sudah mengajarimu cara mempertahankan diri?"

"Kau mengajariku mempertahankan diri kalau diserang tangan kosong," kataku. "Dan kau mengajariku cara menyerang pakai pisau, bukan cara menyelamatkan diri dari pisau."

"Hm, baiklah, kalau begitu itu menjadi PR kita setelah aku keluar dari rumah sakit," ujar Braeden sambil menyengir kecil.

"Dan aku tidak tahu ini membuatmu lebih baik atau tidak, tapi saat Violet, si pembunuh bayaran, menggoreskan pisaunya padaku di lantai, aku berhasil mendorongnya sampai terjatuh."

Ia masih terus menyengir. "Yah, itu cukup membuatku merasa lebih baik, setidaknya ajaranku tidak sia-sia." Aku ikut menyengir.

"Oke, baiklah, aku tidak ingin terdengar tidak sopan atau apa, tapi aku sedang merasa kau sedang mengajari pacarku cara untuk menjadi psikopat," kata Derek.

"Dan kalau aku tidak mengajarinya, mungkin ia tidak akan selamat malam itu," balas Braeden.

Sebelum Derek sempat membalas lagi, kudengar suara pintu terbuka. Kami menoleh, melihat mama masuk.

"Derek," panggil mama, "Sepertinya ada seseorang di sini yang ingin kau temui."

Aku menyerngit. Lalu kulihat seorang wanita lagi masuk ke kamar ini. Wanita itu bertubuh agak pendek dibanding mama, dan sedikit gemuk juga. Wajahnya seperti orang Asia, seperti Kira.

"Satomi," gumam Derek.

Apa? Satomi? Dia Satomi, yang Derek bilang sebagai Alpha dari Pack-nya Brett? Alpha dari Pack yang para Beta-nya tewas karena kena virus di hutan?

Wanita bernama Satomi itu tersenyum letih, tapi kemudian matanya memicing padaku. "Argent," desisnya.

"Oh, tidak, dia putriku," kata mama.

"Tidak, tidak, gadis itu punya mata ayahnya," kata Satomi. "Ayahnya seorang pemburu, dan ia dengan beberapa anak buahnya pernah memburu Beta-ku."

"Val bukan Pemburu," kata mama.

"Val ini Mate-ku," tambah Derek.

Satomi melirik pada Derek, lalu pada mama juga. "Baiklah. Kalian aku percaya."

Mama meminta Derek untuk ikut dengannya dan Satomi keluar dari kamar rawat ini. Dan karena aku harus dekat-dekat dengan Derek, jadi aku pun ikut juga. Kami masuk ke salah satu ruang operasi. Sudah ada Dr Deaton di sana, ia menyapaku sambil tersenyum ramah saat kami masuk ke sana. Lalu di atas meja operasi ada tubuh, atau mungkin lebih tepatnya mayat seorang laki-laki. Aku tidak tahu siapa itu, tapi kutebak ia ada hubungannya dengan Satomi.

Benar dugaanku, Satomi bilang bahwa laki-laki yang wajahnya sudah ditutupi itu adalah salah satu Beta miliknya yang kena virus. Awalnya Satomi membawa laki-laki yang tadinya masih bernyawa itu ke klinik Dr Deaton. Bos Scott itu memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit biar bisa diperiksa mama juga, tapi ternyata malah meninggal di dalam lift.

"Dia terinfeksi virus, seperti yang dibilang Braeden?" tanyaku. Mama mengangguk.

"Ini adalah semacam Canine Distemper," kata Dr Deaton setelah memeriksa mayat itu. "Beberapa tahun lalu di Yellowstone membunuh empat puluh persen dari populasi serigala."

"Apa yang terjadi pada populasi serigala itu?" tanya mama.

"Yah, penyebaran infeksinya cukup cepat," kata Dr Deaton.

"Maksudmu itu dirancang sebagai senjata?" tanya Derek.

"Itu menginfeksi seluruh Pack-ku," gumam Satomi.

"Tapi kau tidak terinfeksi," kataku.

Dr Deaton mengangguk. "Itulah yang menjadi pertanyaan sebenarnya. Apa kau tidak terinfeksi? Atau, apa kau kebal?"

"Oke, tunggu dulu, aku agak bingung," kataku, membuat mereka menoleh padaku. "Braeden tertembak, kan? Derek bahkan bilang ia menemukan peluru dari pinggiran hutan. Jika saat itu Pack Satomi sudah, katakanlah, maaf, sudah terinfeksi atau bahkan tewas, lantas siapa yang melakukan penembakan itu?"

Hening, tidak ada yang menjawab. Aku tidak tahu apakah pertanyaanku terlalu sulit dijawab, atau mungkin ada yang salah dengan pertanyaanku. Tapi intinya, ya begitu, tidak ada yang menjawab, sampai akhirnya Satomi menebak-nebaknya sendiri.

"Pasti pembunuh bayaran yang lain," ujarnya pelan. "Sebenarnya aku lebih memilih menghadapi pistol daripada yang begini."

"Sepertinya kau akan sering menghadapinya," komentar mama.

Satomi menoleh padaku. "Kau yakin kau bukan Pemburu? Cara pikirmu itu seperti Pemburu."

"Val memang punya darah Pemburu, tapi ia bukan Pemburu," kata Dr Deaton, menjawab pertanyaan itu untukku. "Otak cerdasnya itu karena ia keturunan Veela."

Wanita itu agak menghela, lalu matanya kini terpaku pada Derek. Derek membalas tatapannya. "Maaf," kata Satomi sambil tersenyum kecil. "Aku hanya menyadari betapa kau mengingatkanku tentang Talia." Talia? Oh, itu nama ibunya Derek. "Dulu aku sering mengunjunginya, kau tahu. Kau ingat?"

Derek tersenyum kecil. "Aku ingat tehnya. Kau selalu membawa teh yang baunya tidak enak itu."

"Aku bawa teh itu sebagai hadiah," ujar Satomi. "Ibumu menyukainya."

"Teh apa?" tanya Dr Deaton.

"Maaf?" tanya Satomi bingung.

"Teh yang punya bau khas itu, apa jenisnya?" tanya Dr Deaton.

"Reishi," jawab Satomi. "Reishi ungu liar. Itu sangat langka."

"Reishi? Jamur Reishi? Bukankah itu bisa dijadikan obat?" tanyaku. "Aku baca kalau itu bisa membantu soal peredaran darah, mencairkan darah yang kental, dan sebagainya. Lalu bisa untuk imunitas tubuh juga."

Dr Deaton mengangguk. "Satomi, kau tidak kena infeksi karena kau sudah terinokulasi."

"Oke, oke, seberapa langka itu? Bisakah kita pergi mencarinya?" tanya mama.

"Tidak perlu," kata Derek. "Ibuku menyimpannya sebagian. Ada di ruang penyimpanan kami."

.

.

~TBC~

Next: #FutureMrsHale

.

.

A/N: Tentang jamur Reishi, Fei pernah baca di salah satu buku obat herbal, ada tertulis mengenai jamur tersebut. Nama aslinya adalah Jamur Ling Zhi, nama latinnya adalah Ganoderma lucidum. Reishi adalah nama Jepang-nya. Bisa mencegah stroke, vertigo, membantu mengobati alzheimer, antipenuaan, membangun sistem imunitas tubuh. Untuk darah, Reishi bisa mengatasi tekanan darah rendah, melenturkan otot polos pembuluh darah, dan membantu mereka yang darahnya kental—karena Reishi ini memicu pembentukan pembuluh darah baru, ini bisa menambah aktivitas jantung.