33
PELAJARAN SEJARAH TAK TERDUGA
.
.
.
Note:
Kindly use your imagination while reading this chapter.
Setelah atap tertutup dan tidak adaudara dari ruang teater yang masuk, ruang bawah tanah menjadi lebih dingin dan menyiksa. Dua gadis itu tergopoh berdiri dan saling menjauh ke dinding berlawanan, diterangi cahaya biru muda dari makam. Masing-masing menjulurkan jari pendarnya, berusaha bernapas seraya bertatapan tajam.
"Kau mau apa sekarang? Membunuhku?" Kyungsoo terengah, menggigil di balik jubah hitamnya. "Tetap tidak akan mengeluarkanmu dari sini hidup-hidup."
"Memangnya kau bisa?" balas Soojung galak, ujung jarinya mengepul di udara dingin. "Kau yang bersedia melakukan apapun demi menghancurkan cincinku. Mengejarku, mempermalukanku, menyakitiku, dan kau pasti menyimpan tongkat sihir di sakumu, siap menodongkannya ke kepalaku. Ayo, ancam aku, Kyungie. Todong aku dengan ancaman hidup atau mati. Aku lebih baik mati daripada menghancurkan cincin ini untukmu, untuk Kebaikan yang akan merampas kebahagiaanku."
Kyungsoo terdiam, lemah karena mantra mematung dan rendahnya suhu. Dia memandang deretan panjang makam di belakang Soojung yang berjajar hingga ke kegelapan. Dia tak bisa menahan dengusan mengingat betapa ironisnya semua ini.
Soojung meradang. "Kau pikir ini lucu?"
"Seperti inilah awalnya Kai dan aku saat kembali ke Hutan untuk menyelamatkanmu," kata Kyungsoo tanpa menoleh. "Terjebak di dalam makam."
"Dan sekarang kau bersamaku, mencari cara untuk menyelamatkannya," ejek Soojung "Selalu menyelamatkan, Kyungie. Selalu begitu Baik. Siapa yang bisa menyaingimu?"
"Persahabatan bukan persaingan."
"Kata si teman yang sudah menjadikannya persaingan," ujar Soojung ketus, mengarahkan jari pendarnya ke jantung Kyungsoo. "Kau dan antek-antek tuamu menginginkanku menghancurkan cinta sejatiku supaya kau bisa mempertahankan cinta sejatimu. Bagaimana kalau aku yang menghancurkan cinta sejatimu?"
"Seunghyun bukan cinta sejatimu," kata Kyungsoo, berjuang untuk tetap tenang. "Dia memperalatmu untuk mendapatkan akhir ceritanya."
"Sama seperi kau memperalatku untuk mendapatkan akhir ceritamu," kata Soojung, jari pendarnya menyala lebih panas.
Kyungsoo membalas tatapan Soojung. "Kau ada di dalam akhir ceritaku, Soojung. Meski aku bersama Kai, aku tidak akan meninggalkanmu, tidak peduli se-Jahat apa, seberapa banyak cowok yang menghalangimu, atau setua apa kita nanti. Kita lebih tua dari Kebaikan dan Kejahatan, Laki-laki dan Perempuan, Tua dan Muda. Kita sahabat sejati."
Kemarahan di wajah Soojung menyurut. "Tapi kita tetap tidak bisa menemukan kebahagiaan bersama, tidak peduli sekeras apa kita berusaha," katanya, suaranya sedikit bergetar. "Setiap jalan membuat kita terjebak."
Kyungsoo berpegang pada kata-kata Cinderella. "Jangan menyerah memperjuangkan kita, Soojung."
"Kau sadar apa yang kau minta dariku?" jari pendar Soojung meredup, matanya berkilauan bak dua bongkah zamrud. "Kau memintaku untuk tetap bahagia dengan mencampakkan Kebahagiaan Abadiku demi Kebahagiaan Abadimu. Kau memintaku untuk berakhir seperti ibuku, tapi lebih buruk karena kau ingin aku ikut hidup bersama kalian berdua. Itu sama saja seperti kakak-kakak tiri Cinderella hidup seatap bersamanya dan pangerannya di istana. Kau tahu kenapa kita tidak pernah menemukan yang seperti itu bertahan lama di buku dongeng? Karena itu tidak akan bisa terjadi."
Kyungsoo masih menatapnya, jari pendarnya juga meredup.
Raut Soojung mengeras lagi. "Tapi membunuhmu sekarang juga sama konyolnya," katanya dingin. "Bantu aku mencari jalan keluar dari sini dan mungkin kau nanti masih bisa bertemu pangeranmu yang berharga." Dia mengencangkan cincin di jarinya dan berjalan lebih jauh ke dalam Penjara.
Jantung Kyungsoo melemah menyaksikan siluet baju kulit hitam Soojung menyusut di antara kabut.
Di mana Kai sekarang? Apa dia masih hidup?
Matahari pasti sudah sampai pada tetes-tetes terakhir, tak lebih dari satu jam lagi.
Tidak. Aku tidak boleh berpikir seperti itu.
Seorang pahlawan selalu menemukan jalan keluar.
Kai pasti menemukan jalan keluar.
Kyungsoo menarik napas pendek dan memaksakan diri menyusul Soojung.
"Pasti ada pintu rahasia di sekitar sini," suara Soojung menggema.
Kyungsoo tak bisa menyusul, kakinya masih berdenyut-denyut, giginya bergemeletuk. Sambil terpincang-pincang di belakang, dia mengawasi peti-peti yang tertanam di dua dinding berhadapan, berisi mereka yang menolak kewajiban pada Kejahatan. Profesor Lucas, guru Kekesatriaan murid laki-laki; Albemarle, burung pelatuk tua berkacamata yang bertanggung jawab atas Ruang Rias; Profesor Jung, guru Tarung Pedang−masing-masing langsung dipetikan begitu menolak bekerja di sekolah baru Sang Guru. Lady Kwon dan Profesor Dovey tidak punya waktu untuk menyelamatkan mereka semua, tapi ketiganya masih hidup dan sehat; mata besar mereka berkedip-kedip di balik es bak boneka terjebak.
Dengan perasaan bersalah karena tak punya waktu untuk menyelamatkan mereka, Kyungsoo menyeret kakinya lebih jauh ke dalam Penjara, berjanji akan kembali kalau bisa. Setidaknya mereka masih hidup, pikirnya, karena sekarang di depannya terlihat peti-peti yang lebih lama, suram, dan bersarang laba-laba, berisi mayat-mayat membusuk. Masing-masing diberi plakat besi perak kecil di bagian luar, kosong dan mnenati isian.
Saat Kyungsoo berjalan melewati sebuah makam berisi pemuda berambut kriting hitam yang membusuk, dia sadar plakat itu tidak kosong. Di besi itu tertera ukiran berupa serangkaian titik-titik timbul sekecil tusukan jarum pentul yang diatur dalam barisan rapi.
Jantungnya berdegup kencang. Profesor Sader yang buta tidak bisa menulis sejarah dalam kata-kata seperti ahli sejarah pada umumnya. Tapi dia pernah melihat sejarah dengan cara yang tak bisa dilakukan orang lain dan menemukan cara untuk membantu murid-muridnya melihatnya juga, menggunakan titik-titik sihir seperti yang dilihat Kyungsoo sekarang. Napasnya tercekat, dia tak bisa menahan diri untuk menyapukan jarinya pada plakat itu.
Sapuan udara perak mendadak muncul dari plakat, membentuk siluet tiga dimensi manusia sebesar peti yang melayang. Profesor Sader tersenyum pada Kyungsoo, mengenakan setelan hijau khasnya, rambut berombak keperakannya tertata rapi dan bersih, mata cokelatnya tampak hidup. Sejenak, Kyungsoo berseri-seri sekaligus kaget memikirkan profesor itu melihatnya, sebelum kemudian titik pandang Sader tertuju ke belakangnya, pada penonton yang lebih banyak.
"Pengkhianat berikutnya dalam tur kita adalah Fawaz dari Shazabah, kakitangan yang diperintah Sultan Kejahatan untuk menyembunyikan lampu ajaib di tempat yang tak bisa ditemukan. Kemudian Fawaz diam-diam menyimpannya untuk dirinya sendiri. Lalu Sultan mengetahuinya dan membunuhnya sebelum dia dibawa ke Penjara untuk dipamerkan selamanya. Kalian tidak perlu tahu siapa sultan yang dikhianatinya untuk ujian tahun kedua kalian, tapi perhatikan saja Fawaz yang memainkan peran penting ditemukannya lampu ini oleh Aladdin ..."
Tentu saja dia tidak melihatku. Kyungsoo mendesah, segera berjalan lagi. Satu, Sader buta; dua, dia sudah meninggal; dan yang ketiga, dia sekarang hanya ilusi dalam rekaman ulang. Dia pasti meninggalkan plakat-plakat ini untuk murid-murid kelas Sejarah-nya di kemudian hari setelah meramalkan kematiannya sendiri, seperti waktu dia memasukkan berita kematiannya ke dalam buku pelajaran yang dikembangkannya dulu.
Seandainya Profesor Sader masih hidup, dia akan menyuruhku melakukan apa?
Matahari menggelincir; kubah akan runtuh; Kai berjuang; satu-satunya jalan keluar adalah cincin di jari Soojung.
Akhir bahagia ada di pelupuk matamu. Itu yang akan dikatakannya.
Air mata Kyungsoo menetes. Sejak dulu dia merasa Sader seperti ayah baginya. Kadang dia melihatnya dalam mimpi, dengan rambut keperakan dan sorot matanya yang hangat menatapnya dari atas seraya mengulas senyum paling lembut. Tapi kemudian dia terbangun dan menyadari semua itu tidak nyata, jadi sekarang pun Sader tidak nyata. Di pelupuk mata Kyungsoo pun tidak ada apa-apa kecuali kegelapan dan salju.
Ketika dia bergegas melewati lebih banyak makam lagi, dia menyapukan jarinya pada plakat-plakat agar bisa melihat wajah Sader muncul lagi dan lagi. suaranya saling menimpal setiap bayangan Sader muncul dan satu per satu memberikan penjelasan hingga seluruh ruang bawah tanah itu terisi suara-suara sang profesor yang berat dan teratur. Masa bodoh kalau tidak nyata, pikir Kyungsoo. Suaranya menyejukkan, membuat Kyungsoo merasa aman dan terlindungi.
Tapi sekarang dia kembali melihat bayangan Soojung berdiri di depan salah satu makam di lorong yang gelap. Perut Kyungsoo mengencang.
"Kau menemukan jalan keluar?" desaknya. "Apa itu pintu rahasia?"
Soojung tak menjawab.
Dia menatap wanita cantik berpakaian sutra putih di dalam peti, matanya tertutup dan wajahnya tenang seperti putri yang menanti dicium pangerannya. Tak seperti mayat-mayat membusuk lainnya, wanita itu berkulit putih tak bercela, bibir merahnya agak tebal, dan berambut pirang sedada, bergelombang bak ombak emas. Dari mulut dan rona mukana yang pucat, tampak jelas wanita itu sudah meninggal dan sudah lama dibalsam sebelum ditempatkan di makam beku ini.
"Siapa itu?" tanya Kyungsoo.
Soojung tak menjawab.
Di belakang mereka, suara-suara rekaman Sader sudah terdiam semua.
Kyungsoo mengerutkan kening. "Soojung, tidak ada waktu diam di sini dan bengong melihat mayat orang yang kebetulan mirip denganmu−" Jantungnya serasa copot. "I-itu... itu dia?" celetuknya.
"Eommaku," sahut Soojung, suaranya datar tanpa perasaan. "Tubuhnya ada di sini sejak lama. Kuburan di Drip Drop bukan kekeliruan. Pasti ada yang memindahkannya ke sini."
"Tapi itu mustahil!" kata Kyungsoo sebelum menoleh pada Yoona lagi dan melihat betapa mirip wanita itu dengan Soojung. "Iya, kan?"
"Hanya ada satu cara untuk tahu jawabannya," ucap Soojung lirih.
Kyungsoo mengikut arah pandang Soojung ke plakat di makam Yoona dan titik-titik perak yang terukir pada lempengan besi itu.
"Kisahnya ada di balik titik-titik ini," kata Soojung gemetar. "Jawaban kenapa nisannya ada di Drip Drop. Kenapa dia ada di ruang bawah tanah Kejahatan." Dia menatap sahabatnya. "Dan mungkin juga jawaban kenapa kita berdua berada dalam dongeng yang sama."
Kyungsoo menahan napas, mengawasi tangan Soojung yang gemetar meraih dan menyapu titik-titik itu.
Awan perak meletus keluar dari plakat, melebur menjadi siluet miniatur Sader lagi. Namun kali ini tidak ada lagi senyum teduh atau raut santai. Bahu sang profesor tegang, rahangnya kencang, dan tatapan mata cokelat mengilapnya terkunci pada mereka.
"Waktu kita sedikit, Anak-anak. Kalau kalian sedang menyaksikan ini, berarti penampakan yang kulihat benar dan kalian sudah dekat dengan akhir kisah kalian."
Kyungsoo memerah. "Apa yang terja−"
"Peramal yang sudah mati tetap tidak bisa menjawab pertanyaan, Kyungsoo, meski aku tahu kau tetap saja akan bertanya karena aku sudah meramalkannya. Tapi mulai sekarang sampai rekaman ini selesai, kalian berdua tidak boleh menginterupsi lagi. Tidak ada waktu untuk interupsi."
Kyungsoo dan Soojung saling pandang sekilas.
Ini artinya semua akan berakhir bahagia, pikir Kyungsoo, harapannya membuncah. Profesor Sader bisa melihat masa depan. Dia tahu kami berakhir hidup-hidup−
"Aku tidak tahu bagaimana dongeng kalian akan berakhir," ujar Sader terus terang.
Perhatian Kyungsoo langsung kembali pada sang profesor.
"Penglihatanku hanya sampai pada saat kalian muncul di depan makam ini dan mendengarkan pesan ini. Dari sini, aku tidak tahu apakah kalian akan hidup atau mati, berakhir sebagai teman atau musuh, atau apakah kalian menemukan akhir bahagia untuk kedua pihak."
Kyungsoo merasa harapannya layu.
"Tapi aku tahu pasti kalian tidak akan bisa menemukan akhir cerita kalian sebelum mengetahui bagaimana awalnya," tutur Sader. "Dan kisah ini sudah lama dimulai sebelum kalian berdua sampai di Sekolah Kebaikan dan Kejahatan. Setiap cerita lama membentuk rantai kejadian yang kemudian menghubungkannya ke cerita baru. Setiap cerita baru berakar di cerita yang lama. Terutama cerita kalian."
Dia menyulap sebuah buku dongeng yang besarnya dua kali lipat tubuh rohnya dan membiarkannya melayang ke hadapan kedua gadis itu. Sampulnya terbuat dari kayu ceri merah, persis seperti Dongeng Dyo dan Krystal yang sedang ditulis Storian di menara perak saat ini. Hanya saja ketika Kyungsoo mendekat, dilihatnya buku itu bukan buku dongengnya dan Soojung. Buku itu berjudul:
Dongeng Jessica dan Yoona
Kyungsoo menyadari tubuh Soojung menegang.
"Dia ternyata ada di dalam dongeng," Soojung tercekat.
Sader membuka buku dongeng itu pada halaman pertama. Kepulan asap meletus di atasnya seiring dengan pemandangan tembus pandang di sebuah rumah biasa. "Dan sekarang waktunya kalian masuk," katanya.
Kyungsoo dan Soojung menatap penampakan Sader yang kecil sambil kebingungan.
"Aku tidak pernah suka pada mantra adikku, Evelyn, tapi ada satu yang lumayan kusuka," jelasnya sambil merekahkan senyuman. "Karena apapun pendapat kalian tentang dia, saat Evelyn menceritakan sebuah kisah padamu, dia membuatmu merasa ada di sana."
Dia mengangkat buku dongeng yang terbuka dan meniupkan ilusi adegan yang ada di sana. Bersamaan dengan desis embusan, adegan itu pecah menjadi berjuta-juta serpihan berkelip dan menghantam kedua gadis itu bak badai pasir kaca.
Kyungsoo melindungi matanya, tubuhnya melayang di udara sampai akhirnya kakinya menyentuh lantai dan berdiri di samping Soojung. Mereka berdua mendongak perlahan.
Mereka berdiri di dalam rumah yang mereka lihat di halaman buku tadi. Udara di sekitar mereka tebal dan berkabut, membuat ruangan itu terasa beruap seakan bukan benar-benar sungguhan. Kyungsoo langsung menyadari efek itu. Beginilah cara Evelyn Sader membawanya ke dalam dongeng perselingkuhan tahun lalu. Sekarang August Sader membawa mereka pada kisah yang belum diketahui siapapun. Mata Kyungsoo menyapu dapur yang familier serta meja makan bundar putih.
"Tunggu dulu−"
"Ini rumahku," gumam Soojung yang juga menyadarinya.
Kyungsoo mengerutkan dahi. "Kalau ini rumahmu, lalu itu siapa?"
Soojung mengikuti arah pandangnya pada seorang gadis kurus berambut hitam di sudut yang sedang mengintip ke luar jendela. Hidungnya mancung, alisnya tebal, dan bibirnya merah muda tipis. Usianya pasti tak lebih dari 17 tahun.
"Itu... kau," kata Soojung sambil mengamati, "tapi bukan kau."
Sudah pasti bukan aku, pikir Kyungsoo, karena bibir dan mata gadis itu terlihat keji. Ada sesuatu yang kelam dan berbahaya tentangnya yang membuat Kyungsoo takut padanya meski dia hanya bayangan. Kyungsoo belum pernah melihat gadis itu selama hidupnya. Tapi satu hal yang pasti, apapun yang dilihat gadis itu melalui jendela sungguh menarik perhatiannya sekaligus membuatnya merasa jijik.
"Dulu kala, di suatu tempat di luar Hutan, hiduplah seorang gadis bernama Im Yoona," tutur Profesor Sader.
Soojung dan Kyungsoo diam membeku seketika, mata mereka membelalak. Keduanya tak saling menoleh. Tidak ada yang bicara. Tidak ada interupsi.
Mereka memandangi gadis berambut hitam itu, yang terlihat sangat berbeda dengan wanita berambut pirang yang mereka lihat di peti es. Kalau yang ini memang Yoona, berarti cerita yang selama ini mereka ketahui salah sepenuhnya.
"Yoona adalah gadis berjiwa busuk dan menderita, yang mengira dirinya jauh lebih baik dari kota tempat tinggalnya," Sader berkisah. "Mungkin dia bisa menjadi murid yang cukup baik di Sekolah Kejahatan, tapi ada secercah sinar di antara kegelapan hatinya."
Secara ajaib adegan disorot lebih dekat, sekarang Soojung dan Kyungsoo bisa melihat apa yang sedang diamati gadis itu melalui jendela: Seorang remaja laki-laki yang memikat lewat di sana, dengan rambut pirang tebal berombak, tubuh tinggi gagah, mata biru kehijauan, dan senyuman masa bodoh.
Yunho, pikir Kyungsoo, sekali lagi terkejut melihat kemiripannya dengan August Sader meski terlihat muda belia.
Namun bukan Yunho yang tengah diperhatikan Yoona dengan sengit saat pemuda itu melewati rumahnya, melainkan seorang gadis gemuk berambut kasar dan berwajah manis yang berjalan bergandengan bersama Yunho.
"Haneul," bisik Soojung.
Sader melanjutkan, "Sejak pertama melihat Jung Yunho, Yoona jatuh cinta pada Yunho muda. Mereka tidak saling mengenal. Yoona berfantasi tentang Yunho dari kejauhan, menunggu pemuda itu menyelamatkan dirinya dari kehidupan membosankan. Hari demi hari, hanya Yunho-lah sumber kebahagiaannya terlepas dari kenyataan bahwa jiwa mereka berkebalikan. Yoona penuh perhitungan, suka mengatur, dan gemar merendahkan teman-teman di desanya; sementara Yunho periang, bersahabat, dan paling disukai oleh Sesepuh.
"Namun bukan berarti Yunho tidak memiliki kekurangan: Dia pemuda gagah dan bebas sehingga membuat para ibu menjauhkan putri-putri mereka darinya. Tapi jika sebelumnya Yoona mengira hal ini bisa mengurangi pesaing sehingga Yunho mau memilihnya, kenyataan berkata lain. Karena Yunho selalu jatuh cinta pada seorang gadis bernama Ha Neul, yang meski berpenampilan biasa-biasa saja tapi berjiwa periang dan jenaka seperti Yunho. Perhatian Yunho tidak terbagi pada gadis lain."
Yoona menatap lebih tajam ke arah Haneul yang sedang mengacak-acak rambut Yunho, sampai Haneul melihat Yoona di balik jendela. Seketika Yoona berpura-pura sedang mencuci piring.
"Singkatnya, Yoona tidak melihat Kebaikan apapun pada diri Haneul dan hanya menganggapnya penyihir jahat. Yoona menghabiskan hari-harinya menyusun rencana untuk memisahkan penyihir itu dari Yunho, dan akhirnya rencana yang sempurna pun menetas. Cara terbaik untuk mendekati cinta sejatinya adalah berteman dengan si penyihir."
Pemandangan rumah itu menghilang dari sekeliling mereka, digantikan dengan alun-alun, tempat Yoona dan Haneul bergandengan tangan sambil berjalan-jalan sementara Yunho berjalan kikuk di samping mereka.
"Dan Haneul, yang ramah tamah seperti Yunho, lebih bisa menerima sahabat barunya. Sementara itu, Yoona akhirnya mendapat kesempatan mendekati laki-laki impiannya."
Yoona mendekati Yunho di jalan itu dan tersenyum padanya. Yunho menjauh, mengabaikannya.
"Namun ada kekurangan pada rencana Yoona: Yunho tidak menyukainya. Tidak ada yang bisa dilakukan Yoona untuk mengubahnya," cetus Profesor Sader.
Alun-alun kota melebur dan sekarang Yoona sedang berlutut di kuburan dekat tepi Hutan pada malam hari, berdoa dalam kegelapan dengan tangan mengatup.
"Maka Yoona muda melakukan apa yang harus dilakukan saat mencintai seseorang yang tidak teraih, seperti yang diajarkan buku dongeng. Dia memohon pada Hutan untuk memberinya mantra ajaib yang bisa membantu memenangkan cinta sejatinya."
Adegan mulai menguap di sekeliling kedua gadis itu.
"Tapi cerita cinta Yoona bukan satu-satunya cerita cinta dalam kisah dongeng ini," suara Sader menggema.
Warna-warna transparan melebur di sekitar mereka dan sekarang mereka berada di menara Sang Guru. Penyihir bertopeng itu tengah mendarat masuk melalui jendela membawa seorang wanita berpenampilan menarik di pelukannya. Gadis itu berambut cokelat pendek, bermata besar dan cantik, serta tubuh kurus berkulit putih.
"Karena sementara Yoona berdoa memohonkan hati Yunho, Sang Guru tengah berusaha memenangkan hati Jung Sooyeon, atau yang lebih akrab disapa dengan Jessica."
Kerongkongan Kyungsoo tercekat. "Sooyeon?" Dia terbengong mengamati wantia berpostur elegan, rambut cokelat muda keemasan, dan kulit terang berbintik-bintik itu. "Tapi itu tidak mungkin eommaku. Sama sekali tidak mirip dengan−"
Sesuatu melompat keluar dari gaun hitam wanita itu ke lantai.
Seekor anak kucing kecil dan botak.
Reaper.
Kyungsoo memucat.
Merlin sudah menceritakan bagian ini−bahwa Sang Guru mengincar hati ibunya−tapi wanita dalam pelukan Sang Guru tidak seperti ibunya sama sekali.
Ataukah itu memang dia?
Karena begitu Kyungsoo memperhatikan mata besar cerah dan hidung mancung mungilnya lebih saksama, dia mulai menangkap bagian-bagian wajah ibunya seperti pahatan yang sengaja diubah.
Dia teringat cerita Merlin saat pertama kali berada di Celestium−bahwa Sooyeon lumayan cantik−sebelum Kai mendengus tak percaya. Kyungsoo mengawasi Sang Guru membawa masuk wanita itu lebih jauh ke dalam kamarnya, sementara Reaper tertatih di sampingnya.
Itu memang ibunya. Tapi kenapa tidak mirip dengannya?
Dia tersadar dari lamunannya karena Sader mulai melanjutkan cerita.
"Sang Guru merasa penasaran pada seorang guru baru, Jessica dari Netherwood, yang dipilih Storian sebagai dongeng terbarunya segera setelah dia menempati posisi sebegai guru Uglifikasi di sekolah. Menurut Storian, Jessica sejak lama bermimpi menemukan cinta sejatinya meski dia mengajar di Sekolah Kejahatan. Sebenarnya, Jessica ragu apakah dirinya memang Jahat sejati. Maka ketika Sang Guru memberi perhatian kepadanya−Sang Guru yang pada saat itu disangka Baik oleh semua orang−Jessica menemukan jalan keluarnya. Kesempatan untuk pindah ke Kebaikan dan akhirnya menemukan cinta sejati."
Sang Guru mengeluarkan cincin emas dari saku dan berlutut di hadapan Sooyeon. Perlahan gadis itu meraih cincin, lalu terdiam seketika. Karena setelah dia memperhatikan cincin itu lebih teliti, dia bsia melihat goresan hitam melingkar-lingkar di balik emas itu, seperti racun yang menunggu untuk mengekang pemakainya.
"Dia pun sadar Sang Guru sesungguhnya Jahat."
Adegan segera berganti saat Sooyeon melarikan diri menerobos Hutan dalam hujan, seekor anak kucing keriput dan botak berada dalam pelukannya.
"Dia menjauh dari Sang Guru malam itu, tapi pada malam berikutnya setelah jam pelajaran usai, dia melarikan diri. Dia harus memperingatkan Merlin bahwa kecurigaannya atas Sang Guru memang benar dan sedang memperalat Jessica sebagai senjata melawan Kebaikan. Jessica hanya menginginkan cinta yang sesungguhnya, namun dia malah menemukan penjahat yang berusaha memanfaatkan cinta itu untuk memulai perang. Dia mengutuki dirinya karena tidak menerima bantuan Merlin saat penyihir itu mencoba menemuinya di sekolah. Tak ada waktu untuk mencari penyihir itu sekarang. Setelah Sang Guru sadar Jessica telah kabur, dia pasti akan menemukan Jessica dan membunuhnya karena telah mengungkap rahasia di balik topeng perak Sang Guru. Namun tak ada tempat persembunyian yang tidak akan diketahui Sang Guru. Tak ada tempat yang tidak dikuasainya."
Tiba-tiba Sooyeon berhenti, mendengar suara mendesak lirih berulang-ulang yang terbawa angin.
Aku mohon.
Aku mohon.
Aku mohon.
"Seperti penyihir lainnya, Jessica punya bakat yaitu mendengar permohonan orang-orang yang begitu putus asa sehingga berani menanggung risiko. Tapi permohonan ini bukan berasal dari Hutan, melainkan dari belakangnya, satu-satunya tempat yang tidak dikuasai Sang Guru. Aku tidak akan meminta ganti rugi setelah memutuskan menjawab permohonan ini, kata Jessica pada dirinya sendiri−cukup sebuah kesempatan untuk membuka lembaran baru dan hidup bebas dari Kejahatan. Menjawab permohonan ini akan jadi perbuatan Baik-nya yang pertama. Maka sang penyihir yang memimpikan cinta sejati mengikuti asal permohonan itu ..."
Sooyeon menemukan asal suara si pemohon di Drip Drop, pada sebuah makam tanpa nama yang terbuka di puncak bukit. Dia menggali sampai ke dasar makam kosong itu, Reaper membantunya, semakin dalam, dan lebih dalam lagi.
"... terus hingga sampai pada seorang gadis di Dunia Pembaca yang memimpikan cinta sejati pula."
Setelah Sooyeon keluar di sisi lain makam, dia mendapati dirinya berada di taman kuburan Jangho, berdiri di hadapan gadis berambut hitam yang berlutut di atas rerumputan liar. Perlahan, Yoona mendongak pada Sooyeon dan tersenyum, yakin permohonannya terkabul.
Seketika, Soojung dan Kyungsoo kembali ke menara Sang Guru ketika penyihir bertopeng itu meneliti buku dongeng yang terbuka di altar, Storian diam di atasna.
"Selama ini Storian menulis dongeng Jessica, tapi setelah dia menghilang, pena itu diam tak berkutik, seolah kehilangan koneksi dengannya. Karena menduga dirinya telah dikhianati, Sang Guru memerintahkan burung-burung stymph nya untuk mencari Jessica dan membawanya kembali hidup-hidup. Tapi saat mereka kembali tanpa Jessica dan tak ada tanda-tanda dia berpihak pada Merlin, Sang Guru berasumsi Jessica telah mati. Kecurigaannya diteguhkan saat Storian mengabaikan dongeng Jessica dan beralih pada cerita baru. Bagi Sang Guru, cerita Jessica sudah usang dan terlupakan."
Adegan itu menghilang, Kyungsoo dan Soojung berada dalam kegelapan pekat, sosok Sader kecil melayang di atas mereka.
"Tidak seperti Sang Guru, aku punya kekuatan untuk melihat, yang artinya aku bisa melihat apa yang tidak ditulis Storian. Tanpa sepengetahuan Sang Guru, Jessica tidak mati dan ceritanya belum berakhir. Sama sekali belum."
Soojung dan Kyungsoo saling menoleh, terguncang.
"Setelah meninggalkan sekolah, Jessica tak mau berurusan lagi dengan Kejahatan atau sihir. Tapi dia belum menyerah mencari cinta sejati. Melihat betapa aman dan menariknya Jangho, dia mulai berfantasi tentang memulai hidup baru dan menemukan awal baru sebagai seorang Pembaca," lanjut Sader. "Tapi dia masih berutang pada Yoona untuk mengabulkan permohonannya, berhubung memilih menjawab permohonan itu telah memberinya tempat aman dari Sang Guru. Jessica berjanji pada dirinya sendiri hal itu akan jadi perbuatan sihir terakhirnya sebelum dia menyesuaikan diri dengan kehidupan biasa. Maka dia sepenuh hati membuat ramuan cinta yang diinginkan Yoona. Namun Jessica memperingatkan: Sihir itu hanya akan bertahan satu malam karena masalah cinta terlalu peka untuk disihir, dan menggunakan mantra cinta untuk tujuan jangka lama hanya akan membawa akhir paling menyedihkan. Sihir selalu ada harganya."
Adegan melebur, Kyungsoo dan Soojung kini berada di kedai minuman yang ramai, Yunho sedang minum-minum bersama beberapa temannya.
"Yoona tidak mau dengar," kata Sader.
Yunho menaruh minumannya di meja, kemudian sosok bertudung menyelinap dan menuangkan sebotol kecil cairan merah berasap ke dalamnya, tepat sebelum Yunho mengangkat gelasnya lagi.
"Yoona menjebak Yunho untuk meminum ramuan itu dan seketika itu juga Yunho jatuh cinta padanya. Meski pengaruh rambuan itu segera hilang seperti yang sudah diperingatkan Jessica, ramuan itu memiliki efek yang jauh lebih dahsyat. Tak lama setelah itu, Yoona mengetuk pintu rumah Yunho dan memberitahu bahwa dia sedang mengandung anak Yunho. Artinya, sesuai Hukum Dewan, Yunho harus menikahinya."
Adegan berubah menjadi penampakan Haneul dan Yunho yang sedang bertengkar hebat di teras rumah Haneul.
"Karena murka, Haneul memutuskan hubungan dengan Yunho. Kenapa pemuda itu bisa mengkhianati kepercayaannya? Apalagi dengan sahabatnya sendiri? Yunho bersumpah itu sihir hitam. Dia tidak mencintai Yoona, dan saat dia ke rumah Yoona untuk mempertanyakan kehamilan gadis itu, dia melihat tamu aneh bersembunyi di kamar Yoona. Dialah yang melakukannya, kata Yunho pada Haneul. Orang asing itu. Yunho bisa menangkap rasa bersalah di mata si orang asing. Penyihir itu merapalkan mantra padanya−dia yakin itu!
"Bagaimana bisa Yoona tega melakukan hal tak berperasaan seperti itu? Menjebak Yunho untuk menikahinya yang sedang mengandung seorang anak yang tak berdosa. Dia khawatir mantra itu entah bagaimana akan berbalik, tapi Haneul tidak mau mendengarnya. Yunho memohon agar gadis itu tidak memutuskannya, tapi percuma. Apapun yang dikatakan Yunho, Haneul tidak memercayai ceritanya dan tidak mau berurusan lagi dengannya. Maka Yunho membawa ceritanya pada para Sesepuh."
Sekarang Kyungsoo dan Soojung berada di alun-alun pada malam hari dengan kerumunan penonton yang menyaksikan Jessica diikat pada tumpukan kayu bakar, tiga Sesepuh berjenggot turun dari panggung.
"Para Sesepuh memercayai Yunho karena pemuda itu putra kesayangan mereka sejak dulu. Apalagi, para Sesepuh telah lama memimpin perburuan penyihir, mencari siapa pun yang mungkin bertanggung jawab atas penculikan anak yang terus terjadi setiap empat tahun sekali. Maka ketika Yunho menunjuk Jessica−seorang wanita lajang aneh yang belum pernah mereka lihat sebelumnya di desa itu−para Sesepuh pun akhirnya menemukan penyihir mereka."
Si algojo meraih obor di atas tumpukan kayu bakar. Soojung dan Kyungsoo melihat Yunho di tepi panggung, menatap tajam ke arah Sooyeon saat si algojo mendekatkan api ke batang-batang kayu di bawah sang penyihir. Wajah Sooyeon dibanjiri air mata ketakutan dan penyesalan; dia berusaha melakukan sihir terakhir sebagai bayaran untuk mendapat kesempatan hidup dalam Kebaikan dan cinta, namun sekarang dia malah hendak dibunuh sebagai penyihir Jahat. Sementara dia menangisi kesalahan-kesalahan dalam hidupnya, api mulai menjalar di bawah kakinya. Yunho mengawasinya, raut wajah pemuda itu melunak.
"Ketika dilihatnya Jessica pada saat itu, jiwa berhati manusia yang sama sepertinya, Yunho menyadari dia tidak sanggup bertanggung jawab atas kematian orang lain. Meski dia masih percaya Jessica seorang penyihir, dia mengaku telah salah bercerita dan setuju untuk menikahi Yoona demi menyelamatkan nyawa Jessica. Dengan persyaratan dari para Sesepuh untuk mengampuninya, Jessica harus pindah ke kuburan dan jauh-jauh dari urusan penduduk desa selamanya. Dia tak boleh menikah dengan laki-laki dari desa itu, tak boleh membuka toko di alun-alun atau rumah di perumahan. Tapi Jessica ingin tetap hidup, meski tanpa cinta. Sementara Yunho, sebagai akibat dari menyelamatkan Jessica, juga harus menerima nasibnya untuk melanjutkan hidup tanpa cinta bersama Yoona."
Kyungsoo tak bsia bernapas menonton Yunho membebaskan Sooyeon dari api unggun. "Utang," bisiknya. "Itu utangnya pada Yunho."
Soojung menggeleng. "Tapi dia terlihat berbeda dari eommamu, Kyungie."
"Eommamu juga," kata Kyungsoo.
Keduanya kembali pada cerita saat adegan itu buyar menjadi acara pernikahan mewah di bawah sinar matahari terang di gereja desa. Di altar, Yunho berdiri di samping Yoona yang mengandung. Yunho belum pernah terlihat segelisah itu.
"Yunho menikahi Yoona, sementara orangua Haneul tak lama kemudian menjodohkan gadis itu dengan anak tukang daging yang gempal. Kini Yoona memiliki apa yang selalu diimpikannya: Seorang cinta sejati dan anak dalam kandungan yang mengikatnya. Gadis yang pernah dicintai suaminya sudah menikah dengan orang lain dan keluar dari kehidupan mereka. Akhir kisah dongeng yang sempurna−begitulah sangkanya. Tapi Yoona tidak memperhitungkan satu hal."
Gereja memudar, sekarang Kyungsoo dan Soojung berada di Bukit Kuburan pada tengah malam. Dengan wajah suram, Yunho menyekop tanah untuk menutup satu lubang dari dua kuburan kecil. Yoona mengawasinya sambil menangis.
"Ketakutan Yunho bahwa mantra itu akan berbalik menjadi kenyataan. Yoona melahirkan dua bayi. Keduanya terlahir dalam keadaan tak bernyawa."
Adegan berganti, Soojung dan Kyungsoo kembali ke tempat awal cerita: rumah Soojung, diterangi sinar jingga matahari sore, Yoona melotot ke luar jendela dapur. Matanya tertuju pada Yunho yang memakai mantel bertudung, bergegas menyusuri jalan sampai Haneul menyelundupkannya masuk ke rumahnya.
"Pada tahun-tahun berikutnya, Yoona mencoba segala yang bisa dilakukannya untuk mengandung anak Yunho lagi, tapi usahana selalu gagal lagi dan lagi. Tak lama kemudian, Haneul mencurigai Yunho memang jujur sejak dulu, bahwa Yoona menjebak pemuda itu untuk menikahinya. Seperti Yunho bersama Yoona, Haneul pun tak bahagia bersama suaminya. Haneul dan Yunho diam-diam mulai berhubungan lagi."
Sinar terang mengisap adegan itu. Sekarang Kyungsoo dan Soojung berada di rumah Kyungsoo di Bukit Kuburan, menyaksikan Yoona yang sedang menggerutu pada Sooyeon.
"Yoona mengunjungi semua dokter di Jangho dan semuanya sepakat dia tidak akan pernah punya anak. Marah, dia kembali pada Jessica dan menuntut ramuan baru yang bisa membuatnya mengandung anak Yunho. Dia menjelaskan bahwa jika dia tidak mengandung anak Yunho−anak yang bisa membuktikan cinta mereka nyata−Yunho tidak akan pernah memercayai pernikahan mereka. Jessica menolak, bersikeras dirinys sudah tidak menggunakan sihir untuk selamanya dan tak mau berurusan dengan orang lain seperti yang diperintahkan para Sesepuh. Tapi Yoona mengancam: Dia akan melaporkan Sooyeon pada para Sesepuh bahwa penyihir itu mengutuknya supaya tidak pernah punya anak; bahwa Jessica juag mengutuk semua penduduk wanita desa itu; bahwa Jessica yang bertanggung jawab atas penculikan anak-anak. Saat itu Jessica langsung sadar tak ada yang bisa menghentikan Yoona. Satu-satunya pilihan adalah membantunya."
Adegan berpindah pada saat Yoona menenggak ramuan hitam berasap dari mangkuk kayu.
"Jessica memperingatkan bahwa−tidak seperti cinta−sihir tidak bisa memaksa bersatunya jiwa pada seorang anak, sihir juga tidak bisa memaksakan cinta sejati. jika menyatukan dua jiwa menjadi seorang anak menggunakan sihir, kau hanya akan membelah jiwa-jiwa itu," kata Sader. "Tapi seperti sebelumnya, Yoona tidak mau dengar, bersikeras menginginkan bayi dari Yunho. Dan segera setelah itu, anak yang sehat tumbuh dalam rahimnya."
Malam bertambah gelap di rumah itu. Kini Yoona kesakitan dalam masa persalinannya, sementara Sooyeon menenangkannya.
"Para dokter menyebutnya 'anak ajaib'. Yoona berjanji pada Yunho akan melahirkan anak laki-laki setampan dirinya. Melihat Yoona mengandung anaknya lagi dan melihat betapa berartinya hal itu bagi sang istri, Yunho berusaha memberi kesempatan lagi padanya. Di dalam hatinya, dia tahu menyelinap diam-diam ke rumah Haneul adalah perbuatan salah karena mereka sudah sama-sama menyatakan sumpah pernikahan dengan orang lain. Lagipula, tidak penting apa yang dilakukan Yoona di masa lalu; mereka akan menjadi keluarga. Yoona adalah istrinya sekarang dan selamanya. Artinya, jika Yoona mengandung bayinya, dia akan menyayangi anak itu dan ibunya semaksimal mungkin. Yunho bahkan menamai anak itu 'Jisung' seperti ayahnya," kata Sader. "Dan ketika waktunya tiba, datanglahmalam ketika Yoona melahirkan anak Yunho berkat kekuatan rahasia sihir Jessica. Hanya saja, yang dilahirkannya bukan laki-laki, melainkan anak perempuan cantik memesona persis seperti Yunho."
Lemah dan berpeluh, Yoona mengusap anak perempuan pirang cantik dalam gendongannya, lalu tiba-tiba merasakan sakit yang hebat−
"Seperti yang diramalkan sang penyihir, jiwa-jiwa Yunho dan Yoona tak pernah menyatu karena tidak ada cinta di antara mereka. Masing-masing membentuk anak masing-masing, yang artinya Yoona tidak hanya melahirkan satu bayi, tapi dua. Anak perempuan yang kedua sama sekali tidak terlihat seperti Yunho, tapi mirip sekali dengan ibunya."
Yoona terkesiap saat Sooyeon menyerahkan bayi itu: berambut hitam, mata belok, dan berwajah aneh. Yoona menghindar dengan jijik, mendorongnya kembali pada sang penyihir.
"Dia menyuruh Jessica membuang bayi itu ke Hutan dan membiarkannya mati di sana. Dia tak akan pernah bisa membawa anak sejelek itu pulang menemui Yunho. Dia mendengus, kemudian membungkus anak perempuan pirangnya yang cantik dan bergegas pergi, yakin bahwa semua urusan antara dia dan suaminya akan berubah," lanjut Sader. "Tapi Jessica, yang hanya bisa melihat kecantikan pada bayi yang ditelantarkan Yoona, memelihara anak itu sendirian. Dia memberi nama bayi itu Kyung Soo, yang berarti 'cerah dan berbunga'. Akhirnya, setelah sekian tahun kesepian, Jessica dari Netherwood menemukan cinta sejatinya."
Sooyeon memandang cermin sambil mengamati mata besar anaknya yang terlihat lucu. Perlahan, Sooyeon menyihir matanya menjadi lebih besar.
"Untuk memastikan tidak ada yang bertanya siapa ibu anak itu, secara bertahap Sooyeon mengubah dirinya selama bertahun-tahun menggunakan kemampuan Uglifikasi-nya agar terlihat semakin mirip dengan Kyungsoo. Lalu dia menambahkan marga Do dan mengarang cerita pada anaknya bahwa ayah mereka telah lama meninggal sewaktu bekerja di pabrik. Tak lama kemudian, penduduk desa pun menyadari keberadaan anak Sooyeon yang mengendap-endap di bukti, duplikat dirinya yang nyata. Tentu saja para Sesepuh mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada Jessica, tapi dia tidak memberi jawaban. Setelah sekian lama, desa itu secara otomatis mengasingkan gadis kecil itu seperti mereka mengasingkan ibunya."
Sinar mentari pagi menyelinap masuk ke rumah reyot saat Sooyeon yang kini berambut hitam kasar dan berkulit pucat membacakan buku dongeng pada putrinya yang berambut hitam dan juga berkulit pucat.
"Saat dongeng-dongeng baru muncul di Jangho tahun demi tahun, dengan Kebaikan yang tetap menang di setiap kisah, Jessica mulai mempertanyakan apakah dia salah mengerti selama ini. Mungkin Sang Guru sama sekali bukan Jahat. Dia bahkan bertanya-tanya apa dia membuat kesalahan karea tak menerima cincin Sang Guru. Seiring berjalannya tahun demi tahun, dia mulai berharap putrinya diculik Sang Guru ke Sekolah Kebaikan dan Kejahatan agar Kyungsoo bisa mendapatkan masa depan yang penuh keajaiban, petualangan, dan cinta; bukannya terjebak di dalam kehidupan biasa yang sepi gara-gara ibunya."
Adegan berubah menjadi Yunho yang berada di rumah, duduk di meja makan bersama Yoona dan Soojung kecil. Dia mengawasi putrinya yang berusia 3 tahun dengan waspada tanpa kelembutan di wajahnya.
"Sementara itu, ketika Soojung kecil tumbuh menjadi kanak-kanak, Yunho merasakan kekakuan dari dalam dirinya terhadap anak itu. Dia sudah berusaha menyayangi gadis cilik itu: mengajaknya membeli kue dan permen di toko-toko, membacakan buku-buku dongeng sebelum tidur, tersenyum saat ada yang lewat dan berkata Soojung sangat mirip dengannya, tapi jauh di dalam hatinya, yang dilihat Yunho pada diri putrinya adalah Jiwa Yoona."
Kini Yunho sedang membawa kayu ke penggilingan. Dia berhenti di tengah jalan saat melihat Kyungsoo yang berusia 5 tahun bermain sendirian di antara rumput liar di sekitar Bukit Kuburan. Dia mendongak ke arah Yunho dan tersenyum manis. Yunho pun membalas senyumnya.
"Entah mengapa, setiap kali melihat anak melarat aneh yang sering bermain di sekitar Bukit Kuburan, Yunho merasakan sayang pada anak itu meski para pekerja penggilingan lainnya melihat kemiripan yang jelas antara anak itu dengen Yoona," tutur Profesor Sader. "Dengan terlahirnya dua gadis dari rahimnya, satu jelek satu cantik, Yoona memelihara satu yang dia pikir akan dicintai Yunho, yang menurutnya bisa mendekatkan dirinya dengan sang suami. Tapi ternyata yang dibuangnya, yang serupa cetakan dirinyalah yang ada di hati Yunho."
Adegan Yunho menghilang, Soojung dan Kyungsoo kini berada bersama Yoona di kamar mandi yang dipenuhi ratusan ramuan dan krim kecantikan serta obat-obatan herbal. Dia menebalkan bibir dengan pasta khusus, mengubah warna matanya menjadi hijau dengan tetes mata herbal, dan mengubah warna rambutnya menjadi pirang keemasan dengan ramuan buatan rumah. Soojung yang berusia 7 tahun menirukan ibunya, mengoleskan krim madu dari sebuah botol ke pipinya.
"Yoona tak mengerti mengapa Yunho tetap saja dingin terhadapnya, bahkan setelah tujuh tahun sejak kelahiran Soojung. Apa Soojung kurang cantik? Apa aku juga kurang baik? pikirnya. Karena panik, Yoona terobsesi membuat dirinya semakin cantik. Begitu pula dengan putrinya. Tapi tak peduli apapun yang dilakukan Yoona, Yunho tampak menghindari mereka."
Secara dramatis, adegan beralih saat Yoona berdiri bersama Soojung kecil yang berusia 10 tahun di jendela dapur, masing-masing terlihat pirang dan menawan, menonton Yunho yang sedang bermain bersama kedua anak laki-laki Haneul di halaman depan. Yoona sudah tak terlihat marah lagi. Dia kelihatan pasrah dan patah hati.
"Pada akhirnya, Yoona meninggal sendirian sementara cinta sejatinya menelantarkannya demi gadis yang dulu dianggapnya penyihir jelek. Dia hidup dan menyaksikan Haneul memiliki dua anak kandung laki-laki yang Yoona ketahui adalah anak-anak Yunho hingga hari kematiannya, meski Haneul berpura-pura sebaliknya. Yoona tahu dari cara Yunho menyayangi mereka, dari cara Yunho memeluk anak-anak Haneul pada pemakaman suami Haneul karena kecelakaan di penggilingan, dan dari cara Yunho menjaga jarak dengan Soojung, putri yang dimilikinya di rumah."
Sambil bermain dengan anak-anak Haneul, Yunho mendongak dan melihat Kyungsoo, kurus dan sedikit bungkuk, mengintip dari atas Bukit Kuburan. Yunho tersenyum penuh kasih padanya.
"Tapi Yunho tidak pernah melupakan gadis kecil di kuburan yang selalu dicarinya setiap kali lewat di sana. Karena jauh di dalam dirinya, gadis kecil itu lebih terasa seperti anaknya dibandingkan yang lain."
Cerita itu pudar seperti lukisan kehujanan. Soojung dan Kyungso berada dalam kegelapan sunyi yang luas, mendengarkan napas mereka yang seirama.
"Sepasang saudara kembar," kata suara Sader, "tapi persaudaraan itu hanya sebutan karena tidak ada cinta dalam pembuatan mereka. Dua jiwa yang selamanya terpisah karena masing-masing jiwa itu merupakan kebalikan bagi satu sama lain: satu Baik, satu Jahat. Sungguh, jika takdir akan mempersatukan kedua gadis ini untuk bersama, mereka akan jadi musuh untuk selamanya, bahkan ketika hati mereka mendamba untuk menemukan ikatan. Tidak ada jalan ke arah kebahagiaan mereka, seperti juga tidak ada jalan menuju kebahagiaan bagi orangtua mereka.
"Mereka adalah jiwa-jiwa tua yang diperbarui, dikutuk untuk saling menyakiti dan mengkhianati lagi dan lagi, seperti Yunho dan Yoona, sampai maut memisahkan mereka selamanya. Dan bagi mereka yang berpikir bahwa kedua gadis ini bsisa melawan akhir itu dan menemukan Kebahagiaan Abadi bersama-sama... yah, berarti itu hanya ada dalam dongeng, bukan?"
Perlahan Penjara memenuhi sekeliling Kyungsoo dan Soojung. Kedua gadis itu berada di ruang es bawah tanah lagi, tubuh mereka lemas, wajah mereka pucat pasi. Profesor Sader melayang di depan makam Yoona, memandangi mereka.
"Tapi aku berharap, meski aku tidak bisa melihat bagaimana akhir cerita kalian, lihatlah berapa banyak hal mustahil yang berhasil kalian lalui. Itu sebabnya aku memindahkan ibu kalian kemari supaya kalian bisa melihat kenyataan sesungguhnya tentang cerita kalian. Itu sebabnya aku mengorbankan nyawaku demi kalian. Karena dengan melanggar semua aturan dalam dunia kita, kalian memiliki kesempatan untuk menyelamatkannya saat kami sangat membutuhkannya. Untuk menemukan jembatan antara Kebaikan dan Kejahatan. Untuk menempatkan cinta terlebih dulu, baik bagi Laki-laki dan Perempuan. Untuk menghancurkan rantai antara cerita lama orangtua kalian dengan cerita kalian yang baru. Tidak ada yang tahu apakah kalian akan berhasil atau gagal, Anak-anak. Aku sekalipun. Tapi ada alasan kenapa Storian memilih kalian dan kinilah saatnya untuk menghadapi takdir kalian. Tidak boleh lagi melarikan diri. Tidak boleh lagi bersembunyi. Satu-satunya jalan keluar adalah melalui dongeng kalian." Air mata membuat mata cokelatnya berkilau. "Sekarang pergilah dan buka pintunya."
Profesor Sader tersenyum sekali lagi pada kedua gadis itu. Lalu bayangannya menghilang dalam kegelapan seperti tetes matahari terakhir.
.
.
.
Triple update!
Go read the next chapter : )
