Author Note: Update again! XD apakah kalian menanti chapter kali ini? :D
Your Other Life
Chapter 37 : Another Sora.
Zack memutuskan untuk pergi hunting sendirian ke tempat lain. Katanya ingin mengerjakan solo quest. Fuu dan Tifa pergi ke kota terdekat untuk membeli item. Sedang Neku, dia ikut bersamaku karena kebetulan kami berdua memiliki quest yang sama.
"...dari seluruh monster yang diburu, aku masih harus memburu 200 Shadow Ant dan 30 Dark Wizard. Bagaimana denganmu?" Neku menatapiku.
"Aku belum memburu satu pun." Aku mendesah pelan. "Ada banyak quest yang belum kuselesaikan."
"Apakah kau juga belum menyelesaikan quest yang meminta kau mengumpulkan 1000 Dark Shard yang dijatuhkan oleh Shadow Ant?"
"Belum juga. Kau sudah selesai?"
"Hampir. Masih kurang 100." Neku mendadak terdiam. "Oh ya," lanjutnya mendadak, "Ketika sedang mengerjakan misi di sekitar Red River, aku bertemu dengan NPC yang waktu itu muncul ketika Phoenix kalah."
"Apa yang dilakukannya?" Fokusku langsung tertuju pada Neku dan membiarkan layar misiku tetap muncul.
"Aku kurang tahu. Dia bersama pemuda yang waktu itu," jelasnya.
"Pemuda waktu itu?" tanyaku dengan bingung.
"Teman Ollete yang memiliki rambut brunette, yang belakangan ini cukup sering hunting bersamamu."
"Sora?"
"Aku tidak tahu namanya. Dia tidak memperkenalkan dirinya padaku dan aku juga tidak tertarik berkenalan dengannya, sehingga aku langsung pergi waktu itu," jawab Neku sambil memalingkan mukanya dariku. Tangannya menyilang. "Tapi, sosoknya berbeda dari sebelumnya."
"Berbeda bagaimana?" Aku menuntut penjelasan sedetil mungkin.
"Seperti...berganti versi. Kostum yang dikenakannya hanya sedikit berbeda. Begitu juga model rambutnya. Yang pertama spike, tapi yang kemarin itu semi spike."
"Hari apa kau melihatnya? Sabtu?"
"Tidak. Hari rabu."
"Minggu ini?"
"Minggu lalu."
"Dia hanya bersama NPC itu saja?"
"Ya."
Hari rabu. Minggu lalu masih musim ujian. Sora mengatakan tidak akan online selain hari sabtu selama musim ujian. Atau hari itu dia memang online karena ada sebuah urusan mendadak? Tapi mengapa dia bersama Riku, tanpa adanya Cloud atau Roxas? Yang lebih membuatku bertanya-tanya, apakah Sora yang memanggilnya atau dia yang muncul dihadapan Sora? Mungkinkah Cloud mengetahui hal ini?Tapi, Neku mengatakan bahwa Sora sedikit berbeda. Apakah ada kemungkinan dia bukan Sora?
Sayangnya, selama apa pun aku berpikir, aku tidak akan mendapatkan satu pun jawaban. Sekarang, yang bisa kulakukan hanyalah menunggu hingga hari sabtu. Hanya hari itu saja aku bisa menanyakan seluruh pertanyaan yang terus mengganggu pikiranku pada Sora.
"Hei, kau jadi hunting atau tidak?" Neku terlihat tidak sabaran menungguku yang terus terdiam.
"Ya."
Neku menatapiku. "Banyak pertanyaan yang ada dalam pikiranmu?"
"Ya."
"Jangan tergesa-gesa dalam mencari jawaban. Seiring berjalannya waktu, pertanyaan yang kaupikirkan mungkin akan terjawab satu per satu."
Kuanggukkan kepala.
Kami berpindah-pindah lokasi untuk mencari monsters yang kami buru. Meski mencoba memusatkan konsentrasiku ketika menyerang monster, pikiranku tetap terusik oleh pertanyaan-pertanyaan tadi. Di tengah pertarungan, sebuah message masuk.
Selesai mengalahkan monster, langsung kubaca message yang masuk. Senyuman muncul di wajahku. Kuyakin Neku juga menerima message yang sama denganku. Sepertinya akan ada sebuah tantangan besar yang sangat menarik.
"Seorang malaikat yang hanya memiliki sebelah sayap berwarna hitam akan memusnahkan seluruh umat manusia yang berdosa. Tidak ada satu pun manusia yang dapat lari dari dosanya. Dia akan muncul di sekitar field Twilight Garden. Dia akan memusnahkan manusia yang ditemuinya selama 1 jam," begitulah isi pesan message itu.
Pengirimnya tentunya adalah penyelenggara event. Ini adalah mini event, mirip Falling Angel, di mana Sephiroth yang menjadi bosnya. Tentunya message itu sekedar memberitahukan kemunculan Sephiroth yang hanya muncul sebulan sekali. Pasti akan ada banyak player yang datang ke field Twilight Garden. Siapa pun yang bisa mengalahkan Sephirot, maka dia akan mendapatkan rare item. Umumnya, Sephiroth akan muncul 15 menit setelah message dikirim.
"Ayo, Neku!" seruku sambil berlari menuju Twilight Garden.
Neku mengangguk. Kuyakin teman-temanku yang lain tidak akan melewatkan kesempatan ini.
Sesampainya di sana, aku segera berkumpul dengan teman-temanku. Telah banyak players yang berkumpul di tiap field Twilight Garden. Rata-rata mereka menatap ke atas, mencari sesuatu. Kuyakin mereka sedang mencari posisi Sephiroth datang. Tanda-tanda Sephiroth muncul paling mudah dikenali. Yang harus dilakukan hanyalah menatapi langit. Akan muncul awan gelap yang berputar-putar seperti spiral. Di tengah spiral, maka sosoknya akan perlahan-lahan muncul.
Jika di field tempatmu berada tidak terlihat awan hitam melingkar, ada kemungkinan besar dia akan muncul di tempat lain. Aku dan teman-temanku berpencar untuk mencari lokasi Sephirot muncul. Begitu salah satu dari kami menemukan lokasinya, maka dia akan memberitahukannya melalui message.
Kebetulan aku berada paling dekat dengan lokasi Sephiroth muncul. Yang menemukannya pertama kali adalah Terra. Telah banyak players yang berkumpul tepat di bawah awan hitam, menanti kemunculannya.
Petir menyambar, tapi tidak mengenai players di bawah. Sosok manusia bersayap sebelah turun perlahan. Matanya tertutup saat tubuhnya perlahan turun. Dari bawah, kurasakan hembusan angin yang terasa seperti berputar ke atas. Aku segera menjauh dari putaran angin ini, jika tidak, aku akan terkena serangan. Puluhan player yang di bawah awan hitam segera menjauh begitu mereka terkena serangan dari angin. Damage angin tadi cukup menyakitkan. Antara 2000 hingga 4000, tergantung magic defend setiap player. Bukan hanya serangan transparan, jika terlalu lama di bawah awan hitam, maka akan terasa tekanan gravitasi yang membuat gerakkanmu melambat.
Efek ini akan berlangsung terus hingga Sephiroth menginjakkan kakinya di tanah. Saat kakinya menyentuh tanah, angin berputar tadi menghilang, begitu juga awan hitam tempatnya muncul. Begitu matanya terbuka, seluruh players langsung menyerbunya dengan membabi buta. Kami juga tidak ingin ketinggalan.
Di antara kami, Tifa yang paling pertama menyerang. Sebagai close combat, dia memang yang paling cepat dan lincah dalam menyerang.
Puluhan players banyak yang berterbangan di udara setelah terkena serangan Sephiroth—dan Tifa salah satunya. Banyak magic yang ditembakkan secara asal, sehingga membahayakan player lain yang berada disekitar Sephiroth. Neku bahkan tidak tanggung-tanggung menembakkan magic Flame Fall ketika kami masih berada didekat Sephiroth. Akibat ledakkan dari Flame Fall, tubuhku terlempar menjauh dari Sephiroth.
Baru 5 menit berlalu, tapi seperempat player yang ada telah meninggalkan field dan kembali ke revive point. Serangan Sephiroth memang menyakitkan. Tiga serangan darinya dapat mengalahkan player di atas level 50. Untuk level 50 kebawah, dua serangan langsung menghabisi HP-nya. Terkadang, satu serangan Sephiroth dapat menghabisi nyawa dalam sekejap jika critical hit.
Aku, Tifa, Zack, dan Terra telah menghabiskan puluhan item pemulih karena kami selalu berada di depan. Sedangkan Neku dan Fuu aman-aman saja karena menyerang menggunakan magic.
HP Sephiroth kini tinggal setengah setelah dikeroyok puluhan players. Para players yang masih bertahan terlihat tambah semangat. Sayangnya, ketika HP Sephiroth telah kritis, biasanya dia sulit dikalahkan. Umumnya, dia akan pergi sebelum HP-nya habis. Untuk kali ini, aku tidak akan membiarkannya lolos untuk kedua kalinya. Aku harus mengalahkannya agar mendapatkan rare item.
"Waktuku telah habis," kata Sephiroth sambil membentangkan sayapnya yang lebar. Tanpa terasa 1 jam telah berlalu. "Sesungguhnya aku masih ingin membantai kalian, para manusia." Dia hendak terbang.
"Tidak akan kubiarkan kau pergi!" seruku sambil mengacungkan Gunblade-ku padanya. "Lighting Shoot!"
Di ujung senjataku muncul petir. Petir tersebut kutembakkan pada Sephiroth. Neku, Fuu, dan beberapa pe-magic lainnya juga menembakkan magic pada Sephiroth.
Puluhan magic terbang menuju Sephiroth. Dari puluhan magic itu, tidak satu pun yang mengenai Sephiroth akibat saling membentur satu sama lain. Wajar saja banyak yang membabi buta menembakki magic kepada Sephiroth. Jika salah satu dari mereka berhasil mengalahkannya, maka level mereka akan dijamin naik 1 level.
Aku hanya bisa mendengus kesal karena seranganku dihalang oleh magic yang meledak. Sephiroth menghilang di balik awan hitam yang muncul. Meski dia sudah menghilang, tapi pertarungan masih belum.
Samar-samar, kulihat api-api kecil di langit. Lama-lama, ukuran api semakin membesar. Semua players langsung berlari dengan histeris. Aku dan teman-temanku pun berlari dengan panik. Meteor selalu jatuh dan menghabisi players yang berada di field tempat Sephiroth menghilang. Berlari secepat apa pun kami, akhirnya meteor tetap mengenai kami.
Seluruh player—termasuk aku dan teman-temanku—pun kembali ke revive point.
To Be Continued...
Author Note: Lol, hingga akhir, tidak satu pun player yang dapat mengalahkan Sephiroth. Any review? XD
To a reviewer name 081MPUJAXIR1501: Tidak, tidak ada game asli bernama YOL kok. Kalau pun ada aku bakalan senang malahan. (OvO)
To a reviewer name Xinon: untuk beberapa chapter ke depan masih memakai sudut pandang Leon, karena dia akan menjadi salah satu saksi yang mengetahui rahasia-rahasia YOL, dan rahasia itu tidak diketahui oleh Sora hingga satu chapter sebelum ending. (OwO)v
