I do not own the story!

copyright © 2012 I Couldn't Care Less by fantasy_seoul (AFF)

translated by Xiao Wa (Jan 13, 2014)

Enjoy~


Chapter 36 : The Club

o

o

o

(*Sehun*)

"Sehun-ah, apa ini?" Luhan mengambil kotak putih kecil yang dihiasi dengan pita emas. Itu ditempatkan dipojok koper Sehun.

Sehun berhenti berbenah sebentar dan menatap kotaknya. "Oh, aku membelikanmu oleh-oleh –itu sebelum kau datang berkunjung."

"Kau membelikanku sesuatu tapi tidak untuk hyungmu yang lain?" tanya Luhan, kegembiraan terlihat jelas pada wajahnya.

"Karena kau akan melemparkan sebuah tinju jika aku tidak membelikanmu."

"Apa?! Aku tidak melemparkan tinju," paksa Luhan, menghentakan kakinya seperti anak kecil. Sangat jelas kau tidak tahu artinya.

"Pffttt. Jika kau bilang begitu."

Sehun kembali mengambil pakaian kotornya keluar dari koper dan melemparnya ke keranjang, menghiraukan tatapan tajam yang Luhan tembakan padanya.

"Buka saja." perintah Sehun, masih menghindari tatapan Luhan. Dia mendengar anak lain mendengus sebelum –

"AHHH! Sehun-ah ini sangat lucu!" pekik Luhan setelah akhirnya membuka kotaknya, menggenggam sosok batu miniatur ditangannya. Semua rasa permusuhan kecilnya terlupakan.

Sehun memutar matanya. "Senang kau menyukai –umph." Sepasang bibir halus merah muda memotongnya.

Menjauh dari ciumannya, Luhan menembaknya dengan senyuman puas. "Kau kekasih yang baik, Sehun-ah."

"Baik? Hanya baik? Bukan yang terbaik?"

Luhan menggelengkan kepalanya. "Bagaimana bisa kau menjadi yang terbaik jika tempat itu sudah terisi?"

"Oleh siapa?"

"Aku tentu saja!" Luhan terkekeh, puas dengan gelar yang ia berikan untuk dirinya sendiri.

"Terserah." Sehun dengan lembut mendorong Luhan kesamping. "Kau mau membantuku membongkar atau apa?"

Luhan berkedip padanya, terlihat seperti ia tidak mengerti pertanyaannya, tapi Sehun tahu lebih baik –kekasihnya sedang mencoba untuk tidak melakukan kerja apa pun. Ughh. Kekasih terbaik apanya.

Di dalam lemari, dia sedang menggantung beberapa pakaian yang tidak dia pakai dalam perjalanan ketika sepasang lengan menyelip dipinggangnya, memeluknya erat.

"Yah!"

"Shhh! Kau tahu kau menyukai pelukanku dari belakang!" kata Luhan sebelum mengistirahatkan dagunya dipundak Sehun.

"Bagaimana aku bisa fokus menggantung pakaianku saat kau menempel dipunggungku?!"

Luhan tertawa kecil. "Biasakan saja."

Sehun mengerang. Dia hampir lupa tentang kecenderungan Luhan untuk menguji kontrol dirinya kapan pun mereka berada diruangan yang sama. Sehun, abaikan! Tahan! Sehun kembali menggantung pakaiannya dengan Luhan yang menempel dipunggungnya.

"Sehun-ah, kau tidak memiliki rencana perjalanan 10 hari yang lain kan?" tanya Luhan, genggangmannya mengerat disekitar pinggang Sehun.

"Tidak."

"Bagus."

"Kenapa?" Sehun menyeringai.

"Karena aku takut aku akan menjadi kekasih yang egois dan tidak membiarkanmu pergi," jawab Luhan dalam nada serius.

Sehun tertawa atas kelakuan lucu kekasihnya.

"Sehun-ah, aku serius."

"Oke oke. Aku tidak akan pergi kemana pun." Sehun tersenyum. "Kau terjebak denganku."

"Aku tidak masalah dengan itu." Dia memberikan Sehun kecupan di pipi sebelum dengan jahil menampar pantatnya dan berlari dari lemari sebelum Sehun bisa bereaksi.

"WOWW! MAKNAE KAU YANG TERBAIK!" teriak Chanyeol ketika membuka hadiahnya –sosok kecil yang menari dan memekik, "Jeju-do! Jeju-do!"

"Yeah Sehun, terima kasih atas hadiahnya." Suho memberikannya senyuman lebar.

Sehun menggosok belakang lehernya malu-malu. "Erm sama-sama hyung."

"Membelikan sesuatu untuk 11 hyung pasti mengorbankan kekayaanmu." Xiumin menatapnya kagum.

"Heh. Bukan apa-apa." Luhan membayarnya.

Saat hyungnya membuka hadiah mereka (Luhan memberikan mereka hadiah yang berbeda, setiap hadiah khusus dibeli dengan bayangan si penerima), Sehun pergi ke tempat dimana Luhan yang tersenyum duduk.

"Terima kasih," bisiknya pada telinga kekasihnya.

"Itu bukan masalah besar Sehun-ah," jawab Luhan dengan senyuman lebar. "Aku hanya membeli hadiahnya, itu adalah uangmu."

"A-a-ap- APA?!" Si maknae menjerit, mendapatkan pandangan penuh tanya dari hyung yang lain.

"Kau meninggalkan dompetmu dikamar hotelku pagi itu," jawab Luhan seperti itu adalah jawaban yang cukup. Dia tersenyum pada anak yang lain. "Dia baik-baik saja."

Sehun mencubit batang hidungnya, berharap stres yang baru diperolehnya akan menghilang. "Aku bisa melaporkanmu atas pencurian," gumamnya.

Luhan terkekeh sebelum memberikan kecupan singkat dibibirnya. "Tapi kau tidak akan melaporkannya."

Anak yang lebih tua memandangnya dengan mata memuja, tapi Sehun tahu bahwa Luhan dalam diam menantangnya untuk membuktikan dia salah. Sehun mengerang, tapi sebaliknya tidak mengatakan apa pun. Luhan memberikannya tepukan dipunggung (Sehun menahan keinginan untuk mengerang) sebelum pergi ke sisi lain dari ruangan untuk membenarkan topi Xiumin –topi yang dibayar oleh uang Sehun. AISHHHH!

Baekhyun, yang menonton keseluruhan pertukaran, datang mendekat dan berbisik di telinga Sehun. "Whipped."

"Aku TIDAK," seru Sehun.

Baekhyun tertawa. "Whipped. Jangan mengelaknya. Jika aku bisa memberimu beberapa saran itu pasti untuk berbicara dengan Chanyeol –ia bisa memberikanmu beberapa petunjuk. Dia bicara dari pengalaman." Anak yang lebih tua memandang penuh cinta pada kekasihnya, yang sekarang sedang mengikuti patung kecilnya yang menari.

"Yeollie! Berhenti menari. Kau tidak bisa menari," perintah Baekhyun dan Chanyeol langsung berhenti menari. Dan Sehun berharap sebuah lubang bisa muncul di ruang tamu dan menelannya. Menjadi dikategori yang sama dengan Chanyeol tidak pernah menjadi hal yang bagus.

Beberapa saat kemudian, dia tiba-tiba merasakan tangan raksasa Chanyeol dipundaknya. "Baekhyun memberitahuku tentang situasimu. Selamat datang di klub maknae. Jika kau butuh bantuan untuk bagaimana berurusan dengan pasangan dominanmu, beritahu aku dan Suho."

"Suho hyung?"

"Yeah, Lay hyung mendapatkannya dalam genggaman jarinya."

Mata Sehun meluncur pada anak laki-laki cantik dengan rambut berwarna coklat madu yang tertawa dengan Tao dan Lay, ujung matanya berkerut. "Terima kasih atas undangannya, tapi aku tidak semestinya masuk dalam klub." Aku tidak seperti itu.

Menyadari tatapan Sehun, Luhan memberinya isyarat untuk mendekat. Tanpa menyadarinya, Sehun bangun dari tempatnya di sofa untuk berjalan kearah dimana Luhan berada. Dia menjatuhkan dirinya disamping kekasihnya, yang menggelitik dagu bawahnya. Yup, aku hanya seorang kekasih yang baik. Sangat jelas, pikirnya untuk dirinya sendiri, menghiraukan wajah menggelikan dari pasangan Baekyeol.

Dia juga menghiraukan mereka mengacungkan cambuk bayangan. Whip-pssssshhh!


"S-Sehun. Sehun-ahhh. Heehee... Sehun-ah!"

Sehun berhenti menciumi leher Luhan untuk melihatnya, terlihat jelas kesal bahwa kekasihnya mengganggu prosesnya.

"Apa?"

"Kenapa kau sangat tidak sabar? Ini bahkan belum malam!"

"Oh diamlah. Kau yang memohon padaku untuk mengambilmu sebelumnya," wajah Sehun datar.

Luhan tersentak. "Kapan aku melakukannya?!"

Sehun akan mempunyai pikiran bahwa perasaan Luhan terlukai oleh kalimatnya, tapi kilatan nakal di mata doe-nya mengatakan hal lain.

"Di rumah sakit dan pagi ini di lemari."

"Aku tidak mengingat memohon apapun." Anak yang lebih tua menyelinapkan tangannya dileher Sehun, kakinya menjerat kaki Sehun.

"Apa kau merasakannya?" tanya Sehun, menatap anak ynag lebih tua yang sekarang berada dibawahnya.

"Merasakan apa?"

"Tekanan darahku naik."

Luhan tertawa. "Jangan menyalahkanku untuk kondisi kesehatanmu."

Sehun memutar matanya dan berusaha bangun, tapi Luhan menahannya. "Kau mau pergi kemana?"

"Bertemu dengan klub baruku." Sehun menjawab dengan helaan.

Luhan melengkungkan alisnya. "Klub baru apa?"

"Itu klub kecil dengan hanya dua orang anggota lainnya –Chanyeol hyung dan Suho hyung."

Luhan memberinya tatapan kebingungan. "Ap-"

"Kau tidak perlu tahu."

"Oke baik. Kau bisa bertemu mereka setelah kita selesai." Ia menyeringai.

Sehun mengerang dalam batin. Dia sudah bisa melihat peran masa depannya sebagai presiden dari Whipped Club.


"Kau yakin ia akan menyukai cangkir teh yang kita bawakan?" tanya Sehun pada kekasihnya, yang sekarang sedang menuntunnya melewati jalan yang belum dikenalnya di Busan.

"Sehun-ah, tidak apa-apa. Ia akan menyukainya." Luhan menyakinkannya.

Musim panas sudah berakhir, dan mereka pikir adalah hal yang sopan untuk mengunjungi ibu Luhan saat mereka masih mempunyai waktu. Sehun gelisah selama perjalanan dalam bus ke Busan, dan sekarang bahwa dia benar-benar berjalan menuju rumah kekasihnya, dia bisa merasakan kegelisahannya memburuk.

Itu bukan karena dia takut akan ibu Luhan –bukan. Ia adalah seorang wanita yang sangat ramah. Kenyataannya, Sehun sebenarnya menikmati mengobrol dengannya kapan pun ia menelfon untuk memeriksa keadaan Luhan.

Bukan, dia gelisah karena dia tidak yakin jika ayah tiri Luhan akan berada disana. Dan melihat dari bagaimana Luhan tidak secerewet biasanya, anak yang lebih tua pasti merasakan hal yang sama.

Akhirnya, mereka sampai di lingkungan sekitar dimana ibu Luhan tinggal dan Sehun sudah bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.

Mereka berdiri didepan rumah tembok kecil dengan kebun bunga kecil didepannya. Luhan membunyikan bel pintunya.

"Kau siap?" tanya Luhan, menggenggam tangannya.

Sehun mengangguk, menggenggam tangan Luhan sebagai balasan. Anak yang lebih tua tersenyum dan Sehun berharap senyum itu tidak menghilang apa pun yang mungkin menunggu mereka dari sisi lain pintu.

Ibu Luhan membuka pintunya dan setelah melihat dua anak laki-laki itu, ia berlari untuk memeluk mereka. "AKHIRNYA! Aku pikir kalian berdua tersesat atau apa."

Ketika ia melepaskan mereka, Sehun membungkuk padanya, menghasilkan sebuah tamparan kecil dilengannya dari wanita itu. "Sehun, kau tidak perlu membungkuk padaku setiap kali kau melihatku. Kita bukanlah orang asing –kenyataannya kita keluarga. Kau bisa memanggilku ibu jika kau mau."

"Mommmm," Luhan merengek.

Ibunya terkekeh sebelum mengantar mereka masuk ke rumah. "Baik. Kau bisa menganggapku sebagai ibu mertuamu."

Luhan facepalm sedangkan Sehun dan ibunya tertawa.

"Buat dirimu nyaman Sehun." Ia menunjuk kearah ruang tamu.

"Oh! Kami membawakanmu sesuatu." Sehun memberikannya sebungkus kotak yang dia sendiri lupa membawanya daritadi.

"Oh! Seharusnya tidak usah!"

Luhan memandangi ibunya dengan kecurigaan yang menggelikan. "Lalu kenapa kau terus mengirimiku pesan untuk membawakanmu sesuatu dari Seoul?"

Ibunya menatapnya tajam. "Luhan sayang, apa kau keberatan memberikan Sehun sebuah tur? Aku akan menyiapkan makan siang." katanya, benar-benar merubah topik.

"Tidak banyak yang bisa dilihat," bisik Luhan, tapi bagaimanapun juga dia mengambil tangan Sehun dan memimpinnya berkeliling rumah –menunjukan banyak hal seperti koleksi berharga cangkir teh ibunya, koleksi kesayangan buku komiknya, dan tumpukan album foto yang ibunya simpan bertahun-tahun. Luhan memberitahunya bahwa ibunya terobsesi untuk mengambil setiap foto dirinya ketika dia kecil. Sehun tidak bisa membantu selain tertawa karena Luhan tidak tahu bahwa dia melakukan hal yang sama, selalu mengambil foto dari Sehun.

"Dan disini kamarku," jelas Luhan setelah membuka pintunya. Melihat sekeliling, Sehun memutuskan bahwa kamar itu benar-benar milik Luhan. Dia tidak memiliki banyak barang di kamar, hanya sebuah tempat tidur putih ukuran sedang, sebuah meja kecil putih, dan sebuah meja kayu antik. Tapi ada sesuatu yang menyenangkan tentang kamar itu meskipun temboknya berwarna krim biasa. Sehun pikir bisa jadi karena Luhan mempunyai foto dan sticky note menempel disepanjang tembok, memberikan kamar itu ledakan warna yang dibutuhkan.

Sehun tersenyum. Ruangan itu hangat dan terbuka. Nyaman. Seperti Luhan.

"Membosankan benar?"

Sehun menggelengkan kepalanya. "Tidak, ini sempurna."

Luhan tertawa kecil. "Kau berpikir semuanya sempurna."

"Hanya ketika kau terlibat." jawab Sehun, merasa puas ketika pipi Luhan memerah.

"Sehun-ah, kita perlu ke dokter. Gombalanmu sudah tidak terkontrol," goda Luhan.

Sehun melingkarkan lengannya disekitar kekasihnya. "Bukan gombalan jika itu benar." Dia menyundul wajah anak yang lebih pendek.

"Aishhh." Luhan memutar matanya, sebelum berdiri berjinjit, mendekat untuk memberikan Sehun sebuah ciuman –

"Makan siang siap!" teriak ibunya dari dapur, mengganggu momen kecil mereka.

"Mom, pemilihan waktumu tak tercela," komplain Luhan seraya masuk ke dapur, pipinya masih sedikit merah. Sehun tepat dibelakangnya, warna pipinya sama dengan kekasihnya.

"Oops! Apa aku mengganggu sesuatu?"

"Ya-" Luhan memulai, tapi Sehun memotongnya. "T-tidak. Kami tidak sedang melakukan apapun."

Luhan menaikan satu alisnya sedangkan ibunya tertawa. "Oke. Ayo makan."

Setelah makan siang, mereka duduk di sofa, menonton televisi, sedangkan ibu Luhan menyiapkan mereka buah (dia memaksa bahwa Luhan memerlukan lebih banyak buah dalam sistemnya). Sehun menonton ibu dan anaknya bercekcok tentang diet Luhan. Itu sedikit menghibur karena tidak seperti saat dia akan berdebat dengan Sehun, Luhan kalah telak. Mungkin aku harus membuatnya (ibu Luhan) disisiku kapanpun kami berdebat.

Dari ujung matanya, Sehun menemukan meja kecil dekat tembok. Dia tidak tahu kenapa dia tidak menyadari sebelumnya atau kenapa Luhan tidak menunjukan padanya. Penasaran, dia berjalan mendekat.

Di meja ada setumpuk bingkai foto berwarna emas. Dia mengambil satu –itu adalah foto dari Luhan kecil (mungkin 4-5 tahun) di hari pertamanya sekolah; Sehun menebaknya karena anak laki-laki lucu itu berpakaian lengkap dengan seragam kuning, menggenggam tas ransel barunya, dan tersenyum lebar kearah kamera. Imut.

Dia mengambil foto lain –Luhan ynag masih muda duduk dipangkuan pria yang gembira. Pria itu terlihat sangat tampan dengan sosok tegas. Kerutan disekitar matanya hanya semakin membuatnya lebih jelas bahwa dia adalah ayah Luhan. Baju mereka yang sama juga menunjukannya.

Dia menelusuri foto-fotonya, tersenyum pada setiap foto –sebuah foto bayi Luhan, Luhan dengan krim diseluruh wajahnya, Luhan memeluk seorang gadis kecil (Sehun berharap bahwa dia hanya sepupunya atau apa), Luhan di komedi putar dengan ibunya, Luhan membangun istana pasir yang terlihat jelek di pantai, Luhan yang terlihat jelas tidak nyaman dengan tuxedo (mungkin untuk pesta dansa sekolah), Luhan dalam jubah kelulusan (wajahnya bersinar dikamera).

Dan dibelakang, ada sebuah foto keluarga. Sehun mengambilnya, penasaran kenapa foto itu diletakan jauh dari yang lainnya.

Sehun membeku.

Pria yang ada didalam foto bukanlah ayah Luhan. Itu adalah pria yang berbeda.

Seorang pria yang wajahnya Sehun kenali. B-b-bukan.

Sehun tiba-tiba merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, tangannya mati rasa, napasnya tidak teratur. Tidak. Ini tidak bisa.

"Sehun-ah, kau baik-baik saja?" Luhan datang dibelakangnya, membuatnya sedikit melompat.

"Uhh." Sehun berdeham. "Yeah aku baik-baik saja. Sedikit sesak disini. Aku pergi untuk jalan-jalan keluar." Dia meletakan fotonya kembali, jarinya sedikit gemetar.

Luhan dan ibunya menatapnya aneh ketika dia buru-buru keluar dari ruang tamu dan ke lorong untuk memakai sepatunya. Luhan mengikutinya.

"Sehun-ah, apa sesuatu –"

"Aku hanya butuh sedikit udara. Jangan khawatir," respon Sehun seraya membuka pintu, tanpa melihat kebelakang pada kekasihnya yang cemas.

"Sehun! Kau mau pergi kemana?"

Sehun tidak membalas. Dia tidak tahu kemana dia pergi. Dia hanya butuh untuk menjauh.

Jadi dia lari.

"Sehun!" teriak Luhan dari belakangnya, mengejarnya.

"Aku akan kembali," Sehun berjanji, mempercepat langkahnya.

"Sehun-ah, setidaknya beritahu aku kemana kau pergi!"

Sehun berlari menyebrang jalan, menghiraukan tangisan putus asa kekasihnya.

"SEHUN! SE—"

BIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIPPPPPPPPP

CIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTT

Sehun berhenti berlari dan menolehkan kepalanya setelah mendengar suara menakutkan dari mobil yang memekik untuk berhenti.

Dia berhenti bernapas...

o

o

o

TBC~


-Whipped adalah kata slang(bahasa gaul) dalam bahasa Inggris yang artinya untuk menyebut seorang kekasih (pria) yang terlalu menurut(bisa juga takut) pada kekasih wanitanya. Memiliki artian yang tidak jauh berbea dengan suami takut istri dalam bahasa Indonesia. Saya tetap menggunakan whipped karena saya sendiri kesulitan untuk menterjemahkannya dalam bahasa Indonesia, mungkin dari kalian bisa menemukan kalimat yang cocok?

fantasy_seoul's note:

*Gasp* APA YANG TERJADI?! APA LUHAN BAIK-BAIK SAJA?! Kalian akan mengetahuinya di chapter selanjutnya. Janji. Aku akan update lain kali hari ini atau besok. Dan banyak dari kalian yang bisa menebak kenapa Sehun bereaksi seperti itu ketika dia melihat foto keluarga. PLOT YANG RUMIT! Lol. Drama drama. Pada awalnya aku membuatnya fluff dan ringan, menuju kejadian dramatik. Ini akan semakin gelap dan menyedihkan. Nantikan.

Dan minta maaf atas efek suaranya. Lol. Sekolah mengambil sebagian besar waktuku, tapi aku akan tetap update di akhir pekan, jangan khawatir aku tidak akan meninggalkan pembacaku tergantung :D Subscribe dan komentar. Terima kasih!

XiaoWa's note:

Anak yang sudah 2-3 minggu menghilang akhirnya muncul kembali ._.

Ma'af~ Saya benar-benar minta ma'af karena tidak update, membuat kalian menunggu terlalu lama...DX Tapi saya sendiri juga tidak tahu harus apa, saya punya alasan dibalik semua kejadian mengerikan ini. Pekerjaan saya mempunyai dua shift, pagi-sore dan siang-malam, dan kemarin adalah pertama kalinya bagi saya untuk masuk shift siang dan saya drop! Demam naik-turun selama satu minggu juga tekanan darah turun jadi 100! OMG! masih belum bisa adaptasi dengan cuaca disini, ditambah stress karena masalah pekerjaan, nah... Saya benar-benar minta ma'af TT^TT okay, note saya sampai sini saja, sekali lagi saya minta ma'af *deep bow*

Berita baiknya kemarin saya lihat di AFF, ICCL dapat featured! Horay!

Terima kasih yang masih setia dengan ICCL~ Dan selamat datang readers baru~ Enjoy~