Once Upon a Sleepless Night © Daaro Moltor

Harry Potter © JK Rowling

Alih bahasa oleh neko chuudoku.

.

CHAPTER 36

.

~Draco POV~

"Draco."

"Ya?"

"Ambil tongkat sihirku."

Draco memandang Potter lama, tapi akhirnya mengangguk, tak perlu bertanya alasannya. Dia tahu Voldemort cukup kuat untuk menggunakan sihir, tahu bahwa Harry tak akan bisa tetap jadi diri sendiri melalui ini. Draco juga tahu, tapi dia tak suka itu dikonfirmasi.

Draco kurang lebih menyeret Potter menaiki kastil menuju kantor Kepala Sekolah, di mana topi seleksi disimpan—jalur rahasia di belakang patung sedikit membantu. Sekarang mereka berdiri di depan gargoyle, dan mereka menyadari bahwa mereka punya masalah baru. Mereka tak tahu kata kuncinya.

Draco mengenggam tongkat sihir Potter dengan tegas. Potter kelelahan. Jalan dingin dan bersalju menuju kastil tak baik untuknya, dan anak-anak tangga di dalam kastil lebih tak baik lagi. Mereka betul-betul tak tahu di mana McGonagall berada, dan meski mereka tahu, mereka tak akan bisa mencapai beliau.

Potter dalam kondisi jauh lebih parah dari yang Draco antisipasi. Nyaris seakan mengkonfirmasi pemikirannya, Potter tiba-tiba duduk di lantai dan bersandar ke dinding, napas tersengal.

Draco tak pernah merasa setidakberguna ini seluruh hidupnya. Dia tak bisa melakukan apa pun untuk Potter. Dan yang menghalangi mereka adalah sesuatu sesimpel kata kunci di tempat yang seharusnya jadi keuntungan mereka. Jika dia bisa, dia akan mencari McGonagall sendiri, meski meninggalkan Harry dalam keadaan seperti ini menyakitinya. Tapi masalahnya Draco tak bisa meninggalkan Potter sekarang, si Penyelamat Dunia Sihir akan mati. Jelas dan simpel.

Putus asa, dia beranjak menghampiri patung yang menyeringai dan menaruh sebelah tangannya di kepala bertanduk si patung.

"Kumohon… kumohon… Kau harus membuka pintunya. Aku harus membantunya…" bisiknya, meski dia tak yakin mengapa.

Tiba-tiba dia merasakan patung bergeser di bawah tangannya. Kaget, dia mundur dan mendapati mata gargoyle sekarang terbuka tengah memandangnya. Lalu, luar biasanya, si patung bergerak ke samping, menyingkap anak tangga menuju kantor Kepala Sekolah.

"Demi nama Merlin…!" gagapnya, mundur, berbalik pada Potter untuk semacam minta penjelasan.

Mengejutkannya, Potter terkekeh lemah. "Dumbledore selalu berkata bahwa kantornya punya pikiran sendiri. Sepertinya dia benar…"

"Aku tak peduli meski Voldemort sialan sendiri yang membukanya," ujar Draco dan membantu Potter berdiri, mengaitkan sebelah lengan di bahu untuk menyokongnya. "Yang penting sekarang hanyalah kita bisa masuk."

Draco membantu Potter menaiki tangga bergulir dengan hati-hati, dan lantas cepat-cepat melompat menaikinya sendiri.

Tangganya berhenti begitu mereka mencapai pintu kayu besar yang mengarah ke kantor. Draco buru-buru menekan pegangan pintu ke bawah dan membukanya, sembari bersyukur pada Merlin tak perlu kunci untuk melakukannya.

"Ayo Potter," ucapnya dan menggiring Potter maju, lebih dari sedikit cemas oleh betapa tak responsifnya dia. Tapi Harry mengangkat kakinya dan melangkahi ambang pintu, memasuki ruangan. Draco cepat-cepat mengikuti dan mendahuluinya.

"Sekarang di mana topi sialan itu?" ujarnya tak sabar, melihat ke sekitar, tak bisa menahan untuk tak memainkan cincin dalam kantung.

Akhirnya, dia melihat topi tua di puncak rak tinggi.

"Accio!" tuntutnya, sembari mengarahkan tongkat yang ternyata milik Harry pada si topi. Topi melayang ke tangannya dengan segera, tapi tampaknya tak akan terbangun dari entah apa keadaannya sekarang.

"Malfoy…" kata Harry di belakangnya tiba-tiba, "Aku merasa tak enak badan…"

Draco berputar cepat, waswas oleh kelelahan dan kepasrahan dalam suara Potter.

Bahu Potter merosot dan mata merahnya menatap Draco dengan tanpa kehidupan nyata di dalamnya, kekusaman aneh menutupinya seperti selubung.

Draco nyaris berpikir dia mengkhayal, tapi merah iris matanya tampak menyebar, hingga ke sudut mata. Tapi tiba-tiba merahnya meluap, dan mulai menetes ke pipi Harry. Air mata; hanya saja merah.

Dia menangis darah…

"Aku benar-benar merasa tak sehat…" Mata Potter terpejam, dan untuk sekejap mengerikan Draco pikir dia akan roboh. Tapi yang terjadi lebih buruk.

Mulut Potter terbuka, dan yang keluar dari dalamnya adalah kata-kata dan suara Voldemort.

"Jadi kita sampai di sini, akhirnya, Malfoy…"

Draco mencengkeram topinya begitu keras hingga dia terkejut si topi tidak terbangun untuk protes. "Apa maksudmu?" tanyanya sungguh-sungguh.

"Oh, ayolah, kau pasti tahu kau tak akan bisa menyelamatkan Potter," ucap Voldemort, darah menetes-netes dari dagu Potter saat dia melangkah maju. Draco mundur secara insting, tapi berakhir menekan meja di tengah ruangan.

"Ataukah perasaan kecilmu padanya membutakanmu?"

"Kau tak akan bisa memilikinya…" Hanya itu yang bisa Draco ucap.

"Kau terus berkata seperti itu, tapi buktinya aku dan bukan kau yang berada dalam tubuhnya, bukan begitu?" kata Voldemort, dan menarik bibir Harry menjadi seringai keji.

Draco merasakan wajahnya memanas marah. "Beraninya kau—"

"Beraninya aku?" Voldemort menyela dengan murka, tapi tiba-tiba jatuh berlutut. Draco tercabik antara tertawa dan bergegas menolong, tapi memutuskan tidak keduanya.

"Beraninya kau! Kau pura-pura setia padaku, seluruh keluargamu pura-pura setia padaku, tapi kau melakukan ini! Kau satu-satunya yang bisa menahanku, menangguhkan kemenanganku, dan kau memilih melakukannya! Kau mengkhianatiku karena sesuatu semenggelikan dan selemah cin—" Voldemort terinterupsi oleh batuk-batuk yang menciprati lantai dengan darah saat tubuh Potter ambruk.

"Draco…" suara asli Potter terdengar lemah dan samar setelah hinaan gelap Voldemort.

Draco bergegas maju, menjatuhkan tongkat sihir dan topi lantas berlutut di samping Potter dan mencengkeram bahunya. Dia tak mendengar apa-apa sebelum Potter menggumamkan sesuatu dengan parau, sebuah kata tak terdengar.

"Apa? Kau bilang apa, Potter?" tanya Draco, sembari meremas bahu Harry.

Perlahan Potter mengangkat kepala dan menatap Draco. Hijau matanya bertarung dengan merah, darah masih mengalir deras dari sana.

"Lari…" tuntut Potter dalam bisikan parau.

Draco menggeleng. "Tidak. Kita sudah di sini sekarang, Potter, kita menang. Yang perlu kau lakukan hanya menarik pedangnya dari topi bodoh ini dan semuanya akan berakhir, aku tahu kau bisa melakukannya."

Menakutinya, Draco melihat Potter perlahan menggeleng.

"Aku tak bisa…" bisiknya. "Maaf, Draco, tapi aku tak bisa. Voldemort… dia terlalu kuat… aku tak kuasa lagi, maaf…"

Kepala Potter jatuh lagi saat batuk-batuk mengguncang tubuhnya, dan lebih banyak darah mengotori lantai. Tapi Potter mengangkat kepalanya lagi dan memandangnya dengan memohon. "Lari…" Kemudian matanya berkilat lagi, dan hijaunya lenyap.

"Atau tinggal; jangan pikirkan aku," kata Voldemort dan memaksa seringai di bibir Potter sekali lagi.

Draco menjauhkan tangannya seakan terbakar dan buru-buru merangkak menjauh; entah bagaimana berhasil menyeret topi dan tongkat sihir Potter saat dia melakukannya.

"Ah… sendiri akhirnya…"

"Sendiri…?" tanya Draco bingung. Lantas tiba-tiba sadar maksud Voldemort. Dan dunianya perlahan runtuh. "Tidak… Kau bohong!" tuduh Draco, tapi terdengar seperti permohonan. Ini tak mungkin nyata. Tak mungkin.

"Kita berdua tahu ini akan terjadi, Draco, tak perlu terkejut," ucap Voldemort dingin, nyaris dengan tak sabar lalu bangkit. "Tapi tak perlu bersedih dulu; aku masih punya potongan kecil Potter-mu tersayang yang tersisa."

"Apa? Kenapa?" tanya Draco, meski begitu dia bergantung pada sepotong informasi itu; harapan terakhir itu.

"Karena aku ingin dia melihatmu menderita!" ludah Voldemort, untuk sesaat kehilangan ketenangan. Tapi, dia Voldemort; ketenangannya kembali dengan segera. "Setelah segala yang kau lakukan padaku, tentu aku ingin melihat kau membayarnya. Dan ada keuntungan membuat Potter betul-betul gila dengan menyaksikanku melakukannya. Kau pemuda pintar; harusnya kau sudah menduga ini."

Draco tidak menduga. Mungkin dia bodoh karena tak lebih realistis, tidak bersiap untuk ini, tak berpikir ada kemungkinan nyata akan kegagalan… Bukan karena arogansi; apa yang akan terjadi hanya… tak terpikir.

"Sebenarnya, kau pintar mengejutkan. Aku tak pernah merencanakan seseorang menemukan jalan ke Washington; konsekuensi dari perbuatanmu itu hanya tindakan pencegahan. Dan tentu tak ada orang selain kau yang bisa memecahkannya. Mereka perlu sumbermu… pengetahuanmu… Kau tak pernah memberi tahu Potter buku apa yang kau baca, bukan? Mengapa kau terus menolak mengajaknya ke perpustakaan, mengapa kau melakukan sebagian besar penelitian sendiri… dan si anak bodoh hanya berpikir kau senang menggodanya…"

Draco ngeri. "Apa yang kau katakan padanya?"

"Oh, tak ada," jawab Voldemort santai dan mulai mondar-mandir, perlahan. "Aku lebih senang melihat permainan kecilmu. Tapi aku terkesan oleh kemampuanmu untuk berbohong; Potter tak pernah menyangka apa-apa. Aku yang pertama tahu. Tentu saja, si anak ajaib memang bukan orang yang peka, bukan…?"

Draco merona dalam campuran marah dan malu. Tak pernah dia merasa seburuk ini tentang dirinya sendiri dari saat Voldmemort memberinya pujian.

"Kebohongan kecil yang kau buat; tentang pentunjuk dari sebuah lagu! Dan legenda dari dongeng anak-anak! Dan Potter tak pernah berpikir itu mencurigakan bahwa darah lumpur kecilnya tak bisa menggali sesuatu seperti itu!"

Voldemort tertawa. Untuk sesaat itu tawa Harry, tapi lalu pecah dan berubah menjadi kekehan gila Voldemort.

"Sama sekali tak ada yg manis dan tanpa dosa soal ini, dan kau tahu itu, Draco Malfoy! Ini adalah sihir hitam! Hitam, begitu gelap hingga kau hanya dapat menemukannya di antara legenda tergelap, begitu keji hingga semua orang berharap untuk melupakannya!" Voldemort mengacungkan jari pucat padanya. Urat di punggung tangan Harry besar tak alami.

"Dan mereka lupa. Hingga kau menemukannya lagi. Tapi yang kau katakan padanya hanyalah kebohongan." Voldemort tak berteriak lagi. Suaranya datar, nyaris pelan, dan nadanya seakan mereka tengah membicarakan sesuatu yang tak menarik. "Kau katakan padanya pasti ada jalan, meski petunjuk yang kalian kejar tak mengarah kemana pun. Kau tak pernah memberitahunya tentang kesakitan yang menunggunya saat aku menang. Dan—"

"Diam!" Draco akhirnya meledak. "Dia sudah punya cukup banyak dalam pikirannya! Aku tak bisa membebankan itu padanya! Aku tak bisa memberitahukan itu padanya!" Segera setelah kata-kata meninggalkan mulutnya, Draco merasa konyol. Dia tengah mencoba meyakinkan Voldemort, mencoba membela diri di depan Pangeran Kegelapan. Tak berguna, tentu saja.

"Kau tak pernah memberitahunya bahwa kami tak akan pernah mati. Bahwa tak akan ada yang mampu membunuhku lagi."

Kata-kata itu meninggalkan dingin di udara, seakan mempengaruhi dunia hanya dengan diucapkan.

"Kau tak pernah memberitahunya bahwa dia tak akan pergi kemana-mana. Kau tak pernah memberitahunya bahwa dia akan dipaksa tinggal; seperti hantu dalam tubuh yang sekarang milikku, tak mampu melakukan apa-apa kecuali menyaksikan."

"Tidak. Tidak, tidak tidak tidak…" Tangan Draco mengerat di ujung topi nyaris mengejang, bergetar hebat. Dia telah berjanji pada diri sendiri bahwa apa pun yang terjadi, ini tak akan terjadi. Bahwa dia sama sekali tak akan membiarkan Voldemort menang.

"Oh, kau begitu pandai. Kau menemukan buku dan bagian yang kau perlukan. Meski kau harus menerjemahkannya dari huruf rune kuno yang tertulis aslinya. Tak perlu waktu lama, tentu saja. lalu kau mengubah tulisan tanganmu dari perkamen itu menjadi seperti halaman buku tua dan menempelkannya di sana. Sebuah buku dengan dongeng-dongeng dan lagu-lagu cantik yang kau pikir tak akan menakuti Potter seperti buku bait itu berasal. Sebuah buku tentang keputusasaan dan kengerian. Tentang rasa takut!"

Draco tergopoh dan entah bagaimana berhasil mengeluarkan cincin dari saku, mengenggamnya erat, seakan menghancurkannya adalah suatu kemungkinan. Dia punya topinya, dia punya cincinnya. Segala yang mereka perlukan. Meski dia berbohong tentang sumber informasi yang didapatnya, dia tak pernah mengatakan selain kenyataan tentang hal-hal yang dia pelajari. Dia mungkin telah… menyembunyikan sebagian dari Potter. Tapi itu adalah hal yang lebih baik Potter tak tahu.

"Bagaimana kau bisa tahu…?" dia berhasil berkata. "Bagaimana kau bisa menemukannya?"

"Kau melakukannya dengan begitu baik hingga kau bahkan bisa menipuku. Aku tak percaya apa yang kudengar. Tapi Potter menyediakan penjelasan yang terlalu mudah bagiku; aku—seperti teman darah lumpur dan dirinya sendiri—dibesarkan oleh Muggle. Tapi aku tahu di mana aku menemukan sumberku. Sumbermu tak mungkin benar. Dan segera setelah aku melihat itu, aku menyadari apa yang telah kau lakukan. Bahwa kau hanya melindunginya, kau bocah kecil bodoh."

Potter. Dia masih memerlukan Potter. Dia butuh seorang Gryffindor sejati untuk bisa mengeluarkan pedang dari topi. Seseorang yang dapat mengakhiri ini semua. Seseorang yang dapat membantunya mengalahkan Voldemort. Seseorang yang dapat membantunya. Seseorang yang bisa meyakinkannya, memaafkan kebohongan dan tipuannya. Dia membutuhkan Harry.

"Seorang Slytherin luar dalam hingga akhir, Draco Malfoy, kau bisa membuatku bangga."

Kata-kata itu membuat Draco mengangkat kepala lagi, menatap tepat mata merah.

"Aku tidak," ujar Draco.

"Tidak, memang tidak," Voldemort mengkonfirmasi. "Tapi Potter… kau melebihi harapan tertingginya. Otak bodoh dan tak tertolong para Gryffindor. Akan menyenangkan memilikinya di belakang, untuk menghancurkannya."

Harry bangga…padanya?

Cincin menabrak keras kayu meja—bahkan mungkin meninggalkan bekas—saat Draco menaruh tangannya di sana untuk menyokong dirinya berdiri.

Voldemort terlihat geli.

"Ketetapan hatimu, meski sia-sia, sangat mengesankan. Sayang sekali untuk membunuhmu, tapi aku betul-betul tak merasa seperti itu." Voldemort menyeringai. "Apa rencanamu untuk mengakhiri ini? Kau perlu Potter untuk mengeluarkan pedangnya. Tapi aku memilikinya. Dia tak akan pernah jadi milikmu."

Draco berjengit pada kata-katanya, dan hanya bisa berharap itu tak terlihat. tapi mungkin terlihat, sebab dia melihat bibir Voldemort menyunggingkan seringai lagi. "Apa kau ingin kuberitahu satu rahasia, Malfoy?" bisiknya. Mata merahnya nyaris berkilat, dan aliran darah yang mengaliri pipi memucat Harry semakin meningkat.

Firasat tak enak muncul dalam Draco saat mendengarnya. Dia melepaskan meja dan mundur sedikit, tapi meninggalkan cincinnya masih di atas kayu gelap.

"Apa…?" dia akhirnya balas berbisik.

Voldemort tersenyum. "Aku bisa melakukan sihir tanpa tongkat."

Draco menyaksikan seakan dalam gerak lambat bagaimana tangan Harry terangkat hingga telapak tangannya yang terbuka mengarah padanya.

"Avada…"

Syok mengaliri tubuh Draco dan membuatnya mematung di tempat. Dia tahu itu hanya sebuah peringatan, sebuah bukti apa yang mampu dia lakukan dan bahwa dia tak akan lolos dengan mudah. Tapi ketakutan yang disebabkan kata itu membuatnya tak bisa berpikir rasional.

"…Kedavra."

Andai Draco Malfoy tahu listrik, mungkin dia akan menyamakan kilatan hijau singkat dengan kilatan bola lampu menyala saat kau menekan tombol sekejap. Akan tetapi sekarang, dia hanya dapat menatap syok.

Meski sekarang merah, Harry masih ada di belakang mata yang tengah menatapnya, terluka.

Draco balas menatap. Bagaimana bisa dia mengecewakan Harry sekarang, di saat Harry paling membutuhkannya? Harry bangga padanya, percaya padanya. Dia harus melakukan ini. Harus. Bagaimana pun caranya.

Tanpa betul-betul berpikir, Draco mengangkat topi yang masih dia genggam tanpa sadar, lantas memasukkan tangannya ke sana. Untuk sesaat, tak ada apa pun. Entah apa yang tengah memenuhinya sedikit goyah, dan ketakutan yang memenuhi mata merah di hadapannya berubah menjadi kelegaan dan mencelanya.

Tapi kemudian sesuatu yang dingin mendarat di tangannya, genggamannya begitu sempurna seakan peraknya ditempa untuk tangannya. Dan, dari dalam Topi Seleksi, Draco menarik keluar Pedang Gryffindor.

Mengesampingkan topinya, dia menggenggam pangkal pedang dengan kedua tangan, senjatanya terasa seimbang dan cocok mengejutkan di tangannya.

Ketakutan kembali sepenuhnya ke dalam mata merah.

"Tidak!" teriak Voldemort, tapi terlambat.

Draco maju dua langkah, mengubah pegangannya pada senjata, dan menusuknya tepat pada rubi di atas meja, nyaris seakan keduanya saling tarik menarik.

Sama seperti pisau, Pedang Gryffindor melesak permata lebih dalam dari yang seharusnya memungkinkan. Dan Harry menjerit. Baik dia dan Voldemort menjerit, dalam deru dua suara kesakitan dan derita.

Kali ini tak ada sinar. Tak ada hal misterius dan magis yang menandakan sesuatu yang sangat penting dan luar biasa baru saja terjadi. Lalu tiba-tiba pedang dan cincin terpisah, seakan terjadi ledakan di antaranya. Cincinnya melambung jauh ke sudut, sementara pedangnya menabrak tepat dinding dan memantul ke atas kursi sebelum akhirnya jatuh ke lantai dengan suara denting.

Dengan helaan napas berat—nyaris seakan dia menghembuskan jiwanya lewat mulut—Harry roboh ke lantai.

Inilah dia. Inilah akhirnya. Draco dapat merasakannya; tak ada lagi Voldemort. Tapi Harry…

Draco jatuh berlutut di samping tubuh tak bergerak Harry.

"Harry…" dia berhasil berkata dalam bisik tercekik. "Harry…"

Air mata memanasi sudut matanya saat emosi mulai membanjirinya kembali dari keadaan tercengang. Keputusasaan luar biasa nyaris mencengkeram erat perutnya, memeras, membuatnya mual.

Kedua tangannya gemetar hebat saat ia mengangkatnya ke wajah Harry untuk menyeka sungai darah yang mengotori wajahnya. Dia berakhir melumurkannya, membuat Potter dalam keadaan yang lebih kotor dari sebelumnya. "Harry…"

Tangannya mengepal erat pada kemeja Potter saat dia membungkuk. Isak tangis akhirnya merobek kerongkongan saat dia merasakan kehancuran dan panik menderu dalam benaknya.

Jangan Harry, jangan sekarang… Jangan sekarang…

Setelah semua yang mereka lakukan… dan sekarang… sekarang seperti ini? Sekarang… hanya beberapa menit terlalu terlambat. Terlambat. Segalanya terlalu terlambat. Dia tak pernah mengatakan…

"Harry!"

Air mata membanjiri matanya, menetes cepat dari dagu, meninggalkan noda basah di kemeja Potter. "Kataku kau tak boleh mati… Sudah kukatakan padamu!"

Setiap detak jantungnya menyakitkan, seakan batu berdiam dalam jantungnya, membuatnya berat dan nyeri. Dia begitu putus asa dan hancur hingga tak tahu harus pergi ke mana, apa yang harus dilakukan. Kerongkongannya terlalu sesak, gumpalan di dalamnya begitu keras dan besar hingga dia nyaris tak bisa bernapas. Kepalanya menolak untuk percaya apa yang dikatakan tubuh Potter dengan jelas. Dia telah kalah. Dia telah gagal. Voldemort lenyap, tapi begitu pula Harry. Bila ini kemenangan, harganya sangat besar. Draco jauh lebih memilih kalah bila ia bisa menghapus harganya.

Dia telah tiada. Segalanya berakhir sekarang.

Draco selalu menganggap rendah tangisan, tapi sekarang dia tak bisa menghentikan air matanya. Dia tak pernah menyaksikan kematian seperti ini. Dan dia tak pernah sepeduli ini pada seseorang sebelumnya.

Draco selalu menganggap rendah tangisan, pada tak bergunanya meneteskan air mata.

Tapi sekarang, dengan tubuh mati Harry Potter di pelukannya, dia menangis begitu keras hingga merasa seperti ingin muntah.

"Harry… tetap bersamaku… Kumohon, tetaplah bersamaku…"

.

-bersambung-

.

Bagi yang rada bingung kenapa Draco masih hidup, itu karena saat Voldemort mengucap Kutukan Kematian, Harry sempat mengambil alih tubuhnya sekejap, jadi... begitulah haha :D