Reborn of The EXO Planet Legend: 12 Guardians

Chapter 35: The Last Energi

SamKang

enjoy ^^

Pagi!
Hari sudah pagi.

Pesta semalam benar-benar membuat kelegaan seluruh prajurit.

Kini bagian sulitnyapun muncul.

"Sebenarnya kedatangan kami adalah memberitahukan ramalan dari ratu exo yaitu Ratu BoA," ucap Yunho.

"Ramalan?" tanya Gikwang.

"Benar, ratu kami memiliki kekuatan untuk melihat masa depan, dan 99% selama ini selalu benar," jelas Yunho membuat Gikwang sulit menelan air ludahnya.

"Saya akan jelaskan," ucap Jaejong sambil menarik nafasnya. "Ratu Boa meramalkan ada sesuatu seperti bola diangkasa, seperti planet berwarna putih pucat. Suatu ketikan planet itu tertutup oleh suatu bayangan hitam bulat, dan ketika itu juga, bintang galaxy ini terhisap sesuatu oleh bumi dan menyambung sampai ke planet putih itu, begitulah penglihatan Ratu," jelas Jaejoong.

"Planet putih? Mungkinkah itu gerhana bulan?" tanya Taeyeon. "Bulan memancarkan warna putih kan?"

"Benar, bisa jadi itu gerhana bulan, bayangan menutupi bulan," ucap Eungkwang.

"Posisi gerhana bulan adalah bulan-bumi-matahari sejajar, mungkinkah pada saat itu pasti terjadi penyerapan energi galaxy," ucap Siwon.

"Matahari!" seru Gikwang, "Gayoon coba cari posisi sejajar, dimana letak sisi yang paling dekat dengan matahari dan bulan ketika gerhana bulan terjadi!" perintah Gikwang.

Gayoon dan tim IT pun segera melakukan pencarian dibantu dengan komputer canggih mereka.

"Ketemu! Paling dekat matahari ada di sekitar Rusia, dan yang paling dekat dengan bulan adalah Argentina!" seru Gayoon.

"Mereka pasti menggunakan suatu alat kan? Coba periksa tempat paling tepat dan sesuai untuk membangun sesuatu tanpa diketahui orang banyak." perintah Gikwang lagi.

Tim IT pun kembali mengotak-atik komputer mereka. "Pegunungan Sayan Rusia dan Pulau Falkland Mr. Gikwang," seru Gayoon setelah mendapat jawaban.

"Baiklah, kita akan bagi dua tim, satu ke Rusia dan satu lagi ke Argentina," perintah Gikwang.

"Tunggu, apa tidak lebih baik kita fokuskan di satu titik saja?" tanya Yunho.

"Benar, kita fokuskan serangan di yang paling dekat dengan matahari saja, tanpa alat yang paling dekat dengan matahari, itu takkan berhasilkan?" ucap Siwon memberi alasan jelas.

"Baiklah, kerahkan semua kekuatan ke Rusia," ucap Gikwang.

"Jadi kapan gerhana bulannya?" Tanya Kai.

"Malam ini, sekitar pukul 08.45," jawab Gayoon.

"Kita berangkat sekarang," perintah Gikwang seraya berdiri menggebrakan meja.

"Baik!" seru para prajurit segera menyiapkan diri.

...

"Kepada pemerintahan kawasan Rusia, kami dari pasukan PBB mohon ijin memasuki wilayah, ada aktivitas musuh di dalam Rusia," suara pilot meminta ijin pada pusat kendali Rusia, namun tak ada jawaban.

"Pesawat SZR-750 kepada pusat Rusia, pesawat SZR-750 kepada pusat komando Rusia," lagi-lagi tak ada jawaban.

"Bagaimana ini?" tanya sang pilot.

"Kita masuk saja, pasti ada sesuatu yang tidak beres," perintah Gikwang.

"Mr. Gikwang, ada koneksi dari saluran lain!" ucap pilot kedua.

"Segera sambungkan!"

"Haloo.. Halo.. Disini besawat SZR-750 dari divisi militer PBB," ucap sang pilot mennjawab panggilan.

"Disini kepala negara Rusia, sistem komunikasi kami dibobol para elien, kami tidak bisa berkomunikasi ke luar wilayah Rusia," ucap suara di balik radio disana.

"Tenang pak, kita ada disini sekarang, kita akan menuju Pengunungan Sayan," jawab Gikwang.

"Mohon kerjasamanya, terima kasih,"

"Tentu, kami akan lakukan yang terbaik.."

Nutt nutt nutt... Sreekkkkserrkkkksekkkkk... Sambungan terputus.

"Kajja, kita tuntaskan ini," ucap Gikwang.

Pesawat-pesawat itupun segera menuju ke pegunungan Sayan tempat diperkirakan sang kegelapan berada. Ada sekitar puluhan bahkan ratusan pesawat yang tiap pesawatnya menampung ratusan prajurit untuk perang ini.

Merekapun sampai, pemandangan tidak enak lamngsung tersuguh kepada mereka. Di Rusia saat itu siang, matahari hampir benar-benar berada di atas mereka. Aura merah dan hitam menyebar keseluruh udara disana. Banyak sekali pasukan dan monster-monster. Pegunungan itu seperti sudah di sulap menjadi kota kegelapan. Banyak sekali prajurit sang kegelapan disana dengan membangun tempat tinggal mereka. Monster-monster besarpun berkeliaran dimana-mana. Juga ada sesuatu seperti monster raksaksa gendut dan besar berterbangan di angkasa berpatroli daerah itu. Tidak hanya itu, tapi juga banyak zombie, mahluk-mahkluk luar angkasa, mahluk matoki dan exo pun juga ada yang berubah jadi zombie. Juga banyak manusia dan penduduk Rusia yang berkeliaran disana dengan gerak-gerik yang aneh seperti zombie.

DUARRRR...

Satu pesawat PBB hancur..

"Mayday mayday! Kami tertembak, segera luncurkan prajurit yang ada, mayday mayday!"

Nitt nitt nitt nitt nitt.. Bunyi-bunyian alarm semua berbunyi. Pesawat itupun tumbang miring menghadapi nasibnya yang malang. Kembali terlihat seperti ada sinar ungu yang keluar dari monster-monster terbang itu.

"Menghindar ! Cepat segera turunkan pasukan! Balas tembakan!" seru Jendral pasukan PBB yang memimpin dalam serangan kali ini.

Terjadi ledakan juga dikubu area sang kegelapan. Beberapa bangunan hancur, namun para prajurit hitam sudah siap dengan kendaraan terbang mereka.

"Kalian harus segera turun!" seru pilot di salah satu pesawat berawakan tim elit bumi dan planet lainnya.

"Turunkan kami di tengah-tengah kota itu," seru Yunho.

"Namun itu akan sulit sekali, musuh terlalu banyak," jawab sang pilot.

"Bagaimana ?" tanya Jaejoong pada Yunho.

"Kai! Minho! Kalian bisa?" tanya Yunho.

"Tentu!" Jawab ayah-anak itu serempak.

"Oke, target kita adalah menara paling tinggi itu, aku yakin itu adalah alat yang digunakan untuk menghisap energi matahari. Lakukan sekuat tenaga, ini baru awal dari pertempuran kita, pastikan kalian selamat. Kita akan berkumpul lagi seperti ini. Ingat ini adalah pembalasan kita kepada sang kegelapan!" seru Yunho memberi semangat.

"OSSSHHHHH!" seru para pasukan.

"Kita akan pindahkan pesawatnya, langsung menuju ke tengah, siapkan dirimu Kai," perintah Minho.

"Ne? Kita tidak memindahkan orang?" tanya Kai.

"Akan repot jadinya nanti, orangnya terlalu banyak, para pilot dan awak yang tidak ikut bertarung, kita pindahkan sekarang. Ganti jadi autopilot dulu," ucap Minho.

"Kai, bawa para pilot ke pesawat sebelah, kita akan korbankan pesawat yang ini," ucap Minho.

"Ne, arraa.." WOOTT WOOTT. Kai pun menghilang bersama dengan para pilot.

WOOT WOOT, iya pun kembali.

"Nice, kau semakin cepat," puji Minhoo.

"Tentu," balas Kai.

"Oke, hitungan ketiga, satu dua tiga," WOOTT pesawat itu hilang.

WOOTT dan muncul kembali ditengah-tengah sangat dekat dengan menara tinggi itu.

"Semuanya! Ayo terjun kebawahhh... Hyahhh!" semua pasukan pun turun kebumi dengan gaya mereka masing-masing.

"Luhan hyung apa yang kau lakukan?" seru Sehun.

"Aku punya ide, aku akan mengendalikan pesawat ini, pesawat ini punya banyak amunisi kan, pasti akan sangat berguna," ucap Luhan.

"Ide baguss," jawab Kai.

"Aku akan menemanimu," ucap Sehun.

"Jangan mengkhawatirkan aku, kau berusahalah yang baik, lingungi aku dari bawah, aarraa?"

"Nee.." ucap Sehun yang tidak bisa membantah tekad kuat Luhan.

"Baiklah kita turun dulu, jaga dirimu hyung," ucap Kai.

"Luhan hyungg.. Saranghaee.." ucap Sehun.

Luhan tersenyum mendengarnya. Ia sangat senang mendengarnya walaupun disaat seperti ini.

"Nadoo.. Saranghae," balas Luhan yang juga membuat Sehun tersenyum. Sehunpun turun ke bawah bumi, dan langsung menyerang siapapun musuh yang ada di bawahnya.

Kini Luhan sendirian, dia memfokuskan pikirannya menelusuri semua yang ada di dalam pesawat itu dengan otaknya. Tiap sisi, seluk, beluk, inci.. Semuanya Luhan kuasai.

Jengg Jengg Luhan membuka matanya..
"Hyaaahhhhh..."
Kapal itu lalu berputar, mengeluarkan senjata peluru menghancurkan para musuh yang terbang di angkasa.

"Luhan coba serang menaranya!" seru Taeyeon dalam benak Luhan.

"Hyahhh.." pesawat itu kembali berputar mengarah pada menara. Luhan berkonsentrasi, ia menemukan senjata berat dengan pikirannya, dan hanya cukup berdiri di tengah-tengah pesawat, peluru bazooka pun meluncur menuju menara didepan.

BAAMMM WOZZZZ

"Tidak mempan?" seru Taeyeon terkejut.

"Itu, pasti ada pelindungnya," ucap Youngjae.

"Ada sesuatu dibawah tanah! Alat yang melindungi menara itu!" seru Krystal dengan sense eyenya yang dapat menembus pandang. "Kita harus menghancurkan pelindungnya," seru Krystal.

"Waktu gerhana bulan, empat puluh tiga menit lagi," uca suara komputer Yoseob.

"Teman-teman, kita hanya punya waktu kurang dari empat puluh tiga menit sebelum gerhana datang!" seru Sungjae.

"Ayo, segera bereskan," D.O membanting semua musuh yang ada.

para pasukan lainnyapun berhasil memasuki wilayah perang tersebut, dan berhasil memukul mundur musuh di wilayah perbatasan kota.

"Maju terussss!"
"YAAAA!"

"Dua puluh menit, guys!" seru Peniel.

"Yakk! Berhenti dengan hitungan mundurmu, itu tidak membantu!" pekik Sungjae.

"Yakk! Tapi itu perlu!" balas Peniel.

"Tidak! Kau membuatku gugup!" balas Sungjae lagi.

"Jadi, kau marah denganku?" Peniel berhenti menggerakan pedangnya. Ia menatap Sungjae yang masih memanah para mahkluk gelap itu.

Sungjae teralih pandangannya, ia membalas tatapan Peniel. Mata dan mulut Peniel menurun, ia sedih mendengar ungkapan Sungjae.

"Aniyaa.." ucap Sungjae lembut lalu mendekatkan dirinya dengan Peniel.
"Miann.. aku hanya sedang tertekan, ayo kita selesaikan ini bersama, kajja.."

Hengg.. Angguk Peniel..

"Asaaahhhh..." Peniel dan Sungjae berpose meyiapkan kuda-kuda mereka. Mereka berdiri saling menempel dan membelakangi. "Hyaaa!" Peniel dan Sungjae menebas dan menusuk musuh-musuhnya.

"Ottoghee? Kita masih belum bisa menghancurkan pelindungnya!" ucap Jessica yang juga terus sibuk membekukan musuh-musuhnya.

"Pengguna tanah, Donghae oppa! Mesin pelindungnya tertanam di dalam tanah, kau harus menghancurkannya!" seru Krystal.

"Arraseo, Hyukjae temani aku, captain Choi juga," seru Donghae.

"Ada empat mesin pelindung yg harus dihancurkan," seru Taeyeon memperingatkan.
"Aku tau," jawab Donghae.

"Disini!" Donghae lalu menginjakan kakinya ke tanah, seketika itu juga mesin yang ada di dalam tanah terankat keluar. "Bagaimana menghancurkannya?"

"Sudah, hancurkan saja," bakk dengan satu pukulan Siwon berhasil menon aktifkan mesin itu. "One down, three to go"

"Jaraknya agak jauh, disini!" seru Donghae yang dapat merasakannya lewat tanah-tanah dibawah.

"Awas!" Siwon mendorong Donghae kebawah menghindari serangan lawan. Keduanya terjatuh selamat. Ketika mereka memalingkan wajah merekan musuh itu sudah di bunuh HyukJae.

"Kita harus berhati-hati, lihatlah banyak musuh yang datang ke arah kita," ucap Eunhyuk.

"Cepat hae, kita akan tahan mereka, haaaaaaa!" Siwon dan Eunhyuk pun langsung memukul dan menyerang balik pasukan yang datang ke arah mereka. Sedangkan Donghae dengan tergesa-gesa segera menghancurkan mesin yang dapat membuat proyeksi pelindung kasat mata itu.

"Next!" teriak Donghae, tanda mesin kedua sudah hancur.

Begitu seterusnya, sampai pada akhirnya mereka sampai di mesin terakhir.

Bzztttt...

Eunhyuk memalingkan wajahnya mengikuti arah peluru mush itu meluncur.

"Akhh.." Donghae terjatuh, ia tertembak musuh.

"Eishh siall," eluhnya.

"Donghae, kau baik baik saja?" Eunhyuk menghampiri Donghae yang terbaring disana, menekan luka pada kakinya.

"Iya, Hyukjae, kakiku tak bisa digerakan, mesin terakhir di bawah sana," ucap Donghae sambil menunjuk ke arah belakang Eunhyuk.

"Musuh datang ke arah kami semua, mohon bantuannya, donghae sudah tertembak," ucap Siwon melalui alat telekomunikasi yang disediakan di telinga dan lehernya,"

Tempat itu sangat kacau sekarang, di tempat terbuka dengan pasukan kegelapan dan pasukan bumi yang sudah ambur radul menyatu, saling menghajar dan melawan.

Eunhyukpun segera menghancurkan mesin keempat itu, naum ia tidak bisa. Siwon! Tolong kau hancurkan tanah ini.

Siwonpun langsung menghajar semua musuh dan berlari ke arah Hyukjae. Satu pukulan mantap Siwon berhasil menhancurkan tanah lantai yang mereka pijaki. "Itu mesinnya," seru Hyukjae.
BaKKK pukulan kedua berhasil merusak bentuk mesin yang didalam. Penyok adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan mesin itu. Namun penyok saja tidak puas, Siwon mengangkat batuan tanah yang hancur menutupi mesin itu dan dengan kekuatannya ia mengangkat mesin itu yang tertanam di dalam tanah. Bentuk mesinnya tidak terlalu besar, bentuknya persegi dan diatas memancarkan sesuatu, proyeksi pelindung kasat mata. Hancur tak berbentuk yang diinginkan Siwon, dan dengan kekuatannya keinginan dia terwujud. Mesin itu sudah tidak dapat beroperasi, mati, tak berbentuk sudah mendeskripsikannya.

"Musuhnya datang lagi, biar kuurus," ucap Hyukjae. "Tolong bawa Donghae."

"Laporan, pelindung yang menutuppi menara sudah dihancurkan, semua pasukan! Fokuskan serangan kemenara!"

Namun perintah itu terlambat. Ada sinar biru yang bergerak di menara itu, seperti menara itu sedang mengisi energi untuk menghisap matahari. Sedangkan disisi bumi yang lain, para penduduk sedang ramai asik berada di luar rumah, menikmati fenomena yang terjadi. Bayangan gelap sudah mulai menutupi bulan.

"Akhirnya gerhana bulan mulai! Ketika gerhana full, itu saatnya kemenangan kita, BHaHAHAHA" gencar suara sang kegelapan. Dimana ia sekarang? Yang pasti ia sedang tidak di rusia, karena paras pasukan tidak mendengar suara gelegar tawaan kemenangannya. Sang kegelapan kini sedang menunggu di tempat energi itu akan berkumpul. Bulan.

-TBC-

Thanks For Reading

Leave Your Comment