New Savior : Rise Of Hell Boy

.

.

Naruto bukan kepunyaanku yah

.

To the Enemy's Gate

.

Matahari pagi berhasil mengusir bulan di langit, mengokohkan kembali kekuasaanya sebagai pemilik tunggal benda yang menerangi bumi. Malam juga telah kabur, tak kuasa menahan bendungan hari yang ingin segera keluar dari sarangnya. Bulan berganti matahari, malam berganti pagi, dan disaat itulah kehidupan kembali berlangsung.

Di sebuh gua, perbatasan Negara Api, terlihat sesosok prai bermbut merah telah mengenakan jubahnya hitamnya. Sudah tiga hari ia menunda perjalanannya demi seorang kawan lama yang masuk dalam hitungan orang penting baginya. Naruto Uzumaki, menyelamatkan Yugao Uzuki, Anbu yang selalu mengawasinya semasa ia menjadi bocah, beberapa tahun yang lalu. Seperti membalas jasa, kini Naruto bukan lagi seorang bocah yang merengek meminta permen, kini dia seorang remaja, tumbuh menuju fase dewasa.

Yugao Uzuki, berdiri di mulut gua meluruskan tulangnya. Ia mengenakan pakain Anbunya, tanpa menggunakan Topeng. Terakhir, ia mengenaian rompi berwarna putih tanpa lengan, dengan bulu domba si sekitar batasan ketiak rompi itu. Pada Lengan kirinya masih menempel perban putih sesiku menutupi lukanya yang belum 100% pulih. Ia mengangkat katananya, menggantungnya di punggungnya seperti biasanya.

"Sepertinya kita akan berpisah di sini" ucap Naruto, Pelan melangkah dari dalam Goa. Ia berhenti disamping kanan Yugao, menatapnya lembut.

"Aku sudah memutuskan.." Ungkap Yugao tiba-tiba. Naruto menyipitkan kedua matanya penasaran akan apa yang akan di katakan Anbu itu. "Aku tidak akan kembali ke konoha, dan ikut ke Otogakure bersamamu" lanjutnya penuh keyakinan.

"Apa maksudmu ikut bersamaku? " Komen Naruto dengan nada protes, tidak terima keputusan itu. "Kau harus segera melaporkan misimu ke desa secepatnya. Kau tidak bisa tetap berada di luar Konoha tanpa kejelasan tentangmu, masih hidup atau tewas dalam misi. Kau tentu tidak bodoh mewatkan hal itu" lanjut tegas Naruto.

"Aku tau.. " Jawab pelan Yugao. "Ada dua keputusan yang akan Konoha ambil dalam keadaan seperti ini. Pertama memastikan kalau aku sudah benar-benar tewas dengan mengecek di pasar gelap para bounty, dan kedua adalah memutuskan untuk mencari tau sendiri ke TKP. Minato Sama akan memilih yang ke dua, karena jika yang pertama akan tersebar kabar aku menghilang, jadi tenang saja. Selama tubuhku tidak di temukan, maka nasibku akan sama sepertimu, menghilang secara misterius. "Jelas yugao logis.

"Jika tim pencari, menemukan mayat Ninja Iwa yang menyerangku, kemungkinan mereka akan mengira aku selamat karena mengalahkan mereka. Jika mereka selamat sampai Iwa, maka Tim pencari tidak akan menemukan mereka dan kembali ke Konoha. Mereka tidak akan berani menembus perbatasan Negara api tanpa perhitngan yang jelas" lanjut si Anbu cantik itu.

"Kenapa kau ingin mengikutiku ke Oto? Orachimaru tidak pernah melakukan sesuatu yang buruk padamu" tanya penasaran Naruto.

"Aku adalah mantan pelayan setia Sandaime Sama, jadi aku juga memiliki kewajiban untuk membalaakn dendamnya." Jawab serius Yugao. 'Disamping itu, aku harus memastikan kalau kau kembali ke konoha dalam keadaan baik-baik. Juga aku akan mencari bangsat yang telah membunuh Hayate Kun' lanjut gadis itu dalam benaknya.

Naruto memalingkan wajahnya menatap lurus ke depannya. Ia kemudian menarik napas sebelum memberikan komentarnya. "Aku tidak bisa melarangmu, tapi aku juga tidak menyarankanmu untuk ikut, apapun alasanmu. Aku tidak akan melindungimu jika hal buruk terjadi di sana" komen serius remaja itu.

"Ayolah.. Apa kau pikir aku bisa menjadi pengawal pribadi Sandaime Sama, bukan tanpa alasan? Lagi pula mungkin aku yang akan melindungimu di sana, seperti kau masih kecil dulu" goda Yugao.

"Aku serius Neko, wajahmu tentu sudah di kenal oleh seluruh ninja oto, bukan hanya wajahmu, tapi mungkin hampir semua Ninja elit Konoha. Jika mereka melihatmu maka hal yang tidak di inginkan alan terjadi, dan aku tidak akan dapat menlankan rencanaku" jelas Naruto, mengutarakan alasan penolakannya.

"Yugao, Namaku adalah Yugao Uzuki. Panggil aku dengan nama jika tidak dalam tugas." Respon lembut gadis manis itu. " Mungkin kau benar kalau mereka akan mengenal semua elite Konoha, dan termasuk Neko, bukan Yugao. Menurutku akan lebih mudah mengenal seorang dengan mata ungu dan berambut merah, dibandingkan seorang gadis cantik sepertiku" lanjutnya lagi-lagi menggoda Naruto.

"Kau pikir Orachimaru sebodoh itu, tidak mengetahui identitas Shinobi Konoha?" Komen Naruto. "Kenyataannya, ia bisa bebas masuk keluar Konoha pada waktu Invasi menyatakan kalau ia memiliki seorang mata-mata di Konoha. Kabuto memiliki semua data Shinobi hanya dengan kartu anehnya, itu juga membuktikan kalau mereka telah lama memantau desa sebelum melakukan penyerangan" lanjutnya.

"Aku tidak perduli.. " Ungkap Yugao. "Kau mungkin boleh kuat di bandingkan aku, tapi aku lebih banyak pengalaman darimu. Aku telah menjadi Anbu selama bertahun-tahun bahkan ketika belum ada Naruto sang prodigy."

Naruto menghela napas, melirik Yugao sejenak. Si gadis manis itu menatap serius Naruto, tatapan penuh keyakinan akan tekatnya untuk ikut ke Oto bersamanya. Ia tidak bisa menolak lagi, selain melemparkan sebuah gulungan kecil pada Anbu itu.

"Apa ini?" Tanya Yugao Penasaran.

"Kau tidak bisa memasuki Oto dengan penampilanmu seperti ini. Kenakanlah itu dan usahakan tidak membuat masalah." Jawab Naruto. Ia kemudian melangkah, memulai perjalanannya. Yugao membuka gulungan itu, dimana langsung mengeluarkan asap. Terlihatlah sebuah Jugah yang sama seperti Naruto, keluar dari dalam gulungan itu.

"Apa kau gila menyuruhku menggunakan Jubah di siang bolong seperti ini?" Tanya Yugao, melangkahkan kakinya menyusul Naruto.

"Kenakan itu atau aku akan meninggalkanmu sendiri." Tegas Naruto. Yugao tidak dapat berbuat apa-apa selain mengikuti perkataan Naruto, meski ia tidak menyukainya. "Kenapa wanita selalu saja merepotkan." Bisik pelan Naruto.

"Hey.. Apa kau mengatakan sesuatu tentang Wanita?" Tanya Yugao yang mendengar suara bisikan Naruto.

"Tsk.. Pendengarannya kuat sekali. "Gumam mendecih Naruto terus melangkahkan kakinya. "Aku tidak mengatakan apapun tentang Wanita. Cepatlah, aku tidak ingin menghabiskan waktu dalam perjalanan." Lanjutnya.

"Uhm.. Hey Tunggu.. Bagaimana mengenakan jubah ini.. Ahk.. Siapa yang menciptakan jubah ribet seperti ini. " Yugao menggerutu, kerepotan mengenakan jubah pemberian Naruto itu. "Ini lebih sulit dibandingkan mengenakan Gaun, cih... " Lanjutnya semakin kesal, terus mencoba mengenakan jubah itu.

Pantas saja agak susah, Yugao tidak melepaskan pengikat di bagian leher jubah itu. Ia memasukkan jubah dari bagian kaki melewati kepalanya. Kepalanya tidak bisa masuk, terhalangi oleh bagian leher jubah yang masih tertutup.

Beberapa saat kemudian, Yugao akhirnya berhasil mengenakan jubah itu, kemudian memasang penutup kepalanya dan melangkah di samping Naruto. Ia menjagajarak agar tidak terlalu jauh dengan remaja berambut merah itu.

"Kenapa tidak berlari saja biar perjalanan kita lebih cepat?" Tanya Yugao penasaran. Ia tau betul kalau Naruto ingin cepat-cepat sampai ke Oto. Tapi kenapa memutuskan untuk berjalan, bukannya berlari atau melompati pohon menggunakan Chakra. Itu pasti akan membuat mereka lebih cepat sampai dibandingakan berjalan seperti sekarang ini. "Jika berlari paling tidak kita akan sampai dalam satu hari. Jika seperti ini terus, kita akan sampai dalam dua atau tiga hari."

"Yang kita datangi adalah musuh, Neko San. Jika kita menggunakan kekuatan untuk mempercepat tiba di tujuan, maka sama saja bunuh diri. Kita tidak tau berapa banyak musuh atau tidak tau kapan kita akan ketahuan. Kita bukan tim yang akan memiliki bantuan yang di datangkan dari desa Nanti. Hanya kita, aku dan kamu saja. Jika kita habis, maka habislah" jawab datar Naruto yang terus melangkah.

"Sudah kubilang kalau Namaku Yugao, jangan panggil Neko, Naruto.." Komen tidak suka Yugao.

"Aku lebih suka memanggilmu Neko, karena yang aku kenal adalah Neko, bukan Yugao." Respon datar Naruto

"Kalau begitu aku akan memanggilmu... Naru Chan..." Naruto langsung berhenti melangkah, teringat suara Mikoto yang selalu memanggilnya dengan nama itu. "Aku kenal Naru ch- apa ada sesuatu?" Tanya Yugao bingung menatap Naruto yang berhenti melangkah di belakngnya.

"Bukan apa-apa.. Terus melangkah" jawab Naruto, melangkah melewatinya begitu saja.

'Dia bahkan kini lebih tinggi dariku.. Dan aromanya, seperti seroang pria dewasa.' Pikir Yugao.'Sial.. Apa yang kupikirkan... Ia adalah bocah si tukang pembuat ulah yang selalu merepotkanku dulu. Kenapa aku berpikir aneh tentangnya' lanjutnya berontak di benaknya sendiri, kebingungan.

"Kalau kau tidak berjalan, aku akan meninggalkanmu" suara Naruto menyadarkannya dari mimpi siang hari si gadis berambut ungu itu.

"Ha-hai.. " Jawabnya Nerves, kemudian melangkah kembali mendekati Naruto. "Uhm.. Naru.. Chan." Naruto melirik Yugao, menggerkan bola matanya menatap gadis itu Horor.

"Jangan panggil aku dengan nama itu. " Tegas Naruto tidak suka mendengar nama pemberian Yugao.

"Kenapa? Kau juga memanggilku Neko, meski aku sudah bilang kalau ka"- perkataan Yugao berhenti tak kalan ia berhadapan dengan Sharingan tiga tomoe, tepat di depan matanya. "Baik.. Aku akan memanggilmu Naruto saja.. " Koreksi cepat Yugao. Ia kemudian menatap lurus kedepan dan melanjutkan langkahnya, bersikap seolah tidak terjadi sesuatu.

'Jerk... Kurasa aku tau kenapa Sharingan bisa mengerikan dibandingkan seekor biju' pikirnya dengan napas berat.

.

.

.

Iwagakure.

Desa terkuat di Negara Tanah ini berdiri kokoh. Mayoritas bangunanya terbuat dari tanah, berbeda dengan Konoha yang terbuat dari kayu dan bangunan lainnya seperti semen. Bentuk bangunan juga rata-rata berbentuk seperti sebuah kubah, menggelembung seperti labu. Tidak lupa ujung runcing ada bagian atas seperti Menara.

"TSUCHIKAGE SAMA... " Teriak asisten Tsuchikage, berlari kearah ruangan pemimpin desa itu. Seorang kakek tua, cukup pendek duduk di kursi Kage sebagai seorang Tsuchikage.

"Ada apa... Kenapa kau berteriak-teriak seperti ada kebakaran seperti itu. Apa kau ingin mengagekanku dengan penyakit jantung" komen tidak suka sang Tsuchikage menatap assistennya.

"Itu.. Jounin yang anda tugaskan mengikuti Anbu Konoha telah siuman." Ungkap sang assisten. Ekspresi Tsuchikage langsung serius, dan melayang di udara, keluar dari ruangannya.

Rumah Sakit Iwagakure.

Terlihat dua Shinobi iea terbaring dalam keadaan menyedihkan di sana. Salah satu kaki merek putus, menghancurkan karir mereka saat itu juga. Untung saja tim bantuan Iwagakure datang dan menyelamatkan nyawa mereka. Kaki mereka di baluti oleh perban putih dengan bekas darah pada bagian bawah perban itu.

"Apa yang terjadi pada kalian?" Tanya Tsuchikage. "Dimana rekan kalian yang satunya?" Lanjutnya

"Dia.. Tewas." Jawab si Kumis Sedih.

"Apa kau mau mengatakan kalau tiga Jounin Iwa kalah pada seorang Anbu Wanita yang sudah terluka parah?" Ungkap tidak terima Tsuchikage. Ia benar-benar emosi karena jika apa yang ia pikirkan benar, maka itu adalah sebuah penghinaan pada shinobinya.

"Bu-bukan seperti itu. " Jawab cepat si Kumis. "Sebenarnya kami telah berhasil mendapatkannya, dan akan kami bawa ke Iwa sebagai tawanan untuk dimintai informasi. Tapi... "

"Tapi Apa?" Tanya Tsuchikage penasaran.

Seorang pria berjubah hitam muncul dan menggagalkan rencana kami. Ia mengalagkan rekan kami hanya dalam sekali serang yang bahkan kami tidak tau bagaimana ia menyerangnya." Kali ini si kacamata yang menjawab.

Tsuchikage dengan cepat melayang di udara dan meraih kerak baju ninja berkacamata itu. "APA KAU MAU BILANG KALAU SALAH SATU JOININ TERBAIKKU DIKALAHKAN BEGITU MUDAHNYA OLEH ORANG TIDAK DIKENAL.. "Teriak geram Onoki menggemparkan isi rumah sakit, membuat seluruh mata yang berada di ruangan itu menyorotnya.

Si kaca mata langsung keringat dingin, tidak tau akan menjawab apa, tapi itu adalah kenyataan yang mau tidak mau ia harsu terima. Ia menganggukan kepalanya perlahan membernarkan pernyataan si Kage tua itu. Sang Tsuchikage menggeram kesal, melepaskan genggamannya di kerak baju si Kacamata.

"Sial... Apa dia juga yang membuat kalian seperti ini?" Tanya Tsuchikage, dan dijawab anggukan oleh kedua Jounin itu. "Dan tanpa kalian sadari juga?" Tanyanya lanjut, dan lagi-lagi di jawab anggukan. Tsuchikage semakin kesal, membuat ke dua Jounin itu ketakutan, membayangkan hal buruk yang akan terjadi pada mereka.

"Kenapa aku memiliki Jounin yang bodah, tidak sadar kalau ia kalah bahkan tanpa perlawanan." Gumam kesal Onoki. "Apa kalian melihat wajahnya, atau ciri-cirinya? Aku harus memasukannya ke bingo book"

"Maaf Tsuchikage Sama, tapi wajahnya di tutupi oleh Jubahnya dan kami kesulitan mengidentifikasikan ciri-cirinya." Jawab menyesal Si kumis.

"Tch.. Jika seperti itu, apa yang bisa kita lakukan. Pengorbanan kalian ini hanya akan sia-sia saja tanpa bisa membalaskan perbutannya pada kalian berdua." Komen emosi Tsuchikage.

"Tapi ia memiliki sesuatu yang membedakannya dari orang lain." Tambah si Kacamata. Onoki kemudian menatap Jouninnya itu penasaran.

"Apa... "Tanya sang Kage.

"Ia memiliki... Sharingan..." Mata Onoki melebar, terkejut bercampur emosi ketika mendengarkan kata Sharingan. Itu adalah kata yang ia benci, sangat benci di samping kata Hiraishin atau Kiroi Sekko. Urat matanya bahkan keluar saking emosinya.

'Mata itu... ' Pikirnya geram. 'Sejak dulu saat aku masih kecil mata itu sudah menerorku. Ketika akan menghancurkan Konoha, mata itu kembali menerorku.. Sial... ' Pikir geram Onoki.

"Siapa dia?" Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Onoki penuh amarah.

"Ka-kami belum jelas, ta-tapi.. Jika di pikir lagi di-dia adalah, Uzumaki Na-Naruto. " Jawab terbata si Kumis ketakutan.

Crakk..

Lantai di bawah Onoki retak seketika, imbasan dari chakra yang ia keluarkan. Chakra amarah mendengarkan nama sosok yang menghentikan Jinchuuriki iwa dengan kendali penuh pada bijunya, Han seorang diri. Sosok pemilik Mangekyou Sharingan yang sama seperti Uchiha Madara yang menjadu bayangan kelam di masa lalunya.

"Bu-bukannya dia telah menghilang dan tidak ada kabar sejak dua tahun yang lalu, bahkan sudah hampir tuga tahun" komen terkejut sang sekretaris Tsuchikage.

"Berarti kini ia muncul kembali.. Konoha pasti sengaja menyembunyikan keberadaannya, agar tidak menjadi sasaran perburuan para Hunter Nin. Sial... " Ungkap sangat kesal Onoki, merasa telah di permainkan oleh pemerintah desa Konoha.

"Aku belum bisa memastikan itu dia atau bukan, karena wajahnya tertutup. Tapi jika diihat tentang alasannya menyelamatkan anbu itu, hanya dia satu-satunya yang masuk akal dibandingkan Uchiha lainnya" ucap Si Kumis, kembali menjelaskan alasan kenapa mereka mengatakan Naruto sebagai pelaku utamanya. Tsuchikage mengangguk setuju karena pemikirannya sama dengan Jounin itu.

"Akaru... Tempatkan di Bingo Book Iwagakure. Naikkan level dan Bountinya, menjadi kelas S level rendah. SEKARANG" Instruksi tegas penuh emosi sang Tsuchikage.

.

.

.

Dua hari kemudian.

Konohagakure

Di ruang Hokage kini terlihat Minato tengah menikmati istrahat dari pekerjaan hariannya seperti biasa. Saat itu ia seorang gadis belia berambut hitam, sekitar 10 tahun usianya duduk manja di atas meja kerjanya.

"Uhm.. Tou San.. Apa Tou San letih hari ini?" Tanya manja Mito Senju di depan Ayahnya.

"Hum.. Memangnya Mito Chan mau apa jika Tou San letih?" Tanya Minato menatap anaknya yang sangat imut dengan kedua pipi memerah.

"Uhm.. Mito akan bantuin Tou San mengerjakan ini agar bisa bermain Ninja-Ninjaan dengan Mito" jawab manja Gadis polos ito.

"Eh.. Disini kau rupanya Mito Chan.." Suara dari pintu masuk terdengar saat itu.

"Eh.. Kaa chan... Mito membatu Tou San menyelesaikan pekerjaannya biar bisa bermain Ninja-ninjaan" ungkap ceria Mito.

"Sungguh... " Komen Shizune melangkah mendekati Mito dan suami tercintanya. "Bukankah Mito Chan hanya mengganggu Tou Sanmu huh" lanjutnya menggoda anaknya.

"Ti-tidak Ka Chan... Mito benar-benar membantu Tou san.. " Kemudian Mito berbalik menatap ayahnya dengan bola mta cokelat seperti Tsunade. "Ia kan, Tou San?" Ungkap si Senju muda itu.

Minato hanya tersenyum dan mencubit pipi tembam anaknya itu. "Kau sungguh pandai membuat orang berbohong yah, malaikan kecilku" goda Minato. Mito hanya membengkakkan pipinya cemberut.

"Bagaimana Harimu Minato Kun?" Tanya Shizune.

"Seperti biasa Shizu Chan, selalu ceria bersama malaikat kecilku yang sibuk mengganggu pekerjaan ayahnya ini" jawab Minato mengangkat Mito ke pangkuannya.

"Oh.. Jadi Mito mengganggu Tou San lagi yah.. " Goda ibunya.

"Ti-tidak.. Sungguh.. Mito chan ingin bantu Tou San.." Protes mito. Kedua orang tuanya hanya tertawa menatap betapa lucunya anak bungsu mereka itu.

"Nah... Nah.. Sekarang mito chan, biarkan ayahmu kel"-

"Minato.. Apa makasud dari semua ini.." Suara terdengar tiba-tiba dari pintu ruangan kerjanya. Terlihat Danzo masuk menerobos pintu itu tanpa mengetok terlebih dahulu.

"Shizune.. " Gumam serius Minato. Shizune kemudian mengangguk dan membawa Mito bersamanya keluar lalu menutup pintu.

"DANZO.. HARUSKAH AKU MEMERINTAHKAN ANBU UNTUK MENGEKSEKUSIMU KARENA MASUK KERUANGANKU SEPERTI ITU?" Tegas Minato berteriak.

"Kau bisa melakukan itu nanti setelah ini." Jawab Danzo meletakan Bingo Book di atas meja Minato. "Apa maksud semua ini" lanjutnya.

Uzumaki Naruto (Uchiha)

Julukan : Bocah Habanero

Umur : 16-17 tahun

Asal : Konohagakure

Rank : Jounin

Jenis kelamin : laki-laki

Penampilan : Mengenakan jubah serba hitam

Kemampuan : sangat pandai dalam semua jenis kemampuan Shinobi, terutama Genjutsu. Memiliki elemen doton, Katon dan Futon.

Kekkai Genkai. : Sharingan, Mangekyou Sharingan.

Bounty : 50 juta ryu hidup, 40 juta ryu mati.

Iwagakure

"Apa maksud semua ini Danzo?" Tanya Minato serius.

"Aku yang seharusnya menanyakan itu. Kau tentu tau kenapa dia tiba-tiba muncul setelah menghilang selama hampir tiga tahun yang lalu. Kami ingin memastikan keputusan yang akan kau kelaurkan berhubungan dengannya" jelas Danzo.

"Kami...?" Tanya bingung Minato.

"Council, kami para council. Jika kau tidak becus mengurusi masalah seperti ini, sebaiknya kau serahkan saja jabatanmu pada yang mampu. Kau akan membuat Konoha semakin parah dibandingkan masa pemerintahan Hiruzen" lagi-lagi Danzo mengancam sang Hokage.

"Kau yang menjadi masalah di sini Danzo.. Aku masih menjai Hokage di konoha dan aku bisa saja memberikan hukuman mati padamu karena tuduhan mencoba melakukan kudeta" tegas Minato.

"Lakukan itu dan akan terjadi perang dingin dalam desa. Kau jangan lupa kalau aku sekarang memegang seluruh kekuatan council Civilian dan beberapa Shinobi. Kau tentu tidak menginginkan hal buruk terjadi pada konoha bukan?" Ancam balik Danzo.

Minato hanya bisa menggeram kesal tidak bisa melakukan apapun juga saat itu. Ia menginginkan yang terbaik demi desa, sedangkan Danzo yang terbaik bagi dirinya untuk menguasai desa. Dua cara pemikiran yang sangat jauh berbeda satu sama lainnya.

"Aku berjanji Danzo.. Aku akan segera mengurus masalah ini. Naruto bukan menghilang, tapi menjalankan perintah dariku. Tepatnya sebuah misi rahasia. Saat ia kembali nanti akan jelas rincinya. Untuk sekarang, semua masih rahasia, bahkan untuk kalian para council, MENGERTI" tegas Minato. Danzo menyipitkan kedua matanya penasaran akan apa yang di ungkapkan Minato.

'Permainan apa yang sedang kau mainkan, Minato' pikir Danzo penasaran, kemudian berbalik dan keluar meninggalkan Minato Sendiri.

'Aku akan gila jika begini terus. Kuharap kau kembali, segera kembali Naruto atau Konoha akan benar-benar hancur' pikir Minato serius.

.

.

Perjalanan Naruto dan Yugao berjalan mulus, tanpa adanya hambatan. Sepanjang perjalanan Yugao terus mencoba untuk bercanda dengan Naruto, tapi si rambut merah itu terlalu dingin untuk merespon candaan itu. Entah kenapa semakin dekat dengan Oto, Naruto semakin dingin dan tidak sabar untuk segera bertemu buruannya.

Mereka berdua sudah melihat Gerbang pintu masuk Otogakure, sepasang tiang dengan lambang Otogakure pada bagian atap yang menghubungkan gerbang itu. Di sana terlihat dua penjaga gerbang tengah asyik mengobrol. Naruto berhenti melangkah saat itu.

"Eh.. Kenapa berhenti? Bukannya kau ingin segera sampai?" Tanya Yugao penasaran.

"Apa kau tidak merasakannya?" Tanya Naruto.

"Dua orang yang mengikuti kita sejak memasuki wilayah Oto?" Tanya Yugao yang mengerti maksud Naruto. Rupanya ia juga merasakan dua orang penjaga perbatasan itu. "Apa aku harus membereskannya agar tidak ada yang mencurigai kita?"

"Jika kau menghabisi mereka, yang ada hanyalah masalah baru. Jika penjaga yang harus menggantikan jaga mereka tidak menemukan penjaga sebelumnya, menurutmu apa yang akan terjadi?" Tanya balik Naruto.

"Bukannya kau hanya ingin mencari informasi tentang Orachimaru? Kita hanya perlu masuk, menanyakan tentangnya dan kembali menyiapkan strategi berikutnya." Komen Yugao sedikit mengungkap isi kepalanya.

Naruto tidak merespon, hanya ada tampang datar, dengan tatapan lurus ke arah gerbang. "Aku tidak pernah berpikir untuk hanya mencari informasi tentangnya" jawabnya sangat serius.

Yugao melebarkan matanya, terkejut mengetahui maksud Naruto. "Ka-kau... Jangan bilang kalau ka-kau ingin .." Ungkapnya dalam keterkejutan.

"Yah.. Aku akan langsung membunuhnya jika ia muncul saat ini juga" tegas Naruto.

"Apa kau sudah gila? Aku tau kalau kau tidak sebodoh itu, menyerang langsung ke markas musuh dengan tujuan mencari pemimpin musuh adalah tindakan bodoh, terlebih lawan kita adalah Orachimaru, orang yang telah mengakhiri hidup Sandaime Sama. Kita hanya akan mati percuma Naruto. Tidak perduli seberapa kuatnya dirimu, kau tidak akan mampu mengalahkan satu desa seorang diri" protes yugao, sangat tidak setuju akan rencana bodoh Naruto.

Perkiraannya, mereka hanya datang untuk melihat-lihat keadaan Oto dan mengumpulkan informasi. Ia tau kalau Naruto itu bukanlah tipe orang yang melakukan sesuatu tanpa memikirkannya. Ini bertentantangan dengan logika seorang Yugao. Jika sesuai rencananya, maka berarti Naruto akan menyerang desa ini seorang diri, hanya untuk mencari keberadaan Orachimaru. Ini tentu akan membawanya pada kenatiannya, itulah pikiran Yugao.

"Aku tidak pernah berpikir sebelumnya untuk mengajak orang lain pada perjalananku ini. Konsekuansi dari keputusanku ini akan kutanggung sendiri, bahkan jika Konoha akan mengusirku dari desa, aku tidak perduli." Naruto berhenti sejenak menatap Yugao. "Aku tidak pernah menyuruhmu untuk mengikutiku sampai Ke sini, kau datang atas kemauanmu sendiri. Sekarang kembalilah ke Konoha dan jangan pernah berpikir untuk menghentikanku, karena aku tidak akan menarik kata-kataku"

Naruto mengakhiri kalimatnya dengan penegasan, penekanan pada akhir kalimatnya. Yugao tertegun sesaat, tidak tau apa yang harus ia lakukan berikutnya. Apakah ia akan masuk ke kandang macan ini, bersama Uzumaki, atau ia akan meninggalkan Naruto dan kembali ke desa, melaporkan semua ini. Dia berada di sebuah pilihan berat dalam hidupnya.

Naruto melangkah maju, meninggalkan Yugao seorang diri di sana yang tengah gundah gulana, galau akan keputusannya. 'Aku.. Apa yang harus aku lakukan?' Pikirnya bingung. Kemudian sejenak terungkit tatapan keyakinan Hayate di dalam kepalanya, ia adalah seorang yang selalu meyakinkan Yugao dalam setiap keraguannya.

Hayate adalah kekasihnya, orang yang sangat penting baginya. Berkat Hayate, Ia mencapai levelnya yang sekarang ini. Berkat Hayate, ia pernah merasakan kebahagiaan dalam hari-harinya, dan berkat Hayate juga, ia merasakan sakitnya di tinggalkan seorang diri. 'Aku tidak akan melewatkan kesempatan ini.. Tidak akan.. Kabuto... Aku akan mencabut nyawamu demi Hayate' pikir Yakin Yugao kemudian melangkahkan kakinya mengikuti Naruto

Si rambut merah itu melirik Yugao melangkah menyusulnya. "Jadi kau sudah pastikan apa yang akan kau lakukan?" Tanya Naruto

"Hai... "Jawab pelan Yugao.

"Baguslah kalau begitu.. " Ungkap Naruto yang mengangkat tangan kanannya seolah meminta sesuatu pada Yugao.

"Ap-apa maksudmu mengangkat tangan?" Tanya bingung, rada nerves Yugao.

"Aku akan menggunakan Genjutsu untuk masuk biar tidak menimbulkan kecurigaan. Aku hanya bisa melindungi diriku jika aku tidak menyentuhmu. Jadi, jika kau mau masuk sebagai sosok yang di curigai, terserah kau saja" ungkap Naruto ingin menurunkan kembali tangannya, tapi Yugao keburu menangkapnya.

"Baik.. Tapi jangan pikir kalau aku suka melakukan ini" komen Yugao, memalingkan wajahnya.

'Aku bahkan sudah melihat dan menyentuh hampir seluruh tubuhnya, kenapa menyentuh tangannya saja, dia seperti ini?' Pikir sedikit sweetdrop Naruto. "Ah.. Wanita benar-benar merepotkan." Gumam Naruto yang kemudian melanjutkan langkahnya.

Deg...

Deg...

Deg...

Jantung Yugao terus berdetak kencang, tidak tau apa yang ia rasakan saat ini, ketika Naruto menggenggam tangannya. 'Apa yang terjadi padaku, kenapa jantungku berdebar seperti ini?; pikir Yugao kebingungan. Ia melangkah mengikuti Naruto dari belakang, meski agak ragu tapi ada sesuatu yang mendorongnya untuk percaya. 'Apa ini... Perasaan apa ini... Apa mungkin aku... ' Lanjutnya memikirikan 1001 kemungkinan dalam kegaduhan detakan jantungnya.

Mereka melewati penjaga sangat mulus, seperti tidak terjadi apa-apa. Penjaga itu tersenyum padanya dan membiarkan mereka masuk tanpa harus banyak tanya. Yugao hanya menatap bingung kedua penjaga, terutama sikap ramah mereka yang seolah telah mengenal mereka berdua.

Mereka akhirnya melewati penjaga itu tanpa masalah. Tahap pertama telah selesai, tapi mereka belum masuk ke dalam desa, mereka baru berada di depan pintu gerbang, meski sudah mengantongi izin dari penhaga gerbang. Tidak sebesar pintu masuk Konoha, hanya setengah saja dari besar pintu Konoha, dengan lambang desa bunyi.

"Ba-bagaimana kau melakukannya?" Tanya Yugao sedikit takjub akan kemampuan Naruto.

"Genjutsu.. " Jawab simple Naruto.

"Huh... Tapi bagaimana dengan dua orang yang mengikuti kita sejak tadi? Pastilah mereka akan tau kalai kita tidak melapor ke penjaga sebelum masuk." Komen Yugao.

Naruto hanya menyeringai tipis, kemudian melangkah ke arah gerbang, lalu mendorongnya. "Dari awal, mereka tidak pernah melihat kita, kenapa kau harus pusingkan itu." Ungkap Naruto sambil mendorong gerbang.

Yugao menatapnya sangat bingung. "Apa maksudmu tidak melihat kita?" Tanya Yugao. Naruto kemudian menatap ke arah dua penjaga yang sedang mengurus dua utusan dari desa Iwagakure. Yugao melebarkan kedua matanya, tidak percaya apa yang ia lihat.

"Ja-jadi.. Mereka tidak pernah mengikuti kita, hanya mengawal Ninja Iwa?" Gumam Yugao. Naruto melangkah masuk gerbang tanpa menjawab pertanyaan itu. 'Bagaimana ia tau? Apa ia melakukan Genjutsu sejak tadi?' Pikir Yugao bingung dan tanpa ia sadari, Naruto telah melepaskan tangannya.

'Hah.. Kapan ia melepaskan tanganku? Aku bahkan tidak menyadarinya' pikir Yugao kemudian melangkah mengikuti punggung Naruto yang sempat terlihat, sebelum menghilang di balik gerbang.

"Selamat datang di, Otogakure.." Gumam Naruto menyambut Yugao yang muncul di belakangnya.

Desa Oto, bangunannya belum semegah desa besar lainnya, dan di dominasi oleh bangunan yang terbuat dari kayu, sederhana, dan sangat mencirikan bangunan Khas Japanese. Tapi dilihat dari kepadatan bangunan-bangunan itu, desa ini memiliki cukup banyak penduduk.

Di jalanan, aktivitas warga yang terlihat tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa warga yang berjalan-jalan, dan beberapa penjual barang menjajakkan barang jajanan mereka. Luas wilayah Oto sekitar sepertiga dari luas Konoha dengan bentuk lonjong bila di lihat dari atas. Jalanan membentuk seperti batangan tanda nada, sedangkan lonjongannya adalah tempat perumahan para warga. Hanya saja batangannya tidak panjang. Sedangkan pada bagian belakangnya adalah ada satu bangunan agak megah, seperti menara berlantai Tiga. Pada puncaknya ada lambang desa Otogakure atau lambang nada bunyi.

"Jadi, kemana kita akan pergi pertama?" Tanya Bingung Yugao. Naruto tidak menjawab, malah melangkahkan kakinya. "Hey.. Kemana kita akan pergi?" Tanya Yugao. Mereka melangkah di tengah teriknya matahari siang yang menyinari desa itu, tanpa kejelasan dari sang pemimpin perjalanan.

Mereka berhenti di sebuah tempat makan, pastinya Ramen. Kemudian Naruto melangkah masuk ke tempat itu, tidak begitu memikirkan Yugao. "Hoh.. Kenapa aku tidak terkejut yah.. Sudah pasti.. Ramennnnn." Runtuk kesal Yugao.

"Selamat datang di kedai ramen... " Sapa wanita pelayan di kedai itu. Tidak seperti ichiraku, kedai itu memiliki meja dan kursi tersendiri, terpisah dari bartender.

"Dua miso ramen yah" ucap Naruto. Pegawai itu sedikit terkejut, kemudian melihat Yugao muncul di belakangnya.

"Hai.. Dua miso ramen" jawab pelayan itu, kemudian ke arah bartender untuk menyiapkan pesanan Naruto.

"Hey.. Aku tidak bilang kalau mau makan Ramen" protes Yugao.

"Siapa yang memesankan untukmu." Jawab malas Naruto, melangkah ke kursi di depannya dan duduk manis. Yugao menggeram kesal akan perlakuan dingin itu, kemudian ke meja bartender sendiri, memesan makanan yang ingin ia santap.

"Akh... Lelahnya... "Suara seorang Shinobi Oto berambut Hitam yang duduk di meja depan Naruto, membelakanginya, bersama rekannya yang juga membelakanginya. Rekannya itu berambut Hitam panjang sebahu.

"Kupikir kita tidak akan di berikan waktu santai oleh Tayuya Sama." Komen si rambut hitam.

"Yeah... Ia selalu bilang untuk mengetatkan kewaspadaan selama hampir tiga tahun ini, tempernya naik terus" gumam si rambut cokelat yang merasakan hal yang sama seperti temannya.

"Yeah... Mungkin karena kekalahan mereka dulu yang hampir membuat mereka mati di tangan Genin, jika saja Orachimaru Sama tidak menghidupkan mereka kembali." Ungkap si rambut hitam. "Kita di jadikan pelampiasan mereka sebagai bahan latihan gila." Lanjutnya.

"Yeah... " Ucap setuju si rambut cokelat. "Tapi ngomong-ngomong, dimana Orachimaru Sama sekarang? Tidak pernah lagi terlihat keberadaannya selama hampir tiga tahun ini. Tepatnya setelah penyerangan Konoha" tambahnya.

"Ada banyak kabar yang beredar tentangnya. Guren Sama menjalankan pemerintahan di Oto dan Kusa sekaligus. Katanya Orachimaru Sama mengalami cidera parah pada saat bertarung dengan Sandaime Hokage" komen rekannya itu.

"Tapi aku mendengar kabar lain tentang perang yang akan berlanjut. " Naruto menyipitkan kedua matanya saat mendengarkan perkataan itu. Yugao yang muncul, dengan membawa tiga tusuk Dango dan sekaleng soda, duduk perlahan membelakangi dua Shinobi Oto itu dan ikut menguping penbicaraan mereka.

"Perang katamu? Bukankah sudah selesai?" Tanya si rambut cokelat.

"Siapa yang bilang sudah selesai, Orachimaru Sama belum menyerah dan merencanakan untuk menyatukan desa lainnya untuk menjatuhkan Konoha. "-.

"Pesanan datang .." Ucap ramah si pelayan kedai, mengantarkan pesanan Naruto, membawa dua mangkok ramen. Ia langsung memberikan ramen ke Naruto dan bingung saat akan memberikan mangkok berikutnya ke Yugao yang sudah memiliki pesanannya.

"Itu pesanannya, dia akan menghabisinya sendiri." Ungkap Yugao ramah. Pelayan itu tersenyum, kemudian meletakan pesanan Naruto.

"Apa ada yang"-

"Tidak ada, kau bisa kembali." Potong cepat Naruto sambil mengangkat tangannya yang sudah memegang sumpit. Pelayan itu membungkuk, lalu kembali ke tempatnya, menunggu tamu lainnya.

"Kau serius..." Ucap terkejut si rambut coklat.

"Yah.. Karena itu kita melakukan latihan keras dan mengumpulkan kekuatan selama hampir tiga tahun ini. Orachimaru Sama jarang di Otogakure berkeliling mengumpulkan pasukan untuk melakukan penerangan. Bukankah itu hal yang masuk akal?" Tanya si rambut cokelat.

"Tapi bukannya Orachimaru Sama bersana Sasuke Uchiha di"-

"Sst.. " Potong kembali si rambut cokelat menyumbal mulut rekannya. "Kau jangan mengatakan hal itu di tempat seperti ini." Lanjutnya sambil menengak-nengok ke sekelilingnya.

'Jadi mereka tau keberadaan Orachimaru. Sepertinya pencarian Naruto akan segera berakhir' pikir Yugao.

'Mereka tau keberadaan ular bangsat itu, dan Sasuke juga. Rupanya ia belum berhasil mengambil alih tubuh Si bodoh itu. Sepertinya akan terjadi hal yang menarik sebentar lagi' pikir Naruto menyeringai, merasakan sesuatu di sekitarnya.

Yugao juga menatap Naruto dengan tatapan Penasaran, seperti tau apa yang ada di kepala Naruto. Ia solah membaca pikiran Si rambut merah itu dan merasakan hal yang sama dengannya. Naruto menatap ramennya dan dengan santainya memasukkan ramen itu ke dalam mulutnya

'Apa yang ingin di lakukan si bodoh itu? Dia tidak mungkin tidak merasakan kalau sekarang sedang di kepung. Apa yang sedang ia rencanakan sebenarnya' pikir Yugao. Satu persatu pelanggan di kedai itu keluar, tau apa yang akan terjadi nanti. Mereka tidak ingin mati sia-sia, disamping itu, mereka juga adalah warga biasa.

Terlihat dari atas, kedai itu telah di kepung oleh puluhan Shinobi Otogakure, dan juga tiga Ninja Iwagakure, bersama dua sosok Ninja elit Oto. Kembali ke dalam kedai, kedua sosok Ninja Oto yang bercerita tentang Orachimaru menatap bingung kesekililing mereka.

"Kau lihat.. Ini karena kebodohonmu mengucapkan perkataan yang tidak layak kau ucapkan. Kita akan mati.. " Gumam si rambut cokelat ketakutan melihat horor ke sekelilingnya.

"Ak-aku tidak ta-tau akan se-seperti ini.." Respon sangat ketakutan si rambut Hitam, memegang erat lengan kanan rekannya yang berambut cokelat.

"KALIAN DUA ORANG YANG DIDALAM KEDAI, KALIAN TELAH DIKEPUNG DAN SEBAIKNYA MENYERAH..." Terdengar teriakan dari luar menambah suasana horor bagi kedua Shinobi malang itu.

"Ma-MAAFKAN KAMI.. KAMI AKAN MENYERAH.. TOLONG JANGAN BUNUH KAMI.." Teriak si rambut cokelat sok kuat, sedangkan si rambut Hitam semakin ketakutan, takut akan kematiannya.

"Naruto.. Apa yang akan kita lakukan? Kita sudah ketahuan.." Bisik pelan Yugao.

"Aku lapar dan mau menghabiskan makanku dulu" guman Naruto yang kembali memasukkan ramen ke dalam mulutnya.

'Tsk.. Manusia seperti apa dia yang masih memikirkan makanan disaat seperti ini. Kalau bukan kematian maka kami akan di tangkap dan di siksa.. Siall... ' Pikir kesal Yugao. "HEY.. JIKA KITA TIDAK MELAKUKAN APAPUN MAKA KITA AKAN MATI DISINI BODOH" teriak kesal Yugao sambil berdiri menunjuk Naruto. Tanpa ia sadari penutup kepalanya terbuka, memperlihatkan wajahnya.

Kedua Shinobi Oto melebarkan matanya menatap kearah Yugao dan Naruto yang masih sibuk menghabiskan makanannya. Kereja memperhatikan baik-baik kedua sosok itu, kemudian melebarkan kedua matanya mengerti apa maksud teriakan dari luar.

"Hey... Mereka yang di panggil, bukan kita" gumam si rambut hitam berbisik pada rekannya, sambik menunjuk Naruto dan Yugao di samping mereka.

"Ka-kau yakin?" Gumam si rambut cokelat.

Tap...

Tap...

Tap...

Tiga kunai menancap di meja Naruto, dan salah satunya menghancurkan mangkok ramen yang masih berisi setengah, sissa ramennya. Naruto yang berencana memakan sissa itu langsung memunculkan urat di keningnya.

"HEY... AKU MASIH INGING MENGHABISKAN RAMEN INU TEBAYOU ... " Teriak Naruto geram.

'Aku pasti sudah gila bersama dengan seorang maniak ramen seperti Naruto. Ia lebih mementingkan ramen dibandingkan nyawanya sendiri.' Pikir sweet drop Yugao, menatap Naruto yang masih tidak ikhlas pada ramennya di atas meja.

"Padahal sudah lama aku tidak makan Ramen.. Huft.." Gumam kesal Naruto.

"Ayo.. Ayo kita keluar dari sini.. Sepertinya mereka bukan orang biasa" bisik si rambut cokelat dan perlahan melangkah meninggalkan tempatnya.

"Naruto, cukup dengan ramennya. Sekarang kuta harus segera pergi ke"-

"Hey kalian... Tahan disana..." Ucap Naruto ketika melihat dua sosok itu akan pergi. Bukannya berhenti, malah kedua orang itu berlari dengan cepat melokoskan diri keluar dan bergabung bersama puluhan Shinobi di luar kedai itu.

"Tch.." Decih Naruto kemudian melangkah keluar kedai. Yugao dengan sikap waspada melangkah mengikut di belakangnya, meski penasaran apa yang akan Naruto lakukan nantinya.

.

.

.

Naruto berhenti melangkah, ketika di hadapannya terlihat tiga Shinobi Iwagakure dan dua Ninja elite lainnya.

"Kau.. Sepertinya aku pernah melihatmu?" Gumam Naruto menatap seorang Ninja oto sekitar 20 tahunan dengan 6 tangan dan seorang lagi berbadan besar botak dan hanya memiliki ranbut tipis di atas bagian telinganya.

"Siapa kau sebenarnya?" Tanya penasaran pemilik 6 tangan. "Dari mana kalian, dan apa yang kalian inginkan di sini?" Tanyanya lanjut.

Sementara Ninja Iwa menatap kearah Yugao yang sudah tidak mengenakan penutup kepalanya lagi. Salah satu dari mereka langsung mengenali Ninja itu.

"Kau... Kau adalah Anbu Konoha bukan?" Ungkap Ninja iwa itu, menunjuk kearah Yugao. Dengan cepat Yugao melemparkan jubahnya dan menghunus katana di tangan kanannya. Ia tidak punya alasan lagi untuk diam karena identitasnya sudah ketahuan.

"Ho..ho..ho.. Jadi ada domba kecil masuk ke sarang srigala.. Betapa bodohnya" gumam mengejek si ninja Oto berbadan besar.

"Yeah.. Aku ingat kalian berdua sekarang. "Ungkap Naruto yang rupanya sejak tadi memikirkan untuk mencari tau siapa kedua Shinobi Oto itu. "Kalian adalah dua dari empat anggota Orachimaru yang datang ke Konoha dulu bukan? Kalian yang menciptakan ninjutsu barrier melindungi pertarungan Orachimaru melawan Sandaime bukan?" Lanjutnya.

Si tangan enam menyipitkan kedua matanya menatap penasaran Naruto yang perlahan membuka jubah penutup kepalanya. Angin perlahan menghembus di sekitar mereka, memainkan jubah Naruto, dan rambut panjang Yugao. Semua menantikan penasaran, manahan napas mereka untuk melihat wajah pemilik jubah hitam polos ini. Naruto pun telah menyelesaikan proses membuka penutup jubahnya. Ia menundukan wajahnya, membiarkan dua belahan rambut panjangnya terurai di menutup wajahnya.

"Ka-kau.. Rambut merah itu..." Ungkap terkejut Si badan besar.

"Uzumaki... Naruto.. "Lanjut si tangan 6.

"Katakan, dimana Orachimaru"... Ucap Horror Naruto mengangkat sedikit wajahnya, menatap ninja Oto di hadapannya itu dengan mata merah tiga Tomoe.

Rnr