Wait...
Pas saya baca review2nya... entah kenapa semua udah bisa menebak siapa 'tamu-tamu' yang muncul di cliffhanger di chap sebelumnya. AZZZZZZZ... kenapa sodara2 selalu bisa baca pikiran saya? Jangan2 sodara juga udah bisa menebak ending cerita ini, ya? O.o Wewww... kalo begitu, berhubung semua udah tahu cerita ini, maka saya nyatakan Coloured Glaze: TAMAT
Ehehehe... just joke. Tahu ato nggak tau, bisa nebak ato nggak bisa nebak, cerita ini akan tetap berlanjut~
Mengenai judul chapter ini... saya yakin pasti banyak yang udah ngerasa familiar~ Hohoho~ ini benernya adalah judul fanfic shouta-warrior. Alasan kenapa chapter ini bisa diberi judul ini adalah... Well, silahkan baca kalo pengen tahu~
Anyway, saya udah menentukan kapan cerita mengenai bishounen2 DW jadi Boyband. Yakni tanggal 1 JANUARI 2013! Yah, itupun kalo dunia belum kiamat... XDDDD soalnya kan kata suku Mayan, dunia bakal kiamat Desember 2012? Hohoho~ Kalo semisalkan dunia tempat kita tinggal ini bisa sampe tahun 2013, maka saya akan merayakan dengan mempublish cerita abal saya~ Wkwkwkwkw... #halahsayainingomongapasih
Buat shouta-warrior, yups saya akan berjuang mencari album B2Stnyaaaaa~~~ HWAITING! Dan untuk Nakamura Aihara, oh pasti Huo Li bakal muncul~ Hohohoho~ Tapi Huo Li yang muncul di sini adalah versi manusianya (AKA Huo Li versi STUCK!) Dan well, bisa dibilang dia jadi salah satu chara utama selain tentunya 6 bishounen yang udah saya sebutkan di chap sebelumnya~ Untuk Saika Tsuruhime... sabar~ wkwkwkw... Tapi kalo maksud 'sepupu'nya Ma Chao adalah Ma Dai... nggg... sebenernya Ma Dai udah dimention berkali2 sejak Unbroken Thread sebagai teman baiknya Guan Suo dan Guan Ping... ^^ Hehehe...
Wokey~ daripada saya banyak cing-cong, langsung aja ceritanya~ Hohohoho~ Happy reading!
Zhao Yun masih tidak percaya apa yang terlihat di depan matanya.
Sekarang ia mengerti seberapa mengerikannya hutan Guang Han saat ia menangkap Lu Xun. Dan ruang penjara tempat ia mencambuki Lu Xun sampai nyaris mati? Itu jauh mengerikan melampaui akal manusia. Bukan! Bukan mengerikan karena tempat yang gelap itu! Dan yang menyebabkannya mengerikan juga bukan nasib yang akan menimpa Lu Xun saat itu, melainkan nasibnya sendiri...
Dan sekarang Zhao Yun sadar benar.
Di ruangan ini, di restoran Ming furen, dilihatnya entah berapa banyaknya mereka yang disebut Abdi Langit. Mulai dari yang berwujud manusia sampai berwujud hewan suci, semuanya menunjukkan tatapan penuh amarah seperti binatang terluka. Senjata-senjata mulai diacungkan. Pedang dikeluarkan dari sarungnya. Auman dan raungan terdengar memekakkan telinga. Kemarahan mereka benar-benar tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata manusia lagi.
Zhao Yun yakin benar, ini bukan kali pertama mereka akan menunjukkan kemarahan seperti itu. Salah satunya tentu adalah ketika ia sendiri mengkhianati Lu Xun. Ahhhh... seandainya saat itu ia bisa melihat ini, tentu segala hal yang ia lakukan pada Lu Xun tidak akan terjadi! Dan sekarang... semisalkan saja shifu-shifu keparat dari FengHuang Xian-Kota FengHuang itu bisa melihat ini...
Mengerikan... sekarang ia tidak lagi takut akan nasib Lu Xun, apalagi mengasihaninya! Sebaliknya, ia takut dengan apa yang akan terjadi para shifu itu, yang sampai kapanpun mungkin tidak akan pernah menyadari hal ini. Orang-orang itulah yang nasibnya patut dikasihani!
"Satu kali saja... satu kali pikirkanlah untuk membalas mereka!"
"Satu detik saja... satu detik saja bayangkan orang-orang munafik ini akan musnah!"
"Satu kata saja... satu kata sumpah serapah!"
Zhao Yun gemetar melihat semua ini. Kemarahan mereka sudah tidak mungkin dibendung oleh manusia siapapun di dunia ini. Tuntutan mereka sangat mudah, bukan? Siapa yang tidak akan berpikir untuk membalas shifu-shifu ini? Yang tidak akan menyumpah? Zhao Yun menelan ludah sangking tegang. Apa yang akan menjadi nasib para shifu ini, hanya Lu Xun-lah penentunya. Di dalam hati Zhao Yun berpikir, semisalkan dia adalah Lu Xun, apa yang akan dia lakukan? Ah, tentu tidak benar jika memusnahkan mereka dalam sekejap, hanya karena mereka merendahkan seseorang.
Tapi... tidak begitu. Pikir Zhao Yun pada akhirnya. Aku hanyalah manusia. Tidak masalah jika aku direndahkan. Tapi... ini Sang Phoenix sendiri! Sang Phoenix yang kedudukannya satu tingkat di atas apapun! Siapa shifu-shifu ini pantas merendahkannya? Jika mereka musnah detik ini juga, bukan sesuatu yang janggal, bukan?
"Tidak perlu."
Itu...!
Zhao Yun tersentak kaget. Itu suara Lu Xun! Ya Tian... bukan main keputusan itu! Apa rahasia Lu Xun sehingga dapat menghentikan amarah para Abdi Langit itu? Dan terlebih lagi, apa rahasianya sehingga dapat meredakan kemarahannya dan bersabar?
Laki-laki Shu itu menoleh, menemukan Lu Xun tengah menunduk sejenak.
Detik itulah, pemandangan mengerikan yang dilihat Zhao Yun usai. Seluruh Abdi langit itu tidak ada lagi, lenyap begitu saja. Apa yang tidak kasat mata kembali memisahkan diri dengan yang nyata. Shifu-shifu itu masih tertawa dan melemparkan ejekan. Yangmei masih melihatnya dengan penuh kemarahan sekaligus ketakutan, begitu juga Zhou Ying. Ming furen serta para pegawainya sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa. Sementara para penari sewaan itu ketakutan, beberapa sudah siap untuk melarikan diri. Kelihatan sekali bahwa tidak ada yang melihat pemandangan tadi selain Zhao Yun sendiri.
Sekarang, kembali ke kenyataan. Dari sudut matanya, Zhao Yun melihat Lu Xun yang menunduk, dan siap-siap akan menekuk lututnya. Berlutut... di depan orang-orang itu.
Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Jerit Zhao Yun dalam hati. Salah! Semua ini salah! Seorang Phoenix... berlutut? Apakah mereka begitu butanya, sama sekali tidak bisa melihat siapa itu yang sebentar lagi akan menekuk lututnya? Seseorang tolong hentikan ini! Tidak masalah jika orang yang lain harus berlutut dan direndahkan, asal jangan Sang Phoenix!
Dengan kecepatan secepat kilat, Zhao Yun menghampiri Lu Xun dan mencekal tangannya kuat-kuat, berusaha menghentikannya sebelum ia berlutut!
"Zhao Yun?" Lu Xun terkejut, tetapi masih berusaha mengontrol suaranya agar tidak terdengar.
"Jangan berlutut pada mereka! Kau... kau tidak pantas melakukannya!" Seru Zhao Yun dengan seluruh perasaan yang bercampur aduk di batinnya. Ada ketakutan, kemarahan, tetapi juga rasa takjub yang begitu tidak dapat digambarkan lagi. "Biar... biarkan aku saja! Akulah yang berlutut!"
Tanpa menunggu lagi persetujuan Lu Xun, Zhao Yun menjatuhkan dirinya di atas lutut di depan para shifu. Tidak ada yang tidak kaget melihat ini, meski Zhao Yun sendiri merasa ini adalah hal yang wajar dan harus dilakukan. "Shifu! Aku adalah Gaibang kakak angkat dari adikku ini. Biarkan aku yang mewakilinya untuk berlutut dan minta maaf! Bukankah aku sebagai seorang kakak yang wajib bertanggung jawab mewakili adiknya meminta maaf?" Meski berkata begitu, Zhao Yun sadar benar, memang Lu Xun sama sekali tidak bersalah dan tidak perlu minta maaf untuk apapun.
Para shifu itu kelihatan puas sekali, dan tertawa mengejek. "Yah, kurasa tidak masalah jika kau, sebagai kakak, menggantikan adikmu untuk berlutut. Ya, kan?" Ejek Gai shifu. "Namun aku terkejut ternyata seorang Gaibang yang tak tahu aturan sepertimu rupanya punya sopan santun! Hahaha!"
Bukan main marahnya Zhao Yun. Tadi dia bisa menuruti emosinya menghajar orang-orang ini. Tapi sekarang ia harus berlutut.
Namun satu hal yang membuat Zhao Yun sanggup bersabar adalah, dia tahu satu hal. Jauh lebih pantas untuknya yang cuma seorang manusia, yang sebenarnya tak pantas dan tidak ada baik-baiknya hingga bisa beroleh kesempatan bertemu Sang Phoenix, berlutut di depan orang-orang busuk seperti ini daripada Sang Phoenix sendiri yang melakukannya.
"Baiklah! Karena kami sadar benar ini harusnya adalah saat berpesta, maka kesalahan kalian tadi akan kami lupakan!" Ucap Gai shifu sombong. "Ming furen! Ayo! Kenapa kau tidak segera mengantarkan kami ke meja kami? Lihat itu para penari pun sudah datang!"
"B-baik, shifu! Terima kasih banyak!" Ming furen yang sepertinya sudah sadar akhirnya kembali ke pekerjaannya yang awal, begitu juga para pegawai. Benar-benar... meski semuanya sudah lega, tetapi suasana yang sudah kacau ini tidak bisa dikembalikan lagi. Para penari yang menyuguhkan hiburan pun terlihat terpaksa bersiap-siap dan tampil. Mungkin hanya para shifu itu saja yang tidak sadar dan dengan tidak tahu dirinya masih merasa mereka diharapkan di tempat ini.
"Z-zhao Yun..." Lu Xun mendekati kawannya itu, berbisik agar suaranya tidak terdengar yang lain, kemudian membantunya berdiri. "Kau... kenapa...?"
Zhao Yun hanya bisa memandangi wajah kawannya yang penuh kebingungan itu dengan perasaan campur aduk. "Kau harusnya tahu, Lu Xun. Sudah kubilang, kan? Kau adalah Sang Phoenix! Kau... kau... kau tidak sepantasnya berlutut dan direndahkan begitu rupa! Biarlah aku yang manusia ini yang menerima penghinaan!" Suaranya pun, meski berbisik, namun penuh emosi yang tak terbendung lagi.
Betapa dalam dan tulusnya kalimat Zhao Yun itu, Lu Xun mengerti. Ditatapnya kawannya lekat-lekat. "Terima ka..."
"Tidak! Tidak! Itu sama sekali tidak perlu! Jangan berterima kasih padaku!" Zhao Yun menggeleng kuat-kuat. "Aku... aku begini tidak berguna...! Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan!" Setelah sebaris kalimat itu terucap, Zhao Yun begitu lega. Apa yang ingin ia sampaikan akhirnya keluar juga dari mulutnya. Volume suaranya berkurang banyak, dan ia berusaha tersenyum. "Sudahlah. Itu sudah berlalu..."
Dengan begitu, kedua sahabat itu akhirnya bergabung dengan para pegawai yang kalang kabut sendiri menghidangkan makanan dan membersihkan perangkat makan serta meja. Ya, kedua orang itu sama sekali tidak sadar, ada sepasang mata yang dengan tajam terus mengamati seluruh peristiwa itu. Tatapan matanya tidak pernah sekalipun terlepas dan lengah, khususnya pada Lu Xun.
-o-o-o-o-o-o-
"You Ma! Kau ini jangan memandangi gadis itu terus! Nanti kau disangka jatuh cinta padanya!"
Zhou Ying dengan sewot memarahi Yangmei. Lagi-lagi gadis ini bertindak aneh! Sesudah kehebohan tadi dan keadaan menjadi tenang kembali, Yangmei terus-menerus memandangi si gadis dingin pemain erhu itu. Sebenarnya sih tidak masalah kalau hanya memandangi saja. Tapi akan jadi masalah besar kalau gara-gara memandanginya, Yangmei sampai nyaris tersandung dan menjatuhkan perangkat makan kotor yang perlu dicuci.
Yangmei, masih dengan tidak tahu malunya membela diri. "Itu tidak mungkin, You Niang!" Katanya dengan cengiran kuda. "Guniang itu sudah tahu kalau aku perempuan! Wah, aku jadi suka padanya! Baru kali ini ada orang yang tidak menyangka aku laki-laki, padahal tampangku seperti ini!" Ujarnya dengan kegembiraan yang tidak seharusnya. Tapi bagi Yangmei yang sudah kenyang disangka laki-laki, ini sesuatu yang menyenangkan.
Tak lama, Zhao Yun dan Lu Xun, kakak angkat bohongan mereka, datang menghampiri. Kini keduanya sudah terlihat biasa saja bahkan bercanda, seolah-olah kejadian tadi sama sekali tidak pernah terjadi!
"... menurutku, penari yang di sebelah kiri itu paling cantik, You Xing! Menurutmu bagaimana?" Tanya Zhao Yun sambil mengamati penari itu dengan kagum. Mereka memang penari-penari handal dan terlatih! Lihat saja gerakan mereka yang anggun dan gemulai namun lincah, sungguh serasi dengan pakaian mereka yang berenda-rendah dengan helaian-helaian kain sutra warna-warni itu mengikuti gerakan mereka!
Benar-benar sebuah seni yang luar biasa!
"Hmmm..." Lu Xun mengerjap-ngerjap memandangi penari-penari itu. "Kurasa, semuanya cantik-cantik! Aku tidak bisa memilih!"
Zhao Yun tertawa dan mengangguk setuju. Zhou Ying cuma tersenyum-senyum. Sementara Yangmei...
"APAAAAAAAAA!" Kalau Yangmei dalam keadaan masih kelihatan perempuan menampakkkan tabiatnya ini di depan orang lain, mereka akan tahu bahwa dia cemburu. Tapi sekarang, saat Yangmei sedang terlihat sebagai laki-laki, bukankah dia seperti orang kelainan kalau cemburu cuma gara kakak angkatnya bilang para penari itu cantik? "Kakak kedua! Apa-apaan kau berkata seperti itu? Apa maksudmu, hah? Mau cari gara-gara?" Amuknya sambil seketika mencengkram kerah baju Lu Xun.
"WHOAAA! Ampun, You Ma! Aku kelepasan bicara!" Balas Lu Xun dengan tertawa, masih menanggapi Yangmei dengan main-main meski gadis itu sudah kelihatan cemburu bukan buatan.
"Hahaha! You Ma memang lucu sekali!" Akhirnya, pegawai-pegawai yang lain ikut tertawa melihat tingkat Yangmei yang mencurigakan, kelainan, dan abnormal itu. "You Ma, kakak keduamu ini laki-laki yang sangat menikmati hidup! Bayangkan saja! Dia bilang semua penari itu cantik sampai-sampai tidak bisa memilih!"
"Benar! Kau harusnya bangga punya kakak sepertinya!"
Lu Xun akhirnya angkat suara juga. "Ah, tapi memang pada dasarnya semua wanita di dunia ini cantik, kok!" Jawabnya dengan ringan dan riang. "Tidak ada yang jelek di dunia ini. Yang ada hanya mereka yang tidak bisa melihat kecantikannya(1)!"
Para pegawai itu mengangguk setuju sambil bersorak. "UWAH! Sebuah kata-kata yang luar biasa dari saudara kita You Xing!" Salah satu mengangkat cawan araknya tinggi-tinggi.
Teman-temannya yag lain mengikuti. "You Xing! Aku bersulang untukmu! Semoga kau bahagia sepanjang masa!"
Benar-benar keadaan jadi meriah sekali! Entah bagaimana, keempat orang itu sudah jadi akrab sekali dengan para pegawai. Awalnya tentu saja para pegawai itu tidak berani dekat-dekat, mengingat mereka sudah tahu siapa sebenarnya Lu Xun. Namun Lu Xun dan yang lainnya-lah yang mencoba akrab duluan, maka akhirnya tahu-tahu mereka sudah jadi seperti teman lama begini! Bisa dibilang bahwa dapur tempat mereka bekerja dan hanya bisa mengintip jadi lebih ramai daripada ruang makan tempat para shifu itu berada!
"Hei, You Ma! Bagaimana denganmu?" Tanya seorang pegawai sambil menepuk punggung Yangmei. "Apa ada dari mereka yang kau rasa cantik?"
Yangmei mati akal. Semua menyangka dia laki-laki, dan memang entah sejak kapan dia telah tanpa sadar menghayati perannya sebagai laki-laki. Tapi kalau ditanyai pertanyaan seperti ini, mau jawab apa? Apalagi mengingat dia baru saja kesal gara-gara mendengar Lu Xun bilang wanita lain cantik. "Aku... hmmm... Nggg..." Jawab Yangmei ragu. Maka asal saja gadis bodoh itu bercuap. "... menurutku, mereka semua biasa-biasa saja! Tetap tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikan kakakku You Xing!"
... entah kalimat itu adalah ucapan yang jujur, atau cuma mau cari gara-gara dengan Lu Xun, atau memang karena Yangmei ingin balas dendam. Yang pasti, ini membuat arak yang diminum Zhao Yun tumpah, Zhou Ying shock sampai wajahnya memucat, dan para pegawai melongo sampai dagu mereka menyentuh tanah. Lu Xun cuma bisa memukul jidat.
"Ya Tian...!" Para pegawai itu jadi heboh sendiri. "You Ma! You Xing memang sangat cantik bagai perempuan saja, tapi kakamu ini kan laki-laki?"
"Kau harusnya bisa memilih dari antara sekian banyaknya gadis!"
"Atau setidaknya, kau kan bisa bilang bahwa adikmu ini, You Niang, yang lebih cantik?"
"Benar! Apa-apaan kau bilang kakak keduamu ini lebih cantik? Itu sangat tidak sopan sekali!"
Melihat ini Zhou Ying jadi kasihan sekali pada Yangmei. "Nggg... xiansheng-xiansheng sekalian, You Ma masih kecil, mungkin masih belum mengerti hal-hal seperti ini." Jelasnya dengan agak gugup. "Lagipula, You Ma memang dekat sekali dengan kakak kedua, makanya dia bilang seperti itu. Ahahaha... sudahlah, anggap saja barusan You Ma sedang menjawab terlalu jujur!"
"You Niang! Kau itu bilang begitu seperti aku manusia kelainan saja!" Bentak Yangmei yang makin lama makin sewot. Wajahnya jadi hijau gara-hara sekarang para pegawai itu tertawa makin keras, menganggap penjelasan Zhou Ying adalah bercanda. "Baiklah! Kalau begitu, biar kutunjukkan mana gadis yang paling aku sukai di antara para penari itu!"
Yangmei berbalik mengintip melalui pintu dapur yang terbuka. Mau aku jadi laki-laki sungguhan? Baiklah! Akan kutunjukkan betapa laki-lakinya aku kalau aku mau! Cih! Dasar sialan mereka semua! Sumpah Yangmei di dalam hati. Tentu saja, kemarahannya ini seperti kemarahan anak kecil, dan memang begitulah yang dilihat orang-orang semuanya. Matanya kini menjelajahi para penari yang cantik-cantik itu. Rupanya Yangmei sendiri tidak bisa memilih! Benar kata Lu Xun, semuanya cantik-cantik!
... Sampai tiba-tiba, mata Yangmei berhenti di satu orang gadis.
Gadis itu adalah gadis bersikap dingin yang kini tengah bermain erhu.
"Anu..." Ia menunjuk. "Gadis itu..."
Seketika pegawai yang lain berebutan untuk melihat. Tetapi yang paling gencar dan bersemangat dan paling ingin tahu adalah... tentu saja, Lu Xun.
"Memang cantik, sih... tapi... Hei! Gadis itu lebih tinggi darimu, You Ma!"
"Ah, tepatnya You Ma memang pendek! Semua penari itu lebih tinggi darinya!"
"Yah, mungkin You Ma perlu waktu untuk jadi dewasa dulu..."
Yangmei sudah mau meledak-ledak dan melempari semua orang ini, kalau dia tidak menyadari sesuatu yang aneh. Rupanya bukan hanya dia yang memandangi gadis pemain erhu itu dengan curiga. Lu Xun juga. Mata emasnya mengerjap-ngerjap beberapa saat.
"Nggg... kakak kedua...?"
Lu Xun, dengan mata masih terfokus pada pemain erhu itu, hanya bisa bergumam pelan. "Itu..."
Akhirnya tari-tarian mereka berakhir juga. Para penari itu turun dari panggung, kelihatan cukup lelah sesudah penampilan mereka yang gilang gemilang itu. Harusnya pekerjaan mereka semua sudah selesai, kan?
Tapi yang terjadi tidak sesuai harapan mereka.
"Hei, gadis-gadis manis, kemarilah!"
Shifu-shifu yang melihat pertunjukan mereka kini sudah setengah mabuk gara-gara arak. Wajah mereka memerah, dan ucapan mereka kadang meracau. Baik para pegawai restoran maupun penari sama-sama melihat pemandangan ini dengan bingung dan kaget. Mereka, shifu-shifu yang berpakaian agung-agungan dan kelihatan begitu alim itu rupanya...
"Kenapa buru-buru pulang? Ayo temani kami dulu! Hahaha...!"
Kasihan penari-penari itu. Mereka kelihatan ragu dan tidak yakin. "T-tapi, shifu... anda seharusnya..."
"Ah, kalian ini apa-apaan? Apa kalian tidak bangga kalau melayani kami malam ini?"
"Ayo! Tidak perlu malu-malu!"
Sekali lagi, keadaan menjadi geger oleh para shifu. Dan kali ini, mereka dalam keadaan mabuk pula. Penari-penari itu, yang mungkin usianya ada yang lebih tua dari Yangmei dan Zhou Ying, kini ditarik dengan paksa oleh orang-orang munafik itu, yang kini mulai menggoda mereka seolah gadis-gadis itu adalah wanita penghibur. Sayang sekali, dugaan para penari itu jauh meleset. Karena mengira tamu yang datang adalah shifu dari FengHuang Xian-Kota FengHuang, yang seharusnya tidak melakukan tindak maksiat papaun, maka yang datang adalah penari-penari yang masih muda belia, dan sama sekali bukan penghibur.
Siapa nyana ternyata para shifu itu tidak berbeda, malah mereka jauh lebih parah. Yang mereka sendengkan bagi gadis-gadis penari yang cantik itu hanyalah sepasang telinga yang tuli.
"Lho, kalian ini penari, kan? Harus siap menghibur kami juga semalaman! Hahaha!"
"J-jangan... jangan, shifu...!"
Suara-suara seperti itu terdengar bersahut-sahutan. Ming furen tidak berani bertindak apa-apa lagi, takut-takut kejadian tadi akan terulang lagi. Begitu juga dengan para pegawai. Sekarang, apa yang harus mereka lakukan? Tentunya membiarkan shifu-shifu itu melakukan bertindak semena-mena pada para gadis yang masih bersih dan polos itu adalah salah! Tapi kalau berani ikut campur, maka akibat yang mereka rasakan tentu akan membuat mereka menyesal.
Lain halnya dengan keempat orang Gaibang jejadian itu. Yangmei menoleh ke arah Lu Xun dan Zhao Yun. "Kakak...! Apakah kita tidak melakukan sesuatu?"
Zhao Yun tentu juga tidak ingin hal seperti tadi terulang lagi.
"Jangan gegabah!" Serga Zhou Ying. "Pikirkan baik-baik sebelum bertindak!"
Tapi, apakah mereka punya waktu untuk berpikir? Kesucian gadis-gadis itulah yang jadi taruhan kalau sampai mereka terlambat! Permohonan para penari itu, yang diiringi dengan tangisan pilu, terus-menerus terdengar memenuhi tempat itu! Kelihatan sekali, orang-orang dari FengHuang Xian-Kota FengHuang, sudah tidak sabar untuk menggumbar nafsunya. Lagipula, mereka berkuasa, bukan? Tidak ada yang berani melawan mereka! Kalau semisalkan pun orang-orang rendahan ini menyampaikan perbuatan maksiat yang mereka lakukan semalaman ini, siapa yang akan percaya?
"Sudahlah..." Bahkan Gai shifu sama sekali tidak berpikir untuk menghentikan bawahannya yang lain. Parahnya, ia sendiri malah ikut-ikutan! "Kau sendiri harusnya senang, bukan? Dapat melayani orang-orang yang dipilih Sang Phoenix? Anggaplah kau sedang melayani Sang Phoenix itu sendiri! Hahaha!"
Satu kalimat itu menyulut kemarahan semua orang. Dan kali ini, khususnya adalah Lu Xun!
Tangan Lu Xun terkepal saat mendengar kata-kata itu. Jari-jari tangannya menusuk telapak tangannya hingga berdarah, namun amarahnya sudah melebihi rasa sakit. Bukan hanya tiga orang itu, tetapi seluruh pegawai yang berada di dapur juga bisa melihatnya dengan jelas. Lu Xun benar-benar marah. Matanya berkilat-kilat, dan ruangan itu terasa begitu panas, seolah-olah terbakar! Ini... persisi dengan ketika Lu Xun marah di istana Luolangong, di depan Lao Zucong!
"L-Lu Xun..." Yangmei hanya bisa memandang dengan takut-takut.
"Keterlaluan..." Lu Xun menggeram dengan suara rendah.
Namun tiba-tiba...
Betapa mengejutkannya! Entah darimana asalnya, belasan jarum-jarum panjang melayang dan melesat begitu cepat di ruangan tersebut! Dengan cepatnya menusuk dan mengenai tangan-tangan kotor para shifu!
Apa yang terjadi... hanya Tian yang tahu.
"A-APA INI?"
"KURANG AJAR...! SIAPA KEPARAT YANG MELAKUKAN INI!"
Shifu-shifu itu berdiri dengan cepat, sekali lagi membuat keributan dan mencari siapa pelaku yang mengganggu kesenangan mereka. Gadis-gadis penari itu panik sekaligus lega bukan main! Tanpa buang waktu mereka berusaha untuk melarikan diri dari restoran tersebut. Ada beberapa yang beruntung bisa melarikan diri, tetapi sungguh malang mereka yang tidak lolos dari para shifu itu!
Para penari malang yang gagal melarikan diri dilemparkan ke tengah ruangan. "Pasti kalian pelakunya!" Gai shifu maju dan menuding. Kini gadis-gadis itu hanya bisa menangis dan memohon ampun. "Daripada diberi kesempatan istimewa untuk melayani kami, kalian memilih untuk melukai kami, begitu! Perempuan-perempuan jalang! Kalian akan musnah di hadapan Sang Phoenix!" Kutuknya, seperti hakim yang dengan tidak adil menjatuhkan hukuman pada mereka yang lemah dan tak bersalah.
"Shifu...! Itu bukan kami, kumohon ampuni kami!" Mereka menangis dan berkowtow bergantian, sungguh pemandangan yang sangat memilukan. Para gadis itu baru saja bekerja dengan sangat berat, menari di depan mereka semalaman. Dan ketika akan pulang, orang-orang itu menarik mereka dan memaksa mereka menghabiskan malam itu bersama-sama. Lihat keadaan para penari itu sekarang. Kecantikan yang tadi sudah hilang, kini wajah mereka yang tadi telah dipoles menjadi tak karuan karena basah oleh airmata. Pakaian mereka sudah robek-robek, membuat mereka setengah telanjang bahkan harus menggunakan tangan untuk menutupi tubuh.
Dan sekarang, bahkan secuilpun belas kasihan mereka tidak diberi!
"Aku mengerti sekarang...!" Seorang shifu yang lain maju. "Ini senjata sungguhan! Kalian... memang ingin mencelakakan dan membunuh kami!"
"APAAAAA?" Sahut yang lain. "Mereka ini... pasti orang-orang busuk pengguna kegelapan yang ingin menghalangi kedatangan Sang Phoenix!"
Dan dengan begitu, seruan penuh kemarahan dan murka terdengar bersahut-sahutan. Ada yang menuntut kematian mereka, ada pula yang ingin mereka dibawa ke FengHuang Xian-Kota FengHuang. Namun apakah yang menjadi nasib mereka sesudah itu, siapa yang tahu?
"JANGAN OMONG KOSONG!"
Sebuah seruan yang seperti membelah udara malam terdengar membahana. Seluruh suara hiruk pikuk dihentikan begitu satu teriakan penuh kebencian dan dendam itu berkumandang. Berpuluh-puluh pasang mata memandangi orang yang menyerukannya.
Siapa nyana... rupanya itu adalah gadis pemain erhu yang telah terlupakan oleh para shifu itu!
"Phoenix...? Hmph! Manusia laknat sialan! Keparat!" Sumpahnya. Baru sekarang semuanya menyadari, di tangan gadis itu terdapat dua bilah pisau yang tajam berkilat-kilat, sepertinya begitu tajam dan selalu diasah, dan sengaja dipersiapkan untuk malam yang penuh takdir ini. Kebencian dan dendam kesumat begitu kentara di matanya. "Aku bersumpah, akan mengunci mulut kalian yang penuh kebohongan itu... SELAMANYA!"
Gadis itu, dengan sepasang belati yang tipis namun tajam di tangannya, menerjang ke arah shifu-shifu itu, khususnya Gai shifu yang terlalu terperanjat untuk melakukan apapun! Untuk sesaat, waktu seperti terhenti, mengizinkan gadis itu melancarkan serangannya yang menyiratkan dendam. Diayunkannya belati itu untuk menebas kepala si orang tua. Namun sayangnya shifu begitu beruntung, sempat untuk menghindar. Belati itu hanya mengenai lengannya saja.
"AHHHHHH! Kurang ajar!" Seru Gai shifu sambil memegangi lengan atasnya yang berdarah. "Kau...! Siapa kau? Aku tidak pernah mengenalmu!"
Untuk sesaat, gadis berbaju merah itu menghentikan serangannya. "Ya, tentu saja kau tidak tahu aku. Bagi kalian semua, keberadaan kami manusia rendahan ini hanya seperti kerikil di tepi sungai, bukan?" Tanya dengan suara rendah dan gelap, penuh geraman. Tangannya mengepal belatinya kuat-kuat, siap untuk menebas shifu tua itu kapanpun. "Qi Xianghua(2)... Kau pasti sudah melupakannya, kan? Tapi aku akan membuatmu ingat..."
Sekali lagi gadis itu mengangkat pedangnya, hendak menyerang lagi! Dan kali ini, dia tidak akan membiarkan orang tua itu lolos.
"... DENGAN MEMBUNUHMU!"
Seluruh pasang mata yang berada di ruangan itu melebar, menahan nafas. Inikah saat bagi orang tua yang semena-mena itu untuk kehilangan nyawa?
Namun serangan itu tidak akan pernah sampai.
"HONGXUE! HENTIKAN!"
Sebuah kain panjang berkelebatan, dengan begitu cepat melilit tangan kanan gadis itu berikut gagang pisau yang terangkat! Dalam sekejap, pedang itu terlepas. Belum sempat gadis itu pulih dari keterkejutannya, kain itu sekali lagi berkelebatan, kali ini melilit tangan kirinya. Pisau di tanganya terlempar, sementara tangan kirinya tidak bisa digerakkan. Gadis itu tidak bisa menyerang lagi!
"UGH!" Gadis itu mengangkat wajah, berusaha mencari siapa gerangan yang telah menggagalkan serangan yang telah ia tunggu bertahun-tahun. Hanya dalam waktu seperseskian detik, ia menemukan seorang laki-laki berdiri di depannya. Laki-laki itu menggenggam ujung kain yang melilit tangannya.
Laki-laki itu tidak lain dan tidak bukan adalah Lu Xun.
"Kau...!" Gadis itu terperanjat. "... siapa kau? Bagaimana kau bisa tahu namaku?"
Dengan tenang Lu Xun melepaskan lilitan kain itu dari tangan si gadis, yang rupanya bernama Hongxue(3). Namun daripada menjawab pertanyaan Hongxue, ia malah mengatakan sesuatu yang lain, yang menyulut amarah gadis itu. "Hongxue, hentikan serangan itu." Ucapnya. "Sarungkan pedangmu."
Hongxue pun akhirnya menurunkan senjatanya, meski tetap enggan untuk menyimpannya. Bukan, ia bukan menurunkan senjata karena menuruti Lu Xun. Tetapi... keterkejutannya itulah yang membuatnya nyaris tidak bisa berbuat apa-apa kecuali melakukan seperti yang diperintahkan. "Kau...!" Gadis itu menuding. "Seorang Gaibang dari Wu...! Aku tadi melihat dengan mata kepalaku sendiri, kau direndahkan begitu rupa oleh penipu-penipu keparat ini! Kenapa sekarang kau melindungi mereka?" Tanyanya dengan amarah yang meluap-luap.
Tidak ada yang mengatakan apapun. Tempat itu seolah kosong, hanya ada dua orang itu di sana. Lu Xun menatap gadis di depannya lekat-lekat. Emosi yang terpendam dalam benaknya sama sekali tidak terbaca.
"Sedari tadi kau bilang mereka adalah penipu." Ucap Lu Xun pada akhirnya. Suaranya pelan dan lembut, begitu berbeda dengan suara Hongxue. "Maka aku pikir kau pasti tahu yang benar. Apakah kau pernah bertemu dan melihat Sang Phoenix itu dengan mata kepalamu sendiri?"
Semuanya tertegun mendengar pertanyaan itu, bahkan termasuk Hongxue sendiri. Gadis itu tak lantas menjawab, hanya memandang lawan bicaranya dengan tajam. Apa yang ia inginkan dari bertanya seperti itu? Kalau seandainya ia berbohong pun, mengapa laki-laki asing dari Wu ini ikut campur urusannya? Tapi... yahhh... laki-laki ini sudah terlanjur menantangnya. Biar saja ia penuhi keinginannya.
"Hmph. Tentu saja aku pernah melihatnya." Jawabnya, masih dengan suara yang dingin. Ia menghirup nafas dalam-dalam, sekilas memandangi langit-langit seolah dapat menyaksikan kilas balik masa lalunya di sana. "Bertahun-tahun yang lalu, saat aku masih sangat kecil..."
Tidak ada yang bicara, seolah menunggu gadis itu selesai bicara.
"... Wujun. Iya. Itu kota kelahiranku, tempat aku bertemu dengan Sang Phoenix, untuk pertama kali, dan terakhir kalinya..."
Mendengar hal itu, Yangmei, Zhou Ying, dan Zhao Yun terperanjat bukan main. Wujun! Itu juga adalah kota kelahiran Lu Xun! Iya! Lu Xun ada di kota itu sampai usia empat tahun, dan sesudah itu datanglah orang-orang Wei yang dipimpin oleh Cao Cao(4).Tempat itu musnah, dan tidak akan pernah ada lagi. Satu-satunya hal yang mereka tahu adalah bahwa Lu Xun adalah satu-satunya orang Wujun yang selamat sesudah tentara Wei membumihanguskan semuanya.
Siapa nyana rupanya gadis ini juga...
Orang yang paling diharapkan untuk kaget, rupanya sama sekali tidak kaget. Lu Xun hanya diam, tidak mengatakan apa-apa seolah tidak ingin menginterupsi gadis itu.
"Sang Phoenix yang ada di ingatanku hanyalah seorang anak kecil yang lemah dan butuh orang lain di sisinya, sama seperti manusia pada umumnya." Lanjut Hongxue. Suaranya melembut. Pandangan matanya kini terasa begitu jauh, seolah ia berusaha memandang jauh ke belakang. "Dia sama sekali bukan seperti yang para penipu tua ini ceritakan. Bukan bagaikan jendral yang turun dari langit, dan menghancurkan 'manusia rendahan' dari sana. Sang Phoenix itu... penuh kelembutan... tidak mungkin akan menghancurkan yang namanya 'manusia rendahan'. Sebaliknya, dia akan dengan senang hati mendekati mereka..."
Akhirnya, untuk pertama kalinya Lu Xun tersenyum kepada gadis itu. "Rupanya kau sudah tahu..." Katanya. Ia bergeser selangkah, membiarkan Hongxue melihat langsung Gai shifu yang belum bangkit sangking masih terpaku dan terkejut melihat semuanya. "Sekarang, jika Phoenix itu ada di sini, apakah dia akan menghancurkan shifu-shifu semua, Hongxue?"
Hongxue terkesiap.
"... ataukah... dia akan melepaskan mereka?"
Gadis itu tidak bisa menjawab. Giginya mengertak dan jari-jarinya mengepal.
"Asal tahu saja, Hongxue." Lanjut Lu Xun. "Jika kau membunuh mereka detik ini juga, apa bedanya kau dengan mereka?"
Hongxue mengangkat wajahnya, menatap Lu Xun dengan tatapan marah seperti hewan terluka. Laki-laki asing ini...! Siapa dia berani membandingkannya dengan orang yang paling ia benci di seluruh dunia ini? Tapi, tidak bisa tidak, Gaibang ini memang benar!
Dengan penuh kekesalan dan kedongkolan, Hongxue mendengus. "Kau...! Katakan siapa namamu!"
Meski Hongxue bertanya begitu, dalam hati ia berpikir, untuk apa mengetahui nama Gaibang ini? Mungkin ini pertemuan pertama, sekaligus pertemuan terakhir mereka. Suatu saat ia akan berhasil membunuh shifu-shifu yang sombong ini, tanpa si Gaibang menjadi penghalang baik secara fisik maupun mental. Yah, mungkin itu hanya sekedar pembalasan saja. Laki-laki ini bisa tahu namanya, kenapa ia tidak boleh tahu nama laki-laki ini juga?
Namun, Lu Xun sama sekali berpikir lain.
Dia tahu, namanya akan sangat berarti untuk gadis itu. Sekali menyebutkan nama aslinya, maka segala keraguan, dan bahkan mungkin juga dendam Hongxue, akan hilang.
Tapi sekarang belum saatnya.
"Untuk saat ini, panggillah aku You Xing." Jawab Lu Xun sambil maju mendekati gadis itu selangkah. "You dari berkelana, dan Xing dari bintang."
Hongxue memicingkan mata. Tatapannya masih tajam. Barulah kali ini kedua pedangnya ia sarungkan. "You Xing, bintang yang berkelana..." Ucapnya dengan nada rendah dan gelap. "Suatu saat, kita pasti akan bertemu lagi!" Selesai mengucapkannya, dalam sekejap kedipan mata saja Hongxue sudah pergi dari tempat itu! Kecepatan larinya yang luar biasa sudah tidak terkejar lagi!
"H-hongxue!" Lu Xun, dengan cepat berusaha mengejarnya. Namun terlambat. Yang ada di luar hanyalah keheningan tengah malam. Gadis itu telah menghilang begitu saja, seolah-olah memang sejak awal dia tidak ada di sana. Lu Xun menunduk, menghela nafas panjang sebelum ia menerima tepukan di bahunya.
Zhao Yun dan yang lainnya ada di belakangnya. "Lu Xun, itu kawan kecilmu?"
Sebagai jawaban, Lu Xun hanya mengangguk. "Tapi, maaf... aku tidak bisa menceritakannya sekarang." Katanya. Perlahan-lahan matanya tertutup. Tubuhnya makin lemah dan akan jatuh. "Aku... benar-benar lelah..."
"Jadi... pada akhirnya shifu-shifu bajingan itu pergi?"
"Iya. Kalau dipikir-pikir, kasihan juga Ming furen..."
Esok paginya, mereka sudah segar seperti sedia kala, bahkan mulai berjalan-jalan di kota! Yah, kecuali Lu Xun. Laki-laki Wu itu, sesudah hari yang sangat amat melelahkan, jatuh tertidur dan sampai detik ini tidak bangun-bangun. Sesudah semalaman begitu lelah melayani orang-orang sombong, ditambah dengan rentetan kejadian yang tidak mengenakkan, dan yang paling parah adalah sihir dari Yin Long yang tidak kunjung hilang, bagaimana mungkin dia tidak akan tertidur sampai selama ini?
Yangmei berjalan dengan kedua tangan di belakang kepala, memandang ke langit sambil mengingat-ingat kisah kemarin. "Tapi, aku kaget lho! Ternyata gadis itu teman kecil Lu Xun! Siapa namanya... nggg... oh iya! Hongxue!"
"Aku juga kaget..." Imbuh Zhao Yun. "Tapi, ada yang lebih mengagetkan! Kenapa Lu Xun tidak langsung memberi tahu siapa dia sebenarnya?"
Zhou Ying, yang menyadari bahwa dua 'kakak angkat' bohongannya itu telah berbicara dengan suara keras, langsung berbisik dengan panik! "Kalian berdua ini kenapa masih pakai nama sungguhan? Ini tidak boleh! Tidak boleh!" Ujarnya. Kepanikan Zhou Ying ini malah membuat orang-orang memandangi mereka. "Kita harus pakai nama Gaibang, kan? Ya, kan? Kakak pertama dan kakak ketiga?"
"Ya Tian! Aku lupa!" Yangmei menepuk jidat dengan cepat. Lagaknya seperti gabungan antara nenek-nenek dan bocah kepala batu. Sungguh menggelikan! "Ah, terima kasih sudah mengingatkanku, You Niang!"
"Benar juga! Aku benar-benar lupa, padahal aku yang memilihkan nama untuk kalian!" Imbuh Zhao Yun.
Ketiga Gaibang jejadian itu menyusuri keramaian kota Xiang Ke di pagi hari. Benar-benar sangat menarik sekali bahwa di kota tersebut juga banyak orang-orang Wu. Tidak heran, Xiang Ke berada dekat sekali dengan perbatasan Shu-Wu. Yangmei dan Zhou Ying yang melihat ini tentu merasa seperti di kampung halaman sendiri. Namun sayang sekali, ada satu hal yang kurang dari mereka. Tidak peduli seberapa menyenangkannya kota tersebut, tetap saja ada sesuatu yang mengganjal.
"Aduh... aku lapar."
Mereka belum makan pagi.
"Benar juga..." Desah Zhou Ying. "Gara-gara San Bai-Tiga Putih, akhirnya kita kehilangan semua uang kita. Bagaimana ini? Ming furen sudah berbaik hati mengizinkan kita tinggal di penginapannya. Tapi kan kita harus tetap memikirkan uang untuk perjalanan selanjutnya. Masa kita harus berharap belas kasihan dari orang setiap saat?" Tutur Zhou Ying.
Zhao Yun mangut-mangut mengerti. "Baiklah. Kurasa kita memang harus mencari kerjaan." Ia menyimpulkan. Ketiga Gaibang jejadian yang berada di tengah kota ini jelas menarik perhatian banyak orang. Bagaimana tidak? Mereka lebih kelihatan sebagai pelancong yang tersasar daripada Gaibang lihai. "Jujur saja, aku agak malas kalau harus mencari pekerjaan kasar seperti mencuci dan jadi kuli. Bakatku ini akan sangat sia-sia."
Bakat apanya? Kau ini bakatnya kan cuma cari gara-gara saja... Batin Yangmei dalam hati, tanpa sadar diri bahwa dia sendiri cocok untuk sebutan itu.
"Hmmm..." Zhou Ying mulai berpikir. "Begini saja. Dulu aku dan Lu... maksudku, kakak kedua, mencari uang dengan melakukan misi di tempat perkumpulan Gaibang. Kurasa itu yang paling cocok untuk kita."
"SETUJU!"
Maka jadilah mereka berkeliling di kota itu mencari tempat perkumpulan Gaibang. Sekali lagi, jika mereka membutuhkan waktu total tiga puluh menit, maka dua puluh menit adalah untuk tersesat dan sepuluh menit adalah untuk perjalanan. Dan mereka menggunakannya dengan sangat efisien. Sayang sekali kehadiran Zhao Yun yang orang Shu sama sekali tidak membantu, mengingat ini juga pertama kali mantan Jendral Shu itu menginjakkan kaki di kota asing ini.
Pada akhirnya, sesudah bertanya kesana kemari dan mengundang rasa heran dari penduduk kota Xiang Ke, akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan.
Namun sayang sungguh sayang, memang sial tak bisa ditolak, jawaban yang mereka terima dari xiaojie yang menjaga tempat perkumpulan Gaibang itu sangat tidak diharapkan.
"Maaf sekali, xiongdi, jiemei..." Kata si xiaojie sambil membungkuk. "Sebenarnya, beberapa hari ini kami memang sengaja tidak menerima misi apapun..."
"TAPI KENAPA?" Tanya Yangmei yang langsung seperti menodong, sampai-sampai si xiaojie kaget bukan buatan.
Dan tidak sampai di sana, xiaojie itu juga bingung karena ada xiongdi dan jiemei yang tidak tahu apa-apa seperti mereka! "Astaga...! Xiongdi, kautidak tahu?" Tanyanya tanpa bisa membendung keterkejutan. Yangmei, yang tahu dengan yakin dan pasti bahwa ia dipanggil 'xiongdi', hanya bisa mengomel dalam hati, terutama saat mendengar Zhao Yun dan Zhou Ying di belakangnya berusaha mati-matian menahan tawa. "Semua Gaibang di pelosok China ini pasti tahu tentang hal ini! Begini, minggu depan akan diadakan kompetisi para Gaibang, xiongdi! Seluruh Gaibang di pelosok China ini boleh berpartisipasi dan akan dilaksanakan di Kota Xiang Ke ini."
"Kompetisi?" Tanya Yangmei yang mulai tertarik. "Kompetisi apa, jiemei? Bertarung?"
Si xiaojie cuma tertawa. "Tentu saja bertarung, xiongdi! Mau apa lagi? Masa kompetisi minum arak?" Nah, untuk kedua kalinya dalam sehari dan oleh orang yang sama, Yangmei dibuat jengkel. "Kompetisi bertarung yang diadakan secara tim. Satu tim terdiri dari tiga orang. Tapi syaratnya adalah, tidak boleh ada partisipan perempuan di sini. Apakah xiongdi tertarik untuk ikut bergabung?"
Yangmei kecewa.
"Ya sudahlah... Terima kasih banyak, jiemei!" Ucap Zhao Yun akan meninggalkan tempat tersebut. Ada banyak alasan kenapa ia harus menolak tawaran xiaojie itu. Satu, adalah karena mereka kekurangan laki-laki yang berpartisipasi. Dua, Lu Xun pasti tidak bisa diandalkan dalam hal-hal seperti ini. Bukan cuma sekarang dia memang tidak jago bertarung, bisa-bisa di tengah pertarungan dia jatuh tertidur! Dan yang ketiga, yang terpenting dan di atas segalanya adalah, karena ego Zhao Yun sendiri mengatakan padanya agar tidak ikutan kompetisi macam ini.
"Bagi pemenangnya, akan diberikan hadiah besar berupa uang emas!"
Nyaris saja kata-kata itu menggoyahkan keyakinan Zhao Yun yang kelihatannya kokoh seperti karang, tapi sebenarnya tidak sekokoh itu kalau masalah uang. Bukan, Zhao Yun bukan orang yang gila harta. Hanya saja, kalau kau adalah seorang buronan yang dikejar-kejar seluruh pasukan Shu, dan kau terpaksa menyamar menjadi Gaibang, dan uangmu habis, pasti kau akan mengerti perasaan Zhao Yun. Namun Zhao Yun benar-benar hebat. Tawaran uang itu tetap tidak berhasil membuatnya bergeming dari keputusannya, demi egonya sebagai seorang Jendral Shu!
Pada akhirnya, Zhao Yun keluar dari tempat itu. Zhou Ying mengikuti di belakangnya. "Sayang sekali... padahal hadiah uangnya sangat menarik..." Gumam Zhao Yun sambil menerawang. Zhou Ying mengangguk penuh simpati.
"Tidak masalah... lagipula, kita memang tidak bisa bergabung, kan? Hanya ada kakak pertama dan kakak kedua yang bisa ikut. Aku tentu tidak mungkin. Kakak ketiga memang bisa bertarung, tapi dia bukan laki-laki." Balas Zhou Ying. Tepat saat itulah mereka sadar, Yangmei tidak ada di belakang mereka! "Lho? Kakak ketiga?"
Zhao Yun juga jadi kalang kabut. Kalau dia kembali tanpa Yangmei, bagaimana reaksi Lu Xun nanti? "Ya Tian! You Ma itu kemana lagi? Astaga..."
Belum selesai Zhao Yun bicara, seperti seolah telah direncakan sebelumnya, Yangmei muncul dengan wajah sumringah sekali! Di tangannya adalah sebuah kertas yang sudah disegel dengan sebuah cap merah, dengan beberapa tulisan yang tidak terbaca dari jauh. "Hei, kakak pertama! You Niang! Lihat apa ini yang ada di tanganku!" Ucapnya tanpa sama sekali merasa bersalah telah membuat dua orang itu cemas! "Aku sudah mendaftarkan tim kita untuk maju dalam kompetisi ini! Yang maju adalah kakak pertama, kakak kedua, dan aku!" Tukasnya bangga sambil memamerkan kertas tersebut.
Zhao Yun dan Zhou Ying cuma bisa diam. Wajah mereka pucat pasi seperti kertas.
Ya Tian... Yangmei ini bagaimana, sih? Kalau sampai dia ketahuan perempuan, kami semua kan bisa celaka! Dan dia pasti malu bukan main! Pikir Zhou Ying dalam hati sambil menyumpahi Yangmei. Sayang sekali nyali gadis berambut panjang itu terlalu kecil untuk bisa menyampaikannya secara terang-terangan.
Lain Zhou Ying, lain pula Zhao Yun. CELAKAAAAAA! Yangmei akan ikut bertarung? Matilah aku...! Kalau sampai kami pulang dan Lu Xun tahu ini, dia pasti akan membunuhku! Erang Zhao Yun dalam hati.
"Sekarang..." Yangmei yang sama sekali tidak tahu dan tidak mau tahu perasaan keduanya, cuma melanjutkan laporannya dengan santai. "Sekarang, pertama-tama aku harus beli tinta warna hitam dulu! Aku mau mengecat rambutku! Oh iya, sebelum dicat, kurasa aku harus memotongnya sedikit! Lalu blah... blah... blah... lalu blah... blah... blah... lalu blah... blah... blah..."
Habislah kami semua... Begitulah yang ada di kepala Zhao Yun dan Zhou Ying.
"Sudah kuputuskan! Aku akan menjadi laki-laki sungguhan!" Seru Yangmei tiba-tiba, dengan penuh semangat pula! Ini jelas sekali membuat Zhao Yun dan Zhou Ying tidak percaya di depannya adalah Yangmei. Gadis itu selalu marah kalau dikira laki-laki, dan sekarang ingin sungguhan jadi laki-laki? Semisalkan mereka berdua sudah pulih dari keterkejutan sebelumnya, tentu mereka akan protes dan bertanyanya.
Masih tetap penuh semangat, Yangmei melanjutkan. "Lebih baik aku dikira laki-laki karena memang bertingkah seperti laki-laki, daripada dikira laki-laki meski sudah berusaha bertingkah seperti gadis! You Ma, saudara ketiga dari kakak beradik Gaibang You, adalah laki-laki tulen! MWAHAHAHAHAHAHA!"
Semua orang yang memandangi Yangmei jadi bingung sendiri. Zhao Yun dan Zhou Ying, sangking malu, cuma bisa menutup muka dan pura-pura tidak kenal.
Zhou Ying mengurut-urut dada. Memang kau pernah bertingkah seperti gadis?
Sementara Zhao Yun menggeleng saja. Kurasa kau selalu bertingkah seperti laki-laki...
(1) Terinspirasi dari quote: "Everything has its own beauty, but not everyone sees it."
(2) Salah satu OC yang muncul di fanfic "The Reversed Butterfly" oleh shouta-warrior...
(3) Ter-reveal-lah siapa gadis misterius tersebut. YUPS! Dia tidak lain dan tidak bukan adalah LI HONGXUE! OCnya shouta-warrior yang adalah main protagonist di FF "The Reversed Butterfly"~ (buat shouta-warrior: saya ingin minta maaf pada sang empunya adalah, begini: Kan menurut cerita asli, Hongxue sama Lu Xun waktu masih kecil bareng2 liat kembang api, kan? Nah, di sini saya ubah sedikit... mereka bukan melihat kembang api tapi liat bintang... Gomen... gomen... *kowtow 1000x*)
(4) Baca "Phoenix FORM: Gentle Flame" chapter 3-4 (Tragedy of Wujun) kalo lupa~~~
Yap! Sekian chapter hari ini~ ^o^ untuk updatenya adalah minggu depan hari Jumat, seperti biasa~ Sementara untuk fanfic abal saya, bakal saya publish hari Selasa tanggal 1 Januari 2013, ya~ Dan ngomong-ngomong, berhubung FF baru saya bener2 abal to THE MAX, saya minta izin untuk me-mention OC sodara, fanfic sodara, dan mungkin sodara sendiri di dalam fanfic tersebut~
Neeway, saya juga sangat mengundang sodara-sodara yang mungkin ingin OCnya dimunculkan, baik dalam Phoenix FORM maupun FF abal baru saya~ Silahkan langsung kasih tau saya via review, PM, FaceBook, ato PMnya forum KLI kalo anda adalah member~ ^^
Sekian dan terima kasih ^^
