Ahoy there~ maaf, maaf, lagi lagi telat update, sorry, soal nya Author lagi fokus ke bidang mewarnai dengan teknik watercolour XD, oke abaikan, oh ya thanks yang udah ngeripiu ye~

-IkanTerbang-

Yeee! Harapan kita sama! *di bom Dong Zhuo*

Sima Zhao: anu...

Lu Bu: udahan oi!

Whut?! Xu Shu? Oke, siap kapten!

Oke Thanks to review~

-Scarlet n Blossom-

Sima Yi: gue terima tantangan lu, mwahahahahahahaha! *plak*

Sima Zhao: susah nangkap ya? Aduh, anu sih... *udahan oi!*

Oke thanks to review~

-Lee Xia-

Lu Bu: sekali sekali berbuat baik...

Cao Cao: salah ya? Oke deh *buat markas rahasia*

Xiahou Dun: nggak gitu juga keles!

Oke thanks to review~

-RosyMiranto18-

Trevor Philips ditembak oleh Zhao Yun dan Ma Chao pake Yashio'ori? Ini keajaiban! *ditembak Trevor pake granade launcher*

Michael: tch... T, T, lu sih bandel, maka nya jangan naik Hydra...

Trevor: kan nama pesawatnya Hydra!

Franklin: halah, paman Trevor banyak alasan... Btw ini dimana ya?

Aiko: welcome to Dynasty Warriors~

TMF: pulang ah, takut dinistain *balik ke GTA V*

Oke, oke, akan saya usahakan untuk menerima semua masukan nya.

Oke thanks to review~

-Guest-

Eh, ada apa ya?

Thanks to review~

-Yanagi277-

Xiahou Ba: yes sir! *langsung lari entah kemana*

Mi Yan: baiklah~ *ngacir ke Shu*

Xiahou Dun: balik sini!

Sima Yi: Plants vs Zombie itu mainstream

Zhuge Liang: ho-oh!

Oke thanks to review~

-ynadhira-

Kebetulan sih chapter ini tentang Ma Chao dan Wang Yi, tapi versi saat mereka masih anak-anak, oke deh nanti akan saya buat lagi, anggap saja edisi lanjutan~ *diinjak Ma Chao*

Oke thanks to review~

-girl-chan2-

Ane suku Banjar~ ane selalu review di aplikasi Opera Mini di Hp, bahkan post cerita fanfic ini di Opera Mini juga ^^

Oke thanks to review~

-Hanami-

Sun Jian: sejak kerajaan Wei menyerang~

Cao Cao: gue dengar! *tembak Sun Jian pake minigun kapur*

Mobil: *nggak kuat gue!*

Kalau nggak salah baca Wikipedia, Diao Chan itu salah satu penghibur Dong Zhuo, atau mungkin selir nya, yaaah pokoknya hubungan mereka itu dekat, nah Lu Bu ini kan anak angkat Dong Zhuo, dia juga naksir ama Diao Chan, jadi kesimpulannya, Lu Bu berharap Dong Zhuo mati *anak durhaka lu Bu!* biar dia bisa nikahin Diao Chan~

Oke thanks to review~

-BlueAhoge-

Kecoa terbang wajib nista!

Lu Bu: *tendang Aiko*

Oke thanks to review~

#Authornote.

Request dari cllylngz, tentang Ma Chao dan Wang Yi, oke siap laksanakan kapten~

#Authornote end.

Akademi Dynasty Warriors

By: Aiko Ishikawa (Aiko-HeroChaos)

Rated: K+

Genre: humor, parody

-Dynasty Warriors belong to KOEI (TecmoKoei)-

Warning: chapter ini akan menceritakan kisah Ma Chao dan Wang Yi, dan awal kenapa mereka bisa jadi rival. OOC bin GAJE, typo(s), AU. Banyak karakter dan produk iklan asal nyangkut.

Warning (bonus)(?): chapter ini akan menceritakan awal mula Ma Chao dan Wang Yi menjad rival, dengan kata lain cerita flashback sewaktu mereka masih anak anak, bagi para Readers yang pingin menculik mereka tolong siapkan kardus dan karung~ *dibuang*

Chapter 37: awal mereka menjadi rival.

Flashback saat para murid AKDW duduk di bangku SD kelas 3.

Rumah kediaman Ma.

"ayah! Ayah! Aku mau naik sepeda!" rengek seorang anak kecil berambut silver, Ma Chao, dia menarik baju ayahnya sambil merengek rengek.

"kau kan masih belum bisa naik sepeda! Kemarin aja kau nabrak tuan Liu Bei, lah kemarin nya lagi nabrak janggut nya Guan Yu! Terus terus kemarin nabrak temboknya Zhuge Liang, seminggu yang lalu ju-" ayah Ma Chao, yaitu Ma Teng berhenti menjelaskan alasannya karna ditatap Author. "uh, inti nya nggak boleh!" kata Ma Teng tegas.

"huft! Pokoknya aku mau naik sepeda! Teman ku Zhao Yun berangkat ke sekolah naik sepeda! Sama itu Guan bersaudara juga naik sepeda! Pokoknya aku juga mau naik sepeda!" Ma Chao masih bersikeras.

"nggak boleh! Kamu kan belum mahir naik sepeda, iya iya banget naik sepeda! Andai naik sepeda pelan, lah ini kayak pembalap moto GP!" kata Ma Teng.

"Ma Chao kan cita cita nya mau jadi pembalap!" kata Ma Chao dengan mata cling, cling~

"heh..." Ma Teng hanya menghela nafas nya.

"boleh ya ayah! Boleh ya, Ma Chao janji nanti nilai ulangan Ma Chao dapatnya 100, janji deh!" kata Ma Chao dengan mantap.

Ma Teng menatap putra nya, dia tidak yakin dengan janji anaknya, kan Ma Chao itu yaah agak payah dalam hal belajar, nilai yang bisa mebanggakan diri nya hanya nilai Penjas, sisa nya hancur sehancur hancurnya. "baiklah... Tapi janji kau tidak boleh pulang telat"

"janji!" seru Ma Chao.

"oke, tapi kamu harus ditemanin oleh sepupu mu, Ma Dai" kata Ma Teng.

"huft! Aku mau latihan naik sepeda sendiri saja, nggak mau sama Ma Dai..." kata Ma Chao sambil menggembungkan pipi nya *need karung!-plak!*

"nggak! Pokoknya sama Ma Dai! Dia satu satu nya keponakan ku yang bisa diandalkan, pokoknya kamu harus ditemanin oleh Ma Dai, ngerti?" kata Ma Teng.

"iya, iya..." kata Ma Chao malas.

Ma Teng dan Ma Chao berjalan menuju teras rumah, Ma Chao berlari lari kecil menuju teras rumah nya, sedangkan Ma Teng membawa sepeda milik Ma Chao menuju teras rumah.

"oh iya, Ma Dai!" Ma Teng memanggil Ma Dai.

Orang yang dipanggil pun muncul, yup Ma Dai, *ini nih yang mau Author culik dalam wujud shota! Sini Dai~-Author dilempar kaleng cat*

"ada apa om Ma Teng?" tanya Ma Dai dengan wajah kusut setengah sadar (?) kelihatan banget dia habis bangun tidur, dan shock karna dipanggil pamannya.

"ini nih, aku mau kamu nemanin Ma Chao" pinta Ma Teng.

"nemanin Ma Chao?" tanya Ma Dai sambil menguap.

"yup~ dia mau latihan naik sepeda, jadi aku meminta kamu untuk menemani dia" Ma Teng mengelus rambut Ma Dai.

"na, naik sepeda?!" wajah Ma Dai langsung terkejut, mata nya yang asalnya 5 watt kini menjadi terang, "err maaf aku tak bisa..." kata Ma Dai.

"kenapa?" tanya Ma Teng.

"Papa! Ma Dai trauma, karna pernah aku tabrak" jelas Ma Chao polos.

"..." Ma Teng sweatdrop.

"nah dah dijawab sama Ma Chao, jadi aku tak mau menemanin Ma Chao naik sepeda..." kata Ma Dai, lalu dia berbalik untuk melanjutkan tidur siang nya.

"ehem!" Ma Teng berdehem, sontak Ma Dai balik lagi. "lu malam ini mau tidur di rumah Han Sui? Atau Pang De? Atau menemani Ma Chao latihan naik sepeda?" ancam Ma Teng.

"yes sir! Ma Dai akan menemanin Ma Chao naik sepeda!" kata Ma Dai sambil hormat.

"anak baik~ ya sudah selamat latihan ya~" setelah itu Ma Teng masuk kedalam rumahnya.

Ma Dai menatap sepupu nya itu sambil menggembungkan pipi nya, "huft! Andai Ma Chao tak latihan naik sepeda, mungkin aku masih bisa tidur siang..." gerutu nya.

"halah! Kau kayak koala aja, lebih baik beraktivitas, baik bagi tubuh mu!" kata Ma Chao bersemangat.

Kedua Ma bersupupu beda sifat bak YingYang memulai aktivitas mereka.

"kita latihan di lapangan saja" saran Ma Dai.

"serius?" tanya Ma Chao.

"kenapa? Apa ada masalah dengan lapangan?" tanya Ma Dai.

"tak ada~ ayo kita kesana!" Ma Chao menyeret sepeda nya (?) (karna dia belum mahir naik sepeda) Ma Dai yang berada dibelakang Ma Chao hanya mengikuti langkah sepupu nya itu dengan wajah sweatdrop.

Mereka berdua sampai juga didepan rumah Zhuge Liang, masih ada beberapa rumah lagi untuk mencapai tanah lapang. Tapi kedua Ma bersepupu ini memutuskan untuk menghentikan langkah mereka, karna melihat Jiang Wei dan Zhao Yun (versi shota) sedang berusaha manjat pohon jambu milik Zhuge Liang.

"Yun! Gue kagak bisa manjat nih!" kata Jiang Wei sambil meluk pohon jambu.

"oi ketek kerbau (?), sampe nenek nenek nyanyi lagu ost OPM pun lu nggak bakal bisa manjat, kalau cuman meluk pohon nya doang!" bentak Zhao Yun dari atas pohon sambil makan buah jambu tentu nya.

Jiang Wei berusaha memanjat, tapi karna dia nggak bisa atau mungkin phobia ketinggian, akhirnya usaha Jiang Wei sia-sia.

Zhao Yun melompat turun dari pohon jambu, "halah, nyali lu kecil Wei" Zhao Yun sweatdrop liat Jiang Wei.

"habisnya pohon jambu ini susah dipanjat..." Jiang Wei melepaskan pelukannya dari pohon jambu.

"Zhao Yun! Jiang Wei!" tegur Ma Chao.

YunWei menoleh kearah Ma Chao, "ya?" jawab mereka.

"kalian berdua mau ke tanah lapang? Ayo kita main sepeda bareng~" ajak Ma Chao.

"hmm, boleh" Zhao Yun tersenyum.

"umm, aku tak punya sepeda..." kata Jiang Wei.

"tak apa Wei, kau bisa pinjam sepeda ku~" Zhao Yun menepuk pundak Jiang Wei.

"horeee!" sorak Jiang Wei.

Keempat bocah Shu ini melanjutkan perjalan mereka menuju tanah lapang.

Kwek, kwek, kwek.

Terdengar sebuah suara samar, suara itu berasal dari rumah Zhuge Liang, keempat anak itu berharap kalau suara itu bukan dari angsa and the gang. Perlu diketahui, Zhuge Liang ini memelihara beberapa ekor angsa, selain ikan lele tentu nya, hanya sebatas hobi sampingan saja, begitulah tutur Zhuge Liang (?) *plak*.

Keempat anak itu menoleh, mereka melihat 6 ekor angsa sedang mengepak-ngepakkan sayap mereka dan mengarahkan paruh mereka kearah empat bocah ini. Goose Attack!

"uwaaaaaa!" keempat bocah Shu itu langsung berlarian.

"hei siapa yang melepaskan angsa angsa itu?!" kata Jiang Wei yang masih berlari.

"tidak tau!" jawab Ma Chao dan Ma Dai.

"Yun, lu tau kagak?!" Jiang Wei bertanya kearah Zhao Yun.

"err, sebenarnya tadi aku melempar angsa angsa itu dengan buah jambu" jelas Zhao Yun.

Sontak WeiChaoDai langsung menendang Zhao Yun menuju Angsa and the gang. "hadapin sana! Kan dimasa depan lu cover boy DW!" kata mereka bertiga.

"woi! Gua kagak mau mati!" Zhao Yun langsung bangkit dan berlari dengan kecepatan maksimal. Saking panik nya keempat anak ini sudah sampai di tanah lapang, tapi ada tapi nya, sepeda mereka ketinggalan...

"bsuyeeet! Sepeda gue masih ada didepan rumah Zhuge Liang" pekik Ma Chao.

"ya udah ambil sono!" perintah Ma Dai.

"tapi..." Ma Chao melirik kearah belakang, angsa angsa Zhuge Liang masih mengejar mereka.

"UWAAAAAA!" keempat shota Shu ini langsung manjat tembok perbatasan antar Rt Shu dan Rt Wei, sial nya itu tembok milik Jia Xu baru selesai di cat, ya udah deh siap siap aja kena omel Jia Xu.

"oi tempakul! (?) ngapain kalian manjat tembok rumah gue! Itu kan baru aja di cat!" omel sang empunya tembok.

"halah cat om tak ada seni nya! Ntar ane ganti dengan gambar anime, janji deh, tembok om bakal ane hias dengan gambar anime" kata Ma Dai.

Jia Xu terdiam, "bolehlah, bolehlah, asal gratis mah saya terima~" Jia Xu tersenyum, "btw pesan tempe, ngapain kalian berempat kayak tempakul nempel-nempel di tembok?" tanya Jia Xu.

"om Jia Xu, tempakul itu yang ada di lumpur, yang suka tenggelam, nanti timbul lagi, itu tuh yang hidup disekitar pohon tembakau" jelas Jiang Wei.

"halah sama! Yang jelas cepat turun kalian berempat dari tembok gue!" bentak Jia Xu.

"kami masih mau hidup om" kata Ma Chao dan Zhao Yun sambil memeluk erat tembok.

"memang ada apa? Apa kalian habis dikejar penunggu pohon salak? Atau apa" Jia Xu menggaruk kepala nya.

"kami dikejar angsa om! Tolong kami!" keempat anak itu memohon kepada Jia Xu.

"njiiir angsa! Gue kagak berani ngadepin angsa, ngeri boss, lebih ngeri daripada menghadapi Lu Bu terbang (baca: kecoa terbang-Author dan Jia Xu langsung ditendang Lu Bu)" kata Jia Xu.

"lha itu arit buat? Takut takutin angsa nya dengan arit itu!" kata Zhao Yun.

"meh! Ini arit diskon! Saya mendapatkannya dengan susah payah bo!" kata Jia Xu.

"jadi om mau kita nempel di tembok om terus?" tanya Jiang Wei.

"ya kagaklah! Tunggu setumat~" Jia Xu mengeluarkan handphone nya (Tunggu setumat: tunggu sebentar)

Tat, tit, tat, tit, tut, tut. (?)

"HL AD XD K DST?" Jia Xu memulai pembicaraannya melalui via telpon tentu dengan gaya iklan Axis. ("Halo ada Xiahou Dun kah disitu?")

Suara di sebrang sana pun mebalas, "TDK AD, XD JLN M XY K SM"balas suara di sebrang sana, yaitu Cao Cao. (Tidak ada, Xiahou Dun jalan ama Xiahou Yuan ke Supermarket")

"O YSD"Jia Xu menutup telpon nya. ("Oh, ya sudah")

"om, om, kenapa nelpon nya di singkat gitu?" tanya Ma Chao sweatdrop.

"oh, ini salah satu cara untuk menghemat pulsa~" kata Jia Xu.

Semua hening... Mengheningkan cipta mulai *salah!*

"ya sudah, coba saya telpon orang lain, siapa tahu mereka bisa mengusir angsa angsa itu" Jia Xu kembali menekan nomor telpon orang yang akan ia tuju.

Tat, tit, tut, tut~

"HL, AD LB K DST?" Jia Xu memulai pembicaraan. ("Halo, ada Lu Bu kah disitu?")

Suara di sebrang sana menjawab, "maaf nggak terima alien!" telpon di sebrang langsung ditutup. Yup tadi yang menjawab Dong Zhuo, yaah karna dia itu kurang gaul atau mungkin nggak paham, karna eksis dan kudet. *Author langsung di bom Dong Zhuo*

"yaaah di tutup..." Jia Xu kembali mencoba, kali ini masih di wilayah Other.

"HL, AD MH K DST?" Jia Xu memulai pembicaraan. ("Halo, ada Meng Huo kah disitu?")

Suara di sebrang sana menjawab, "yaga, Yuguagan Shagao digisigi? Agadaga sagayaga bigisaga bagantugu?" jawab orang di serbang telpon, yaitu Yuan Shao dengan bahasa wah nya. ("ya, Yuan Shao disini? Ada yang bisa saya bantu?")

"bigisaga bigicagara degengagan Menggeng Huguo?" Jia Xu juga ikut ikut ngomong pake bahasa aneh itu, yang menurut pendengaran empat bocah Shu itu, bahasa yang mereka dengar ini bahasa galaksi lain. "(bisa bicara dengan Meng Huo?")

"hoo, begentagar"telpon di sebrang mati.

Beberapa detik kemudian "Bang Toyib, Bang Toyib, minta kawin lagi-" nada dering hp Jia Xu yang nggak banget akhirnya berbunyi. Jia Xu buru buru mengangkat telpon nya. "HL, MH K NI?" ("Halo, Meng Huo kah ini?")

"iya, eh Xu! Lu jangan ngomong singkat singkat dong! Juga jangan pake bahasa alien! Kagak paham saya, ya sudah langsung ke inti beras ketan (?) ada perlu apa?" tanya Meng Huo.

"hooo, gini nih, itu tuh, angsa nya Zhuge Liang lepas, dan terus menteror tembok rumah aku, tolong dong jinakkan angsa angsa itu, plisss!" pinta Jia Xu.

"oke! Bentar ya, lagi OTW!"telpon pun di tutup.

Tak lama kemudian Meng Huo puncul lengkap dengan pasukan gajah nya *lu mau apa om?!*. Tanpa kwak, kwik, kwuk, kwek, kwok, pun para angsa langsung lari karna takut diinjak sama gajah nya Meng Huo.

"nah sudah rebes boss!" kata Meng Huo.

"thanks ya!" Jia Xu tersenyum puas, lalu dia meminta keempat bocah Shu itu untuk turun dari tembok nya.

"horeee, kita bebas dari para angsa!" sorak bahagia Zhao Yun.

Ketiga teman nya langsung memukul kepala Zhao Yun, "ini juga gara gara lu kita harus berurusan dengan para angsa!" omel ChaoWeiDai.

"huh! Sepeda ku tertinggal di depan rumah om Zhuge Liang, mau ngambil tapi ntar di kejar angsa lagi..." gerutu Ma Chao.

"pake pintu kemana saja..." saran Zhao Yun. *nak!*

"halah, minta di skip sama Author saja~" saran Jiang Wei.

"berlian (?)" semua nya setuju termaksud Author *plak*

-skip-

"yeeee akhirnya aku bisa latihan naik sepeda!" Ma Chao terus mengayuh sepeda nya dengan kecepatan maksimal.

Zhao Yun juga ikut mengayuh sepeda nya dengan kecepatan yang tak beda jauh dengan Ma Chao, sedangkan Jiang Wei dan Ma Dai harus rela menerima job dari Jia Xu, yaitu mengecat ulang tembok milik Jia Xu *puk puk*

"Ma Dai, pake kuas sakti lu aja! Lu musou lalu arahkan bola tinta itu kearah tembok ini" pinta Jiang Wei.

"yeee! Kan kita jadi shota, otomatis gue juga kagak punya kuas sakti itu" gerutu Ma Dai.

"kau benar, yakin setelah chapie ini selesai kita bakal masuk kardus..." Jiang Wei curhat.

"lu mah mending! Lah gue ini sudah di rambu rambu merah! Nggak mau masuk kardus!" Ma Dai langsung peluk tembok.

"..." Jiang Wei sweatdrop.

Saat kedua orang kuli bangunan terpaksa ini (?) sedang asyik curhat tentang shota, cat, dan kuas, disaat itulah Wang Yi dan Cai Wenji versi (loli) lewat, mereka tertawa kecil karna melihat Ma Dai meluk tembok ditambah wajahnya yang sudah habis berlumuran cat warna biru gelap.

"hihihi..." Cai Wenji tertawa kecil.

"lihat, ada kuli bangunan" Wang Yi mengejek mereka berdua.

Sontak kedua kuli bangunan abal abal ini langsung menoleh kearah mereka.

"kami bukan kuli bangunan!" bantah Jiang Wei.

"tul!" Ma Dai jadi backsound nya Jiang Wei.

"terus, kenapa kalian mengecat tembok? Kalian ini anak anak Shu yang kurang kerjaan" ejek Wang Yi.

"kami ini banyak kerjaan! Kan kau lihat sendiri kami sedang mengecat tembok!" Jiang Wei membela diri nya.

"tul!" Ma Dai masih jadi backsound Jiang Wei.

"halah...kalian payah, wek!" Wang Yi menjulurkan lidah nya kearah Jiang Wei dan Ma Dai.

Kedua nya tetap sabar menghadapi cobaan tante kunti ini (?) *plak*, mereka cuek, dan memilih melanjutkan mengecat tembok.

Ma Chao dan Zhao Yun yang masih asyik bersepeda dengan kecepatan maksimun nya, mengarah ke arah dua shota (WeiDai) dan dua loli (YiWenji), dan akhirnya kecelakaan pun terjadi.

Ma Chao nabrak Ma Dai dan Wang Yi, yang mengakibatkan mereka berdua harus nyemplung ke kolam milik Jia Xu (ngomel lagi ni om ntar), tapi ajaibnya Ma Chao nggak ikut nyemplung, dia hanya tertidur diatas tanah dengan posisi sepeda yang menaiki diri nya (?), sedangkan Zhao Yun malah nabrak Jiang Wei, akibatnya kedua juga ikut nyemplung di kolam milik Jia Xu (bisa asam urat Jia Xu ntar), Cai Wenji yang merupakan korban selamat dan saksi mata hanya bisa sweatdrop.

"oi! Kau mau jadi jagoan ya?! Berani sekali menabrak ku!" Wang Yi langsung naik darah.

"ma, maaf... Aku kan tidak sengaja... Aku baru belajar naik sepeda..." Ma Chao meminta maaf kedapa Wang Yi, tapi dia lupa minta maaf sama Ma Dai. *nak*

"hah! Cowok rendahan kamu! Masa nggak bisa naik sepeda sih!" sindir Wang Yi.

Ma Chao langsung naik darah, "apa?! Sini kau, aku hajar kau!" Ma Chao loncat ke kolam milik Jia Xu.

Ma Dai tidak ingin terlibat dengan pertarungan sepupu nya ini, karna kalau Ma Chao bertarung itu seperti singa super buas, dia lebih baik naik ke daratan dan mengeringkan pakaiannya.

Zhao Yun dan Jiang Wei yang masih terjebak di kolam berusaha melerai kedua nya.

"sudah Ma Chao, dia itu cewek! Cewek itu selalu benar!" kata Zhao Yun *ni anak malah manas, manasin suasana*

"tenang Ma Chao, tarik nafas, keluarkan, tarik nafas, keluarkan... Ah anaknya cewek apa cowok?" kata Jiang Wei yang makin parah.

"gue kagak sedang melahirkan! Minggir kalian! Biar aku beri pelajaran ni cewek!" bentak Ma Chao.

Zhao Yun dan Jiang Wei memilih untuk menepi.

Pergulatan antar Ma Chao dan Wang Yi dari panas, semakin panas, semakin memanas, dan akhirnya kue bolu nya dah matang *apaan ini?!*, kolam Jia Xu yang awal nya bersih dan jernih, kini menjadi keruh dan berwarna coklat, bukan merah...

Xiahou Dun dan Xiahou Yuan yang kebetulan lewat langsung terkejut, mereka melerai peratarungan antar ikan cupang dari Shu dan ikan cupang dari Wei (?).

"hei sudah! Sudah!" Xiahou Dun menarik Ma Chao.

"lepas!" Ma Chao meronta.

"wow! Kau gadis kecil yang galak..." Xiahou Yuan menarik Wang Yi.

"lepaskan aku!" Wang Yi meronta.

Xiahou bersaudara ini berusaha menahan Ma Chao dan Wang Yi, akhirnya amarah kedua nya mereda. Wang Yi langsung melepaskan pegangan Xiahou Yuan dan pergi dari daerah itu tanpa berkata apa pun, walaupun didalam hati nya, Wang Yi akan membalas Ma Chao berkali kali, akar, pangkat, bagi (?) lipat.

Ma Chao juga sudah tenang.

"heh... Kalian ini... Lebih baik kalian kembali pulang... Nanti orang tua kalian khawatir lagi..." Xiahou Dun menghela nafas.

"baik..." keempat bocah Shu itu pamit kepada Xiahou Dun dan Xiahou Yuan lalu kembali pulang ke rumah mereka di Rt Shu.

"anak anak jaman sekarang..." Xiahou Dun geleng-geleng kepala.

Jia Xu keluar dari rumahnya, dia shock berat, karna melihat kolam yang bakal menjadi kolam ikan hias kini telah hancur tak merata (?) dan warna air nya menjadi keruh, belum lagi tembok nya yang baru setengah jadi.

"a, apa yang terjadi?!" jerit Jia Xu histeris.

"oh Jia Xu... Tadi kolam mu dijadikan arena tinju oleh anak anak..." jelas Xiahou Dun sambil menepuk bahu Jia Xu.

"yang sabar ya Xu..." kata Xiahou Yuan dengan mode Sopo.

Jia Xu hanya menarik air terjun nya, dia pasrah, dia tabah, dia ikhlas menerima cobaan ini. "hueeeee"

"cup, cup, cup" Xiahou Dun menepuk pundak Jia Xu.

.

.

.

.

Wah, ini gaje banget :v nggak sesuai tema, anggaplah ini seperti anime Gintama *dor!* maaf ya kalau nggak sesuai :'3, berminat meninggalkan jejak review? See ya~