Lah loh lah selamat datang kembali hmmm! Oke bagaimana dengan puasa kalian? Pastinya baik-baik saja bukan? (Tumben Author baik banget -_-) oke lupakan saja yang ngomong gitu yang gak jelas yah! Sudah.

Ahhhh bicara soal anime jika biasanya pasti ada openingnya bukan? Nah terkadang pasti kalian nyari versi asli dari lagu anime kalian juga terkadang tertarik yah Author juga sering gitu kebanyakan openingnya Enak di denger tapi, lagu opening yang paling Author suka adalah Blue bird - ikimono gakari (Naruto :v)

Ahhh seperti biasa gak ada yang koment tentang cerita, yah sudahlah Author udah ngalamin hal-hal pahit jika lah Fandomnya cukup sepi dan enggak usah heran lah (kagak mikir sepi atau enggaknya)

Ahh satu hal sesuatu yang menghinamu dan membuatmu sakit jangan di tanggepin, kalau di tenggepin orangnya malah kesenangan pengen di perhatiin intinya kacangin ajah kayak kacang garing di musim bola.

Sekian aye sir

.

...

.

Pertarungan terjadi di negeri yang hampir sepenuhnya hancur sama sekali meskipun begitu mereka tetap menyelamatkan kota mereka karena, inilah rumah mereka pasti seseorang akan sekuat tenaga melindungi rumahnya jika sesuatu terjadi.

Entah karena apa Negeri yang mereka pijaki Hancur oleh sebuah tehknik yang mengerikan selain itu kelompok yang berasal dari Huenco Mundo kini telah kembali kecuali dua orang yang masih tertahan di sana.

Masing-masing dari mereka menghadapi semua espada kecuali pemimpin mereka yang belum terlihat sama sekali ketika pertempurannya dengan seorang kakek tua.

Boommm!

Laxus saling beradu tinju dengan musuh yang berada di depannya dan mereka berdua mundur beberapa langkah.

"Untuk seorang Manusia lumayan kau perkenalkan namaku Tempesta aku Espada ke enam juga di kenal sebagai si Malapetaka" jawabnya.

"Terima kasih coba kau tunjukan padaku arti dari namamu itu" Laxus menyeringai.

Laxus aura tubuhnya di selimuti petir merah dia bergerak cepat Tempesta mengubah tubuhnya menjadi pusaran angin mereka berdua saling beradu pukulan

Laxus menghilang dan berada di samping dan melayangjan tendangnya Espada itu menghindar dia di belakang Laxus.

"RYOUHOU DOU!"

Booommm!

Tempesta kedua tangannya di lindungi pusaran angin dan melayangkan kedua pukulannya Laxus terhempas jauh ke belakang.

"Orang ini menyebalkan" Laxus menyeka mulutnya.

Laxus mengangkat tangannya Aura petir merah di tangannya dia mengarahkannya ke depan dan kilatan petir besar muncul dan mengenai Tempesta.

Tempesta tubuhnya berputar seperti angin dia menangkap tubuh Laxus dan terus menyeretnya ke segala arah dan langsung saja tubuh Laxus di hempaskan ke tanah.

"LIGHTNING DRAGON ROAR!"

Duarrr!

Tempesta begerak ke arah Laxus lagi Namun dia salah Laxus menyemburkan laser petir merah Espada itu yang tak bisa menghindar akhirnya terkena serangan telak itu.

"Heheh! Sebagai musuh kau lumayan juga" Laxus tertawa.

"Sifat manusia sungguh aneh" Tempesta bersikap tenang

"RYUOSIN TEN MAHOU!"

Tempesta membuat banyakanya pusaran angin puyuh Laxus terbang ke udara Tempesta bergerak cepat ke arahnya dia meninjunya tapi, itu belum selesai Tempesta menendang punggung Laxus dan dia kembali memukul kepala Laxus dan terhempas ke tanah.

Tempesta berputar cepat Laxus menghindari serangan itu tapi, Tempesta sangat cepat dia terus menghajar dan memukul tubuh Laxus dari segala arah.

'Guh! Mustahil aku kalah bukan!' Laxus memegang perutnya.

"Sudahkah kau menyerah manusia" Tempesta ekspresi wajahnya selalu tenang "inilah di sebut malapetaka jika melawanku"

"Hah!, gurauanmu memang lucu" Laxus kembali berdiri.

Laxus berjalan pelan dengan aura petir merah lebat di sekitarnya Tempesta menembakan bola putih tapi, itu tak melukainya dan Laxus masih terus berjalan.

Tempesta wajahnya terlihat panik dia mencoba kembali menembakan bola tadi hasilnya tetap sama Laxus memang terkena serangan itu tapi dia tak terluka.

Laxus sudah berdiri berhadapan dengan Tempesta tangan kanannya bergerak dan mencengkram kepala espada itu dan menghempaskannya ke tanah

"Matilah kau!"

"LIGHTNING EMPLYRE SHOCK!"

Clinggg!

Duarrrr!

Di tangan kanan Laxus terselimuti Petir merah besar dan membuat ledakan yang besar menciptakan ruangan merah.

Serangan seperti itu cukup besar dan memberikan efek lumayan buktinya Espada itu tak bangkit lagi Laxus membersihkan tangannya dia segera beranjak dari sana.

"Ya ampun tampaknya aku membuatmu marah" Laxus berhenti berjalan dia tampaknya menyadari espada itu masih hidup.

Asap hitam perlahan muncul mereka bergerak ke arah Tempesta dan mengerumuninya.

"Dasar manusia rendahan!"

"RESSURECTION : RYOUSOKE HYOUHOU!"

"Ya ampun dengan terpaksa aku harus menghabisimu" Laxus menggaruk kepalanya.

.

.

Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx

.

.

Sekarang Gadis berambut hijau yang bisa di sebut seorang Quincy menghadapi mahluk yang ukuran tubuhnya melebihi dirinya sendiri

Trang!

Brandish mundur beberapa langkah dia menghindari serangan itu.

"Gahahaha!? Lumayan juga kau gadis Quincy! Aku Ezel sang penjanggal akan menghabisimu!" dia hanya tertawa.

"Ah, silahkan itupun jika kau bisa bisa mengatasi Quincy!" Brandish hanya tersenyum

Brandish kembali membuat busur panah dia menembakan beribu busur dalam jumlah besar Ezel menangkisnya dengan keempat tangan meskipun ada serangan yang mengenai tubuhnya.

Brandish melesat cepat dia menendang wajah Ezel si tangan empat melayangkan tangannya Gadis berambut hijau mundur menghindarinya.

"TEKOU KOUME!"

Ezel menyemburkan laser seperti kristal dari mulutnya dan menciptkan gelombang besar Brandish menahan serangan itu, dia menggerkan tangannya dan mengkompres tehknik tadi.

"Quincy sialan! Dia mengendalikan tehkniku" Ezel terlihat kesal.

"Bagaimana rasanya jika senjata makan tuan?" Brandish dia membalikan serangan tadi dan berhasil telak mengenainya.

Booommm!

Brandish bergerak cepat dia meninju wajahnya Ezel menahannya dia menggerakan ekor besarnya dan menghajar telak tubuh Brandish.

Ezel melemparkan tebasan Cahaya dari keempat tangannya dalam jumlah yang begitu banyak Brandish menangkisnya namun ada saja bagian tubuhnya yang terkena.

"KOKEN KOTETSU!"

Keempat tangan Ezel membentuk sebuah cahaya dan di satukan menjadi satu hingga membentuk sebuah sabit dan melepaskan dan mengenai Brandish telak.

Cratt!

Guh!

"Ahh sial sekali aku tak bisa menyerangnya dari dekat" Brandish memegang tubuhnya yang luka tapi, tak lama menghilang 'kalau saja aku tak memakai Vena blut bisa habis aku tapi, jika aku tak memakai Alteleri aku tak bisa melukainya'

"Ada apa kau ketakutan" Ezel berusaha meledeknya

Wushhh!

Crattt!

Ezel yang sibuk meledeknya tak lama Brandish menembakan busur panah dan tepat mengenai perutnya telak.

"Gah! Quincy sialan!" Ezel terlihat kesal memegang perutnya.

"Kau jangan lengah tuan" Brandish menjulurkan lidahnya.

"GEKAI TOUKEN : ONIMARU!"

Slashhh!

Trangg!

Ezel menyatukan kedua tangannya dia melepaskannya dan membuat tebasan berbentuk salib dan jelas mengenai Brandish Ezel mengeluarkan jurus yang sama dia tak memberi kesempatan sama sekali Brandish.

"Payah, aku harus sekali serang" gerutu Brandish dia menahan seranga yang Ezel berikan.

Serangan bertubi-tubi Ezel menghasilkan dampak yang begitu besar bahkan asap mengepul penuh.

"Bagaimana? Apa kau mengerti arti kata menyerah?" Ezel seperti biasa dengan gaya angkuhnya

Wushhh!

Crattt!

Ezel tak sadar dia benar-benar lengah sebuah garis biru panas mengenai kepalanya secara telak dan menembus ke otaknya.

"A-apa! Ba-bagaimana bisa!?" Ezel tampaknya terkejut serangan telak yang mengenai kepalanya.

"Sudah kubilang jangan lengah, dan meskipun kau punya tubuh keras serangan seperti itu bakal melukaimu karena, aku ini Quincy" Brandish dalam mode berbeda "karena sifatku adalah memusnahkan apapun yang kotor"

"Bajingan! Kau!"

Duarrrr!

"RESSURECTION : SLAYER TYOKI MHOU!"

"Bagus tampaknya dia akan mengeluarkan seluruh kekuatannya" Brandish tampak terlihat normal.

.

.

Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx

.

.

"Seilah?"

Seseorang yang memiliki teman yang sudah lama tak jumpa pastinya akan sangat terkejut melihat tubuh temannya yang sudah berkembang.

Yang memiliki waktu rentan yang jauh saja akan sangat kaget apalagi ini yang kurun waktunya hanya beberapa menit.

Pasalnya pada saat ledakan yang di buat Jackal yang mustahil di hindari Natsu sudah siap menerima serangan itu dengan tubuhnya namun, itu tak terjadi pada saat dia membuka matanya dia melihat Seilah yang melindunginya.

"Hei, itu kau?" Natsu melihat itu tak percaya.

"Itu Seilah-san tapi, dia terlihat dewasa" Juvia juga terlihat shock.

Wujud Seilah kini bukan lagi gadis kecil melainkan seorang wanita cantik, dengan dua tanduk emas dan bando putih, mengenakan Kimono biru pendek di bagian bawah dan atas, sebuah stocking.

"Natsu! Apa kau baik-baik saja!" Seilah berlari dan memeluknya dan membuat pemuda itu kehabisan nafas karena, saking sesaknya "maaf, hampir saja jika aku tak cepat mungkin kau terluka"

"Seilah-san! Natsu-sama ingin bernafas" Juvia meencoba memisahkan mereka berdua.

"Oh maaf!" Seilah buru-buru melepaskannya

"Uhuk! Uhukk! Terlalu!" Natsu memegang lehernya "jadi, ini jati dirimu berarti kau Espada sama seperti mereka tapi, kenapa kau tak bersama mereka jika, kau bagian dari mereka?"

"Kau benar, Maaf sebelumnya aku baru membicarakannya " Seilah memasang ekspresi wajah sedih "yah memang benar aku ini Espada nomor 4 aku di sebut Seilah si pengendalian"

"Tunggu! Espada nomor 4? Apakah ada sebuah sistem kekuatan di setiap nomornya?" tanya Natsu.

"Iyah benar sekali" Seilah mengangguk "sistem kami adalah sebuah nomor di mana yang paling awal dialah yang paling kuat"

"Apa maksudnya mantan?" tanya Juvia "dan kenapa tubuhmu ke wujud anak kecil? Bukankah lebih bagus begini?"

"Sebenarnya aku memang Espada tapi, ada sebuah kejadian Tubuhku tersegel dan menjadi kecil itulah kenapa tubuhku begini dan aku sudah tak di anggap oleh mereka" jawab Seilah.

"Kesampingkan itu" Natsu membetulkan celananya "bicara soal espada bukankah si kucing itu meledak tapi, entah kenapa ledakan itu mengenaiku"

"Ahh benar juga ledakan sebesar itu pastinya kena" Juvia mengangguk.

"Itu ulahku" Seilah tertawa kecil "waktu ada sebuah ledakan aku menghisap ledakan itu karena, itu kemampuan khususku bisa memakan semua serangan yang memiliki Reaitsu"

"Ya, ampun jika kau musuh mungkin, akan jadi lawan yang merepotkan" Natsu menepuk dahinya.

"Yah, tapi kita teman" Seilah tersenyum ke arah Natsu.

"Bicara soal yang lain, Juvia khawatir dengan keadaan yang lain" Juvia terlihat.

"Oh sial benar juga" Natsu baru menyadarinya "kita harus cepat kembali gara-gara si kucing itu perjalananku terhambat"

"Benar Natsu! Mard Geer pasti berencana sesuatu" sambung Seilah.

"Tapi, bagaimana kita kesana?" tanya Juvia.

"Aku ada ide!" Seilah mengedipkan sebelah matanya.

"Aku punya firasat buruk soal ini" Natsu berkeringat dingin

.

.

Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx

.

.

Bang!

Duarrr!

Gajeel menghajar mahluk aneh yang ada di depannya dengan sekuat tenaga membuat mahluk itu memuntahkan darah segar dari mulut.

"Aku Torafusa si Pertahanan terkuat bagaimana bisa kau memukulku seperti ini" ucapnya.

"Entah, mungkin julukanmu itu hanya omong kosong saja" Gajeel mengangkat bahunya malas

"Akan kutunjukan apa artinya omong kosong!" Torafusa terlihat kesal dengan ejekan Gajeel.

"IRON DRAGON ROAR!"

Gajeel berbalik menyerang dia memegang tangan Torafusa dan melemparkannya dan sekali memberikan semburan aura hitam.

Gajeel menendangnya Torafusa memblocknya dia menghajar wajah Gajeel DragonSlayer besi itu memiringkan kepalanya dia meninju wajah Torafusa dan membuatnya mundur sedikit jauh.

Gajeel melemparkan batang besi panjang dari tangannnya Torafusa memegang dan mematahkannya dia melemparkan bola cairan ungu Gajeel menepisnya tapi, entah kenapa tangannya melepuh.

"Itu, bukan cairan biasa jika kau menangkisnya maka kulitmu akan terbakar akan lebih bagus jika kau menghindarinya" Torafusa menyeringai.

"Hah, serangan seperti itu tak mungkin bisa menghancurkanku" Gajeel berteriak dia memegang tangannya.

"SUITORYAN KUROME!"

Blashhh!

Torafusa menyeburkan air besar hitam Gajeel mengelak tapi, semburan itu terus mengikuti Gajeel kemanapun dan langsung menghilang ketika Gajeel membuat pilar besi untuk melindungi dirinya.

'Bisa habis! Tubuhku jika terkena itu' batin Gajeel geleng-geleng

"Ada apa? Wajahmu terlihat kesakitan?" ejek Torafusa.

"Hah? Emang kaupikir diriku terlihat seperti itu" Gajeel menjulurkan lidahnya.

"IRON DRAGON CLAW!"

Blasttt!

Gajeel mengarahkan kakinya ke depan dan membentuk sebuah besi tajam panjang dia mengarahkannya Torafusa berhasil menahannya tapi, itu hanya pengalihan Gajeel melesat cepat dan meninju wajahnya.

Gajeel memukulnya kembali Torafusa dengan cepat memegang kedua tangan Gajeel kini mereka saling menahan satu sama lain, Gajeel yang tak mempunyai pilihan membenturkan kepalanya dan menghajar perutnya.

"IRON SHADOW DRAGON MODE!"

Gajeel dalam mode bayangan besinya dia menyela ke bawah tampak garis bayangan di tanah dan bergerak maju ke belakang Torafusa dan menendang punggungnya dia, melakukan cara yang sama dan menghajar wajahnya.

Torafusa mencari ke beradaan Gajeel namun tak ada secara tiba-tiba Gajeel muncul dari bawah dia secara kasar menariknya dan langsung menghempaskannya seperti permainan Bola beracun.

"Manusi sialan! Kau membuatku marah" Torafusa kesal dia dari tadi tak bisa menghajar Gajeel.

"Haha! Coba hindari ini sialan!" bayangan Gajeel memantul ke segala arah.

Gajeel muncul dari atas dia menembakan besi panjang Torafusa memiringkan kepalanya menghindari serangan itu namun, itu hanya pengalihan.

"IRON SHADOW DRAGON FIST!"

Banggg!

Jduarrr!

Gajeel mengepalkan tangannya dan berubah menjadi besi yang di lapisi aura bayangan hitam dan menghajar espada itu telak mengenai wajahnya dan Gajeel kembali menghilang.

"IRON SHADOW DRAGON ROAR!"

Jduarrrrr!

Sebelum Torafus terhempas jauh dia segera mencengkram tangannya dan melemparkannya ke udara dan menyemburkan gelombang hitam besar dari mulutnya dan mengenai Torafusa secara telak.

"Terbanglah sana dan jangan kembali" Gajeel ke dalam mode normal "ugh! Sial harusnya aku menanyakannya keberadaa Levy yah tapi, mustahil di jawab sih"

"Sebaiknya aku mencarinya dan menanyakan sebenarnya yang terjadi" Gajeel bersiap pergi.

Booooommm!

Pada saat Gajeel melangkahkan kakinya terdengar suara ledakan di udara Gajeel menggerutu dia tau mahluk itu masih hidup.

"Terkadang menyebalkan jika, melawan musuh yang bisa berengkarnasi" Gajeel mengepalkan tangannya kuat.

"Tunggu di sana mahluk besi"

"RESSURECTION : TENCOU TAIME!"

"Bagus ini akan lama"

.

.

Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx

.

.

Sementara itu kondisi tak jauh dari pusat kota atau di dekat pabrik ada sebuah pertarungan antar dua wanita dewasa yang satu berambut hijau dan yang satunya berambut merah scarlet.

"Ya, ampun kau wanita membuatku tertarik" Kyouka menghindari sebuah serangan "padahal kau sudah kalah tapi, tak pernah jera"

"Ara! Ara! Nona burung itu terjadi karena kau curang" Irene menembakan sesuatu dari lingkaran sihirnya "itupun, kau menyandra anakku tapi, sekarang kita hanya berdua saja"

Irene menyatukan kedua tangannya dan menciptakan bola petir ungu dia melemparkannya Kyouka berhasil menghindarinya dan membalas dengan cara melemparkan banyaknya Seperti Boomerang beruntung Irene menangkis semuanya.

Irene mengarahkan tangannya dia mendorong Kyouka tanpa menyentuhnya dia mengangkat tangannya dan menciptakan ledakan besar Espada burung itu meloncat menghindarinya.

Kyouka memanjangkan kukunya hingga berbentuk sebuah pedang panjang dan mengayunkannya ke wanita Scarlet itu Irene dengan elok bisa mengatasinya.

'Di mana Erza, dan parahnya kita tak tau apa yang sebenarnya terjadi' batin Irene dia mengamati situasi yang terjadi.

"Kau lumayan juga untuk seorang manusia" Kyouka tersenyum.

"Ara, jangan terlalu memuji seseorang" Irene menanggapinya dengan tenang.

Kyouka memajangkan kukunya seperti Wolferine dia mengayunkan cakarnya secara bertubi-tubi Irene dengan tenang menangkisnya dia menembakan laser merah dari tangannya membuat wanita berambut hijau terkena serangan itu.

"HANAIBA!"

Irene membuat banyak pedang di atas kepalanya hingga membentuk sebuah pola bunga dia melemparkannya dan Kyouka menangkisnya walaupun ada bagian tubuhnya yang terkena.

Irene membentuk sebuah tombak besar di tangan kanannya dan mengayunkannya Kyouka menahannya tapi, tenaga Irene lebih besar hingga wanita berambut hijau itu terhempas.

"Ya, ampun ini kah kekuatanmu kupikir dapat sesuatu yang lebih" Irene masuk dalam mode S

"Tenang saja kau juga akan mendapatkannya" Kyouka mengepalkan tangannya

Tangan kanan Kyouka di lapisi aura Hijau dia mengarahkannya Irene menahannya tapi, Kyouka menendangnya Irene mundur menghindarinya tapi, pipinya ada sebuah darah.

Kyouka menembakan beam hijau dari jarinya Irene yang melihat dia menembakan bola merah dari tangan kirinya dan kekuatan mereka beradu hingga membuat ledakan besar.

Slashh!

Cratt!

Guh!

Irene tak sadar ternyata Kyouka sudah memanjangkan kukunya hingga menyabet bagian perut Kiri Irene.

"Katakan apa tujuan kalian kemari!" Irene memegang perutnya.

"Ahh benar juga mungkin akan kuberitau" Kyouka memainkan jarinya "biar kupermudah supaya kau mengerti 'Fairy Heart' yang di miliki oleh kalian di mana sumber kekuatan tak terbatas dan 'Water Healing' kekuatan penyembuh sempurna dengan menggabungkannya kita memiliki sumber dan nyawa abadi"

"Lalu apa yang kau lakukan dengan itu?" tanya Irene

"Jika kekuatan itu sudah ada maka tuan Mard Geer akan memberikannya kepada kita untuk menghidupkan sebuah mahluk yang di katakan sebagai Hollow terkuat" jawab Kyouka.

"Hollow terkuat?" Irene mengangjat sebelah alisnya.

"Di katakan Hollow itu melebihi kita semua dengan kekuatan itu kita akan membangun dunia kita sendiri!" jawab Kyouka.

Wusshh!

"Maaf yah tapi, itu takkan pernah terjadi" Irene wajahnya saling berhadapan.

Irene mendorong paksa Kyouka tanpa menyentuhnya dia membuat bola api merah besar di atas kepalanya dan melemparkannya

Booommmm!

"Aku tau kau takkan semudah itu kalah" Irene tak bergerak dari posisinya.

"Tampaknya aku juga harus serius" Kyouka tanpa topengnya dan memperlihatkan wajah aslinya.

Wujudnya agak sedikit berbeda topengnya terlepas, gaya rambut seperti sayap burung, tangan dan kaki seperti cakar elang.

"Jadi, ini huh? Sebagai monster seperti mu tak buruk juga" Irene menatapnya "tapi, burung tetaplah burung"

"Terima kasih tapi, dalam wujud ini jangan harap kau kuberi kesempatan" Kyouka menatapnya balik.

"Aku tak sabar menunggu itu"

.

.

Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx

.

.

Pertarungan di dekat toko kelontong di depan sekolah yang sekarang sudah hancur terdengar suara dentuman dan terlebih tempat itu membeku oleh sebuah es.

Sang wanita berambut pendek yang kini sudah kehilangan bajunya kini melawan mahluk setengah tengkorak tapi, kondisi masih stabil di mana wanita tak bisa menyerangnya secara fisik dan untuk tuan tengkorak itu tampaknya, belum benar-benar serius.

"Okaa-san pakai bajumu!" Ultear pokerface yang melihat kebiasaan ibunya.

"Oopss! Habitat lama" Ur kembali memakai bajunya.

"Sifat manusia terkadang rumit" Keith dengan ketenangannya tampaknya tak terpengaruh dengan Ur hal wajar mengingat dia bukan manusia.

Keith menembakan cairan hitam dari tongkatnya Ur menghindarinya dia bergerak maju Keith terus menembakan cairan hitam Wanita berambut hitam langsung memukulnya tapi, di tahan oleh tongkatnya dan muncul serat tali hitam dan Ur langsung mundur.

Muncul gumpalan hitam yang mengelilingi tubuh wanita itu, Ur berlari menghindari namun tangannya sudah terkunci Keith mencengkram tangannya dan tak lama tangan Ur mengeluarkan darah.

"Gh! Tadi itu pasir?" Ur mencengkram tangan kanannya.

"Pasir hitam berasal dari neraka di mana jiwa kotor di musnahkan hingga menjadi gumpalan pasir" jawab Keith.

"Dia berbicara tentang omong kosong lagi" Ultear Sweatdrop

"ICE MAKE : DRAGON SKY!"

Ur membuat wujud naga es yang besar dia mengendalikannya Keith menghindari setiap serangan gigitan naga buatan itu.

Keith mengangkat tangannya perlahan pasir hitam langsung mengerumuni Naga es itu dan membuatnya tak bergerak karena terkunci oleh pasir.

"SABAKU NO GHEE!"

Krakkk!

Trangg!

Keith mencengkram tangannya membuat naga yang Ur buat hancur.

"Mustahil hancur begitu saja" Ultear terlihat shock.

"Musuh yang aneh dan itu hal wajar baginya untuk memusnahkan ini dengan begitu mudah"Ur nafasnya tersenggal-senggak.

Keith membuat pasir besar di atas kepalanya berbentuk bola dan menembakan butiran pasir kecil Ur berlari menghindarinya Ur membalas balik dengan menembakan Es tapi, Keith membuat pertahanan pasirnya.

"Sebenarnya apa tujuan kalian kemari!" tanya Ur kesal.

"Aku tak bisa menjawab pertanyaanmu" Keith membalasnya "aku di kenal, sebagai pendeta kematian akan kutunjukan arti keputusasaan dalam neraka"

"Hah, kau bicara omong kosong lagi!" Ur menatapnya waspada.

Keith mengangkat kedua tangannya gumpalan pasir hitam bergerumul di langit hingga membentuk sebuah balok pasir hitam besar, Trapesium pasir hitam, dan kerucut pasir hitam intinya pasir itu membuat bidang rumus di pelajaran matematika.

"Banya sekali" Ultear melihatnya tak percaya.

"Akan kutunjukan padamu bagaimana rasanya putus asa" ucap Keith

"Tch! Sial" umpat Ur

.

.

Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx

.

.

Tak jauh dari tempat itu tampak seorang gadis pirang dewasa yang terlihat mirip seseorang tengah menatap beberapa pertarungan ia berdiri di atas langit ekspresi wajahnya terlihat sangat serius.

"Aku harus hentikan ini sebelum terlambat"

"Jadi, yang lain berjuanglah aku juga akan ikut berjuang"

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

Selesai juga dan oh ya soal Keith mungkin di manganya kayak pasir hitam gitu jadi, aku nurutin ajah dan tehkniknya sama seperti Sasori(Naruto)

Unruk namanya aku turutin seperti Gaara yah soalnya di manga FT pertarungannya gak di liatin full karena, di manganya dia kalah menyedihkan

Dan aku buat keren kekuatan dia di fic ini yah hal itu wajar karena dia espada nomor 3 (kalau Seilah di hitung) yah sama ajah jika Seilah gak di hitung orang Seilah nomor 4

Pm

.

RnR