To this day, we're still the challengers
Because our real debut starts now
Since we've grown stronger, we can try that much harder
Hyuuga & Izuki – Challenger Spirit
Bel tanda istirahat baru saja berbunyi. Hari ini aku lupa bawa bekal karena Okaasan juga kesiangan. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Saat aku keluar kamar, Okaasan keluar kamar juga tapi dengan rambut berantakan. Biasanya ia sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Setelahnya Otousan juga ikut keluar kamar dan sudah berpakaian rapi.
"Okaasan kesiangan?" tanyaku.
"Hm? Aa... Iya," jawab Otousan.
"Kenapa? Tumben sekali," tanyaku penasaran.
Otousan tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuruni tangga, aku pun mengikutinya. "Nanti kalau kau sudah dewasa juga mengerti, Tetsuya."
Jawaban Otousan masih membuatku penasaran.
"Tetsu! Kau tidak bawa bekal?"
Pertanyaan Matsunaga-san membuyarkan pikiranku. Kulihat ia sudah membuka kotak bekal dan bersiap untuk memulai ritual makan siangnya. "Aa, aku lupa bawa, Matsunaga-san," jawabku singkat.
Gadis itu mengangguk. "Mau?" Kali ini ia menawarkan makanannya padaku. Baik sekali, meski tomboi.
"Terima kasih, tapi aku beli roti saja di kantin."
"Oke~ Oh, Taiga! Kau mau juga?" Matsunaga-san juga menawarkan makanannya pada Kagami-kun yang duduk di sebelahnya.
"Huh? Tidak, terima kasih. Aku mau beli kare saja di kantin," jawab Kagami-kun.
"Oh iya, kau tak pernah bawa bekal juga, sih."
"Kau tidak kumpul dengan gadis-gadis itu?" tanya Kagami-kun setelah melihat sekeliling. Pertanyaan darinya membuatku sadar. Matsunaga-san tidak pernah makan siang dengan gadis lain. Bicara dengan mereka pun jarang. Di kelas, ia lebih sering bicara denganku atau murid laki-laki lain.
"Aa, aku hanya berpikir, aku tidak cocok dengan mereka. Itu saja," jawab Matsunaga-san.
...mungkin ia tidak nyaman juga dengan mereka yang feminim.
"Setidaknya kau coba dulu berbaur dengan mereka. Itu saranku, sih. Daripada bicara dengan lawan jenis terus," saran Kagami-kun.
Aku mengangguk. Sarannya lumayan bagus.
"Ugh, iyaaa. Kapan-kapan kucoba. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku~"
Aku dan Kagami-kun sama-sama pergi ke kantin. Selama di perjalanan, kami hanya membahas beberapa hal, termasuk Matsunaga-san. Kami juga sempat bertemu anggota klub basket yang lain, Furihata-kun dan Fukuda-kun. Ternyata mereka sekelas di kelas 1-D.
Saat aku ingin membeli minuman di vending machine, aku bertemu Kapten. Ia nampak serius memperhatikan berbagai minuman kaleng yang ada di dalamnya. Hampir satu menit ia bergeming.
"Kapten," panggilku.
"Hah?" Kepalanya menengok ke kiri, padahal aku ada di kanannya.
"Kapten, aku di sini," kataku.
Akhirnya ia menengok ke kanan lalu terperanjat. "Kuroko! Sejak kapan kau berdiri di situ!?" kagetnya.
"Mungkin, sejak satu menit yang lalu," jawabku.
Kapten menghela napas. "Hawamu benar-benar tipis, ya."
Maaf, deh. Hawaku memang sulit dideteksi oleh manusia.
Kulihat Kapten memasukkan dua koin lalu memilih tombol untuk kopi kalengan. Alisku berkerut. Kapten suka kopi pahit, ya? Otousan juga suka kopi tanpa gula. Tapi apa enaknya begitu?
Aa, daripada itu...
"Kapten, apa dalam waktu dekat Seirin akan ikut pertandingan atau semacamnya?" tanyaku seraya melakukan hal yang sama. Namun aku memilih susu vanilla kotakan. Aku mengikuti Kapten yang sudah melangkah meninggalkan vending machine dengan ekspresi berpikir.
"Hmm, Pelatih belum bilang soal itu, sih. Tapi kalaupun ada, anak kelas 1 belum boleh ikut."
"Eh? Kenapa?"
"Kalian belum resmi jadi anggota."
"Harus ikut tes tertentu?" tanyaku was-was. Jangan bilang kalau sistem Seirin sama seperti Teikou. Meski rasanya mustahil karena Seirin masih baru. Kalau iya...
"Aa... lebih baik kau tanyakan pada Pelatih, Kuroko."
"Aku tidak tahu kelas Pelatih."
"Kelas 2-C. Mungkin sekarang sedang ada di kelas," jawabnya.
"Kalau begitu terima kasih." Aku langsung undur diri dan berjalan cepat ke kelas Pelatih. Sempat terdengar suara lengkingan Kapten memanggil namaku saat aku menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Kelas 2-C ada di lantai tiga, aku harus menaiki beberapa puluh anak tangga lagi. Sesampainya di kelas tersebut, aku langsung masuk dan berdiri di dekat kursi yang diduduki Pelatih. Ia sedang memakan roti sambil memainkan PS.
"Izinkan aku jadi anggota resmi," kataku to the point.
BRUUUSH!
"Sejak kapan kau di sini!?" kagetnya.
"Aa, baru saja." Ia mengelap mejanya dengan sapu tangan sambil mengomel. Ugh, aku merasa bersalah sekarang. "Maaf mengagetimu, Pelatih," kataku pada akhirnya. Bagaimana pun juga ia pelatih klub sekaligus senior. Harus sesopan mungkin menghadapinya.
"Dan kenapa tiba-tiba kau bicara soal itu padaku?" tanya Pelatih.
"Umm, tadi aku bertemu Kapten apa dalam waktu dekat akan ada pertandingan. Kapten bilang kalau anak kelas 1 belum boleh ikut karena kami belum jadi anggota resmi. Jadi, apa ada tes lain selain mini game kemarin?" jelasku panjang kali lebar sama dengan luas persegi panjang, sekaligus bertanya.
"Hyuuga-kun, ya? Sebentar."
Aku menunggu Pelatih yang sedang mencari sesuatu di dalam tasnya. Ia memberiku formulir yang sudah kuisi sebelum masuk klub. Kenapa dikembalikan?
"Kalau kau benar-benar ingin jadi anggota resmi klub basket, ikut ujian penerimaannya, ya. Hari Senin besok jam delapan empat puluh menit di atap sekolah!" Pelatih tersenyum lebar setelahnya.
Mencurigakan...
"Nah, bisa kau beritahu yang lain? Aa, nanti saja saat latihan kuumumkan~"
"H-hai..."
Sambil berjalan keluar kelas 2-C, aku memandangi formulirku kemudian melipat dan menyimpannya di kantung celana. Tiba-tiba aku ingin ke kamar mandi ketika aku sudah berada di lantai dua. Setelahnya aku ingin kembali ke kelas. Ada dua gadis berjalan di depanku. Mereka membicarakan seseorang yang kukenal.
"Mukamu seperti orang sedang marah, Chika-chan."
"Ugh, aku sedang sebal dengan gadis itu!"
"Eh? Tentang Matsunaga Keiko lagi?"
"Iya! Tadi pagi dia tebar pesona gitu di depan kelasku! Jun-kun menyapanya dan mereka malah asyik dengan dunia mereka sendiri! Kecentilan banget, kan!?"
"Umm, begitukah?"
"Dan setelahnya teman-teman Jun-kun ikut nimbrung!"
...menakutkan sekali. Apa semua perempuan seperti mereka? Aa, tidak, tidak. Hanya beberapa spesies yang sama. Dan kenapa masalah itu dibesar-besarkan pula?
Tapi mungkin gara-gara ini Matsunaga-san tidak ingin dekat-dekat dengan gadis lainnya. Di satu sisi, ia juga dimusuhi. Bahkan gadis di kelas lain pun memusuhinya.
Pandangan mataku menangkap seseorang yang kukenal. Kagami-kun. Pemuda itu sedang berdiri memandangi mading yang ada di samping pintu perpustakaan. Aku melangkah mendekatinya untuk melihat apa yang ia baca.
Ada kertas yang diberi judul "Klub basket putra masuk turnamen Kanto".
"Klub basket sekolah ini lumayan juga, ya," gumam Kagami-kun kagum.
"Memang lumayan," sahutku menyetujui.
"HUAAA! Jangan muncul tiba-tiba begitu, Teme!" serunya.
Aku menaruh jari telunjuk di depan bibir. Memberi sinyal untuk tidak berteriak karena di dekat kami ada perpustakaan. Oh, aku baru sadar kalau perpustakaan ada di lantai dua. Dekat kelasku pula.
Kepalaku disentuh lalu diremas oleh Kagami-kun. Itta-ta-ta-ta!
"Kau sengaja cari masalah denganku, ya!?" geram pemuda itu.
"Mana mungkin..." sahutku sambil meringis.
Remasannya berhenti dan membuatku menghela napas lega. Kekuatan tangannya benar-benar... Tangan kananku mengusap rambut lalu merapihkannya. Kalau sampai bedhair bisa gawat, kan.
Kagami-kun masih menatap jengkel ke arahku. Kulihat kedua alisnya terangkat, seperti menyadari sesuatu. Aa, aku baru ingat ada tugas bahasa Inggris untuk mencari buku asli berbahasa Inggris di perpustakaan.
Tanpa pamit pada Kagami-kun, aku langsung masuk ke perpustakaan. Waktu istirahat akan habis, jadi kuputuskan untuk bertanya mengenai cara meminjam buku. Aku sempat mendengar Kagami-kun memanggil namaku dan saat kutengok, ia sudah berjalan menuju kelas sambil mengeluarkan sumpah serapahnya.
Apa aku berbuat salah lagi?
Untuk pertama kalinya aku tidak bawa bekal. Saat ke kantin, aku sempat bertemu Kapten. Ternyata anak kelas 1 belum jadi anggota resmi. Aku disuruh ikut ujian penerimaan hari Senin besok oleh Pelatih. Ujian apa lagi maksudnya?
~ Tetsuya's 37th Paper End ~
Ganba desu. Terima kasih sudah mengikuti, mereview dan meluangkan waktu untuk membaca fanfic ZPS sampai sekarang! Terima kasih untuk review-nya di chap kemarin, zizie-akakuro-san, Shinju Hatsune-san! #bow :)
CHAU!
