Jeng jeng! Lagi-lagi hadir di malam hari...

Sembari mengerjakan video bahasa jawa kelompok Author, Author tetap update di harinya 'kan ya? Uhuhuh, makin banyak tugas bermunculan, nih. (Mana lagi garap video malah movie maker-nya not responding tiada henti) Badan pegel pula... Sudah, nggak usah dengerin saya curhat, langsung saja review di balas!

Uchihaman oh, nggak apa-apa kok, Author bahagia kalau Anda berkesempatan nge-review fanfic yang penuh dengan racun(?) ini :"D #APATHOR hmmm.. Untuk lebih lanjutnya, monggo dilihat ke depannya bagaimana, oke? : makasih review-nya, jangan lupa review lagi di lain kesempatan~

Yuuki moon chan

Iya, adiknya cantik, kakaknya landak. #dibakar

Zhao Yun: *nempelin Xing Cai*

Xing Cai: *tendang Zhao Yun sampai planet terjauh*

makasih review-nya~ :3

Baiklah, langsung saja ke TKP. Selamat menikmati~ (APA?! MENIK MATI?! *Author dibuang jauh-jauh dari peredaran*)


"Apa maksudmu…?" Jiang Wei bertanya-tanya kepada Bai Jiaoju yang berwajah melas itu.

"Iya, aku pengganggu, bukan?"

"… Maksudmu, kamu ganggu hubungan Zhao Yun dengan Xing Cai?"

Bai Jiaoju mengangguk.

"Hmm… Selama ini terlihat seperti bercandaan, sih. Ketika kamu panggil Zhao Yun 'darling', kukira itu bercandaan."

"I-Itu sih aku iseng aja… Maksudku… Aku selalu dekat-dekat dengan Zhao Yun dan Xing Cai, di hadapan Xing Cai, aku terus membuatnya merasa panas, tapi sepertinya tidak mempan. Ah, sudahlah, aku mau tidur, daah!"

"O-Oi, kamu ngomong apa aku nggak paham—"

"Lupakan saja! Sampai besok!"

Jiang Wei menatap Bai Jiaoju yang berlari pergi menuju tenda cewek.

"Haah… Sumpah nggak paham…"

Keadaan malam itu, di dekat api unggun…

"AKU SAKIIITT—AKU SAKIIIT HATII—" Terlihat si kakak landak, Zhu Ran tengah main gitar ditemani oleh Lu Xun dan Sun Quan.

Apa? Kamu sakit hati? Sama siapa? Sama Lu Xun? Lu Xun nggak nerima kamu, Ran?!

"THOR, JANGAN LAGI… Kukira kamu sudah tobat dari segala macamnya itu."

Bercanda.

"Oh, ya, Ran, aku bingung," Sun Quan melipat tangannya, "kenapa kamu bisa lupa sama adikmu sendiri?"

"Y-Yaa.. Karena kami terakhir ketemu itu pas masih kecil… Dia sudah banyak berubah."

"Dia henshin, ya?" Lu Xun mencoba melawak.

Sun Quan dan Zhu Ran hanya bisa diam menatap Lu Xun dengan tatapan poker face. Lu Xun memalingkan wajahnya.

"Selera humor yang jelek, Xunnie." Zhu Ran menepuk pundak Lu Xun.

"AKU SAKIIIT—AKU SAKIIT HATIIII—"

"Ran, tanggung jawab, dia yang sakit hati sekarang."

"Bah… Oh, iya! Xunnie, kamu baru pertama lihat adikku, 'kan?"

"Hmm? Iya, kenapa?"

"Menurutmu, adikku orang yang bagaimana?"

"Nggak kayak kakaknya. Pokoknya gitu."

"…"

Kemudian Zhu Ran jambakin rambut Lu Xun.

"ADUDUDUDUH—AKU SAKIIIT—RAMBUT AKUU SAKIIIT—"

"MINTA DIBAKAR INI RAMBUT."

"EEH—JANGAN—MASTERPIECE(?) INI…"

"BODO' AMAT MAU MASTERPIECE ATAU SUPERPIECE TERSERAH—"

"Hoy, hoy, malah jambakin rambut orang… Tapi Lu Xun memang benar, sih. Nggak kayak kakaknya. Aku sependapat."

"Bilang aja mau ngejek," Zhu Ran jambakin Sun Quan sekarang, "wow, yang ini rambutnya panjang jadi asyik buat dijambak."

"J-JANGAN—SAKIT—"

"Udahan dong jambak-jambakin rambutnya, kamu juga minta dijambak." Lu Xun iseng jambakin rambut Zhu Ran.

"GYAAAKH—"

WOY. INI MALAH PADA JAMBAK-JAMBAKAN RAMBUT. SETOP OY. NASKAH, NASKAH!

Akhirnya Zhu Ran, Sun Quan, dan Lu Xun diam di tempat. Zhu Ran mulai memainkan gitar yang entah dapat dari mana.

JRENG…

"Amburegul~ Emesuyu~ Bahrelway~ Bahrelway~"

"Lekiksauwn, yu tekrewey, bahrelway~ bahrelway~"

"Sumidauwn, awungot, I am TITAAANIIGOOO—"

Nak, jangan nyanyi bahrelway, udah nggak booming lagi sekarang.

"Iya juga, ya… Sudah menghilang dari peredaran."

"Yup, yang masih hangat itu ekstrak Jiang Wei ya?"

"Hei, aku penasaran, emangnya ekstraknya Jiang Wei itu mirip banget sama Jiang Wei?"

"Namanya juga ekstrak… Pasti mirip, lah!"

"Juran curang udah lihat Xun Yu duluan. Aku belom." Lu Xun keplakin punggung Zhu Ran.

"SIAPA JURAN—NAMAKU KOK DIMACEM-MACEMIN, SIH…?"

"Pilih mana deh, Ran… Juran atau Mas Ipeng? Author sekarang suka panggil kamu Mas Ipeng, 'kan?"

"…. THOR…"

Ya?

"DULU LANDAK MINI, LANDAK KEHUJANAN, BOLA BULU, HAMSTER, LANDAK HITAM, APA PUN ITU HEWAN LANDAK… SEKARANG APA…? JURAN…? MAS IPENG SIAPA PULA?"

Juran pronounciation dari namamu, 'kan? Sependengaranku selama main sih begindang.

"LALU, MAS IPENG ITU APA…?"

Ipeng kuambil dari style name-mu, Ran… Yifeng. Agak dibuat kepleset jadi Ipeng.

"DEMI APA YIFENG JADI IPENG HAHAHHAHAHHAHAA—" Sun Quan ngakak sampai jungkir balik.

"DIAM KAMUH—" Zhu Ran gebukin Sun Quan pakai gitar.

Woy, itu gitar siapa…?

Sudah, mereka malah rusuh sendiri…

Keesokan harinya, pagi-pagi mereka harus lari pagi kemudian senam berjamaah. Terlihat seusai senam, antrean mandi pun serasa antre BBM beberapa seperti saat yang lalu. Plis, Author antre sampai dua jam lebih pas itu. Kira-kira antreannya segituan, deh.

"INI ANTRE BBM ATAU SEMBAKO YA?" Zhao Yun yang bawa-bawa ember dan gayung ngamuk.

"Mungkin ini antre pemberian zakat macam di TV-TV?" Jiang Wei nimbrung.

"K-Kalo gini nggak usah mandi aja, gimana?" Zhu Ran yang dari tadi mau ikut antre terlihat mondar-mandir galau mau mandi apa nggak.

"JOROK KAMU, RAN." Lu Xun menjauh lima meter dari Zhu Ran, kejauhan.

"Y-Yaa habis aku malas kalau antreannya begi—"

"Kakak!" Terlihat Zhu Yuan yang baru saja selesai mandi menghampiri Zhu Ran, sang kakak landak.

"Lihat, adikmu saja sudah selesai mandi, dia pasti sangat bersabar!"

"H-Huh? Kakak nggak mandi?"

"Lihat antrean zakat di sana," Zhu Ran menunjuk antrean yang benar-benar panjang, "panjang banget, 'kan?!"

"Y-Ya kenapa nggak cepetan ambil antrean, sih?!"

"A-Aku tidak mau menunggu terlalu lama!"

"Pokoknya, apapun yang terjadi, kakak harus mandi! MANDI. JANGAN JOROK. LIHAT, AUTHOR SAMPAI NANGIS-NANGIS KALAU KAMU NGGAK MANDI!"

Ha…? Kok jadi bawa-bawa aku?

"T-Tapi—"

"Tidak ada tapi-tapian! Sana ambil antrean! Kak Lu juga!"

"H-Hah, kok aku jadi ikut kena… Aku sudah mandi tadi jam lima, soalnya jaga tenda jadi nggak ikut lari pagi dan senam berjamaah…"

"O-Oh… Ya sudah sana! Mandi! Aku mau beres-beres di tendaku. Kak Lu, tolong jagain kakakku, ya! Bakar aja kalau nggak mau mandi!"

"Hah! Aku fireproof, dik!"

"Fireproof mbahmu, sana mandi!" Zhu Yuan dorong-dorong Zhu Ran menuju ke tempat antrean paling belakang, Lu Xun sweatdrop.

Di balik sisi lembut Zhu Yuan, menyimpan sisi yang mirip dengan Zhu Ran. Karena itu, sekarang Lu Xun tahu, walau bukan kakak adik secara kandung, tetap saja yang namanya kakak dan adik, pasti punya persamaan…

Jam sembilan, setelah mandi, makan, dan beres-beres, mereka semua melanjutkan kegiatan penutupan. Setelah itu adalah acara bebas.

"Huwaaaah—akhirnya selesai juga acaranya…" Zhao Yun tiduran di rerumputan.

"I feel free~" Begitu juga dengan Jiang Wei, ikutan tidur tapi ala Syahroni.

"Hmmm…" Terlihat Xing Cai lihat kanan-kiri kebingungan.

"Kenapa? Ada yang ketinggalan?"

"Nggak. Hanya saja… Mana si gadis seruni?"

"Maksudmu… Jiaoju?"

"Iya. Dia tidak bersama kita…"

"Hah—ini anak kemana, sih?! Nyebelin banget…"

"Cari sana, Yun," Ma Chao mendatangi mereka bertiga, dia habis bongkar tenda.

"Kok gue, sih… Ah, ya sudahlah…" Zhao Yun beranjak dari karpet hijau yang nyaman itu untuk mencari Bai Jiaoju yang menghilang entah kemana.

Sementara itu…

"W-Waduh, eyke tersesat, cyin~" Terlihat Bai Jiaoju kebingungan, rupanya dia sedang mencari jalan.

Bagaimana bisa kamu tersesat…?

"A-Aku habis disuruh Ma Chao serahin alat-alat tenda ke panitia, tapi terus lihat kucing lucu banget, ngejar kucing deh."

Makanya, jangan main sama Bao Sanniang, jadinya kayak gitu nanti.

"A-Apa hubungannya dengan Bao San—HUH?!" Bai Jiaoju bersembunyi di balik dinding bangunan, terlihat Lu Xun dan adiknya Zhu Ran, Zhu Yuan sedang berdua di tempat sepi.

"Maaf memanggilmu ke sini, Kak Lu…"

"W-Waduh, dia mau nyatain cinta ke Xunnie?!" Bai Jiaoju berwajah percaya tidak percaya.

"Nggak apa-apa, kok. Ada apa?"

"Ummm… A-Aku ingin Kak Lu jaga kakakku… Bisa?"

"Hmm? Aku tidak akan pernah membiarkan dia berbuat macam-macam, kok."

"H-Habisnya… Tiba-tiba aku kepikiran kejadian saat menolong Yinping…"

"Hahaha! Sudahlah, tidak apa-apa. Aku akan melakukannya sebisaku. Toh, dia ingin menolong Yinping, itu kehendaknya, yang terbaik mungkin."

"U-Uhh… Terima kasih, Kak Lu. Maaf kalau aku merepotkanmu…"

"O-Oh, nggak apa-apa, kok!"

"Lalu, aku mau tanya juga. Apa benar kakak sama Yinping…"

"Kalau itu… Aku tidak begitu paham. Maaf, ya?"

"Y-Ya sudah…"

"Yuan, sepertinya kamu khawatir dengan kakakmu, ya? Hahaha…"

"E-Eh… Ngg… H-Habis kakakku suka aneh-aneh, sih. Dari dulu juga begitu…"

"Tenang saja, kalau mau, kamu bisa mampir ke café-nya Sun Ce," Lu Xun menyerahkan kartu nama dengan alamat Café Sun, "biasanya dia suka ke sana sepulang sekolah. Aku bekerja sambilan di sana."

"O-Ohh… D-Dengan senang hati aku akan berkunjung! Sekali lagi, terima kasih, Kak Lu!"

"Ahahaha… Iya, sama-sama… Sudah, sebaiknya kamu kembali. Teman-temanmu pasti khawatir."

"I-Iya. Kalau begitu, sampai jumpa, Kak Lu!"

Perbincangan mereka berakhir. Bai Jiaoju terdiam.

"K-Kukira dia bakalan nembak Lu Xun—"

"K-Kenapa kau berpikir begitu, Jiaoju?"

Bai Jiaoju kaget. Ternyata Lu Xun sadar kalau dia sedang diintip oleh Jiaoju.

"H-Hah?! Kau menyadari keberadaanku?!"

"Tentu saja, itu hal yang mudah, kok."

"Haah… Jadi, nggak ada love scene buatmu, nih?" Bai Jiaoju mulai godain Lu Xun.

"A-Apaan, sih… Sudahlah, kamu ngapain di sini? Mana Zhao Yun dan yang lain?"

"U-Uhh… Begini…"

Bai Jiaoju menceritakan semuanya.

"Ya ampun, makanya jangan kebanyakan main sama Bao Sanniang, jadinya suka kucing, 'kan?" Lu Xun tepok jidat.

"DIH, KENAPA JADI BAO SANNIANG, SIH?! DIA NGGAK SALAH APA-APA…"

"Ya sudah, deh. Aku antar kamu ke rombonganmu."

"E-Eh?!" Bai Jiaoju nge-blush, "Hanya berdua?!"

Lu Xun facepalm, "Memangnya ada siapa lagi di sini…? Jangan bilang kamu punya penglihatan…?"

"Ng-Nggak! Ya sudah, antarkan aku ke jalan yang benar!"

Mereka berdua berjalan depan belakang. Bai Jiaoju terdiam menatap Lu Xun yang berada di depannya.

'Beneran, deh… Dari belakang manly banget, begitu lihat wajahnya… Nggak yakin.'

"AHCHOO!" Tiba-tiba Lu Xun bersin.

"H-HUWAA?! J-Jangan mengagetkanku!"

"Jangan bicarain aku, ya."

"K-Kamu ini paranormal, ya?!"

"Hah—"

"S-Sudah! Abaikan apa yang aku katakan! Ayo jalan lagi!"

Sudah sekitar sepuluh menit mereka berjalan, tapi… Kok belum sampai juga?

"H-Hei, kamu beneran tahu jalan, 'kan?!"

"Tahu, kok! Tapi… Kok berubah begini, ya…?"

"Oh, tidak! Ini pasti ulah Gan Ji!"

"… KOK GAN JI DIBAWA-BAWA SEGALA—"

Gan Ji, genap.

"… Itu ganjil…"

"Hei, Xunnie, ini kita di mana, sih?!"

"Hoy, Zhu Ran!" Zhao Yun mendatangi Zhu Ran yang terlihat kebingungan juga.

"Yo, Zhao Yun! Lihat Lu Xun, nggak?"

"Ha? Nggak, tuh. Kamu lihat si Jiaoju?"

"Nggak. Lhadalah, kok sama-sama kehilangan?"

"… Jangan-jangan nyasar, deh?"

"What—Lu Xun nggak mungkin nyasar!"

"Ya siapa tahu, gitu?! Yuk, dah! Kita cari bareng aja!"

Zhao Yun dan Zhu Ran pergi mencari Lu Xun dan Bai Jiaoju yang menghilang entah kemana.

"Duh, mana mereka…?"

"Tanyakan pada peta!"

"Lu kira Dorah, hah?!" Zhao Yun jambakin Zhu Ran.

"AKU DIJAMBAK TERUS—"

Pada akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk istirahat di suatu tempat. Lu Xun duduk bersandar di dinding bangunan, sedangkan Bai Jiaoju duduk di bebatuan.

"Haah… Apanya yang tahu jalan…?"

"Y-Ya maafkan aku…"

Keduanya kemudian hening sejenak.

"Hei, Xunnie. Aku mau tanya. Menurutmu aku ini pengganggu, bukan?"

"Huh? Kenapa tiba-tiba…?"

"A-Aku hanya minta pendapatmu!"

"Maksudmu pengganggu di hadapan Zhao Yun? Hmm… Biasa saja, sih. Kalian 'kan teman kecil. Wajar kalau bercandaannya lain. Kenapa tiba-tiba gini, sih?"

"Habisnya… Zhao Yun seperti merasa terganggu dengan kemunculanku…"

"Makanya, jangan panggil dia 'darling', dong. Masalahnya dia sudah punya Xing Cai."

"H-Habisnya aku suka sama Zhao Yun—"

"Kusarankan padamu, jangan sampai kamu jadi penghancur hubungan orang. Maksudku… Boleh dekat dengan Zhao Yun, hanya saja, sadarlah, Zhao Yun sudah punya Xing Cai. Jangan sampai mereka retak hanya karena bercandaanmu, Jiaoju."

"A-Aku bukan penghancur hubungan orang!"

"Aku bilang jangan sampai, bukan berarti kamu penghancur… Kalau memang kamu suka Zhao Yun, lebih baik menyerahlah. Perasaan sukamu bisa berdampak buruk bagi hubungan mereka berdua. Bisa jadi, karena kamu suka Zhao Yun, kamu melakukan hal-hal aneh agar Zhao Yun tertarik padamu."

"A-Aku bukan orang yang seperti itu!"

"Y-Ya makanya, aku sarankan untuk berperilaku biasa saja… Karena perasaanmu itu tidak akan tersampaikan ke Zhao—"

PLAK!

"Perasaanku akan tetap sampai ke Zhao Yun, walaupun tidak terbalaskan. Aku hanya ingin dia tahu kalau aku suka dengannya… Itu… Itu saja!" Terlihat Bai Jiaoju menitikkan air mata.

Lu Xun hanya terdiam sambil mengusap pipi kirinya yang merah karena kena tampar.

"Aku… Aku bahagia, kok… Kalau dia bisa langgeng dengan Xing Cai, akrab dengan Xing Cai…"

"Di luar mungkin kamu tampak bahagia, tapi hatimu berkata lain. Hatimu tidak mungkin berbohong, pasti kamu merasakan sakit melihat orang yang kamu sukai dengan orang lain bahagia."

"Apa maksudm—"

"Begitulah perempuan, menurut penglihatanku… Mereka mungkin berkata 'aku tidak apa-apa' saat menemui kondisi itu, hanya saja, hatinya akan merasakan sakit, lalu berandai-andai kalau pasangan dari orang yang kau sukai adalah dirinya. Kalau kau hanya ingin Zhao Yun tahu tentang perasaanmu, katakan saja sejujurnya. Tapi kamu harus mengetahui resikonya, karena dia hanya akan sekedar tahu tentang perasaanmu. Tidak mungkin dia meninggalkan Xing Cai."

Bai Jiaoju terdiam sambil menghapus air matanya.

"Ini tantangan dariku, kau harus siap menerima resikonya."

"U-Uhh… Baiklah! Aku akan mencobanya!"

"OOOYYY—KALIAN BERDUA NGAPAIN DI SINI?!"

Terlihat Zhu Ran dan Zhao Yun berlari kearah Lu Xun dan Bai Jiaoju.

"Xunnie, kamu tidak apa-apa?!" Zhu Ran sok peduli dengan Lu Xun.

"A-Apa sih… Jauh-jauh dariku—"

"Kalian berdua, apa yang kalian lakukan di sini?" Zhao Yun bertanya-tanya.

"Kami tersesat. Hahaha!"

"DEMI APA, SEORANG LU XUN TERSESAT?! OHEMJI, OHEMJI…"

"Diam kamu!" Lu Xun jambakin rambut Zhu Ran.

"KOK KAYAKNYA DI CHAPTER INI DIJAMBAKIN MELULU, YA?!"

Karena rambutmu asyik buat dijambak, Ran.

"JAHATNYAAA—"

"Z-Zhao Yun!" Bai Jiaoju memanggil Zhao Yun, seketika itu suasana berubah.

"Hmm? Apa? Balik yuk, mungkin mobil sudah datang."

"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu… Aku…"

"Ecieeh apaan, nih?" Zhu Ran kepo.

Kemudian Lu Xun injekin Zhu Ran.

"Apa? Cepat katakan."

"Uhh… Nggak. Nggak ada apa-apa. Ayo kita kembali."

"Hah? Apaan, deh. Nggak jelas amat. Yaudin ayo balik!"

Pada akhirnya, acara mereka sudah selesai, sudah saatnya mereka kembali ke tempat masing-masing. Tapi, tidak untuk Zhao Yun, Lu Xun, Zhu Ran, dan Sun Quan. Mereka masih sempat nongkrong di cafe.

"Haah… Capek! Xunnie, pesen minuman dong!" Zhu Ran duduk like a boss di kursi café.

"Dih, baru aja datang udah main suruh aja… Iya, bentar deh." Lu Xun away ke belakang untuk menyiapkan minuman.

"Kalau begitu aku ke belakang juga, mau ketemu kakakku dulu." Sun Quan ikutan away.

Tinggal Zhao Yun dan Zhu Ran yang tersisa. Yang lain udah dieliminasi(?).

"Dikira kontes nyanyi jaman kapan itu…?"

"Kontes nyanyi jaman dulu? Yang mana, ya?"

"Itu, lho, yang di saluran ikan terbang!"

"Oohh… Ikan terbang…"

If you know what I mean.

"Eliminasi, subtitusi?"

"… KAMU PECINTA MATEMATIKA, YA, RAN? KAMU KETULARAN LU XUN, YA? NGGAK USAH SOK PINTER DEH KAMU."

"Weee—Aku 'kan cuma ngomong apa yang aku ingat—"

"Jangan terlalu dekat dengan Lu Xun, nanti kamu jadi sok pinter."

"Berarti Xunnie sok pinter, dong?"

"Nggak, dia mah emang pinter beneran…"

"HEH. BICARAIN ORANG."

Lu Xun kembali dengan membawa tiga minuman, satu untuk Zhao Yun, satu untuk Zhu Ran, satu lagi buat Author, mumumu~

"Nggak, Thor-san. Ini buatku."

Hiks.

"Kami nggak bicarain kamu, kok, Xun. Kami bicarain matematika."

"Kalian tumben bicarain pelajaran? Mau tobat secepatnya?"

"Err… Ini semua gara-gara si landak Ipeng!"

LOL. LANDAK IPENG?!

"APA ITU LANDAK IPENG—"

"Oh, ya. Zhao Yun, ada yang ingin kukatakan padamu…" Lu Xun duduk di depan Zhao Yun, "ini mengenai—"

"IDIH, SELINGKUH…" Zhu Ran terlihat bete.

WOY. YANG BENER, KAMU NGACO AJA DARI TADI… NANTI DIJAMBAK LAGI, MAU?

"B-Bercanda… Hiks. Silahkan dilanjutkan."

Zhao Yun dan Lu Xun sweatdrop.

"Ada apa, Xun-Xun?"

"… Siapa Xun-Xun… Yun-Yun."

"Ran-Ran~" Zhu Ran ikutan.

Kemudian Zhu Ran dijambak sama Zhao Yun dan Lu Xun.

Kembali ke jalan yang benar!

"Ini mengenai… Ah, jangan dari situ… Begini, bagimu, Bai Jiaoju itu siapa?"

Zhao Yun terdiam, menatap Lu Xun dengan tatapan penuh tanda tanya.

"Apa maksudmu…?"

"Jawab saja yang jujur, bagimu Jiaoju itu siapa?"

"Y-Yah teman kecil, lah! Masa' iya pacar gue? Pacar gue Xing Cai."

"Lalu, dengan kehadirannya, apakah kamu merasa terganggu?"

"Hmm… Kalau dia aneh-aneh, aku terganggu sekali, sih."

"Sejenis bilang 'darling' dan semacamnya?"

"Iya. Kenapa tiba-tiba begini, sih? Tadi kamu ngomong apa saja sama Jiaoju waktu nyasar…?"

"Nggak, kok. Nggak ada apa-apa, aku hanya ingin bertanya saja. Kurasa ada yang mengganggu di pikirannya. Hanya itu saja, kok."

Zhao Yun mengangguk pelan, kemudian kembali menyeruput minumannya.

"Hmm… Tumben sekali, Xun, kamu bicarain itu anak satu?" Zhu Ran duduk makin menjadi-jadi, berasa lagi nongkrong di angkringan.

Lu Xun hanya terdiam, menatap Zhu Ran yang duduknya seenak jidatnya yang terbuka secara umum itu, kemudian memukul kaki Zhu Ran yang dirasa nggak sopan kalau di café duduk seperti itu.

"Aduh, apa sih?"

"Ini café, bukan angkringan. Tolong bedakan itu ya, landak Ipeng."

"IPENG LAGI—"

Untuk bercandaan kali ini, suasana agak sedikit…

Aneh.

Mereka bertiga terdiam, tidak ada yang berani memulai pembicaraan. Zhao Yun sibuk menyeruput minumannya, Lu Xun diam menunduk, entah apa yang harus ia katakan, sedangkan Zhu Ran…

Masih dengan kaki kemana-mana.

Mas Ipeng, jangan gitu, nanti Author sedih, hiks.

"Iyain aja, deh…" Zhu Ran kembali duduk manis.

Suasana diam kembali, seperti tidak ada kehidupan di sana. Ah, alay lu, thor!

"Jiaoju menyukaimu, Zhao Yun." Terlontar begitu jelas apa yang dikatakan Lu Xun dengan suasana yang begitu hening diantara mereka, hal itu membuat Zhao Yun dan Zhu Ran syok.

"Aku tahu kalau dia menyukaiku. Tapi nggak mungkin kalau aku jadian sama dia, 'kan?"

"Y-Ya, setidaknya kamu bicara sama dia, biar dia nggak terlalu berharap jadian denganmu. Cewek itu aneh."

"Berarti Author aneh, ya?"

… Apa tadi? Bilang apa tadi, Ipeng?

"IPENG LAGI—" Mas Ipeng yang kalian kenal sebagai Zhu Ran menjauh sepuluh meter dari sumber suara Author, kejauhan, mas.

"M-Maksudku, nggak semua cewek… Tapi, survey membuktikan kalau banyak cewek yang agak…"

"Ya, aku mengerti. Biar besok kujelaskan padanya, deh." Zhao Yun melipat tangannya, bersandar di kursi sambil menghela nafas.

"Xunnie, kamu nanya begituan jangan-jangan ada maksud tertentu?" Zhu Ran senyum jahil.

"H-HAH?! APAAN SIH?!"

"Ciee—Lu Xun suka Jiaoju eaps?"

Kemudian Lu Xun jambakin Zhu Ran sampai botak, nggak gitu juga sih, Author 'kan lebay.

Lu Xun nggak boleh jatuh cinta sama cewek, masa' nanti cowoknya lebih cantik dari ceweknya, 'kan nggak banget…

"APA MAKSUDMU AUTHOR-SAN?!" Lu Xun ngamuk sambil nge-blush unyu.

Aih, Xunnie unyu deh. Tambah cantik, mumumu~

Author ditebas pakai sandal swallow. Bagaimana mungkin? Karena kalau bawa swallow sword nanti Xunnie masuk penjara.

Malam itu, di kamar Bai Jiaoju…

"Sepertinya aku harus menyerah," Bai Jiaoju yang saat itu sedang tiduran di kasurnya yang empuk, menatap handphone-nya yang bergetar terus menerus, "tidak mungkin Zhao Yun bisa berbalik. Jadi, aku harus menyerah sampai di sini… Ucapan sih gampang, tapi saat aku melakukannya… Tidak bisa."

Malam itu, cuaca sangatlah dingin. Penghangat ruangan pun tidak mempan, dinginnya sangat menusuk. Bagi Jiaoju, dingin ini menambah rasa sakit yang ada di hatinya. Antara ingin melepaskan atau terus memiliki perasaan suka dengan Zhao Yun, yang sudah dimiliki oleh Xing Cai.

"Perkataan memang sulit kalau dilakukan… Menyedihkan." Bai Jiaoju menatap jendela kamarnya, di luar sana gelap.

Drrt! Drrrt!

Pesan dari Bao Sanniang masuk.

'Lebih baik kamu jangan terlalu berharap lebih ke Zhao Yun, oke?'

"Aku tahu itu, aku tahu harus melakukan itu, hanya saja… Aku tidak bisa."


Ciaduw, Jiaoju tetap jatuh cinta sama Yuyun... Nggak bisa move on dia.

Bai Jiaoju: HAH?! *bakar Author*

Untuk episode- salah, untuk chapter selanjutnya, doakan Author untuk update tepat waktu, ya! Sampai jumpa di chapter selanjutnya! :3 Jangan lupa RnR~