Title: The Hybrid Family
Author: Bell
Main Cast:
-YunJae & Kyungsoo
-Kangteuk
Support Cast:
-Park Chanyeol
-Onew
Fact of this fanfic:
-yang dimaksud uke adalah hybrid yang berjenis kelamin laki-laki saat menjadi manusia, tapi jenis kelamin hewannya adalah betina.
"Ayo baby Soo, panggil appa... ap-pa~" Yunho berlutut dengan wajah cerah dihadapan Kyungsoo kecil yang sedang sibuk memasang Lego.
"Ayo baby... ap-pa..." hybrid kecil yang baru genap berumur empat tahun itu hanya berkedip lucu mendengar permintaan ayah angkatnya.
"Sudahlah Yun! Jangan dipaksakan, dia akan berbicara jika dia ingin... iya kan baby?" Jaejoong mengangkat Kyungsoo ke pangkuannya dan mencium gemas pipi hybrid kecil itu.
Yunho menghela napas, "Kyungsoo sudah tinggal bersama kita selama satu tahun tapi dia belum juga mengucapkan kata pertamanya, apa princess appa tidak mau berbicara dengan appa eoh?" pria musang itu berjongkok di depan Jaejoong sambil menatap Kyungsoo.
"Yun... hybrid memang biasanya begitu, apalagi setelah apa yang Kyungsoo alami... kita harus lebih sabar sayang..." Jaejoong memegang tangan suaminya yang ada dilututnya dan meremasnya lembut, Kyungsoo menatap kedua orang tua angkatnya bergantian lalu menunduk sedih.
"Setidaknya dia sudah lebih dekat dengan kita, kau ingat saat kita pertama bertemu Kyungsoo?" Yunho dan Jaejoong tertawa bersama mengingat memori itu.
_Flashback_
"Nah Kyungsoo-ya, mereka adalah orang tua barumu..." mata besar hybrid kecil itu menatap pasangan musang dan kucing di depannya, lalu dengan mata berair dia memeluk Onew yang ada dibelakangnya dengan erat.
Yunho dan Jaejoong saling tatap sebentar sebelum mengalihkan kembali perhatian mereka kepada Kyungsoo.
"Hallo baby Kyungsoo, apa kau suka cokelat?" Kyungsoo mengalihkan pandangannya pada Jaejoong yang kini sedang memegang cokelat. Hybrid kecil itu menggeleng keras.
"Kyungsoo-ya, bukannya kau suka cokelat... benar tidak mau?" Onew kini berjongkok dan menatap mata besar Kyungsoo dengan sayang.
Kyungsoo kembali menggeleng.
"Ahh sayang sekali padahal cokelat ini khusus untuk Kyungsoo," Kyungsoo melirik Jaejoong yang memasang wajah sedih.
Kyungsoo kecil mulai merasa tidak tega, "Ayolah Soo, ambillah cokelat itu... kasihan Jaejoong eomma sudah membelikannya untukmu," bujuk Onew.
Kyungsoo menatap Onew sebentar lalu berjalan dengan terhuyung-huyung -karena kyungsoo memang belum bisa berjalan dengan baik- ke arah Jaejoong, ia mengambil cokelat di tangan Jaejoong dan kembali memeluk Onew.
Pasangan hybrid dan Onew tertawa kecil melihat tingkah lucu Kyungsoo. "Kau harus bilang terima kasih," Kyungsoo menatap Onew sebentar, lalu membungkuk kecil ke arah Jaejoong.
"Kyungsoo belum bisa berbicara," Jaejoong mengangguk mengerti, sebenarnya dia ingin sekali memeluk tubuh kecil Kyungsoo dan menciumi kedua pipi hybrid kecil itu tapi dia harus bersabar.
"Kalau begitu Yunho appa dan Jaejoong eomma akan pulang dulu, besok appa dan eomma akan kemari lagi dengan lebih banyak cokelat okay?" Kyungsoo hanya diam sambil menatap kepergian dua orang itu.
"Bagaimana Kyungsoo? Apa Jaejoong eomma dan Yunho appa baik?" burung hantu kecil itu mengangguk kecil sebagai jawaban membuat sebuah senyuman terbentuk di wajah Onew.
Setelah hari itu, Yunho dan Jaejoong selalu datang setiap hari untuk bertemu Kyungsoo. Dengan sabar kedua orang itu mendekati si hybrid kecil sampai akhirnya Kyungsoo sendiri yang tidak ingin berpisah dengan mereka.
Yunho memasang wajah terharu, "Tidak terasa sudah satu tahun kita tinggal bersama," Jaejoong mengiyakan dengan mata berair. Merasa bahagia dengan keluarga kecilnya.
Ting Tong
Suara bel pintu rumah pasangan itu berbunyi, Yunho dan Jaejoong bertatapan sebentar sebelum Jaejoong beranjak dari sofa lalu memberikan Kyungsoo pada Yunho. Dia berjalan ke arah pintu depan untuk membuka pintu.
"Siapa?" Jaejoong membuka pintu dan terkejut bukan main melihat siapa yang datang.
"K-Kangin?" sementara pemuda yang dipanggil hanya tersenyum lebar pada kakaknya.
Kim Youngwoon atau lebih sering dipanggil Kangin adalah hybrid kucing. Salah satu dari tiga adik Kim Jaejoong, anak kedua dari empat bersaudara Kim. Ketiga adik Jaejoong sedang bersekolah di sebuah sekolah asrama yang khusus diperuntukan untuk para hybrid karena itu di rumah besar keluarga Kim hanya ada Yunho dan Jaejoong.
"YA! Jangan bilang kau membuat masalah besar dan sekarang sedang di skors!" Jaejoong menjewer telinga adiknya dengan kencang.
"Aw! Aw! Aw! HYUNG! Aku tidak di skors! Asramaku sedang diperbaiki jadi aku diperbolehkan pulang!" jelas Kangin. Jaejoong melepaskan telinga Kangin yang sudah memerah.
"Aish hyung! Lain kali bertanya dengan baik-baik jangan asal serang saja!" kata Kangin sambil mengusap telinganya.
"Mianhae, tapi terakhir kali hyung dipanggil ke sekolahmu itu karena kau membuat masalah! Bagaimana hyung tidak curiga?!" Kangin baru saja akan membalas saat suara Yunho terdengar dari dalam rumah.
"Siapa itu booJae?"
"Kangin,"
"Kenapa kalian tidak berbicara di dalam saja?" Kim bersaudara itu mengikuti saran Yunho. Jaejoong masuk lebih dulu diikuti Kangin yang membawa dua koper besar ditangannya.
"Hai hyung! Oh! Apa itu Kyungsoo kecil?" Kangin meninggalkan kedua kopernya lalu berlari ke arah Yunho yang sedang memangku Kyungsoo.
"Hai!" Kyungsoo menatap penasaran pada pemuda berbadan besar yang kini berjongkok dan melambai dengan semangat ke arahnya. Dengan cepat Kyungsoo memalingkan wajahnya dari Kangin dan bersembunyi di dada ayahnya.
Kangin memasang wajah kecewa sedangkan Yunho tertawa, "Dia memang agak pemalu dengan orang baru Kangin, kau harus pelan-pelan dengan Kyungsoo kami..."
"Jangan dekat-dekat dengan Kyungsoo, nanti dia ketularan sifat pemalasmu!" Jaejoong datang sambil membawa makanan ringan dan jus jeruk kesukaan Kangin.
"Enak saja aku bukan pemalas hyung!" Kangin membela diri.
"Sudahlah! Habiskan cemilan itu lalu ke kamar dan masukan pakaianmu ke dalam lemari!" Kangin mengangguk, mulutnya sudah penuh dengan kue buatannya kakaknya yang cantik.
Kyungsoo melirik Kangin yang makan dengan lahap, merasa ditatap Kangin melihat ke arah Kyungsoo lalu tersenyum manis. Sekali lagi Kyungsoo menyembunyikan wajahnya ke dada Yunho. Kangin kembali memasang wajah kecewa, kenapa keponakannya yang imut itu tidak mau menatapnya apa dia terlihat menakutkan? Padahal menurut dia kakak iparnya justru jauh lebih menakutkan.
Sudah tiga hari Kangin tinggal bersama kakak dan kakak iparnya, dia merasa bosan. Keponakannya belum juga membuka hati padanya. Setiap Kangin mendekat kaki kecil Kyungsoo pasti berlari ke arah appa atau eommanya. Di sekitar rumah mereka juga jarang sekali ada hybrid yang seumuran dengannya, tahun itu Kangin berumur enam belas tahun walaupun wajahnya terlihat sedikit lebih tua dari umur aslinya.
Telinga Kangin mendengar suara mobil dari arah rumah sebelah yang kosong, "Apa ada yang pindah?"
Wajah pemuda itu berubah cerah, dengan semangat ia melangkahkan kakinya ke teras rumah. Di depan rumah yang tadinya kosong itu, sekarang ada dua mobil pengangkut barang dan satu mobil pribadi.
Pintu depan mobil pribadi itu terbuka, pasangan suami istri berumur kira-kira separuh abad keluar dari dalam mobil.
'YEAY HYBRID!' Kangin bersorak girang dalam hati.
Pintu belakang terbuka, Kangin berharap bahwa anak pasangan itu adalah hybrid seme yang seumuran dengannya. Namun kedua mata adik Kim Jaejoong itu membulat melihat seorang pemuda cantik -hybrid uke- keluar dari pintu belakang dengan senyum malaikatnya.
'YA TUHAN! INI BAHKAN LEBIH BAIK! TERIMA KASIH TUHAN!'
Lagu cinta mengalun indah di telinga Kangin, dengan tatapan memuja mata pemuda itu mengikuti pergerakan pria cantik yang menjadi tetangga barunya.
Sayangnya semua itu harus berhenti, "YA! KIM YOUNGWOON! APA KAU TIDAK DENGAR! BANTU AKU MEMBAWA BARANG BELANJAAN!" suara teriakan Jaejoong menghancurkan lamunan Kangin.
"Tidak usah teriak-teriak hyung!" pemuda itu mendengus sebal pada kakaknya, matanya kembali mengarah ke arah rumah tetangganya saat mendengar suara tertawa yang sangat merdu. Ia melihat pemuda cantik yang sejak tadi diperhatikannya sedang tertawa geli.
'Astaga ini memalukan sekali,' dengan terburu-buru Kangin membawa empat kantung belanjaan Jaejoong ke dalam rumah.
"Ck, ada apa dengan anak itu?" tanya Jaejoong heran.
"OH! Lihat itu Kyungsoo, ada tetangga baru..." Jaejoong berjalan ke arah rumah sebelah dan menyapa tetangga barunya dengan ramah.
"Hyung, tetangga sebelah namanya siapa?" Jaejoong menatap adiknya dengan wajah datar.
"Tanya sendiri padanya,"
"Baiklah!" Jaejoong memandang kaget adiknya yang langsung berlari keluar rumah, "Aigo anak itu!" Jaejoong kembali menyibukkan diri membuat kue untuk tetangga barunya dibantu oleh Kyungsoo yang duduk manis di atas bangku. (bantu melihat maksudnya)
"Hai!" tetangga barunya yang cantik berhenti bermain bola dengan adiknya yang sepertinya seumuran dengan Kyungsoo.
"Hai..." Kangin hampir jatuh mendengar suara lembut yang membuat lututnya gemetar.
"Aku Kangin," pemuda itu mengulurkan tangannya. Tapi bukannya tangan lembut uke incarannya yang didapat, malah gigi-gigi tajam calon adik iparnya yang kini menancap ditangannya.
'Astaga Chanyeol! Apa yang kau lakukan!" si cantik memekik panik saat melihat apa yang dilakukan adiknya.
"Maaf ya! Chanyeol memang agak nakal, dia memang suka sekali menggigit..." Kangin pura-pura tertawa mendengar penjelasan pemuda cantik yang kini sedang mengobati tangannya.
"Namaku Park Jungsoo, tapi nama hybridku Leeteuk..." Leeteuk tersenyum malu-malu.
"Nama hybrid?" tanya Kangin bingung. Memang sih Kangin juga punya dua nama, tapi nama Kangin ini hanyalah nama panggilan. Bisa dibilang nama kerennya.
Leeteuk mengangguk malu, "Karena aku uke, orang tuaku berpikir aku membutuhkan nama yang lebih feminin."
"Ohhh..." Kangin mengangguk mengerti.
"Dia bilang begitu hyung," Kangin selesai bercerita tentang apa yang terjadi pada tangannya dan nama Leeteuk.
"Aku baru tahu ada yang memberikan dua nama, mungkin sebenarnya itu hanya nama panggilan..."
"Tapi dia bilang dia hanya menggunakan nama itu saat berkenalan dengan hybrid lain hyung!" kata Kangin dengan nada menggebu-gebu.
Jaejoong hanya menatap malas pada adiknya, semua tentang Leeteuk itu seperti salah satu keajaiban dunia bagi Kangin.
"Boojae, kita juga harus memberikan nama hybrid untuk Kyungsoo! Baby kita itu uke, bagaimana dengan nama Seulgi?" tanya Yunho bersemangat. Memang sudah sejak lama Yunho ingin memberikan nama Seulgi untuk nama anak perempuannya tapi karena Kyungsoo laki-laki meski dia uke, ia harus mengubur impiannya jauh-jauh.
"Tidak!" Jaejoong menolak dengan tegas.
"Ayolah boojae~" rengek Yunho. Jaejoong mengalihkan pandangannya dari Yunho.
Hybrid musang itu memasang wajah cemberut sebelum beralih kepada Kyungsoo, "Baby soo pasti suka dengan nama Seulgi, iya kan baby? Appa akan memberikan nama itu untuk nama hybridmu, bagaimana?" Kyungsoo menatap Yunho sebentar lalu berpaling menatap ibunya.
"Dia tidak suka nama itu!"
"Tidak! Princess appa pasti suka! Iya kan baby?" Yunho menarik Kyungsoo agar menatapnya, namun Kyungsoo malah berlari ke arah Jaejoong.
"Sudah kubilang dia tidak suka! Pabbo appa!" Jaejoong menggendong Kyungsoo dan berjalan menuju kamar si hybrid kecil.
"Soo-ya~ maafkan appa baby, appa tidak akan menggunakan nama itu padamu!" Yunho memasang wajah memelas sambil mengulurkan tangannya dengan dramatis ke arah Kyungsoo, sedangkan si anak hanya menatap balik Yunho dengan tatapan polosnya. Kangin menatap bosan kakak iparnya selalu bersikap berlebihan jika menyangkut Kyungsoo.
Hari itu adalah hari terakhir Kangin tinggal bersama Yunho dan Jaejoong, dia merasa berat untuk pergi. Bagaimana dengan hubungannya dan Leeteuk nanti? Sebenarnya hubungan mereka berdua masih sebatas teman.
Kangin menghela napas, Jaejoong mengerutkan keningnya melihat tingkah adiknya. "Kau sudah membereskan baju-bajumu?"
"Kemarin sudah," jawab Kangin tanpa semangat.
"Kenapa tidak main saja ke rumah tetangga sebelah?" Kangin menatap Jaejoong lalu berpaling dan menghela napas. Alis Jaejoong berkerut bingung.
"Ada apa lagi?" tanya Jaejoong lembut.
"Aku tidak ingin kembali ke asrama," katanya sedih.
Jaejoong mengusap punggung adiknya lalu tersenyum, "Hari ini hari terakhir, jangan disia-siakan untuk bersedih... sana pergi temui Leeteuk!"
Kangin memasang wajah ragu, "Sudah sana!"
Ketika sampai di teras rumah, kebetulan Leeteuk juga sedang berdiri di teras rumah sambil membawa keranjang yang sepertinya digunakan untuk berbelanja.
"Hei! Mau kemana?"
"Hei Kangin, ibu menyuruhku ke pasar,"
"Boleh aku ikut mengantarmu?" Leeteuk mengangguk sambil tersenyum manis.
Setelah berbelanja, Kangin mengajak Leeteuk untuk duduk di ayunan yang ada di taman dekat rumah mereka.
"Aku... aku akan kembali ke asrama besok,"
"Jadi kau akan pergi besok?" tanya Leeteuk sedih.
Kangin menggenggam satu tangan Leeteuk lalu menatap kedua mata indah milik pemuda cantik itu.
Remaja hybrid itu meneguk ludah kasar sebelum berucap, "Aku menyukaimu Leeteuk, tolong ijinkan aku mendekatimu sebagai calon mate!" wajah kedua pemuda itu berubah merah.
"Aku berjanji akan menjadikanmu pacarku saat kita bertemu lagi," kata Kangin Yakin.
Leeteuk menggigit bibir bawahnya, wajah terasa panas mendengar kata-kata hybrid tampan di sampingnya.
"Uhm... dimana kau bersekolah Kangin-ah?" tanya Leeteuk tiba-tiba.
Kangin memasang wajah bingung, "Di Cheonhan,"
Leeteuk tersenyum lebar sebelum memberikan ciuman mendadak di bibir Kangin, "Kau harus menepati janjimu!" pemuda cantik itu kemudian berlari dengan wajah memerah meninggalkan Kangin yang kondisinya tidak jauh berbeda dengannya.
Sore itu Kangin berpamitan pulang, Yunho dan Jaejoong yang menggendong Kyungsoo menemani pemuda itu menunggu taksi yang sudah dipesan.
"Jaga diri baik-baik! Jangan membuat masalah! Jaga adik-adikmu!" Kangin mengangguk mendengar petuah Jaejoong.
"Natal tahun ini pulanglah bersama Junsu dan Kibum,"
"Iya hyung!"
"Ini tambahan uang saku, bagikan ke adik-adikmu juga" Kangin menerima amplop dari Yunho dengan senang hati.
Tidak lama taksi pesanan Kangin datang, pemuda itu membiarkan supir taksi menaruh barang-barangnya di bagasi. "Jaga kesehatan, kalau ada apa-apa bilang pada hyung! Sering-seringlah pulang saat liburan!" Kangin yang sudah berdiri di depan pintu belakang taksi yang terbuka hanya mengangguk sambil tertawa kecil mendengar ocehan kakaknya yang cerewet.
"Jangan hanya tertawa!" Jaejoong menjitak kepala Kangin.
"Iya hyung... aku mengerti,"
"Kyungsoo, samchon pergi dulu ya!" kata Kangin sambil tersenyum lembut.
Kyungsoo tiba-tiba saja meraih kerah baju Kangin dan mulai menangis, Kangin dan Jaejoong menjadi panik.
"Hiks... hiks... Kang-in... Kangin... hikss..." itu adalah kata pertama yang diucapkan Kyungsoo meski sambil menangis.
Jaejoong tersenyum haru mendengar Kyungsoo yang memanggil nama adiknya, ternyata meski Kyungsoo terus menghindar dari Kangin bukan berarti hybrid kecil itu membencinya.
Mata Kangin berair, keponakannya itu benar-benar manis. Kangin tahu Kyungsoo sering memperhatikannya meski saat di dekati dia menghindar. Mungkin Kyungsoo hanya bingung bagaimana dia seharusnya bersikap pada anggota keluarga yang baru ia temui.
"Jangan menangis Kyungsoo, samchon akan datang lagi saat natal dengan Junsu dan Kibum samchon. Jadi anak yang baik sampai samchon kembali okay?" Kangin mencium gemas pipi gembil Kyungsoo lalu tersenyum pada si hybrid kecil yang wajahnya sudah memerah karena menangis.
"Sudah sana pergi! Taksinya sudah akan berangkat!" Yunho buru-buru mendorong Kangin memasuki taksi. Dia tidak akan pernah melupakan hal ini, berani-beraninya adik iparnya itu menjadi kata pertama yang disebut anaknya! Yunho menatap kesal pada taksi yang perlahan berjalan menjauh.
END
