137darkpinku Present
KYUMIN FANFICTION
Fifty Shades of Darker
Chapter 37
Cast: Cho Kyuhyun , Lee Sungmin , and other cast
Rate : M
Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan
(Ada beberapa MARGA yang diganti demi kepentingan cerita)
DLDR
Please enjoy ^^
Disclaimer : Remake Novel karya EL James 'Fifty Shades of Darker'.
P.M : All is Sungmin's POV
Ok. Let's check this out !
.
.
.
JOYER
.
.
.
"Sungminku." Sebutnya.
"Ya," Suaraku serak.
"Selalu." Dia mengerang dengan nyaring, menutup matanya lagi, menjatuhkan kepalanya kebelakang.
Oh My. . . melihat Kyuhyun terlepas cukup untuk menutup nasibku, dan aku lepas dengan bersuara keras, dengan kelelahan, berputar-putar, dan roboh diatas tubuhnya.
"Oh,sayang," dia mengerang saat dia menemukan pelepasannya, menahanku tetap diam dan dia terlepas.
Kepalaku di dadanya di daerah yang tak boleh disentuh. Aku terengah-engah, merasa hangat, dan aku menahan dorongan untuk mengerutkan bibirku dan menciumnya. Aku hanya berbaring di atas tubuhnya, menangkap nafasku. Dia mengusap rambutku, dan tangannya berjalan di punggungku, membelaiku saat nafasnya tenang.
"Kau sangat cantik."
Aku mengangkat kepalaku untuk menatapnya, ekpresiku ragu-ragu. Dia mengerutkan dahinya dan tiba-tiba duduk, mengejutkanku, lengannya melingkar di tubuhku, menahanku agar tak bergerak dari tempatku. Aku mencengkeram otot bisepnya saat hidung kami bertemu.
"Kau. Sangat. Cantik," katanya lagi, nadanya tegas.
"Dan kau kadang-kadang sangat manis." Aku menciumnya lembut.
Dia mengangkatku dan keluar dari tubuhku. Aku meringis saat dia melakukannya. maju kedepan, dia menciumku lembut.
"Kau tak menyadari betapa menariknya dirimu, kan?"
Aku memerah. Kenapa dia selalu membicarakan tentang ini?
"Semua pria-pria itu mengejarmu, tidakkah itu suatu petunjuk yang cukup?"
"Pria-pria? Siapa?"
"Kau mau daftarnya?" Kyuhyun mengerutkan dahinya. "Si Fotografer, dia menggilaimu, pemuda di toko perkakas tempatmu bekerja, kakak laki-laki teman se-apartemenmu, bosmu," tambahnya getir.
"Oh, Kyuhyun, itu tidak benar."
"Percayalah padaku. Mereka menginginkanmu. Mereka menginginkan apa yang jadi milikku." Dia menarikku mendekatinya, aku mengangkat kedua lenganku ke bahunya, tanganku dirambutnya, memandangnya dengan geli. "Milikku," ulangnya, matanya bersinar posesif.
"Ya, milikmu." Aku menenangkannya, tersenyum.
Dia tampak tenang, dan aku merasa sangat nyaman telanjang di pangkuannya di tempat tidur yang penuh cahaya sabtu sore. Siapa yang mengira? Tanda lipstik masih membekas pada tubuh indahnya. Aku mencatat beberapa noda mengotori penutup selimut, dan bertanya-tanya sekilas apa yang Ryeowook akan lakukan pada hal itu.
"Jalurnya masih utuh," gumamku dan dengan berani menelusuri tanda di bahunya dengan jari telunjukku. Ia menegang, tiba-tiba berkedip.
"Aku ingin pergi menjelajah."
Dia memandangku dengan skeptis. "Apartemen?"
"Tidak. Aku berpikir tentang peta harta karun yang telah kita gambar di tubuhmu." Jariku sudah gatal ingin menyentuhnya. Alisnya terangkat dengan heran, dan ia berkedip dengan ketidakpastian. Aku mengusap hidungku ke hidungnya.
"Dan apa itu persisnya, Nona Lee?"
Aku mengangkat tanganku dari bahunya dan menjalankan ujung jariku di wajahnya. "Aku hanya ingin menyentuhnya dimana aku diijinkan."
Kyuhyun menangkap jari telunjukku dengan giginya, menggigitnya dengan lembut.
"Ow," aku protes dan dia nyengir, sebuah geraman pelan keluar dari tenggorokannya.
"Oke," katanya, melepaskan jariku, tapi suaranya bercampur dengan ketakutan. "Tunggu." Dia menunduk di belakangku, mengangkatku lagi dan melepas kondomnya, menjatuhkannya sembarangan di lantai disamping tempat tidur. "Aku benci benda itu. Aku punya pikiran bagus untuk menelpon dokter untuk memberimu suntikan."
"Kau pikir ahli kandungan terkenal di Seoul akan datang dengan berlari?"
"Aku bisa sangat meyakinkan," gumamnya, menyelipkan rambutku di belakang telinga. "Franco melakukan pekerjaan bagus pada rambutmu, aku suka lapisan-lapisannya. "
Apa?
"Berhenti mengalihkan pembicaraan."
Dia menggeserku kembali jadi aku mengangkangi dirinya, aku bersandar pada lututnya yang tertopang, kakiku di kedua sisi pinggulnya. Dia bersandar di lengannya.
"Sentuhlah," katanya tanpa humor. Dia terlihat gugup, tapi dia berusaha menyembunyikannya.
Menjaga mataku tetap menatap matanya, aku mengulurkan tangan dan menelusuri jariku di bawah garis lipstik, melintasi seluruh otot di perutnya yang terpahat sempurna. Dia tersentak dan aku berhenti.
"Tidak apa-apa. Hanya perlu sedikit . . . penyesuaian diri dari diriku. Tak ada seorang pun menyentuhku dalam waktu yang lama," bisiknya.
Bergeser kembali sehingga dia menjatuhkan kakinya, aku menempatkan kembali jemariku diperutnya dan membiarkannya melintasi kulitnya. Dia terdiam sekali lagi.
"Aku suka menyentuhmu."
Jariku meluncur ke pusarnya kemudian menuju selatan di sepanjang happy trailnya. Bibirnya terbuka saat napas berubah, matanya menggelap dan ereksinya berputar dan berkedut di bawahku.
Astaga.
Ronde Kedua.
"Lagi?" Bisikku.
Dia tersenyum. "Oh ya, Nona Lee, lagi."
.
.
.
Suatu cara yang nikmat menghabiskan hari sabtu siang. Aku berdiri di bawah pancuran, dengan main-main mencuci tubuhku, tapi berhati-hati agar tidak membuat rambutku yang terikat jadi basah, merenungkan hal yang terjadi 2 jam yang lalu.
Aku melangkah keluar dari kamar mandi dan mengeringkan diri.
Dia mengatakan hal-hal penuh kasih seperti saat ini. Dia gila karenaku. Menatap bayanganku, aku tersenyum karena teringat kata-katanya, hatiku meluap sekali lagi, dan wajahku berubah menjadi senyuman konyol. Mungkin kami bisa membuat ini berhasil.
Tapi berapa lama ia akan ingin melakukan hal ini tanpa ingin memukulku karena aku melewati beberapa aturan yang sewenang-wenang?
Senyumku menghilang. Ini adalah sesuatu yang aku tak tahu.
Aku kembali ke kamarku untuk berpakaian. Kyuhyun di lantai bawah sedang bersiap-siap, melakukan apapun yang dia ingin lakukan, jadi aku punya kamar untuk diriku sendiri. Seperti juga gaun-gaun di lemari, aku punya satu laci penuh pakaian dalam baru.
Aku sedang meraih gaun ketika Kyuhyun masuk tanpa pemberitahuan. Dia berdiri tidak bergerak, menatapku, matanya berkelip dengan nafsu. Aku memerah diseluruh tubuhku. Dia memakai kemeja putih dan celana hitam panjang, leher kemejanya terbuka. Aku bisa melihat garis lipstick masih menempel dan dia masih menatapku.
"Apa yang bisa aku bantu, Tuan Cho? Aku menganggap ada suatu tujuanmu berkunjung daripada menganga menatap kosong padaku."
"Aku lebih suka menikmati tatapan kosongku, terima kasih, Nona Lee," gumamnya muram, melangkah lebih jauh ke dalam ruangan dan menatapku dalam-dalam.
"Aku bisa melihatnya. Apa yang kau inginkan, Kyuhyun." Aku memberinya tatapan 'tidak ada omong kosong'-ku.
Dia membalas dengan senyum miring dan menarik bola perak telur dari sakunya, menghentikan langkahku. Astaga! Dia ingin memukul pantatku? Sekarang? Kenapa?
"Ini bukan seperti yang kau pikirkan," katanya cepat.
"Terangkan padaku," aku berbisik.
"Kupikir kau bisa memakai benda ini malam ini." Dan implikasi dari kalimat itu menggantung di antara kami saat ide itu masuk dipikiranku.
"Di acara ini?" Aku terkejut. Dia menggangguk lambat, matanya mengelam. Oh my. "Kau akan memukul pantatku nanti?"
"Tidak."
Untuk sesaat, aku merasakan sekilas tikaman kecil kekecewaan.
Dia terkekeh. "Kau ingin aku melakukannya?"
Aku menelan ludah. Aku tak tahu.
"Yah, yakinlah aku tak akan menyentuhmu seperti itu, bahkan jika kau memohon padaku." Oh! Ini adalah berita. "Apakah kau ingin bermain permainan ini?" Ia melanjutkan, memegang bola. "Kau selalu bisa mengeluarkannya kalau terlalu lama."
Aku menatap padanya. Dia terlihat begitu licik dan menggoda, rambut baru-habis-bercinta berantakannya, mata gelap menari dengan pikiran erotis, mulut yang terpahat indah, bibir yang terangkat dengan sebuah senyum geli yang seksi.
"Oke," aku menyetujui tanpa protes dengan lembut.
"Gadis Baik," Kyuhyun menyeringai. "Kemarilah, dan aku akan memasukkannya, setelah kau memakai sepatumu."
Sepatuku? Aku berputar dan melirik pada stiletto kulit abu-abu yang cocok dengan gaun yang aku pilih untuk dipakai.
Aku pasti paling tidak 5 inci lebih tinggi sekarang. Dia membawaku ke sisi tempat tidur dan tidak duduk, tapi berjalan ke arah satu-satunya kursi di ruangan ini. Mengambilnya, ia membawanya dan meletakkannya di depanku.
"Ketika aku mengangguk, kau membungkuk dan berpegangan pada kursi, Mengerti?" Suaranya parau.
"Ya."
"Bagus. Sekarang buka mulutmu," perintahnya, suaranya masih rendah.
Aku lakukan seperti aku diberitahu olehnya, berpikir bahwa ia akan menempatkan bola di mulutku lagi untuk melumasi mereka. Tidak, dia menyelipkan jari telunjuknya masuk ke mulutku. Oh . . .
"Hisap," Katanya.
Aku meraih dan menggenggam tangannya, menahannya tetap stabil, dan melakukan apa yang aku diberitahu olehnya — lihatkan, aku bisa menurut, ketika aku ingin menurut. Dia terasa seperti sabun. . . hmm. Aku menghisap keras, dan aku dihargai ketika matanya melebar dan bagian bibirnya terbuka saat ia menarik nafas. Aku tak akan memerlukan pelumas pada tingkat ini.
Dia menempatkan bola di mulutnya saat aku mengulum jarinya, memutar-mutar lidahku di seputar jarinya. Ketika ia mencoba untuk menariknya, aku mengatupkan gigiku. Dia menyeringai kemudian menggeleng, mengingatkan aku, jadi aku melepaskannya. Dia mengangguk, dan aku membungkuk dan memegang sisi kursi.
Dia menggerakkan celana dalamku ke satu sisi dan dengan sangat perlahan menyelipkan jarinya ke dalam diriku, berputar-putar dengan santai, jadi aku bisa merasakannya, di semua sisi. Aku tidak dapat menahan erangan yang lolos dari bibirku. Dia mencabut jarinya sebentar dan dengan kehati-hatian yang lembut, memasukkan bola satu persatu, mendorongnya masuk dalam diriku.
Setelah mereka berada di posisinya, ia merapikan celana dalamku kembali ke tempatnya dan mencium punggungku. Menjalankan kedua tangannya ke atas masing-masing kakiku mulai dari pergelangan kaki ke paha, ia lembut mencium bagian atas setiap paha ditempat stokingku berakhir.
"Kau punya kaki yang indah, indah sekali, Nona Lee," gumamnya. Berdiri, ia mencengkeram pinggulku dan menarik belakang tubuhku kearahnya jadi aku bisa merasakan ereksinya. "Mungkin aku akan bercinta denganmu dengan cara ini ketika kita pulang nanti, Sungmin. Kau bisa berdiri sekarang."
Aku merasa pusing, terlampau terangsang saat berat dari bola mendorong dan menarik dalam diriku. Merunduk dari belakangku Kyuhyun memberiku ciuman di bahuku.
"Aku membeli ini untuk kau kenakan di Pesta Gala sabtu lalu." Dia menempatkan lengannya di sekitarku dan mengulurkan tangannya. Dalam telapak tangannya bersandar sebuah kotak merah kecil dengan Cartier tertulis di tutupnya.
"Tapi kau meninggalkanku, jadi aku tak pernah punya kesempatan untuk memberikannya kepadamu." Oh! "Ini adalah kesempatan keduaku," gumamnya, suaranya kaku dengan beberapa emosi yang tidak tersebut namanya.
Dia terlihat gugup. Ragu-ragu, aku meraih kotak itu dan membukanya. Di dalamnya bersinar sepasang anting-anting panjang. Masing-masing memiliki empat berlian, salah satu di dasar, ada celah, kemudian tiga berlian besar sempurna tergantung satu demi satu. Mereka cantik, sederhana, dan klasik. Apa yang akan aku pilih sendiri, jika aku pernah diberi kesempatan untuk berbelanja di Cartier.
"Ini indah," bisikku, dan karena mereka anting-anting kesempatan kedua, aku menyukainya. "Terima kasih."
Dia relaks didekatku saat ketegangan meninggalkan tubuhnya, dan ia mencium bahuku lagi. "Kau mengenakan gaun satin perak?" Tanyanya.
"Ya? Apakah itu bagus?"
"Tentu saja. Aku akan membiarkanmu bersiap-siap "
Dia keluar dari pintu tanpa menengok ke belakang.
.
.
.
Aku membungkuk untuk mengumpulkan syal satin dan dompet clutch perakku, aku pergi mencari Fifty Shades-ku. Dia berbicara dengan Yesung dan tiga pria lainnya di depan ruang masuk, punggungnya di depanku. Ekpresi terkejut dan terpesona mereka menyadarkan Kyuhyun akan kehadiranku.
Dia berputar saat aku berdiri dan menunggu dengan canggung. Astaga! Mulutku kering. Dia terlihat mempesona. Jas hitam, dasi kupu-kupu hitam, dan ekspresi wajahnya saat dia menatapku adalah suatu kekaguman. Dia berjalan ke arahku dan mencium rambutku.
"Sungmin. Kau terlihat mempesona."
Aku memerah atas pujiannya di depan Yesung and para pria lain.
"Segelas sampanye sebelum kita pergi?"
"Please," Bisikku, terlalu cepat.
Kyuhyun mengangguk ke Yesung yang menuju ke serambi dengan tiga orang pengikutnya. Di ruang besar, Kyuhyun mengambil sebotol sampanye dari lemari es.
"Tim Keamanan?" Tanyaku.
"Perlindungan tertutup. Mereka berada di bawah kendali Yesung. Dia terlatih dalam hal itu, juga." Kyuhyun memberiku segelas sampanye.
"Dia sangat serbaguna."
"Ya." Kyuhyun tersenyum. "Kau tampak cantik, Sungmin. Bersulang!" Dia mengangkat gelasnya, dan aku mendentingkannya dengan gelasku. Sampanyenya berwarna mawar pucat. Rasanya segar yang nikmat dan ringan.
"Bagaimana perasaanmu?" Dia bertanya, matanya memanas.
"Baik, terima kasih." Aku tersenyum manis, tak menunjukan apapun, paham benar ia mengacu pada bola perak.
Dia menyeringai ke arahku. "Ini, kau akan membutuhkan ini." Dia memberiku kantong beludru besar yang sedang terletak di meja dapur. "Buka saja," katanya diantara tegukan sampanye.
Penasaran, aku merogoh kantong itu dan mengeluarkan sebuah topeng masquerade perak rumit dengan bulu biru kobalt yang bergumpal membentuk seperti mahkota di atasnya.
"Ini topeng pesta," Ia menyatakan terus terang.
"Aku paham." Topengnya indah. Sebuah pita perak berulir sekitar tepi dan renda halus perak indah yang terukir di sekitar bagian mata.
"Ini akan memamerkan mata indahmu, Sungmin."
Aku nyengir padanya, malu-malu. "Apakah kau akan memakai juga?"
"Tentu saja," tambahnya, mengangkat alis, dan dia menyeringai. Oh. Ini akan menyenangkan. "Ayo. Aku ingin menunjukkan sesuatu." Mengulurkan tangannya, Ia membawaku keluar ke lorong ke pintu samping tangga.
Dia membukanya, menampilkan sebuah ruangan besar kira-kira seukuran dengan playroom, yang pasti berada langsung di atas kami. Kamar yang satu ini diisi dengan buku-buku. Wow, sebuah perpustakaan, setiap dinding penuh dari lantai sampai langit-langit. Di tengah adalah sebuah meja biliar ukuran penuh yang diterangi oleh lampu Tiffany berbentuk prisma segitiga panjang.
"Kau memiliki perpustakaan!" Aku berdecak kagum, kewalahan dengan kegembiraan.
"Ya, ruang permainan bola seperti Donghae menyebutnya. Apartemen ini cukup luas. Aku menyadari hari ini, ketika kau menyebut menjelajahi, bahwa aku tak pernah memberimu tur. Kita tak punya waktu sekarang, tapi aku pikir aku akan menunjukkan ruangan ini, dan mungkin menantangku untuk permainan biliar dalam waktu yang tak terlalu lama."
Aku menyeringai padanya. "Coba saja."
"Apa?" Kyuhyun bertanya, geli. Oh! Aku benar-benar harus berhenti mengekspresikan setiap emosiku begitu aku merasakannya, aku memarahi diriku sendiri.
"Tidak," kataku cepat.
Kyuhyun menyipitkan matanya. "Yah, mungkin Dokter Jung dapat mengungkap rahasiamu. Kau akan bertemu dengannya malam ini."
"Paranormal yang mahal?" Astaga.
"Ya, orang yang sama. Dia ingin sekali bertemu denganmu."
.
.
.
Kyuhyu meraih tanganku dan dengan lembut menggosokkan ibu jarinya di buku-buku jariku saat kami duduk di belakang Audi menuju utara. Aku menggeliat, dan merasakan sensasi di pangkal pahaku. Aku menahan diri untuk mengerang, karena Yesung ada di depan, tidak mengenakan iPod-nya, dengan salah satu dari orang-orang keamanan yang namanya aku pikir adalah Seungri.
Aku mulai merasakan nyeri yang samar nikmat diperutku, yang disebabkan oleh bola-bola itu. Iseng-iseng, aku bertanya-tanya, berapa lama aku bisa bertahan tanpa, um. . . pelepasan? Aku menyilangkan kakiku. Saat aku lakukan itu, sesuatu yang telah mengelitik di belakang pikiranku tiba-tiba muncul.
"Darimana kau mendapatkan lipstick?" aku bertanya pada Kyuhyun dengan pelan.
Dia menyeringai padaku dan menunjuk ke depan. "Yesung," katanya.
Aku langsung tertawa terbahak-bahak. "Oh." Dan berhenti dengan cepat - bola-bola itu. Aku menggigit bibir.
Kyuhyun tersenyum padaku, matanya berkilauan licik. Dia tahu pasti apa yang dia lakukan, si bangsat yang seksi. "Tenang," dia mendesah. "Jika terlalu banyak. . . " Suaranya menghilang, dan ia dengan lembut mencium setiap buku jariku satu per satu, kemudian dengan lembut mengisap ujung jari kelingkingku. Sekarang aku tahu dia melakukan ini dengan sengaja.
Aku menutup mataku saat hasrat gelap terbentang di seluruh tubuhku. Aku menyerah sesaat pada sensasinya, otot-ototku menegang dalam diriku. Oh my. Ketika aku membuka mata lagi, Kyuhyun menatapku tajam, seorang pangeran kegelapan. Itu pasti karena jasnya dan dasi kupu-kupu, tapi dia tampak lebih tua, mutahir, si cabul yang amat tampan dengan niat tak bermoral. Dia membawa nafasku pergi. Aku menjadi budak seksnya, dan jika aku percaya padanya, dia adalah milikku. Pikiran ini membawa senyum ke wajahku, dan seringai jawabannya menyilaukan.
"Jadi apa yang bisa kita harapkan di acara ini?"
"Oh, hal-hal yang biasa," Kyuhyun berkata dengan lembut.
"Tidak biasa bagiku," Aku mengingatkannya.
Kyuhyun tersenyum dengan gairah dan mencium tanganku lagi. "Banyak orang memamerkan uang mereka. Lelang, undian, makan malam, berdansa dan menari — ibuku tahu bagaimana caranya untuk mengadakan pesta." Dia tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya sepanjang hari ini, aku membiarkan diriku merasa sedikit bersemangat tentang pesta ini. Ada antrian mobil mahal menuju jalan masuk sebuah rumah besar berwarna abu-abu. Lentera kertas merah muda pucat dan panjang menggantung sepanjang jalan, dan saat kami lebih dekat, aku bisa melihat mereka di mana-mana. Dalam cahaya sore hari, mereka terlihat magis, seolah-olah kami sedang memasuki kerajaan ajaib.
Aku melirik Kyuhyun. Cocok sekali untuk pangeranku — dan kegembiraan kekanak-kanakanku merekah, menutupi semua perasaan lainnya.
"Pasang topengnya," Kyuhyun nyengir, dan saat dia mengenakan topeng hitam sederhananya, pangeranku berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih sensual.
Semua yang bisa aku lihat di wajahnya adalah mulutnya yang seperti dipahat dan rahangnya yang tajam. Astaga. . . Detak jantungku melompat saat melihat dirinya. Aku mengencangkan topengku dan tersenyum padanya, mengabaikan rasa lapar yang mendalam dalam tubuhku.
Yesung menarik ke jalan masuk, dan seorang valet membuka pintu Kyuhyun. Seungri melompat keluar untuk membuka pintuku.
"Siap?" Kyuhyun bertanya.
"Sepertinya aku siap."
"Kau terlihat cantik, Sungmin." Dia mencium tanganku dan keluar dari mobil.
Sebuah karpet hijau gelap terhampar di sepanjang lintasan menuju ke salah satu sisi rumah, mengarah ke halaman mengesankan di bagian belakang. Kyuhyun melingkarkan lengannya secara protektif ditubuhku, meletakkan tangannya di pinggangku, saat kami mengikuti karpet hijau bersama dengan orang-orang elit Seattle mengenakan riasan terbaik mereka dan mengenakan segala macam topeng dengan lentera menerangi jalan.
Dua orang fotografer mengarahkan tamu-tamu untuk berpose untuk mengambil foto dengan latar belakang rumah tanaman yang ditebari tanaman menjalar.
"Tuan Cho." Salah satu fotografer memanggil.
Kyuhyun mengangguk mengakui dan menarikku dekat saat kami berpose dengan cepat untuk foto. Bagaimana mereka tahu itu dia? Tak diragukan lagi dari rambut tembaga sulit-diatur yang menjadi ciri khasnya.
"2 fotografer?" Aku bertanya pada Christian.
"1 orang dari koran The Seoul Times, 1 orang lagi untuk souvenir. Kita bisa membeli hasilnya nanti." Oh. Fotoku di pers lagi.
Pada akhir barisan, para penyaji berpakaian putih memegang nampan gelas penuh dengan sampanye, dan aku bersyukur ketika Kyuhyun memberiku segelas - efektif mengalihkanku dari pikiran gelapku. Mengambil tanganku, Kyuhyun membawaku diantara patung angsa ke lantai dansa di mana tamu lain berkumpul, mengobrol sambil memegang gelas sampanye.
"Berapa banyak orang yang datang?" Aku bertanya pada Kyuhyun, terkejut oleh besarnya tenda.
"Aku kira sekitar tiga ratus. Kau harus bertanya pada ibuku." Dia tersenyum ke arahku dan mungkin itu karena aku hanya bisa melihat senyum yang mencerahkan wajahnya, namun dewi batinku sudah pingsan.
"Kyuhyun Oppa!" Seorang wanita muda muncul keluar dari kerumunan dan melempar pelukan di lehernya, dan segera aku tahu dia itu Taemin. Dia mengenakan gaun ramping seluruh badan berwarna pink pucat berbahan kain sifon dengan topeng Venetian indah dengan detil halus yang cocok. Dia tampak luar biasa. Dan untuk sejenak, aku tak pernah merasa begitu bersyukur atas gaun yang telah Kyuhyun berikan padaku.
"Sungmin Eonnie! Oh Tuhan. Kau terlihat cantik." Dia memberiku pelukan cepat. "Kau harus datang dan bertemu teman-temanku. Tak satu pun dari mereka percaya bahwa Kyuhyun akhirnya punya pacar."
Aku melirik panik sekilas pada Kyuhyun, yang mengangkat bahu tanda menyerah yang menunjukan aku-tahu-dia-tak masuk akal-aku-harus-hidup-dengan-nya-untuk-bertahun-tahun, dan membiarkan Taemin membawaku ke kelompok empat wanita muda, semua berpakaian rapi yang mahal dan tanpa cela.
Taemin membuat perkenalan singkat. Tiga dari mereka manis dan baik, tapi Seohyun, aku pikir namanya, menilaiku dengan masam dari balik topeng merahnya.
"Tentu saja kami semua berpikir Kyuhyun itu gay," katanya menghina, menyembunyikan kebenciannya dengan senyum lebar palsu.
Taemin cemberut padanya. "Seohyun, jaga sikapmu. Jelas dia memiliki selera yang sangat baik terhadap wanita. Dia sedang menunggu orang yang tepat untuk datang, dan itu bukan dirimu!"
Seohyun memerah sewarna topengnya, seperti halnya aku. Mungkinkah ini bisa lebih tidak nyaman lagi?
"Nona-nona, bisakah aku mengklaim kencanku kembali, please?" Melingkarkan lengannya di pinggangku, Kyuhyun menarikku ke sisinya. Keempat wanita memerah, nyengir dan gelisah, senyum mempesonanya melakukan apa yang selalu terjadi. Taemin melirikku dan memutar matanya, dan aku harus tertawa.
"Senang bertemu denganmu," kataku saat dia menyeretku pergi. "Terima kasih," aku berkata pada Kyuhyun ketika kami telah menjauh.
"Aku lihat Seohyun bersama Taemin. Dia adalah seorang yang jahat."
"Dia menyukaimu," Aku menggerutu datar.
Dia bergidik. "Yah, perasaan itu tidak berbalas. Ayo, aku ingin memperkenalkanmu kepada beberapa orang."
Aku menghabiskan setengah jam kemudian dengan suatu perkenalan memusingkan seperti angin puyuh. Aku bertemu 2 orang aktor, 2 orang CEO lagi, dan beberapa dokter ahli dalam terkenal... Astaga . . . tidak mungkin aku akan mengingat semua nama-nama orang itu. Kyuhyun menjagaku tetap berada dekat di sisinya, dan aku bersyukur.
"Jadi Anda bekerja di SIP?" Tanya seorang pria botak bertopeng setengah beruang atau apakah itu seperti anjing? "Dengar–dengar ada rumor suatu pengambilalihan yang tak berperasaan."
Aku memerah. Memang ada pengambilalihan yang tak berperasaan dari seorang pria yang memiliki lebih banyak uang daripada akal sehat dan merupakan penguntit tingkat unggul.
"Aku hanya seorang asisten rendahan. Aku tak tahu tentang hal –hal ini."
Kyuhyun tak berkata apapun dan tersenyum hambar kepada pria itu.
"Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya!" Pembawa acara, memakai sebuah topeng harlequin hitam dan putih yang keren, menyela kami. "Silakan ambil kursi anda. Makan Malam telah terhidang."
Kyuhyun meraih tanganku, kami mengikuti kerumunan orang yang mengobrol ke arah tenda besar.
Kyuhyun menanyakan penempatan tempat duduk dan membawaku ke sebuah meja di tengah. Taemin dan Heechul sudah ada di situ, tenggelam dalam percakapan dengan seorang pria muda yang aku tak tahu.
"Sungmin, menyenangkan bisa melihatmu lagi! Dan juga terlihat begitu cantik."
"Eomma," Kyuhyun menyapa dengan kaku dan mencium kedua pipinya.
"Oh, Kyuhyun, sangat formal!" Dia menegurnya sambil menggoda. Orang tua Heechul, Kakek dan Nenek Kyuhyun, bergabung di meja kami. Mereka tampak riang dan muda, meskipun sulit dikatakan dibawah topeng perunggu mereka yang seragam. Mereka gembira bisa melihat Kyuhyun.
"Halmeoni, Harabeoji, bolehkan aku memperkenalkan Lee Sungmin?"
Nenek Kyuhyun langsung mendatangiku. "Oh, akhirnya dia menemukan seseorang, sangat bagus dan cantik sekali! Yah, aku harap kau membuatnya menjadi seorang 'pria jujur'." Semburnya, menjabat tanganku. Astaga. Aku berterima kasih kepada langit untuk topengku.
"Eomma, jangan membuat Sungmin malu." Heechul datang menyelamatkanku.
"Abaikan orang tua bodoh konyol itu, sayangku." Kakek Kyuhyun menjabat tanganku. "Dia pikir karena dia sudah tua, dia memiliki hak yang diberikan Tuhan untuk mengatakan apapun omong kosong yang muncul dalam kepalanya."
"Eonnie, ini teman kencanku, Minho." Taemin dengan malu memperkenalkan pria mudanya. Dia memberiku senyuman nakal dan mata cokelatnya menari geli ketika kami berjabat tangan. "Senang bertemu denganmu, Minho."
Kyuhyun menjabat tangan Minho saat dia menilainya dengan tajam. Jangan katakan bahwa Taemin menderita karena saudaranya suka menguasai juga. Aku tersenyum simpati pada Taemin. Teman Heechul adalah pasangan terakhir di meja kami, tapi belum ada tanda kehadiran Ayah Kyuhyun.
Tiba-tiba, ada desisan mikrofon, dan suara Hangeng membahana karena sistem pengeras suara, menyebabkan celoteh suara mereda. Hangeng berdiri di panggung kecil di salah satu ujung tenda, mengenakan topeng Punchinello emas yang mengesankan.
"Selamat datang, nyonya-nyonya dan tuan-tuan, untuk pesta amal tahunan kami. Saya berharap bahwa Anda menikmati apa yang kami telah persiapkan untuk Anda malam ini dan Anda akan merogoh kocek Anda untuk mendukung pekerjaan fantastis yang tim kami lakukan dengan 'Mengatasi Bersam', seperti yang Anda tahu, ini tercetus oleh ide awal yang sangat dekat di hati istri saya, dan saya sendiri."
Aku melirik gugup ke Kyuhyun, yang menatap tanpa ekspresi, aku pikir, kearah panggung. Dia melirik padaku dan menyeringai.
"Aku akan menyerahkan acara sekarang pada pembawa acara kita. Silakan duduk, dan menikmati acara," Hangeng menyelesaikan. Tepuk tangan sopan mengikuti, kemudian obrolan di tenda dimulai lagi.
Aku duduk antara Kyuhyun dan kakeknya. Aku sedang mengagumi tempat kartu kecil putih dengan kaligrafi perak halus yang tertulis namaku saat pelayan menyalakan lilin dengan pemantik panjang lancip.
Hangeng bergabung dengan kami, mencium kedua pipiku, mengejutkanku. "Senang bertemu denganmu lagi, Sungmin," gumamnya. Dia benar-benar terlihat sangat mencolok dalam topeng emas yang luar biasa.
"Ladies and gentlemen, silakan mencalonkan pimpinan meja," panggil Pembawa Acara.
"Oh aku, aku!" Kata Taemin segera, meloncat antusias di kursinya.
"Di tengah meja Anda akan menemukan sebuah amplop," lanjut Pembawa Acara. "Semua orang menemukan, mengemis, meminjam, atau mencuri tagihan dengan nominal tertinggi yang anda dapat kelola, menulis nama Anda di atasnya, dan ditempatkan dalam amplop. Pimpinan meja, silahkan dijaga dengan hati-hati amplop tersebut. Kita akan membutuhkannya nanti."
Astaga. Aku tidak membawa uang. Betapa bodohnya, ini kan acara amal!
Mengeluarkan dompetnya, Kyuhyun mengeluarkan dua ratus ribu won. "Ini," katanya.
Apa? "Aku akan membayarmu kembali," bisikku.
Mulutnya berputar sedikit, dan aku tahu dia tidak senang, tapi ia tak berkomentar. Aku menulis namaku menggunakan penanya dan Taemin mengambil semua amplop. Di depanku aku menemukan lagi kartu dengan tulisan kaligrafi perak, menu kami.
Pelayan kami kembali, menawarkan anggur dan air.
Dengan perintah hening, mereka menyajikan kami dengan makanan pembuka dengan penuh serempak, lalu menghilang lagi. Ikan salmon kelihatannya lezat, dan aku menyadari bahwa aku lapar.
"Lapar?" Kyuhyun berbisik sehingga hanya aku yang bisa mendengar.
Aku tahu maksudnya bukan makanan, dan otot didalam perutku langsung merespon.
"Sangat," bisikku, dengan berani bertemu matanya, dan bibir Kyuhyun terbuka saat dia menarik napas.
Ha! Lihat . . . dua orang bisa bermain dalam permainan ini.
Kakek Kyuhyun langsung mengajakku mengobrol.
.
.
.
Sepanjang makan malam barisan pria dengan jaket makan malam yang pantas dan topeng gelap berhenti di meja kami, ingin bertemu dengan Kyuhyun, menjabat tangannya, dan berbasa-basi. Dia memperkenalkanku ke beberapa orang tapi tidak pada yang lain. Aku penasaran mengetahui mengapa bisa terjadi perbedaan. Di saat salah satu percakapan tersebut, Taemin bersandar di dekatku dan tersenyum.
"Eonnie, maukah kau membantu dalam lelang?"
"Tentu saja," aku merespon, terlalu bersedia.
Ketika makanan penutup disajikan, malam sudah turun dan aku merasa benar-benar tak nyaman. Aku perlu menyingkirkan bola-bola ini. Sebelum aku sempat permisi, pembawa acara muncul di meja kami.
Pembawa Acara meminta amplop kami dan dengan sangat terlatih dan fasih, meminta Heechul untuk menarik keluar uang pemenang. Itu punya Minho, dan keranjang terbungkus sutra diberikan kepadanya. Aku bertepuk tangan dengan sopan, tapi aku menyadari tak mungkin untuk berkonsentrasi lagi.
"Permisi," bisikku ke Kyuhyun. Dia menatapku tajam.
"Apakah kau perlu ke restroom?"
Aku mengangguk.
"Aku akan mengantarmu," katanya.
Ketika aku berdiri, semua pria-pria lain disekeliling meja juga berdiri bersamaku. Oh, sopan sekali.
"Jangan, Kyuhyun! Kau tidak akan mengantar Sungmin Eonnie. Aku saja." Taemin sudah berdiri sebelum Kyuhyun bisa protes. Rahangnya menegang, aku tahu dia tak senang. Sejujurnya aku juga, aku juga memiliki. . . kebutuhan. Aku mengangkat bahu meminta maaf padanya, dan ia duduk dengan cepat, mengundurkan diri.
Saat kami kembali, aku merasa sedikit lebih baik, meskipun kelegaan menghilangkan bola belum seketika seperti yang aku harapkan. Mereka sekarang tersimpan dengan aman didompetku. Mengapa aku pikir aku bisa bertahan semalaman?
Aku masih berhasrat - mungkin aku bisa membujuk Kyuhyun untuk membawaku ke rumah perahu nanti. Aku memerah dengan pikiran itu dan melirik padanya saat aku mengambil kursiku. Dia menatapku, bayangan senyuman melintasi bibirnya. Kyuhyun meremas tanganku, dan kami berdua mendengarkan Hangeng dengan penuh perhatian, yang kembali keatas panggung membicarakan tentang "Mengatasi Bersama".
Kyuhyun memberiku kartu lain — sebuah daftar barang berharga untuk lelang.
Ya Ampun. Aku berkedip ke Kyuhyun.
"Kau punya properti di Aspen?" Desisku.
Lelang sedang berlangsung, dan aku harus menjaga suaraku tetap rendah. Dia mengangguk, terkejut dengan celetukanku dan jengkel, kurasa. Dia meletakkan jarinya dibibirku untuk menyuruhku diam.
"Apakah kau punya properti di tempat lain?" Bisikku.
Dia mengangguk lagi dan mencondongkan kepalanya ke satu sisi sebagai suatu peringatan. Seluruh ruangan meledak dengan sorakan dan tepuk tangan, salah satu dari hadiah terjual seharga 12 juta won.
"Aku akan memberitahumu nanti," Kyuhyun berkata pelan. "Aku ingin pergi bersamamu," dia menambahkan dengan sedikit mendongkol.
Yah, kau belum melakukannya. Aku merengut dan menyadari bahwa aku masih bersungut-sungut, dan tak heran, ini adalah efek yang membuat frustasi dari bola-bola itu. Suasana hatiku semakin gelap melihat Elena masuk dalam daftar donor yang dermawan. Aku melihat sekilas sekitar tenda untuk melihat apakah aku bisa menemukannya, tapi aku tak bisa melihat rambut yang menunjukan dirinya.
Tentunya Kyuhyun akan memperingatkanku jika dia diundang malam ini. Aku duduk dan membiarkannya saja, bertepuk tangan ketika diperlukan, saat setiap barang terjual dengan sejumlah uang yang menakjubkan. Penawaran pindah ke tempat Kyuhyun di Aspen dan mencapai 25 juta won.
"Satu kali, Dua Kali," Pembawa Acara memanggil.
Dan aku tak tahu apa yang merasukiku, tapi tiba-tiba aku mendengar suaraku sendiri melengking dengan jelas diantara kerumunan orang.
"30 juta won!"
Setiap orang yang memakai topeng di meja berputar kearahku dengan terkejut penuh kekagumaan, reaksi paling besar dari semuanya adalah yang datang dari sebelahku.
Aku mendengar tarikan napas tajam dan merasakan kemurkaannya membasahiku seperti gelombang pasang.
"30 juta won, untuk wanita cantik berpakaian warna perak, satu kali, dua kali . . . Terjual!"
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
