.

Chapter 37 – See You Again

It's been a long day without you

And i'll tell you all about it

When i see you again

.


Yohime memegangi kedua tangan Ji Min, meminta Ji Min menyampaikan pesannya pada Yona dan Haku "sampaikan pada Haku, jangan luput melihat apa yang berharga bagimu dengan apa yang kau inginkan, jangan sampai kebencian yang terlahir dari kesedihan dan amarahmu malah membuatmu kehilangan apa yang berharga bagimu... sampaikan pada Yona, tolong jaga Sakuya, anak itu adalah belahan jiwa ragaku dan Hakuya, dia pasti akan menolongmu jika kau kehilangan harapan... sampaikan pada Haku dan Yona, selama Sakuya berada di sisi kalian maka selama itu pula kami bedua ada di sisi kalian".

.

"saat aku membuka mataku, Sakuya-Hime yang tertidur di sampingku sudah menghilang" ujar Ji Min memberitahu bahwa ia dan Ji An berpencar mencari Sakuya.

Belum ada kabar dari Ji An sampai sekarang dan saat ia mendengar ada keributan di wilayah suku air tentang isu orang-orang yang menghilang atau diculik. Dengan harapan kalau ia bisa menemukan Sakuya, ia pergi ke Touchi dan disana ia malah menemukan Haku dan yang lain tapi ia merasa heran karena ia tak melihat Yona di antara mereka sehingga ia membuntuti Haku dan yang lain untuk sementara waktu.

"aku tahu permintaan maaf seperti apapun takkan bisa menebus kesalahanku, tapi maafkan aku atas keteledoranku... jika terjadi sesuatu pada Sakuya-Hime...".

Yona dan Haku meminta Ji Min untuk berhenti menyalahkan dirinya, tapi sekarang apa yang harus mereka lakukan? Mereka bahkan tak tahu apa yang terjadi pada Sakuya. Yang mereka tahu hanyalah, dalam satu malam setelah mereka meninggalkan Sakuya bersama Ji Min di kuil, Sakuya menghilang.

"ini bisa jadi penculikan, seseorang pasti telah membawanya tanpa sepengetahuan Ji Min pada saat kau tertidur, tapi masalahnya... kita semua tahu kalau Sakuya memang anak ajaib, tapi kau tak mungkin bilang kalau bayi itu pergi keluar sendiri, kan?".

Meski keduanya tak mengatakan apapun, yang lain tahu apa yang terjadi malam itu, saat Yona bicara dengan Haku sebelum tidur.

Yona sempat menangis saat memeluk Haku, merasa sangat bersalah karena telah meninggalkan Sakuya dan tak tahu apa yang harus ia lakukan jika terjadi sesuatu pada Sakuya "apa yang harus kita lakukan, Haku? jika terjadi sesuatu pada Sakuya, apa yang harus kukatakan pada kak Yohime?".

Haku menepuk punggung Yona, berusaha menenangkannya "kita pasti bisa menemukannya... pasti".


"sampai kapan... sampai sejauh mana baru kau puas menghantuiku, Yohime?".

"apa? sejak awal, ini semua karena salahmu sendiri... kau tak bisa menyalahkanku, Hakuya dan adik-adik kami atas reaksi kami padamu setelah apa yang kau lakukan dan perlu kau tahu, ini peringatan terakhirku... jika kau tak menetapkan hatimu atau tak bertanggung jawab atas apa yang terjadi sebagaimana seharusnya, maka kau benar-benar akan kehilangan apa yang berharga bagimu" ujar Yohime menunjuk ke belakang Soo Won "dan jika apa yang kau lihat benar-benar terjadi, kali ini kau benar-benar akan ditinggalkan sendirian...".

Ketika Soo Won menoleh ke belakang, ia terkejut melihat Yona menangis, ia berlari menuju ke arah Haku yang jatuh ke tanah setelah pedang menembus jantungnya. Saat Yona menangis sambil memeluk Haku yang berlumuran darah, Soo Won menghampirinya dan terbelalak saat melihat pedangnya menancap di tubuh Haku. Soo Won menatap kedua telapak tangannya yang berlumuran darah, tubuhnya mulai bergetar.

"apa? puas kau sekarang? belum cukup kau ambil kedua kakak kami, sekarang kau ambil Haku dariku? apapun yang kau lakukan setelah ini meski kau berusaha menebusnya... itu takkan bisa menghilangkan perasaan bersalah dan darah yang melekat di tanganmu... pembunuh...".

Saat Soo Won mundur beberapa langkah, tubuh Haku menghilang. Saat Yona yang mencarinya berhasil menemukannya, Yona mengulurkan kedua tangannya sambil mendongak ke atas. Soo Won melihat tubuh Haku yang tak sadarkan diri jatuh dari atas langit perlahan berubah menjadi pedang. Soo Won berusaha menghampiri Yona dan memperingatinya namun Yona menutup kedua matanya saat memeluk Haku yang jatuh dari atas, setelah tubuh Haku berubah menjadi pedang, Yona tertusuk pedang tepat di jantungnya. Melihat tubuh Yona yang tergeletak dengan darah mengucur dari luka vital yang merenggut nyawanya, Soo Won terduduk lemas, menutup kedua matanya dan menangis.

Kali ini ia terbangun dari mimpi buruknya, mimpi buruk yang entah keberapa kalinya ia alami pasca kematian Yohime dan Hakuya "apa maksud mimpi barusan? apa yang ingin kau beritahu padaku, Yohime?".


Belum selesai masalah mereka soal Sakuya, saat menyusuri perbatasan dimana mereka berada di wilayah suku angin dekat perbatasan dengan kerajaan Xing, Yona dan yang lain bertemu dengan sekelompok orang yang mencurigakan, mereka menutupi wajah mereka dengan kain hitam. Saat Yona dkk bersiap bertempur melawan mereka yang mengaku berasal dari kerajaan Xing, ternyata mereka malah menyerah setelah seorang pria yang auranya berbeda dari yang lain menampakkan dirinya.

Setelah pria yang nampaknya memang pemimpin mereka memperkenalkan diri sebagai salah satu dari pengawal Hime-sama kedua kerajaan Xing, Tao Hime, Vold menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan mereka kemari mencari Yona dkk.

Tentu saja Kija yang paling pertama menyuarakan pendapatnya, mereka menolak permintaan Vold untuk menemui Tao Hime namun setelah Vold meyakinkan mereka bahwa mereka tidak memiliki waktu yang banyak dan ini demi kedua kerajaan, akhirnya Yona meminta yang lain untuk mendengarkan apa yang diinginkan Tao Hime lebih dahulu.


SanSan...

Vold meminta mereka untuk bersikap alami dan tak celingak-celinguk mengingat masih tak aman bagi mereka jika identitas mereka sebagai warga kerajaan Kouka meski Sansan hanya kota kecil.

"kalau begitu, jangan bawa kami kemari sejak awal" gerutu Yun.

"yah, sebab di antara kita, hanya kita berdua yang normal dan bisa membaur..." gumam Ji Min menatap Yona, Haku dan ke-4 ksatria naga dengan tatapan simpati.

"yah, benar, mereka terlalu mencolok hanya dengan hidup" angguk Yun.

Di tengah jalan, mereka berhenti saat melihat pertunjukan teater dimana pertarungan di benteng Kushibi menjadi jalan cerita utamanya. Sempat terjadi keributan karena salah satu warga ingin membanting kucing di tangannya namun seorang pria berambut pirang cepak yang dikepang ujung rambutnya menendang wajah pria itu dan menyelamatkan kucing yang hampir dibanting itu.

"apa yang kau lakukan disini, Idiot-Gira? Bukankah kau kuminta menjaga Tao Hime selama aku pergi ke kerajaan Kouka, tapi kenapa kau malah membuat keributan selagi aku tak ada?" protes Vold setelah memperkenalkan Algira.

"aku baru saja turun ke kota karena Tao Hime memintaku mencari dokter untuk Bi, Voldopus, tapi di tengah jalan ada bajingan yang ingin melempar anak kucing yang manis itu jadi wajar jika aku menendangnya, kan?".

Vold mengerutkan kening mendengar ucapan Algira "kenapa lagi dengan Bi?".

"ada yang memerlukan dokter?" ujar Ji Min memotong pembicaraan mereka berdua sebelum ia mengangkat tangan "aku dokter".

Yun mengangkat tangan "dan aku dokter kecil, muridnya".

"baguslah, kalau begitu tunggu apalagi? akan kami jelaskan nanti, tapi sebelumnya bisa tolong periksa Bi dulu?" ujar Algira meminta Yona dkk mengikuti mereka ke tempat persembunyian Tao Hime, villa rahasianya di lembah Touchi.


Lembah Touchi...

Di tengah perjalanan menuju kediaman rahasia milik Tao, Algira memberitahu bahwa Bi tiba-tiba muntah saat ia dan Tao Hime sedang bermain bersama para kucing, karena itu ia diminta Tao Hime untuk segera mencari dokter ke kota terdekat.

"ah, Algira!? Vold?! Kalian sudah kembali!?".

"saya dokternya, dimana pasiennya?".

"sebelumnya, sebenarnya siapa Bi?" tanya Yun.

Vold menjelaskan bahwa di antara budak yang diculik ke Sei, salah satunya adalah dayang Tao Hime yang diselamatkan oleh Kija. Setelah Tao berterima kasih pada Kija dan yang lain, Tao memberitahu insiden yang terjadi di perbatasan sebelum Vold pergi dan akhirnya menemukan Yona dkk. Saat ia, Vold dan Algira menelusuri perbatasan, mereka menemukan salah seorang dayang Tao yang berhasil melarikan diri dari benteng tengah dikejar prajurit Sei sehingga Tao meminta Vold dan Algira menolongnya.

Setelah berhasil menyelamatkan dayang itu, mereka menemukan dayang itu membawa bayi perempuan. Mereka sempat mengira bayi itu anaknya tapi ternyata dayang itu juga hanya menemukan bayi tersebut di tangan para penculik. Para penculik itu adalah bawahan prajurit kerajaan Sei dan pengedar Nadai alias pesuruh yang diminta menyediakan budak untuk untuk membangun benteng Sei.

Para penculik itu berniat menjual bayi perempuan itu pada Kushibi atau Hotsuma karena bayi itu cantik sekali, pasti bisa dijual dengan harga mahal. Setelah mengambil bayi itu dari tangan penculik yang berniat menjual bayi itu dan kabur dari benteng di tengah keributan yang dibuat oleh Kija, Shina, Hak dan Yun bersama Soo Won dan bawahannya, ternyata ia malah ketahuan dan saat ia hampir dibawa kembali ke benteng, Tao dan kedua pengawalnya menemukannya. Tao merasa tak bisa meninggalkan bayi itu, sehingga ia mengasuhnya sementara Vold mencari orang tua bayi itu. Mereka memberi nama bayi itu Bi yang berasal dari kata kecantikan, sesuai dengan kecantikan yang dimiliki bayi itu.

"masih belum ada kabar tentang orang tua bayi itu?".

Vold menggelengkan kepala dan meminta maaf. Selagi Ji Min pergi memeriksa Bi, Tao segera menyampaikan maksud dan tujuannya mencari dan menghubungi ke-4 ksatria naga yang ikut bertempur di benteng Sei. Setelah Tao memberitahu bagaimana kondisi kerajaan Xing saat ini, Haku menyangkal saat Tao mengira mereka bekerja sama atau bahkan bekerja untuk Soo Won dan saat Tao bertanya apa mereka mengenal Soo Won secara pribadi, Haku tetap menyangkal dan selama itu pula, Yona tetap diam. Saat Algira memotong pembicaraan, Tao tersenyum dan meminta para dayang menyiapkan makanan untuk menjamu para tamunya.

Tiba-tiba, Ji Min muncul sambil membawa sesuatu yang diselimuti kain putih di tangannya dan berlari menghampiri mereka "YONA?! HAKU?!".

Yona merasa heran karena Ji Min terburu-buru begitu "kenapa, Ji Min?".

Setelah mengatur napasnya, dengan mata berkaca-kaca, Ji Min tersenyum lebar saat menyeka air matanya sebelum menyingkap kain putih yang menyelimuti sesuatu yang ia bawa "aku tak percaya ini...".

Saat kain itu disingkap, bayi berambut lurus sebahu berwarna pink keunguan bunga Sakura itu menoleh ke arah Yona dan Haku, bola mata berbentuk mata kucing yang beda warna dimana mata kirinya memiliki warna biru langit (Azure Sky) dan mata kanannya memiliki warna hijau Jade itu tak mungkin bisa salah dikenali. Air mata mengalir dari kedua mata heterochroma itu yang kini menatap lekat Yona dan Haku. Sosoknya masih sama seperti saat terakhir kali mereka meninggalkannya, tubuhnya seperti sudah berusia 8 bulan meski usianya baru 3 bulan

Sambil menangis, Sakuya mengulurkan tangannya "mama... papa...".

"SAKUYA?!", Yona menutup mulutnya dan menangis sebelum Ji Min menyerahkan Sakuya ke tangannya, tak lagi memedulikan air matanya yang menetes saat ia memeluk erat Sakuya dan mengecup keningnya "syukurlah...".

Melihat Yona menangis sambil memeluk Sakuya yang menangis lebih dulu, Haku memeluk Yona dan mengecup kening Sakuya "kau membuat kami cemas... kami pulang...".

"tak sepertimu yang biasanya, menangis di hadapan orang lain...", Jae Ha menyodorkan sapu tangan pada Ji Min dan tersenyum "tapi syukurlah, aku senang... akhirnya kau tersenyum lagi, entah kau sadar atau tidak, kau sama sekali tak tersenyum sejak setelah kita bertemu lagi dan memberitahu Sakuya hilang, aku mengerti itu karena kau merasa bersalah tapi...".

Ucapan Jae Ha terhenti karena Ji Min mencium pipinya, saat Jae Ha membeku sambil menatap Ji Min dengan mata terbelalak karena terlalu terkejut dan tak percaya atas apa yang baru saja terjadi, Ji Min tertawa melihat reaksi Jae Ha.

Ji Min tersenyum lebar setelah menyeka air matanya dengan sapu tangan milik Jae Ha yang ia ambil dari tangan Jae Ha barusan "aku senang sekali, wajar saja jika aku menangis dan... terima kasih, karena kau selalu memperhatikan kami, Jae Ha".

Wajah Ji Min yang tersenyum dengan sangat indah dan tulus padanya membuatnya merasa Ji Min begitu manis, sehingga Jae Ha memeluk Ji Min erat sambil tertawa "kau sadar tidak, apa yang kau lakukan barusan?".

Ji Min tertawa saat menempelkan dahinya pada Jae Ha "kau tak suka karena aku lebih tua?".

Jae Ha tersipu dan mengaduh dahi sambil memegang wajah Ji Min "sudah kubilang, aku tak peduli meski kau setahun lebih tua dariku atau janda beranak lima, kan? meski mereka hanya anak-anak asuhmu...".

Ji Min terkekeh "rupanya kau memang lemah kalau diserang duluan, ya?".

Jae Ha menyeringai dan memegang wajah Ji Min "oh? mau lihat apa jadinya jika kau berani menggoda yang lebih muda darimu?".

"pasangan kasmaran disitu, kalau mau mesra-mesraan, di tempat lain sana!? Lupa masih ada anak di bawah umur?!" pekik Yun menunjuk ke arah Yona yang menutupi mata Sakuya dan Haku yang menutupi mata Yona.

"akhirnya, ibu asuh kita mengakui perasaannya~" goda Haku.

"eh?! sejak kapan?! Haku, kenapa mataku ditutup juga?! aku penasaran?!" protes Yona.

.

Singkat cerita (selagi mereka menunggu hidangan makan malam disuguhkan), setelah mereka mengetahui para prajurit Sei menculik dan berniat menjual Sakuya pada Kushibi atau Hotsuma, Haku menghunuskan mata tombak Tsu Quan Dao "akan kubunuh mereka...".

Kija terkekeh dan bersiap mengeluarkan cakarnya "biar kubantu dengan senang hati".

Sambil menggendong Sakuya di tangan kirinya, Yona menahan Haku dengan tangan kanannya "Haku, sudahlah?! Yang penting Sakuya selamat?! Kija juga, tenanglah?!".

Sakuya menggenggam jubah Haku dari belakang, mengulurkan tangannya dan menatap Haku dengan sorot mata memelas saat Haku menoleh ke arahnya "papa...".

Isyarat yang biasa dilakukan Sakuya tiap kali ia ingin digendong sehingga Haku mengambilnya dari tangan Yona yang menyerahkan Sakuya, tersenyum puas sambil menahan tawa.

"iya, iya... kau ini sama saja dengan ibumu, terlalu baik...", Haku menghela napas, menepuk- punggung Sakuya yang tersenyum lebar saat Haku menggendongnya sebelum menyentil pelan hidung Sakuya "tapi jika kau kenapa-kenapa, kau pikir bagaimana perasaan kami?".

Saat Sakuya tertawa sambil mengayunkan jari telunjuk Haku yang ia genggam erat, Yona tak bisa menahan senyum lebarnya melihat Haku tersenyum saat mengacak-acak rambut Sakuya, ia menggunakan kesempatan ini untuk menggoda Haku sehingga Yona menutup mulut sambil menahan tawa "overprotektif...".

"oh? tapi kau dan Sakuya sama-sama sulit dijaga, tahu?", Haku menyeringai saat Yona berbalik menatapnya sambil menggembungkan pipinya.

Sambil menggendong Sakuya dengan satu tangan, Haku menangkis tinju mungil yang Yona lancarkan padanya bertubi-tubi. Ji Min yang te

"tapi mengejutkan, jika ini disebut kebetulan..." gumam Vold, ia masih tak percaya kalau Haku dan Yona yang ia temuui di Kouka ternyata adalah orang tua Sakuya.

"begitu? kurasa ini yang namanya takdir" ujar Algira menatap Yona, Haku dan Sakuya dengan sorot mata terharu.

"tapi aku terkejut, tak kusangka Bi... maksudku, Sakuya adalah anak kalian berdua... maksudku kalian berdua masih sangat muda tapi ternyata kalian sudah menikah dan memiliki anak yang sangat manis sepertinya" ujar Tao yang detik berikutnya merasa heran, entah kenapa tiba-tiba udara di sekeliling Yona dan Haku terasa lebih berat.

Ji Min yang duduk di pangkuan Jae Ha menyadarinya juga sehingga ia segera mengalihkan pembicaraan "Haku, Yona, kenapa tak kalian ajak saja Sakuya jalan ke sekitar sini?".

Yona tersenyum dan memeluk Ji Min "terima kasih, ibu asuh".

Ji Min tertawa dan menepuk-nepuk punggung Yona "wah, sudah lama kau tak memanggilku begitu".

Haku mengangkat bahu dan terkekeh "yah, mengingat kaulah yang membantu mengasuh kami sejak kecil sebagai pengganti ibu kami jadi tak salah jika kau kami sebut ibu asuh kami...".

"aku tak keberatan jika kau memelukku dan memanggilku ibu juga, Haku~", Ji Min tersenyum lebar dan merentangkan kedua tangannya seolah ingin berkata 'ayo, datanglah ke pelukanku'.

"yang benar saja?! memangnya usiaku sudah berapa tahun?" pekik Haku.

Ji Min terkekeh dan mengelus-elus kepala Haku "sampai kapanpun kalian akan tetap kuanggap sebagai anak-anakku~".

"tolong berhentilah memperlakukanku sebagai anak kecil" gerutu Haku dengan wajah tersipu.

Begitu Haku dan Yona menjauh untuk membawa Sakuya jalan-jalan di sekitar lembah, Ji Min menjelaskan pada Tao, Vold dan Algira mengenai Haku dan Yona yang merupakan paman dan bibi Sakuya, yang mengangkat Sakuya, keponakan mereka sebagai anak mereka karena ayah kandung dan ibu kandung Sakuya adalah kakak kembar mereka berdua yang meninggal baru-baru ini. Tao sempat merasa tak enak namun Ji Min meyakinkan bahwa tak masalah karena bagi Yona dan Haku, masih ada Sakuya yang menjadi pelipur luka mereka.