Disclaimer: Kuroko no Basuke bukanlah milikku, tapi milik dari Fujimaki Tadatoshi
Warning: AU, Slash, OOC, OC, typo, etc
Rating: M
Pairing: Akakuro, etc
Genre: Adventure, supernatural
THE EMPEROR
By
Sky
Akashi Manor, Tokyo- Jepang
"Meskipun kau telah kembali pada kami, tapi sayangnya posisimu sebagai seorang hunter sudah tidak bisa diselamatkan lagi, Akashi. Kau dipersalahkan atas hancurnya kota Tokyo yang dilakukan oleh penyerangan pasukan Orc. Para tetua mengatakan kalau tanggung jawab yang besar tidak sesuai denganmu, oleh karena itu mereka mencabut izinmu untuk menjadi seorang hunter di sini, nodayo."
Sambutan yang indah namun memuakkan pada saat yang sama adalah kali pertama Seijuurou dengar saat ia tengah menikmati sarapan di ruang makan. Dirinya yang merupakan pewaris keluarga Akashi dan juga pemimpin dari Kiseki no Sedai pun mengambil posisi di tempat sang kepala keluarga, dengan Tetsuya yang duduk di sebelah kanannya dan Midorima menempati posisi di sebelah kirinya di meja makan yang panjang tersebut. Dari sudut matanya ia bisa melihat Takao Kazunari mengambil tempat duduk di samping Midorima dan Momoi Satsuki berada di samping Takao, sementara di samping Tetsuya telah ditempati oleh Kise dan Aomine yang ada di sebelah pemuda berambut pirang keemasan itu serta Murasakibara di samping Aomine.
Hari itu adalah hari kedua setelah Seijuurou kembali ke Tokyo dan juga kali pertama mereka semua bisa duduk secara berdampingan seperti ini dengan hidangan lezat yang terhidang di depan mereka. Hari pertama setelah Seijuurou kembali, sang tuan muda Akashi tersebut lebih memilih untuk mengurung dirinya di dalam kamar bersama sang tunangan, dan barulah pada hari yang kedua ia pun menunjukkan dirinya di hadapan Kiseki no Sedai. Sepertinya kehadiran pemuda berambut merah itu tidak lagi membuat yang lain terkejut, bahkan cenderung santai seolah-olah mereka semua sudah bisa melihat kalau Seijuurou telah kembali dan prioritas utamanya pada saat itu adalah sang tunangan.
Namun, momen diam yang mereka ciptakan pun tidak bisa bertahan lama ketika berita terbaru dari markas utama pun mulai menyebar dengan cepatnya, sampai berita itu sampai pada telinga mereka. Sebuah kabar yang tentunya menimbulkan dua reaksi berbeda dari seluruh hunter yang ada di Jepang, dan kabar mengenai para tetua telah menetapkan kalau Akashi Seijuurou bukan lagi seorang hunter telah menyebar luas dalam hitungan menit.
"Para tetua itu bodoh, mereka hanya bisa melihat kesalahan seseorang meskipun itu sangat kecil. Penyerangan yang dilakukan oleh Black Lily bukanlah kesalah Akashi-kun, tapi tetap saja mereka memperlakukan Akashi-kun seperti ia adalah stigma yang menjadi penyebabnya," kata Momoi, satu-satunya perempuan yang berada di dalam grup tersebut.
"Cih... tua bangka yang bau tanah itu memang merepotkan saja," umpat Aomine yang terlihat tidak peduli akan berita yang tersebar di seluruh penjuru Jepang tersebut, bahkan ia sendiri bisa dengan santai memakan sarapannya tanpa ada gangguan meski teman-temannya yang lain tengah mendiskusikan hal yang menurutnya itu sangat tidak berguna.
Meski pendapat Aomine itu terdengar sangat kasar, mayoritas dari mereka yang berada di dalam ruangan tersebut menganggukkan kepala, setuju akan pendapat tersebut akan para tetua yang telah menduduki kursi dewan.
"Meskipun begitu, rasanya aku masih tidak terima akan perlakuan para hunter yang lain kepada Akashicchi. Mereka menganggap Akashicchi adalah penyebab pasukan Orc yang dipimpin oleh Black Lily menyerang serta menghancurkan Tokyo hanya karena Tokyo adalah tanggung jawab Akashicchi seorang, tapi apa mereka lupa kalau melindungi umat manusia yang ada di sini adalah tanggung jawab kita serta para hunter yang lainnya?!" Ujar Kise yang tidak kalah murkanya seperti Midorima dan Aomine. Meskipun ekspresi pemuda itu terlihat begitu serius, tapi genggaman tangannya yang begitu erat pada sendok serta garpu yang ia pegang sudah mampu menunjukkan kalau Kise juga tengah menahan amarahnya.
"Dengan kata lain mereka menyalahkan kita juga," gumam Murasakibara di tengah-tengah kegiatannya memakan telur goreng.
Semua yang terjadi pada mereka bisa dikatakan sebagai tindakan yang tidak adil, kecaman dalam artian buruk juga telah menyertai mereka karena tindakan mereka dalam mencegah terjadinya perang gagal. Namun, yang harus ditandabawahi di sini adalah perang yang terjadi bukan hanya antara para hunter dengan para Orc saja, namun juga dengan makhluk Celestial yang berhasil dipanggil oleh Haizaki. Perang dua tahun yang lalu sudah bisa dikatakan sangat buruk, dan melibatkan makhluk Celestial seperti perang sekarang ini artinya pun sudah lebih dari buruk.
Midorima Shintarou yang sedari tadi melihat interaksi dari kawan-kawannya itu hanya bisa mengawasi dalam diam, bahkan saat ia melirik ke arah Seijuurou yang merupakan target utama dalam pembicaraan ini pun ia hanya mendapati pemuda yang bersangkutan dengan tenangnya tengah menyantap sarapannya, kelihatannya pemuda berambut merah tersebut menghiraukan semua yang terjadi di sekitarnya. Beranjak dari sosok Seijuurou, Midorima pun melihat ke arah Tetsuya yang juga sama tenangnya dengan Seijuurou, namun beberapa kali ia juga sempat melihat kalau sang pemegang kristal Gem itu mengikut alur pembicaraan yang mereka semua miliki dan terlihat begitu khawatir.
Satu kalimat yang bisa melukiskan perasaan Midorima saat ini, ia tidak menyukai situasi pelik yang tengah melanda mereka semua. Karena Seijuurou adalah pemimpin dari Kiseki no Sedai maka secara tidak langsung pun semua orang juga menyalahkan mereka, ketidakbecusan mereka dalam mengatasi semua serangan yang mengakibatkan kehancuran kota Tokyo. Seharusnya Midorima merasakan kemarahan yang sama seperti yang lain miliki, namun dalam hati ia merasa berterima kasih karena dirinya berasal dari klan unicorn, yang artinya emosi kemarahan bukanlah bagian dari dirinya.
"Akashi, apa kau tidak apa-apa dengan semua ini?" Tanya Midorima untuk beberapa saat kemudian setelah keadaan menjadi sedikit lebih tenang.
Suara Midorima yang menggema di dalam ruangan itu pada akhirnya menarik perhatian mereka semua, termasuk Seijuurou yang sedari tadi tidak berminat untuk mengikutsertakan dirinya dalam perdebatan konyol ini, padahal ia adalah orang utama yang tengah mereka bahas.
Mendorong piringnya sedikit menjauh dari hadapannya, sang pewaris keluarga Akashi itu pun pada akhirnya mengarahkan pandangannya ke samping kiri, ke tempat di mana Midorima tengah duduk dan saat ini tengah memberinya sebuah tatapan yang sukar untuk dibaca.
"Kurasa begitu," jawab Seijuurou dengan singkat, dan ia pun meneruskan kalimatnya saat ia mendapati perhatian semua orang yang ada di sana tertuju padanya. "Kurasa tidak ada gunanya mencemaskan statusku sebagai hunter di sini, kalau pun para dewan memang melepas statusku maka silakan saja, tidak akan ada sangkut pautnya denganku di masa depan."
Semua mata tertuju pada sosok sang pewaris keluarga Akashi tersebut, kata-katanya begitu kasual seperti ia tidak memiliki perhatian lebih bila statusnya sebagai hunter sudah tidak melekat lagi padanya, dan hal ini pun membuat yang lainnya bingung namun juga khawatir pada saat yang sama. Mereka bingung karena Akashi Seijuurou adalah seorang hunter yang berdedikasi pada pekerjaan, bahkan ketika ia pernah mengalami masalah dan adu bentrok dengan para anggota dewan asosiasi hunter Jepang dalam kesekian kalinya, sehingga sikapnya yang melepaskan jabatan serta statusnya secara percuma seperti ini membuat mereka bingung akan keputusannya. Di samping pihak mereka juga khawatir akan perubahan sikap yang Seijuurou ambil.
Apa mungkin sikap ketidakpeduliannya Seijuurou akan keputusan yang gegabah itu karena hasil dari pertempurannya yang terakhir dengan Haizaki? Dimana Seijuurou mendapatkan luka parah serta mengakibatkan inti sihirnya tak berfungsi lagi, membuat Seijuurou tidak bisa bertugas sebagai hunter lagi. Apa mungkin itu adalah alasan yang mendasari Akashi Seijuurou berhenti?
Pertanyaan demi pertanyaan pun menggantung dengan jelas di benak Kiseki no Sedai setelah ia mendengarkan penjelasan yang Seijuurou berikan.
"Hentikan semua itu," kalimat singkat yang penuh akan perintah pun pada akhirnya keluar dari mulut Seijuurou, membuat mereka semua untuk sekali lagi melihat sosoknya yang kali ini balik menatap mereka bertujuh dengan tajamnya. Kedua mata merah darah yang Seijuurou miliki sama sekali tidak diseliputi oleh humor sedikit pun. "Jabatan sebagai hunter bagiku tidak ada apa-apanya, jadi mereka melepas namaku atau tidak dari pohon Ygdrazzil bukanlah menjadi fokus utamaku seperti beberapa tahun yang lalu. Aku memang sudah kehilangan kekuatan utamaku, sihirku yang sebelumnya, serta mata kaisarku. Meskipun demikian, bukan berarti aku kehilangan sihirku sepenuhnya, dalam perjalananku di Kyoto aku sudah mendapatkan sesuatu yang sepadan.
"Menjadi seorang hunter dan tanggung jawab atas Tokyo bukan lagi prioritasku. Black Lily sudah bangkit dengan sepupuku dan Tetsuya yang berkuasa sekarang, dan menghentikan organisasi terkutuk itu adalah tujuan utamaku sekarang ini. Hunter atau bukan, aku adalah Akashi Seijuurou, orang yang akan menghentikan serta menghancurkan mereka!"
Kalimat itu memiliki sebuah kekuatan yang layaknya seperti cambuk bagi mereka semua. Kiseki no Sedai kali ini memang masih bingung dengan tujuan Seijuurou, namun mereka semua bisa bernafas lega serta menerima semua itu dengan baik, bahkan Tetsuya yang kala itu masih duduk di samping Seijuurou pun memberikan senyuman singkat kepada pemuda berambut merah darah tersebut seraya menggenggam tangan kanan sang tunangan yang ada di bawah meja makan.
"Black Lily, musuh utama kita," gumam Midorima seraya mendorong kacamata yang ia kenakan untuk lebih melekat pada pangkal hidungnya. "Kurasa alasan itulah kenapa kau menghubungi kami setelah dua tahun tidak bertemu. Aku pernah bertanya padamu kenapa kau menghubungiku beberapa bulan yang lalu dan mengadakan pertemuan untuk yang pertama kalinya, kau tidak mengatakan apa-apa padaku, Akashi, hanya nama Black Lily saya yang kau ucapkan."
Mendukung kalimat yang diserukan oleh Midorima, Kise yang duduk di antara Tetsuya dan Aomine pun memberikan anggukan singkat. "Aku juga masih ingat pesan yang Akashicchi berikan padaku."
"Black Lily huh?" Aomine mengendikkan bahunya sebelum menyandarkan kedua bahunya pada sandaran kursi makan yang tengah ia duduki tersebut. "Perburuan terhadap Black Lily dan kedua belas penjaga gerbang Mistis, kurasa semua itu sepadan."
"Bicara mengenai kedua belas penjaga gerbang, kita tidak bisa membiarkan mereka jatuh ke tangan Haizaki dan yang lainnya, Aominecchi. Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya dunia ini kalau semua jiwa itu jatuh ke tangan Haizaki," di sini Kise memeluk tubuhnya sendiri, kedua matanya menerawang jauh sebelum mereka fokus lagi kepada Seijuurou untuk beberapa saat kemudian. "Kalau kau ingin melakukan pencarian itu, tolong ikut sertakan aku, Akashicchi!"
Penciptaan kedua belas makhluk Celestial itu memang diliputi oleh pengorbanan serta sihir yang sangat kuat dengan harapan dunia menjadi seimbang, dan bila semua itu jatuh ke tangan yang salah maka dunia ini akan hancur dalam hitungan waktu. Membayangkan semua itu tentu menimbulkan sebuah perasaan takut di benak masing-masing individual yang ada di dalam ruangan itu, dan pencarian yang dikatakan oleh Kise adalah hal yang masuk akal untuk dilakukan daripada menunggu. Mereka semua sangat yakin kalau Black Lily tidak akan melakukan menunggu, Haizaki akan memimpin mereka untuk menemukan pecahan lainnya seperti apa yang mereka lakukan kepada Scorpio.
"Perburuan terhadap penjaga gerbang Mistis adalah hal yang akan kita lakukan berarti, sebab menunggu mereka muncul dan menjelma di tempat ini bukanlah pilihan yang tepat," kata Seijuurou, jemarinya yang berada di bawah meja makan semakin mengerat pada jemari milik Tetsuya, membuat remaja berambut biru langit tersebut membalasnya dengan anggukan singkat.
Nafsu makan yang sebenarnya masih ada di dalam benak mereka kini sudah menghilang tak bersisa, hal ini dikarenakan oleh sebuah tujuan baru yang mereka dengarkan dari Seijuurou dan Kise barusan langsung menghantam masing-masing individual serta memaksa mereka untuk mencernanya dengan matang-matang. Mereka bukanlah pahlawan perang seperti dua tahun yang lalu. Mereka juga tidak memiliki sebuah cita-cita untuk menjadi pahlawan dengan melakukan pencarian itu. Tapi yang ada di dalam benak mereka adalah bila Kiseki no Sedai tidak bergerak sekarang juga maka kehancuran dunia hanya tinggal menunggu hitungan jari saja, dan semua orang tidak akan menyadarinya sampai masa itu datang membayang di hadapan mereka semua. Dan bila saatnya tiba, semuanya telah terlambat.
Tekad yang bulat dan tercerna dengan baik pun menghantui benak masing-masing sampai sebuah suara kursi yang bergerak pun terdengar, memecah keheningan yang tercipta. Delapan pasang mata mengarah pada Seijuurou yang tiba-tiba saja bergerak dari tempatnya, berdiri dari tempat duduknya sebelum mengambil tempat berdiri di belakang kursi. Mereka semua melihat sang pemimpin dari Kiseki no Sedai tersebut meletakkan tangan kanannya di depan dadanya, pandangannya yang serius pun kini dipenuhi oleh determinasi yang bisa terlihat pada kedua mata merah ruby-nya tersebut.
"Aku, Akashi Seijuurou, pewaris dari keluarga Akashi serta bagian dari klan Phoenix yang dipercaya untuk memegang kristal Ruby bersumpah untuk menemukan pecahan jiwa dari kedua belas penjaga gerbang mistis," kedua mata merah ruby tersebut menatap semua orang yang hadir di sana. "Atas nama Kaisar Pertama, aku mengambil tugas dari leluhurku untuk mengemban tugas ini sebagai salah satu ksatria pendamping yang melindungi Kaisar Pertama ribuan tahun yang lalu."
Mereka semua terpana, terkejut, dan tidak tahu harus melakukan apa ketika mereka mendengar serta melihat sang pewaris keluarga Akashi tersebut mengambil sebuah sumpah yang meliputi sihir dan nama leluhurnya. Namun, keterkejutan mereka semua semakin bertambah saat aura sihir yang berwarna merah pekat mulai menyelimuti tubuh Seijuurou, kekuatannya yang besar membentuk sebuah bayangan burung phoenix yang membara dan mengambil bayangan di belakang tubuh Seijuurou, bahkan mereka semua juga dapat melihat simbol yang berada di punggung tangan kiri Seijuurou kini muncul dari balik ilusi, tandanya pun bercahaya menjadi merah darah dan berubah bentuk dari sebuah salib yang terlilit ular menjadi sebuah tanda seorang ksatria pertama yang berasal dari keluarga Akashi dengan sosok burung phoenix memeluk tanda tersebut.
"Akashi-kun!" Panggil Tetsuya dengan sedikit terkejut, ia tidak pernah melihat hal yang seperti ini terjadi. Mungkin sihir dan semacamnya yang dulu pernah ia anggap tidak ada ternyata sangat nyata, namun melihat sumpah yang dijalani oleh Seijuurou masih menjadi sangat aneh menurutnya. Meskipun demikian, Tetsuya menemukan hatinya bergetar, seolah dirinya merasa dipanggil untuk ikut serta bersama dengan sang tunangan.
Suara dari kursi yang dipindahkan pun kembali membuat perhatian Tetsuya teralih dari sosok Seijuurou, ia menoleh ke samping dan menemukan Aomine juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Seijuurou, hanya saja pemuda berambut biru tua dan berkulit kecoklatan itu berdiri di balik kursinya sendiri. Tetsuya melihat bagaimana tatapan mata biru milik Aomine juga memiliki sebuah niat yang sangat kuat, dan tangan kanan pemuda itu menyentuh dadanya sendiri, persis dengan apa yang Seijuurou lakukan tadi.
"Aku tak bisa membiarkan Haizaki bertingkah seenaknya lagi, hunter atau bukan aku tidak peduli. Aku ikut denganmu, Akashi," sahut Aomine. Setelah memberikan sebuah kerlingan singkat kepada Kise yang menatapnya dengan penuh keterkejutan, raut wajah Aomine kini menjadi lebih serius sebelum ia mengucapkan sumpahnya sendiri. "Aku, Aomine Daiki, pewaris dari keluarga Aomine serta bagian dari klan serigala bayangan yang dipercaya untuk memegang kristal sapphire bersumpah untuk mencari pecahan kedua belas penjaga gerbang mistis. Atas nama Kaisar Pertama, aku mengambil tugas dari leluhurku untuk mengemban tugas ini sebagai salah satu ksatria pendamping yang melindungi Kaisar Pertama ribuan tahun yang lalu."
Kedua mata Tetsuya terbelalak lebar saat hal yang serupa seperti yang diperlihatkan oleh Seijuurou kini terjadi pada Aomine, hanya saja warna sihir yang menyelimutinya adalah biru tua dengan bayangan serigala bayangan yang ada di belakangnya. Sebuah tanda yang terukir di lengan kanan Aomine pun muncul di sana sebelum berubah seperti milik Seijuurou, hanya saja kali ini sebuah serigala bayanganlah yang memeluk tanda milik Aomine.
Baik Seijuurou dan Aomine telah mengucapkan sumpahnya dengan sungguh-sungguh, kali ini tidak ada permainan lagi dan sudah saatnya bagi mereka untuk serius. Melihat semua itu, Kise pun juga beranjak dari tempat duduknya sebelum melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Seijuurou dan Aomine. Dirinya sudah merasa lelah menjadi orang lemah, Haizaki pernah menyiksanya sampai merebut sihirnya, dan kali ini ia tidak akan tinggal diam melihat kehancuran dunia terjadi di depan matanya saat kekuatannya sudah kembali.
"Aku, Kise Ryouta, pewaris dari keluarga Kise serta bagian dari klan rubah berekor sembilan yang dipercaya sebagai pemegang kristal Topaz bersumpah untuk menemukan kedua belas pecahan jiwa penjaga gerbang mistis. Atas nama Kaisar Pertama, aku mengambil tugas dari leluhurku untuk mengemban tugas ini sebagai salah satu ksatria pendamping yang melindungi Kaisar Pertama ribuan tahun yang lalu."
Aura sihir yang menyelimuti tubuh Kise adalah kuning keemasan dan sebuah bayangan dari rubah berekor sembilan dengan ekornya yang terlihat begitu liar pun muncul di belakang tubuh pemuda tersebut. Simbol yang terukir di lengan kiri Kise pun mulai bersinar seperti yang dimiliki oleh Aomine dan Seijuurou.
"Perang sudah dekat ya?" gumam Murasakibara pada dirinya sendiri, kedua matanya yang terlihat malas itu menatap bergantian kepada ketiga temannya yang telah mengambil sumpah secara bergantian.
Murasakibara adalah orang yang sederhana, ia tidak ingin melakukan apapun apalagi melukai seseorang. Namun bayangan akan pemandangan menyedihkan dari perang dua tahun yang lalu cukup kuat di dalam angannya, terlebih ia sendiri juga memiliki tekad untuk menyelamatkan Himuro Tatsuya dari cengkeraman Haizaki. Oleh karena itu Murasakibara Atsushi pun menemukan dirinya melakukan hal sama yang dilakukan oleh ketiga orang Kiseki no Sedai tersebut.
"Aku, Murasakibara Atsushi, pewaris dari keluarga Murasakibara serta bagian dari klan naga ungu yang dipercaya untuk memegang kristal amethyst bersumpah untuk menemukan kedua belas pecahan jiwa penjaga gerbang mistis. Atas nama Kaisar Pertama, aku mengambil tugas dari leluhurku untuk mengemban tugas ini sebagai salah satu ksatria pendamping yang melindungi Kaisar Pertama ribuan tahun yang lalu!"
Naga ungu yang begitu besar dan perkasa muncul di belakang tubuh Murasakibara, raungannya yang mengundang sihir pun menyelimuti ruangan itu sebelum simbol yang sama muncul di bagian kanan leher sang pemuda berambut ungu tersebut, simbol ksatria yang ia ambil dalam sumpahnya.
"Dan sepertinya aku tidak punya pilihan, nanodayo!" setelah membenarkan letak kacamatanya pun Midorima juga melakukan hal yang sama. "Aku, Midorima Shintarou, pewaris dari keluarga Midorima serta bagian dari klan unicorn yang dipercaya sebagai pemegang kristal emerald pun bersumpah untuk menemukan kedua belas jiwa penjaga gerbang mistis. Atas nama Kaisar Pertama, aku mengambil tugas dari leluhurku untuk mengemban tugas ini sebagai salah satu ksatria pendamping yang melindungi Kaisar Pertama ribuan tahun yang lalu!"
Aura yang menenangkan dan berwarna hijau pun menyelimuti tubuh Midorima seperti yang terjadi dengan yang lainnya, begitu pula dengan munculnya bayangan unicorn di belakang tubuhnya. Simbol sumpah yang ia ambil juga timbul di pipi kiri pemuda itu, mendekorasi parasnya seperti yang terjadi dengan para Kiseki no Sedai lainnya.
Sumpah akan pencarian makhluk Celestial pun sudah diucapkan, dan mereka berlima pun kini tidak bisa membalikkan badan mereka untuk mengingkari sumpah tersebut, karena sumpah yang diliputi oleh sihir itu adalah sumpah yang tak terpatahkan, dan balasan bagi mereka yang mengkhianatinya adalah kematian.
AN: Terima kasih atas dukungan yang teman-teman berikan kepada saya beberapa saat yang lalu.
Author: Sky
