Author : Dua chapter sekaligus!

Disclaimer : Vocaloid milik perusahaan masing-masing

Warning : Kekerasan


Teru hanya terdiam sedangkan Kaito hanya melebarkan mata. Mereka melihat jelas orang yang ingin dibawa pulang sedang duduk santai. Pakaiannya cukup unik, terlihat seperti seorang pangeran kerajaan. Warna pakaian tersebut dari bagian atas hingga bawah sama, hitam pekat dengan dihiasi beberapa ornamen berwarna emas. Di pinggang terlihat ada pedang didalam sarungnya berwarna sama dengan baju.

"Kiyoteru nii-san?" Kaito bertanya dengan nada tidak yakin.

"Ya, Kai-kun? Sudah lama ya tidak bicara seperti ini. Maaf ya, pamanmu tidak mengenalmu beberapa tahun lamanya habis... ingatanku diambil seseorang."

Kaito memandang Kiyoteru dengan pandangan bahagia, terlihat sekali wajahnya benar-benar bersemangat.

"Kiyoteru nii-san... ayo pulang!"

Kaito mau melangkah ke depan, tapi tangan kanan Teru menahannya. Berbeda dengan Kaito, laki-laki dengan mata kuning justru menatap curiga Kiyoteru.

"Ada yang tidak beres dengannya"

"Kau tidak lihat dia Kiyoteru nii-san dan tujuan kita adalah membawa pulang dia!"

"Tapi ada yang janggal, kau tidak sadar?"

Kaito tidak peduli, ia lebih memilih mendekat ke depan. Teru memandang dengan wajah masam. Ia lebih baik membiarkannya karena bukti nyata hanya satu-satunya cara untuk meyakinkan Kaito kalau ada kejanggalan dengan sang paman.

Kaito mendekat hingga hanya berjarak beberapa langkah.

"Kiyoteru nii-san, ayo kita pulang" ia menatap lurus, Kiyoteru yang awalnya duduk langsung turun dari altar dan mendekat ke Kaito.

"Untuk apa aku pulang? Kan 'dia' belum datang?"

"Hah? Apa maksud Kiyoteru nii-san?"

Kiyoteru kemudian melangkah ke bagian depan altar. Tangan perempuan yang masih tak sadarkan diri ia angkat dan dicium penuh kasih sayang.

"Kau tahu, kan Teru-san?"

Orang yang diajak bicara hanya menatap tiap gerik Kiyoteru, tidak peduli dengan pertanyaan.

"Kaito, berapa lama lagi waktunya?"

Kaito melihat jam tangannya, "tinggal... hah? Jarum pendeknya tidak bergerak"

"Tch!"

Teru mendongak ke atas, ia mendapati bulan mulai hilang, tergantikan oleh gelapnya langit di dimensi tersebut. Ia mendecak sebal kedua kalinya, melihat tanda tersebut sudah cukup menjelaskan kalau waktunya memang sedang terjadi.

Ia kesal, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang-orang menyebalkan dari musuh hingga Eve. Walaupun sepertinya menyalahkan diri sendiri lebih besar porsinya sehingga ia merasa berdosa. Jika pada akhirnya si guru sudah terikat kuat dengan status Adam ada dua kemungkinan. Satu, ia sudah bisa dinyatakan sama seperti orang meninggal, dan kedua Kiyoteru sudah bukan manusia lagi. Jika kemungkinan terakhir adalah benar, besar kemungkinan ia mau tidak mau harus bertarung terus menerus setiap seratus tahun sekali.

Atau, kesempatan terkecil yang ia sendiri tidak ingin menyebutnya sebagai kemungkinan tapi sebagai keajaiban. Ia melihat kacamata masih bertengger di muka Kiyoteru. Mungkin saja, 'Adam' yang asli masih belum sepenuhnya terbangun karena ada segel tersebut. Hei! Segel berbentuk kacamata itu bisa menyegel dirinya sampai belasan tahun di tubuh Kiyoteru, artinya sangat kuat.

Ia justru tersenyum geli sendiri.

"Baiklah. Aku akan bawa pulang dirimu, apalagi... sudah banyak orang yang menaruh kepercayaannya padaku. Aku juga sudah berjanji dengan dua orang yang sangat dekat denganmu. Jadi, jangan menangis kalau aku juga menggunakan kekerasan saat memaksamu."

Ia lepaskan jas yang masih dipakai. bahkan sebenarnya jas yang dikenakan sudah dalam keadaan menyedihkan terutama pada bagian lengan. Setelah melepas jas, sekarang bagian dasi dan ia letakkan begitu saja. Kedua lengan kemeja digulung ke atas.

"Tunggu!" oh, ya ia lupa ada Kaito.

"Apa maksudmu mau memaksanya dengan kekerasan?"

Teru menarik nafas panjang, "lihat ya... nak Kaito, Kiyoteru sudah berada di bawah pengaruh Eve juga sehingga bisa dikatakan dia itu Adam sendiri. Kau lupa ya? Aku sekarang bukan siapa-siapa"

Kaito menggeleng, "tapi tidak perlu memakai kekerasan, bukan? Aku akan mencobanya!"

"Tunggu Kaito-"

Kaito dengan kepercayaan tinggi berjalan sampai di depan Kiyoteru, hanya berjarak sekitar dua langkah.

"Lupakan tentang semua ini, Kiyoteru nii-san. Aku... aku hanya ingin semuanya seperti sedia kala. Aku bisa berada di sampingmu lagi sebagai keluarga. Jadi... ayo pulang" ia mendekati Kiyoteru dan memegang lengannya.

"Lepaskan lenganku dari tanganmu yang kotor, manusia!" hanya dalam sekali bentakan, badan Kaito sudah melayang ke belakang. Ekspresi Kaito juga terkejut, entah karena aura begitu kuat atau perkataan menyakitkan sang paman.

Teru menghela nafas lelah, ia sudah memperkirakan kejadian tidak menyenangkan akan terjadi. Kenapa pula Kaito punya sifat keras kepala? Tidak, anak muda jaman sekarang memang seperti ini, pikir Teru.

Ia sampai harus megeluarkan sepasang sayap untuk menangkap badan Kaito. Ia tidak ingin pemuda berambut biru itu terlempar sampai jauh, bisa menjadi masalah besar kalau sampai ditangkap arwah penasaran.

Kaito yang sadar laki-laki bermata kuning menangkap badannya hanya bisa mencoba mengalihkan muka karena merasa malu tidak percaya pada perkataannya. Teru tidak peduli, ia hanya mendarat mulus di 'tanah' dan menghilangkan sayapnya setelah memijak. Kaito sedikit menjauh dari Teru dan menunduk.

"Maaf." Hanya sepatah kata yang bisa Kaito ucapkan. Teru mengkat alis bagian kanan, ternyata sifat Kaito adalah pemalu jika salah. Bagus, sifat yang positif.

Sekarang laki-laki bermata kuning itu kembali menatap laki-laki berambut hitam berwajah sama dengannya. Menjadi saksi kejadian di mana tubuh Kaito terpental menyebabkan ia membuat catatan untuk diri sendiri bahwa Kiyoteru tidak bisa dianggap remeh. Sepertinya sejak status 'Adam' pindah, secara tidak langsung kekuatannya juga berpindah. Yah, bukannya ia jadi lemah tapi mungkin harus bekerja keras lebih banyak dari biasa.

"Dia... bukan pamanku lagi, ya?" Kaito masih menunduk.

Teru jadi mengalihkan perhatian pada pemuda berambut biru, "etto... bagaimana ya... dia ada diambang antara ada dan tiada. Yang paling dikhawatirkan adalah kalau sampai perempuan tertidur di altar dirasuki Eve, pamanmu benar-benar menghilang. Untuk sekarang dia punya kesempatan setengah-setengah antara tetap jadi manusia atau tidak lagi."

Kaito tidak membalas penjelasan panjang Teru, yang ia lakukan justru mengangkat pistol dan diarahkan ke pamannya. Ia tembakan sehingga cahaya warna perak tertuju pada laki-laki di depan mereka. Tapi laki-laki itu masih menunjukkan wajah santai karena angin yang kencang membuat cahaya meleset. Kaito hanya mendecak kesal.

"He-hei, bukannya kau bilang ingin menolong pamanmu?" Teru sampai sweatdrop melihat kelakuan barbarik keponakan orang yang ingin ditolong.

"Tapi katamu tadi dia sudah punya status sebagai 'Adam' bukan? Artinya dia sudah jadi musuh kita"

"Memang benar sih, tapi kan sudah kubilang kita masih punya kesempatan menolongnya."

Kaito melihat Teru dengan pandangan bingung.

"Aku hanya ingin kau melindungi dirimu dari seranganku dan dia. Atau lindungi dirimu dari arwah tidak beruntung di sini. Tembak saja mereka pakai Iron Maiden, sudah cukup membuat mereka mundur"

"Kenapa?"

"Aku akan mencoba menyadarkannya, tapi kalau pun mau membantu... jadi bagian pendukung saja ya?"

Teru sekarang maju meninggalkan Kaito yang ternganga dengan perkataannya. Namun Kaito langsung protes saat kata-kata sudah terproses lewat otak. Teru hanya tertawa kecil melihat protes Kaito.

"Hei, sensei! Seperti kataku tadi, aku ingin bawa pulang dirimu sehingga Akito tidak akan membunuhku kalau sudah kembali ke Jepang. Apalagi aku merasa tak enak karena dia sudah mentraktirku sushi..."

Kiyoteru yang tadinya berdiri di dekat altar sekarang mulai mendekat walaupun jarak masih membutuhkan beberapa langkah. Dari dekat Teru sadar, manik dari laki-laki di depannya sudah berubah dari warna normal hitam menjadi merah. Berbeda dengannya yang warna kuning.

"Mari kita mulai?"

Teru hanya tersenyum dengan angkuh,"aku tidak mudah dikalahkan begitu saja"

"Tidak baik terlalu sombong, karena kesombongan hanya pada kehancuran"

"Aku tidak sombong, memang beginilah sifatku. Kau lupa ya, Kiyo?"

Keduanya berjalan mendekat bersamaan.


Author : Pertarungan dua orang sama tapi beda!

Rana : Author! Kayaknya nggak peduli sama update Rana?

Author : Ahhh... yaaa... saya lagi sibuk sama banyak hal haha. Oh terima kasih telah selama satu tahun masih mengikuti serial ini sampai sekarang! Pembaca, pemberi fave, follow dan review membuat author masih semangat menlanjutkan cerita ini! Terima kasih~