Disclaimer : I do not own Naruto

ooOoo

Menjadi shinobi mengajarkan Sasuke untuk tidur berkecukupan hanya dalam tiga atau dua jam saja. Begitu pula dengan Naruto. Mereka berdua bisa sangat kelelahan, namun hampir selalu bisa menghilangkan penat hanya dengan tidur dalam jangka waktu pendek. Misalnya saja sekarang. Mereka baru terlelap di dini hari, namun sudah terbangun tiga jam setelahnya.

Tepat satu jam yang lalu.

Mereka seharusnya sudah bersiap-siap untuk menjalani kegiatan. Banyak masalah pelik di luar sana. Banyak pula laporan yang harus segera diberikan pada sang lelaki berambut raven ini.

Tapi, nyatanya dua insan tersebut masih belum beranjak dari tempat tidur.

Tepatnya, salah satu dari mereka belum ingin beranjak. Yang dimaksud di sini jelas-jelas bukan wanita pirang dengan ekspresi jengkel di wajahnya. Ia sedang berusaha mengalihkan lengan yang masih melingkar di perutnya. Semua usaha tersebut sia-sia.

Demi Jenggot Rikudou Sennin, Sasuke benar-benar menguji kesabarannya. Ia tahu kalau orang-orang di Hokage Tower sudah mulai berkumpul untuk memberi laporan. Tapi, dengan seenak jidat, Sasuke malah lebih memilih untuk memonopoli Naruto di sini. Jangan lupa, Naruto juga harus membantu perbaikan barrier yang sudah dirusak Urashiki Sialan. Mereka punya banyak tugas untuk diselesaikan.

"Kau benar-benar ingin kutendang?" Naruto mencoba menjauhkan kepala Sasuke yang sedang melesak di perpotongan lehernya. Hah. Ia jengkel sekali. "Atau kupotong lagi sebelah tanganmu?"

Alih-alih mengikuti permintaan sang kekasih untuk enyah, Sasuke malah meraih tangan Naruto dan menautkan jemari mereka di atas kepala. Hangat napasnya masih menerpa kulit leher Naruto. Diikuti kecupan yang membuat Naruto meremang geli. Jangan lupa dengan tangan lain yang sedang bermain-main dengan ...

Lupakan saja.

"Iyakan permintaanku," gumam Sasuke dengan suara yang sedikit parau khas bangun tidur.

Jika tadi Naruto tidak perlu repot-repot menatap Sasuke, ia takkan terjebak di sini. Sharingan itu benar-benar bencana. Sasuke membuat ilusi seolah Naruto habis sparring hidup-mati sampai kehilangan banyak tenaga. Hasilnya ia jadi lemas seperti ini. Ketika Naruto menuntut agar dilepaskan, Sasuke malah mengajukan persyaratan yang takkan mungkin ia kabulkan.

Mendengarnya lagi membuat wajahnya panas. Tak ayal, ia pun mengerang jengkel, "Tadi malam sudah cukup."

"Memang. Tapi, sekarang bukan tadi malam."

"Tetap saja--"

Sasuke mendongak. Ia menarik pipi Naruto gemas.

"Kau takkan mengandung lagi ketika sedang mengandung, Usuratonkachi. Anak Akademi pun tahu. Pelajaran dasar macam ini sudah diajarkan di tahun ketiga kelas kunoichi."

Kini Naruto benar-benar kesal.

"Aku tidak pernah ikut kelas kunoichi."

Reaksi Sasuke hanya menambah kekesalan Naruto.

"Siapa suruh? Kau terlalu sibuk mencoba menarik perhatianku."

Lihat? Ingin sekali Naruto menjahit mulut lelaki congkak ini kalau bisa.

"Pede sekali," cibir Naruto. Ia meraih rahang Sasuke agar mereka bertatapan. "Tapi, serius, kita harus bertugas. Bagaimana kalau si alien sialan itu kembali?"

Dengan mudah, Sasuke meraup Naruto agar berpindah ke atasnya. Masing-masing tangan Naruto menumpu di samping Sasuke. Rambut pirang panjang disibak dan diselipkan ke belakang telinga. Sasuke menciumnya sesaat sebelum kembali menatap dan menjawab keresahan Naruto.

"Tidak untuk hari ini. Kurasa ... mereka takkan menyerang selain malam hari."

Naruto mengerjap, tidak mengerti. "Huh? Bagaimana bisa?"

"Ceritamu tentang mimpi itu," ujar Sasuke. Jemarinya memainkan surai pirang yang membingkai wajah manis di depannya. "Kau bertemu dengan Toneri di bulan. Kemudian, kemarin malam waktu kau dilepaskan oleh Urashiki, cahaya bulan meredup dan hilang hingga sekarang. Kurasa dia ikut hilang. Bulan itu punya semacam hubungan dengan portal."

Telapak tangan Naruto menumpu di dada bidang sang lelaki. Ia menegakkan diri, kedua alisnya menyatu.

"Dia ... memanfaatkan kekuatan Toneri? Maksudku, Ōtsutsuki memang makhluk asing. Tapi, mereka tidak berasal dari bulan. Tonerilah yang tinggal di sana."

Sasuke mengangguk. Kedua tangannya mengusap paha telanjang Naruto sebelum kembali menariknya mendekat. Hanya menatap tanpa melayangkan tangannya di kulit perempuan ini sangatlah sulit. Belum lagi dengan Naruto yang kelihatan sangat menawan. Jujur saja, Sasuke sempat kepikiran, mungkin dulu kalau Naruto tidak pura-pura jadi lelaki ia bakal berpikir dua kali untuk tidak pergi dari desa.

Mungkin.

Ia juga sepertinya bakal langsung mencium Naruto sebelum pergi melewati Lembah Akhir, bukannya hanya menatap dan menangis dalam kamuflase hujan.

Memikirkan masa lalu membuatnya semakin ingin mengubah semua kebodohannya. Sasuke segera mengenyahkan lamunan. Ia akan menjalani kehidupan masa sekarang dengan senang hati berkat wanita di depannya ini.

"Bisa bicarakan yang lain? Aku muak dengan mereka," tukas Sasuke.

Tidak ada yang tidak muak dengan makhluk asing itu. Naruto tentu saja mengangguk. Ia dengan lugas mengalihkan topik pada pembicaraan awal mereka.

"Ya, kau harus kerja dan beranjak dari sini, Teme. Jangan seperti anak ayam yang baru bertemu induknya, tidak mau lepas."

Bibir Sasuke melengkung separuh. Ia mengabaikan ucapan Naruto dan berkata, "Aku jadi ingat. Kakashi menyebutmu anak anjing yang sedang mengandung." Oniksnya tiba-tiba berkilat jahil ketika memandang Naruto lekat. "Padahal kau lebih mirip dengan rubah betina."

Naruto memutar bola matanya.

"Kau dan Kakashi sama saja." Sesaat kemudian Naruto menyipit dan bertanya, "Rubah betina ... karena Kurama?"

"Tidak."

Kening sang Uzumaki mengerut samar. "Lalu?"

Telapak tangan Sasuke menangkup pantat sintal yang menyentuh perutnya. Ia meremas pelan tanpa tahu malu.

"Karena kau pintar menggoda pria."

Bola mata safir membeliak. Semburat merah langsung merayap dari pipi hingga telinga. Sasuke tengah membicarakan apa yang terjadi tadi malam. Ia tertawa puas ketika melihat Naruto yang tak bisa menahan malu dan kesal. Biar saja wanita ini merasakan perasaan semacam itu. Ia pikir mencoba memulai dan mengakui adalah hal yang mudah? Sasuke masih ingat perihnya tamparan yang membekas di pipi tepat setelah ia menyatakan apa yang ia rasa. Mengakui saja sudah sulit, tapi ia malah ditolak dan dihukum semacam itu.

Hanya Naruto yang bisa melakukannya tanpa harus kehilangan nyawa.

Kalau konflik yang menjerat mereka tidak seserius itu, Sasuke sudah sangat malu. Bayangkan saja, Uchiha Sasuke, yang hampir selalu didambakan oleh tiap wanita malah ditolak dengan bonus cap tangan di pipi pucatnya.

Itachi pasti sedang menertawakannya di alam kubur.

Cengkeraman Naruto di bahu menghentikan tawa rendah Sasuke.

"Diam, Berengsek," sungut Naruto dengan wajah masih memerah. "Aku tidak punya ide lain tadi malam. Kau sudah seperti patung es!"

Sasuke masih tersenyum geli. Binar matanya menunjukan kepuasan pekat.

"Jadi kau ingin melelehkan es itu dengan memberi percintaan yang panas?"

Kini Naruto menyembunyikan wajahnya di lekuk leher Sasuke. Erangan malunya teredam. Ia ternyata masih belum terbiasa dengan pembahasan frontal seperti ini. Padahal mulutnya tak pernah segan untuk mengumpat dengan berbagai varian kata yang tak ramah lingkungan.

Senyuman terlukis di bibir Sasuke. Para wanita yang tergabung dalam fanclub Sasuke-kun pasti sudah kehilangan kewarasan mereka kalau sempat melihatnya. Lengan kokohnya melingkar di punggung Naruto, sedangkan tangan yang lain mengacak pelan rambut pirang panjangnya.

"Aku tidak ingin kita bertengkar lagi," bisik Sasuke dengan nada rendah.

Naruto hanya bergumam selagi menghirup aroma mint yang menguar di tubuh sosok terkasihnya. Mereka diam di posisi itu selama beberapa saat, berbagi rindu yang masih cukup menyesakkan dada. Tak perlu banyak kata untuk mengungkapkan. Hanya saling merangkul guna menegaskan keberadaan mereka yang ada untuk satu sama lain, menegaskan rasa membutuhkan yang sama besarnya ... tidak lebih.

Baik Naruto dan Sasuke sudah tahu apa yang bernaung di hati mereka. Tak perlu penegasan lain yang harus diungkapkan lewat tutur kata. Tak perlu kata-kata cinta di tiap detiknya.Tak perlu panggilan kasih yang berlebihan. Sejak dulu, selalu begitu. Sebelum mereka memulai pun sudah ada julukan khusus yang tercipta di antara keduanya. Meski kata Idiot dan Berengsek tidak umum untuk mewakili kata 'sayang'.

Tapi, Sasuke dan Naruto tidak peduli. Apa yang diharapkan dari sosok yang sama-sama tabu dengan bentuk kasih sayang? Yang satu pernah terobsesi dengan nafsu membunuh. Yang satu tumbuh dengan berbagai gunjingan yang membuat telinga panas. Tak pernah ada yang berimajinasi ria mengenai bentuk ideal kehidupan romansa.

Naruto malah mual sendiri ketika ingat panggilan sayang yang ada di novel sang guru tercinta. Bagaimana julukan si pria pada wanita? Peanut?

Yang benar saja. Siapa orang normal yang mau dipanggil kacang?!

Untung saja Sasuke terlalu gengsi dan sok keren untuk menciptakan panggilan-panggilan aneh. Meski mulut mesumnya perlu dilakban sekali-kali.

"Kau tahu, kita masih punya banyak hari untuk ... bersama," gumam Naruto di sela lekuk leher Sasuke.

Tubuhnya menegak. Ia kini menatap Sasuke yang tengah berbaring dengan rambut ravennya yang acak-acakan. Mata oniks tampak rileks. Rahang tegas membingkai wajah rupawannya. Ditambah dengan hidung bangir yang proporsional. Jika tidak mengenal Sasuke sebagai shinobi, Naruto akan salah mengenalinya sebagai aktor layar lebar. Terlalu menarik dan enak dipandang. Naruto baru menyadarinya lagi. Tanpa sadar ia sudah menyusuri wajah itu dengan jemari.

Bibir Sasuke melengkungkan senyum separuh. Sebelah alisnya naik, meledek, "Suka dengan yang kau lihat?"

Saat itu Naruto baru sadar bahwa seringaian seorang Uchiha Sasuke sangatlah menawan dan secara berengsek terlihat panas. Naruto sedikit memerah. Tameng anti-pesona-Uchiha miliknya sudah luruh setelah ia sadar apa yang ia rasa pada orang ini. Tapi, air muka jengkel tetap mewarnai wajah.

Sasuke terlihat congkak. Sangat congkak. Ia tahu bahwa tampangnya berada di atas rata-rata dan kini bermaksud memamerkannya.

Dasar orang kelewat narsis. Ia jelas-jelas sok keren. Sejak dulu, Naruto selalu tahu.

"Aku baru lihat bahwa kau sudah tua. Berapa, dua puluh tujuh? Astaga," ejeknya dengan nada penuh cemooh. Seolah menjadi tua sangatlah buruk. "Bersyukurlah karena kau mendapatkan wanita muda sepertiku. Siapa lagi yang mau dengan duda lapuk dan galak?"

Sasuke duduk dan memangku Naruto. Ia menarik gemas sebelah pipi sang perempuan sampai memerah. Naruto mengaduh, "Hei! Berhenti mendzalimi pipiku."

"Jatahku, Dobe." Tangan Sasuke sudah menelusup ke belakang sana. Kembali meremas aset berharga lain milik perempuan di depannya. "Bercinta tiap pagi adalah konsekuensi menjadi kekasih seorang pria dewasa--"

"Tua--"

"--tak beristri--"

"--duda lapuk sepertimu! Dasar mesum! Aku ingin berpakaian!"

Gelak tawa terdengar. Sasuke pada akhirnya melepaskan Naruto yang tadi sempat mengarahkan sikutan maut ke arah lehernya. Kepalan tangan juga diayunkan ke perut demi membuat Sasuke menjauh. Tak pernah sekalipun Sasuke membayangkan perkelahian tanpa ... well, pakaian. Naruto tampaknya berhasil mengatasi ilusi kelas menengah yang ditanamkan Sasuke di otaknya. Tenaga perempuan itu sudah kembali. Kini Naruto sedang berdiri di kedua lutut dengan wajah memerah karena malu dan jengkel. Rambutnya acak-acakan. Ia juga masih belum terbalut sehelai pun benang.

Pesonanya melejit dengan cara yang tidak biasa. Chakra rantai sudah terbentuk di tulang ekornya tanpa ia sadari. Melayang di udara dengan gerakan acak. Seolah ingin mencengkeram.

Sasuke mengerjap. Mata kanannya menyala merah. Tanpa sadar merekam pemandangan langka itu. Mematri pada ingatan.

Naruto terlihat begitu memikat ketika sedang marah.

Sudut bibirnya tertarik ke atas, tersenyum miring.

"Boleh juga."

Mata merah Sasuke seolah menyadarkan Naruto. Ekspresi jengkelnya meluruh. Ia mengerjap sebelum menatap ke sekeliling; melihat keadaannya. Mengenai ia yang masih tak berpakaian serta chakra rantai yang melayang-layang.

Batinnya segera mengumpat dalam berbagai varian kata.

Chakra yang meletup dari dalam dirinya pun ditahan. Ia berhasil meniadakan rantai chakra. Tapi, rasa malunya masih menerpa.

Naruto meraih selimut. Melempar asal pada Sasuke sambil bersungut, "Tenggelam saja kau di lautan," dan beranjak untuk mengenakan pakaian yang tadi malam--minus garmen naas yang sudah dirobek Sasuke. Ia hendak beranjak ketika merasakan nyeri di pangkal paha. Langkah kakinya goyah. Kedua lutut pun masih lemas.

Sasuke tersenyum geli di belakangnya. Ia sendiri ikut beranjak dan berpakaian.

"Butuh bantuan?" tawarnya ramah. Ia tidak menunggu jawaban. Tangannya dengan refleks sudah bernaung di pundak dan pinggang Naruto. "Jadi, kau tak ingin memberi jatah karena sudah tidak kuat mengimbangiku?"

Naruto sudah memerah sampai leher. Duh, lehernya bahkan sudah merah karena sesuatu yang lain. Kemungkinan besar tidak akan hilang sampai seminggu kalau tidak dibantu oleh Kurama.

Oh, ini buruk.

"Tutup mulut, Berengsek," gerutu Naruto. Ia menegakkan kedua kaki. Menyebalkan sekali. Terganggu hanya karena kegiatan ringan. "Ini bukan apa-apa."

"Baguslah. Aku jadi bisa melakukannya lagi."

Ketika Naruto hendak memprotes dan menendang selangkangan sialan--setidaknya Sasuke juga ikut merasakan penderitaannya!--ia sudah dikecup ringan di bibir. Tiga detik selanjutnya, Sasuke sudah menghilang setelah menyambar sebuah handuk dan jubah mandi.

Naruto berdiri di kamar dengan wajah masih sedikit memerah. Ia mengambil napas pendek, meredakan degup jantungngnya yang berulah. Senyuman kecil terlukis di wajahnya. Semakin lama semakin lebar karena luapan rasa yang membuncah. Ia menepuk kedua pipinya sendiri, berusaha agar tidak menyengir lebar seperti orang gila.

Sasuke mungkin ikut mempengaruhinya jadi orang gila.

Napas panjang diembuskan. Naruto tergelak ringan, masih menepuk sebelah pipinya agar berhenti tersenyum.

"Sialan, aku jadi ketularan sinting."

Namanya jatuh cinta, Bocah. Sadar juga kau akhirnya. Mungkin Bocah Uchiha itu memang harus menggaulimu berkali-kali agar kau sada--

"Ke mana saja kau, Rubah Tua?! Tidurmu lama sekali!" seru Naruto. Tidak sadar bahwa ia baru saja menyuarakan omongannya, tidak lewat telepati seperti biasa. "Kemudian, berhentilah berkata kotor. Kalian para pria benar-benar tak tahu malu."

Aku pejantan. Bukan pria.

Bola mata safir bergulir tidak peduli. Ia beranjak mendekati lemari dan meraih sebuah gulungan yang kata Sasuke berisi pakaian Sakura. Sasuke menyuruh Naruto untuk mengenakan pakaian 'biasa' bukan pakaian 'sobek' yang tadi malam ia kenakan. Ketika mendengarnya, Naruto hanya berdecak atas analogi hiperbola sang kekasih. Sasuke saja yang tidak suka dengan belahan paha pakaian Kurona yang dinilai terlalu tinggi. Padahal, model yang semacam itu memudahkan Naruto untuk bertarung.

Gulungan penyimpanan dibuka. Naruto segera mengambil rok selutut dan blus merah yang biasa dikenakan Sakura. Membayangkannya membuat Naruto menghela napas pendek. Terdapat dua masalah di sini; bayangan Sakura yang masih bercokol kuat di otaknya, serta ... rok.

Ia masih harus menyesuaikan diri untuk mengenakan pakaian yang cukup feminin. Padahal ia kira kimono panjang sudah cukup menyiksa.

Langkah kaki masih sedikit goyah ketika berjalan. Kurama jelas tidak mau membantu. Naruto juga terlalu gengsi untuk meminta. Telinganya panas diledek terus-terusan. Ia berjalan ke ruang tengah untk membereskan perabota tadi malam, beranjak dapur, dan menghabiskan sekitar dua puluh menit di sana untuk menyiapkan sarapan. Pakaian Sakura masih tersampir di pundak, belum sempat diletakkan saking laparnya. Kepala menoleh ketika merasa mendengar ketukan pintu.

Api kompor dikecilkan. Telapak tangan dibasuh di wastafel. Naruto membuka pintu, sempat membayangkan kedatangan para chuunin yang sudah tidak sabar menunggu Sasuke di Hokage Tower. Tapi, apa yang dilihat tidak sesuai prediksi.

Safir bertemu safir. Wanita berambut pirang pucat tergugu sesaat sebelum bibirnya melengkungkan senyum.

"Syukurlah kau tidak menyendiri di rumah Kakashi!"

Naruto mengerjap, masih belum terlalu fokus.

"Ah, ya," balas Naruto sekenanya. Ia kemudian ingat kemungkinan apa yang membuat Ino kemari. Pandangannya segera jatuh ke samping sang Yamanaka. Bibirnya segera menarik senyuman. "Sarada. Kau sudah baikan?"

Gadis belia di samping Ino tidak memberi ekspresi yang berarti. Ia melepas gandengan tangan sahabat sang bunda. Pun segera bertanya, "Di mana ayah? Kenapa kau di sini dan mengenakan pakaiannya?"

Kecanggungan menggantung di udara. Mulut Naruto tiba-tiba terasa kering. Tadi malam, ia baru saja berjanji. Tapi, menepati janji memang tidak pernah mudah, terutama mengenai ini. Sorot tidak suka di mata oniks itu mengingatkan Naruto pada Sasuke yang dulu. Kala ia tinggal di luar Konoha untuk menempa kemampuan ninjanya. Kala ia penuh dengan kesendirian dan rasa putus asa.

Mata hitam itu membuat Naruto sesak.

"Ne, Sarada. Sebaiknya kau masuk dulu. Sasuke ada di dalam dan kita akan bicara."

Sarada menyipitkan mata.

"Kau tidak menjawab pertanyaanku, Naru-san." Pandangan Sarada beralih pada kain pakaian di pundak Naruto. Bibirnya segera terkatup rapat. Suaranya pun sedikit bergetar. "Jadi, kau benar-benar ingin menggantikan Mama, begitu? Ino-obasan, sudah kubilang, aku tidak pernah ingin kembali ke sini!"

Tangan Ino ditarik oleh sang perempuan belia kala ia mencoba untuk pergi. Naruto sendiri masih mencoba menata diri, melawan rasa bersalah yang kembali menyusupi. Netra safir melihat Ino yang sedang mencoba membujuk Sarada, memberi tahu bahwa Naruto adalah teman baik ayah dan ibunya. Mengatakan bahwa Naruto bukan orang jahat, bahwa Naruto menyayangi Sarada. Buktinya adalah ia yang telah menyelamatkan nyawa Sarada kemarin malam.

Iris gelap Sarada sudah memerah menahan tangis. Kematian Kaoru, tragedi kerusakan Konoha, kesendirian, dan rasa rindunya pada sang bunda tampak mendorong letupan emosi yang kini ia rasakan. Sarada tentunya memerlukan pelampiasan. Ia butuh seseorang untuk disalahkan. Umur yang masih belum tergolong dewasa membuatnya tak mampu berpikir logis dengan penuh pemahaman. Sarada hanya anak-anak meskipun ia mewarisi darah hebat sang ayah.

Orang-orang berkata bahwa Naruto pandai mengatasi anak kecil. Mereka kira Naruto pengasuh yang baik. Nyatanya ... tidak. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Ia tak tahu apa yang bisa membuat seorang anak tenang.

Masa kecilnya tak bisa dijadikan patokan.

"... percaya padaku? Sakura tidak akan suka dengan Sarada yang seperti ini."

Sayup-sayup, Naruto mendengar ucapan Ino. Kesadaran segera menerpa. Cara Ino menenangkan Sarada tak jauh berbeda dari Naruto. Yang membedakan hanya ia yang telah mendapat kepercayaan sang gadis belia. Sedangkan Naruto? Ia telah kehilangan kepercayaannya. Semua itu karena insiden tiga bulan lalu.

"Sarada?"

Lamunan Naruto baru benar-benar buyar ketika suara baritone familier tertangkap indra pendengarnya. Sasuke tiba-tiba sudah berada di dekat mereka. Tubuh jangkungnya membungkuk, kedua tangan meraih bahu ringkih sang putri. Netra hitam dan ungu mengedar guna mengecek kondisinya. Sesaat kemudian, Sasuke mengangguk. Kepala Sarada diusap pelan.

"Kau baik-baik saja."

Bibir Sarada masih melengkung ke bawah. Ia merengut tidak suka, kedua matanya mengerling pada Naruto sebelum ia beranjak pergi ke dalam sana. Manik hitam menatap dengan penuh antipati. Aura permusuhan seolah mengelilingi.

Tidak ada yang menghentikan Sarada.

Naruto sendiri masih terdiam di sana. Terpaku oleh kegamangan. Baru tadi malam ia bertekad untuk mengubah keadaan Sarada. Sedangkan sekarang?

Memikirkannya lebih lama akan membuat Naruto mundur dan kembali diterpa hantaman rasa bersalah. Ia berusaha menata diri dan memantapkan hatinya. Konsekuensi ini harus ia tanggung. Berbagai jenis konflik sudah pernah dilaluinya. Kesalahpahaman seorang gadis belia takkan menjadi masalah besar--seharusnya.

Manik biru kristal bergulir pada sang tamu. Senyuman ramah dilengkungkan.

"Terima kasih banyak, Ino. Setidaknya sekarang dia tidak menangis," ungkap Naruto sedikit bergurau.

Ino terlihat tidak setuju. Ia menggeleng pelan. Matanya ikut tertuju pada Sasuke yang berdiri di samping Naruto, berhasil menangkap sorot melunak yang tidak biasanya berada di sana. Sejak dulu, Ino tidak pernah melihat seorang Uchiha Sasuke serileks ini. Sasuke selalu tampak terjaga. Ia bahkan begitu jarang terlihat mencoba bercakap-cakap dengan putrinya sendiri. Sedangkan tadi?

Kehadiran Naruto seolah mengubahnya. Naruto mungkin sudah berada di Konoha sejak beberapa bulan lalu. Tapi, Ino tahu kalau hubungan keduanya tidak semulus itu. Dengan kondisi yang menjerat mereka ... Ino mengerti. Meski ia juga mendengar banyak gosip di sana sini, termasuk yang juga dikatakan oleh Temari.

Helaan napas pendek terselip dari bibirnya.

"Semua ini karena pertengkaranku dengan Shikamaru. Aku sangat minta maaf," ujar Ino dengan nada menyesal. "Kalau saja dia tidak mendengarnya--"

"Maka aku akan terbebani karena terus membohonginya," tukas Naruto lugas. Ia menepuk bahu Ino, menampilkan senyum separuh. "Kau membantuku, sungguh. Ide Sasuke untuk menyembunyikan fakta itu benar-benar jelek. Yang harusnya minta maaf padaku adalah dia. Kau dengar, Teme?"

Di saat seperti ini pun Naruto masih bisa memaafkan orang lain tanpa pamrih. Ino tidak tahu lagi dengan perilaku Naruto. Apakah wanita muda ini tidak punya rasa egois? Hidupnya selalu didedikasikan untuk orang lain.

Ucapan Naruto hanya dibalas gumaman tidak jelas oleh Sasuke. Ia malah menawari Ino untuk masuk.

Tumben sekali.

Sihir apa yang dirapalkan Naruto pada patung berjalan ini?

Ino menekan rasa penasarannya. Ia akan dengan senang hati bertamu di kediaman sang Hokage dan mencecar banyak informasi pribadi Naruto. Bilur kemerahan yang sedikit tampak di kerah tinggi pakaian Naruto membuat Ino sangat penasaran. Ia yakin tadi malam telah terjadi peristiwa bersejarah.

Uchiha Sasuke hampir selalu menjadi perbincangan para wanita semenjak ia menjabat menjadi Hokage. Sifat dingin dan pembawaan misteriusnya selalu menarik perhatian kaum hawa. Intensitas itu hanya semakin bertambah ketika ia kembali ke desa dengan penampilan yang semakin memanjakan mata.

Ino mungkin cinta mati dengan Sai. Tapi, mengapresiasi ciptaan Tuhan adalah perkara lain. Selain itu, ia senang menyediakan bahan pembicaraan untuk para perempuan di luar sana. Lumayan, mereka yang berjualan jadi bersedia memotong harga belanjaan untuknya.

Disebut menjual teman sendiri?

Duh, dia itu oportunis.

Kesibukannya sekarang benar-benar sangat disayangkan. Tawaran Sasuke harus ia tolak.

"Kapan-kapan saja," ujarnya selagi mulai beranjak. Kandungan di perutnya sudah mulai membesar. Ia tidak merasakan dua pasang mata yang sempat memandangi perutnya, terlalu sibuk mempertimbangkan kerugian gosip terbaru yang ia lewatkan dengan menolak tawaran ini. "Lebih baik kau pastikan Naruto untuk tetap di sisimu, Sasuke! Dia membuatmu terlihat lebih manusiawi."

Ucapan Ino cukup menggelitik telinga Naruto. Ia mengerutkan dahi samar, bergumam, "Dia pikir aku pawangmu?"

Sasuke masih menatap kepergian sang Yamanaka. Sibuk membayangkan Naruto dengan perut membesar. Rambut pirang panjangnya membingkai punggung. Jika disibak ke depan akan menutupi kedua gundukan sintal yang begitu menggemaska--

Baik, ia harus berhenti.

"Mungkin," timpalnya tak acuh.

Naruto merengut. Ia hendak berbalik ke dalam ketika Sasuke menahannya pergi. Perubahan emosi Naruto terasa sangat drastis. Tidak biasanya ia tidak balik menambah gerutuan ataupun komentar sinis. Awan pekat seolah mengelilinginya.

Sasuke tahu akar masalah ini.

"Jangan terlalu menghawatirkan Sarada."

Mereka berhadapan. Tinggi Naruto hanya sedikit mencapai hidung Sasuke meski Naruto tergolong semampai untuk ukuran perempuan. Perbedaan tinggi sekitar lima belas senti ini awalnya sangat menganggu Naruto karena dulu ia terbiasa sejajar dengan Sasuke, dengan bantuan Henge tentunya. Untuk sekarang ia mencoba agar terbiasa.

Kepalanya sedikit mendongak.

"Aku tidak khawatir," elaknya. Ia masih merengut. "Hanya ... entah. Mengembalikan kepercayaannya akan sulit. Dia mirip sekali denganmu. Keras kepala."

Sasuke hampir meringis.

"Kau ingin aku minta maaf?" tawarnya.

Manik safir bergulir tak habis pikir.

"Sudah terlambat sepuluh tahun, kalau kau lupa. Lebih baik kau bantu aku membujuk Sarada. Dia pasti takkan mau sarapan."

Pintu rumah ditutup. Sasuke mengikuti Naruto yang berjalan ke dapur.

"Dia tidak suka tomat," ujar Naruto tiba-tiba.

Sasuke segera menoleh. Keningnya mengerut. "Maksudmu?"

"Tidak bisa kusogok," keluhnya. Ia menoleh, mata safirnya seolah menyalahkan Sasuke. "Kenapa kau tidak mewariskan obsesi abnormalmu terhadap tomat itu? Malah sifat-sifat merepotkan yang diturunkan."

Sasuke membantu Naruto memindahkan nasi yang telah matang. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak menarik pipi bercap tiga garis unik itu dengan jemarinya.

"Mana kutahu. Menurutmu kita bisa menentukan gen mana yang bisa diturunkan seperti mengatur stat karakter gim?"

Seruan mengaduh terhenti. Naruto menoleh dan mengerjap dengan polosnya.

"Gim? Kau senang bermain gim?"

Dahi tak bersalah mendapatkan jentikan yang lumayan keras. Naruto kembali mengoceh sambil mengancam Sasuke dengan sudip, seolah alat masak itu bisa melukai sang Uchiha. Sebaliknya, kejengkelan Naruto hanya menambah hiburan untuk Sasuke. Mereka masih saling gurau sebelum sebuah ketukan lain di depan sana menginterupsi. Sarapan pagi telah selesai disiapkan. Naruto hendak ikut membukakan pintu ketika ia menangkap handuk yang dilemparkan Sasuke padanya.

"Mandi."

Naruto kelihatan enggan. Ia ingin menemui tamu mereka. Identitas chakra itu dikenalnya dengan baik.

"Aku belum tahu perkembangan informasi. Shikamaru pasti ingin melapor--"

"Kau bisa tanya padaku nanti," tukas Sasuke selagi mendorong Naruto ke depan pintu kamar mandi.

Keengganan masih terpatri di manik safir.

"Tapi--"

"Perlu kumandikan?"

"Tentu saja tidak!" timpal Naruto langsung. Telinganya sedikit memerah. Ia menendang tulang kering Sasuke. "Awas saja kau berkata macam-macam seperti ini di depan Sarada," ancamnya dengan sengit. Meski begitu, ia tidak menolak kecupan di kening atapun memprotes ketika dibukakan pintu kamar mandi.

"Aku serius, Sasuke!" serunya ketika pintu ditutup.

Sasuke hanya mengibaskan tangan selagi berbalik pergi. Ia mungkin masih diliputi rasa senang akan mereka yang sudah baikan, tapi kehadiran Shikamaru juga membuatnya harus kembali menghadapi kenyataan. Mengingatkannya akan kemungkinan letusan perang yang bisa terjadi kapan saja.

Ah, ya, ia juga punya misi menemukan lokasi si alien sialan itu 'kan?

Pintu rumah dibuka. Shikamaru berdiri dengan wajah yang masih sama lesunya seperti tadi malam. Sasuke yang tidak tega segera mempersilakannya duduk dan memberikan teh herbal yang biasa dipaksakan Kakashi padanya. Mata gelap Shikamaru mengerling bingung, tidak menyangka akan perlakuan Sasuke yang peduli padanya.

Peduli dalam konteks benar-benar peduli meski ia tidak berada dalam kondisi hidup-mati.

Temari punya persedian teh yang sama di rumah. Shikamaru selalu menolaknya kalau ia tidak merasa benar-benar membutuhkan, berbeda dengan sekarang.

Gelas berisi minuman pahit itu segera ditenggak habis. Setidaknya dengan begini ia tak perlu merasakan rasa pahitnya lama-lama seperti ketika mengonsumsi pil prajurit. Gelas diturunkan di atas meja kaca. Semua materi diskusi dialihkan untuk sementara karena Shikamaru tak kuasa untuk bertanya, "Apa yang sudah dilakukan Naruto? Tumben sekali kau terlihat sedikit lebih manusiawi."

Ikatan antara murid Asuma sepertinya tidak boleh diremehkan. Sejak dulu, tim asuhan cucu sang Sandaime memang sering dinilai paling solid di antara dua tim yang lain. Terima kasih untuk fomasi legendaris leluhur mereka.

Sasuke menahan diri untuk tidak mendengkus keras. Ia hanya menghela napas rendah. Tak menyangka kalau tindakan remehnya terlihat begitu mencolok. Apakah dulu dia seburuk itu sampai tidak pernah mencoba untuk ... membantu?

Naruto akan menceramahi Sasuke seharian penuh untuk menjawab pertanyaan ini.

Ia jelas tidak akan bertanya pada Naruto.

Sindiran Shikamaru diabaikan. Sasuke menopang sebelah kaki di kaki yang lain. Salah satu tangannya mendarat di atas lutut.

"Perkembangan informasi?" tanyanya

Basa-basi telah selesai. Shikamaru segera menanggapi. Ia mengambil sebuah gulungan surat dari saku sebelum menyerahkannya.

"Surat dari para Kage. Mereka setuju dengan rencanamu."

Ah, ya, rencana. Sasuke hampir lupa.

"Kita bicarakan di ruang kerjaku saja. Jangan di sini."

Tanpa bertanya pun Shikamaru mengerti. Ia sempat berpapasan dengan Ino yang memberitahukan keberadaan Naruto di rumah Sasuke.

Naruto masih belum bisa mengetahui ini.

Sasuke belum ingin Naruto tahu.

Bagaimana jika Naruto tahu?

Pertanyaan tersebut disimpan dalam-dalam oleh Shikamaru.

Mereka berjalan ke sebuah ruangan yang berada di depan kamar utama. Sasuke menutup pintu setelah keduanya masuk. Segel pengaman diterapkan setelah membuat sebuah segel tangan dan menepukkannya pada dinding. Ia kemudian menjauhi dinding dan duduk di kursi meja kerja, mulai membaca surat yang dikirimkan para Kage.

Netra Shikamaru mengedar, memperhatikan kilau segel yang masih belum sepenuhnya pudar. Teknik ini biasa digunakan untuk mencegah kebocoran informasi. Sebuah segel kedap suara. Yang mengembangkan adalah Orochimaru, dengan kunci yang hanya dapat dibuka oleh si perapal teknik, sedikit sama seperti cara kerja segel penekan chakra. Penerapannya banyak digunakan di gedung administrasi bagian informasi khusus.

Jika sudah menggunakan segel seperti ini, artinya Sasuke tidak main-main untuk tetap merahasiakan rencana mereka.

"Naruto akan tetap tahu dari orang lain meski kita menutupinya," tutur Shikamaru. "Dia bukan seseorang yang akan langsung menyerah sebelum mendapatkan apa yang diinginkan."

Gulungan surat tersebut digulung tertutup. Netra gelap Sasuke mematri Shikamaru, memberi sedikit peringatan untuk tidak membahas lebih lanjut. Topik tentang 'rencana' dan 'Naruto' sudah tidak ingin dibahas olehnya. Ia hanya ingin mendengar kelanjutan laporan perkembangan keadaan yang akan diutarakan sang penasihat.

Merasa tahu diri dengan batasan yang tidak bisa ia lewati, Shikamaru memilih untuk menurut saja. Bibirnya mulai berkata-kata, memberi tahu informasi terkini yang hanya mengingatkan banyaknya beban di pundak mereka.

Asumsi Sasuke dan Shikamaru mengenai jumlah korban yang terus bertambah nyatanya benar. Mereka sekarang sedang memeriksa lokasi gudang penyimpanan senjata untuk memastikan berapa banyak peralatan yang tersisa. Pusat Tenaga Listrik yang rusak parah juga sudah harus mulai ditangani. Masalah habisnya persedian bahan obat-obatan mengikuti laporan tersebut. Mereka butuh mengirimkan pasukan untuk mencari bahan-bahan medis yang diperlukan. Jika tidak, hanya sedikit shinobi yang bisa bertugas karena sebagian besar dari mereka takkan bisa pulih tanpa bantuan obat.

Bibir Sasuke mengatup rapat.

"Kira-kira berapa banyak orang yang selamat dan layak bertugas?"

Shikamaru mengerutkan kening samar, mencoba mengingat kuantitas yang sudah menurun drastis.

"Data seluruh Shinobi Konoha sebelum penyerangan kurang lebih mencapai 20.000 orang; 2000 veteran perang yang tak lagi aktif dan 5000 shinobi aktif dan terlatih. 3000 yang lain masih dalam pelatihan dan cukup bisa diandalkan. Sisa 3000 orang bekerja di bagian non kombat sedangkan 7000 lain berupa chuunin,ninja pengembara, dan nukenin," jelas Shikamaru. Ia memberikan gulungan lain berisi catatan kasar kepada Sasuke.

"Kita punya dua ribu shinobi kelas jounin yang terluka serta tiga ribu shinobi yang meninggal dunia. Para jounin yang terdata aktif hanya tinggal beberapa. Mungkin tidak sampai seratus. Kita sekarang hanya punya chuunin dan ninja pengembara di luar sana, mereka yang punya kemampuan ninja tapi tak lagi ingin menggunakannya kecuali untuk panggilan perang. Keadaan ini akan menyulitkan penugasan misi," tambah Shikamaru.

Gulungan berisi data yang barusan diberikan Shikamaru segera dialihkan oleh Sasuke. Ia mengambil sebuah perkamen kosong dan menuliskan sesuatu di sana. Entah apa yang ditulis, namun Shikamaru sempat melihat Sasuke menorehkan tanda tangan dan cap ibu jari dari darah. Ia kemudian menggulung dan melemparnya pada Shikamaru di seberang meja.

"En Oyashiro dan Shojoji, mereka adalah nukenin yang menguasai dunia bawah ataupun orang yang bekerja di bayang-bayang," ungkap Sasuke menjelaskan. Ekspresinya sedikit kaku, seolah tidak ingin mengingat dua orang itu.

"Oyashiro senang mengoleksi pemilik kekkei genkai. Sedangkan Shojoji adalah ketua Bandit Mujina, kelompok kriminal dunia bawah yang sering merampok bank-bank dan para pejabat negara. Mereka menguasai dunia kotor di sana," lanjut Sasuke, tak repot-repot mengingat 'kenalan' yang pernah ditemuinya bertahun-tahun lalu. "Berikan surat itu pada mereka di Desa Bambu, Yugakure. Mereka akan mengembalikan para 'ninja pengembara' pada kita."

Shikamaru mengerutkan kening seraya menyipitkan mata.

"Kau ingin menarik nukenin kembali ke desa?" Nada heran di suara Shikamaru terdengar dengan jelas. "Para tetua akan menolaknya."

Dengkusan tak bisa ditahan Sasuke. Orang-orang tua itu sudah membuatnya muak sejak zaman entah kapan.

"Mereka belum mati?"

Shikamaru hampir kelepasan untuk mengatai ketidaksopanan sang 'Hokage'. Jika yang mengatakan ini adalah Naruto--ia sudah bisa membayangkannya karena kadar kekurangajaran Naruto cukup setara dengan Sasuke--ia pasti sudah mengetuk kepalanya keras-keras. Sedangkan untuk kasus Sasuke, Shikamaru hanya berdeham pelan.

"Mereka hanya terluka."

Pertanyaan tadi jelas hanya berupa selingan. Pada dasarnya, Sasuke sama sekali tidak peduli. Ia mengabaikan jawaban Shikamaru dan malah menjelaskan alasan kenapa para nukenin ini dibutuhkan.

"Konoha membutuhkan tenaga mereka untuk mencari pasokan bahan-bahan medis dan perbaikan kerusakan, termasuk Pusat Tenaga Listrik seperti yang tadi kau bilang. Kita juga butuh banyak cadangan chakra untuk menguatkan barrier. Mereka akan kita manfaatkan."

"Maksudmu penggunaan teknologi pengumpul chakra itu?"

Sasuke mengangguk singkat.

Pembicaraan selesai dengan Sasuke yang berujar akan menyusul Shikamaru ke Hokage Tower nanti. Mereka keluar dari ruang kerja Sasuke dan segera berhadapan dengan Naruto yang baru saja keluar dari kamar utama. Rambut pirang panjangnya masih terlihat basah, sedangkan wajahnya terlihat lebih segar. Netra biru kristal sedikit melebar kala mendapati kehadiran Shikamaru. Ia sudah hendak membuka mulut serta mencekal lengan sahabat baiknya ini ketika Sasuke menahannya, membuat Shikamaru beranjak dengan bebas.

Naruto berseru memanggil, meminta Shikamaru untuk tinggal sebentar untuk mengobrol. Sayangnya, si pengguna jutsu bayangan hanya mengibaskan tangan dan meminta Naruto untuk menjaga kesehatan. Komentarnya membuat darah Naruto cukup mendidih. Ketika sosok itu pada akhirnya keluar rumah, Naruto menginjak kaki Sasuke keras-keras sehingga pegangannya di lengan Naruto lepas.

"Kau kenapa, sih? Khawatir aku jadi istri kedua Shikamaru?"

Kata istri kedua sedikit membuat mata obsidian melebar. "Apa?"

Tiba-tiba otak Sasuke jadi macet mendadak. Pelototan Naruto tidak diperhatikan. Begitu pula rasa geramnya. Naruto berdecak pelan, "Lupakan. Aku hanya ingin informasi terbaru. Kau sudah berjanji tadi malam."

Menghentikan Naruto dari rutinitas sebagai seorang shinobi memang mustahil. Kilat tekad di netra biru kristalnya adalah sebuah bukti nyata. Sasuke amat mengagumi hal itu, tapi di sisi lain ia juga tidak ingin Naruto terlibat. Setidaknya, tidak sekarang.

Naruto mengerti maksud Sasuke. Ia mengehela napas pendek, membuang muka sesaat, sebelum kemudian mendongak. Matanya menatap manik hitam yang sedikit menampakan rasa khawatir.

"Ne, Sasuke. Kau tahu kenapa aku menyembunyikan identitas diriku sebagai wanita?" Ia bertanya dengan nada rendah, menuntut jawaban dari seseorang yang berdiri di hadapannya. Ketika hanya sorot mata kosong yang terlihat, Naruto tersenyum masam. Ia mengedarkan pandangan, seolah menahan rasa geli sekaligus muak. Ketika kembali menatap, ia berujar, "Dianggap lemah. Aku tidak pernah menginginkannya. Dengan kondisiku yang selalu dicemooh, orang-orang akan semakin memandangku rendah karena aku seorang perempuan. Bocah rubah, pembunuh, perempuan tidak berguna. Julukan-julukan itu, aku setidaknya ingin mengurangi."

Suara Naruto semakin pelan di tiap katanya. Ia masih berbicara, dengan percikan memori yang mulai menari-nari di dalam kepala.

"Sampai saat itu, di hari pertama masuk akademi, anak-anak baru langsung diarahkan ke lapangan untuk latihan fisik. Tujuannya untuk melihat kemampuan awal para murid. Dari sini, Iruka-sensei memberi tahu kalau anak laki-laki unggul dalam kekuatan, kemudian ..." Mata Naruto tiba-tiba menyipit. Ia membasahi tenggorokannya, masih menatap Sasuke lurus. "... kemudian kau berdiri di depan sana, dengan nilai tertinggi, bergumam bahwa perempuan memang lemah dan butuh pertolongan hampir di tiap saat. Soalnya kau sempat menolong Sakura yang jatuh waktu berlari."

Oksigen dihirup dalam-dalam, Naruto terlihat menahan gejolak emosi.

"Itu awal kejengkelanku padamu. Sangat sangat jengkel. Kenapa? Karena kau bersinar dengan begitu sialan dan kau langsung merendahkanku secara tidak langsung karena aku seorang perempuan. Kalau aku menantangmu, orang-orang akan lebih dari tertawa. Kau tidak mengakui kemampuan seorang perempuan. Kau juga pasti takkan mau menganggapku teman dan akan menilaiku sebagai salah satu dari penggemarmu."

Naruto masih belum berhenti mengoceh. Ia kini merengut. "Sekarang, dengan aku yang sudah membuktikan bahwa kita seimbang, kau masih mau menganggapku lemah karena mengandung? Karena aku seorang perempuan yang harus selalu ditolong?"

Napasnya kini memburu, kilatan marahnya juga terlihat sangat kentara. Naruto membuang muka dan mendengkus keras.

"Kau sama sekali tidak berubah. Tetap bajingan."

Sasuke termangu. Tidak siap dengan penjelasan sepanjang itu. Mengenai alasan mengapa Naruto menyembunyikan identitasnya. Ia selalu ingin tahu. Setelah mendengar langsung, kini ia bisa menyimpulkan bahwa alasan Naruto menyembunyikan identitasnya ternyata masih menyangkut ... dia sendiri?

Langkah kaki yang mulai beranjak membuat Sasuke menyusulnya. Perubahan suasana hati Naruto benar-benar ekstrim. Ia mudah sekali bercanda dan tertawa, tapi dalam kejapan mata ia sudah tersulut marah seperti ini. Sasuke tahu sesuatu mengenai mood swing seorang wanita hamil, tapi dulu Sakura tidak separah ini.

Atau ... Sasuke saja yang tidak terlalu memperhatikan.

Berbeda dengan Naruto.

Mereka berjalan ke arah dapur. Sasuke mengembuskan napas pendek selagi mencoba memutar otak untuk mengembalikan kewarasan Naruto. Bukan karena gila. Tapi ... begitulah. Panggilannya bahkan sama sekali tidak digubris. Naruto masih sibuk dengan piring-piring dan wajan. Mulutnya terkatup rapat. Telinganya seolah tidak mendengarkan.

Wanita pada umumnya akan sangat tersanjung ketika sang kekasih ingin mencoba melindunginya.

Naruto sama sekali tidak umum.

Ia tidak senang dilindungi.

Terkutuklah sindrom pahlawan yang selalu melingkupinya. Sasuke takkan bisa menghilangkan insting itu dari diri Naruto. Jiwa shinobinya terlalu kuat.

Bujukan biasa ataupun bentakan takkan menyelesaikan masalah. Sasuke menyerah. Ia bersender pada counter dapur. Matanya menatap sosok semampai yang sibuk dengan makanan mereka.

"Korban yang tewas sudah mencapai tiga ribu orang."

Ucapan Sasuke berhasil menarik perhatian Naruto. Aktivitasnya pun terhenti dengan tiba-tiba.

"Dua ribu luka-luka. Pasokan bahan baku medis juga berkurang drastis. Kita kekurangan banyak sumber daya seperti yang sudah kau perkiraan."

Naruto meletakan piring yang dipegangnya. Ia memutuskan untuk berbalik dan merespon ucapan Sasuke. Kerongkongannya terasa kering ketika menatap manik obsidian yang tak kelihatan berbohong. Berbagai rangkaian pertanyaan sudah hendak diucapkan kalau saja Sasuke tidak menyela.

"Sedang kuatasi. Aku sudah memberi perintah untuk menangani kekurangan sumber daya. Kau tidak perlu ikut mengkhawatirkannya. Bukankah kau percaya padaku?"

Nada bertanya Sasuke membuat Naruto mengatupkan mulut. Tak jadi untuk membuka suara. Bahunya merosot. Ia menatap lantai dengan tidak nyaman. Kecamuk dalam dirinya masih tetap ada meski ia sudah mencoba merelakan untuk benar-benar lepas terhadap kepentingan desa.

"Jika caraku tidak membuahkan hasil, aku akan meminta saranmu," tambah Sasuke. Ia beranjak mendekat, meraih dagu Naruto agar mereka bisa bersitatap. "Aku tangan kananmu 'kan? Kau sedang tidak bisa bertugas sekarang, jadi aku yang turun ke lapangan. Sama seperti dulu."

Naruto mengerjap. Ekspresinya masih kaku.

"Kau tak lagi memperlakukanku dengan cara yang sama setelah tahu kalau aku perempuan."

"Apa yang berbeda?"

Wajah sok tidak tahu itu membuat Naruto geram. Ia mengalihkan jemari Sasuke dari dagunya dan mengembuskan napas kasar.

"Yang berbeda? Hampir semuanya. Mulai saat kau tak membolehkanku menangani Okumura, menentangku yang pergi dari Konoha untuk menahan para bijuu, kemudian ini--aku yang tidak boleh ikut campur keadaan darurat kita. Kau seolah tidak ingin aku bertugas lagi. Jika kau tetap seperti ini--"

"Kau khawatir kalau aku memintamu berhenti menjadi kunoichi?" timpal Sasuke, pada akhirnya mengerti.

Masalah Naruto terlihat begitu jelas, terutama tentang alasan mengapa ia terlihat ragu ketika menerima fakta bahwa orang-orang mengetahui identitas aslinya. Dunia shinobi didominasi oleh para lelaki. Mereka akan tetap aktif hingga ajal menjemput. Tidak seperti para kunoichi yang sering berhenti bertugas setelah berkeluarga dan memiliki anak. Jika ingin tetap aktif, mereka akan lebih memilih untuk tetap menyendiri, seperti Tsunade dan juga Kurotsuchi, sang Mizukage.

Uchiha Mikoto, ibu Sasuke sendiri memilih untuk berhenti menjadi jounin aktif setelah berkeluarga. Begitupula dengan Uzumaki Kushina. Naruto tampak tidak ingin menerima kenyataan yang sama. Ia masih ingin bertugas. Keadaan yang berada di luar kendalinya, dengan ia yang hamil, benar-benar membuatnya khawatir sampai menyalahartikan kepedulian Sasuke.

Ekspresi muram yang dilihat Sasuke sudah cukup mengonfirmasi dugaannya. Ketika Naruto membuka mulut, Sasuke pun semakin mengerti.

"Ino mengurus rumah kaca untuk keperluan toko bunganya, Sakura bertugas di rumah sakit, Tenten berjualan senjata, Hinata dan Temari menjadi ibu rumah tangga. Aku tidak bisa begitu."

"Siapa yang menyuruhmu menjadi seperti mereka?"

Naruto mengerjap. "Apa?"

Menghadapi Naruto benar-benar membutuhkan kesabaran ekstra. Ia menjentik dahi perempuan ini dengan gemas.

"Dengar, Usuratonkachi. Jangan menyela," tutur Sasuke memperingati. "Kau dan mereka berbeda. Jauh berbeda. Bidangmu hanya dalam lingkup misi shinobi. Memangnya kalau kau mau berhenti bertugas, kau mau jadi apa? Penjual ramen?"

"Enak saja--"

"Kubilang jangan menyela, Idiot," timpal Sasuke datar. "Kau harus tetap bertugas, membantuku, bertanggung jawab atas tugas merepotkan yang sudah kau timpakan padaku. Yang seharusnya jadi hokage itu kau bukan aku. Setelah perang ini, kau akan bekerja denganku di kantor, sebagai Hokage."

Kini Naruto benar-benar menganga. Tak bisa menjawab apa pun.

"Hah?"

Sasuke hanya mengerling sekilas. Ia kemudian mengambil alih kegiatan Naruto yang tertunda. Nasi dan lauk pauk itu ia pindahkan ke atas piring-piring saji, memunggungi Naruto yang masih memproses ucapannya.

"Konoha melihatku sebagai Hokage mereka. Tapi, kau akan tetap jadi Hokage untukku."

Naruto mengerjap. Ia segera menutup mulutnya dan buru-buru menoleh, memiringkan kepala sampai berhadapan dengan Sasuke. Mata biru kristalnya membeliak, terkejut.

"Barusan kau menggombal?"

Piring yang sedang dipegang segera diletakkan. Sasuke menatap manik biru kristal yang berada hanya beberapa senti saja dari wajahnya. Ia bahkan sampai bisa merasakan embusan napas Naruto dan harum jeruk dari rambutnya.

"Memangnya itu gombalan?"

Kening Naruto mengerut samar. Ia kemudian mengangguk.

"Tidak salah lagi. Kalimatmu terdengar bullshit."

Sasuke menaikkan sebelah alisnya. Ia kemudian sedikit menunduk dan mengecup ringan bibir merah muda yang sejak tadi cukup mengganggunya.

"Masih terdengar bullshit?"

Mata safir mengerjap. Ia kemudian mendengkus dan tertawa, memalingkan wajahnya yang sedikit terasa panas. Ketika kembali menatap, Sasuke sedang tersenyum separuh. Senyum itu mencapai matanya. Naruto jelas tak bisa untuk tak balas tersenyum. Dadanya terasa sangat hangat.

"Tingkat keberengsekanmu bertambah pesat sekali," komentar Naruto. Ia membawa bekas wajan dan alat masak ke atas wastafel sebelum kembali menghadap Sasuke. "Tapi, sungguh, kau bersikap seolah kau ingin aku berhenti menjadi ninja. Kau menyinggungku. Tapi, kau memang selalu menyinggungku sih. Jadi seharusnya tidak apa-apa. Hanya saja, ini sangat menganggu. Kau dengar, aku tidak suka dianggap lebih rendah darimu--"

"Ingin coba sparring?" timpal Sasuke dengan nada datar. Ia meraih tangan Naruto, membuka segel penekan chakra sepenuhnya. "Aku harus ke Hokage Tower setengah jam lagi. Kalau kau benar-benar ingin, kita tak punya banyak waktu."

Tawaran tersebut cukup mengobati rasa jengkel Naruto. Ia menyeringai dan mengusap pergelangan tangan yang tadi terasa sedikit panas. Dirasakannya chakra yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia mendongak, menatap Sasuke dengan mata berbinar.

"Kau yang terbaik," ocehnya sebelum beranjak untuk membawa nampan berisi makanan. "Sayangnya aku sedang tidak fit hari ini. Tahun depan saja."

Naruto kemudian beranjak dari dapur ke sebuah kamar yang tertutup, kamar Sarada. Senyum lebarnya masih terngiang di kepala Sasuke. Lelaki itu mendengkus menahan tawa, kemudian menyambar porsi sarapannya sendiri. Naruto jelas-jelas lebih mengutamakan Sarada daripada dirinya. Tadi pagi ketika baru bangun, ia sudah bertanya banyak tentang Sarada. Mulai dari kebiasaan hingga apa saja yang disukai selain daging sapi. Sasuke menjawab seadanya, dengan ia yang masih bermain-main dengan rambut panjang Naruto.

Di akhir obrolan tentang Sarada, Naruto memintanya tidak ikut campur dulu sampai kemarahan Sarada pada Naruto reda. Ia juga melarang Sasuke membelanya di depan Sarada.

Jadi, daripada kelepasan dan menasihati sang putri dengan cara yang tidak dikehendaki Naruto, Sasuke memilih untuk tetap di sini. Ia makan sarapan selagi memikirkan misi, memikirkan Kakashi. Rasa khawatir masih menyusupi. Jauh dalam hatinya, Sasuke sangat menginginkan kehadiran sosok itu di sini, bersama mereka. Selama ini, Kakashilah yang hampir selalu ada ketika Naruto tiada. Ia juga selalu memberi tahu kondisi Naruto di rumahnya tanpa perlu ditanya Sasuke.

Bantuan Kakashi pada Sasuke besar sekali.

Embusan napas panjang dilepaskan. Sasuke menyelesaikan makan sebelum bersiap-siap menuju Hokage Tower.

Sesuatu sedikit mengusiknya, mengenai kemampuan Urashiki yang mampu memanipulasi dimensi dan waktu. Bagaimana hasil dari gabungan jutsu tersebut? Pada penyerangan satu dekade lalu, sosok ini tidak memunculkan diri. Momoshiki sepertinya sudah tahu bahwa Sasuke telah menandai semua dimensi yang sudah dihampiri olehnya sehingga memutuskan untuk menggunakan kekuatan Urashiki.

Manipulasi waktu sangat membahayakan. Semuanya akan kacau kalau Sasuke kembali terkena teknik pendingin waktu. Begitu pula dengan yang lain. Dengan teknik sebagus itu, apa saja kelemahannya? Urashiki hanya menggunakan teknik tersebut di saat-saat tertentu. Jadi, konsekuensi penggunaannya pasti tidaklah ringan, 'kan? ]

TBC