WARRIOR FROM THE HEAVEN
Chapter#38
BATTLE ROYALE DIMULAI
Rate: T
Genre: Fantasy, Adventure, Action, Romance, Drama, Martial Art
Warning: Typo, gaje mungkin, masih jauh dari kata sempurna, OOC
Don't Like Don't Read
Jangan lupa review, favorite follow!
Summary:
Kehilangan kedua orang tuanya menyebabkan dampak besar bagi kemampuan Naruto. Dia kini dirawat oleh salah 1 dan 4 klan sihir terbesar di Kerajaan Konoha, klan Hyuuga dan demi membalas kebaikan klan, mampukah ia membawa klan Hyuuga menjadi klan terkuat.
.
.
.
.
.
.
Chapter sebelumnya:
"Setiap Kerajaan akan mengirim 10 murid untuk bertanding di dalam battle royale yang akan diadakan di hutan kematian Konoha!"
Jumlahnya benar benar mengejutkan Naruto dan teman temannya yang berdiri tak jauh darinya. "Setiap perwakilan tak hanya harus bertarung melawan murid dari Kerajaan lain namun juga harus bertahan hidup dari Magical Beast yang ada di dalam hutan.."
"Hmm.. jadi total 50 orang di dalam wilayah hutan kematian Konoha," gumam Sai sambil mencubit dagunya.
"Hutan itu bukannya wilayah hutan berdiameter 4 km yang berada di bagian dalam Akademi..? Bahkan wilayahnya diberi sebuah pagar besar sebagai pembatas keluar masuk hutan tersebut…"
.
.
"Kalau begitu… sampai jumpa di latihan pagi ini, niisan…"
Setelah mengucapkannya, Hinata membalikkan tubuhnya lalu keluar dari kamar Naruto tanpa mengucapkan apapun setelahnya. Sedangkan Naruto yang sudah ditinggal Hinata selama beberapa detik, sampai sekarang masih mematung di tempatnya dan tak bergerak sedikit pun. Saat saat dia terdiam cukup lama hingga menghabiskan beberapa menit… hingga akhirnya dia perlahan paham apa yang terjadi. Tubuhnya ambruk atau memang sengaja dijatuhkan olehnya di tempat tidur. Lengan kanannya dia gunakan untuk menutupi kedua mata dan kepala bagian atas. Dia kembali terdiam sebelum akhirnya dia bergumam, "Gawat…"
Wajahnya perlahan memerah ketika mengingat apa yang terjadi barusan..
"Kalau begini… mustahil bagiku untuk melupakannya…"
.
.
.
.
.
.
Chapter 38
Naruto sekarang sedang berada di dalam ruangan besar yang cukup megah bersama dengan sepuluh orang yang tak asing lagi baginya karena kesepuluh orang itu adalah teman temannya yang akan berpartisipasi dalam Battle Royale hari ini bersamanya. Latihan keras yang dijalaninya kemarin tentu saja menuai hasil yang sepadan. Dari semua temannya yang ikut serta dalam battle royale, hanya Rock Lee yang masih berada di bawah tingkatan Spirit. Tentu saja sebulan selama Naruto koma setelah mengalahkan Orochimaru, teman temannya sudah berlatih keras. Dan beruntungnya, akibat mengalahkan cloning Orochimaru, tingkatan Naruto juga naik hingga menyentuh Spirit level 8, oleh karena itu dia masih memimpin diatas teman temannya meski dia koma selama satu bulan penuh. Dan setelah latihan keras kemarin, pada akhirnya dia mengalami kenaikan level lagi menjadi Spirit level 9.
Untuk teman temannya, mereka masing masing: Neji (Spirit level 6), Sasuke (Spirit level 6), Shion (Spirit level 7), Sai (Spirit level 5), Shikamaru (Spirit level 5), Temujin (Spirit level 2), Kimimaro (Spirit level 2), Rock Lee (Practioner level 5), Hinata (Spirit level 2).
"Membosankan.." kata Naruto menopang dagu dengan tangan kanannya.
Seakan tidak mempedulikan Naruto, yang lainnnya masih meneruskan kegiatan mereka masing masing di ruangan megah itu. Terlihat Sai masih sibuk dengan gambarnya, lalu Shikamaru masih terlelap di sofa, Sasuke sibuk berkonsentrasi, Neji sibuk dengan buku yang ia baca. Namun sebenarnya ada tiga gadis yang sejak tadi memperhatikan Naruto. Dan ketiga gadis itu adalah dari sudut paling kanan ke kiri, Hinata yang duduk di ujung kanan, setelah itu Naruto duduk di sebelahnya, Shion duduk di sebelah Naruto dan terakhir Shizuka yang entah bagaimana diperbolehkan masuk ke ruangan peserta sebelum dimulainya Battle Royale.
'Kenapa mereka bertiga duduk disini?' tanya Naruto dengan tampang yang sedikit menahan kesal.
"Menyingkirlah, Shion.. Kau akan bersama Naruto-kun lebih lama saat di pertarungan nanti.. jadi biarkan aku yang duduk di sebelahnya.." kata Shizuka dengan ekspresi protes.
"Hah..? Terserah aku mau duduk dimana, lagipula bagaimana kau bisa ada disini? Padahal kau bukan peserta.." kata Shion membalas tatapan tajam Shizuka.
"Aku sudah mendapat izin dari Yahiko-senpai untuk menemani Naruto-kun.."
Pada akhirnya dahi mereka berdua saling berbenturan dengan ditambah sebuah tatapan mematikan ke satu sama lain. Kalau boleh dibilang, sejujurnya keberadaan Shion dan Shizuka sungguh mengganggu ketenangan peserta lainnya. Dan dari semua yang berada disana, tampak Neji, Shikamaru, Sai dan Sasuke terganggu oleh tingkah berisik kedua gadis itu. Temujin, Kimimaro dan Rock Lee yang sejujurnya dipilih untuk menambahkan anggota saja tak bisa protes apa apa. Mereka sudah sadar bahwa kehadiran mereka hanya untuk mengisi tempat di antara 10 peserta perwakilan yang ada.
"K-Kalian semua… Apa kalian sudah siap?" tanya Itachi begitu dia membuka pintu dan melihat keadaan yang membingungkan di matanya. Terutama saat dia melihat Shion dan Shizuka yang bertengkar ditambah Naruto yang mendapat lirikan dingin dari Neji, Sasuke, Shikamaru dan Sai. Bukan karena mereka iri, namun karena Naruto… kedua gadis itu jadi semakin berisik.
"Siap!" entah bagaimana caranya mereka menjawab pertanyaan Itachi barusan secara serentak tanpa adanya aba aba seolah mereka benar benar sudah menunggu pertanyaan itu terdengar di dalam ruangan.
"Kalau begitu, bersiaplah.. ikuti aku!" kata Itachi. Kesepuluh murid itu segera mengikuti Itachi menuju hutan kematian.
Dan sesampainya mereka bersepuluh disana, tepat di depan gerbang masuk hutan kematian yang sangat luas untuk ukuran sebuah hutan yang berada di balik sebuah Akademi Besar Konoha. Di sepanjang tepi hutan dibatasi oleh sebuah dinding dengan tinggi kisaran 5-6 meter ditambah dengan sebuah segel sihir yang melindungi seluruh areal hutan. Tak terbayang betapa besarnya sihir yang digunakan oleh Kaisar Sihir Pertama Konoha untuk menjaga hutan tersebut.
"Aku sudah melihatnya sebelumnya, tapi tetap saja menakjubkan saat kulihat lagi.." kata Sasuke yang kagum pada sihir yang melindungi hutan seluas itu.
"Aku paham.. Sihirnya benar benar tertanam dengan baik, bahkan setelah Kaisar Pertama meninggal.. segel perlindungannya masih tetap ada," tambah Neji juga ikut kagum.
Tak seperti Sasuke dan Neji yang masih terperangah kagum dengan sihir yang melindungi seluruh area hutan, Naruto dan Shikamaru lebih sibuk mengamati lawan lawan mereka lewat sebuah layar sihir yang ada di dekat mereka. Wajar saja bila mereka tak saling tatap menatap dengan lawan mereka, karena kelima pihak akan masuk dari gerbang masuk yang berbeda beda. Setelah sampai di dalam hutan kematian, kemungkinan mereka akan berpencar dalam kelompok kecil 2, 3 atau mungkin 4 orang.
"Oke… Sebelum kita memasuki hutan kematian, semuanya sudah ingat rencananya bukan?" tanya Shikamaru mengambil perhatian teman temannya.
Mereka semua mengangguk begitu Shikamaru bertanya tentang rencana serta pembagian kelompok yang akan berpencar. "Tapi sejujurnya aku masih tidak yakin, apakah pembagian ini tepat untuk kita atau tidak.." kata Neji sambil melirik ke arah seseorang.
"Aku masih tidak bisa menerimanya! Kenapa kau tidak jadikan aku satu kelompok dengan Naruto-kun!?" kata Shion langsung menarik kerah Shikamaru sambil memasang tatapan dingin membunuhnya.
Shikamaru hanya menghela nafas pasrah mendengarnya dari Shion sambil melirik ke arah lain. "Sejujurnya kau ini ingin menang melawan mereka atau tidak sih?" tanya Shikamaru malas.
Shion melepas cengkeramannya dari kerah Shikamaru, lalu menyilangkan kedua tangan tepat di depan dada. "Kita memiliki 6 bakat surga di pihak kita, dan bahkan di pihak mereka paling banyak hanya memiliki 2 bakat surga dalam satu pihak.. yaitu Kerajaan Kumo berisi Samui dan Toneri, sedangkan kita ada 6! Bahkan sejujurnya aku merasa kita tidak adil untuk mereka," kata Shion masih dengan nada yang sama.
"Hooh, jadi kau juga bisa bersimpati dengan lawanmu ya.." kata Shikamaru yang terdengar sedikit memancing konfrontasi.
"Diam.." jawab Shion pelan dengan wajah yang sedikit memerah.
Dan suasana menjadi terdengar seperti sebuah candaan oleh mereka bersepuluh. "Sudahlah, kita turuti saja rencana ahli strategi kita ini.." kata Naruto dengan nada malas.
Kemudian Sai yang sejak tadi diam mulai mengeluarkan suaranya setelah dia melihat bentuk susunan tim yang dipecah oleh Shikamaru menjadi tiga bagian penting. "Jadi, kekuatan tempur utama kita ada pada mereka bertiga ya?" tanya Sai kepada Shikamaru yang kemudian mengikuti arah tatapan mata Sai berada. Ketiga orang yang dimaksud Sai adalah Sasuke, Neji dan Shion.
Mereka bertiga akan jadi tumpuan serangan utama pada tim. "Kenapa Neji dan bukan Naruto saja yang menjadi tumpuan serangan kita..? Sudah jelas bahwa dialah yang terkuat di antara kita, akan bagus bila Sasuke, Naruto dan Shion bersama dalam satu tim.." kata Rock Lee yang berpendapat dengan bentuk susunan tim yang ada.
"Ya.. Aku juga berpikiran sama dengan si alis tebal itu.. atau mengapa tidak ditambah jadi berempat dengan Naruto?" tambah Shion langsung memberikan tatapan iblis kepada Shikamaru. Shikamaru yang mendapat tatapan iblis itu langsung merubah raut wajahnya menjadi panik.
"Tumpuan serangan terkuat kita juga harus memiliki orang yang bisa melihat medan pertempuran dan memprediksi serta mengambil keputusan mengenai serangan yang akan dilakukan.. Sudah jelas bahwa Byakugan dibutuhkan, itu alasan kenapa Neji berada di satu tim yang sama dengan kalian.. Dan untuk yang kedua.. Aku pikir kita tetap membutuhkan keseimbangan dalam tim yang kita buat, maka dari itu Shikamaru membuatku berada di tim lain sebagai pengimbang.." kata Naruto menjelaskan sesuatu yang harusnya dijelaskan oleh Shikamaru.
Dan akhirnya mereka mengerti alasan Shikamaru membentuk tim ini. Kimimaro, Rock Lee, Temujin, Sai akan berada dalam satu tim sebagai tim penyergap. Shikamaru akan menentukan strategi dengan bantuan Byakugan milik Hinata. Lalu Naruto akan menjaga mereka selama mereka mengumpulkan informasi. Dan sebagai tombak utama mereka, Sasuke, Neji dan Shion. Begitulah garis besarnya. Namun meski dengan strategi yang kelihatannya cukup baik, Hinata masih terlihat tidak siap ataupun gelisah dan hal itu diperhatikan oleh Naruto yang sejak tadi berdiri di sampingnya.
"Kau tidak apa apa, Hinata?"
"A-Aku baik baik saja…"
Naruto tersenyum kemudian melihat gadis itu yang terlihat gelisah. "Tenang saja, aku akan menjagamu… jadi kau pasti akan baik baik saja.." kata Naruto sambil mengusap rambut Hinata. Dan gerakan barusan sukses membuat rona merah di wajah gadis itu.
"Grrrhhh.." Ya.. tanpa mereka sadari juga, gadis bersurai pirang pucat yang ada disana menatap mereka dengan tatapan kesal tak suka dengan tingkah laku kakak beradik yang tidak memiliki ikatan darah tersebut.
Lalu entah bagaimana, tiba tiba Naruto teringat bahwa sejak dia bangun, sampai sekarang Kurama belum menjawab panggilannya. Dia benar benar khawatir dengan apa yang terjadi pada Kurama. Setiap malam dia selalu mencoba berkomunikasi dengan roh dalam dirinya itu namun hasilnya selalu nihil. Dia sempat berspekulasi bahwa ini semua akibat dari efek samping dari penggunaan Seven Deadly Sin, yang membuat Kurama terpaksa tidur sementara waktu sambil menahan agar kekuatan itu tidak keluar lagi. Namun justru sebaliknya, Naruto berpikir bahwa akan sangat bagus bila dia dapat mengeluarkan kekuatan itu lagi. Dia bisa berusaha untuk mengontol kekuatan jahat yang bahkan dapat memusnahkan sebuah clon sempurna dari Orochimaru dengan mudah.
'Kurasa tak ada gunanya aku memikirkannya..' batin Naruto sambil memejamkan matanya dan tersenyum pahit. Yang terpenting baginya sekarang adalah mengembalikan keberadaan Kurama dalam dirinya.
Kemudian tak lama setelah itu, seseorang yang merekan kenal datang ke hadapan mereka untuk mengucapkan salam sebelum mereka memasuki hutan tersebut selama dua hari. "Minna.. apa kalian semua sudah siap?"
Dan dari suaranya, Naruto sudah bisa menduga siapa orang yang menyapa mereka disana. "Sara-… senpai.." panggil Naruto yang terdengar hampir memanggil Sara dengan panggilan 'Sara-nee' di depan yang lainnya.
Sara hanya tersenyum mendengar Naruto yang hampir saja memanggilnya kakak di depan yang lainnya. "Ara Ara.. Kalian berjuanglah di dalam hutan kematian.." kata Sara sangat perhatian kepada kesepuluh murid tahun pertama terutama Naruto yang ada disana.
"Ha'i.." jawab mereka serentak.
Di belakang Sara, mengikutinya, Nagato dan Koyuki yang juga penasaran dengan keadaan mereka sebelum masuk ke dalam hutan kematian beberapa saat lagi. "Apa kalian kesini hanya untuk menyapa kami dan memberi semangat sebelum kami pergi?" tanya Neji.
"Ma.. Begitulah.." jawab Nagato sambil menggaruk garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Dimana senpai yang lain? Kenapa hanya kalian yang datang kesini?" tanya Sasuke tidak melihat kehadiran kakaknya, Shisui, Yahiko ataupun senpai yang lainnya disana.
"Mereka sedang sibuk menyambut kelima Kaisar Sihir di ruangan Tsunade-sama.." jawab Koyuki.
Sama hal nya dengan Sara dan Koyuki yang menaruh perhatian lebih ke Naruto, Nagato juga telah menganggap Naruto layaknya adiknya sendiri jadi tentunya dia juga lebih memperhatikan Naruto ketimbang peserta lainnya meski dia sedikit malu untuk mengakuinya. "Berjuanglah, Naruto… Jangan sampai kalah dari mereka.."
"Tidak perlu khawatir… Karena sudah jelas bahwa kami lah yang akan memenangkan Battle Royale ini.." kata Naruto yakin dan optimis disertai dengan senyuman khasnya kepada kakak satu satunya.
Sara, Koyuki dan Nagato melepas rasa khawatir mereka begitu melihat ekspresi Naruto serta kesembilan teman temannya barusan. Dan tak lama berselang, gerbang tempat mereka masuk ke hutan kematian terbuka lebar menandakan kalau sekarang lah saatnya mereka untuk masuk ke dalam.
"Kalau begitu… kami berangkat.." kata Naruto membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam hutan kematian diikuti oleh kesembilan temannya.
.
.
.
.
.
.
Di sisi lain gerbang hutan kematian
Seorang laki laki berambut merah dengan seorang perempuan berambut pirang di samping kanannya yang membawa sebuah kipas besar lalu seorang laki laki yang membawa semacam benda yang terbungkus di belakangnya merupakan peserta dari Kerajaan Suna. Lalu di belakang mereka juga berdiri tujuh murid dari Kerajaan Suna yang meskipun tidak terlihat sekuat mereka bertiga namun terlihat cukup buas dan ganas.
"Kankurou, Temari… kita mulai pembantaian sepihak ini.." ucap laki laki berambut merah dengan nada membunuh serta tatapan mata yang begitu dingin.
"Tentu saja…"
"Akan kutunjukkan siapa diantara para bakat surga yang terkuat…" kata laki laki berambut merah itu sambil mengeluarkan banyak sekali sihir elemen pasir dari sebuah gentong yang ada di punggungnya.
Di lain sisi lainnya hutan kematian
Toneri dan Samui nampak juga sudah memasuki gerbang bersama dengan kedelapan murid Kumo lainnya termasuk seorang gadis berkulit hitam yang membawa pedang dan laki laki berkulit hitam dengan pedang yang sama sedang mengunyah permen karet. "Karui, Omoi.. Kalian bersama dalam satu tim.. Aku akan memimpin 2 anggota perempuan kita.. sisa laki laki akan membentuk satu tim sendiri, sedangkan Toneri akan begerak terpisah sendirian.." kata Samui memberi komando kepada anggotanya.
"Hah.. Bersama dengan Karui lagi, tidak bisakah aku mendapatkan pasangan perempuan yang pantas di anggota tim kita," kata Omoi mengeluh kepada Samui.
"Apa!? Jadi menurutmu aku ini tidak pantas untuk sampah sepertimu!?" kata Karui sambil memukul kepala Omoi dan bersiap untuk melakukan pukulan kedua.
Samui yang melihat aksi berisik mereka berdua langsung memberikan helaan nafas pasrah sambil memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing karena tingkah mereka. "Dan inilah yang menjadi salah satu hal yang membuatku pusing memikirkan battle royale ini.. aku sudah tahu mereka berdua akan seperti ini,"
"Hahaha.. Sudahlah, biarkan saja… sikap mereka saat seperti ini dan disaat berada dalam pertarungan akan berbeda. Mereka akan jauh lebih serius, kau juga tau kan?" kata Toneri dengan senyuman masam. Dan dari sini dia benar benar terlihat seperti pemimpin perwakilan Kumo yang sebenarnya.
"Ya.. tapi tetap saja.." jawab Samui sambil memperhatikan kedua orang yang menjadi bahan obrolannya dengan Toneri.
Samui menoleh ke arah Toneri yang masih menatap lurus ke depan dengan tenang meski dalam medan pertempuran. Terlihat sekali bahwa dari semuanya, dial ah yang paling siap dan paling tenang. "Apa kau tidak masalah sendirian..? Kemungkinan kau akan melawan dua atau tiga bakat surga sekaligus, lho.." kata Samui.
Mendengarnya justru membuat Toneri tersenyum entah kenapa. Mungkin dia berpikir, berhadapan dengan dua atau tiga bakat surga sekaligus bukan merupakan suatu bahaya untuknya melainkan merupakan suatu keberuntungan di awal battle royale. "Apa kau bercanda?"
"Hah..?"
Samui yang bingung dengan apa yang diucapkan Toneri barusan kembali mempertanyakan apa maksudnya. "Apa maksudmu?"
"Bertemu dengan dua atau tiga sekaligus itu merupakan sebuah kesenangan untukku…"
Lalu di tempat para peserta dari Kerajaan Kiri
Yang memimpin mereka adalah seorang laki laki salah satu bakat surga berpenampilan biasa dengan kacamata dan membawa sebuah pedang besar di punggungnya. Nama laki laki ini adalah Chojuro. Sekilas dia adalah laki laki yang nampaknya tidak bisa diandalkan dan terlihat kurang percaya diri namun bila sudah dalam medan pertempuran…, dengan pedangnya itu, dia sangat percaya diri dengan kemampuannya. Dan yang ada di sebelahnya, seorang laki laki berambut panjang yang memakai sebuah topeng, bila dilihat sekilas dia tampak seperti perempuan namun sebenarnya dia adalah laki laki tulen. Dia memiliki kekuatan yang sama dengan Koyuki… yaitu elemen es, namun elemen es miliknya pada dasarnya memiliki perbedaan signifikan dengan elemen es milik Koyuki dari segi bentuk serangan, intensitas kekuatan serta cara penggunaan. Klannya memang klan yang mengkhususkan diri pada sihir elemen es spesial milik klan mereka. Nama laki laki itu adalah Haku.
"Aku percayakan anggota lainnya kepadamu, Haku.." kata Chojuro kepada laki laki bertopeng yang berlari di sampingnya.
"Hmm…, serahkan kepadaku," setelah mengucapkannya, Chojuro beserta rombongannya berpisah dengan Haku. Dia memimpin 3 anggota sedangkan Haku memimpin 5 anggota. Secara garis besar, mereka membagi anggota mereka menjadi 2 tim.
Lalu terakhir di tempat para peserta dari Kerajaan Iwa
Jika keempat Kerajaan lainnya memilih seorang laki laki menjadi pemimpin perwakilan, Kerajaan Iwa adalah satu satunya yang memilih seorang gadis menjadi pemimpin dari perwakilan mereka. Yap, gadis itu adalah salah satu bakat surga, namanya adalah Kurotsuchi. Dia merupakan anak perempuan dari salah satu penyihir terkenal dari Kerajaan Iwa, dan nama gadis ini adalah Kurotsuchi. Bersama dengan partner nya, seorang laki laki bertubuh gendut besar yang meskipun bukan salah satu dari bakat surga, dia dikatakan mampu menandingi Kurotsuchi yang merupakan bagian dari bakat surga.
"Kurotsuchi, kita berdua tetap bersama.. sisanya bentuk menjadi dua tim berisikan 4 orang!" kata Kurotsuchi memerintahkan rekan rekannya untuk segera membentuk tim.
"Dan sesuai yang direncanakan, kita berpisah ke titik koordinat masing masing!" kata Kurotsuchi melanjutkan kalimatnya yang belum selesai.
"Baik!"
Kemudian mereka langsung membentuk dua tim dengan satu tim berisikan empat orang sesuai perintah Kurotsuchi lalu berpencar ke tempat titik koordinat mereka masing masing. Kurotsuchi nampak tersenyum melihat rekan rekannya sudah berangkat ke tempat mereka masing masing. "Jadi mana dulu yang akan kita kejutkan?" tanya Akatsuchi dengan nada bodoh.
"Hmm.. Pertama tama, mari kita kejutkan sebagian anggota Konoha terlebih dahulu… Lagipula aku ingin cepat cepat bertarung dengan orang itu.." jawab Kurotsuchi dengan seringaian di wajahnya.
.
.
.
.
.
.
Sudah hampir setengah jam sejak para peserta memasuki hutan kematian… Dan layar sihir raksasa yang menghubungkan keadaan di dalam hutan kini tersambung dengan seluruh layar sihir yang ada di Akademi. Entah itu yang ada di cafeteria, di arena latihan atau di ruang santai asrama. Tentu saja mereka hanya menyiarkan bagian pertarungan saja serta keadaan dalam medan pertempuran. Akademi tidak akan menunjukkan saat saat para peserta sedang melakukan kebutuhan pribadi seperti buang air atau kebutuhan pribadi (Ya iyalah.. ya kali ditunjukkin, klo ditunjukkin mah.. author nya juga pengen liat XD).
Dan kini mari kita terpusat pada tim Naruto. Dia kini bersama dengan Shikamaru dan Hinata tengah bersembunyi di dalam sebuah batang pohon raksasa yang ada di dalam hutan. Sambil terus mengawasi keadaan, mereka menjaga keadaan dan melihat keadaan dari tim penyergap. Tentu saja, salah satu dari mereka memiliki alat komunikasi sihir untuk saling memberitahu keadaan. Alat komunikasi sihir diperbolehkan untuk digunakan dalam battle royale ini, dan tentu saja bukan hanya Konoha yang menggunakannya namun seluruh peserta dari kelima Kerajaan juga menggunakannya.
"Hinata, bagaimana daerah sekitar yang ada di dekat tim Sai?" tanya Shikamaru.
Hinata yang memasang Byakugan miliknya segera melihat keadaan sekitaran daerah Sai dan yang lainnya. Nampaknya ada tim yang mendekat ke arah tim Sai. Dia melihat lebih jauh dan menemukan bahwa tim yang mendekati tim Sai adalah tim yang berasal dari Kerajaan Suna. Hanya empat orang tak termasuk Gaara, Kankurou ataupun Temari, mereka hanya murid murid biasa yang tak semenonjol Gaara, Kankurou dan Temari.
"Tim dari Kerajaan Suna mendekat, jumlah empat orang, arah dari utara mereka.." kata Hinata kepada Shikamaru.
Shikamaru mengangguk mengerti, kemudian dengan alat komunikasi di telinganya, dia menyampaikannya kepada Sai agar Sai dan yang lainnya bersiap untuk bertarung melawan empat orang dari Kerajaan Suna itu.
"Baik… aku mengerti, Shikamaru" jawab Sai dari alat komunikasi yang mereka gunakan.
"Jika keadaan berat, aku akan mengirim tombak utama kita untuk membantu kalian… tapi tolong bertahan selama beberapa menit, karena saat ini juga Sasuke, Shion dan Neji sedang berhadapan dengan salah satu tim pasukan Kumo berjumlah empat orang. Tapi aku yakin kalian pasti bisa mengatasi mereka," kata Shikamaru.
"Tentu saja.. kau terlalu meremehkanku, lagipula disini tak hanya ada aku tapi juga Temujin, Kimimaro dan Rock Lee.. Mereka tak kalah kuat kita para bakat surga,"
Ucap Sai dengan nada datar. Dan tak lama kemudian dia memutus sambungan komunikasi di antara mereka. Sedangkan Shikamaru yang mendengarnya hanya tersenyum lalu kembali melanjutkan penjagaannya terhadap rencana yang sudah dia buat. Dia melihat kembali sketsa sedehana mengenai denah hutan kematian yang dia gambar di tanah. Satu titik yang menjadi perhatiannya adalah pergerakan dari Kerajaan Kumo, terutama Toneri yang sampai sekarang tidak diketahui seperti apa kemampuannya bahkan meski mereka pernah bertemu sebelumnya.
"Apa yang kau khawatirkan, Shikamaru? Apa kau khawatir dengan Kerajaan Kumo? Dengan Toneri dan juga Samui?" tanya Naruto melihat Shikamaru yang nampak sedikit gelisah. Dia juga sadar bahwa pandangan Shikamaru tertuju pada satu titik yang merupakan tempat masuk Kerajaan Kumo. Dan tentu saja apa yang dikatakan Naruto barusan sangatlah tepat. Shikamaru benar benar menaruh perhatian lebih kepada Kerajaan kumo ketimbang saingan lainnya dari Kerajaan lain.
"Sudah pasti…" jawab Shikamaru dengan ekspresi yang sedikit gelisah. Namun beberapa detik kemudian dia justru tersenyum sambil menoleh ke arah Naruto.
"Tapi, aku juga tahu bahwa kau pasti bisa mengalahkan Toneri ataupun Samui…"
Naruto tersenyum begitu mendengarnya. "Hah.. Sudah pasti.."
.
.
.
.
.
.
"Fire Style: Fireball Breath!"
Nafas bola api Sasuke menjadi sebuah serangan telak terhadap lawannya yang merupakan salah satu dari anggota perwakilan Kerajaan Suna. Orang itu merintih kepanasan, kesakitan setelah menerima serangan besar Sasuke barusan. Rekan rekannya yang melihat serangan Sasuke barusan tak lantas gentar menghadapi lawan yang lebih tangguh. Mereka justru semakin marah dan semakin bersemangat untuk mengalahkan Sasuke. Yah meski mereka berempat pun takkan bisa mengalahkan Sasuke, apalagi jika hanya tinggal bertiga dan satu orang terluka. Belum lagi, bukan hanya Sasuke yang harus mereka hadapi namun juga Neji dan Shion yang sama kuatnya.
"Dua orang Spirit level 1, satu orang Practioner level 9 dan dia yang terluka.. seorang Practioner level 10," kata Neji setelah menganalisa kembali kekuatan lawannya.
Shion dan Neji sekarang berada di atas dahan pohon yang besar, tengah menyaksikan pertarungan Sasuke melawan keempat orang itu dengan kondisi satu orang sudah terluka cukup parah. "Apa kita tidak akan membantunya sama sekali?" tanya Neji tanpa menoleh ke arah Shion.
"Tidak perlu… Akan memalukan bagi seorang bakat surga yang memiliki harga diri tinggi sepertinya jika tidak bisa menghabisi para pecundang seperti mereka," kata Shion sedikit malas menyaksikannya. Sejujurnya suasana sejak awal memang sudah membuatnya bosan apalagi dengan tidak adanya kehadiran Naruto di dekatnya, membuatnya semakin dan semakin bosan. Apalagi jika dia memikirkan dengan siapa Naruto saat ini.., hanya membuat kepalanya semakin panas.
"Lawan api dengan air!"
"Water Style: Water Cannon!"
Salah seorang dari anggota Suna itu menembakkan meriam elemen air kepada Sasuke yang masih berdiri santai dan tak bergerak sedikit pun dari tempatnya sejak tadi. "Kalian tidak beruntung… Sayangnya aku tak hanya memiliki elemen api…"
"Thunder Style: Lightning Shield…"
Sasuke langsung membentuk sebuah perisai elemen petir yang saat terkena serangan elemen air barusan justru menjadi semakin kuat kekuatannya. Lawannya dibuat seolah semakin tidak percaya dengan elemen ganda yang dikuasai Sasuke. "T-Tidak mungkin… Dia juga bisa menggunakan elemen petir semacam itu..!"
"K-Kita harus lari…" kata salah seorang dari mereka yang menyarankan untuk lari.
Sasuke baru kali ini terlihat benar benar bosan dengan keadaan. Kenapa juga dia harus disini… di titik koordinat yang ditentukan oleh Shikamaru. Lawannya langsung melarikan diri sambil membawa temannya yang terluka. Dan dengan satu kalimat dan sebuah lingkaran sihir di tangan kanannya…
"Thunder Style: Lightning Spear…"
Dan baru saja dia akan melemparkan tombak elemen petir yang barusan dia ciptakan… Lawan lawannya sudah terlebih dahulu pingsan oleh sebuah serangan elemen pasir sederhana yang tak diketahui darimana asalnya. "Uaaarrrgghh… Ini.. pasir ini.."
Mereka merintih kesakitan akibat serangan pasir itu. Sedangkan Neji yang memperhatikan dari atas dahan besar, hanya tersenyum sedikit begitu melihat serangan barusan. "Dia akhirnya datang juga…" kata Neji.
"Pasir itu… Jangan jangan milik dia?" tanya Shion sambil melirik Neji dengan tatapan bosan.
Sasuke yang tadinya terlihat bosan, mulai kembali tertarik minatnya setelah orang yang tadinya berada di balik bayang bayang, akhirnya keluar. Orang itu memang ahlinya menyembunyikan hawa keberadaan, bahkan Sasuke tak menyadarinya. Neji seharusnya bisa menyadarinya dengan Byakugan miliknya. Namun dia tak mau membuang tenaganya hanya untuk mendeteksi dimana lawannya yang pada akhirnya menunjukkan dirinya dari depan secara langsung.
"Seperti yang diharapkan dari si jenius Uchiha…"
"Maaf membuat kalian menunggu.. orang orang dari Konoha,"
Tiga orang yang keluar dari balik bayangan adalah laki laki berambut merah dengan sebuah tato di dahinya serta sebuah gentong di belakangnya berisikan elemen pasir, diikuti seorang laki laki berbaju hitam dengan sebuah benda yang ada di punggungnya lalu seorang gadis berambut pirang dengan kipas raksasa yang dibawanya.
"Akhirnya kalian datang juga… Kami sudah bosan menunggu.." kata Neji turun dari atas dahan pohon raksasa diikuti Shion yang turun setelahnya.
Neji langsung menyamakan posisinya di samping Sasuke sambil tetap menatap tajam lawan lawannya. "Kau jangan ganggu pertarunganku, Neji… Dia mangsaku.." kata Sasuke masih menatap lurus ke arah Gaara.
"Hmm.. Tergantung bagaimana situasinya nanti…"
Gaara yang mendapat tatapan intens dari Neji dan Sasuke tentu tak diam saja. Perlahan, gelombang pasir keluar dari gentong yang selalu dibawanya kemana mana itu. "Saa.. Kalau begitu, kita mulai saja pertarungannya sekarang…"
TBC
.
.
.
.
.
Yey.. sesuai yang dijanjikan, ane kembali di awal April. Maaf buat yang nungguin ini fic (Itu juga kalo ada yang nungguin -_-). Berhubung ane udah selesai ujian, ane bisa lanjutin fic ane (Mohon doa supaya nilai ujian ane bagus). Kalian boleh lupa sama ane, authornya tapi klo bisa jangan lupa ama fic nya wkwkwkwk. Yah ternyata fic ini umurnya udah setahun, gak terasa. Padahal dulu di awal chap, review nya gak nyampe 10 wkwkwkwk.. sekarang total review 1400. Ane bener bener bersyukur. Ane belum tau kapan update lagi karena masih nunggu respon dari reader sekalian juga. Yang jelas setelah ini ane mau update yang symbol of revenge dulu -_- … klo kalian ada pertanyaan, tanya aja di review, entar kubalas di PM. Sampai sini dulu.. next chap, insyaallah 5000 word.
Jangan lupa tinggalkan review!
See you in next chap
