A/N
Aku taruh ini di awal karena ada kesalahan yang cukup parah. Spoiler chapter ini tertukar dengan epilog-nya! Dan aku baru sadar setelah 2 minggu-an chapter kemarin di-publish:hammer:
Yang jelas, ini part terakhir chapter V. Selanjutnya adalah Epilogue.
One Piece © Eiichiro Oda
Guren no Yumiya © Link Horizon
Two Schools, Two Worlds
Chapter V
Left for Dance – Part 9
I See Dead People
Eustass Kid adalah seorang cowok SMU normal... yang "kebetulan" menyukai semua yang berbau kekacauan dan pertumpahan darah. Dia tidak menyangkal itu.
Walaupun, seorang anak SMU yang gemar pertumpahan darah itu tidak normal.
Tapi, kekacauan pada even pertamanya sebagai anggota OSIS ini sedikit banyak membuatnya kesal.
Sebenarnya, sejak awal dia dan Luffy mengajukan ide yang sama, dia sudah memperkirakan ini. Tapi tetap saja, dia khawatir ini akan jadi tolak ukur kesuksesannya sebagai anggota OSIS yang ke depannya akan mempengaruhi kehidupan masa SMU-nya yang normal (dan track record-nya).
Sekarang, dengan kepala yang terus berdenyut dia mencoba memikirkan kembali, apa saja yang salah. Dimulai dari persiapan even beberapa bulan lalu...
Tema prom night tahun ini yang diadakan bertepatan dengan Halloween adalah "Zombie Apocalypse". Karena itu, dia menyewa Franky Family untuk mendekorasi aula. Urouge-senpai dan teman-temannya yang berbadan besar dia daulat untuk jadi security. Kemudian, karena dia berpikir bahwa prom night harus memberikan pengalaman yang amat berkesan, diapun menciptakan sebuah permainan, yang dia namakan "Left for Dance". Permainan ini tujuannya adalah bertahan bersama pasangan prom selama satu jam di dalam aula dari serangan zombi dengan hadiah tiket semalam di hotel Poseidon. Terakhir, dia meminta anggota Franky Family untuk jadi pasukan zombi.
Sampai sini kelihatannya even akan berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Tapi, masalah mulai muncul karena Monet dengan sengaja membuka pintu aula sehingga peserta permainan hanya tinggal 7 orang. Kemudian Luffy, ketua OSIS itu dengan seenaknya memutuskan untuk terlibat dalam permainan sebagai peserta. Masalah belum selesai sampai di situ; begitu mengetahui bahwa Roronoa Zoro setim dengan dua orang cewek, Bonney mengamuk. Dan dengan dorongan dari pasangan Nami, si rambut pirang bernama Sanji itu, mereka juga terlibat sebagai komandan pasukan zombi. Sampai sini sebenarnya masih bisa ditolerir...
Kemudian dia sedikit lega karena permainan berjalan sesuai perkiraannya, dengan para peserta mendominasi pasukan zombi yang malang itu. Sehingga, dia memutuskan menggunakan Urouge dan para security lain untuk membuat permainan makin seru. Mereka akan berperan sebagai zombi mutan... tapi, dia melupakan cake dari toko kue Big Mom yang dia simpan untuk after-party anggota OSIS. Cake itu dihabiskan Urouge dan kawan-kawan... yang membuat mereka kehilangan kontrol karena sugar rush.
Akibatnya, suasana permainan sekarang ini jadi benar-benar kacau...
Kid menepuk dahinya. Dia, eh bukan, Monet (hukuman karena keusilannya) harus menulis surat pernyataan ke Kepsek untuk menjelaskan kehancuran yang terjadi akibat permainan ini...
-o0o0o0o0o-
Berbicara tentang film dengan tema zombi, ceritanya tak akan jauh-jauh dari zombie outbreak alias wabah zombi akibat virus dan sebagainya. Nah, situasi di aula sekarang mirip dengan adegan klimaks dari suatu film zombi!
Tepatnya adegan di mana pihak antagonis menggunakan senjata rahasia mereka berupa zombi mutan untuk mengakhiri perlawanan para karakter utama. Di permainan ini, Kid dan para panitianya adalah pihak antagonis itu, sedangkan Luffy dan para peserta lain adalah pihak survivor. Sedikit permainan peran memang membuat "Left for Dance" menjadi semakin menarik, tapi... ini sudah bukan permainan untuk anak-anak SMU lagi.
Meja prasmanan rusak, lantai berlubang, tembok retak di sana-sini... dan panggung performance yang hancur lebur. Itulah kondisi aula setelah permainan dimulai kurang dari sejam lalu. Kacau, hancur, awut-awutan akibat pertarungan para peserta melawan serbuan zombi... dan semakin parah setelah munculnya pasukan zombi mutan, alias cowok-cowok berbadan besar yang sedang dalam keadaan sugar rush.
Parahnya, sampai sekarang pun pertarungan masih terjadi.
"GUWOOOOOH!"
Bunyi ledakan dahsyat terdengar setelah erangan itu, ada sesuatu yang hancur (lagi). Kemudian meloncatlah beberapa sosok manusia dari tengah-tengah asap akibat kehancuran itu. Mereka mendarat tanpa kesulitan, dan kemudian berkomentar dengan antusias.
"Itu Urouge-senpai 'kan?"
"Dia jadi sangaaat cepat~"
"Eh, eh, ayo kita pancing dua yang di sana itu juga!"
"KAU GILA?!"
Mereka adalah tiga bersaudara yg cukup dikenal di SMU Seifu, Ace, Sabo, dan Luffy. Melihat kekompakan itu, tidak akan ada yang akan berpikiran kalau mereka ini bukan saudara kandung...
"Mou! Kenapa kalian malah mengetes mereka?! Kita harus lari!" teriak Hancock yang berdiri pada jarak yang cukup jauh dengan mereka.
"Habiiiis... kapan lagi kita bisa berantem dengan zombi sungguhan?" ketiga bersaudara itu menjawab kompak dengan wajah penuh rasa penasaran, bagaikan anak kecil yang bertemu dengan pahlawan bertopeng favoritnya. Walaupun, seperti halnya pahlawan bertopeng yang ternyata isinya orang biasa, yang mereka hadapi sekarang bukan zombi betulan.
Hancock menepuk dahinya, sepertinya kehabisan akal menghadapi para penggila zombi itu (tapi di balik itu dia tersenyum gemas melihat ekspresi Luffy). Sedangkan di baliknya, Moda berdiri ketakutan sambil memegangi ujung roknya.
Kombinasi dua gadis cantik dan tiga pemuda bertampang kacau itu membuat pemandangan ini mirip sebuah adegan di film komedi horor... tapi suasana jenaka itu segera pecah oleh gerakan tiba-tiba si mutan. Hancock yang merasakannya dengan Kenbunshoku segera memperingatkan ketiga cowok yang ada dalam jarak serangan musuh.
"... ! Kalian, menghindar!"
"GWOAAAAH!"
Jedarrrr!
Terdengar ledakan lagi... dan lagi-lagi tiga bersaudara itu bisa menghindarinya dengan mudah berbekal kemampuan atletik dan Haki mereka. Tapi belum sempat mengistirahatkan diri, mereka merasakan gerakan lain di kejauhan.
"Ah! Mereka kemari!"
"GUOOOO!"
Akibat serangan berturut-turut zombi Urouge, kedua mutan yang tadinya berada cukup jauh menyadari kehadiran mereka dan segera bergabung dalam penyerangan. Jadi, sekarang mereka dikejar tiga zombi mutan! Menghindari satu saja sudah amat sulit, apalagi tiga! Jadi...
"Ambil jarak!" Hancock berteriak untuk memastikan tidak ada yang bertindak bodoh dan menantang ketiga pengejar itu sekaligus. Walaupun enggan, Luffy dan Sabo mematuhi komando dan segera berlari. Sementara, Ace merenggut Moda dan menggendongnya lagi.
Sebenarnya mereka sudah capek berlari sejak tadi, tapi para cowok masih bisa menyeringai senang.
"... Hotobashiru shoudou ni sono mi wo yakinagara! Tasogare ni hi wo ukatsu... Guren no Yumiya!"
"Wo-oo-ooo-oo-o... wo-oo-ooo-oo-oo!"
Bahkan mereka masih sempat bernyanyi riang dengan suara sumbang.
...
Sementara itu di sisi lain aula, tepatnya di tengah, pertempuran mempertahankan diri yang tak kalah sengitnya tengah terjadi.
"Apa-apaan mereka ini?!" teriak Zoro, sembari menggerakkan badannya ke sana kemari menghindari serangan-serangan frantik mutan (yang mirip senior Jozu, ngomong-ngomong) itu. Meskipun sekilas penampilan Zoro yang berotot tidak mengesankan orang yang gesit, tapi nyatanya dia sama sekali tidak tersentuh. Tetap saja, dia kesal karena serangan beruntun itu. "Argh, kalau begini terus, nggak ada habisnya!"
Zoro menghunus Shuusui dan membalik sisi tajamnya, lalu mengayunkannya ke udara kosong sambil meneriakkan nama jurus.
"Sanjyuuroku Pondo-hou: versi tumpul!"
Para guru Zoro sering memperingatkan bahwa meneriakkan nama jurus tidak ada hubungannya dengan peningkatan kekuatan maupun efektivitas, tapi Zoro dan kawan-kawannya di SH terus melakukannya karena terpengaruh Luffy (yang penggila shonen manga).
Wuush!
Pusaran angin tercipta dari sabetan Shuusui, mengenai telak zombi Jozu, targetnya. Berbeda dengan versi tajam, serangan yang menggunakan bagian punggung pedang yang tumpul ini hanya ditujukan untuk memukul mundur musuh dengan serangan mirip meriam udara. Tapi...
"Ghrrr..." Jozu menangkisnya dengan kedua tangan, tanpa lecet sedikitpun.
"Ditangkis?!" teriak Zoro dengan wajah kaget. Memang, kekuatan Pondo-hou: versi tumpul tadi tak seberapa dibanding versi tajamnya, tapi tetap saja...!
Menyaksikan gerakan tadi, dia mulai curiga kalau lawannya ini tidak kehilangan kontrol selayaknya zombi (walaupun mereka memang masih manusia).
"Mereka masih bisa berpikir?!" komentarnya kemudian.
"... fuuuh," Sanji menghembuskan asap rokok dari mulutnya. "Apa yang kau harapkan? Mereka ini orang-orang yang bahkan mendapat respek dari Luffy sebagai 'orang-orang kuat'. Jadi kekuatan mereka setara atau lebih kuat dari Luffy. Selain itu, bukan berarti mereka ini zombi beneran yang otaknya membusuk, tentunya mereka bisa merespon seranganmu."
"Kenapa kau malah santai-santai?!" Zoro meneriaki Sanji yang barusan mengonfirmasi kecurigaannya.
"Karena... kita belum terjebak dalam situasi terburuk," jawab Sanji sambil melirik ke arah lain. Sebulir keringat dingin nampak di pipinya. Zoro mengangkat sebelah alisnya mendengar itu, dan buru-buru memiringkan kepalanya karena mendeteksi bahaya.
BRUAKKK!
Benar saja, sebuah meja prasmanan tiba-tiba terlempar kencang melewatinya dan hancur berkeping-keping setelah menyentuh lantai. Zoro yang biasa menghadapi upaya pembunuhan dari Sanji (dan kekerasan dari Nami), memasang ekspresi kesal.
"Kyaaa!"
Tapi teriakan seorang cewek mengejutkannya. Begitu Zoro menoleh, yang ada di hadapannya adalah sesosok manusia yang terpental. Tentu saja mereka bertabrakan dengan indahnya.
"Urgh!"
Setelahnya, seseorang meloncat mundur dengan terburu-buru.
"Uh-!" Orang itu, yang bisa dikenali sebagai Robin karena suaranya yang khas (alias mirip ibu-ibu), mendesah. Posisi mendaratnya kurang bagus, jadi dia merasakan sedikit sakit di kakinya. "... kamu tidak apa-apa?"
"Un..." cewek yang mendahuluinya menjawab pelan.
"Tashigi-chwan, Robin-chwaaan!" Sanji langsung histeris menyaksikan kedua pujaan hatinya ada di dekatnya. Dia kemudian menghampiri Robin (dia mengabaikan Tashigi yang terpental mendahuluinya karena sudah mendarat di permukaan yang lebih empuk dari lantai alias badan Zoro). "Kamu nggak apa-apa?"
Tapi sebelum Sanji bisa menolong Robin, wajahnya terkena sepatu bot.
"Koraaa!"
Pelakunya tak lain adalah gadis satunya yang seolah terlupakan, Bonney. Dia merasa diperlakukan tidak adil oleh cowok yang mengaku gentleman itu. Wajar saja sih, penampilan fisiknya yang liar mengesankan bahwa tubuhnya jauh lebih kuat dari Robin dan Tashigi. Buktinya, dia tampak baik-baik saja.
"A-auugh. Maaf melupakanmu..." gumam Sanji dengan wajah masih mencium lantai. Bonney mendengus sebagai respon. "Tapi, Bonney-chwan, kamu tahu kalau kita bukan target zombi, kan?"
Ah... komentar yang salah.
Sepasang tangan memaksa Sanji bangun dengan kasar. Itu Zoro dan dia lalu mendorong anak itu ke interogator yang lebih baik.
"... jelaskan apa yang terjadi, Sanji," Robin memang tersenyum saat mengatakan ini, tapi nada dingin dan penghilangan honorifik '-san' yang biasanya dia pakai untuk Sanji, membuat bulu kuduk lawan bicaranya itu berdiri tegak.
Beda dengan Nami yang mengekspresikan emosinya dengan tindakan kasar, Robin bisa lebih mengontrol diri... walaupun efeknya JAUH lebih seram.
Sanji menelan ludah, melonggarkan kerah jasnya, lalu berbicara dengan enggan.
"Ini baru hipotesis sih. Menurutku, mutan-mutan itu nggak akan menyerang sesama zombi. Karena kita pakai dandanan zombi, jadi-" jawab Sanji.
"Jadi ini mereka bergerak karena komando kalian?!"
Belum selesai Sanji menjelaskan, Zoro berteriak marah dan menatap Bonney yang berdiri di dekatnya. Wajah mereka berdekatan... tapi wajah Bonney malah merona karena kedekatan itu.
"Oi, marimo! Singkirkan wajah jelekmu dari Bonney-chwan!"
"Diam kau! Alis lingkar, kau juga berkonspirasi dengan OSIS untuk menjebak kita kan!?" Zoro balik meneriaki Sanji.
"'Berkonspirasi'? Wah, ternyata kau bisa tahu kosakata yang sulit juga, hm?" Sanji memprovokasi balik. Itu sepertinya cukup sukses membuat suasana di antara mereka semakin panas.
Berpikir mereka takkan mengetahui apapun kalau pertengkaran verbal ini terus terjadi, Tashigi berdiri di antara Zoro dan Sanji dan bertanya dengan amat halus, karena dia tau apa yang harus dilakukan menghadapi zombi pirang itu. "Sanji-san, bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?"
"Tentu saja, Tashigi-chwaaan! Akan kujelaskan, tapi teruslah waspada," kata Sanji dengan wajah genit. "Robin-chwan, Bonney-chwan, marimo juga."
"Cih, oke," jawab Zoro. "Aku berjaga di sebelah kiri."
"Aku, aku juga!" Bonney berteriak antusias.
"Oi, tetaplah ada di jarak pendengaran, baka marimo!"
"... ara? Kenapa Zoro dan Sanji-san bisa berkomunikasi secara normal?" pikir Robin sambil menyilangkan kedua tangannya di depan wajah. Yang dimaksud sebagai 'normal' olehnya adalah tidak ada pertengkaran fisik di antara kedua musuh bebuyutan itu. Dia mulai mencurigai ada sesuatu yang direncanakan kedua orang itu (bagaimanapun mustahilnya mereka bekerja sama), tapi mengabaikannya untuk fokus pada penjelasan Sanji dan musuh di depan.
"Sebenarnya-"
Sebelum Sanji mengatakan sesuatu, terdengar suara gemerisik.
...
Kontras dengan tim Zoro yang berniat melawan sampai titik darah penghabisan, tim Luffy malah asyik berlari maraton keliling aula. Sekarang mereka sudah sampai 6 putaran!
"Hahh... hahh..."
"Sampai... kapan kita harus lari terus?"
"Sampai bisa mengecoh mereka...!"
Bahkan orang-orang yang dijuluki monster itu, pada akhirnya mereka tetaplah anak-anak SMU biasa. Stamina mereka mulai menipis... tapi pada saat itu Sabo malah mengaktifkan ranjau darat dengan pertanyaannya.
"Ngomong-ngomong... kenapa kau menghampiri kami, Luffy? Padahal kau bisa bertarung sepuasnya di sisi lain aula," tanya Sabo.
"Aku ingin mengganggu kalian!" Luffy menjawabnya dengan antusias.
"Haaah?!" Ace dan Sabo menaikkan alis mereka.
"Ini idenya Hancock. Katanya, 'untuk menang, kita harus mengacaukan tim lain'... atau seperti itu."
BAMMM.
Ranjau darat diaktifkan... dan sesuatu meledak di latar belakang. Sepertinya otak Ace dan Sabo tak bisa memproses jawaban itu. Kalau menurut Luffy, Hancock bilang "ingin menang", berarti cewek idola mereka itu bersungguh-sungguh ingin berduaan dengan Luffy di kamar hotel kan?!
"Hancock-chan ternyata punya ide sejahat itu..."
"Dia benar-benar serius ingin melakukan 'itu' dengan Luffy!"
Mereka berdua langsung terjatuh dengan aura gelap menyelimuti mereka, seolah-olah sisa cahaya temaram dari aula tersedot ke sana. Moda menggoyang-goyangkan badan Ace dengan panik, karena para mutan terus mendekat. Ini bukan saatnya untuk depresi!
"B-Berisik, jangan berpikir yang tidak-tidak!" teriak Hancock, serius. Tapi, wajahnya sedikit memerah. "Aku hanya-"
BUAGH!
Akibat tidak konsentrasi, seorang mutan berhasil mengenai Hancock dengan tinju besarnya, menimbulkan suara yang menyakitkan. Hancock langsung terpental dan tergeletak tak bergerak di lantai yang dingin... sepertinya tak sadarkan diri.
"! Oi, Hancock!" Luffy segera mengubah arah larinya menghampiri Hancock, tapi saat itu juga seorang mutan mendarat di depannya dengan berdebum. Mau tidak mau, dia harus mengalahkannya untuk bisa mencapai Hancock. Padahal, di saat yang sama, Hancock langsung dikelilingi dua orang mutan yang tersisa!
Gawat. Mereka yang tidak bisa mengontrol tenaga untuk melawan musuh yang bergerak, dijamin akan melumat Hancock!
"A-Ace-san! Sadarlah! Boa-san... Boa-san akan...!" Moda menggoyang-goyangkan badan Ace dengan lebih keras, tapi konslet yang terjadi di otak cowok itu terlalu parah sehingga dia terpaksa melakukan reboot (alias dia masih shock berat sehingga tidak bisa bergerak). Begitu juga dengan Sabo.
"Sial!" Luffy berteriak kesal.
Saat tangan-tangan besar dan kotor para mutan hendak mencengkeram tubuh Hancock, terdengar suara gemerisik dari arah speaker pengumuman.
"Zzst. Zsst. Tes.. tes... halo?"
"... grhh?"
Anehnya, para mutan langsung terdiam di tempat. Apakah mereka berusaha mendeteksi lokasi si pemilik suara itu?
Luffy pun memanfaatkan kesempatan itu untuk menghampiri Hancock, mengangkat tubuhnya, dan berkumpul kembali dengan Ace dan Sabo (yang masih tidak bergerak).
"Di sini Kapten Pasukan Khusus Anti-Zombi Umbrella Corporation, Eustass Kid. Apa ada yang masih hidup?" Entah kenapa Kid masih sempat melakukan permainan peran...
"Ah, Kid!" teriak Luffy.
"Oh, hey, ketua yang kabur. Bagaimana keadaan di sana?"
Kenapa seorang di pengumuman malah melakukan komunikasi dua arah, pikir Moda. Tapi Luffy tidak peduli dan terus berbicara.
"Zombi raksasa menyerang!" jawabnya antusias.
"Aaah... aku tahu. Oi, ngomong-ngomong, apa Portgas-senpai ada di sana?"
Luffy menoleh ke arah Ace dan Sabo, untuk menghadapi Moda yang menggeleng-gelengkan kepala dengan mata berkaca-kaca. Luffy membentuk huruf O dengan bibirnya, dan 'menyalakan paksa' kedua orang itu dengan jitakan.
Bletak. Bletak!
"ARGH!" Ace dan Sabo segera bangkit karena menerima shock di kepala. Menyadari siapa pelakunya, mereka langsung berteriak dengan kompak. "Apa maumu, Luffy?!"
"Yosh. Oi, Kid, mereka sudah sadar," Luffy tidak mempedulikan amarah mereka.
"Kid?!"
"Yaaa. Halo, senpai sekalian," Kid menyapa mereka dengan ramah, padahal dia tahu dia akan digertak.
"Kau bilang, Kid?!"
"Uh... ya?" Luffy memiringkan kepalanya.
"JADI KAAAAUUUU?!" Ace dan Sabo mengalihkan amarah mereka ke pemilik suara yang tidak ada di aula itu. Mereka sudah yakin sejak awal bahwa Luffy yang polos itu takkan bisa merencanakan permainan segila dan serusak 'Left for Dance'. Karena itu, mereka curiga kalau ada seseorang yang bergerak di balik Luffy untuk merencanakan semua ini. 'Seseorang' itu tentunya anggota OSIS lain, dan satu-satunya yang punya pengaruh serta nyali untuk mengatur Luffy (selain Nami) adalah...
Kid. Ya, dialah otak di balik semua kekacauan prom night!
Pantas jika mereka marah padanya. Selain mengacaukan acara yang harusnya jadi acara paling berkesan di penghujung kehidupan SMU mereka, Kid juga secara tak langsung memfasilitasi perasaan Hancock ke Luffy!
Alasan yang terakhir itu adalah hal yang ada di benak terdalam Ace dan Sabo, tapi tetap saja...
"Oi, OSIS! Apa yang kalian rencanakan?!" teriak Sabo.
"Ya! Turunlah dan mari kita bicarakan ini secara sipil, bertiga dengan senpai-mu yang baik hati..." Ace menyeringai keji dan menggeretakkan jari-jarinya. Apanya yang sipil dan baik hati dari itu?
Dengan hawa pembunuh seperti itu, bahkan Luffy meneteskan keringat. Walaupun sebagian besar karena capek dan beratnya tubuh Hancock (di bagian tertentu) yang dia gendong.
Sementara, bulu kuduk Kid di ruang kontrol aula berdiri. Dia pun melonggarkan kerah kostumnya.
"Uh... ya. Maksudku, ya. Akulah yang merencanakan semua ini," jawab Kid tanpa ragu. Sesuai kedudukannya sebagai ketua geng Supernova, dia takkan gentar hanya dengan itu. "Seperti yang sudah aku jelaskan tadi, senpai, inti permainan 'Left for Dance' adalah bertahan dari serangan zombi selama sejam... tapi kalian terlalu kuat. Untungnya aku sudah memperhitungkan ini, karena itu aku mengontrak Urouge-senpai dan orang-orang berbadan besar lain yang awalnya jadi security untuk membantu penyerangan sebagai mutan. Dengan kata lain, ini... adalah... permainan tambahan!"
Semua peserta yang berada di aula memiringkan kepala mereka.
"... ya! Permainan tambahan untuk menambah tingkat kesulitan!"
"Brengsek! Alasan itu baru kau pikirkan sekarang 'kan?!"
"Kalian berhutang banyak penjelasan ke kami, kouhai sialan!"
Ace dan Sabo berteriak balik dengan marah.
"Kuh..."Kid menggaruk kepala tulipnya yang tidak gatal.
Sepertinya para senpai ini sudah tidak mau mendengarkan apapun penjelasan darinya... padahal, dia ingin memberitahu titik kelemahan para mutan, agar para peserta bisa menyelesaikan permainan tanpa jatuh korban! Di saat memusingkan itulah, seseorang menyentuh bahunya.
Ah... benar juga, pikir Kid. OSIS masih punya senjata ampuh untuk membungkam protes.
Zrrsk... zrrsk...
Terdengar gemeresak lagi dan beberapa bisikan, sepertinya mic dialihkan ke orang lain.
"Ehem. Diam dan dengarkan tutorialnya dulu, senpai,"terdengar suara seorang gadis... yang amat dingin. Kalau kau mendengarnya sekilas, pasti akan membayangkan kalau yuki-onna menyapamu di tengah kegelapan... saking dingin dan seramnya.
Wajar sih, pemilik suara itu adalah 'senjata pendingin massal' milik OSIS, sekretaris Monet (yang memang ber-cosplay sebagai yuki-onna pada pesta ini).
Gadis itu cuma mengatakan sebuah kalimat pendek, tapi Ace dan Sabo seolah membeku mendengarnya. Di saat yang bersamaan, Hancock juga terbangun, mungkin karena merasakan suhu udara di aula turun.
Menyadari kalau dia digendong Luffy, gadis itu segera memaksa turun dengan panik.
"Kau sudah nggak apa-apa?" tanya Luffy.
"I-iya... terimakasih," kata Hancock dengan suara lembut. Wajahnya tampak mengeluarkan uap di udara saking malunya.
Beberapa bunyi gemeresak kemudian, mic kembali dialihkan.
"Apa kepala kalian sdh dingin, senpai sekalian?"
Tidak ada respon, jadi Kid melanjutkan penjelasannya.
"Oke. Urouge-senpai dan yang lain hanya berperan sebagai zombi raksasa, tapi sebelum masuk, mereka tak sengaja menghabiskan cake raksasa yang kami siapkan untuk after-party OSIS. Kami kesal karena sebenarnya sudah sangat mengharapkan kue itu, tapi masalahnya bukan itu! Kue itu adalah cake dari toko Big Mom, yang terkenal dengan kadar gula dan kalorinya yang nggak manusiawi. Jadi..."
"... sugar rush?" komentar Robin.
Di saat yang sama, tim Zoro juga mendengarkan penjelasan Kid itu. Dan karena di dekat mereka ada si jenius Robin, dia langsung bisa menyimpulkan apa sebenarnya yang salah.
"Sugar rush?" Kawan-kawan timnya memiringkan kepala mereka dengan kompak mendengar istilah yang amat manis itu.
"Un. Suatu kondisi akibat seseorang mengonsumsi gula dalam jumlah berlebihan sehingga badannya tidak sanggup berupaya mengubah semua kelebihan gula itu jadi energi. Dengan kata lain..."
"Mereka jadi gila karena kebanyakan makan kue?!" teriak anggota lain, kompak.
Robin tersenyum kecil. Mereka benar.
"Tepat, senpai. Mereka nggak bisa mengontrol diri karena kelebihan energi," Kid mengonfirmasi jawaban Robin.
Kembali ke lokasi tim Luffy, mereka mendengarkan kesimpulan dari Kid itu sambil mengangguk-angguk paham. Kecuali Luffy yang tampaknya kesal karena kehabisan cake.
"Lalu?! Bagaimana cara untuk menyadarkan mereka dari sugar rush?!" teriak Sabo kesal.
"Hajar saja mereka! Kalau pingsan, mereka nggak bisa mengamuk lagi, kan?" kata Luffy. Rupanya dia benar-benar kesal.
Semua orang di timnya menoleh ke arah Luffy, dan... melongo.
"Luffy-san benar," adalah Moda yang menjawab ketidakpercayaan Ace dan Sabo, membuat mereka berteriak kaget.
"EEEH?!"
"Apa?" Luffy memiringkan kepalanya. Apa dia tidak sadar telah mengatakan petunjuk paling penting?
"Luffy, mereka bukanlah lawan yang bisa dihadapi anak SMU! Mereka punya proporsi raksasa ala pegulat WWE (World Wrestling Entertainment), dan sedang dalam status berserk-"
Sebelum Sabo selesai berargumen, Ace menjulurkan tangan ke depan wajahnya, menghentikannya. Dia lalu memalingkan wajahnya dan tersenyum pede, senyuman yang membuat Moda nyaris kena serangan jantung.
"Kau takut apa, ompong? Kebanyakan gula bukan berarti mereka nggak terkalahkan," kata Ace sok.
Luffy memang benar, tapi metodenya sangat salah, pikir Kid. Jadi, dia berusaha memperingatkan Ace yang sepertinya akan melakukan sesuatu yang bodoh, "Oi, tunggu."
Ace tak mempedulikan Kid yang berusaha mengatakan sesuatu dari speaker dan berjalan menghampiri mutan Urouge. Dia menyalakan sarung tangan pembakarnya, dan memasang kuda-kuda, siap bertarung.
Tapi... tiba-tiba mutan itu menghilang.
"Eh-"
BUAK! BLARRR...
"AAARGH!"
Dan menghantam Ace dengan telak tanpa mempedulikan momen sok kerennya barusan. Diapun terpental beberapa meter, menabrak tembok aula... yang segera jebol.
"Ace-saaaan?!" Moda berteriak panik.
"... aku sudah mengingatkan senpai," bunyi Kid menepuk dahi terdengar dari speaker. "Kondisi fisik mereka sekarang jauh di atas kalian."
"Woah, sepertinya mereka sadar kalau sedang dibicarakan. Terimakasih sudah mengecek buat kita, Ace~!" Sabo meneriaki Ace dengan ekspresi terhibur.
"Begitukah yang dikatakan seseorang ketika melihat suadaranya dihajar-" teriakan Ace dari balik tembok aula terhenti. Dia lalu mengerang dan memegangi perutnya. "Argh, rusukku..."
"Uh... apa ini tidak apa-apa, L-Luffy?" tanya Hancock. Dia tidak peduli cedera yang dialami Ace, dia lebih memikirkan image yang akan didapat OSIS angkatan Luffy kalau ada orang yang terluka dalam acaranya. Acara perdana, lagi!
"Odacchi-ossan bilang, kita baru akan dapat masalah kalau ada cewek yang terluka," kata Luffy.
Sabo dan yang lain menaikkan alis mereka. Oke... itu alasan yang unik.
"Woah, respekku ke Pak Kepsek bertambah," Sabo memasang posisi tegap, seolah menghormat kepada seorang pahlawan. Sementara, Ace mengumpat keras-keras.
"... fiuh," Hancock menghela napas lega. Dia memang sempat tidak sadarkan diri tadi, tapi sepertinya tidak mengalami cedera. Diapun bertanya, "Apa ada cara lain? Kekerasan tidak akan efektif karena kekuatan fisik mereka berlipat ganda kan?"
"Aku baru memesan serum penawar virus zombi... ah, maksudku, insulin dari klinik tempat Law magang," jawab Kid. Masih melakukan permainan peran rupanya.
"Woah, serum?! Sekarang ini jadi seperti game horor beneran!" teriak Luffy dan Sabo kompak.
"Tapi sepertinya serum itu nggak akan sampai di sini dalam 5 menit waktu yang tersisa. Jadi, sebaiknya kalian cari jalan keluar dulu untuk mengakhiri permainan... setelah itu kita diskusikan lagi langkah selanjutnya. Mengerti?"
Tidak. Luffy sudah terlanjur sangat antusias mendengar kata 'serum' tadi, jadi Hancock menjawab Kid dengan ekspresi terhibur.
"Ya."
Di saat yang sama...
"OSIS tahun ini tidak tanggung-tanggung dalam penyelenggaraan acara," gumam Robin dengan senyuman tipis. Benar-benar deh, pada acara prom night yang harusnya diisi oleh momen-momen manis dan berkesan, mereka malah menyajikan permainan yang keras.
"Tapi yah, setelah tahu apa masalahnya, semua jadi gampang," Zoro mengusap kepala hijaunya. "Baiklah, ayo kita lari... sambil menghajar mereka."
Bicara kekuatan fisik, Zoro sangat yakin bisa mengimbangi para mutan dengan sugar rush itu, karena itulah dia mengajukan ide itu.
Sanji berpikir sebaliknya. Marimo idiot itu melupakan tujuan aslinya untuk kabur dan malah fokus ingin mengalahkan para mutan! Tapi, kalau si kepala hijau itu sukses melakukannya, waktu akan habis dan timnya memenangkan permainan! Dengan kata lain, dia akan mendapat threesome dengan Robin dan Tashigi di kamar hotel! Memikirkannya saja, darah mengalir dengan mencurigakan dari lubang hidung Sanji. Itu tidak boleeeh!
Diapun menghampiri Zoro dan berkata dengan suara pelan.
"... oi marimo, sebaiknya kau keluar dari tempat ini kan? Waktu tinggal kurang dari 5 menit, kau ingin menang dan bermalam bersama mereka di kamar hotel?"
Zoro melebarkan matanya mendengar itu, lalu mendengus. Dia kembali ingat alasannya bekerjasama dengan Sanji; untuk mengatasi para gadis. Rencana jangka pendek Sanji yang tadi mereka diskusikan, dimulai pada permainan ini.
"Cih, kau benar."
Sanji tersenyum jahat karena kepolosan Zoro itu. Sukses...
"Oke, karena otak marimo ini nggak bisa berfotosintesis di tengah kegelapan, aku yang ambil alih!" Sanji memasang kacamatanya, mengacuhkan Zoro yang menghunus Shuusui karena sindirannya barusan. "Begini rencananya... marimo akan menahan para mutan, para ladies lari bersama keluar aula, sembari aku menjaga kalian dari belakang! Kunamakan ini... rencana 'Tembok Berlumut'!"
Kling...
Sanji mengangkat jempolnya sambil menyeringai, menciptakan sebuah kilatan cahaya.
"Uwaaah... rencana yang sungguh jahat" pikir para cewek.
Meskipun begitu, ini rencana yang amat sesuai dengan situasi mereka (mengabaikan nasib Zoro di garis depan). Merekapun mulai bergerak, tapi...
"Siapa yang kau sebut 'Tembok Berlumut', haaah?!" teriak Zoro.
"... itu yang membuatnya marah?!" pikir anggota lain.
Bersamaan dengan selesainya diskusi di tim Zoro, speaker dimatikan oleh Kid. Saat itu juga, para mutan seolah tersadar dari lamunannya dan meraung keras-keras, menandakan mereka sudah siap mengamuk lagi.
Tapi, saat itu tim Zoro sudah cukup jauh dari mereka.
Tentunya, Zoro yang berperan sebagai sang ksatria garda depan dalam misi ini tidak berniat jadi tumbal begitu saja... dia pun menghunus Shuusui. "Ayo, sini," katanya menantang.
Para mutan memang tidak bisa memahami omongan Zoro, tapi mereka yang merasakan semangat bertarungnya langsung menanggapi dengan serangan-serangan cepat.
Beberapa saat kemudian terdengar bunyi pedang bertemu dengan sesuatu yang keras... pertarungannya sudah dimulai.
"Senang mengenalmu, Zoro! Selamat tinggal!" teriak Sanji dari kejauhan.
...
"Alis lingkar brengsek! Rupanya kau menjadikanku umpan?!" Menyadari maksud Sanji yang sebenarnya, Zoro segera mengejarnya dengan amat marah, mengabaikan para mutan yang berhasil dipentalkannya.
...
Sementara itu, tim Luffy malah kebingungan. Berkat serangan terhadap Ace tadi, tembok aula berlubang, mengubahnya jadi pintu keluar. Mereka sebenarnya tinggal kabur saja, tapi... ketiga mutan itu menghalangi, menciptakan semacam blokade berotot dan penuh keringat. Eww.
"Mau tidak mau harus bertarung," gumam Hancock sambil menggigit bibirnya. "Moda, kau ikut aku."
Moda mengangguk dengan ekspresi takut.
"Yooosh, ini yang aku tunggu-tunggu!" Luffy tampak amat antusias mendengar keputusan Hancock untuk bertarung. Dia pun ikut melesat maju bersama pasangan prom-nya itu. Tapi, petarung terakhir timnya, Sabo, malah diam di tempat dan berorasi.
"Saat inilah kebersamaan kita sebagai nakama diuji! Ayo maju, teman-teman! Demi hari esok yang cerah!" teriak Sabo penuh semangat, bagaikan seorang karakter di shonen manga.
"KAU JUGA MAJU!" teriak Hancock dan yang lain kompak.
"Eeh, aku kan masih gegar otak karena omongan Hancock-chan tadi..."
"Cederaku lebih parah, tahu!" teriak Ace dari luar aula.
Sabo tertawa kencang, lalu memanjangkan pipa senjatanya dan berlari maju.
Sesampainya dia di garis depan, pertarungan sengit sudah terjadi. Hancock yang berusaha melindungi Moda, sebaliknya ada dalam perisai berupa serangan-serangan area dari Luffy. Pertahanan terbaik adalah menyerang, itulah paham yang dianut Luffy dalam berkelahi (walaupun dia tidak mengerti itu).
Tapi, para mutan tidak bergeming... dan ini gawat buat Moda yang tidak memiliki kemampuan berkelahi. Jadi, Sabo memikirkan cara untuk menyelamatkan anak itu dulu.
Tidak lama, Sabo mendapat ide.
Dia melompat ke mutan Urouge dan menghantam kepalanya keras-keras dengan pipa senjatanya, membuat badan besar mutan itu condong ke belakang... sehingga tercipta celah di antara blokade zombi itu!
"Sekarang, Moda!" teriaknya.
Memanfaatkan celah itu, Moda merangkak melewati para mutan... dan akhirnya berhasil keluar dari aula. Dia langsung berlari menghampiri Ace.
"U-uwaaaaaaan!" dan menangis kencang di depannya.
Ace melongo melihatnya. Moda saat ini bagaikan seekor anak sapi yang setelah terpisah dari induknya dan dihadang kelompok serigala, berhasil meloloskan diri. Dengan kata lain... itu sangat imut. Diapun menelan ludah.
"U-uh..." Tidak tahu apa yang harus dilakukan, tangan Ace bergerak secara otomatis ke atas kepala Moda dan membelainya dengan gugup. "Sekarang sudah nggak apa-apa... cup, cup."
Persis menenangkan bayi. Aah... Ace akan jadi ayah yang baik, pikir Sabo dengan ekspresi lembut.
"Bwah! Apa yang kupikirkan di saat-saat seperti ini? Aku belum akan mati!" teriaknya sambil menggelengkan kepala keras-keras.
Menyadari lawannya tidak fokus, mutan di samping Urouge menyapukan tangan besarnya ke arah Sabo. Tapi, si target menundukkan kepala menghindarinya, lalu menancapkan pipanya ke sela-sela jari si mutan dan membengkokkannya ke belakang sejauh mungkin. Ini... adalah posisi seorang pelompat galah!
"GERONIMOOO!"
Bwuuung... jraaash!
Dengan lompatan parabola yang indah, Sabo melewati kepala para mutan dan mendarat dengan kedua sikunya sebagai penumpu di luar aula. Dia berhasil lolos!
"Eeeh?! Kenapa Sabo tiba-tiba ada di situ?!" teriak Luffy dari dalam aula.
Hancock mengerutkan dahi, dia amat kesal sekarang. Kenapa orang yang terakhir maju untuk bertarung malah bisa kabur duluan? Padahal dia membutuhkannya untuk membukakan jalan baginya dan Luffy (dengan kata lain, dia memikirkan rencana untuk mengorbankan Sabo). "Anak itu-!"
Sekarang hanya tinggal dia dan Luffy di seberang tembok aula. Dia sebenarnya mau mengorbankan diri demi Luffy, tapi memikirkan apa yang akan dilakukan para mutan ini kepadanya membuatnya bergetar tidak karuan.
Saat dia sedang memikirkan berbagai rencana untuk lolos dengan berbagai persentase keberhasilannya...
"Oh, iya! Oi Hancock, ayo kemari!" Luffy tampaknya menyadari sesuatu, lalu dia melambaikan tangannya untuk memberi isyarat Hancock.
Dipanggil sang pujaan hati, Hancock melompati tackle seorang mutan dan menghampirinya. Belum sempat menanyakan apa yang dipikirkannya, anak murah senyum itu berkata, "Rangkul aku."
"?!"
Hancock tak bisa memproses permintaan absurd itu. "Rangkul? Berarti... peluk kan?! Kenapa... oh kenapa Luffy-sama malah memintaku melakukan itu di saat-saat seperti ini?!"
Wajahnya seolah terbakar memikirkan kemungkinan apa saja yang akan terjadi. Tapi, karena Hancock adalah istri yang patuh pada suami (dalam khayalannya), dia tetap melaksanakan perintah itu. Dengan malu-malu, dia meletakkan kedua tangannya melingkari leher Luffy, yang saat itu tengah membungkukkan badan layaknya seorang pelari 100 meter. Perbedaan tinggi badan mereka membuat posisi itu terlihat sangat aneh, tapi... ooooh, posisi ini benar-benar...
"... Jet Rockeeeeeet!"
Belum sempat Hancock menikmati posisi itu dalam keadaan normal, Luffy menggunakan kedua tangannya sebagai pelontar... dan membuat mereka terbang!
"?!"
Belum selesai kagetnya, Hancock merasakan Busoshoku diaktifkan oleh Luffy untuk melingkupi kepalanya sebagai persiapan menghadapi benturan. Jangan-jangan...!
BRUAAAKKKK. KRASHHH!
Benar apa yang dipikirkan Hancock. Luffy menggunakan dirinya sebagai peluru meriam untuk menembus blokade para mutan! Merekapun bertabrakan dengan dahsyat, kemudian berkat kecepatan lontaran dan armor Busoshoku, Luffy...
Berhasil mendarat di luar aula... dengan posisi di bawah Hancock.
"Yossshaaaaa!" tidak mempedulikan posisi memalukan itu, Luffy berteriak puas. "Berhasil!"
Sementara Hancock terdiam dengan mata berkunang-kunang, antara pusing karena lontaran dan tabrakan, juga posisi mereka.
Ace dan Sabo membelalakkan mata mereka melihat posisi kedua orang itu, lalu saling memandang dengan ekspresi sedih. Ya... posisi Hancock yang memeluk Luffy erat-erat itu jadi konfirmasi perasaannya kepada sang adik. Kedua cowok itupun menghela napas panjang, napas orang-orang yang patah hati.
Tapi, setelahnya mereka menyadari sesuatu.
"Ah... ngomong-ngomong, kita bertiga ada di luar aula 'kan?" tanya Sabo, merujuk pada tim aslinya, Ace dan Moda.
"Benar, saudaraku... Luffy juga berhasil keluar," jawab Ace dengan nada tidak percaya.
"D-dengan kata lain," Moda bergumam. "K-kita... kalah?"
Kedua cowok itu memandang Moda tanpa berkedip, lalu membuka mulut mereka lebar-lebar.
"KITA KALAH! YESSSS!" Ace dan Sabo berteriak histeris.
Luffy dan Hancock yang sudah bangun memiringkan kepala mereka, di atasnya tampak beberapa tanda tanya imajiner.
BLAAAAR!
Selebrasi itu terhenti prematur karena bunyi ledakan di dekat mereka. Berpikir kalau para mutan menjebol tembok untuk mengejar mereka, Luffy dan yang lain langsung pasang kuda-kuda untuk bertarung lagi. Tapi...
"Sial! Alis pelintir sialan itu menipuku!"
Terdengar suara marah yang tak asing lagi dari tengah puing-puing tembok. Ah, bukan. Meskipun itu suara yang asing juga, mereka sudah bisa rileks karena mutan tidak bisa bicara.
Belum selesai mereka memikirkan itu, tampaklah suatu bulatan berwarna hijau... atau lebih tepatnya, kepala. Kepala berwarna hijau, tidak salah lagi...
"Zoro!" Luffy memanggilnya.
"... ? Oh, Luffy," pemilik kepala itu menoleh ke Luffy yang melompat-lompat penuh semangat. "Apa? Kenapa kau ada di sini?"
"Masa kamu tidak sadar dari tadi, Zoro telmi, ah," terdengar suara cewek dari dekat Zoro. Dia lalu mendongakkan kepalanya, wajahnya tak asing lagi buat Ace dan Sabo.
"Tashigi-san?"
"Halo," Tashigi menepuk-nepuk debu dari kostumnya.
"Oi, apa yang kau maksud dengan telmi?" tanya Zoro.
"Fufufu," suara tawa melodik seolah menjawab kekesalan Zoro. Robin kemudian muncul dengan senyum amat puas. "Zoro-kun, Tashigi, kita kalah."
"Ah... kamu benar, Nico," jawab Tashigi dengan senyuman capek.
"Haaahh..." Zoro menghela napas panjang. Akhirnya, dia benar-benar lari dari para lawan. Ini bukan pertarungan resmi sih, tapi tetap saja...
TEEEEEETTT!
Bersamaan dengan itu, sebuah bel berbunyi dengan amat nyaring dr dalam aula.
"Waktu sejam sudah habis... dan permainan 'Left for Dance' berakhir!" teriakan penuh semangat Kid bergema di dalam aula dan terdengar cukup nyaring di luar. Dari nada bicaranya, sepertinya dia tak sabar ingin mengatakan sesuatu...
"Ah," tim Luffy dan Zoro saling menoleh.
Mereka baru sadar bahwa semua peserta sudah ada di luar aula... jadi mereka semua kalah!
"Fiuhh," semua orang di situ (kecuali Luffy) menghela napas panjang.
Akhirnya. Setelah berlari maraton, nyaris dilumat zombi, dan menaikkan tekanan darah karena ulah OSIS, permainan ini berakhir juga. Dengan hasil sesuai harapan... mereka kalah dan terhindar dari kegugupan (juga kebejatan) tingkat akut di kamar hotel.
"Eh tunggu. Kalau kita semua kalah kenapa Eustass begitu bersemangat?" gumam Ace.
"Karena kita mendapat pemenang permainan ini!" jawab Kid.
"Haah?! Bukannya semua peserta sudah ada di luar aula?" tanya Sabo. Dia mengaktifkan Kenbunshoku untuk mengecek apakah ada peserta yang tertinggal... dan mendeteksi dua keberadaan manusia normal di dalam aula. Dengan kata lain...
"Ah. Mereka berdua yang menang," kata Sabo.
"Kau benar, Sabo-senpai. Pemenangnya adalah... mereka!"
Ah... benar. Tim Zoro tidak menyadarinya karena terlalu bersemangat menghindari zombi, bahwa masih ada dua orang anggota aliansinya yang tertinggal.
Mereka adalah sepasang zombi kakek-nenek dengan warna rambut mencolok, yang baru saja menampakkan wajah di luar aula.
Tidak lain tidak bukan... Sanji dan Bonney.
"APUUUAAAAAAA?!"
Next in Two Schools, Two Worlds
Chapter V Epilogue
"The Last of Us"
"A-aku menciumnya! Apa yang kupikirkan?!"
NB: kali ini sungguhan XD
