FADE IN TO SERIES (REMAKE)
Series 3 - Fade Into Always
ChanSoo Version
.
.
Original Story By. Kate Dawes
.
.
Cast :
Park Chanyeol
Do Kyungsoo (GS)
Xi Luhan (GS)
Kim Suho
Kim Kai
.
.
Genre :
Romance
.
.
Bab 10
.
.++
Keesokan paginya, kami semua makan di restoran terkenal yang melayani beraneka macam sarapan. Ayahku bilang tempat itu terlalu mahal untuk makan, dan ketika aku bilang aku yang membayar, kami menghabiskan sepuluh menit berikutnya untuk berdebat dengan dia dan ibuku mengatakan kalau aku "tidak bisa" kemudian "tidak harus" membayar untuk makanan kami semua ketika kami bisa membeli sesuatu yang cepat di tempat makanan siap saji.
Aku memenangkan perdebatan, terutama karena aku mulai berjalan memasuki tempat itu dan diikuti dengan Minseok.
Setelah sarapan orang tuaku ingin melihat tempat dimana aku bekerja. Tersedak. Aku bahkan tidak memikirkan hal itu. Kemarin malam, setelah Minseok mematikan teleponnya dengan suaminya, aku menceritakan kepadanya sisa cerita yang terjadi denganku: berhenti bekerja, tapi segera akan bekerja dengan Chanyeol. Dia berjanji tidak mengatakan apapun pada orang tua kami. Untungnya, hari ini adalah sabtu, jadi kami semua hanya berkendara ke gedung itu dan aku menunjuk sambil berkata, "Itulah tempat aku bekerja. Hanya bangunan biasa."
Wah.
Kami menghabiskan bagian yang terbaik dari sore ini dengan berkeliling ke Universal Studios. Sesuatu yang belum kulakukan sejak datang ke LA, jadi aku tidak keberatan melakukan sesuatu yang begitu "layak sebagai Turis."
Aku mendorong kereta bayi berkeliling untuk sementara waktu, pada saat orang tuaku dan Minseok pergi ke toilet, aku duduk di bangku di tempat teduh, sendirian dengan keponakanku yang masih bayi itu. Orang-orang yang sebagian besar wanita dan anak perempuan berhenti dan bergumam dengan lembut padanya, mengatakan padaku betapa cantiknya dia. Aku hanya berterima kasih kepada mereka, tidak mengatakan kepada mereka bahwa dia bukanlah bayiku.
Aku sebelumnya bahkan tak pernah berpikir menjadi seorang ibu. Tentu saja tidak seperti ibuku sendiri, dan bahkan tidak seperti Minseok. Tapi itulah pertama kalinya aku mengalami apapun yang menyerupai keinginan untuk memiliki anak. Pasti aneh perasaan seperti itu bagiku.
Aku mendapat sms dari Chanyeol: Biarkan aku mentraktir keluargamu untuk makan malam.
Aku: Well, hallo juga untukmu.
Chanyeol: Hey, gadis impian.
Aku tersenyum pada saat membacanya, tapi tidak berlangsung lama. Dia ingin mengajak keluar keluargaku untuk makan malam?
Aku: Kita sudah membicarakan masalah ini. Aku belum siap.
Chanyeol: Aku tidak harus berada di sana. Biarkan aku melakukan reservasi di tempat yang bagus. Kau yang mengajak mereka.
Aku: Dari mana usulan ini tiba-tiba datang?
Chanyeol: Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang baik untukmu. Dan untuk mereka.
Aku mendesah dan berpikir tentang apa yang akan aku tulis sebagai balasnya. Sebuah penawaran yang sangat murah hati, dan aku tidak terkejut dengan hal itu, hanya mengingat bagaimana Chanyeol itu. Tapi aku benar-benar berpikir dia akan berusaha untuk membelokkan jalannya untuk menemui mereka.
Aku: Kenapa kau ingin sekali bertemu dengan mereka?
Chanyeol: Karena mereka keluargamu. Tapi aku tak harus bertemu dengan mereka. Jadi biarkan aku mengaturnya.
Aku: Apakah kau yakin?
Chanyeol: Ya, tapi kau harus berjanji satu hal padaku.
Aku: Oh Tuhan. Apa ini akan melibatkan belenggu?
Chanyeol: Aku tidak memikirkan hal itu, tapi kita bisa mencobanya.
Aku: Ha! Serius. Apa itu?
Chanyeol: Kau akan datang denganku untuk bertemu dengan ibuku.
Sial . Dia benar-benar mendesak urusan ini. Seberapa sering seorang pria bersikeras ingin bertemu dengan keluargamu dan kau bertemu dengan keluarganya? Dia terlihat jelas sangat serius tentang hubungan kami. Ini ditunjukkan dalam tindakannya, tapi untuk suatu alasan, bukan kata-katanya. Beberapa kali aku harus menahan kembali diriku karena ingin melontarkan fakta kalau aku jatuh cinta pada dia tapi untungnya aku terhindar dari potensi yang akan membuatku malu dan, lebih buruk lagi, mungkin aku akan ditinggalkannya. Aku yakin hal itu akan menjadi terlalu banyak untuk dirinya, terlalu cepat.
Tapi segala hal tentang pertemuan keluarga ini...
Mungkin aku hanya perlu membiarkan dia sendiri yang mengatur iramanya. Dia memiliki dinding pembatas. Dinding yang tinggi. Bahkan mungkin lebih tinggi dari milikku. Tapi dinding itu mulai menurun, dan untuk pertama kalinya setelah beberapa lama aku membiarkan dirinya mengintip di atas penghalangku. Dia juga membiarkanku mengintip miliknya. Mungkin aku akan membiarkan dia memimpin pemilihan waktunya atas semua ini.
Aku mengirim sms: Kita akan membicarakannya, tapi ya aku akan bertemu dengan ibumu.
Chanyeol: Biarkan aku yang mengatur acara makan malam ini dan aku akan menghubungimu.
Me: OK. Terima kasih. Kau begitu manis.
.
.
.++
Chanyeol mengatur reservasi untuk kami di Spago Beverly Hills, sebuah restoran yang dimiliki oleh koki terkenal Wolfgang Puck.
Menjalankan tawaran Chanyeol yang akan mentraktir makan malam kami seperti sesuatu yang keluar dari film spionase.
Kami saling mengirim sms tentang bagaimana menangani tagihan itu. Jika pelayan mengatakan semua tagihannya itu sudah diselesaikan, itu akan meningkatkan pertanyaan yang paling utama oleh orang tuaku. Jadi Chanyeol memberitahu manajernya agar menginformasikan pelayannya untuk mengambil kartu kreditku seolah-olah aku yang membayar, tapi mereka akan memasukkan tagihan itu kepada Chanyeol.
"Kami masih belum melihat apartemenmu," kata Ibuku pada saat itu.
Aku sedang makan sesuap makanan pembuka kami dan berhenti mengunyah, tapi dengan cepat membawa serbetku ke mulutku dan mengangkat satu jariku. Aku tahu mereka ingin melihatnya— bagaimana mungkin mereka tidak akan melakukannya—Tapi entah bagaimana serasa menipu diriku sendiri karena berpikir mereka tidak akan mengingatnya. Benar. Orang tua mana yang tidak ingin melihat di mana kau tinggal. Terutama aku. Ketika aku selesai menelan, aku benar-benar sangat terkejut karena hal itu tidak langsung ditanyakan oleh mereka.
"Mungkin setelah selesai makan," kataku. "Akupun harus pulang. Aku tidak punya waktu lagi untuk mencuci baju kotorku dan aku mungkin juga tinggal di sana malam ini."
Aku memandang Minseok, yang memiliki ekspresi di wajahnya seakan dia tahu sesuatu. Mungkin ia menduga aku memiliki kencan dengan Chanyeol atau sesuatu. Jika demikian, dia salah.
"Harga di sini sangat keterlaluan," kata Dad, agak keras.
"Dad, jangan khawatir tentang hal ini. Sudah kubilang, aku yang membayarnya."
Dia menggelengkan kepalanya, dan melihat menu itu lagi. Terima kasih Tuhan ia tidak kembali memulai perdebatan seperti yang kami miliki di mobil sebelumnya. Orang tuaku bersikeras bahwa mereka yang akan membayar makan malam ini, dan aku mengatakan aku yang membayarnya, dan tidak perlu mengkhawatirkan itu. Aku akhirnya berada diatas angin dengan menjelaskan kepada mereka bahwa aku sendiri bisa melakukan itu sekarang, dengan uangku sendiri, dan aku sudah dewasa yang mampu membayar makan malam untuk keluarganya.
Oke, kenyataannya adalah bahwa aku mandiri sekarang, dan aku sudah dewasa yang memiliki seorang pacar hot, kaya yang menawarkan diri untuk membuat aku seolah-olah cukup mampu membayari keluarganya makan malam di tempat yang mahal di Beverly Hills hot-spot.
Sebenarnya itulah yang dilakukan Chanyeol, dan mengapa dia melakukannya.
Ayahku tampak tidak bahagia sepanjang makan malam ini. Bahkan, ia sama sekali tidak banyak bicara.
Mom, meskipun begitu, tampaknya telah mengembangkan bakatnya dengan diam-diam melirik sekeliling ruangan mencari orang-orang terkenal. Aku pernah mendengar bahwa Spago adalah tempat yang baik untuk selebriti nongkrong, tapi kelihatannya kami keliru memilih waktu malam ini.
Begitulah, sampai rombongan besar memasuki tempat ini dan orang mulai mencari dan melihat siapa yang datang. Ternyata Linda Evans, seorang aktris yang membintangi pada jam tayang utama film seri Dynasty, salah satu film favorit ibuku. Aku belum pernah melihatnya. Aku belum cukup umur waktu itu. Tapi ibuku senang dengan menceritakan semuanya tentang hal itu pada kami, dan kami membiarkan dia terus menerus bercerita karena ia sepertinya begitu terpesona dan gembira sekali. Ayah mengatakan kepada kami kalau film itu telah mengganggu beberapa acara permainan bisbol yang ingin ditontonnya—ibuku bersikeras bahwa mereka akan bergantian saluran selama jam itu, karena mereka hanya memiliki satu TV.
"Apa kau pikir kita akan bertemu dengan Luhan?" Tanya Minseok.
"Aku meragukannya. Tapi biarkan aku menghubunginya."
Aku mengeluarkan teleponku dan mengirim sms padanya untuk memperingatkan bahwa kami akan mampir ke apartemen. Dia mengirim sms kembali dan berkata ia pergi ke bioskop dengan temannya. Sejenak aku merasa khawatir apakah dia benar-benar pergi—kondisinya tampak baik sepanjang Minggu ini, bersiap-siap untuk perubahan besar—tapi aku punya urusan yang harus kutangani sendiri pada saat ini.
"Luhan sedang bekerja lagi. Dia bekerja begitu keras," kataku, sambil menggigit banyak makananku.
Aku tidak sabar ingin segera pulang dan tidur. Semua penipuan ini membuatku lelah.
.
.
.++
TBC
