Akatsuki no Yona
Extra – The Flower of Peace
.
Setelah Yona dan Hak menikah, bersamaan dengan upacara penobatan mereka sebagai raja dan ratu, Yun menetap di kastil Hiryuu sebagai dokter pribadi merangkap penasehat (mengingat Keishuk dipecat dari posisinya sebagai penasehat istana dan dipenjara). Yona dan Hak meminta Mundok datang ke kastil Hiryuu sebagai kepala penasehat istana namun Mundok menekankan bahwa ia hanya akan menjadi penasehat istana untuk sementara waktu karena Mundok merasa lebih baik jika posisi kepala penasehat istana diserahkan pada generasi muda. Melihat talenta dan kejeniusan Yun, Mundok mengajarinya untuk menjadi penasehat istana sekaligus melatihnya cara untuk melindungi dirinya sendiri. Tentu saja Yun menerima pelajaran Mundok yang merupakan idola baginya dengan senang hati.
Bicara soal ke-4 ksatria naga, pasca pernikahan Yona dan Hak, mereka pergi berpencar untuk kembali ke rumah mereka masing-masing, kecuali Shina yang memutuskan menetap di kastil Hiryuu, Kuuto bersama Yun, Yona dan Hak. Jika mengingat apa yang telah diberitahu oleh anak-anak mereka dari masa depan, Shina bisa menemukan anak angkatnya di desa Seiryuu, yang terlahir sebagai Seiryuu selanjutnya kelak. Yona dan Hak sudah menawarkan bantuan jika kelak Shina berniat mengambil anaknya di desa Seiryuu, namun untuk sekarang Shina tak berniat pergi kemanapun selain berada di sisi sahabatnya ini.
Di lorong istana, Shina menatap bulan pada malam hari itu, merasa penasaran apa yang saat ini dilakukan oleh ketiga saudara naganya di luar sana?
Menurut Zen, Kija menikah dengan seorang wanita di desa Hakuryuu sehingga Kija kembali ke desa Hakuryuu dan berusaha menghadapi hal yang tampaknya tak bisa dihindari itu, ia jadi penasaran wanita macam apa yang menikah dengannya nanti.
Di tengah jalan, Kija bertemu dengan wanita dari desa Hakuryuu yang mengikutinya, wanita berambut putih lurus sepinggang yang memiliki warna mata yang sama dengan Hak atau Ruri, warna mata biru Lapis Lazuli, warna biru laut yang dalam. Namanya Nagisa, ia masih belajar sebagai calon dokter sehingga ia sering keluar masuk desa Hakuryuu bersama orang tuanya yang bekerja sebagai pedagang (mata-mata yang dikirim desa Hakuryuu untuk menguntit Kija) karena ingin belajar lebih soal pengobatan di luar desa Hakuryuu sekaligus mencari persediaan tanaman obat untuk desa mereka. Gadis ceroboh yang mengingatkan Kija pada Ik-Su, pada pertemuan pertama mereka saja, gadis itu beberapa kali tersandung. Kija merasa penasaran, ia hampir tak pernah bertemu Nagisa sebelumnya karena tak seperti gadis-gadis yang disodorkan neneknya padanya, Nagisa lebih sering ikut dengan orang tuanya sehingga ia merasa heran, ini pertama kalinya ia tertarik pada seorang wanita di desa Hakuryuu. Terlebih Nagisa terbilang kalem, tipe wanita yang tak ditakuti oleh Kija.
Jae Ha kembali ke Awa, menemui kapten Gigan dan para awak kapalnya. Ketika ia kembali, teman-temannya menyambutnya dengan gembira termasuk kapten Gigan yang sudah ia anggap sebagai ibunya. Teringat ucapan Hwaryun, Jae Ha merasa ragu, apa yang membuat Yuri sang putri saudagar kaya di Awa bersedia menikah dengannya? Ia merasa ragu jika mengingat Yuri akan meninggal saat melahirkan Hwaryun, apakah ia harus tetap menjalin hubungan dengan... Jae Ha yang berjalan-jalan di tepi pantai menghentikan lamunannya saat melihat sosok Yuri di hadapannya, salah satu gadis yang mereka tolong saat pertarungan terakhir melawan Yan Kum Ji.
Yuri merapikan rambutnya yang tertiup angin laut, menoleh ke arah Jae Ha "...Jae Ha? apa yang kau lakukan disini?".
"perjalananku sudah selesai, aku hanya mengunjungi tempat yang kuanggap rumahku dulu...", Jae Ha tersenyum sendu "kau masih ingat padaku?".
Saat Yuri menghampiri Jae Ha, ia tersandung sehingga Jae Ha menangkapnya "kau tak apa-apa".
"tak apa-apa... mana mungkin aku lupa pada salah satu penyelamatku?", Yuri tersenyum sambil memegangi lengan Jae Ha "terima kasih, lagi-lagi aku diselamatkan olehmu... ".
"ah, sepertinya aku mengerti kenapa...", Jae Ha memeluk Yuri "aku pulang...".
Yuri balas memeluk Jae Ha, mendekapkan wajahnya pada Jae Ha "...selamat datang".
"maafkan aku, Yuri... meski kau akan meninggalkanku, aku tetap...".
Zeno yang duduk di atas batu karang tersenyum melihat Jae Ha dan Yuri berpelukan, ia merasa sudah saatnya ia pergi dari tempat itu sebelum ketahuan. Zeno tak merasa kalau Jae Ha akan kehilangan Yuri begitu cepat kali ini, sebab masa depan telah berubah. Anak-anak dari masa depan itu telah menuntaskan mimpi mereka. Berkat mereka, Hak dan Soo Won tak kehilangan nyawa mereka di pertempuran kali ini dan Yona tak perlu kehilangan Hak. Itu sebabnya, Zeno merasa masa depan yang akan terjadi pasti akan berbeda dengan masa depan yang terjadi pada Ruri dan kawan-kawan.
Zeno memutuskan untuk kembali menemui Kayano. Reinkarnasi istrinya di masa lalu, Kaya. Ia sangat merindukannya, terakhir kali ia menemui Kayano adalah pada musim gugur tahun lalu dan ia tak sabar untuk kembali menemui Kaya / Kayano. Ah, yang manapun tak masalah. Kaya adalah istrinya di masa lalu dan Kayano adalah reinkarnasinya, mereka adalah orang yang sama. Namun tak disangka saat ia tiba di kuil tempat Kayano tinggal, ia mendapat kejutan.
Kayano tersenyum lebar saat melihat Zeno datang "selamat datang kembali, Zeno".
Yona bertopang dagu, setahun berlalu sejak ia dan Hak naik tahta. Pada siang hari di musim gugur yang cuacanya cerah, ia dan semua anggota kelompoknya berkumpul dengan beberapa anggota baru, keluarga mereka masing-masing. Kija menikah dengan Nagisa. Jae Ha menikah dengan Yuri. Lily yang menikah dengan Joo Doh kini tengah menggendong Yahiko yang baru beberapa minggu. Shina dan Yun tetap berada di sisi mereka seperti biasa namun ada satu yang kurang.
"hei, apa ada yang tahu bagaimana kabar Zeno?".
Mendengar pertanyaan istrinya, Hak menoleh pada teman-temannya yang juga menggelengkan kepala.
"dia yang paling lihai sembunyi, ya" gerutu Yun.
"entah kenapa, dia selalu menyembunyikan hawa keberadaannya dan saking lihainya dia dalam menekan hawa keberadaannya, kami jadi kesulitan melacaknya padahal kami ingin mengajak Zeno kemari" ujar Kija.
Hak terkekeh "paling tidak kita tak perlu khawatir dia sudah mati, kan?".
"sudah kalian cari di tempat istrinya, belum?" tanya Jae Ha.
Tiba-tiba, Joo Doh datang memberi kabar "yang mulia, tuan Ouryuu Zeno sudah datang, beliau sedang menuju kemari".
Setelah bercakap-cakap sebentar dengan Lily, Joo Doh mengelus kepala Yahiko yang terlelap di pelukan Lily sebelum pergi untuk melanjutkan pekerjaannya. Mereka terkejut saat Zeno dan Kayano datang menemui mereka, bukan karena mereka datang bersama, tapi karena gadis kecil yang digendong Kayano. Gadis kecil berambut pirang bermata biru yang mirip Kayano, yang usianya baru sekitar 2 tahun.
Kayano memperkenalkan gadis kecil itu, anaknya dengan Zeno "namanya Waka, artinya bunga perdamaian".
Yona dan yang lain menyambut mereka dengan gembira disertai ucapan selamat. Mereka kini mengerti kenapa Zeno tak muncul atau memberi kabar selama setahun belakangan ini, rupanya ia sibuk mengurus Waka bersama Kayano. Zeno sendiri juga terkejut saat melihat Waka tahun lalu, ia bahkan sempat bertanya pada Kayano yang dijawab Kayano dengan jitakan di kepala sambil berkata 'tentu saja ini anakmu, dasar bodoh?!'.
"kau sama sekali tak memberitahuku kalau ternyata kau hamil dan tahu-tahu anak kita sudah lahir saat aku kembali, mana mungkin aku tak terkejut?" protes Zeno mengingat saat itu.
"yah, soalnya aku tak tahu kapan kau akan pulang lagipula aku tak tahu bagaimana mengirim surat padamu...", Kayano mengelus-elus kepala Waka "dan lagi, aku sudah bilang sebelumnya, kan? aku istrimu, akan selalu ada tempat untuk pulang bagimu... aku percaya kau akan pulang dan aku akan menunggumu, hanya itu".
Mendengar ucapan Kayano, wajah Zeno memerah sehingga Jae Ha menggodanya kembali "wah, istrimu hebat sekali".
"benar, lebih hebat dari yang kita kira" angguk Yun setuju.
Yona mencubit-cubit pipi Waka "dia manis sekali~".
"kenapa kalian tak bikin saja satu? Eh, tapi nanti yang keluar empat orang, ya?" goda Jae Ha pada Hak.
"tutup mulut, mata sayu... ajari saja putrimu nanti untuk tak menjadi seorang ekhibisionis" bisik Hak yang menginjak Jae Ha, dan ini sudah jadi pemandangan biasa bagi Yuri.
Yuri menghela napas "aku heran kenapa kedua pria ini selalu berkelahi? meski begitu, mereka memang berteman baik, ya".
"benar sekali", angguk Yona tertawa kecil bersama Yuri.
Setelah Zeno memberitahu bahwa ia berniat tinggal di Kuuto, Yona bersikeras meminta Zeno dan Kayano untuk tinggal di Kastil Hiryuu, lagipula Zeno yang bisa mengatur berbagai macam protokol atau administrasi dan Kayano yang memiliki sedikit pengalaman dengan pengobatan bisa membantu pekerjaan Yun. Tentu saja mereka tak keberatan dan menerima tawaran Yona dengan senang hati.
Pada awal musim dingin, saat rapat kelima suku selesai, Kyo Ga yang memiliki pengamatan yang tajam menyadari hal ini sejak awal pertemuan sehingga Kyo Ga bertanya "permaisuri, apa anda baik-baik saja? wajah anda terlihat pucat".
"oh? tak apa, aku hanya sedikit pu...", belum sempat Yona menyelesaikan kata-katanya, saat ia berdiri dari tempatnya, ia merasa pusing dan tak sadarkan diri.
"Yona?!", Hak menangkap tubuhnya sebelum jatuh ke lantai dan membopongnya.
Di depan klinik istana dimana mereka menunggu dengan cemas, Kayano keluar dengan wajah sumringah dan menjabat tangan Hak "selamat, tuan Hak".
"ya, ampun... apa tak ada yang sadar kalau Yona sedang hamil?" gerutu Yun keluar kamar dan tersenyum lebar sambil mengangkat dua jarinya "tapi selamat, ya~ positif, dua bulan".
Mendengar ucapan Yun, serentak para jenderal dan ke-4 ksatria naga memberi selamat pada Hak "selamat, 'ayah' ?!".
"...sama-sama" gumam Hak menutupi wajahnya yang memerah sebelum masuk ke kamar dan menemui Yona.
Zeno tersenyum lebar sambil menatap langit dimana salju turun memenuhi daratan, apa yang ia pikirkan sepertinya benar, masa depan telah berubah dan ia sangat bersyukur dengan masa depan yang lebih baik ini. Meski ia tahu, mungkin kelak ia akan kembali seorang diri setelah semua teman-temannya, anak dan istrinya, keluarganya meninggalkannya, ia merasa bahagia dengan keberadaan mereka.
"seiring waktu, manusia pasti berubah, tumbuh dan berkembang layaknya sekuntum bunga yang mekar dan berkembang", Zeno tersenyum melihat Kayano yang menggendong Waka di tangannya, ia beranjak dari balkon, mengecup kening Kayano setelah mengambil Waka dari tangan Kayano dan menggendong Waka sambil tersenyum lebar "teruslah mekar, bunga perdamaian, bukti cintaku dan Kayano...".
A/N :
yah, aku tahu fanfic pertamaku ini sudah lama selesai, tapi tiba-tiba pikiran ini memunculkan ide tentang cerita ekstra kisah ini, jadi kutulis saja sekalian meski cerita ini sudah lama berakhir. Hope you all enjoy this!? XD
