"Ini…."

Kelima orang itu menatap dengan berbagai padangan ke arah depan.

Posisi mereka ada di sebuah daratan yang cukup kecil. Daratan kecil yang mengambang dan diselimuti oleh tameng Wonwoo. Ada satu daratan lagi yang jauh lebih besar di hadapan mereka dan terdapat kegelapan yang mengamuk disana. Daratan besar itu lah yang menjadi fokus utama arah pandangan mereka.

"Kita menemukannya." Ucap Jihoon.

Ucapan dari sang Center membuat mereka semua menatap ke depan dengan pandangan tajam.

"Baiklah semuanya, dengarkan aku. Wonwoo, kau akan tetap di daratan ini. Gunakan tamengmu untuk melindungi dirimu dan daratan ini. Seungkwan, kau tipe penyerang jarak jauh maka kau hanya akan bertarung di dekat Wonwoo. Seokmin dan Mingyu, kita akan menyerang dari jarak dekat.

Ketika kalian terluka, segera kembali ke daratan ini untuk penyembuhan. Setelah itu, kembali bertarung. Tolong jaga diri kalian. Aku telah menghilangkan satu nyawa, semoga tidak ada yang harus berkorban lagi.

Di depan sana terdapat bunga kegelapan tempat Lord Kegelapan akan lahir. Bunga itu belum mekar namun akan segera mekar. Lukai dan jika bisa hancurkan bunga itu. Itu adalah tujuan utama kita saat ini."

Semua mendengarkan penjelasan Jihoon dengan seksama.

Dengan segera Seokmin merentangkan sayapnya terlebih dahulu. Ia yang harus memimpin dan ia tahu itu dengan pasti.

"Ayo."

Keempat orang itu keluar dari tameng Wonwoo dan menuju tempat mereka masing-masing.

Terlihat Seungkwan yang mengeluarkan senapan gandanya dan siap membidik.

Wonwoo yang merasa masih bisa menggapai Seungkwan mengarahkan tangannya ke anak bungsu itu. Terlihat sebuah tameng melindungi Seungkwan sekarang.

Seungkwan tersenyum kala menyaksikan bantuan Wonwoo. Ia sekarang hanya perlu fokus ke tujuan utamanya tanpa perlu memperhatikan keselamatan dirinya sendiri.

"Lock on…."

Dor….

Senapan itu mengeluarkan pelurunya. Terus melaju dengan cepat ke arah bunga raksasa yang mulai mekar.

Trang…

Segerombolan kegelapan membuat tameng untuk melindungi sang bunga.

"Sial." Ucap Seungkwan.

Di sisi lain, ketiga sosok lain bergerak dengan sangat gesit. Menghindari berbagai serangan dan halangan, dan memberikan pelajaran kepada hal yang berani menganggu mereka.

Seokmin sudah akan sampai di bunga tersebut dan ia telah mengayunkan pedangnya ke arah sang bunga. Namun yang terjadi selanjutnya adalah dirinya yang terpental jauh.

"Seokmin hyung!" Pekik Seungkwan yang melihatnya.

Jihoon dan Mingyu tak punya waktu untuk melihat keadaan Seokmin. Mereka yakin Seokmin akan bangkit sendiri.

"Hyung, jangan menyerang bunganya langsung. Aku tak mau hyung terpental seperti Seokmin." Teriak Mingyu.

Jihoon mengangguk mengerti.

Ia menghempaskan tanah tak rata itu dengan pedangnya menciptakan hempasan kuat ke arah sang bunga.

Mingyu yang melihat hempasan itu langsung ikut menambahkan hempasan pedangnya sehingga kedua hempasan itu menjadi satu.

Tak diduga, Seungkwan yang melayang di atas sana membelalakan matanya. Penglihatan yang tak ingin dia lihat muncul di kepalanya.

Itu artinya tiga detik lagi-

"Hyung!"

-terlambat.

DUARRRR….

Ledakan besar terjadi membuat Seokmin, Mingyu, dan Jihoon terhempas. Wonwoo yang melihat itu mengeratkan genggaman tangannya untuk mempertahankan tamengnya.

Debu berserakan dimana-mana dan menghalangi jarak pandang Seungkwan dan Wonwoo.

Kala debu-debu itu mulai menghilang, mereka dapat melihat Seokmin yang bergelantungan di ujung daratan dengan pedang yang tertancap sebagai pegangannya.

Mereka juga dapat melihat Mingyu yang tertusuk berbagai macam kegelapan yang menembus tubuhnya. Ia terlihat melindungi Jihoon yang meringkuk di belakangnya.

Darah mengalir dari mulut Mingyu membentuk aliran yang pekat.

Seokmin langsung terbang menuju ke arah mereka lalu mengangkut Mingyu dan langsung melesat menuju daratan kecil.

Jihoon yang masih syok segera berdiri dan memilih mengikuti Seokmin.

Seungkwan juga kembali menuju daratan kecil dan memasuki tameng Wonwoo.

Dengan perlahan Seokmin meletakan tubuh Mingyu. Wonwoo yang sudah menahan sekuat tenaga air matanya segera meletakan tangannya ke tubuh Mingyu.

Mata Mingyu mulai sayu. Ia sudah akan menutup matanya jika saja dua buah kristal jiwa tidak keluar dari dalam tubuhnya.

Seungkwan menggigit bibirnya begitu pula dengan Jihoon yang memilih membuang muka. Seokmin menatap dengan pandangan tajam dan Wonwoo menitikan setetes air matanya.

Melihat luka Mingyu, jelas saja ia sampai menghilangkan dua buah kristal jiwa.

"Seungkwan… Tolong hubungi keluarga Kibara dan Anumerta lagi." Ucap Jihoon dengan bergetar.

Dengan tangan bergetar Seungkwan menembakan pistolnya ke tanah dan seketika cermin penghubung terlihat kembali.

Pada cermin itu sudah tampak raga Yuta dan Jeno yang tergeletak dengan posisi terlentang. Posisi yang sama dengan raga Mark yang sudah tak bernyawa. Terlihat pula keluarga Kibara dan Anumerta yang hanya bisa menatap pasrah.

Kedua keluarga itu sudah tidak sehisteris ketika Mark kehilangan nyawanya. Namun terlihat dua sosok arwah The Important yang menangis histeris sambil memukul-mukul lingkaran pembatas yang menghalangi mereka.

Tentu saja, Ten dan Jaemin kehilangan sosok yang terikat dengan mereka. Sosok yang selalu memprioritaskan mereka di atas segalanya. Sosok yang melindungi mereka.

Kedua kristal jiwa ditransfer Wonwoo dan diterima oleh kedua The Important yang semakin histeris.

Ten mengenggam kristal jiwa milik Yuta dengan erat. Begitu pula dengan Jaemin yang menangisi kristal jiwa itu dengan sangat menyedihkan.

Selain kedua The Important yang menangis, tak ada yang berani bicara saat ini. Baik Anumerta, Kibara, dan Preator. Mereka semua terdiam dan memilih menahan rasa sakit yang amat kuat.

"Simpan…. Kumohon jangan ditangisi lagi…." Ucapan itu muncul dari sang Arch Anumerta, Taeyong.

Ia ingin kepergian anggota keluarganya adalah sebagai kehormatan bukan pengorbanan yang harus ditangisi.

Tentu saja, titah Arch adalah mutlak. Maka Ten dengan segera menghentikan tangisnya. Ia menatap nanar kristal jiwa itu. Dengan segera Ten mengarahkan kristal jiwa itu ke bagian punggung kiri tubuhnya sendiri. Membiarkan kristal jiwa itu tersimpan di tubuh sang The Important sebelum pengadilan dilakukan.

Chenle mengangguk setuju sambil menampar kedua pipinya sendiri.

"Apa pun yang terjadi nanti, jangan ada yang menangis. Kita bisa menangis saat kita memenangkan perang ini. Bahkan jika kita kalah, kematian mereka adalah sebuah kehormatan." Ucap Chenle.

Sosok Anumerta dan Kibara lainnya sedikit tidak percaya bahwa ucapan seperti itu bisa keluar dari mulut seorang Chenle.

Di sisi lain, Jaemin menghapus air matanya lalu melakukan hal yang sama dengan Ten. Ia mengarahkan kristal jiwa itu masuk ke dalam pelipis kanan tubuhnya sendiri.

PRANKKKKK-

Bunyi pecahan kaca itu membuat keluarga Anumerta dan Kibara menatap serpihan-serpihan cermin yang tertinggal dengan pandangan 'lagi?'

Jelas saja, tameng Wonwoo kembali berhasil dijebol.

Seokmin segera menghancurkan sulur yang menembus tameng itu. Begitu pula dengan Seungkwan yang menembakan peluru ke berbagai arah.

"Wonwoo. Naikan kekuatanmu menjadi 2 kali lipat. Kau harus bisa melindungi dirimu sendiri terlebih dahulu. Mingyu, kau tunggu disini. Nyawamu hanya tersisa satu."

"Tidak. Aku akan ikut bertarung, Jihoon hyung." Ucap Mingyu yang kini telah pulih.

Sebagai ganti kepulihan Mingyu, Wonwoo lah yang terlihat mulai kelelahan. Tapi mau bagaimana pun, Wonwoo tetap membuat tameng yang kali ini memiliki ketebalan dua kali dari tameng biasa miliknya.

Jihoon menatap Mingyu menyelidik. "Baiklah." Ucapnya menyerah.

"Aku tak tahu apa yang harus kita lakukan selain menyerang. Maka dari itu, kita harus menyerang walau ledakan akan terjadi berkali-kali lipat." Lanjut Jihoon.

Bunga yang ada di daratan besar mulai terbuka.

"Ia mulai bangkit." Kata Seokmin.

"Ayo!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Hello..."