A/N : Oke, berhubung banyak yang meminta untuk dibuatkan chapter khusus pernikahan Cloud dan Tifa, maka saya akan membuatnya. Tetapi saya gak akan cuma menceritakan pernikahan mereka di chapter ini, tetapi juga keluarga mereka. Saya harap chapter ini bisa membuat kalian puas. Kalau kurang atau tidak, saya minta maaf. Mohon read and review ya, makasih.

SPECIAL CHAPTER

Mungkin sudah setahun lebih sejak Cloud dan Tifa memutuskan untuk pindah ke rumah baru mereka di Cosmo Canyon. Dan mereka berdua juga sangat menikmati pekerjaan mereka. Awalnya memang sempat 'kagok' karena tidak terbiasa, tetapi syukurlah hal itu tidak berlangsung lama. Cloud cukup cepat dalam menghapal setiap rute. Lalu Tifa yang bisa dibilang kreatif dalam menyajikan menu-menu baru dan berbeda dari yang lain. Kemampuan memasak Tifa memang tidak bisa diragukan lagi, begitu juga ketika ia memikirkan cara untuk meracik minuman. Salah satu minuman favorit Cloud adalah soda yang dicampur dengan krim serta wafer berbentuk stik. Simpel, tetapi rasanya sungguh menyegarkan. Apalagi ketika Cloud baru saja pulang bekerja dan terkena panasnya cahaya matahari dalam waktu yang lama. Tetapi tentu saja Cloud tidak meminumnya setiap hari. Selain membuat bar Tifa rugi, dia juga bisa terkena kencing manis. Kadar gulanya kan tinggi sekali.

Malam hari tepatnya pukul sebelas, Cloud baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Mungkin sudah lima paket barang sudah dia antar hari ini, dengan variasi alamat yang berbeda-beda. Dari yang dekat seperti Nibelheim dan Gongaga sampai ke tempat yang jauh seperti Rocket Town. Karena itulah, Cloud harus mengakui bahwa dia sangat lelah sekarang. Sambil meletakkan kunci motornya di atas meja kecil, Cloud berjalan menuju tangga dan melangkah menuju ke kamarnya. Tetapi baru saja dia mau naik, tiba-tiba pandangannya terarah pada sebuah bingkai foto di sampingnya. Bingkai itu ukurannya besar, dan terlihat paling mewah dibandingkan bingkai-bingkai foto yang lain. Yah, maklum saja. Karena bingkai foto yang ada di sampingnya adalah bingkai foto pernikahannya dengan Tifa.

Cloud membatalkan niatnya untuk ke kamar dan kini pandangannya terfokus pada foto itu. Jika mengingat kembali saat-saat dia menikah, Cloud langsung menyunggingkan senyum. Rasanya semuanya terjadi dengan begitu cepat sekali. Karena tahu-tahu, mereka sekarang sudah tinggal bersama untuk seterusnya. Rasanya masih tidak percaya bahwa kini mereka adalah pasangan suami istri, sungguh.

Back to their wedding...

Cloud mengamati dirinya melalui pantulan cermin yang ada di depannya. Jantungnya sudah berdegup kencang daritadi, sehingga membuat perasaannya sangat tidak tenang. Dari dahinya terkadang muncul keringat dingin. Dan mulutnya juga beberapa kali mengatup-ngatup tanpa suara mengatakan 'tenanglah Cloud'. Cloud benar-benar tegang, sangat tegang. Hari ini adalah hari spesialnya, tetapi rasa bahagianya nyaris tidak terasa karena rasa tegang itu. Padahal Cloud sudah sebisa mungkin mempersiapkan mental. Bangun pada jam tujuh pagi, sarapan, mandi, dan kemudian pergi ke butik yang tidak jauh dari tempat tinggalnya untuk berganti pakaian. Setelah memakan waktu sekitar lima belas menit, kini Cloud sudah berada dalam balutan jas pengantinnya. Yang didominasi dengan warna putih, serta dasi berwarna emas. Tidak lupa, ada bunga diselipkan di kantung jasnya.

Selain Cloud, ada empat orang lain yang ada di ruang ganti. Tiga diantaranya adalah penata rias, sementara yang satunya lagi adalah... Nanaki. Nanaki adalah salah satu orang yang ikut membantu dalam penyelenggaraan pernikahan Cloud. Karena itulah ia ditugaskan untuk membantu Cloud dan memberitahunya mengenai apa saja yang harus dia lakukan. Untunglah Cloud adalah tipe yang cepat belajar. Dan selain itu, Nanaki juga terus menyemangati Cloud yang terus terlihat minder menjelang pernikahannya. Kadang karena saking mindernya, dia jadi sering berkata yang aneh-aneh. Seperti 'bagaimana jika ada sesuatu yang terjadi nanti?' dan 'apakah aku mampu membahagiakannya?', Nanaki sungguh tidak menyangka kalau orang seperti Cloud Strife, yang sudah biasa tampil di depan publik, bisa gugup setengah mati seperti ini.

Cloud memeriksa jasnya yang sudah rapi terlebih dahulu dan berjalan mendekati jendela. Yah, inilah tanda-tanda Cloud jika rasa mindernya sudah hampir 'max'. Dia akan melakukan sesuatu yang... sebenarnya tidak perlu dilakukan. Tetapi ini masih mending, beberapa hari yang lalu Cloud melakukan hal yang bahkan jauh lebih aneh. Rasanya Nanaki tidak mau melihatnya lagi, karena itu dia memanggil Cloud dan menyuruhnya untuk duduk di sampingnya.

"Kau selalu tegang akhir-akhir ini, kau tidak apa-apa?" Tanya Nanaki.

"Yah, aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku bisa setegang ini."

"Sudah kubilang kan untuk selalu tenang? Jangan sampai acara pernikahanmu berantakan karena kau terlalu gugup."

"Aku tahu, aku akan berusaha. Meski bisa dibilang ini sangat sulit."

Nanaki menghela napas. "Apakah Tifa sama tegangnya denganmu?"

"Sebaliknya. Dia lebih santai dariku. Malah dia tidak sabar menanti hari ini."

"Kau harusnya belajar darinya."

Mereka berdua terdiam sebentar. Dan kemudian, Cloud menemukan kembali topik pembicaraan.

"Anu, apa kau tahu di mana Tifa? Kenapa sejak kemarin aku dan dia tidak boleh bertemu?" Tanya Cloud.

"Tifa? Tenang saja, dia tidak apa-apa. Kami hanya mengikuti tradisi desa ini, itu saja kok. Kau akan menemuinya nanti."

"Tradisi?"

"Sudahlah, pernikahan kalian akan dimulai sebentar lagi kan? Aku yakin kau akan menemuinya di depan butik ini."

Cloud hanya bisa menganggukkan kepalanya. Jujur, baru kali ini Cloud mendengar tradisi macam itu. Mungkin karena dia sudah tinggal lama di Midgar ya? Di Midgar kan tidak pernah ada hal seperti ini. Zack dan Aerith saja sering bersama bahkan sampai sehari sebelum pernikahan mereka. Tetapi tidak apa-apa, justru tradisi macam ini bisa dibilang unik.

Mereka berdua terus mengobrol hingga lupa waktu. Dan kini, waktu sudah menandakan bahwa resepsi pernikahan Cloud akan segera dimulai. Reaksi Cloud? Tentu saja dia bertambah tegang. Tetapi dia terus berusaha tenang sesuai dengan yang terus dikatakan Reeve daritadi. Dengan langkah yang mantap, Cloud berjalan ke arah pintu sambil didampingi oleh Nanaki. Oh ya, bicara soal pintu, Nanaki bilang Cloud akan bertemu dengan Tifa ketika pintu ini dibuka. Apakah itu benar atau tidak, Cloud tidak tahu. Jadi Cloud memutuskan untuk mencobanya sekarang juga. Cloud mengulurkan tangan kanannya yang berlapiskan sarung tangan ke arah kenop pintu. Dan ketika dia menariknya, terbuktilah bahwa perkataan Nanaki memang benar.

Sambil didampingi oleh seorang pengapit, Tifa membalikkan badannya dan wajahnya langsung terlihat pangling. Tetapi sepertinya Cloud menunjukkan wajah yang menandakan bahwa dia lebih pangling lagi. Bagaimana tidak? Tifa sungguh terlihat cantik! Wajahnya memang hanya dilapisi make-up yang natural, tetapi semua itu tidak membuat kecantikannya redup sedikitpun. Sebaliknya, justru membuat kecantikannya semakin terpancar. Gaunnya juga terlihat pas. Gaun tak berlengan berwarna putih yang bagian roknya sangat panjang. Sebagai penghias, di rok itu juga dihiasi mitof-motif cantik dari manik-manik. Tifa tidak mengenakan sarung tangan seperti pengantin wanita umumnya, tetapi sebagai gantinya, dia mengenakan gelang yang terbuat dari emas putih. Gelang itu pembelian Cloud, begitu juga dengan anting yang kini dipakainya. Untuk buket bunganya, mereka memilih mawar putih. Di kepala Tifa juga terdapat mahkota kecil yang selain sebagai penghias, juga sebagai penahan veil. Cloud yang sempat bengong langsung sadar ketika tangan Tifa menyentuh wajahnya.

"Apa aku membuatmu lama menunggu?" Tanya Tifa.

"Em... sama sekali tidak," jawab Cloud terbata-bata. "Kau cantik sekali."

"Sungguh? Berarti aku memilih gaun yang tepat ya?"

"Maksudku kau yang cantik, Tifa. Bukan gaunnya."

Tifa tertawa kecil. "Aku tahu, terima kasih. Kau juga sangat tampan."

"Kau tidak kesulitan membawa gaun sebesar itu?"

"Lumayan pada awalnya, tetapi aku sudah terbiasa sekarang."

Wow. Rasanya hanya satu kata itu yang dapat diekspresikan oleh Cloud. Tifa sungguh hebat bisa terlihat tenang dengan gaun seperti itu sambil mengenakan sepatu berhak tinggi. Cloud masih ingat ketika dia bersama Tifa pergi membelinya. Kalau tidak salah, tingginya sepuluh senti. Tetapi meski cukup tinggi, Tifa masih terlihat lebih pendek daripada Cloud.

"Oke, karena kalian sudah bertemu," sela Nanaki. "Lebih baik sekarang kalian naik ke mobil. Masyarakat sudah menunggu, dan yang lain juga."

Cloud dan Tifa menganggukkan kepalanya. Sambil menggandeng tangan Tifa, Cloud mengajak Tifa untuk menaiki mobil raksasa yang sudah didesain khusus itu. Mobil ini adalah mobil khusus parade. Mobil itu sudah didesain semeriah mungkin namun tidak sampai berlebihan. Posisi Cloud dan Tifa nanti adalah dibagian belakang. Mereka akan berdiri di sana sambil menyapa para masyarakat yang turut merayakan kebahagiaan mereka. Selain mobil parade, ada sekumpulan 'pasukan' penari dan marching band yang akan berada di garis depan untuk mengiringi mereka. Kalau Nanaki sih, dia akan duduk di samping supir.

Semua ini terdengar sangat mewah untuk ukuran pernikahan biasa. Tetapi percaya atau tidak, berita pernikahan Cloud dan Tifa adalah berita yang sungguh menggemparkan dan membahagiakan bagi seluruh masyarakat Cosmo Canyon. Dan lagi, baru kali ini ada artis yang melaksanakan pernikahan di desa yang lebih terlihat seperti kota ini. Karena itulah, Bugenhagen merencanakan sebuah resepsi pernikahan yang sangat meriah kepada mereka. Yang tidak kalah mewahnya dengan pernikahan anggota kerajaan. Dan karena semua itu merupakan sumbangan dari Bugenhagen sendiri, maka biaya untuk paradenya adalah... nol. Cloud dan Tifa hanya perlu membayar biaya resepsi dan gaunnya. Sebenarnya Tifa berkali-kali mengatakan bahwa Bugenhagen bahwa ia tidak perlu melakukan ini, berhubung Cloud dan Tifa juga tidak terlalu menyukainya, tetapi keputusan Bugenhagen seperti sudah bulat. Dan dalam waktu yang bisa terbilang singkat, Bugenhagen sudah menyiapkan tim parade untuk pernikahan mereka nanti. Tinggal mengurus rutenya saja.

Cloud membantu Tifa untuk naik berhubung gaun yang dikenakan Tifa agak berat. Dan setelah memastikan bahwa semuanya baik-baik saja, Reeve memberikan sinyal berupa acungan jempol kepada pria yang berdiri paling depan. Tanda bahwa parade sudah boleh dimulai.

"Oke, kita mulai!"

Bunyi terompet yang begitu keras terdengar, dan mobil yang Cloud dan Tifa naiki perlahan-lahan bergerak. Ketika parade sudah memasuki jalan raya, Cloud dan Tifa dapat melihat seluruh masyarakat Cosmo Canyon berdiri di pinggir jalan sambil berteriak. Mereka sungguh tidak menyangka bahwa antusiasme masyarakat sangat tinggi. Lucunya, ada yang sampai memegang poster mereka berdua segala. Bahkan dari jauh, Cloud dan Tifa langsung dibuat tertawa ketika melihat sebuah plakat bertuliskan 'CLOUD & TIFA 4EVER'. Ya ampun, mereka benar-benar seperti pangeran dan puteri meski hanya untuk sehari. Pernikahan mereka benar-benar dinanti ya?

Sesuai rute, mobil parade membelok ke arah kanan dan mulai menelusuri sorak kegembiraan masyarakat setempat. Banyak sekali yang meneriakkan nama mereka dan ucapan selamat. Sementara Cloud dan Tifa meresponnya dengan tersenyum dan melambaikan tangan. Respon mereka membuat masyarakat lebih antusias lagi. Dan meski hanya sekilas, Cloud melihat ada awak media yang sepertinya meliput berita pernikahan mereka. Ah, biarkan saja deh, daripada memikirkan mereka lebih baik nikmati saja parade ini. Meski bingung juga mengapa wartawan bisa tahu kalau mereka akan menikah di sini, di Cosmo Canyon.

"Cloud, kau melihat wartawan?" Bisik Tifa sambil melambaikan tangan.

"Yep, tadi aku melihat ada satu."

"Aku malah melihat dua," kata Tifa. "Mengapa mereka bisa tahu ya?"

"Entahlah, tetapi biarkan saja."

Tifa mengangguk dan kemudian terus melambaikan tangan kepada setiap orang yang mereka lewati. Kini mereka tengah berada di sebuah perempatan, dan mobil yang mereka kendarai tiba-tiba saja berhenti. Cloud dan Tifa sempat heran, namun ketika mereka melihat ke depan, mereka melihat seluruh anggota marching band serta para penari sedang beraksi. Oh, ternyata itu sebabnya. Tifa selalu menyukai tarian dari marching band. Tarian dari marching band memang selalu terlihat berisiko, namun menjadi sangat mengagumkan jika tidak ada kesalahan. Seperti ketika mayoret tengah melempar tongkatnya. Tifa pernah berpikir, pasti sakit sekali kalau tongkat yang sangat keras itu mengenai kepalanya. Tetapi untunglah tidak, dan jangan sampai terjadi. Selain mayoret, para pemain juga terlihat memutar-mutarkan benderanya dengan macam-macam gerakan. Awalnya motif bendera itu masih tidak terlihat jelas, tetapi saat diperhatikan baik-baik, ternyata di bendera itu tercetak wajah Cloud dan Tifa! Ya ampun, kok bisa-bisanya sih mereka memiliki ide seperti ini? Seolah-olah mereka ini pasangan gubernur yang akan ikut pemilu saja.

Atraksi mengagumkan itu berlangsung sekitar lima belas menit. Dan sementara itu, sinar matahari bersinar semakin terang. Cloud mulai merasa kepanasan karena dia memakai pakaian tiga lapis (plus sarung tangan), tetapi untunglah mobil parade sudah berjalan kembali. Tifa sendiri juga merasa tidak betah, dan beberapa kali dia memperbaiki roknya yang tertiup angin. Cloud dan Tifa kembali menyapa para 'penggemar'nya. Semakin jauh mereka berjalan, semakin ramai juga antusiasme masyarakat sekitar. Tetapi melambaikan tangan terus-terusan dan tersenyum membuat tangan serta bibir menjadi pegal. Jadi baik Cloud maupun Tifa terkadang beristirahat sebentar. Setelah rasa lelahnya berkurang, barulah mereka melakukannya lagi.

"Seandainya Zack dan Aerith bisa kemari," kata Tifa.

"Hm?"

"Seandainya Zack dan Aerith bisa kemari, pasti suasana akan terasa lebih meriah. Aku kan juga ingin menggendong anak mereka."

"Aku juga, meski sebenarnya aku tidak terbiasa dengan bayi."

"Hei, kau harus mulai terbiasa dari sekarang! Bagaimana kalau nanti kita punya anak? Apa kau akan canggung dengannya juga?"

"Itu sih pengecualian."

"Kau tetap harus terbiasa, Cloud," kata Tifa yang setelahnya tersenyum pada orang-orang di sebelah kanan.

"Aku tahu, aku tahu."

"Oh ya, kau tidak apa-apa? Cuaca sedang terasa panas, dan aku tidak yakin kalau kau sama sekali tidak merasa kepanasan."

"Yup, aku memang kepanasan. Apa di gereja nanti ada AC?"

"Mungkin. Ada-ada saja kau ini," jawab Tifa. "Ah, anak itu lucu sekali!"

"Ngomong-ngomong soal tidak nyaman, kau sendiri tidak gerah dengan rok sebesar itu? Dan juga sepatu setinggi itu?"

"Yah, bohong kalau aku bilang tidak. Tumitku mulai terasa sakit."

"Entah sampai berapa lama lagi hingga sampai ke gereja?"

"Kelihatannya sudah tidak terlalu jauh."

Mobil parade mereka terus bergerak selama dua puluh menit hingga akhirnya mereka sampai di depan tujuan mereka. Sebuah gereja, yang ukurannya sangat besar. Menurut Nanaki, gereja ini adalah gereja yang sudah sangat tua namun memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Desainnya klasik, namun sangat cantik. Bahkan bentuknya lebih menyerupai istana daripada gereja. Dan di depan, Cloud dapat melihat karpet merah yang dikerumuni oleh orang-orang yang mengejar mereka hingga kemari. Tidak lupa, petugas keamanan juga berada di sana untuk menjaga keamanan.

Cloud menggenggam tangan Tifa dan menuntunnya hingga mereka berhasil turun dari mobil, diikuti oleh Nanaki serta pengapit yang bertugas memegangi rok gaun Tifa. Sambil membalas jabatan tangan, tersenyum, serta mengucapkan terima kasih, mereka berdua berjalan perlahan masuk ke dalam gereja. Musik klasik sudah dimainkan, dan kursi-kursi juga penuh oleh para tamu undangan. Para tamu undangan ini tidak lain tidak bukan adalah warga Cosmo Canyon yang 'beruntung', dan tentu saja... Sephiroth. Kabarnya, Sephiroth bahkan rela meluangkan waktunya hanya demu menyaksikan pernikahan anaknya. Meski dia harus segera kembali ke Midgar hari ini juga. Tetapi semua itu sudah cukup. Kini di depan altar, telah berdiri anak dan calon menantunya yang akan segera mengikat janji setia. Sungguh membuatnya bernostalgia ketika ia menikahi almarhumah ibu Cloud dulu.

Cloud dan Tifa saling bertatapan satu sama lain. Mereka berdua seolah tidak mempedulikan Bugenhagen yang tengah memberikan kata sambutan. Yang ada dipikiran mereka hanyalah puncak kebahagiaan. Karena di depan altar inilah, mereka akan benar-benar bersatu dan saling mengucap sumpah setia sehidup semati. Air mata terlihat mengalir dari mata Tifa, dan Tifa langsung buru-buru menghapusnya. Jangan sampai dandanannya rusak karena ini.

"Cloud Strife. Apakah kau bersedia menerima Tifa Lockhart sebagai istrimu? Dan tidak hanya sebagai seorang istri melainkan juga teman, sahabat, serta rekan hidupmu? Apakah kau berani bersumpah di depan dewa, bahwa kau akan mencintainya sampai maut memisahkan?"

Cloud menelan ludah sebelum menjawab. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang mudah. Namun dalam menjawabnya, dibutuhkan persiapan hati yang mantap. Tifa menggenggam tangan Cloud semakin erat dengan maksud menenangkannya.

"Ya, saya bersedia."

"Baiklah. Namun perlu kuberitahu sekali lagi. Kau berjanji bukan terhadapku, melainkan kepada dewa. Apa kau benar-benar yakin dengan pilihanmu?"

Cloud tersenyum pada Tifa. "Saya yakin."

"Tifa Lockhart," kata Bugenhagen sambil memandang Tifa. "Apakah kau bersedia menerima Cloud Strife sebagai suamimu? Dan tidak hanya sebagai seorang suami melainkan juga teman, sahabat, serta rekan hidupmu? Apakah kau berani bersumpah di depan dewa, bahwa kau akan mencintainya sampai maut memisahkan?"

"Saya bersedia."

"Sama seperti yang kutanyakan pada Cloud Strife. Kau melakukan sumpah di hadapan dewa, apakah kau tetap yakin dengan perkataan dan pilihanmu?"

"Saya yakin, seyakin-yakinnya."

Bugenhagen mengganggukkan kepalanya. Dan kemudian, dia mengangkat kedua tangannya.

"Dalam nama Dewa, serta dihadapan relik-relik suci. Dengan ini dan mulai hari ini, kunyatakan kalian berdua sebagai pasangan suami istri. Semoga berkat para Dewa selalu memberikan cahaya bagi jalan kehidupan kalian untuk segala masa, baik saat suka, maupun saat duka."

"Falaram," ucap seluruh tamu undangan.

Cloud membuka veil Tifa secara perlahan. Dan sama seperti ketika Aerith menikah, wajah Tifa terlihat memerah. Cloud yang tersenyum langsung menggerakkan tangannya turun hingga menggenggam kembali kedua tangan Tifa.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya Cloud.

"Tidak apa-apa, aku hanya senang."

Cloud tersenyum. "Kalau begitu, kau sudah siap?"

"Ya."

Cloud memejamkan matanya dan mendekatkan wajahnya secara perlahan. Dan tidak lama kemudian, bibir mereka saling bersentuhan. Para tamu undangan langsung berdiri dan memberikan tepuk tangan yang sangat meriah. Dan tidak hanya mereka, melainkan para masyarakat yang menonton dari luar, serta anggota marching band serta penari yang tadi mengiringi mereka. Sephiroth beranjak dari kursinya dan menghampiri Cloud. Dengan mata yang sedikit... berair, ia memeluk Cloud dan Tifa secara bergantian. Sephiroth sungguh bahagia karena kini anaknya sudah menikah. Tetapi dia juga sangat sedih, karena dia tidak bisa menemani Cloud lebih lama lagi. Dia selalu ingat bahwa satu jam setelah acara selesai, dia harus segera pergi ke Costa Del Sol untuk naik pesawat ke Midgar.

Selesai pemberkatan, mereka semua berpindah ke taman luas yang berada di samping gereja. Di sanalah resepsi dilaksanakan. Makanan dan minuman dalam jumlah besar tersedia, dan semua orang dipersilahkan untuk mengambil sesuka mereka. Langsung saja, orang-orang pada antri dan melahap makanan itu sepuasnya. Cloud dan Tifa lebih memilih untuk duduk terlebih dahulu. Soalnya daritadi mereka harus berdiri terus sih. Tumit Tifa juga jadi lebih sakit dari sebelumnya. Sementara Cloud, jasnya menempel ke tubuhnya karena berkeringat. Untunglah cuaca kali ini terlihat sedikit mendung. Jadinya angin terasa lebih sejuk dari sebelumnya.

Pernikahan mereka selesai pada jam empat sore. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa baik Cloud maupun Tifa sangat kelelahan. Tifa langsung berusaha untuk melepas sepatu hak tingginya. Sementara Cloud, dia membuka jas dan melepas dasinya. Aduh, rasanya lain kali kalau mereka mau mengadakan pesta, jangan diadakan di luar seperti ini deh. Mereka kapok.

"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Cloud.

"Sangat bahagia. Aku sungguh senang karena akhirnya bisa menikah denganmu."

"Aku juga."

Cloud mencium Tifa sesaat.

"Bibirmu kering, Cloud," kata Tifa.

"Oh, aku belum minum daritadi soalnya."

"Dan belum makan juga, sama sepertiku."

"Makanan di sini juga sudah habis. Biarlah kita mengalah untuk mereka."

"Jangan khawatir, aku akan masak makanan yang enak untukmu nanti."

Mereka berdua menempelkan bibir mereka kembali. Dan setelah semua properti selesai dibereskan, Cloud dan Tifa turun dari podium untuk naik mobil yang telah mereka persiapkan sebelumnya. Tetapi tentu saja ini bukan mobil parade seperti tadi, mereka menggunakan mobil biasa. Mereka akan pulang ke rumah. Untuk menjalani hidup sebagai pasangan suami istri yang berbahagia.

End of flashback...

Memori Cloud berakhir sampai di sana. tetapi meski berakhir, senyum diwajahnya belum juga lenyap. Cloud mengalihkan pandangannya dari bingkai foto dan naik tangga untuk menuju ke kamarnya. Ketika Cloud memijakkan kakinya ke lantai dua, dia sungguh kaget ketika melihat sosok Tifa yang tengah berdiri sambil menghadap jendela. Dengan seorang bayi yang ada di gendongannya, Tifa terdengar seperti sedang menyanyi untuknya. Cloud tersenyum sekaligus menghela napas.

Ternyata anaknya menangis lagi.

Cloud berjalan mendekati Tifa. Dan ketika jarak diantara mereka sudah dekat, Cloud langsung memeluk isterinya. Tifa sedikit kaget, namun dia langsung tersenyum ketika bibir Cloud menyentuh pipinya.

"Selamat datang. Kau baru pulang?"

"Hm," jawab Cloud. "Valerie menangis lagi?"

"Iya, dia lapar. Barusan aku selesai menyusuinya."

Valerie adalah nama anak Cloud dan Tifa. Usianya kini sudah menginjak empat bulan, dan sangat sehat. Meski dia suka rewel seperti bayi pada umumnya, namun baik Cloud maupun Tifa sangat bahagia karena mereka dikaruniai seorang anak. Selain itu, berita ini juga membuat Zack, Aerith, dan Sephiroth sangat bahagia. Apalagi Sephiroth, karena dia sudah memiliki cucu di usianya yang ke lima puluh. Lewat telepon tiga hari lalu, rencananya mereka bertiga akan datang berkunjung ke rumah dalam waktu dekat untuk melihat Valerie. Dan Cloud serta Tifa sangat menanti itu.

"Dia sudah tenang sekarang?" Tanya Cloud.

"Begitulah."

Setelah mengatakan itu, Tifa langsung menguap.

"Tadi kau tidur jam berapa, Tifa?"

"Hm?"

"Jam berapa kau tidur?"

"Jam sepuluh, bar kan tutup jam sembilan. Aku beres-beres dan cuci-cuci dulu."

Cloud melihat jam di dinding, dan dapat mengambil kesimpulan bahwa Tifa baru tidur selama satu jam lebih. Cloudpun menggelengkan kepalanya.

"Bagaimana kalau kita bertiga tidur bersama?"

"Hah? Bersama?"

"Iya. Aku, kau, dan Valerie."

Tifa mempererat pelukannya. "Yah, boleh juga sih. Tapi apakah tidak apa-apa? Aku takut Valerie tergencet."

"Yang penting kita kangan terlalu berhimpit dengannya."

"Tapi..."

"Ayolah Tifa. Lagipula aku ingin sesekali bisa tidur dengannya."

Tifa menghela napas. Yah, memang Cloud jadi jarang bertemu Valerie semenjak Valerie menginjak usia tiga bulan. Dan ketika Cloud pulang kerja, baik Valerie maupun Tifa pasti sudah tidur.

"Baiklah kalau begitu."

Cloud tersenyum. "Terima kasih."

Mereka bertiga berjalan masuk ke dalam kamar. Di atas kasur, Tifa meletakkan Valerie secara perlahan di bagian tengah. Tifa di sebelah kiri, dan Cloud tentu sana di sebelah kanan. Valerie menatap wajah ayah dan ibunya secara bergantian, dan tidak lama kemudian dia jatuh tertidur. Wajahnya sungguh terlihat damai sekali, sampai-sampai membuat Cloud tidak bisa menahan diri untuk menciumnya.

"Selamat tidur, Valerie," kata Cloud. "Selamat tidur juga, Tifa."

"Iya," kata Tifa yang setelahnya menguap lagi. "Selamat tidur juga, Cloud."

Tifa juga langsung tertidur tidak lama kemudian. Melihat mereka berdua sudah tidur, Cloud langsung menyelimuti mereka dengan selimut hangat dan mematikan lampu kecil. Setelah mencium kening istri dan anaknya, Cloudpun juga langsung tertidur pulas.

-END-