34
PERANG SEGALANYA
.
.
.
Note:
Kindly use your imagination and feeling while reading this chapter.
Kedua gadis itu sama-sama membuang muka. Mereka hanya menatap Yoona, tak bernyawa dan cantik di dalam makam bekunya.
"Kita kakak beradik," cetus Soojung, nada suaranya datar dan aneh.
"Tapi juga bukan," sahut Kyungsoo lembut. "Keluarga, tapi bukan. Sedarah, tapi bukan. Menyatu, tapi terpisah." Dia bisa merasakan gelombang emosi mendesak dinding hatinya, terlalu besar dan kuat untuk dipersilakan masuk. "Itu sebabnya aku melihat Profesor Sader dalam mimpi-mimpiku seakan dia ayahku," ucapnya serak. "Karena dia selalu mengingatkanku akan ayahmu. Entah bagaimana dari dulu aku sudah merasa aku anak Yunho."
Keduanya terdiam, saling menatap pantulan masing-masing di makam es.
"Soojung?" Akhirnya Kyungsoo menatap Soojung. "Kita harus pergi sekarang juga."
Soojung tak balas memandangnya. Otot-ototnya kencang, seluruh tubuhnya tegang.
"Kau dengar tidak?" desak Kyungsoo. "Kita harus per−"
"Ini tidak mengubah apa-apa," ujar Soojung, masih menatap ibunya.
"Apa? Soojung, ini mengubah segalanya−"
"Tidak," sahutnya ketus. "Ini membuktikan aku memang Jahat sejak awal. Bahwa ibuku sejak dulu bukan orang Baik dan mengutukku untuk menjalani kehidupan dangkalnya yang sengsara, membusuk sendirian sementara kau mendapatkan akhir bahagia bersama Kai−sama seperti appaku mendapat akhir bahagia bersama Haneul ahjumma. Baik mendapat yang Baik; Jahat tidak dapat apa-apa. Tapi aku punya kesempatan untuk mengubah akhir ceritaku. Sekarang, Seunghyun adalah satu-satunya harapanku agar tidak berakhir sendirian. Agar aku tidak berakhir seperti dia." Dia menubruk Kyungsoo dan mulai memukuli batu-batu es kuburan dengan asal. "Persetan! Pasti ada pintu lain di sekitar sini."
Kyungsoo tercengang mengawasinya. "Soojung, kau belum paham? Memilih Seunghyun hanya akan membuatmu semakin seperti dia. Eommamu melakukan hal Jahat demi memaksakan cinta dan kita sudah lihat akibatnya! Memilih Seunghyun hanya akan membuatmu benar-benar berakhir sendirian−"
"Kyungie, kau bertingkah seolah aku peduli dengan pendapatmu," sembur Soojung seraya menggedor makam-makam. "Kau dengar sendiri apa kata Profesor Sader. Tidak ada cinta di antara kita. Tidak ada ikatan. Kau Baik. Aku Jahat. Dan sekarang kita lihat saja siapa yang akan sampai duluan di akhir cerita. Entah Kai membawamu ke Camelot atau Seunghyun mengesahkan Kebahagiaan Abadi kami. Hanya salah satu di antara kita yang akan memenangkan dongeng ini."
"Sader juga bilang dia percaya pada kita," kata Kyungsoo, menghampiri Soojung. "Dia tewas untuk kita−"
"Sama seperti eommaku yang meninggal karena tahu dia tidak akan pernah menemukan cinta," kata Soojung sambil menyikut Kyungsoo. "Jiwa-jiwa Jahata tidak pernah menemukan cinta. Pelajaran pertama di Sekolah Kejahatan. Jiwa Jahat ditakdirkan tak berpasangan."
"Aku tidak akan membiarkanmu berakhir seperti itu!" bantah Kyungsoo.
"Oh ya? Karena kau, Kai, dan aku akan bahagia bertiga? Karena aku akan jadi si Jahat piaraan kalian?" desis Soojung, semakin gencar memukuli batu-batu makam. "Apa kau tidak mengerti? Jiwaku sudah rusak! Aku kacau, sakit jiwa, membusuk hingga ke tulang! Aku ini bobrok. Aku tidak akan pernah menemukan cinta sepertimu karena hatiku tidak akan pernah bahagia! Selama bertahun-tahun, aku ingin jadi seperti orang yang kusangka adalah sosok eomma−seorang malaikat Kebaikan dan cahaya−tapi ternyata dari dulu aku sudah seperti dia. Jiwaku buruk hingga ke akar-akarnya dan tak layak dicintai."
"Tapi kau bukan dia," kata Kyungsoo, membuntutinya. "Jauh di dalam dirimu, kau sama sekali tidak seperti dia−"
"Apa kau tuli? Kau tidak dengar ceritanya tadi?" tanya Soojung sambil memukuli makam lebih cepat, wajahnya merah padam. "Aku berteman denganmu supaya aku bisa mendapatkan pangeran, persis seperti eommaku yang berteman dengan Haneul demi mendapatkan ayahku. Aku mencoba semua tipuan yang dilakukan eommaku untuk menemukan cinta−mantra cinta, ramuan kecantikan, membuat permohonan−akhirnya dibenci dan sendirian, sementara sahabatku mendapatkan segalanya. Dan sama seperti eommaku, aku akan berakhir mati di ruang es bawah tanah bersama pengecut-pengecut ini yang terlalu lemah menerima bahwa mereka Jahat." Dia berpaling menatap Kyungsoo, amarahnya mendidih. "Jadi, sebaiknya kau percaya saja kalau aku bisa keluar dari sini, aku akan melakukan apapun untuk mempertahankan cinta sejatiku, tidak peduli se-Jahat apapun dia."
Suara ting melengking terdengar di seluruh Penjara. Semua plakat besi di makam-makam menunjukkan panah biru menyala berkelap-kelip yang menunjuk ke arah makam yang menyala di ujung lorong; di depan peti itu secara ajaib terbuka sebuah pintu.
Suara rekaman Lady Kwon menggelegar dari segala arah: "Jalan keluar untuk murid telah dibuka. Silakan keluar dari ruang bawah tanah bersama teman-teman sekelas kalian dan kembali ke sekolah."
Kyungsoo melongo melihat peti menyala itu. Lalu dia tersadar dari lamunanna karena Soojung sudah berlari ke makam menyala itu.
"Soojung, tunggu!" ujar Kyungsoo, mengejarnya. Dia tak boleh membiarkan Soojung bertemu Seunghyun.
Tapi Soojung sudah masuk ke peti kosong dan menembus dinding salju palsu di belakang makam itu. Kyungsoo berusaha meraih Soojung dari belakang, tapi Soojung mendorongnya dan Kyungsoo kehilangan keseimbangan. Dia beranjak dan keluar dari dinding untuk mengejar Soojung, tergelincir ke dalam ruangan putih membeku.
Setelah muncul di sisi luar dan mengibaskan butir-butir saljudari mata dan rambutnya, Kyungsoo menyadari dirinya berada di dalam terowongan gelap dan bocor yang menanjak curam. Soojung sudah jauh mendahuluinya, hampir mendekati pintu di ujung terowongan. Kyungsoo bergegas mengejar Soojung, terdengar gaung suara engah napas Soojung dan gesekan baju ketatnya ketika dia meraih gagang pintu. Ketika pintu itu tak bisa dibuka, Soojung membenturkan bahunya sekeras mungkin ke pintu, lalu Kyungsoo mengimpitnya ke pintu, membuat pintu itu terdobrak tiba-tiba dengan suara derit keras dan kedua gadis itu ambruk ke dalam.
Kepala Kyungsoo terbentur lantai batu dengan keras. Pada saat dia beranjak bangun dan membuka mata lebar-lebar, Soojung sudah tidak ada. Kyungsoo melonjak berdiri dan melihat ruangan besar kosong diterangi obor hijau redup. Ruangan yang pernah dikunjunginya.
Galeri Kejahatan.
Dia cepat-cepat menuju pintu keluar galeri, tak ingin membiarkan Soojung lebih jauh−
Suara desis tajam membelah keheningan. Kyungsoo membeku di tempat. Perlahan dia menoleh dan menangkap bayangan kecil gelap bergelung di lantai, di bawah lukisan Jangho karya terakhir Sader.
"Reaper?"
Makhluk botak acak-acakan itu mendesis lagi padanya sebelum mata kuning tembaganya membelalak ke arah lukisan Sader. Kyungsoo cepat-cepat menghampiri dan mengangkatnya−
Reaper menggigit pergelangan tangan Kyungso dan gadis itu memekik kaget serta menjatuhkan si kucing. Reaper kembali menghadap lukisan Sader, mata tajamnya terpaku pada adegan di lukisan itu.
Segala pertanyaan tentang bagaimana kucingnya bisa masuk ke sekolah, ke mana saja dia selama beberapa minggu terakhir ini, atau mengapa dia tiba-tiba ada di dalam Galeri Kejahatan berkecamuk di kepala Kyungsoo. Namun Reaper justru ingin dia melihat lukisan di dinding itu. Ketika memperhatikan lukisan itu dari dekat, Kyungsoo bisa melihat alasannya.
Adegan dalam lukisan itu sudah berbeda dari sebelumnya.
Lebih gelap, hanya ada titik-titik cahaya kecil yang tersisa di sudut atas. Kalau sebelumnya terlihat bayangan-bayangan penjahat di dekat Jangho sementara penduduk desa membakar buku-buku dongeng dengan ketakutan, sekarang ada penjahat-penjahat sungguhan yang muncul di antara pepohonan memerangi pahlawan tua dan muda. Satu-satunya yang memisahkan para penjahat itu dari Jangho adalah lapisan pelindung tipis berlubang-lubang dan hampir robek.
Kyungsoo berdiri tegak seketika. Lukisan Sader dulu merupakan gambaran masa depan, tapi kini secara ajaib mengikuti kejadian yang sedang berlangsung. Dia sedang menyaksikan perang antara Kebaikan dan Kejahatan−dan Kebaikan mulai kalah. Dia segera mencari-cari sosok Kai, namun gaya goresan Sader selalu impresionis dan kabur, tanpa detail wajah sama sekali.
Aku harus mengejar Soojung, pikir Kyungsoo panik. Tapi bagaimana? Soojung pasti sudah jauh sekali−
Reaper mengeong lai, masih menatap lukisan, seolah apapun jawaban yang dicarinya ada di dalam lukisan itu.
Kenapa Kyungsoo masih belum bisa melihatnya?
Hidung Kyungsoo hampir menempel pada kanvas, jari-jarinya menelusuri permukaan yang berminyak, lalu terhenti.
Bekas landasan pedang Excalibur yang berada di bawah kanopi toko buku Tuan Hwang itu kosong, jauh dari hiruk pikuk peperangan.
Reaper mengerang, mendesaknya untuk terus mencari.
Tentu saja, pikir Kyungsoo. Sang Guru menyihir pedang untuk disembunyikan di dalam lukisan Sader. Artinya, dia pasti juga menyihir landasan itu. Dan kalau dia menyihir landasan itu, mungkin saja...
Dengan jantung bergemuruh, perlahan Kyungsoo memasukkan tangan kanannya ke permukaan lukisan yang pekat dan basah sampai dia melihat jari-jarinya muncul di dalam lukisan. Dia merasakan besi keras dan dingin, landasan pedang yang sesungguhnya berada dalam genggamannya.
Tangannya bukan hanya ada di dalam lukisan, tapi juga di Jangho.
Sebuah portal.
Reaper berputar-putar di sebelah Kyungsoo, meyakinkan bahwa dia akan ikut dengannya. Kyungsoo tersenyum sedih.
"Terima kasih sudah menolongku," bisiknya seraya melepas jubah hitam agar memudahkannya berpindah lewat portal. "Aku akan kembali menjemputmu kalau sudah aman. Aku janji."
Saat kucingnya merengek, Kyungsoo memegang landasan pedang itu lebih erat dan menariknya, kepalanya masuk terlebih dulu ke dalam lukisan. Seluruh tubuhnya tertelan ke dalam kegelapan yang panas dan basah, kemudian wajahnya menembus lapisan ketat dan basah lagi, lalu merasakan udara malam yang dingin. Masih melayang dalam keadaan melintang, tangan kirinya ikut berpegangan pada landasan pedang dan menari tubuhnya keluar dari dinding portal, tumit sepatunya keluar belakangan sebelum dia ambruk ke lantai batu yang kotor.
Saat dia menegakkan kepala, hal pertama yang dilihatnya adalah para penduduk desa berlarian mencari perlindungan sambil berteriak-teriak. Terjebak dalam arus manusia, Kyungsoo berguling di bawah kanopi toko Tuan Hwang, berhasil menghindari injakan orang-orang, lalu membungkuk di belakang landasan besi. Sambil mengintip dari baliknya, dia melihat orang-orang Jangho berkerumun di gereja, menjejalkan diri ke dalam toko-toko, dan merantai rumah-rumah mereka. Dulu, dia pernah menyaksikan pemandangan serupa saat para orangtua berusaha melindungi anak-anak mereka dari Sang Guru.
Kyungsoo beranjak dari belakang landasan, menatap Hutan yang terletak setengah kilometer darinya. Pemandangan di sana tepat seperti yang dilihatnya di lukisan Sader. Api menjilat-jilat di antara pepohonan di kejauhan, menerangi pasukan zombi penjahat yang bertarung melawan para pahlawan tua dan murid-murid keluar Hutan, mendesak mereka ke kubah pelindung transparan yang memisahkan Hutan dan Jangho. Dari dalam desa, Kyungsoo tak bisa melihat kubah ajaib seperti yang dilihatnya dari dalam Hutan. Dia hanya tahu pelindung itu ada di sana karena ada gergasi yang melempar seekor burung stymph ke kubah pelindung lalu jatuh ke tanah, pengendaranya pun terjatuh dari punggung si burung.
Kyungsoo memaksakan matanya berakomodasi lebih tinggi lagi, berusaha menangkap wajah-wajah di antara pepohonan; tapi sama seperti lukisan Sader, dia hanya melihat tubuh-tubuh samar dan api. Dengan rasa takut, Kyungsoo mencari matahari tapi tidak menemukannya di balik kepulan asap.
Berapa lama lagi waktu yang tersisa? Dua puluh menit? Lima belas? Kurang dari itu?
Seketika, dia merasa terbebani. Dia tak akan bisa menemukan Soojung tepat waktu. Dia tak akan bisa membujuk Soojung menghancurkan cincin itu. Dia akan mati di sini dalam keadaan tak berguna dan pengecut. Rasa panik menusuknya sampai ke tulang−
Jangan menyerah, untuk kita berdua.
Suara Cinderella menggaung di dalam dirinya bak detak jantung.
Paru-paru Kyungsoo perlahan terisi udara. Mentornya benar. Kalau dia tidak membantu teman-teman nya memenangkan perang ini, dia akan mati bersama mereka. Semua akan sia-sia. Aku harus bisa menerobos kubah pelindung terlebih dulu, pikirnya.
Sambil menguatkan tekad, dia berlari menuju Hutan. Sementara dia menerobos desa, dia berpapasan dengan seorang ayah yang mendampingi istri dan anak laki-lakinya menaiki tangga untuk bersembunyi di cerobong asap; seorang ibu dan putrinya yang bersembunyi di dalam ember kayu besar; dan salah satu Sesepuh menggiring anak-anak ke dalam sekolah−Jiwon ada di antara mereka, bergegas masuk. Kyungsoo mencari-cari Yunho dan Haneul di antara para penduduk desak yang berlainan, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka.
Saat berlari melewati penggilingan dan danau ke arah padang rumput, Kyugsoo mulai mendengar raungan memuakkan dari medan perang: bunyi besi beradu, tulang-tulang stymph remuk, serta teriakan anak-anak perempuan dan laki-laki. Tak lama kemudian, dia bisa menangkap wajah-wajah, diterangi api yang membakar Hutan−Seulgi berada di atas burung stymphnya, masih menembakkan panah; Jaehyun melawan troll dengan tangan kosong; Baekhyun dikejar-kejar zombi penyihir−tapi sebagian besar pemandangan perang masih tertutup pepohonan dan langit hitam-biru.
Semakin mendekati pepohonan, Kyungsoo mulai bisa melihat sekilas lubang-lubang kecil di udara: jmlahnya ratusan, masing-masing tak lebih besar dari sebuah jeruk. Belum pernah ada orang yang melihat kubah pelindung dari dalam Jangho karena menghilang secara ajaib sebelum mereka sempat memegangnya. Namun Kyungsoo bisa melihat celah di lapisan pelindung itu sekarang, artinya dia bisa tahu di mana persisnya letak pelindung itu. Sambil berlari menghampiri lubang-lubang itu, dilihatnya warna-warna di luar lubang lebih terang dan cerah dibandingkan warna-warna di dalamnya. Sejenak dia mengagumi betapa tipis sebenarnya batas antara dongeng dan kehidupan nyata.
Setelah melesat ke lapisan pelindung, dia mengulurkan tangan dan merasakan permukaan empuk tak terlihat di antara lubang-lubang. Sebelum perang berlangsung, setiap dongeng yang ditulis ulang oleh Kejahatan menimbulkan lubang pada kubah pelindung yang menutup Dunia Pembaca, bersamaan dengan keyakinan para Pembaca terhadap Kebaikan yang juga mulai runtuh. Tapi dengan masih hidupnya pahlawan-pahlawan besar Kebaikan, lubang-lubang itu belum bisa meruntuhkan kubah pelindung atau membuka celah yang bisa ditembus para Penjahat untuk masuk ke dunia mereka yang terlindungi. Ini menyisakan sebuah pertanyaan.
Bagaimana aku menembusnya? pikir Kyungsoo.
Dari balik pelindung itu, dia bisa melihat kelebatan pahlawan-pahlawan yang melintasi pepohonan, berusaha bertahan melawan Pasukan Kegelapan. Jika para penjahat mendesak mereka lebih jauh lagi, mereka akan terimpit ke lapisan pelindung−
Tiba-tiba Kyungsoo menangkap sekilas rambut keemasan dan bahu tegap.
Kai?
Pemuda itu sudah menghilang.
Tak ada waktu memikirkan pangerannya. Kalau dia ingin menolong sang pangeran, dia harus bisa menembus lapisan pelindung dan menemukan Soojung. Kyungsoo kembali memusatkan perhatian dan meraih sebuah lubang, memeriksa pinggirannya. Menerobos penghalang adalah bakat istimewanya (setelah mendengar permohonan, tentu saja). Dia berhasil menerobos penghalang di Teluk Separuh Jalan setiap kali mencoba; pasti dia bisa menerobos yang ini juga. Tapi kali ini tak ada penjaga batas yang bisa dikelabui dan lubang-lubang itu terlalu kecil untuk dilalui−
Sesuatu menyentuh jarinya.
Kyungsoo menarik tangannya karena terkejut, lalu dia melihat salah satu tikus Victoria menancap pada lapisan pelindung dari sisi Hutan. Cakar-cakar kecilnya berpegangan pada tepi lubang. Tikus #3, Kyungsoo teringat, satu-satunya yang masih cukup kuat untuk sampai ke sini karena dua tikus lainnya masih belum pulih dari tugas mengambil tongkat sihir Dovey dan peluncuran di jalur kabut cokelat. Sekarang Tikus #3 mencicit tegas pada Kyungsoo melalui lubang itu, memerintah untuk memperhatikannya. Si tikus mulai merayap masuk ke Jangho melalui lubang itu. Segera setelah hidungnya menembus bidang antara Hutan dan Dunia Pembaca, tikus itu dikejutkan oleh sengatan api putih yang membuatnya terlempar ke tanah. Melalui lubang itu, Kyungsoo menyaksikan Tikus #3 kelojotan di tanah, masih hidup meski tersengat tadi.
Ternyata kubah pelindung itu tidak bisa dilewatinya, pikir Kyungsoo. Dia memasukkan tangan ke lubang lagi dengan mudah. Tapi kenapa tanganku bisa masuk? Kyungsoo menepis pikiran itu. Apa pentingnya? Lubang itu tetap saja terlalu kecil untuk kumasuki−
Sesuatu menggigitnya lagi.
Kyungsoo melihat tikus Victoria merayapi lapisan pelindung meski jelas-jelas masih kesakitan dan terus saja memelototinya. Kyungsoo balas memelototinya. Kenapa binatang pengerat kecil ini mau−
Kyungsoo terkesiap.
Kecil.
Dia mau menunjukkan padaku cara melewati lubang itu.
Bermogrif.
Dia menyuruhku bermogrif.
Kyungsoo hanya bisa bermogrif menjadi satu jenis hewan. Dia segera memejamkan mata dan memvisualisasikan mantranya, merasakan ujung jari pendarnya menyala emas dan panas. Dalam sekejap, dia menyusut ke tanah, pakaian jatuh di atasnya. Kemudian dia merayap keluar, seekor kecoak hitam kurus, antenanya bergerak-gerak. Kyungsoo si Kecoak bergegas menaiki kubah pelindung, meninggalkan pakaiannya, dan cepat-cepat memasuki salah satu lubang. Dia mengikuti si tikus ke sisi luar kubah dan memasuki Hutan.
Saat Kyungsoo baru mulai terbirit-birit melewati pepohonan, tembakan cahaya hijau melesat di hadapannya, hampir saja mengenainya dan si tikus. Sambil ketakutan, dia menyusul peliharaan Victoria itu menembus medan perang yang dahsyat; tapi sebagai seekor kecoak, dia terlalu kecil sehingga yang bisa dilihatnya hanyalah kaki-kaki yang memijak dan tubuh-tubuh berjatuhan serta nyata panah berapi dan mantra-mantra sihir yang beradu di atasnya. Dia harus mencari Soojung. namun dengan suasana pertempuran di sekitarnya, dia tak akan bisa menemukan−
Sebuah panah menyerempet kulit punggungnya yang mungil. Ngeri, Kyungsoo mempercepat geraknya di belakang tikus yang bermaksud menunjukan jalan ke semak cemara. Kyungsoo bergerak menerobos semak di belakang tius, duri-duri cemara menusuk-nusuk punggungnya lalu dia muncul di sisi lain. Dia diam mematung.
Si tampan Nicholas yang berkulit gelap tertelungkup di lumpur, terlihat luka besar di bagian belakang kepalanya. Sementara raungan perang menggema dari balik semak-semak, Kyungsoo memandangi Ever muda itu dengan perasaan tak keruan. Nicholas perkasa yang manis... tewas? Gara-gara dongengnya? Kesedihan dan perasaan bersalah membanjirinya, mata serangga besarnya dipenuhi air mata−
Tikus Victoria mendesis.
Kyungsoo menoleh dan melihat si tikus memelototinya seraya mencolek-colek seragam Nicholas.
Dia menyuruhku memakai pakaiannya.
Tak ada satu bagian pun dari diri Kyungsoo yang bersedia melakukannya, tapi dia tak punya pilihan.
Tidak usah berpikir.
Sambil merasa mual, dia kembali menjadi manusia dan memaksakan diri memakai seragam Nicholas sambil meringkuk di balik semak cemara. Saat dia memakai sepatu bot dan jubahnya, si tikus mendorong-dorong busur dan panah Nicholas yang tergeletak di sisinya. Kyungsoo mendekat dan mengelus rambut hitam Nicholas dengan gemetar seraya memanjatkan doa dalam hati.
Temukan Soojung, geramnya.
Dari si tikus, diambilnya senjata Nicholas lalu dia beranjak dari semak. Berseragam hitam-hitam, matanya menggelap dan rahangnya mengatup. Setelah bernapas dalam-dalam, Kyungsoo memasuki medan perang.
Udara begitu keruh dan berkabut dipenuhi asap dari panah yang beterbangan serta mayat-mayat zombi yang terbakar. Dia hanya melihat bayangan-bayangan. Sambil berlindung di balik sebuah pohon, dia menyipit dan melihat Hort serta Peter Pan 20 meter darinya, keduanya berusaha menyerang Kapten Hook dengan batang kayu, batu, atau apapun yang bisa mereka temukan di tanah.
Sementara itu, Tinkerbell dengan panik menaburkan debu peri ke Kapten Hook untuk menerbangkannya ke tempat jauh, tapi sang kapten berbalik dan memotong sayap Tinkerbell dengan pisaunya, membuat peri hijau itu berguling jatuh ke tanah. Sementara Tinkerbell merangkak di antara rerumputan mencari tempat berlindung, Hook menyerang Peter dan Hort lebih gencar lagi. Hort tersandung kaki Peter dan jatuh ke belakang saat berusaha melindunginya, Hook langsung mendorongnya ke samping, hendang menyerang Pan−
Dari belakang pohon, Kyungsoo tahu dia hanya punya satu kesempatan untuk menyelamatkan Pan. Dengan jari pendarnya, dia menyalakan api emas di ujung anak panah dan membidik jantung Hook. Ketika Hook hendak menyerang leher Peter dengan kait besinya, Kyungsoo melepaskan anak panahnya−
Meleset jauh dari jantung Hook namun mengenai pipinya, membuat wajahnya terbakar.
Sementara Hook kaget dan terhuyung mundur, berusaha memadamkan api dengan sia-sia, Hort dan Peter tak sempat melihat siapa yang menyelamatkan nyawa mereka. Keduanya berlari mencari perlindungan sementara Kyungsoo mengawasi Hook yang hangus terbakar dan ambruk ke tanah.
Mati satu. Meski tak sengaja.
Kyungsoo keluar dari balik pohon, menarik anak panah berapi lainnya. Dia mencari-cari Soojung di antara pepohonan, tapi yang dilihatnya hanya murid-murid lain dan mentor-mentor yang berusaha melawan zombi-zombi penjahat−yang kini semakin gencar memburu para pahlawan terkenal: Gretel dan Amber melawan si penyihir, Si Tudung Merah dan Luna melawan si serigala, Jack dan Victoria melawan si raksasa. Setiap detik, pertahanan para pahlawan Kebaikan semakin lemah, perlahan tapi pasti didesak ke pohon-pohon di dekat kubah pelindung Jangho. Burung-burung stymph yang hancur, mayat-mayat penjahat, dan murid-murid yang mengerang kesakitan karena luka parah dan patah tulang bergeletakan di tanah.
Tiba-tiba di kejauhan, Kyungsoo menangkap sosok Mino sedang mengejar Profesor Dovey dengan pisau geriginya. Dekan tua itu berusaha menyerangnya dengan berbagai mantra, namun si dekan muda menghampirinya terlalu cepat. Mino menghambur dan menjatuhkan Dovey ke tanah, membuat sang dekan tua tak bisa berkutik. Sambil memegangi rambut perak Dovey, pemuda itu berlutut di atas tubuh tak berdaya−
Kyungsoo pucat pasi. Jika dia menyerang Mino dari sini, bidikannya harus akurat atau serangannya malah akan mengintai Dovey. Bidikannya pada Hook saja hampir meleset sepenuhnya meski hnaya berjarak 20 kaki. Kyungsoo mengikuti instingnya dan berlari menuju Mino, dengan gusar mengambil anak panah dan berusaha mendekat supaya bisa membidik lebih baik. Mino mengangkat pisau ke arah jantung Profesor Dovey, hendak menikamnya. Kyungsoo berteriak−
Dari belakang, Lady Kwon menembakkan mantra dan menubruk Mino, menyingkirkanna dari Clarissa yang nyaris terluka. Kyungsoo tercekat lega, tapi Mino sekarang menimpa ibunya, keduanya berebut pisau di tanah. Kyungsoo berlari lebih kencang, berusaha mencapai jarak aman untuk memanah.
Ketika Lady Kwon menggenggam pisau itu, Mino memukul tengkuk ibunya dan menyerangnya. Sang ibu ambruk menelungkup, namun segera meluncur ke depan, mencengkeram telinga Mino. Keduanya merah padam, ibu dan anak berebut pisau, besi berkilau itu bergeser-geser dari dekat satu tangan ke tangan yang lian, hingga Mino menendangnya. Kyungsoo membidik panahnya dari jauh, berusaha menembakannya tepat ke arah kepala Mino. Kini pemuda itu dan Lady Kwon merangkak tak keruan ke arah pisau, saling mendorong dan menyikut. Lady Kwon berhasil meraih pisau itu lebih dulu, tapi Mino melompat ke atasnya. Ibunya berguling, mencengkeram kerongkongan anaknya, wajah mereka berdekatan, pisau terjepit di antara tubuh keduanya−
Mino terbelalak dan berteriak nyaring.
Di atasnya, Profesor Dovey menusuk punggungnya dalam-dalam dengan patahan tulang stymph.
Otot-otot besar Mino lumpuh, dia ambruk di atas tubuh ibunya, darah mengucur dari mulutnya.
Lady Kwon menyingkirkan anaknya, terengah mengatuh napas. Sambil telentang di tanah, Dekan Kejahatan itu menggenggam pergelangan tangan Profesor Dovey dan tersenyum lemah pada sahabatnya.
Kyungsoo menjatuhkan panah, tergopoh menghampiri kedua dekan itu, bersyukur keduanya selamat−
Seseorang menabrak Kyungsoo dan menarikna ke balik pohon.
"Di mana dia?!" sentak Amber di antara kegemparan, mata hitamnya berkilat. "Di mana Soojung?!"
Kyungsoo menggeleng. "Aku tidak tahu!"
Amber mencengkeram bahu Kyungsoo. "Lihat."
Kyungsoo mengikuti arah mata Amber menerobos pepohonan ke satu titik cahaya yang setengah terbenam di cakrawala.
"Sepuluh menit. Hanya itu sisa waktunya," perintah Amber. "Kau harus menemukan Sooju−"
"Di mana Kai?" bisik Kyungsoo.
"Merlin berusaha menyelamatkan nyawa anak-anak semaksimal mungkin," jawab Amber sambil menunjuk sang panyihir yang mondar-mandir dari satu murid terluka ke murid lainnya, mengobati cedera mereka dengan serbuk dari dalam topinya.
"Di mana Kai?" desak Kyungsoo.
Terdengar teriakan bernada tinggi, mereka menoleh dan melihat Pinokio sedang dikejar-kejar 20 gergasi dan troll melintasi Hutan. Tepat ketika para penjahat mengadangna, sekawanan binatang keluar dari dalam hutan dan menubruki para zombi, membebaskan Pinokio dari cengkeraman mereka. Putri Sunny berayun turun dari pohon dan menarik pahlawan tua itu ke atas untuk melindunginya di dahan pohon bersama Yuba dan Kelinci Putih, sementara pasukan binatang Sunny melawan para zombi di bawahnya.
Teriakan lain membuat Kyungsoo berbalik dan melihat Lancelot melawan Seunghyun di dekat barisan pohon terdepan. Bahu sang ksatria bercucuran darah, tapi masih mampu menangkis mantra-mantra Sang Guru dengan cekatan meski sambil menggeram kesakitan.
Kyungsoo memucat.
Kai tidak bersamanya.
"Kyungsoo, dengarkan aku," desis Amber. "Hook sudah mati. Vic sudah membunuh peri Briar Rose dan aku sudah membunuh zombi ibuku. Tinggal tersisa Raksasa Jack, Serigala Si Tudung Merah, dan Ibu Tiri Cinderella. Kami akan melakukan apapun demi menjaga kubah pelindung tetap ada, tapi kau harus segera menemukan Sooju−"
"DI MANA KAI?!" tuntut Kyungsoo.
"DIA BAIK-BAIK SAJA. PANGERAN PECUNDANG ITU BAIK-BAIK SAJA!" sembur Amber. "Lance menjauhkannya dari Sang Guru, ok?" Dia menunjuk Kai di seberang Hutan yang sedang mengacungkan Excalibur dan menubruki gergasi dengan cara sama saat dia menyerang Lancelot di padang rumput. Sementara itu, Sehun terbang menunggang stymph di atas sang pangeran, menembaki gergasi-gergasi dengan panah api. "Tapi kau tidak punya waktu untuk menolongnya atau mengeceknya atau mendekatinya. Jadi jangan coba-coba," omel Amber. "Kami butuh kau untuk menemukan Soojung sekarang. Sepuluh menit, Kyungsoo."
Kyungsoo menatap mata Amber. "Sepuluh menit."
"Cepatlah," pinta Amber sebelum berlari untuk menolong Luna dan Si Tudung Merah.
Setelah menarik napas, Kyungsoo berlari ke arah berlawanan, matanya mencari-cari Soojung sambil melompati banyak murid dan zombi yang bergeletakan di tanah. Sebuah ledakan menggema di belakangnya. Dia menoleh dan melihat Raksasa Jack ambruk ditumbangkan Baekhyun, Seulgi, dan Irene yang menyerangnya dengan bom api dari atas pohon. Sementara itu, Victoria, Jack, dan Briar Rose memecah perhatianna dari bawah.
Di belakang mereka, Serigala mengejar Tudung Merah sementara Luna tampak terluka di tanah. Tapi begitu mulut Serigala menutup di atas kepala Tudung Merah, Luna mengulurkan jari pendarnya dan mengubah mulut si serigala menjadi cokelat. Gigi cokelatnya menancap pada Tudung Merah, merontokkannya hingga ke gusi. Saat dia menjauh karena kaget, Amber sudah siap dngan panah berapi.
Kyungsoo menghela napas lega, kembali menyapu keberadaan Soojung. Para pahlawan Lama sekarang sudah aman. Kubah pelindung tak akan runtuh−
Kyungsoo terbelalak.
Cinderella diam terpaku di dekat lapisan pelindung melihat mayat hidup kedua saudari tirinya untuk pertama kali. Kyungsoo mengawasi wajah Ella meluruh bahagia memandangi kakak-kakak yang dulu dicintainya melebihi siapapun, meski mereka zombi bersenjata tombak dan berada di pihak Kejahatan. Seperti ngengat tertarik api, perlahan Ella menghampiri mereka, tangannya terangkat tanda damai. Semakin dia mendekat, semakin wajah seram kedua kakaknya melunak, genggaman mereka pada tombak melonggar, seolah mereka juga merasakan gelombang cinta lama pada adik mereka, menghapus semua perintah untuk melukainya. Cinderella mengulurkan kedua tangan ke arah mereka, rona cerah merebak di wajahnya−
Kyungsoo melihat si ibu tiri membawa kapak di belakangnya.
"Tidak!" jerit Kyungsoo sambil berlari mendekat−
Cinderella terlambat menoleh.
Kapak menghujam perut Ella.
Sementara sang putri tua terjatuh, pandangan Kyungsoo dikaburkan air mata, jantungnya serasa terseret ke bawah.
Dalam lubang neraka berapi di Hutan itu, perang terhenti.
Bahkan Lancelot dan Seunghyun pun berhenti saling serang, menyaksikan Cinderella jatuh ke tanah hanya beberapa kaki dari lapisan pelindung Jangho. Merlin berpaling dari Taehyung yang sedang diobatinya. Tubuh penyihir itu kaku, tatapan matanya melayang pada Kyungsoo. Terperangah, mereka berdua menoleh ke arah lapisan pelindung Jangho.
Seorang anak kecil berdiri di balik kubah pelindung itu, memandangi mereka. Anak itu tak lebih dari 7 atau 8 tahun dan sedang membawa buku dongeng yang terbuka.
Kyungsoo segera menyadari siapa anak itu.
Jaemin. Putra bungsu Haneul.
Anak kecil itu menyaksikan Cinderella yang sekarat di sisi lain pelindung tipis, posisinya yang merosot persis seperti lukisan yang berubah pada halaman terakhir buku dongeng yang dipegangnya.
Buku yang tertulis ulang itu terjatuh ke rumput dari genggamannya.
Di belakangnya, Kyungsoo melihat sekelebat gerombolan bayangan dipimpin seorang laki-laki tinggi besar, berlari ke arah anak kecil di alun-alun Jangho itu. Dia bisa mendengar suara Yunho memanggil-manggil Jaemin, menyuruhnya menyingkir dari situ.
Lubang-lubang pada kubah pelindung Jangho secara ajaib melebar dan menyatu satu sama lain, bertambah besar dan semakin membesar−
Seketika, kubah pelindung meletus dengan suara memekakkan telinga, memancarkan sinar putih menyilaukan yang mengguncang seluruh Hutan bak gempa bumi. Para pahlawan tua dan muda berjatuhan ke tanah, sementara burung-burung stymph terbang oleng dan kepala mereka menubruk pepohonan dan meledak. Kyungsoo berbalik dari sengatan cahaya itu, tubuhnya terlempar ke bawah sementara dia melindungi mata.
Cahaya tadi tampak meredup.
Sedikit demi sedikit, dia mengintip melalui jendela dan melihat kelap-kelip putih yang menghujani Dunia Pembaca bak salju terang.
Lapisan yang melindungi Jangho dari Hutan sudah tak ada.
Di Hutan, para pahlawan beranjak perlahan, tapi para zombi sudah memijak kaki mereka. Kyungsoo tak melihat Kai atau Merlin atau Lancelot di manapun. Dia berbalik ke tempat lapisan itu berada sebelumnya. Jaemin sudah berada di antara kerumunan penduduk desa yang berusaha menyelamatkannya. Haneul memegangi lengan anaknya kuat-kuat; kakak Jaemin, Jeno, terangkul di tangan sebelah Haneul, sementara wanita itu menggiring mereka berlindung di antara keramaian.
Sambil menatap medan perang berapi, Sesepuh tertua bergetar di garis depan kerumunan itu, terlalu takut untuk menentukan mana teman dan mana lawan. Dia mengangkat kedua tangan sebagai tanda menyerah, memunggungi para penduduk.
"Setiap empat tahun sekali kalian mencerai-beraikan keluarga kami. Kalian mengambil anak-anak kami! Apa itu tidak cukup?" sang Sesepuh memohon. "Kami akan melakukan apapun yang kalian minta. Tolong jangan bunuh kami−"
"Aku tidak berniat membunuh kalian," ujar suara dingin dan tegas.
Punggung Kyungsoo serasa tertusuk-tusuk.
Perlahan sang Sesepuh berbalik bersama seluruh penduduk desa dan melihat Seunghyun berdiri sendirian di dalam wilayah Dunia Pembaca.
"Yah, kecuali dia," dia menyeringai.
Sang Guru muda menyingkir dan menyibakkan Yunho yang berlutut di atas rumput, disumpal batang kayu. Soojung berdiri di samping ayahnya, matanya dingin dan tenang.
"Malah bukan aku yang akan membunuhnya. Cinta sejatiku akan menjadi orang yang mengakhiri kisah ini." Seunghyun mencium tangan Soojung dengan lembut, cincin di jari Soojung berkilauan saat tersentuh bibir Sang Guru. "Mengorbankan darah ayahnya sendiri demi aku."
Keringat Kyungsoo bercucuran seketika.
"Orang yang paling berbahaya dalam dongeng adalah orang yang bersedia melakukan apapun demi cinta."
Bukan para Pembaca yang diincar Seunghyun di Jangho. Hanya satu Pembaca. Terbunuhnya Pembaca ini akan membalikkan pembunuhan Sang Guru terhadap kakak kembarnya sendiri. Kata-kata Merlin kembali membanjiri ingatan Kyungsoo. Yang diucapkan si penyihir di Celestium pada malam sebelum perang−yang terasa tidak masuk akal.
"Bagaimana kalau kita keliru memahami cerita ini, Kyungsoo?"
Pada hari Seunghyun membunuh darah dagingnya sendiri, dia telah membuktikan Kejahatan tak bisa mencintai dan Storian mengutuk pihaknya dengan kekalahan abadi. Namun sekarang dia memiliki ratu yang rela membunuh darah dagingnya sendiri demi membuktikan Kejahatan bisa mencintai.
Dosa Sang Guru Jahat terhapuskan.
Kutukan terhadap Kejahatan tercabut.
Sang Guru akan hidup abadi tanpa ada yang bisa menghentikannya sampai seluruh Ever mati−hingga Kebaikan tinggal kenangan semata, seperti yang dijanjikannya.
Diserang rasa ngeri, Kyungsoo mendongak dan melihat Soojung kini berdiri di sisi Seunghyun. Rambut jabrik putih pemuda itu bak mahkota es di bawah langit malam, serasi dengan mahkota kristal tajam milik ratunya. Sementara Soojung memandang cinta sejatinya yang tampan, di matanya hanya terlihat hijau pekat yang kosong.
Di belakangnya, Yunho tak memberontak. Dia sadar dirinya sudah terkalahkan. Kyungsoo merasakan ujung jarinya memanas, tahu Kai berada di dekatnya. Juga Lancelot dan Merlin. Mereka pasti bisa menyelamatkan Yunho tepat waktu. Entah bagaimana mereka bisa memisahkan Soojung dari Sang Guru. Penyihir tua itu selalu punya rencana.
Namun sekarang Kyungsoo melihat Seunghyun tersenyum mengejeknya, mata pemuda itu tertuju pada jari pendarnya seakan Kyungsoo tertinggal dua langkah di belakang.
Dengan rasa ngeri membuncah, Kyungsoo berbalik dan melihat zombi-zombi Seunghyun menyandera pasukan Merlin, tua dan muda, leher mereka semua tertodong senjata. Zombi-zombi troll dan gergasi mematahkan busur-busur panah serta meremukkan burung-burung stymph yang tersisa dengan tangan kosong, mematahkan tulang-tulang merkea. Terimpit ujung-ujung tombak dan pedang, para pahlawan tua dan muda menyerah dan berlutut seperti Yunho. Pertama Hort dan Peter, kemudian Jack dan Briar Rose, Sunny, Yuba, dan Pinokio, bahkan Amber pun menyadari demonnya bukan tandingan zombi penyihir bersenjata pisau dan menjatuhkan diri ke tanah di samping Luna dan Victoria.
Ketakutan, Kyungsoo mencari-cari Kai, namun dia tidak bisa melihat sang pangeran di mana pun saat matanya menyapu Hutan itu, hingga dua troll terakhir mengikat pada sandera ke pohon−
Jantungnya serasa berhenti.
Para sandera itu adalah Merlin dan Lancelot.
Pipi sang ksatria terluka parah, pahanya tersayat, dan bahunya tampak lebih buruk dari sebelumnya; sementara kesadarannya datang dan pergi, berusaha menegakkan kepalanya. Topi dan jubah Merin sudah dilucuti; salah satu gergasi memotong jenggot putihnya. Sambil merosot ke tanah memakai baju dalaman yang kotor, sang penyihir menatap matahari di antara pepohonan, tinggal beberapa menit lagi sebelum padam untuk selamanya. kyungsoo bisa menangkap keputusasaan di mata birunya yang sedih, memantulkan setitik cahaya terakhir. Bersama-sama, mereka telah gagal menghancurkan cincin Soojung, gagal mempertahankan kubah pelindung, gagal mencegah Sang Guru dari akhir kisahnya dan malah memberikan cukup waktu untuk meresmikan kehancuran Kebaikan untuk selamanya.
Kyungsoo menunggu Merlin menatapnya, memberitahunya apa yang harus dia lakukan dari sini, memberi jalan keluar bagi Kebaikan.
Tapi Merlin tidak melakukannya.
Seunghyun melirik penyihir malang itu dan semua tawanan lain yang berlutut.
"Mengapa ada jiwa-jiwa yang tidak bisa mencintai?" tanya Sang Guru, suaranya yang muda dan bersemangat menguasai suasana malam. "Pertanyaan yang mengusikku sejak lama, menyaksikan Kebaikan memenangkan setiap cerita sementara jiwa-jiwa sepertiku merana tanpa senjata untuk melawan. Begitu banyak Never berusaha mencintai seperti yang dilakukan para Ever, dengan harapan kami juga bisa mendapatkan akhir bahagia. Bahkan aku, yang telah berusaha menyayangi kakakku yang Baik dengan sepenuh hati seperti cinta seorang ratu Jahat pada seorang pangeran Kebaikan dulu. Tapi Kejahatan tak bisa mencintai dengan cara Kebaikan, tak peduli seberapa besar usaha kami. Karena jiwa-jiwa kami tak pernah diciptakan dari cinta. Kami orang-orang tersingkir, terlantar, terkalahkan. Kami yang dibenci, diasingkan, orang-orang aneh. Keputusasaan adalah bahan bakar kami; rasa sakit adalah kekuatan kami. Cinta yang memenangkan Kebahagiaan Abadi tidak akan pernah cukup untuk kami. Tidak ada yang bisa memuaskan lubang hitam di hati kami, kecuali kami mengubah makna cinta itu sendiri." Senyuman sengit terpampang di wajahnya, matanya beralih pada Kyungsoo. "Dan Kejahatan mendapatkan akhir bahagianya sendiri."
Seorang gergasi menangkap Kyungsoo dari belakang dan mengikat pergelangan tangannya.
Pada saat bersamaan, teriakan tertahan memecah keheningan. Ketika berbalik, Kyungsoo melihat dua troll mendorong kai ke sampingnya dengan tangan terikat. Sang pangeran bertelanjang dada dan tersumpal bajunya sendiri, Excalibur sudah tak ada padanya.
Seunghyun menyelip di antara mereka, bibirnya mendekat ke telinga mereka.
"Aku menjanjikan kalian sebuah akhir yang tidak akan kalian lupakan," bisiknya, napasnya terasa dingin di tengkuk Kyungsoo. "Akhir Bahagia Selamanya dalam dongeng kalian."
Seorang troll menyerahkan Excalibur pada Soojung, yang langsung menempelkan bilahnya pada leher Yunho. Troll kedua menarik kapak dari jenazah Cinderella dan menyerahkan senjata itu pada Seunghyun.
Seunghyun mendorong Kai dan Kyungsoo hingga berlutut bersisian, lalu menginjak bahu mereka dengan sepatu botnya: pertama Kyungsoo kemudian Kai, menjejalkan wajah mereka di atas batang pohon tumbang; dua gergasi menahan tubuh mereka agar tak memberontak. Sang Guru muda dengan hati-hati menaruh bilah kapak pada leher Kai dan Kyungsoo, bilahnya cukup panjang dan besar untuk menghabisi keduanya dalam sekali tebas. Kyungsoo bisa merasakan tetesan darah dari besi itu bersamaan dengan tetesan karat.
"Kebaikan menemukan Akhir Bahagia dengan ciuman. Kejahatan menemukan Kebahagiaan Abadi dengan pembunuhan." Seunghyun menatap Soojung, pipinya yang seputih salju berbercak-bercak merah. "Kau telah dilukai oleh orang-orang yang kaupercayai, Ratuku. Tapi satu tebasan saja akan melenyapkan mereka selamanya. Satu tebasan saja dan cinta kita resmi kekal selamanya." Gairah gila tersirat di wajah Seunghyun sekarang. "Pada malam ini, aku menjadikanmu, Krystal atas nama Soojung, sebagai Kebahagiaan Never-ku. Sejak hari ini hingga selanjutnya, dalam kegelapan dan keputusasaan, demi Jahat dan lebih Jahat lagi, untuk mencinta dan membenci, hingga maut tak akan pernah memisahkan kita. Kematian ini kupersembahkan untukmu, cinta sejatiku." Dia menekan kapaknya ke leher Kai dan Kyungsoo, mengambil ancang-ancang.
Wajah Soojung masih tampak keras tak berekspresi. Dia menekan Excalibur ke batang tenggorokan Yunho. "Kematian ini kupersembahkan untukmu, Seunghyun, cinta sejatiku," sumpahnya.
"Soojung, jangan!" seru Kyungsoo, meronta agar bisa menatap matanya. "Dia appam−"
Seunghyun menginjak Kyungsoo lebih kuat untuk membungkamnya.
"Tunggu," ujar Soojung setajam cambuk, menghentikan Sang Guru. "Urusanku dengan yang itu belum selesai."
Sepatu bot Seunghyun terangkat dari Kyungsoo, dia tersenyum heran pada ratunya. "Apa lagi yang mau kaubicarakan, Ratuku?"
Soojung menatap Kyungsoo, kekerasan di wajahnya berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih mengerikan. "Kau kira laki-laki yang membenciku seumur hidupnya ini layak disebut 'appa'?"
Yunho berusaha berbicara, namun Soojung mendesakkan bilah pedang itu ke lehernya.
"Aku sudah berusaha membuatnya menyayangiku. Aku sudah berusaha menunjukkan siapa aku yang sebenarnya. Tapi dia malah semakin membenciku. Sama seperti Kai. Sama seperti yang pernah dilakukan semua orang Baik," kata Soojung pada Kyungsoo dengan nada dingin dan tajam. "Aku adalah eommaku. Jahat hingga ke tulang-tulang. Hanya ituyang bisa dilihat semua orang."
Kyungsoo mengangkat kepalanya dari batang pohon. "Kecuali aku."
Tanpa disangka, suara Kyungsoo begitu tenang seolah telah keluar dari tempat yang tak bisa dikendalikannya. Dia bisa melihat secercah sinar matahari terakhir dari pantulan Excalibur. Merlin sudah memperingatkannya: Dia hanya punya satu kesempatan.
Gunakan dengan bijak.
Dia sudah berusaha menuruti penyihir itu. Dia sudah berusaha menyusun rencana. Tapi hingga detik ini, Kyungsoo tak punya satu rencana pun.
Tak akan pernah ada rencana untuknya dan Soojung.
Hanya ada kenyataan.
Dia bisa merasakan Kai yang meronta dalam ikatannya seperti waktu di atas api unggun di Jangho, berusaha menolongnya. Tapi kali ini Kyungsoo-lah yang dengan lembut menyentuh kaki Kai dengan kakinya sendiri untuk menenangkan sang pangeran.
Tak ada yang bisa menolong Kyungsoo sekarang.
Ini dongeng tentang dirinya dan Soojung.
Dan inilah akhir ceritanya.
Kyungsoo mendongak pada sahabatnya. "Aku tahu apa yang ada di dalam dirimu, Soojung," katanya lembut. "Terlepas dari eommamu, terlepas dari Jahat. Aku tahu kau yang sesungguhnya."
"Inilah diriku yang sesungguhnya. Dari dulu memang ini," ujar Soojung ketus, mengencangkan genggamannya pada pedang. "Yang tidak harus berpura-pura jadi Baik lagi. Yang tidak perlu merasa kekurangan. Yang tidak perlu merasakan apapun. Ya. Akhirnya aku bahagia, Kyungsoo."
"Tidak," ujar Kyungsoo tenang. "Kau tidak bahagia."
Soojung meradang. "Sudah mau mati bersama pangeran tercintamu tapi masih memikirkan aku?! Ceritaku akan berlanjut tanpamu, Kyungsoo. Si antagonis tidak akan berkembang selama tokoh protagonis masih hidup! Kau adalah Nemesis-ku, ingat?" Melalui tatapannya, Soojung berusaha menusuk manik Kyungsoo dalam-dalam. "Aku tidak butuh kau lagi. Aku tidak butuh belas kasihanmu. Aku bukan lagi bahan Kebajikanmu."
"Tapi aku masih bahan Kebajikanmu," kata Kyungsoo. "Karena tanpa cintamu, aku tidak akan pernah menjadi diriku yang sesungguhnya. Jadi meski aku mati, aku tetap akan menjadi Kebajikanmu untuk selamanya. Dan tidak ada Kejahatan di muka bumi ini yang bisa menghapus itu."
Bercak-bercak merah muda muncul di pipi Soojung, kerongkongannya naik-turun. "Seharusnya kau tidak kembali menjemputku," ucapnya serak. "Seharusnya kau menjalani hidupmu sendiri dan membiarkan aku menjalani hidupku. Dengan begitu, semua ini tidak akan terjadi."
"Aku bersedia melakukan semua itu lagi," kata Kyungsoo, air mata menggenang di pelupuknya.
"Karena kita bersaudara?" tanya Soojung sinis, melawan emosinya.
Yunho berdeguk kebingungan−Soojung menekan pedang lebih dalam.
"Karena kita lebih dari sekadar saudara," kata Kyungsoo sambil menatap Soojung lekat-lekat. "Kita memilih satu sama lain, Soojung. Kita sahabat."
Soojung memalingkan wajah. "Seorang putri dan penyihir tidak akan pernah berteman. Cerita kita sudah jadi buktinya."
"Bukan, cerita kita membuktian bahwa seorang putri dan penyihir harus berteman. Karena masing-masing dari kita sudah memerankan kedua peran itu," tutur Kyungsoo. "Kita akan selalu memainkan kedua peran itu. Itulah kita. Itulah sebabnya kita adalah kita. Kita berbeda dari yang lain, Soojung."
Soojung masih menghindari tatapan Kyungsoo. "Sejak dulu aku cuma menginginkan cinta, Kyungie," bisiknya, suaranya pecah. "Sejak dulu aku cuma ingin akhir bahagia seperti milikmu."
"Kau sudah punya akhir bahagia, Soojung. Kau sudah memilikinya sejak dulu." Kyungsoo tersenyum sambil menangis. "Bersamaku."
Akhirnya Soojung menatap Kyungsoo.
Untuk sesaat, suara dan raung menjauh, keduanya mengunci tatapan mereka yang begitu kuat hingga masing-masing menjadi cermin bagi satu sama lain. Terang dan Gelap. Baik dan Jahat. Pahlawan dan Penjahat. Namun setelah mereka saling melihat lebih dalam, keduanya sama-sama tak bisa membedakan. Karena di mata masing-masing, mereka melihat jawaban-jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan terpendam di dalam jiwa mereka, seakan mereka bukan cerminan sama sekali, melainkan belahan dari satu jiwa.
Air mata menetes di pipi Soojung, mulutnya membuka dan mendesah lirih, seakan apa di dalam dirinya sudah padam.
Sang Guru muda terlihat resah, genggamannya pada kapak mulai ragu, tatapan matanya beralih dari tawanannya ke ratunya secara bergantian.
Soojung mengerjap, momen itu sudah lewat. Dia menatap Kyungsoo sebagai orang asing, wajahnya kembali tak berekspresi dan dingin. Perlahan Soojung menatap Seunghyun. "Hitungan ketiga," katanya.
Seunghyun tersenyum keji pada Soojung dan menginjak kepala Kyungsoo ke batang pohon. "Hitungan ketiga," katanya sambil mengepas bilah kapaknya pada leher Kai dan Kyungsoo.
Kyungsoo lumpuh, hatinya hancur.
"Satu," kata Soojung.
Kai berhenti memberontak seolah tahu mereka sudah sampai di akhir cerita. Dia mendesakkan bahunya ke bahu Kyungsoo dan sang putri mendekatkan dirinya, ingin merasakan setiap bagian dari diri pangerannya menjelang kematian mereka. Mereka saling menatap satu sama lain. Kyungsoo menatap manik sang pangeran yang sebiru samudra. Kai menatap manik cokelat lembut milik putrinya.
"Dua," kata Seunghyun, kedua tangannya menggenggam gagang kapak.
Kyungsoo merasakan hangat napas Kai.
"Selamanya," bisik Kai.
"Selamanya," bisik Kyungsoo.
Seunghyun mengangkat kapak di atas kepala mereka.
Soojung membidikkan Excalibur ke leher ayahnya.
"Tiga," kata Soojung.
Kyungsoo merasakan embusan ayunan kapak dan melihat Soojung mengayunkan pedang Kai. Dari pantulan bilah baja itu terlihat matahari meredup seketika. Namun ketika Excalibur menggores lapisan epidermis leher Yunho, baru akan menebas kerongkongannya, tiba-tiba Soojung mengalihkan ayunannya, membelokkan pedang ke atas. Tangan kanannya lepas dari gagang pedang dan menyentuh tangan kirinya, secepat kilat melepas cincin Sang Guru dari jarinya dan melemparkannya tinggi-tinggi ke atas. Lingkaran emas itu memantulkan berkas cahaya terakhir di langit, seperti matahari baru yang terang−
Pantulannya menyilaukan Seunghyun, ayunan kapaknya terhenti karena terkejut. Dia mengangkat wajah pada ratunya. Saat cincin itu jatuh ke arah Soojung, matanya terbelalak ngeri. Dia mengulurkan tangan, tembakan cahaya hitam melesat ke arah Soojung−
Sambil menggenggam pedang dengan kedua tangan, Soojung menatap mata Sang Guru tanpa ekspresi dan menghantamkan Excalibur sekuat tenaga memecahkan cincin itu di udara menjadi jutaan serpihan emas.
Kelap-kelip emas membungkus tubuh Soojung bak lapisan pelindung ketika mantra maut Sang Guru menghantamnya. Kepulan awan hitam terpecah saat menyentuh lapisan itu dan menghilang seperti kabut terakhir dalam badai.
Terperanjat dan membeku, Seunghyun menyaksikan sisa-sisa serpihan cincinnya, perasaan terkhianati terbaca jelas di wajahnya yang muda dan tampan.
Kemudian dia mulai berubah. Wajahnya mengerut bak buah busuk; rambut putih tebalnya rontok dan kepalanya terkuliti; punggungnya melengkung dengan bunyi keretak memuakkan, tubuhnya kejang-kejang seraya menciut. Bercak-bercak cokelat di kulit merata ke seluruh kulitnya yang membusuk, mata biru esnya seperti tertutup awan kelabu mematikan, otot-ototnya menyusut jadi batang-batang tulang kurus.
Setiap detik, dia bertambah tua dan semakin tua, berusia ribuan tahun. Teriakan kemarahan membelah dari dalam dirinya ketika panas mendidihkan otot-otot tubuhnya, pakaiannya terbakar hangus. Asap mengepul dari kulit lapuknya, hingga Sang Guru terlucuti seluruhnya, tinggal seonggok mayat telanjang yang menghitam penuh kebencian.
Mata merahnya bertemu dengan mata Soojung. sambil meraung penuh dendam, dia tergopoh menghampiri Soojung, mengulurkan jari-jarinya yang membusuk ke wajah Soojung−
Tangannya hancur jadi abu saat menyentuh Soojung.
Seunghyun berteriak ngeri dan hancur menjadi abu, runtuh ke tanah bak pasir dalam tabung jam.
Di antara seluruh pepohonan, Pasukan Kegelapan ikut hancur. Senjata-senjata mereka berjatuhan dan berdenting di antara kepulan abu di tanah.
Embusan angin terakhir menghapus jejak asap di seluruh Hutan bak tirai yang menyibak. Suasana malam itu seketika sunyi dan tenang.
Terpaku, Kai melepas ikatan tangannya seraya berusaha berlutut dan memandangi langit hitam. "Kita di sini," katanya sambil berputar-putar. "Kita masih ada di sini. Kyung, kita masih hidup! Buku dongengnya sudah tertutup−"
Putrinya belum bergerak, wajahnya menelungkup di batang pohon.
"Kyungsoo?"
Perlahan Kyungsoo mendongak. "Kai, rasanya aku mau pingsan."
Pangerannya terkekeh. "Kau menangkapku, aku menangkapmu."
Wajah Kyungsoo kehilangan ronanya dan dia roboh ke tangan sang pangeran yang sudah bersiap menangkapnya.
Di seberang mereka, para penduduk desa yang ketakutan membebaskan Yunho. Sambil mencucurkan air mata, dia memeluk Haneul dan kedua putranya. Di Hutan berlumpur, pahlawan-pahlawan tua dan muda bangkit dari tanah, memeriksa pertumpahan darah di sekeliling mereka. Amber membebaskan Merlin dan Lancelot, sementara Hort mengembalikan topi dan jubah berbintang pada sang penyihir. Sementara itu, Luna dan Victoria sibuk membantu pahlawan-pahlawan tua berdiri.
"Kami akan membuat sayap baru, Tink," kata Peter menenangkan sang peri yang terisak.
"Buatkan kursi baru untukku juga," kata Hansel, mengerutkan keninga memandangi kursi rodanya yang hancur.
Kacamata Kelinci Putih retak hingga dia bergantung pada Yuba yang menuntunnya. Sementara itu, Putri Sunny berdoa tanpa suara untuk semua binatang yang tewas dalam pertempuran.
"Ada yang melihat Jack?" tanya Pinokio.
Si Tudung Merah menunjuknya dan Briar Rose yang sedang berciuman di belakang pohon.
Selagi Merlin merawat murid-murid yang terluka, Seulgi menggunakan sedikit kemampuan yang dipelajarinya saat memimpin klinik darurat Kejahatan untuk membalut luka-luka Lancelot yang parah.
Ketika Kyungsoo siuman, dia merasakan jemari Kai mengelus rambutnya. Hal pertama yang dilihatnya adalah Merlin yang membungkuk di samping Cinderella, membungkus mayat itu dengan jubahnya. Sang putri tua tampak tenang dan cerah seperti saat bertemu saudari-saudari tirinya untuk terakhir kali.
Mata sang penyihir bersirobok dengan matanya dan tersenyum hangat, seakan meyakinkannya bahwa walau sudah meninggal, Cinderella akhirnya menemukan akhir bahagia.
Kyungsoo mengawasi Hort dan Sehun yang membantu penyihir itu membawa jenazah Cinderella. Besok akan ada upacara pemakaman, saat itu dia akan mengucapkan salam perpisahan−
Besok.
"Matahari," dia tercekat, menyipit ke langit gelap. "Di mana matahari?"
"Menanti waktunya terbit di pagi hari," jawab sang pangeran yang bertelanjang dada sambil membantunya berdiri. "Berkat kau."
Kyungsoo menghela napas. "Butuh dua orang untuk mencapai akhir bahagia," katanya seraya mencari-cari sahabatnya. Tapi Soojung tak terlihat di mana pun.
"Tahu tidak apa yang kupikirkan saat kapak hampir menebas kita?" tanya Kai. "Kita tidak punya panggilan sayang seperti pasangan-pasangan lain. Hehehe."
Kyungsoo mengangkat sebelah alisnya. "Well, kita tidak seperti pasangan-pasangan lain," katanya sambil menatap Kai.
"Memang tidak," Kai mengakui. "Tidak semua raja menemukan ratu yang lebih cerdas, lebih kuat, dan lebih baik darinya dalam segala hal."
Kyungsoo meraih pipi Kai yang keemasan. "Setidaknya kau tampan."
Kai tersenyum lebar dan mendekat. "Mmm, dalam hal ini pun sepertinya kau mengalahkanku."
Dia mencium Kyungsoo lama dan lembut, membuat kaki Kyungsoo semakin lemah. Kai menopang Kyungsoo dengan tangan kuatnya, mendekap sang putri di dadanya yang berkeringat. Setelah melewati semua ini, entah bagaimana aroma tubuh Kai lebih enak dari sebelumnya. Kyungsoo menciumnya lagi, rona merah merekah di pipi sang putri−
Kemudian senyumnya memudar.
Kai menyadarinya dan menoleh ke belakang.
Di antara pepohonan, Soojung berlutut di samping Lady Kwon, punggungnya berguncang. Profesor Dovey menggenggam tangan sahabatnya.
Gaun Dekan Kejahatan itu berlumuran darah.
"Oh, tidak," bisik Kyungsoo.
Soojung mengelus pipi Lady Kwon, menatap mata lembayungnya.
Napas sang dekan sesak dan pendek-pendek, bersusah payah mengatakan sesuatu.
"Sst," kata Profesor Dovey padanya, tabah dan tegas. "Istirahatlah."
Dekan Kebaikan itu tahu begitu melihat luka yang disebabkan pisau Mino, sihir tak akan bisa menyembuhkannya. Soojung mendongak dan melihat Kai, Kyungsoo, serta semua pahlawan muda dan tua yang berkumpul di kejauhan, memandang mereka dengan khidmat.
"Apa... yang m-membuatmu... melakukannya?"
Perlahan Soojung menatap Lady Kwon.
"Katakan... padaku," perintah sang dekan.
Soojung tersenyum pilu. "Alasan sama yang membuat Anda mengkhianati Kejahatan," jawabnya. "Sahabat."
Lady Kwon menggenggam tangan Soojung, sebelah tangan lainnya masih digenggam Clarissa. "Yang Lama dan Baru berdampingan," bisiknya. "Keduanya berada di tangan yang andal."
Air mata meluncur deras di wajah Soojung. "Ini salahku−"
"Bukan," potong Lady Kwon, sepenuh hati menguatkannya. "Jangan bilang begitu. Kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Kau dicintai, Soojung." Suaranya melemah. "Ingat selalu. Kau dicintai−"
Clarissa mengeratkan genggamannya. "Lady Kwon, kumohon−"
"Yuri." Lady Kwon mendongak pada sahabatnya. "Namaku... Yuri, Kwon."
Perlahan sang dekan memejamkan mata, dan tak pernah mengembuskan napas lagi.
Profesor Dovey menangis tergugu, memeluk sahabatnya.
Tanpa bersuara, Soojung meninggalkan mereka berdua.
Kyungsoo sudah menunggunya di perbatasan Jangho.
Mereka berdiri dalam diam melihat Dovey memeluk mayat Yuri seperti dulu Kyungsoo memeluk Soojung.
Jari-jari Soojung mengunci jemari Kyungsoo.
Kyungsoo balas meremas jemari Soojung.
"Di mana Kai?" tanya Soojung akhirnya.
"Bergabung dengan yang lain supaya kita bisa kembali ke sekolah," jawab Kyungsoo, melihat Kai dan Lancelot di Hutan mengangkat Jungkook, Profesor Ahn, dan semua yang terluka ke atas punggung hewan-hewan Sunny yang tersisa. "Begitu banyak yang terluka dan sejujurnya kita butuh guru-guru lainnya."
"Ayo, kita ikut bantu," kata Soojung sambil berjalan menuju pepohonan.
"Jangan dulu," kata Kyungsoo. "Ada yang menunggumu."
Di belakang sahabatnya, Soojung melihat Yunho berdiri di atas rumput; para penduduk desa lainnya berkumpul di kejauhan. Perlahan tapi pasti, Yunho berjalan ke arah putrinya.
Dada Soojung sesak.
Yunho tidak berkata apa-apa. Dia hanya memeluk putrinya erat-erat, mereka berdua terisak.
"Maafkan aku," bisik Soojung. "Maafkan aku, Appa."
"Aku tidak pernah membencimu. Tidak pernah," bantah Yunho. "Aku berusaha menjadi appa yang baik. Kau tak tahu betapa keras aku mencoba−"
"Memang baik," isak Soojung. "Kau appa yang baik."
"Aku menyayangimu melebihi apapun di dunia ini," bisik Yunho. "Kau anakku, Soojung." Dia melihat Kyungsoo ikut menangis memandanginya bersama Soojung. "Meski kau selalu membuatku merasa Kyungsoo juga anakku," katanya sambil tersenyum lembut pada gadis berambut hitam itu.
Soojung mengelap pipinya dan berbalik. "Sini, Kyungie."
Kyungsoo ikut memeluk Yunho, mendekapkan diri pada pria itu sementara air matanya membasahi pakaian Yunho. Dia ingin menceritakan semuanya pada Yunho. Tapi saat dia menangkap mata Soojung, sahabatnya jelas berpikiran sama dengannya. Mereka berdua tak mengucapkan apa-apa karena pada satu momen, mereka mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Mereka tak memerlukan yang lebih dari itu. Di sana, di ruang antara dua dunia, kedua gadis itu memeluk ayah mereka, tubuh mereka tenang dan damai seperti tiga bagian yang akhirnya bersatu.
Kyungsoo mendongak pada Yunho dan tersenyum. Sambil menarik napas, dia melepaskan diri karena Yunho sudah tampak berkelap-kelip seperti penduduk desa di belakangnya. Dalam hitungan detik, tubuh mereka berubah transparan dan Jangho mulai menghilang tertutup sinar putih.
Terpaku, Yunho mendongak dan melihat kubah melapisi langit Jangho.
Kyungsoo merasakan genggaman Soojung, menariknya menjauh dari Yunho.
"Jangan. Tinggallah bersama kami," Yunho memohon, memudar lebih cepat. "Tinggallah bersama keluargamu!"
"Aku menyayangimu, Appa, tapi sekarang kau sudah punya keluarga baru," kata Soojung, matanya berkaca-kaca. "Keluarga yang layak kau miliki. Keluarga yang akan membahagiakanmu." Dia merangkul Kyungsoo. "Aku juga punya keluarga baru yang bisa membuatku bahagia. Jadi, tidak usah khawatirkan aku, Appa. Kumohon. Jangan pernah melihat ke belakang. Hiduplah dengan bahagia dan damai di Jangho."
"Jangan, Soojung," Yunho meraih anaknya ketika kubah pelindung menutup di antara mereka−
"Tunggu!"
Cahaya lolos dari genggamannya.
Yunho pun menghilang.
.
.
.
Go read the (last) next chapter : )
