Chapter 37

The Thesis

"Apakah kabar itu benar, Ethel?" lelaki itu melipat tangannya di depan dadanya, keningnya berkerut dan wajahnya terlihat sedikit kesal bercampur kecewa.
Ethel mendongakkan wajahnya dan menatap lelaki dengan wajah kesal di depannya itu sejenak dan mengembangkan senyumnya.
"Jadi?!" Nada suara lelaki itu meninggi seraya membelalakan matanya.
Gadis berambut pendek itu menghela nafas panjang dan menutup buku yang sedang dibacanya dan mendorongnya menjauh dari dirinya. Di dalam perpustakaan yang luas itu dengan begitu banyak orang sepertinya hanya dirinya seorang, yang dihampiri oleh lelaki berwajah tampan, sahabatnya ini muncul dan mengajukan pertanyaan itu.
"Duduklah, Tuan Muda." Kata Ethel singkat.
"Kau harus memberikan penjelasan yang bagus soal ini!" balas si Tuan Muda, dia menarik bangku yang ada di samping Ethel dan dudu tanpa melepas pandangan kesalnya pada Ethel, seakan-akan sang tuan muda mau melahap Ethel bulat-bulat. "Dan jangan panggil aku tuan muda! Aku punya nama" gerutunya
Ethel tertawa pelan, "Baiklah, Camui." Ethel merubah posisi duduknya hingga dia berhadapan dengan Camui. Senyumnya masih melekat di wajahnya, "lalu kabar apa yang ingin kau pastikan dariku, Camui?" tanya Ethel.
"Tesis itu, apa benar kau menolak rekomendasi dari professor Silas?"
"Rekomendasi dari professor Silas atau darimu, tuan muda Camui?"
Camui menaikkan alisnya, terlihat setengah terkejut dengan kalimat Ethel.
Camui bergeming dia tidak menyangka kalau Ethel mengetahui rencananya, padahal menurut Camui dirinya sudah sangat berhati-hati, supaya Ethel tidak mengetahuinya dia hanya mempercayakan hal ini pada orang-orang yang benar dipercayanya, tetapi tetap saja rencananya mengiring Erhel ke Sanctuary gagal.
"Apakah profesor Silas memberitahumu?" selidik Camui
"Tidak." Jawab Ethel singkat.
"Jadi bagaimana kau mengetahuinya?"
Ethel memutar kursinya hingga berhadapan dengan Camui. "Karena hanya kau yang bisa melakukannya. Aku tahu siapa kau, dan bagaimana dirimu."
Camui tersenyum dan menyandarkan tubuhnya dipunggung kursi, wajahnya terlihat sinis menanggapi perkataan Ethel, benarkan Ethel memang mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya….tidak tetapi dirinya yang sebenar-benarnya.
"Benarkah itu, kau mengetahui siapa aku sebenarnya? Biar kudengar apa yang kau KETAHUI tentang diriku." Camui memangkukan kakinya.
Ethel menarik nafas cepat, dia tidak nyaman dengan tatapan Camui yang menantang, Ethel akui Camui begitu mempesona, bahkan dirinya tahu lelaki ini digilai hampir separuh universitas, tidak ada yang tidak kenal Camui si tampan dari Fakultas Folkore. "Beberapa informasi yang aku dapat kau itu adalah salah satu orang yang berpengaruh di Universitas ini, dan kau memliki hubungan dengan pemilik universitas, Nona Saori Kido." Papar Ethel.
Camui tertawa mendengar penjelasan Ethel, sejujurnya dia cukup lega karena menurutnya Ethel tidak mengetahui siapa sebenarnya. Hanya saja dirinya menutupi dengan sikap kalemnya.
"Kenapa kau tertawa!" tukas Ethel, terlihat kesal karena sepertinya Camui sedang mengejeknya. Melihat itu tawa Camui makin keras, membuat hampir separuh pernghuni perpustakaan menoleh kearah Ethel dan Camui. Tetapi Camui seperti acuh saja bahkan petugas sampai mengerutkan keningnya saat melihat ke meja Ethel dan Camui duduk.
"Oh, Ethel-ku tersayang, ternyata bicaramu tidak seperti kenyataannya." Katanya di sela tawanya. "Lagipula darimana kau dapatkan informasi itu?" Camui mengusap matanya yang berair.
"Kalau itu rahasia." Jawab Ethel langsung.
"Apa kau mendapatkan infomasi itu dari dua orang bocah dari Fakultas Arkeologi bernama Milo dan Aiolia?" Tanya Camui
Ethel melebarkan matanya mendengar pertanyaan Camui. "Ba, bagai…"
"Ah! Wajahmu cukup jelas memberikan jawabannya." Potong Camui, "bakal ku unyeng-unyeng itu bocah kalau nanti bertemu." Kata Camui, wajahnya terlihat merencanakan sesuatu yang jahat.
"Bakal aku tambah latihan mereka empat kali lipat, giliran jaga universitas juga giliran ronda di Sanctuary bakal mereka jalanin seminggu full, jatah makan dan jajan mereka bakal dipotong, aku bakal ngomong ke Mu dan Shion untuk motong uang jajan mereka…." Camui begitu larut dengan pikirannya sendiri, dia bener-benar harus memberi peringatan keras pada dua bocah itu.
"Kau tidak akan melakukan sesuatu yang buruk kan, pada mereka?" Ucapan Ethel membuyarkan pikiran Camui seketika. Dia menolehkan wajahnya memandang Ethel. Terdiam. Lalu tersenyum.
"Mungkin tidak" katanya
"Syukurlah" ujar Ethel lega, bagaimanapun juga dia tidak ingin sesuatu terjadi pada Milo dan Aiolia, karena dia sangat memahami siapa Camui sebenarnya, tanpa informasi dari Milo dan Aioliapun, Ethel mengetahui wujud asli Camui.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan mereka, Ethel." Kata Camui sekali lagi, seraya menepuk lembut kepala Ethel. Gadis itupun mengembangkan senyumnya. Yang membuat Camui langsung memalingkan wajahnya, dia selalu tidak bisa menyembunyikannya, wajahnya teiba-tiba terasa panas kalau gadis itu tersenyum dengan senyum terbaiknya. Dan sungguh alasan Camui ingin membawa Ethel ke Sanctuay karena dalam hatinya Camui tahu Ethel adalah gadis yang selama ini dia cari. Camui hanya perlu membuktikan teorinya jika memang Ethel adalah gadis yang dia cari maka dia akan mengingat semuanya ketika gadis itu menginjakkan kakinya di Santuary.
"Hei kenapa kau memalingkan wajahmu? Memangnya seseram itukah wajahku."
"Jangan tersenyum seperti itu! Aku…Ehem!" Camui mencoba mengendalikan emosinya sebisa mungkin, ini selalu terjadi kalau Ethel tersenyum padanya sepertinya wajahnya akan terbakar sangking merahnya.
Setelah berhasil mengendalikan emosinya Camui kembali berdeham dan bersikap seperti biasa, "jadi akui belum mendengar jawabanmu, kenapa kau menolak rekomendasiku untuk tesismu?"
"Gampang saja" jawab Ethel lugas "aku memang tidak mau kesana."
Camui membelalakan matanya jelas dia terkejut dengan jawaban Ethel yang diucapkannya tanpa ragu.
"Kau tahu banyak mahasiswa di fakultas ini yang memohon pergi ke Sanctuary demi tesisnya!?"
"Lalu kenapa tidak kau berikan saja kesempatan itu untuk mereka?"
Camui mengerutkan bibirnya, dia tidak bisa membalas omongan Ethel, dia hanya terdiam.
"Aku sudah punya tujuan lain untuk tesisku."
"Aku akan pergi ke Italia, tepatnya ke Regno Dei Sogni." Jelas Ethel
Lelaki di depan Ethel mengerutkan keningnya, wajahnya melukiskan kalau dia mengetahui tempat yang dimasud oleh Ethel.
"Uccidere Villaggio (Kiliing Village)" ucap Camui, "Apa yang kau cari disana Ethel? Apa yang kau temukan disana?"
"Jalan menuju persemayaman dewa kembar, Dewa Tidur, Hypnos dan Dewa Kematian Thanatos."
Camui seakan tersengat, dadanya sakit mendengat nama dua dewa itu, nama desa itu juga Regno Dei Sogni berarti Dream Realm, nama tempat milik Hypnos, apakah perkiraannya benar, dia memandang gadis yang ada di depannya. Wajahnya bagai pinang dibelah dua dengan'nya' sekarang dia menolak untuk menuju sanctuary dan lebih memilih pergi ke desa itu, desa yang sudah ditinggalkan penduduknya karena desa tersebut merupakan saksi bisu pembantaian manusia terbesar yang pernah ada dalam sejarah. Kenapa semua ini terlihat seperti kebetulan yang sudah diatur. Diatur oleh pada dewa.
"Rupanya kau ada disini Yang Mulia!" Suara nyaring itu membuat kata-kata Camui tidak meluncur dari mulutnya padahal dia sudah membuka mulutnya. Dia menghela nafasnya, Camui sangat mengenali suara itu, meski tidak menolehkan wajahnya dia mendengar suara khas sepatu yang beradu dengan lantai marmer perpustakaan mendekatinya.
"Kenapa dia datang disaat tidak tepat" gerutu Camui
"Yang Mulia!" Camuipun menolehkan wajahnya pada seorang wanita bertelinga runcing penuh dengan giwang sampai bagian atas daun telinganya.
" Kenapa kau kemari Sadie?"
"Kau pasti lupa tuan? " Kata Sadie bertolak pinggang kelihatan sekali dia jengkel dengan Camui.
"Lupa?" ulang Camui wajahnya seakan mencoba mengingat apa yang dia lupakan, sementara Sadie membelalakan matanya pada Camui, memaksa Camui mengingat apa yang dia lupakan. Semenit terdiam Camui langsung menepuk keningnya.
"Saga!" Serunya. "Dia pasti membunuhku."
"Anda sudah terlamat satu jam lebih!" omel Sadie
Camui langsung bangkit dari duduknya, dia terlihat tergesa-gesa. "Aku ikut ke Itali, Lecca, ke desa itu!" Ucapnya, usai mengatakan itu Camui langsung melesat pergi.
"Lecca….siapa dia?" ucap Ethel sambil memandang Camui menghilang dibalik pintu perpustakaan.
Suara dengusan sinis, membuat Ethel menolehkan wajahnya, ternyata Sadie masih berdiri di depannya, memandang Ethel dengan tatapan dingin.
"Anda memang pandai bersandiwara nona. Aku tahu siapa kau, jiwa yang ditandai. Aku harap kau mengetahui alasan kenapa kau dibangkitkan kembali di dunia ini." Kata Sadie
Ethel memandang takjub Sadie sejenak, lalu senyuman mengembang di wajahnya, "apa yang bisa kusembunyikan darimu. Kuharap kau juga mengetahui apa akibatnya kalau kau membuka rahasia ini."
"Aku ingat tanpa harus kau ingatkan, jika kau sudah menentukan pilihan takdirmu, aku harap kau tidak merubahnya, jangan kau sakiti tuanku!" Tegas Sadie
"Akan kuingat itu, Sadie….atau harus ku panggil kau Soleil, keturunan terakhir dari Oracle of Delphi." Ucap Ethel
"Akan kupegang janjimu itu, Nona Ethel…apakah aku harus memanggilmu dengan namamu? Nona….Lecca?" Balas Sadie.
Ethel membalas ucapan Sadie hanya dengan senyuman.