I do not own the story!

copyright © 2012 I Couldn't Care Less by fantasy_seoul (AFF)

translated by Xiao Wa (Jan 13, 2014)

Enjoy~


Chapter 37: The Twisted

o

o

o

(*Sehun*)

"LUHAN!"

Jantung Sehun berdetak cepat.

Anak yang lebih tua berdiri didepan minivan merah, beberapa inchi dari bumper mobilnya. Wajahnya sangat pucat, seperti baru saja melihat hantu. Matanya membesar karena terkejut. Seluruh tubuhnya bergetar.

Si supir berteriak padanya. "HEI ANAK KECIL! APA KAU MENCOBA UNTUK MEMBUNUH DIRIMU SENDIRI!?"

Tapi Sehun hanya bisa memproses satu hal –Luhan tidak terluka.

Dia berlari menuju tempat kekasihnya berdiri dan membawanya, tidak mengacuhkan teriakan yang datang dari si supir. Pria itu secepatnya menyetir memutari mereka, meninggalkan pasangan itu ditengah jalan.

"APA KAU GILA?!" Dia berteriak pada Luhan, yang terlihat seperti lupa daratan.

Sehun melingkarkan lengannya lebih erat disekitar Luhan. Tubuh keduanya bergetar.

"BAGAIMANA BISA KAU BERLARI MENGEJARKU SEPERTI ITU?! KENAPA KAU TIDAK MELIHAT KEDUA ARAH!? BAGAIMANA JIKA SESUATU TERJADI PADAMU?!" Sehun melanjutkan untuk berteriak pada kekasihnya, suaranya yang tak stabil hampir tak dikenali. Matanya mulai menangis.

Dia tidak tahu yang mana lebih buruk –bayangan akan Luhan yang bisa saja terluka serius atau bahwa itu akan menjadi seluruh kesalahannya.

Pikiran akan kehilangan Luhan hanya membuatnya lebih sulit untuk bernapas seraya mempererat pelukannya. Dia mungkin menyakiti anak yang lebih tua, tapi sekarang dia hanya butuh Luhan sedekat mungkin dengan dirinya.

"S-Sehun-ah," akhirnya Luhan bicara, sadar dari lamunannya.

Dan air matanya turun.

"KAU BODOH TAHU?! ORANG PALING BODOH," kata Sehun diantara isakan hebohnya.

Orang bodoh dilengannya hanya menenggelamkan wajahnya dileher Sehun, melingkarkan lengannya disekitar pinggang Sehun. "Sehun-ah."

Sehun tidak bisa mengatakan jantung milik siapa yang berdetak lebih cepat, tapi itu bukanlah hal penting...

Satu hal yang penting adalah Luhan aman.

Aman dilengannya.

"Sehun-ahh," ulang Luhan, suaranya redam dileher Sehun.

"Janji padaku kau tidak akan melakukannya lagi," bisik Sehun dengan suara seraknya.

Kekasihnya mengangguk dan menekan dirinya lebih dalam pada dada Sehun. Sehun mengistirahatkan wajahnya pada rambut Luhan –menunggu jantungnya untuk tenang.

Mereka berdiri disana selama beberapa menit. Sehun mendengarkan suara indah dari napas Luhan yang teratur.

Dia hampir lupa tentang alasan kenapa dia berlari.

Hampir.

ooo

Ketika mereka kembali ke rumah, bergandengan tangan, ibu Luhan tahu sesuatu sudah terjadi tapi karena tak seorang pun dari mereka yang ingin mengatakan apa pun, ia tidak mempertanyakannya. Dan untuk itu Sehun bersyukur.

"Kalian berdua terlihat lelah. Aku pikir kalian berdua tidur saja disini untuk malam ini dan pergi pagi-pagi dengan bus kembali ke Seoul. Bagaimana?"

"Kau benar Mom. Kami akan menginap."

Ibu Luhan bertepuk tangan. "Baik! Menginap!"

Selama makan malam, mereka bergandengan tangan dibawah meja (sejak kembali pulang, tangan Sehun sama sekali belum meninggalkan tangan Luhan). Tidak satupun dari mereka mengatakan apapun, tapi ibu Luhan tidak keberatan. Jika ia mengetahui anak laki-laki satu-satunya hampir tertabrak mobil, ia akan terjun jadi lebih baik ia tidak tahu.

Malam itu, di tempat tidur Luhan, Sehun menyusuri rambut halus Luhan dengan jarinya ketika anak laki-laki itu tidur disampingnya memeluknya.

"Sehun-ah?"

"Yeah?" Sehun membiarkan tangannya turun untuk beristirahat di punggung Luhan. Dia tahu apa yang akan datang.

"Apa kau ingin membicarakannya? Tentang mengapa kau berlari keluar seperti itu?" gumam Luhan pada dadanya. Sehun bisa mengatakan bahwa Luhan memikirkannya sepanjang waktu, dan baru sekarang anak yang lebih tua menemukan keberanian untuk bertanya padanya.

"Bukan apa-apa," Sehun berbohong.

Luhan melihat tepat kebohongannya. "Kau tidak akan bertingkah seperti itu jika itu 'bukan apa-apa'."

Sehun tidak merespon. Luhan menghela napasnya dan menyangga dirinya dengan siku untuk melihat Sehun. "Apa kau yakin itu bukan apa-apa? Kau tahu kau bisa memberitahuku apa pun." Tidak yang ini...

Sehun memberikan Luhan apa yang ia harap terlihat sebagai senyuman yang sungguh-sungguh. "Aku tahu. Jangan khawatirkan hal ini –aku baik-baik saja."

Luhan menatap Sehun –mata doe besarnya mencari kebenaran dibalik wajah Sehun. Tidak bisa menemukannya, Luhan menjatuhkan dirinya ke bantal.

"oke, Sehun-ah. Aku selalu disini jika kau ingin bercerita.."

"Aku tahu."

Mereka menatap satu sama lain untuk beberapa saat sebelum Luhan, yang mencoba menyembunyikan rasa lelahnya, akhirnya menguap. "Selamat malam, Sehun-ah."

"Malam." Sehun menonton saat kelopak mata Luhan perlahan menutup. "Aku mencintaimu," bisiknya.

"Aku juga mencintaimu," bisik Luhan kembali sebelum jatuh tertidur.

Sehun berbaring disana –matanya tidak rela meninggalkan anak yang tertidur. Ini menggelikan dan dia mungkin hanya ketakutan, tapi dia tidak bisa memalingkan matanya dari Luhan.

Dia takut jika dia menoleh, bahkan untuk satu detik, Luhan entah bagaimana akan menghilang.

Jika dia tidur sekarang, dia bisa saja bangun untuk menemukan bahwa Luhan tidak berada disana. Dan bayangan atas apa yang terjadi menakutinya sangat dalam.

Dengan mata yang masih tergoda oleh kekasihnya, Sehun mengelus pipinya. Jantungnya berdebar ketika Luhan bersenandung pelan merespon sentuhannya.

Mata Sehun menjelajah kebawah menuju jari kelingking Luhan –dimana dia membayangkan benang merah yang menghubungkannya pada Luhan. Ketika Luhan mengikatkan benang merah disekitar jari kelingking mereka hari itu, anak yang lebih tua tidak tahu bahwa mereka saling terikat lebih dari itu. Tidak satu pun dari mereka tahu.

Bagaimana bisa kemungkinan Luhan tahu bahwa ayahnya adalah pria yang sama yang memukuli Luhan dan ibunya ketika dia mabuk?

Sehun menutup matanya. Mengepalkan tinjunya, dia menahan keinginan untuk berteriak.

Untuk berteriak atas betapa kusutnya benang takdir mereka.

Untuk berteriak atas bagaimana hidup bisa menjadi sangat berliku.

(*Luhan*)

Luhan terbangun akan mata cokelat yang ia kenal menatapnya. "Mhhmm...Sehun-ah." Dia mendekat pada kekasihnya, lengannya otomatis melingkar dipinggang Sehun. Dia menunggu Sehun untuk menciumnya selamat pagi seperti yang selalu ia lakukan.

Sehun tidak melakukannya.

Luhan menatapnya. Dia membuka mulutnya, siap untuk menanyakan Sehun apa yang salah, tapi anak yang lebih muda memotongnya.

"Kita harus bangun jika ingin mendapatkan bus paling awal kembali ke Seoul," kata Sehun. Suaranya tidak seperti biasanya saat pagi hari. Apa dia tidak tidur?

Ketika mereka berada di dapur, ibu Luhan menyiapkan sebuah sarapan yang berlebihan.

"Mom...kami tidak bisa menyelesaikan semua ini."

Ibunya terkekeh. "Aku tahu itu, tapi aku tidak bisa memutuskan membuat apa untuk sarapan, jadi aku-"

"Jadi kau membuat semuanya?" tanya Luhan pada ibunya yang tak masuk akal.

Ia mengangguk. "Ini membutuhkan waktu yang lama, jadi kalian berdua lebih baik menikmatinya!"

Saat makan, Luhan menyadari bahwa Sehun tidak benar-benar disana. Itu terlihat seperti pikirannya berada ditempat lain. Dua kali Luhan harus menepuknya di pundak untuk memberikannya jus jeruk.

Di pintu depan, setelah memberitahu mereka untuk berhati-hati dan untuk menelfonnya ketika mereka sampai dirumah, ibunya memberikan mereka masing-masing sebuah pelukan.

"Luhan sayang, pastikan kau mengunjungiku lebih sering oke? Sehun, telfon aku kapan pun dia memberikanmu waktu yang sulit."

Luhan harus menghentikan dirinya sendiri untuk memutar mata pada ibunya (ia akan memukul kepalanya jika dia melakukannya).

"Sampai jumpa Mom."

"Sampai jumpa say-" Ibunya tiba-tiba berhenti ketika matanya menangkap sesuatu dikejauhan. Sehun dan Luhan keduanya berputar untuk melihat apa yang sedang ia lihat.

Detak jantung Luhan dengan cepat naik. Tangannya secara insting mencari tangan Sehun. Dia tidak tahu jika dia menggenggam tangan Sehun pertama atau Sehun yang menggenggamnya pertama kali.

"Helo," kata pria setengah umur ketika ia berjalan menuju tempat mereka. Ayah tirinya.

Luhan bisa merasakan telapak tangannya berkeringat, dan dia bisa merasakan Sehun menjadi kaku disebelahnya. Ketika pria itu semakin mendekat pada mereka, Sehun mengambil selangkah maju melindungi Luhan. Terkejut akan gerakan anak yang lebih muda, ayah tiri Luhan mengambil selangkah mundur, seakan menunjukan bahwa ia tidak bermaksud untuk melukai.

Luhan mencoba sebisanya untuk menenangkan detak jantungnya. Dia menggenggam tangan Sehun lebih erat, atau Sehun yang menggenggamnya lebih erat? Dia tidak tahu.

Dia tidak melihat pria itu hampir selama empat tahun. Rambutnya berubah abu-abu, tapi selain itu ia terlihat sama.

Ibu Luhan, yang menyaksikan semuanya dalam diam, berdeham. "Luhan sayang, bukankah kau harus menyapanya kembali?"

"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Kami tidak melihat satu sama lain dalam waktu yang cukup lama. Ini akan membutuhkan waktu untuk terbiasa." Ia tersenyum pada Luhan. "Kau sudah tumbuh dengan baik. Dengar dari ibumu bahwa kau adalah murid sosiologi? Bagaimana keadaannya?"

"Baik-baik saja," jawab Luhan pendek.

Merasakan ketegangannya, pria itu memutuskan bahwa lebih baik untuk tidak melanjutkan percakapannya. Malahan ia menoleh pada Sehun, yang Luhan sadari menatap pria itu sepanjang waktu. Ekspresinya tak terbaca.

"Dan ini...?"

"Sehun. Kekasihku."

"Ah. Baiklah. Hai Sehun. Senang bertemu denganmu." Pria itu menjulurkan tangannya dan Luhan menelan ludahnya.

Mengejutkan, Sehun menjabat tangan pria itu –walaupun Luhan menyadari bahwa itu adalah jabat tangan yang sangat erat, hampir seperti jika mereka mengadu kekuatan dalam diam.

"Senang bertemu denganmu," jawab Sehun, matanya masih memandangi pria didepannya.

"Nah kalian berdua harus pergi sebelum busnya pergi," ibu Luhan bicara lagi dan Luhan tidak bisa lebih bersyukur. Dia ingin pergi dari sana secepat mungkin.

Setelah melambai sampai jumpa pada ibunya, mereka berdua berjalan menuju pangkalan bus.

Duduk dalam bus, Luhan memberikan Sehun tatapan sekilas setiap saat. Anak laki-laki itu, yang duduk dekat dengan jendela, belum mengatakan apa pun sejak mereka meninggalkan rumahnya. Luhan mulai cemas. Dia hampir menanyakan Sehun sesuatu ketika –

"Apa ayah tirimu orang Korea?"

Terkejut akan pertanyaan tiba-tiba, Luhan tergagap. "Y-ya."

"Siapa namanya?" Sehun akhirnya berputar untuk melihatnya.

Kebingunan kenapa kekasihnya ingin tahu nama pria itu, Luhan memberinya tatapan bingung, tapi dia menjawab, "Sun He."

"Oh."

Sehun mengganti perhatiannya pada apa pun yang berada disisi lain jendela, meninggalkan Luhan sendiri dengan pikirannya. Sendirian dengan pertanyaannya.

Sejak kejadian itu, Sehun bertingkah berbeda. Luhan akan sering menangkap Sehun menatapnya, tapi itu bukanlah tatapan memuja yang sama yang seperti ia berikan pada Luhan –itu terlihat seakan Sehun sedang mencoba untuk menemukan sesuatu atau dia sedang menyembunyikan sesuatu? Bagaimanapun juga, pandangan yang dia berikan pada Luhan mengisyaratkan luka yang Luhan tidak bisa acuhkan. Hanya ketika dia datang mendekat anak yang lebih muda menghentikan lamunannya.

Juga, anak yang lebih muda tidak lagi memulai kontak kulit. Selalu Luhan yang pertama menggandengnya, yang pertama menciumnya, yang pertama memeluknya. Luhan bohong jika dia bilang ini tidak menyakitkan...

Mengetahui bahwa Sehun terganggu oleh sesuatu, Luhan putus asa ingin bertanya padanya, tapi dia tidak bisa melakukannya karena kapan pun mereka sendirian, Sehun terlihat jauh.

Kenapa dia berlari seperti itu? Apa yang terjadi? Kenapa dia tidak mau menceritakannya padaku? Pikiran itu perlahan memakannya dari dalam.

Satu malam, setelah memutuskan bahwa dia tidak bisa menahannya lagi, dia bertanya pada kekasihnya, yang berpura-pura tidur.

"Ada apa?"

"Apa yang kau maksud?" respon Sehun, punggungnya masih menghadap Luhan.

"Sehun-ah, aku pikir aku tahu kau cukup baik untuk mengetahui bahwa ada sesuatu. Sesuatu yang menganggumu. Aku ingin –harus tahu. Apa sesuatu terjadi? Apa aku melakukan hal yang salah?"

"Tidak dan tidak. Aku hanya lelah. Ma'af."

Sunyi.

Merasa seperti dia akan tercekik jika dia tetap berada disana lebih lama, Luhan bangun. Dia menutup pintunya perlahan dibelakangnya, setelah membawa buntalan dari bawah tempat tidur.

Di halaman luar, dia mengambil napas –mengambil banyak udara dingin malam yang ia buthkan. Dia menghembuskan napas dan melepas gulungan kantung tidur.

Beberapa bulan yang lalu, dia takut tidur di kantung tapi sekarang dia masuk kedalamnya sesuai keinginannya.

Ketika dia sudah memposisikan dirinya didalam kantung, dia menatap keatas pada bintang atau setidaknya dia mencoba –pandangannya mulai mengabur. Air mata mengancam untuk jatuh, tapi Luhan menolak untuk membiarkan setetes pun lepas.

Menangis hanya akan membuatnya merasa buruk.

(*Sehun*)

Sehun tersentak bangun. Mencoba untuk menenangkan napasnya, dia mengelap keringat yang terbentuk didahinya. Dia mendapatkan mimpi buruk lagi.

Sejak mereka kembali dari Busan, Sehun selalu memimpikan mimpi yang sama –dia bangun pada tempat tidur yang kosong dan tidak peduli seberapa keras ia berteriak untuk Luhan, tidak ada yang terjadi.

Berbalik pda punggungnya, Sehun menolehkan kepalanya menuju sisi Luhan –

Apa dia tidak kembali?

Menyadari bahwa dia pasti jatuh tertidur setelah Luhan pergi, Sehun bangun untuk mencari kekasihnya. Ketika dia di lantai bawah, dia mengira untuk melihat gumpalan familiar di sofa ruang tamu, tapi dia tidak ada apa-apa, dia menggantikan perhatian menuju dapur yang gelap. Dia juga tidak disana...

"Luhan?" Dia memanggil hanya untuk bertemu dengan kesunyian.

"Lu?"

Dia berlari kembali ke lantai atas dan dengan lembut mengetuk pintu Baekyeol. Dia membukanya dan menjulurkan kepalanya kedalam. Chanyeol, mengangkat kepalanya ketika mendengar Sehun membuka pintu.

"Ada apa maknae?"

Memandang kesekitar kamar, Sehun bisa melihat bahwa Luhan tidak disana. Kepalanya mulai berdenyut. "Aku mencari Luhan hyung. Apa kau tahu dia dimana?"

"Tidak..kau tidak bisa menemukannya?"

"Tidak." Dan itu ketika panik menyerang. Sehun mulai gelisah dengan pegangan pintu.

Chanyeol, merasakan kepanikan anak yang lebih muda, memberitahunya, "Jangan khawatir. Dia mungkin berada dimana pun disekitar rumah. Periksa ruangan lain dan teras belakang."

"Oke."

Sehun memeriksa semua ruangan lainnya, tapi masih tidak ada Luhan. Dia berlari ke lantai bawah (tersandung di langkah terakhir) dan menyalakan lampunya. Tidak ada apa pun diluar di teras belakang.

Dia berlari ke dapur, menyalakan lampunya, dan memeriksa sekeliling dengan cepat –tidak ada Luhan.

KEMANA DIA PERGI!?IB

Sehun hampir berlari keluar dari dapur ketika matanya menangkap sesuatu. Dari jendela dapur, dia bisa melihat gumpalan gelap dirumput, dekat pohon. Luhan?

Sehun beranjak ke pintu, tidak bersusah-susah memakai sepatu. Tidak terlalu gelap diluar jadi Sehun bisa melihat rambut berwarna madu mencuat keluar dari kejauhan. Luhan!

(*Luhan*)

Apa salah satu kerugian tidur diluar? Kau bangun akan kicauan keras burung yang sangat menyebalkan.

Ughhhh. Luhan mengerang seraya membuka matanya. Wajahnya sedikit kaku karena tidur diluar, tapi selain itu dia hangat –khususnya punggungnya.

Dia berkedip dengan cepat ketika menyadari sejenis jaring didepannya. Aku tidak ingat membawa jaring.

Luhan membeku ketika dia merasakan sepasang lengan melingkar disekitar batang tubuhnya. Apa yang...

Perlahan menolehkan kepalanya, Luhan menemukan wajah kekasihnya satu inchi dari wajahnya. Sehun? Apa yang ia lakukan disini?! Apa aku bermimpi?

"Tidak, kau tidak bermimpi," gumam Sehun, matanya tertutup.

"A-ap-apa yang kau lakukan disini?" gagap Luhan, tidak bisa mengerti keadaannya. Kenapa Sehun tidur diluar bersamanya? Bagaimana dia bahkan bisa masuk ke kantung tidur tanpa aku mengetahuinya?

"Kau seharusnya tidak berpikir aku akan membiarkanmu tidur diluar sendirian'kan?" Sehun membuka matanya untuk bertemu mata Luhan. Rasa hangat yang familiar merambat ke pipinya sebagai hasilnya –Sehun belum pernah menatapnya seperti itu sejak kejadian itu.

Dibuat tidak bisa berkata apapun atas perubahan tiba-tiba sikap kekasihnya, Luhan berbalik –pungungnya menghadap Sehun.

Dia bisa mendengar Sehun menghela napas dibelakangnya. Anak yang lebih muda menarik Luhan mendekat padanya. Dia mendekatkan bibirnya pada telinga Luhan. "Apa kau marah?"

Luhan menggenggam kantung tidurnya –mencoba sebisanya untuk tidak memekik atas betapa hangat napas kekasihnya terasa dikulitnya atau bagaimana sexy memikatnya suara Sehun ketika pagi hari.

Menganggap kediaman Luhan sebagai sebuah jawaban ya, Sehun menghela napas. "Aku minta ma'af. Tentang semuanya."

Luhan menghiraukan kenyataan pada bibir Sehun masih sangat dekat dengan telinganya, dan mencoba untuk mendengarkan apa yang sebenarnya dia katakan padanya.

"Tolong jangan marah padaku." Sehun mencium telinganya. ASDFGHJKL. SEHUN!

"Yahhh...Jangan! Tidak! Berhentii!" perintah Luhan ketika Sehun mulai menggigit telinganya.

"Tapi kau menikmatinya," kata Sehun (Luhan bisa mendengarnya menyeringai).

"Tidak, aku tidak menikmatinya!"

"Telingamu memerah." Sehun mulai menempatkan ciuman sepanjang sisi wajah Luhan saat Luhan mengutuk telinga bodohnya.

"Apa kau akan memberitahuku kenapa kau lari hari itu?"

Dia merasakan Sehun menjadi sedikit kaku, tapi anak yang lebih muda dengan cepat menjadi tenang. Dia tersenyum pada Luhan sebelum menempelkan bibirnya erat pada bibir Luhan.

"Aku mencintaimu," katanya ketika dia menjauhkan bibirnya. Sehun membiarkan jarinya menelusuri rambut berantakan pagi Luhan. Merasakan bahwa Luhan menatapnya dalam, Sehun menembaknya dengan senyuman sungguh-sungguh sebelum menciumnya lagi.

Luhan tahu bahwa Sehun menciumnya untuk mengalihkan perhatiannya. Untuk menjauhkannya dari menanyakan tentang kejadian itu.

Hanya karena dia benar-benar merindukan Sehun menciumnya lagi, seperti benar-benar menciumnya, Luhan membiarkannya lewat.

Tapi dia tidak akan melupakannya.

o

o

o

TBC~


fantasy_seoul's note:

Whew! Banyak hal terjadi di chapter ini. Pertama –LUHAN BAIK-BAIK SAJA SEMUANYA! TIDAK ADA LUKA FISIK! Tidak bisa mengatakan hal yang sama pada luka secara emosional. Juga Sehun akhirnya bertemu dengan ayah tiri Luhan! Ketegangannya. Juga, jangan menghakimi Sehun terlalu kasar karena memperlakukan Luhan seperti itu –dia trauma karena menemukan bahwa ayahnya adalah ayah tiri Luhan. Dan lalu chapter ini berakhir dengan fluff Hunhan, walaupun masalahnya masih belum selesai. Apa Sehun akan memberitahu Luhan? Atau Luhan akan menemukannya sendiri? Kita tunggu chapter yang akan datang.

Bagian kesukaanku di chapter ini adalah referensi Sehun akan benang merah dan juga bagian akhir dimana Sehun tidur dengan Luhan diluar dengan kantung tidur. Awwwww :)

Chapter ini sedikit sulit untuk ditulis, itulah mengapa aku tidak bisa update secepat yang aku rencanakan. Minta ma'af pada kalian yang menjadi gila karena menungguku. Aku sangat menyukai membaca reaksi kalian jadi tetaplah komen! Aku harap kalian menyukai chapter ini. Terima kasih sudah membaca :D

XiaoWa's note:

double update? Mungkin~

Banyak yang sudah menebak bahwa ayah tiri Luhan adalah ayah Sehun~ Drama mode on! Ada juga yang meminta dramanya jangan terlalu lama, well, kalian coba cari tahu sendiri saja ne ^^~ Terima kasih atas doa kalian juga T^T jadi terharu...Okay, beberapa dari kalian menanyakan kapan fanfiction ini akan selesai, dan apa yan akan kalian lakukan jika saya bilang masih tersisa lima chapter lagi? Bagian favorit saya juga tentang Sehun dan referensinya soal benang merah takdir, saya hampir nangis ditambah dengan mp3 yang sedang play lagu 'Because I'm Waerry'... HAMPIR. Dan ma'af saya masih belum bisa membalas satu-satu review kalian disini tapi jangan khawatir saya membaca semuanya ^^~

Terima kasih yang masih setia membaca ICCL~ dan selamat datang readers baru~