sassy.chessy present :

A Hunkai Fanfiction

NEVER TOO FAR

Cast : Oh Sehun, Kim Jongin

It's Sequel of Fallen Too Far

Happy Reading!

.

.

.

Never Too Far : Chapter 36

- Sehun -

Jongin bertekad untuk bekerja keras setelah peringatan dua minggu dari Mark. Aku tidak akan berdebat dengannya. Dia setuju untuk semua yang aku minta. Aku tidak akan memaksakan keberuntunganku. Aku duduk di meja dengan laptop dan secangkir kopi menunggunya selesai bekerja.

Mark berhenti untuk berbicara denganku selama beberapa menit tapi selain itu semua tenang sepanjang sore ini. Kebanyakan orang pergi keluar kota. Ravi ada disana karena Yuri tapi aku tidak yakin dia akan tinggal lebih lama. Aku melihat tatapan gelisah di matanya beberapa hari yang lalu ketika kami bermain golf. Dia tidak akan tinggal di kota ini lebih dari musim panas.

"Apakah kursi ini ada yang punya?" Aku mengangkat kepalaku untuk melihat Krystal duduk di kursi di sampingku. Aku jarang melihatnya sejak perlombaan golf. Aku menatap pada Jongin yang sedang mengisi air minum seseorang tetapi matanya tertuju padaku.

"Yeah, sudah," jawabku tanpa melihat pada Krystal.

"Aku tahu kau bertunangan dengan gadis pirang itu. Semua orang tahu itu. Aku disini tidak untuk menggodamu," jawabnya.

Jongin tersenyum padaku dan berbalik menuju ke dapur. Sial. Apa arti senyuman itu?

"Dia punya cincin berlian besar di tangannya. Tidak ada yang perlu dia kuatirkan dan dia tahu itu. Tenang, kawan. Kau ketakutan pada hal yang tidak penting."

Aku mengalihkan perhatianku pada Krystal, "Dia tahu kau wanita pertamaku. Itu mengganggunya."

Krystal tertawa, "Aku bisa meyakinkanmu kalau memori yang aku miliki dari pengalaman kita dan kenyataaan yang dia hadapi benar-benar berbeda. Aku mendapat perjaka yang terangsang. Dia punya yang profesional."

Aku berbalik untuk melihat jika Jongin ada di belakang sana. Aku tidak ingin dia mendengar ini. "Duduklah di tempat lain. Dia sedang emosional sekarang. Aku tidak ingin dia marah."

Tidak ada yang tahu dia sedang hamil. Aku akan membiarkan Jongin yang memutuskan kapan untuk mengatakan pada orang-orang.

"Dia tidak terbuat dari Cina. Dia tidak akan pecah. Apakah dia tahu kau memperlakukannya seperti boneka?"

"Ya, aku tahu. Kami baik-baik saja akan hal itu," jawab Jongin saat dia mendatangi meja kami dan menuangkan kopi di cangkirku. "Aku tidak percaya kita belum pernah berkenalan. Aku Kim Jongin."

Krystal mencuri pandang sesaat ke arahku kemudian berbalik pada Jongin, "Krystal Jung."

"Senang akhirnya bisa bertemu denganmu, Krystal. Bisakah aku membawakanmu minuman?"

Ini bukan seperti yang kuharapkan. Bukan karena aku tidak menyukai ini, karena aku menyukainya. Itu artinya aku membuatnya merasa lebih aman bersamaku.

"Jika aku meminta Diet Coke apakah dia akan mengayunkanku?" tanya Krystal.

Jongin tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Tidak. Dia akan jadi pria yang baik. Aku janji." Kemudian dia menatapku. "Kau lapar?"

"Aku baik," aku meyakinkannya.

Jongin mengangguk dan berjalan menuju dapur.

"Aku mungkin sedikit jatuh cinta padanya. Dia seksi. Tapi kemudian ada seseorang yang akan mengikatmu, mereka sudah punya paket yang lengkap."

Tertawa aku menyesap kopiku. Kemudian menatap pada arah pintu menunggu Jongin berjalan masuk lagi. Aku tidak sabar membawanya pulang.

Jongin tetap bersandar pada kursi sambil menekankan ciuman pada leherku dan menggigit telingaku. Sulit sekali rasanya untuk tetap fokus dalam perjalanan pulang.

"Aku sudah siap untuk menepi dan bercinta dengan tunangan mungilku yang terangsang jika dia tidak berhenti," aku memperingatkan, menggigit bibir bawahnya ketika ciumannya berada terlalu dekat di mulutku.

"Terdengar seperti janji dari pada tantangan," katanya, menyelipkan tangannya diantara pahaku dan menangkup ereksiku.

"Sial, sayang, kau membuatku gila," aku menggeram, menekan ke tangannya.

"Jika aku menghisapnya bisakah kau berkonsentrasi untuk menyetir?" tanyanya saat dia mulai membuka celana jeansku.

"Aku lebih suka membawa kita berdua di bawah pohon palem tapi aku tidak peduli lagi sekarang," jawabku saat tangannya meluncur ke bawah di depan celana dalamku.

Untungnya, kami tidak akan ketahuan. Aku memasuki jalanan menuju rumah dan mematikan mobil di taman ketika Jongin baru saja melepas celanaku. Teleponku berbunyi untuk ketiga kalinya. Aku membuatnya bergetar dan hening jadi itu tidak akan mengganggu kami dengan kilatan cahaya pada layarnya. Ibuku telah meneleponku tadi ketika aku menunggu Jongin dan aku sedang tidak ingin menjawabnya. Hanya sekali ponsel itu berhenti kemudian berbunyi lagi. Sialan.

Aku akan mematikannya atau berurusan dengan ibuku. Jongin memegang penisku di tangannya jadi aku berfikir kalau mematikan ponsel itu adalah yang terbaik. Menatap ponsel itu aku tahu telepon itu berasal dari nomor luar kota yang terlihat di layarku. Kode areanya tidak asing tapi aku tidak bisa mengetahuinya.

"Siapa itu?" tanya Jongin.

"Tidak tahu, tapi mereka memutuskannya."

Jongin berhenti menyentuhku. "Jawab saja. Aku baik-baik saja dalam beberapa menit."

Aku menekan tombol jawab. Aku perlu melemparkan mereka dan mendapatkan gadisku. Tapi sebelum aku berkata halo, ibuku mulai berbicara dan duniaku hancur berkeping-keping di kakiku.

.

End for This Chapter

sassy.chessy