Disclaimer : Ichiei Ishibumi

Aku hanya memiliki OC disini


Iblis sombong melebihi si ayam

-Tempat asing

''Maaf nona, aku telah gagal''

Terlihat seorang pria yang sedang tunduk di depan seorang wanita, dia terlihat memakai jubah yang sama dengan orang yang menyerang rumah sang MC

''Oh begitukah, aku akan memaafkanmu tapi lain kali jangan seperti ini lagi'' kata wanita di depan nya dengan tatapan tajam

''Baiklah nona Viona, saya mengerti, mohon ampunan nya''

Sang wanita itu kemudian duduk di sebuah kasur, dia terlihat memakai wajah marah

''Tapi saya menemukan informasi yang mungkin berharga''

''Cepat ceritakan'' perintah Viona

''Aku sudah tahu kalau sepertinya salah satu dari kakak manusia itu memiliki hubungan dengan Malaikat Surga, dia sepertinya memiliki hubungan biologis''

''Oh begitukah, tapi aku melihat kalau manusia rendahan itu tidak memiliki sihir apa pun, tidak ada garis sihir di tubuhnya'' kata Viona sambil meminum anggur

''Anda benar, dan begitu juga dengan kakak nya satu lagi namun saya tidak mengetahui secara jelas''

Viona menatap ke arah jendela, dia berpikir kalau cukup bagus menyewa pembunuh bayaran untuk menuju ke bumi dan membunuh manusia yang sudah melukainya, dia mengingat kedua manusia itu yang sudah melawan dirinya dan membuatnya terluka parah

Gelas anggur di pegangnya kemudian pecah karena kemarahan nya sendiri

''Kalau begitu kau coba kau cari cara lain untuk bisa membunuh pria itu'' kata Viona

''Baik nona''

''Kalau begitu kau boleh pergi''

Orang itu kemudian pergi keluar jendela

Viona menuju ke arah kaca, dia melepas semua pakaiannya satu persatu, mulai dari atas hingga kebawah. Hingga dia pun akhirnya telanjang bulat tanpa ada benang menutupu tubuhnya, dia memiliki tubuh yang begitu langsung namun langsing di tempat yang semestinya, dia memiliki payudara yang bisa di bilang besar, kulitnya yang putih membuatnya tambah anggun.

Lelaki siapa saja yang melihatnya pasti langsung terangsang

''Hah, sudah lama aku tidak melihat diriku sendiri sejak di segel'' kata Viona melihat tubuhnya sendiri

Dia memegang payudaranya yang memiliki ukuran besar itu, dia memegang paha nya dan mengelus-elusnya, dia terus memegang tubuhnya sendiri bahkan sampai di daerah selangkangan nya

Tiba-tiba pintu di kamar Viona di buka oleh seseorang, yang mendobrak adalah seorang wanita.

''Viona!''

Terdengar teriakan yang begitu kuat sekali. Viona berbalik melihat siapa yang tiba-tiba saja mendobrak pintu kamarnya.

''Kenapa kau mendobrak kamarku, Lalatina?'' tanya Viona dengan marah

''Jangan berpura-pura bodoh'' Lalatina berjalan ke depan menghampiri Viona

Dia memakai daster tipis yang terlihat menampakan tubuhnya, dia sama sekali tidak memakai pakaian dalam seperti BH mau pun celana dalam, seluruh tubuhnya terlihat dari daster tipis itu.

''Apa maksudmu?'' tanya Viona heran

''Sudah aku bilang jangan pura-pura bodoh, aku tahu kalau kau mengincari Manusia itu, ya kan!?'' teriak Lalatina marah

''Terus? Apakah ada yang salah dengan itu? Dia sudah melukaiku, dia harus mati'' kata Viona dengan nada serius

''Aku tidak peduli, tapi yang pasti aku yang akan membunuhnya dan menjadikan jiwa nya sebagai budak ku'' kata Lalatina bersikeras

Viona mendesah pasrah mendengar perkataan Lalatina, mereka selalu saja bertengkar untuk apa yang akan terjadi dengan nasib Manusia di tangan mereka masing-masing.

''Dengar, aku tidak suka dan membenci lelaki Manusia itu dan dia harus mati'' Viona memakai tatapan tajam mengingat kejadian pertarungan mereka

Lalatina bisa merasakan ada nya tekanan energi yang berwarna hitam di sekitar Viona, Lalatina hanya terdiam melihat wanita itu sepertinya marah sekali dari tekanan energi yang dia rasakan saat ini juga.

''Tidak, aku tidak akan membiarkan itu, saat aku mendapatkan nya duluan, aku akan menjadikan dia budak ku dan kau tidak boleh melenyapkan nya'' kata Lalatina

Sang wanita sadis pun berbalik dan berjalan ke pintu keluar, saat di pintu dia berbalik melihat Viona sekali lagi

''Oh aku lupa, bagaimana kabar si anak sombong itu?''

''Dia sepertinya masih bertarung dengan 'nya''' jawab Viona

''Hah!? Dia masih bertarung hingga sekarang, apakah kau bercanda?! Ini sudah tahu harian dan hampir dua hari'' kata Lalatina kaget melebarkan bola matanya

''Kenapa kau bertanya kepadaku, aku juga tidak tahu, tapi bocah itu sepertinya memiliki stamina yang begitu luar biasa hingga bisa bertahan bertarung hingga sekarang'' jawab Viona

Kedua wanita itu menatap satu sama lain dan Lalatina masih kaget dengan apa yang terjadi

''Oh siapa nama bocah itu?''

''Nama nya Xenox''

-Sekolah yang sepi

Ruangan club ORC terlihat memiliki banyak sekali orang di dalamnya, ada Rias beserta para peerage dan sang karakter utama lain nya.

Mereka sedang menatap ke layar virtual di depan mereka, layar virtual itu sedang menunjukkan seseorang yang sedang bertarung, atau bisa di bilang satu orang dengan beberapa orang. Sang satu orang di layar itu terlihat bisa mengalahkan beberapa musuhnya, wajahnya menunjukkan kalau dia tidak merasa kelelahan sama sekali

''Sialan kau Sairaog, kau benar-benar monster!''

''Hahaha hanya itu yang bisa kau katakan, kau seharusnya menggunakan kekuatanmu untuk melawan musuh bukan memujinya''

Sairog mengangkat tinjunya dan kemudian maju ke depan dengan rasa keberanian yang tampak jelas di wajahnya.

Musuhnya yang memakai wajah ketakutan kemudian menyerang Sairog dengan sihir yang begitu banyak sekali, Sairog dengan mudah menghindari semua serangan itu dan mendekatinya sambil berusaha tidak terkena serangan sihir itu

Sairog langsung meluncurkan pukulan yang begitu kuat di perutnya itu, sang lawan terhempat ke atas namun Sairog kemudian menendang punggung orang itu dan akhirnya dia pun terjatuh ke tanah hingga tak sadarkan diri.

Sairog mendarat ke tanah sambil tersenyum melihat ke arah semua musuhnya yang sudah tidak sadarkan diri.

''Hanya inikah kekuatan kalian semua? Sebaiknya kalian latihan lebih giat lagi'' kata Sairog dengan tersenyum bangga

Para peerage Rias terkejut dengan apa yang terjadi, mereka bisa melihat Sairog bisa mengalahkan para Iblis kelas atas itu dengan begitu mudahnya. Ini membuat Issei merasa keringat dingin untuk melawan dia nantinya di Rating Game

Ardi hanya duduk dengan santai saja melihatnya, Dion di sebelahnya terdiam juga sambil memakan sebuah biskuit.

''Seperti yang kalian lihat, dia begitu kuat dari kalian bayangkan, mungkin kita tidak akan bisa mengalahkan nya'' kata Rias kemudian berdiri dari kursinya

Rias menuju ke arah para peerage dan yang lain nya

''Jadi apakah kau memiliki rencana untuk melawan nya, Rias?'' tanya Alice

''Sejujurnya aku belum memikirkan itu, sebab itulah aku menyuruh kalian kesini untuk mencari cara agar bisa mengalahkan sepupu ku itu'' kata Rias

Semua orang mengangguk mengerti walaupun masih belum mendapatkan rencana yang bagus untuk melawan anak dari keluarga Bael itu.

Saat mereka sedang memikirkan sesuatu yang penting, tiba-tiba datanglah karakter random yang langsung saja mendobrak pintu club itu. Dia adalah Ari yang terlihat kelelahan

''Oh rupanya kalian disini, aku cari kalian dari tadi'' kata Ari dengan nada kelelahan

''Kau rupanya, setidaknya berikan rasa sopan saat membuka pintu'' kata Alice

''Maaf, aku terburu-buru'' kata Ari yang kemudian berjalan ke kursinya

Mereka semua heran melihat sikap Ari yang terlihat begitu kelelahan seperti berlari dengan berjam-jam. Koneko yang di sebelahnya kemudian bertanya kepada nya

''Ada apa denganmu, Ari senpai?'' tanya Koneko

''Biasa, di kejar-kejar para wanita samurai'' jawab Ari terlihat memegang punggungnya seperti merasakan kesakitan

''Wanita samurai? Maksudmu wanita club Kendo?'' tanya Issei

''Oh ya itu'' kata Ari baru ingat

''Hah? kenapa kau di kejar mereka? Apakah kau mengintip?'' tanya Issei bingung

Ari langsung menatap ke arah Issei dengan tatapan cemberut, Issei yang di tatap seperti itu terlihat gugup sambil tersenyum kaku, dia berrtanya-tanya apakah dia melakukan kesalahan kepada teman nya itu?

''Dengar, ini semua gara-gara kedua teman mesum itu, aku sedang melihat mereka mengintip para wanita samurai itu. Aku ingin bertariak memergoki mereka tapi aku juga malah di tuduh mengintip'' kata Ari

''Akwaokwaokw'' tawa Dion dengan lebay

''Diam mesum kelas kakap, aku tidak mau mendengar tawa bego mu itu'' kata Ari kesal

Semua orang terlihat tersenyum lucu mendengar cerita Ari itu, sudah berapa kali Ari di tuduh sebagai orang mesum juga namun Ari terus mencoba menyangkalnya. Dia memang mesum namun memiliki kelas berbeda dari Dion dan Issei

Koneko tersenyum melihat ulah senpai nya itu, dia terus saja melakukan hal random di sekolah ini, dia pernah kabur dari jam pelajaran fisika dengan melompat keluar jendela kelas, slav di kantin sambil makan, mengerjai para anak-anak sekelas Koneko dengan petasan dan banyak hal lagi.

Dia akhirnya di kenal sebagai anak pembuat masalah

''Bisakah kau tidak membuat masalah satu hari di sekolah ini'' pinta Alice

''Hah, ya aku memang pembuat masalah tapi itu jarang-jarang, sedangkan masalah lain yang aku buat karena terpaksa'' kata Ari

''Alasan'' kata Ardi

Mereka kembali tenang beberapa saat setelah gagak Ardi bersuara. Ari melihat kearah gagak Ardi yang berdiri di sudut ruangan ini, dia bertengger di salah satu kayu.

''Jadi apakah kau sudah memberi nama burung gagakmu?'' tanya Ari

''Ya, namanya Chogan'' jawab Ardi

''Hmmmm nama lumayan'' kata Ari

Rias kembali berjalan ke tempat duduknya, dia pun duduk dengan santai sambil meminum teh yang telah di buat oleh Akeno. Seperti biasa mereka berbicara satu sama lain, terkadang Ari mengambil secara diam-diam cemilan Koneko

Rias santai saja dan kemudian dia menyadari kalau ada energi yang muncul tiba-tiba, RIas berbalik dan melihat ada lingkaran sihir muncul di bawah lantai. Issei dan yang lain nya terlihat kaget dan bersiap-siap kalau ada seseorang yang akan menyerang mereka

Muncul seorang pria, pria itu memakai pakaian seperti jaket namun dia memiliki jubah di belakangnya, rambutnya berwarna biru kehitaman. Dia memakai wajah tersenyum sambil mata terpejam

''Oh Diodora Astaroth, aku tidak tahu kalau kau akan datang kesini'' kata Rias mengetahui orang itu

''Maaf jika aku tidak mengatakan ini terlebih dulu, tapi aku memiliki urusan disini'' kata Diodora

''Ya itu bisa sangat jadi masalah mengatahui kalau kau masuk dengan tiba-tiba ke dalam daerah keluarga ku'' kata Rias dengan senyuman di bibirnya

Diodora terlihat diam saja sambil menunjukkan senyuman di bibirnya itu, dia terlihat ramah namun sebenarnya dia memiliki maksud tertentu di tempat ini.

Ardi bisa menyadari senyuman orang itu yang sepertinya tidak menunjukkan kesan bersahabat sama sekali, begitu juga yang lain nya, mereka semua terdiam tanpa mengatakan sepatah kata pun

''Jadi, kenapa kau kesini?'' Rias masih memerhatikan

Diodora tidak menjawab, dia menatap ke arah Asia yang bersembunyi di belakang Issei, dia langsung berjalan menuju Asia dengan tergesa-gesa dan mengabaikan orang-orang di sekitarnya

Diodora langsung memegang tangan Asia, ''Oh aku akhirnya berhasil bertemu denganmu'' kata Diodora dengan senang.

Asia terkaget melihat pria ini tiba-tiba saja mendatanginya dan memegang tangan nya, dia sepertinya pernah melihat pria ini tapi dia tidak ingat kapan. Issei di sampingnya kaget juga melihat pria asing tiba-tiba memegang tangan Asia

''Hey siapa kau?! Kenapa kau tiba-tiba saja memegang tangan Asia-chan?'' tanya Issei

Pria itu tidak memperdulikan Issei

''Oh apakah kau tidak ingat denganku? Aku adalah Iblis yang sudah pernah kau selamatkan, apakah kau sudah ingat?'' tanya pria itu dengan berharap

Asia mencoba memproses perkataan pria itu, dia mencoba ingat dan mendapatkan satu ingatan. Di saat dia masih menjadi biarawati di Gereja, dia bertemu dengan seorang Iblis yang sepertinya terluka parah entah kenapa, hati nya yang lembut dan baik menolong Iblis itu. Setelah sembuh, Iblis itu berterima kasih dan kemudian kembali ke tempat asalnya

Asia melebarkan matanya dan melihat ke arah Diodora

''Jadi itu kau, Iblis yang terluka sewaktu itu?'' tanya Asia balik

''Ya itu benar sekali, aku adalah Iblis itu'' kata Diodora tersenyum mengetahui kalau Asia mengingatnya.

Asia tersenyum senang, ''Syukurlah kau baik-baik saja, aku senang kau sudah sehat sekarang'' kata Asia

Issei terlihat terganggu sekali dengan pria ini yang tiba-tiba saja mendekati Asia, namun sepertinya Asia sudah mengetahui pria ini jadi dia memutuskan untuk diam saja. Begitu juga dengan Rias yang kesal karena di acuhkan disini

''Jadi, mulai sekarang hidup bersamalah denganku, Asia'' kata Diodora

Asia terlihat kaget mendengar perkataan dari Diodora tadi

''Maaf, aku sudah memiliki keluarga'' kata Asia melihat ke arah Rias dan yang lain nya

Diodora terlihat tidak senang dengan jawabab Asia tadi, dia melepas tangan Asia tapi masih menatap ke arah Asia

''Kau bisa mempunyai keluarga yang lebih baik jika kau ikut denganku'' kata Diodora

''Hey dia bilang kalau dia tidak mau!'' Issei memegang bahu belakang Diodora

Diodora yang merasakan bahu di pegang oleh Issei kemudian menampar tangan Issei, semua orang kaget melihat kejadian ini

''Jangan menyentuhku, Iblis rendahan'' kata Diodora dengan tatapan merendahkan

Semua orang kaget mendengar perkataan Diodora itu tapi mereka terlihat diam saja membiarkan ini, Issei juga kaget dengan yang terjadi barusan

''Aku sudah mendengar cerita tentangmu, kau adalah Iblis rendahan yang melakukan hal kotor kepada wanita dan juga mencuci otak anak-anak...''

''Tunggu, apakah Issei sudah terkenal sekali di Underworld?'' bisik Ari kepada Ardi

''Ya, dia sangat terkenal setelah mengalahkan Loki saat itu, beritanya terkenal di Underworld'' jawab Ardi

Ari mengangguk-angguk mengerti dan kembali melihat ke arah Diodora dan Issei lagi, Issei terlihat terdiam mendengar perkataan dari Diodora tadi, dia sepertinya tidak bisa melawan perkataan itu

[Plak]

Sebuah efek tamparan pun terdengar, terlihat Asia menampar pipi Diodora sehingga pipi pria muda itu berwarna merah.

''Asia?...'' bingung Diodora

''Jangan mengatakan hal seperti itu kepada Issei-san, dia adalah pria baik yang sama sekali tidak kau ketahui!'' teriak Asia marah

Semua orang kagum dengan sifat berani Asia sekarang yang bisa menampar seseorang, dia selalu saja bersifat lemah lembut tapi sekarang terlihat tegas sekali dari pancaran mata nya. Rias tentu saja tersenyum melihat keberanian peerage nya ini

Diodora memegang pipi nya yang terkena tamparan tadi, dia merasakan sakit namun sepertinya dia menahan nya rasa itu. Dia berbalik dan melihat ke arah Issei bersama kelompok Ari.

''Oh begitu...'' Diodora melihat mereka semua, ''Mari kita lihat, ada Iblis rendah yang memiliki Sacred Gear Longinus, Manusia rendahan yang sama sekali tidak berguna, darah Dewa yang sudah kotor dan kita lihat...'' Diodora melihat kearah Ardi

''Dan Iblis buangan, orang yang sudah mengotori darah Iblis kelas atas'' kata Diodora tersenyum melihat Ardi

Ardi diam saja sambil melanjutkan gaya tempat duduknya, dia masih menatap ke arah Rias yang terlihat tidak senang juga mendengar perkataan dari Diodora tadi tentang mereka semua disini.

Ari memakai wajah terdiam menahan kemarahan yang ada di dalam hatinya itu bersama juga Dion, mereka memutuskan tidak membuat masalah sekarang.

''Jadi apa sebenarnya tujuanmu Diodora, apakah kau hanya ingin menghina peerage dan teman-temanku?'' tanya Rias merah dengan mata tajam menatap Diodora

Rias menatap Diodora dengan tatapan kemarahan bercampur sombong.

Diodora kembali menatap ke arah Rias dengan senyuman palsunya lagi, dia terlihat tidak terkena efek dari tatapan tajam Rias.

''Tentu saja tidak, aku kesini hanya karena Asia dan aku tertarik untuk menukarkan Asia dengan dua bishop peerage ku'' Diodora menjentikan dua jarinya dan kemudian muncul dua wanita yang memakai jubah

Asia ketakutan berpikir kalau ketuanya akan menukarkan dirinya dengan mereka berdua

''Kau lihat, mereka tidak lemah, mereka memiliki sihir-''

''Tidak!''

Perkataan Diodora tiba-tiba saja terhenti mendengar perkataan 'tidak' dari Rias tadi

Rias menatap Diodora namun kali ini dengan senyuman di pipinya

''Aku tidak akan menukarkan mereka, mereka adalah orang yang berharga bagiku'' kata Rias

Peerage Rias terlihat kagum dengan perkataan Rias tadi

''Njerr, entah kenapa aku senang kali mendengar ada wanita menghargai ku'' kata Dion

''Efek jones'' ejek Ardi

Ari memakai wajah cemberutnya sambil menatap Ardi

''Hah begitukah, sayang sekali, padahal ini kesepatan yang begitu berharga'' kata Diodora

''Kalau kau sudah selesai disini, sebaiknya kau pergi'' suruh Rias dengan tatapan tajam

Diodora hanya menatap ke arah Rias sambil terdiam tidak mengatakan sepatah kata pun

''Baiklah, kalau begitu aku permisi'' kata Diodora

Diodora menciptakan dua sihir teleport bersama kedua peerage yang dia miliki.

''Oh bagaimana kalau kita membuat taruhan'' kata Diodora

''Taruhan?'' Rias menaikan alisnya

''Benar, jika aku menang maka aku akan mendapatkan Asia dan jika kau menang kau bisa meminta apa pun kepadaku'' kata Diodora

Rias terdiam sementara

''Tidak, aku tidak akan melakukan taruhan itu'' jawab Rias

Wajah Diodora kembali menjadi tidak senang, dia berjalan kembali ke sihir teleportnya

mereka pun menghilang ditelan sihir teleport itu

Di klub itu kemudian terdiam tidak mengeluarkan perkataan sama sekali, dan pada akhirnya Rias menghela nafasnya

''Seperti yang kalian lihat, Iblis kelas atas begitu menyebalkan'' kata Rias yang kemudian kembali ke tempat duduknya

''Bukankah kau juga Iblis kelas atas, Rias?'' kata Alice melihat Rias

''Fufufu kau menyamakan ku dengan mereka, Alice?'' tawa Rias

''Mungkin'' jawab Alice

Kedua wanita ini menatap mata satu sama lain, ada aliran energi yang terlihat beradu. Alice terlihat tidak takut dengan siapa yang di lawan ini dan Rias, dia tidak mungkin melepas Alice karena dia adalah orang yang berharga di peerage nya.

Ari dan yang lain nya hanya terdiam merasakan adanya tekanan energi dari mereka berdua

''Ras kalian berdua itu sombong'' ucap Ardi tiba-tiba

Rias dan Alice menatap ke arah Ardi yang santai meminum teh nya

''Oh, kau tidak sadar kalau kau juga setengah Iblis, Ardi-kun~'' ejek Rias

''Cih, aku tahu itu dan itulah sesuatu yang menyebalkan bagiku'' kata Ardi kesal

''Kalian berada satu tingkat ke bawah dariku'' tiba-tiba terlihat Alice mengejek mereka semua

Ardi dan Rias menatap ke arah Alice yang membanggakan ras nya, Alika gugup mendengar perkataan dari nona nya tadi, bisa saja akan ada perang di ruangan ini.

''Hanya karena memiliki darah Dewa, kau sudah begitu sombong sekali'' kata Ardi

Alice hanya terdiam dan masih tersenyum bangga, dia tetap saja merasa paling tinggi dari mereka semua disini

''Bisakah kita menghentikan argumentasi rasis ini?'' kata Ari

Ketiga orang itu terdiam setelah mendengar perkataan Ari tadi

''Terima kasih!'' kata Ari merasa di hargai disini

Mereka semua terdiam untuk sementara seperti kebingungan untuk membicarakan apa lagi, Ari meminum tehnya setelah mendapatkan ketenangan nya lagi setelah mendengar ocehan mereka

''Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?''

''Hmmm karena pertarungan Rating Game di mulai 3 hari lagi melawan Diodora, jadi aku rasa kita perlu melakukan sesuatu yang menyenangkan'' kata Rias

''Bukankah kita seharusnya mencari strategi untuk melawan Diodora'' kata Issei

''Tenang saja, aku memilikinya'' kata Rias

''Apa itu?'' tanya Ardi

''Rahasia~'' kata Rias

Ardi memakai wajah cemberutnya melihat Rias

-Kota Kuoh

''Kenapa aku yang harus membantumu?''

Ari terlihat membawa sebuah barang belanjaan yang sangat banyak sekali, di depan nya ada wanita berambut hitam wakil dari Rias yang tidak lain adalah Akeno

Akeno tersenyum mendengar suara mengeluh Ari, Akeno memakai pakaian gaun berwarna biru dan terlihat membawa tas pinggang.

''Ara apakah kau tidak senang jalan-jalan dengan wanita cantik, Anja-kun?'' tanya Akeno

''Ya aku akui aku senang'' akui Ari

Akeno tersenyum mendengar perkataan Ari yang mengakui kalau dia senang jalan-jalan dengan nya.

''Kenapa kau tidak menyuruh Issei?'' tanya Ari

''Oh dia sedang bersama Asia dan Rias, mereka sepertinya sedang merencanakan strategi untuk mengalahkan Diodora nanti. Apakah kau berpikir kalau kami akan menang?'' tanya Akeno

Ari terdiam sementara, ''Ya aku berharap kalau kalian menang'' kata Ari membri semangat

Akeno berbalik melihat Ari yang membawa banyak sekali belanjaan seperti pakaian, Ari sudah memegang dua kantong plastik yang begitu besar sekali. Mereka terus berjalan melewati para penduduk lain

Tak lama kemudian mereka sampai di supermarket yang begitu besar, Ari merasa kaget dan kagum melihat supermarket yang begitu besar ini. Mereka masuk dan melihat di dalam begitu banyak sekali orang-orang membeli sayuran dan buah-buah atau pun barang-barang lain nya

''Kita akan ke tempat sayuran'' kata Akeno

Ari hanya mengikuti Akeno dari belakang hingga akhirnya mereka pun sampai di tempat sayuran, Akeno memimpin dan mengambil beberapa sayuran dan menaruhnya ke keranjangnya, Ari yang di belakangnya masih mengikuti sambil melihat-lihat sayuran di sampingnya, dia menemukan sayuran yang menarik

''Hah kangkung, aku tidak tahu kalau sayuran ini ada di Jepang, aku kira hanya ada di Asia Tenggara saja'' kata Ari memegang satu ikat sayur kangkung itu

''Oh apakah kau ingin membeli sayuran itu, Anja-kun?'' tanya Akeno

''Oh boleh?''

''Tentu saja, kau sudah membantuku jadi aku akan membelikanmu sesuatu'' kata Akeno

Ari tersenyum senang dan mengambil beberapa ikat sayuran itu dan menaruhnya ke kantong plastik yang dia bawa, dia merasa keberatan karena membawa dua kantong plastik yang penuh barang itu

''Oh kenapa kau tidak menggunakan itu'' Ari menyadari sesuatu, dia kemudian menaruh kantung plastik nya ke lantai, dia mengeluarkan sesuatu dari kantung baju nya. Dia mengeluarkan sarung tangan nya, dia memakainya dan kembali mengangkat kantung plastiknya

''Nah kan begini lebih enak'' kata Ari tidak merasakan keberatan lagi

Dia melihat ke depan dan menyadari kalau Akeno sudah sangat jauh di depan, dia panik dan mengejar Akeno yang tidak tahu kalau dia meninggalkan dirinya di belakang.

Mereka terus berkeliling di tempat sayuran itu, Akeno terlihat sudah membawa banyak sekali sayuran, sudah berapa puluh menit mereka terus berkeliling.

''Hmmm Anja-kun, apakah kau bisa memasak?''

''Oh ya, aku bisa memasak telur ceplok, telur dadar, tumis kangkung dan menggoreng Mie Mantaf'' kata Ari

''Oh'' Akeno mendengarkan sambil memilih sayuran sekali lagi, ''Aku rasa kau bisa bertahan tinggal sendirian'' kata Akeno menaruh sayuran yang dia rasa bagus ke keranjangnya

''Ya aku rasa begitu'' kata Ari

Mereka kembali melanjutkan mencari sayuran lagi, di saat mereka melewati perempatan mereka melihat dua orang yang sepertinya mereka kenal, Akeno menyipitkan matanya melihat lebih jelas dan melihat siapa mereka

''Oh itukan Koneko-chan dan dia sepertinya bersama orang yang tidak ku kenal'' kata Akeno

Ari melihat ke depan dan melihat mereka juga, dia kaget melihat kalau satu orang lagi adalah Bella yang membawa keranjang sayuran.

Kedua orang itu juga terlihat melihat mereka dengan tatapan kaget juga termasuk Koneko yang kaget melihat dua orang yang dia kenal

''Ari senpai, Akeno senpai'' kata Koneko kaget

Mereka berempat menatap satu sama lain

-Beberapa saat

Mereka berempat duduk tempat yang seperti kafe di dalam supermarket itu, mereka menatap satu sama lain sambil ada 4 kopi di atas meja depan mereka

''Jadi dia adalah pacarmu, Anja-kun? Aku juga sudah dengar dari Rias tapi aku tidak tahu kalau ini benar'' kata Akeno menunjuk Bella

''Y-Ya begitulah'' kata Ari gugup

''Oh jadi kau berselingkuh, kau tidak bilang kalau kau sedang jalan-jalan dengan wanita lain'' kata Bella tersenyum tajam melihat Ari

Ari malah tersenyum kaku dan gugup

''T-Tentu saja tidak, aku sedang membantu Akeno untuk belanja'' jawab Ari menjelaskan

''Oooooh'' Bella masih menatap Ari dengan rasa ketidakpercayaan

Ari memakai wajah cemberutnya tidak peduli kalau Bella percaya atau tidak, Akeno tersenyum melihat mereka berdua malah bertengkar

''Ara Ara, Anja-kun beruntung sekali memiliki pacar sepertimu, perkenalkan nama ku Akeno Himejima'' Akeno memperkenalkan dirinya

Bella tersenyum saat Akeno memperkenalkan dirinya, Bella melihat tangan Akeno yang ingin bersalaman, dia kemudian memajukan tangan nya untuk bersalaman dengan Akeno. Mereka menggoyangkan kedua tangan mereka akan tetapi terlihat tidak lepas dan mereka terlihat menatap satu sama lain

''Hmmm kenapa kalian?'' tanya Ari

''Tidak, tidak ada apa-apa'' kata Akeno melepas tangan Bella, dia masih memakai wajah tersenyum nya

Bella juga memakai wajah tersenyum namun Koneko yang bisa merasakan sihir dari insting Yokai nya tahu, kalau mereka memiliki sifat aneh satu sama lain

''Aneh, kenapa mereka berdua? Jangan-jangan mereka berdua suka sama ane? nope, jangan gr dulu, fanfic ini pasti penuh dengan jebakan'' batin Ari

''Jadi apa yang kita bicarakan disini?'' tanya Ari

''Ini mengenai rumahmu yang hancur'' kata Bella

''Tunggu, rumah hancur? Apa maksudnya?'' tanya Akeno kaget

''Ya, semalam kami di serang oleh orang aneh, dia sepertinya ada pembunuh bayaran, dia menghancurkan rumah saat itu, tapi syukur kalau kakak Ari memiliki kekuatan pelindung kuat sehingga kami selamat, kami pun bertarung dengannya dan kami pun berhasil membuatnya kabur'' kata Bella menjelaskan secara singkat

Akeno terkejut tidak tahu kalau mereka diserang saat itu

''Ya itu benar, aku juga di sana sewaktu itu'' kata Koneko

''Kenapa kau kesana?'' tanya Akeno heran melihat Koneko

Koneko hanya terdiam menundukan wajahnya, dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang membuatnya malu.

''Tapi sayang kami tidak bisa membongkar identitas orang itu'' kata Bella

Mereka semua terdiam untuk sementara setelah mendengar cerita dari Bella tadi, Akeno hanya syok karena dia tidak di beritahukan kejadian ini, bahkan dari Raja nya sendiri yaitu Rias

''Maaf, aku tidak bisa membantu kalian'' kata Akeno

''Sudahlah, itu semua sudah terjadi dan yang pentingnya kami selamat'' kata Bella

Akeno tersenyum mendengar perkataan dari Bella tadi

''Baiklah, aku lapar'' kata Ari

''Kalau begitu kenapa kau tidak pesan makanan saja''

''Oh kau benar, mbak! Bentar kesini deh''

-Jalan kota Kouh

Terlihat di jalanan kembali yang sudah bertambah banyak penduduk yang beraktifitas, di kerumunan itu ada dua orang yang sedang melewati para penduduk itu

''Cepatlah mesum, kenapa kau begitu lambat sekali'' kata seorang gadis pirang

''Diamlah dan jangan panggil aku mesum disini, bisa-bisa orang mendengarnya'' teriak pria berambut hitam

''Aku malah senang, biar mereka semua tahu siapa kau''

''Kau benar-benar ingin aku hajar ya''

Mereka berdua adalah Irina dan juga Dion, entah kenapa mereka jalan bersama, apakah karena sesuatu sehingga kedua orang tidak angkur itu bisa bersama?

Dion memakai wajah cemberutnya, dia tidak terlalu suka dengan wanita pirang ini yang di katakan sebagai teman masa kecil Issei, Dion mendengar kalau dia dulunya saat kecil adalah gadis tomboy yang di kira laki-laki, dirinya harus mengikuti wanita ini karena sesuatu hal yaitu...

''Karena kau sudah kalah, jadi kau tidak bisa protes'' kata Irina

''Sial, bagaimana bisa kalah bermain kartu dengan gadis sok suci ini'' geram Dion

''Apa maksudmu sok suci, hah?'' marah Irina berbalik melihat Dion

Irina melihat pria ini sama halnya dengan Issei yaitu mesum dengan para wanita, dia sudah berapa kali memergoki orang ini mengintip para siswi bersama trio mesum. Dia ingin menjauh darinya tapi entah kenapa dia selalu harus dekat dengan orang ini, mulai dari pekerjaan, sekolah ataupun tugas mereka

Dion hanya terdiam cemberut tidak mau berdebat dengan gadis blonde body wow ini.

''Jadi sebenarnya tugas kita tadi apa?'' tanya Dion

''Kita akan membantu para orang-orang di jalanan'' jawab Irina

''Hah?''

''Karena Michael-sama sudah membuatku terlahir lagi menjadi Malaikat, jadi aku akan membantu para penduduk yang membutuhkan'' kata Irina dengan wajah bahagia dan optimis

Dion terbengong melihat Irina yang sifatnya begitu mudah on going dan juga optimisnya sudah kelewatan

''Jadi katakan padaku, kau menyuruhku untuk membantumu?'' tanya Dion

''Yup benar sekali, kau harus membantuku karena kau kalah'' kata Irina menyentuh hidung Dion

Dion terdiam dan mendesah pasrah, ''Baiklah aku mengerti'' kata Dion

Mereka berdua kembali jalan-jalan lagi, Irina melihat ke sebelah melihat ada peminta-minta di jalanan. Irina sebagai orang Gereja kemudian mendatanginya, dia kemudian mengambil sesuatu di kantung, dia mengeluarkan uang

''Ini untukmu, lain kali cobalah cari pekerjaan dengan uang ini'' kata Irina

Pengemis itu terlihat kaget dengan uang yang di beri oleh Irina, entah berapa jumlahnya begitu banyak sekali sehingga berhasil membuat dirinya kaget. Dia langsung bergembira

''Terima kasih nona'' kata pengemis itu

Irina hanya tersenyum saja, dia cukup senang melihat pengemis itu memakai wajah gembiranya. Di belakang terlihat Dion yang menatap Irina, dia bisa merasakan ada nya energi positif di sekitar Irina, dia tahu kalau itu adalah energi Malaikat Irina

Dion mendekati Irina

''Jadi apakah kita sudah selesai?'' tanya Dion

''Tentu saja belum, kita harus membantu para orang yang membutuhkan'' kata Irina

Dion hanya mendesah pasrah berpikir kalau ini akan sangat lama sekali

Mereka melanjutkan mencari orang-orang yang membutuhkan, dari pengemis, tunanetra, seseorang membutuhkan hal umum dan tentu saja melawan para penjahat seperti perampok dan yang lain nya. Dion terlihat kelelahan karena dialah yang harus melawan para penjahat sedangkan Irina yang membantu orang-orang yang membutuhkan

Tidak sulit oleh Dion mengalahkan semua perampok itu tanpa armornya, karena dia sudah di berikan buff kepada Dion

Mereka pun sudah selesai membantu orang-orang yang begitu banyak sekali, Dion juga melihat di kantungnya kalau dia sudah kehabisan uangnya

''Hey kenapa kau meminta uangku, apakah kau sudah kehabisan uang?'' tanya Dion

''Michael-sama memang memberikan uang banyak kepadaku tapi masih bisa habis, karena dia tahu kalau aku pasti akan membagikan-bagikan nya kepada Manusia yang membutuhkan'' kata Irina memakai wajah cemberut

Dion menatap Irina, dia berpikir kalau Irina tidak terlalu buruk dan sok suci seperti yang dia pikirkan saat ini

''Baiklah, aku rasa itu tidak apa-apa'' kata Dion

''Apakah kau berpikir kalau aku bodoh?'' tanya Irina

''Hah apa yang kau bicarakan, kau melakukan hal bijak, hal bijak itu tidak bodoh'' kata Dion

Irina tersenyum melihat Dion

''Ternyata kau orang yang baik ya'' kata Irina

Dion menyampingkan wajahnya yang berona merah, Irina terlihat kenapa Dion bersifat seperti itu, dia berpikir kalau pasti Dion malu mendengar perkataan nya tadi

''Apakah kau malu karena perkataanku tadi?'' tanya Irina

''Tidak bukan itu, aku malu karena melihat celana dalam mu'' kata Dion

Irina heran mendengar perkataan dari Dion tadi, dia kemudian melihat ke bawah, dia kaget kalau dia tidak sadar sedang duduk sedikit mengangkat menunjukan celana dalam putihnya. Irina langsung berwajah merah dan menutupi rok nya yang terbuka

''Dasar mesum! Kau mesum! Aku menyesal berpikir kalau kau pria baik!'' teriak Irina marah

''Bodo amat, itu salahmu sendiri'' kata Dion kesal

Mereka kemudian bertengkar satu sama lain lagi membuat orang-orang di sekitar mereka melihat mereka berdua, tapi dua yin dan yang itu tidak memperdulikan orang-orang di sekitar mereka

''Dasar pria jelek!''

''Hey aku punya pesona!''

''Hah, maksudmu mengeluarkan makhluk di belakangmu, makhluk seperti imajinasi yang kau harapkan?''

''Bukan bodoh!''

Mereka berdua masih saja bertengkar dan tidak menyadari kalau orang-orang semakin banyak melihat mereka

''Wah pasangan muda itu begitu cocok, mereka bertengkar satu sama lain namun memiliki kesan cocok'' kata seorang nenek

''Tidak, tidak sama sekali!'' teriak Dion dan Irina secara bersamaan

Dion dan Irina kembali menatap satu sama lain

''Aku tahu apa yang akan kau katakan'' kata Dion dengan wajah aneh

''Apa?!'' teriak Irina kaget dengan wajah anehnya juga

''Nah, itu yang akan kau katakan'' kata Dion tersenyum

''Dasar, kau hanya menyembutkan kata terakhirku saja''

Mereka berdua terus bertengkar sama satu-sama lain hingga tidak menyadari kalau hari sudah mulai sore

-Bersambung


Yup, bab ini akhirnya menuju ke Arc Astaroth, kira-kira apakah yang akan terjadi?

Di bab berikutnya akan langsung mulai Rating Game antara Rias dan Diodora

Pertanyaan untuk kalian, apakah Ardi membutuhkan peerage sama halnya Rias dan Sona? Hmmm aku masih bingung dan juga...

Aku ingin memberikan Ari sebuah senjata, apakah itu?

Saatnya membalas Review

Arif4342: Oke bro, sabar ya

Leo Saruca: Fighter kan ada Koneko :V, niatnya sih hanya mau empat orang saja MC nya.
Lemon sudah siap yang mulia :V
Reference nya sudah ada tuh :V

Uc: Apakah maksud anda memberikan mereka time skip seperti berpisah sementara?

Austintristan16: Hmmm siapakah dia? Heheheh
Siap bos!

Oke sekian, dan satu lagi. Untuk lemon, alurnya harus sama dengan fanfic ini, agar para karakter masih bisa memiliki karakteristik satu sama lain.

Terima kasih yang sudah baca dan Review, jangan lupa untuk tinggalkan Review ya

Sekian dan sampai jump di bab berikutnya