Pagi itu, sekitar pukul 10 atau 11, Draco Malfoy terbaring tak berdaya di atas lantai batu. Hermione Granger berlari ke arahnya. Siswa-siswa yang lebih tua melongok dari dalam kelas. Beberapa murid laki-laki langsung keluar dan membawa Draco Malfoy ke Hospital Wing. Hermione Granger menahan air mata saat mengatakan apa yang ia tahu pada Madam Pomfrey.
Einen Kleird tiba di salah satu koridor luar di lantai entah yang ke berapa, di bangunan entah yang mana. Jack Vessalius penasaran dan meninggalkannya sendirian di sana. Pansy Parkinson menyambut sang Raja, namun Einen Kleird memilih Pansy Parkinson yang berbeda—untuk tugas baru yang agak di luar perkiraan.
Kedua permata emerald Jack Vessalius bersinar penuh semangat, entah pada apa. Namun, ia tak bisa berlama-lama di Hospital Wing ketika Yang Mulia menyuruhnya menunggu di luar. Einen Kleird hanya melirik Hermione Granger sekilas, kemudian berpaling dan keluar dari ruangan.
Pansy Parkinson tinggal. Dan bermain sebagai gadis yang bersedih. Senyum mengerikan tersembunyi di balik tangannya.
Sesuatu di dalam diri Hermione tertohok saat mendengar raungannya. Mau tak mau, rasa pahit kesedihan bercampur amarah membumbung tinggi hingga ke otaknya.
Lalu, Jack Vessalius tiba-tiba masuk ke atas panggung. Dan memainkan drama sebagai teman yang baik, memberitahukan siapa yang salah—siapa yang harus disalahkan.
Jack Vessalius berdialog dalam kendali sang mastermind.
Hermione Granger mengikuti naskah dalam alur sang mastermind.
Pansy Parkinson menari dengan sempurna sesuai instruksi sang mastermind.
Dan Einen Kleird merebut kebebasan tiga adiknya dalam satu genggaman kasar yang kejam.
Dialah sang mastermind, dengan permata merah menyala yang menyorot dingin
bahkan terhadap ketiga wadah Roh lainnya.
.
.
Four Souls
Rozen91
Harry Potter © J. K. Rowling
Line 38 : Eternity dan Hermione
.
.
Pagi itu, sekitar pukul 10 atau 11, ketika badai salju menyelimuti Skotlandia seperti bola kaca yang diguncang-guncang hingga serpihan-serpihan kertas di dalamnya berputar dan melayang, Einen melakukan hal yang dulu ia pastikan tidak akan pernah terjadi lagi pada Jack Vessalius. Wadah Roh Tanah yang juga merupakan satu-satunya pendampingnya selama 6 tahun.
Wadah Roh Api kembali menuai benih yang ia tanam pada satu mata emerald Jack.
"Berlutut."
Katanya saat itu. Wadah Roh Tanah membelalak saat sontak kedua lututnya terjatuh di lantai. Jack tak bisa berbuat banyak; Einen Kleird telah menggunakan 'perintah' untuk mengendalikan tubuhnya.
"Angkat wajahmu."
Ein sedikit menurunkan dagunya, menatap balik sepasang permata emerald yang memancarkan sinar ketakutan yang samar. Ini tidak biasa, batin Jack khawatir. Wadah Roh Api tak pernah melakukan ini sebelumnya. Jack tidak bisa membaca apa yang akan terjadi. Ia tidak tahu apa yang akan sang Raja lakukan padanya.
"Wadah Roh Tanah,"
Tangan sang gadis terangkat, bayangannya menutupi sebagian wajah Jack.
"adikku,"
Tangan itu turun, menutupi mata kiri sang pemuda. Jack terkejut. Bola matanya yang nampak lantas melebar. Sepasang iris merah darah membekukan seluruh urat syarafnya. Sesuatu yang mengejutkan lantas berkilat di sepasang permata merah itu.
"Jack Vessalius Baskerville."
Dan cahaya di manik emerald itu mendadak lenyap. Menggelap. Kosong. Einen Klerid merendahkan kedua kelopak matanya. Ketidakrelaan samar kini menjadi jelas dan begitu pedih terlihat.
"Yang mulia."
"Gunakan Raven untuk mencari penyusup itu. Biarkan Hermione menghadapinya. Jika kemungkinan terburuk itu memang terjadi,"
Sekilas kedua alis sang Raja menekuk dalam.
"Jika wadah Roh Udara lepas kendali,"
Jack menatapnya seperti seekor anjing patuh pada tuannya.
"dan persentase keselamatannya menuju angka nol,"
Lengkingan Pansy menggema dari dalam ruangan.
"segera cabut jantungnya, dan rebut segel kepemilikan Raven."
Manik emerald tidak berkedip.
"Saya mengerti."
Sang Raja menarik tangannya, membiarkan Jack menatapnya dengan kedua matanya yang tak lagi memiliki sinar. Einen menelan gumpalan yang menghambat di tenggorokannya, dengan parau memerintahkan Jack bergegas karena Pansy sudah melaksanakan tugasnya. Aura wadah Roh Udara tak lagi stabil hingga mempengaruhi cuaca buruk di luar dinding. Jack lantas berdiri dan berjalan masuk ke Hospital Wing. Lagi-lagi, meninggalkan Einen Kleird sendirian.
Lorong itu kembali sepi seperti tengah malam ketika ia sering berjalan-jalan bersama Cheshire—padahal hari masih terang. Cheshire yang selalu setia di sampingnya kini tidak terlihat sama sekali. Ujung jari-jemari gadis itu terangkat menyentuh tepian kulit pipinya. Sesuatu yang lebih kental dari air mengalir menodai kulit putihnya. Manik hitamnya terpaku pada apa yang kini ikut menodai jari-jarinya.
Merah.
Darah mengalir keluar dari matanya tanpa sedikitpun ia sadari. Einen Kleird menyadari bahwa ia tak bisa bertahan lebih lama lagi. Aliran kecil berwarna merah menetes melewati dagunya. Pandangannya mengabur.
Dan jatuh. Limbung lalu tersungkur di lantai. Warna merah membelah pangkal hidungnya, miring mengikuti posisi kepalanya. Menggenang warna merah itu di bawah kepalanya.
Darah terus mengalir bagai air mata.
Einen Kleird memejamkan kedua matanya. Lagi-lagi, tubuh itu keluar dari kendalinya. Mungkin ini karma, atau memang sebenarnya begitu. Ia telah menanam benih pada tiga wadah Roh Britannia Raya. Mengingat semua dosanya, Einen pantas menerima ketidakberdayaan itu.
"Cheshire..." panggilnya dalam bisikan parau yang terdengar begitu rapuh. Namun, saat itu, yang muncul di udara kosong bukanlah seekor kucing bercorak aneh yang terus memamerkan giginya. Melainkan sesosok laki-laki tinggi dengan rambut putih sebahu yang dibiarkan tergerai. Yang begitu kontras dengan jas hitamnya yang panjang.
Einen tidak membuka kedua matanya. Seolah ia sudah tahu apa yang sedang dilakukan oleh tunggangannya itu.
Kemudian, kedua tangan pria itu terulur menggendong Einen Kleird dengan lembut. Dan membawanya pergi, menyusuri lorong sepi. Gadis itu menggerakan sedikit kepalanya, namun tetap tidak membuka matanya. Pria itu pun tidak meliriknya. Tangan wadah Roh Api sedikit mengepal.
Sebelum akhirnya terkulai lemas tanpa tenaga yang tersisa.
Dan pria itu, seorang laki-laki berpakaian hitam yang begitu kontras dengan kulit pucatnya, tampak seolah tengah membawa orang mati di kedua tangannya.
xxx
Madam Pomfrey menarik nafas, kemudian memutar kenop pintu dan membukanya. Wanita itu sontak merinding, ketika Pansy memutar wajahnya dan tersenyum sambil menekuk kepalanya ke belakang.
"Anda tak perlu khawatir. Draco akan baik-baik saja bersamaku," katanya tanpa geming. Madam Pomfrey menatapnya ragu, tapi Pansy tetap menatapnya sambil tersenyum. Matron wanita itu lantas menghela nafas.
"Baiklah. Kalau ada yang kau butuhkan, kau bisa bertanya padaku."
Senyum Pansy melebar.
"Terima kasih, tapi aku tidak membutuhkan apa pun."
Madam Pomfrey merapatkan bibirnya. Ia masih ingin bicara, namun tumitnya malah berputar membawanya pergi, berpaling dari gadis itu. Tangannya meraih ganggang pintu, menyentak dan membukanya. Kedua matanya lantas membelalak lebar.
"Astaga! !"
Ada genangan darah di lantai. Tak seorang pun terlihat sebagai sang pemilik di sana. Pomfrey melirik ke belakang. Pansy sudah tidak menatapnya. Gadis itu duduk manis di kursi di samping ranjang Draco Malfoy. Madam Pomfrey segera menutup pintu di belakangnya.
Kedua alisnya mengernyit.
Tangannya menyusup ke dalam saku, mengeluarkan tongkat sihir berwarna hitam. Tatapannya pedih. Kemudian, ia mengayunkan tongkatnya. Menghilangkan genangan berwarna merah yang begitu familiar dalam ingatannya.
Dengan jelas, ia bisa menduga dari mana darah itu berasal.
Wajahnya merengut tidak suka, mengingat sesuatu yang begitu hitam mengenai anak yang telah Hogwarts rawat selama beberapa tahun ini. Ia sedikit memalingkan wajahnya, dan menjauhi lantai bersih yang tadinya dipenuhi oleh genangan merah. Sorot matanya terlihat enggan dan...jijik.
Darah itu
adalah darah yang membentuk seorang Einen Kleird.
Darah 'orang itu'.
xxx
Severus Snape baru saja meletakkan satu botol ramuan yang ia selesaikan untuk malam itu. Ia sama sekali tidak mengharapkan tamu. Apalagi kehadiran seorang asing yang langsung masuk ke ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Air mukanya lantas menggelap.
"Anda!" katanya dengan nada tidak ramah, "apa yang anda lakukan di sini?"
Pria berambut putih itu hanya tersenyum. Ah, dia menyeringai. Dan seringaian itu entah kenapa memaksa Severus untuk mengingat seseorang. Akan tetapi, warna mata yang tidak biasa— walaupun pada dasarnya sama dengan warna mata Lily yang tersayang— itu lebih familiar di ingatannya. Hingga kemarahannya lenyap dan dengan nada ragu ia memanggil namanya.
"Cheshire?"
Pria berambut putih tersenyum semakin lebar. Lalu, ia menyodorkan tangannya. Atau apa yang ada di tangannya saat itu.
"Ein...Einen!"
Severus Snape hampir menabrak kuali di depannya ketika ia sontak melangkah ke depan. Tangannya gemetar saat menyibak helaian rambut yang menutupi sebagian wajah gadis itu.
Bercak darah yang lurus membelah pipi dan pelipis mengejutkan Severus dalam tahap yang tampaknya tidak bagus—melihat pria dewasa itu sontak menahan nafas tatkala melihatnya.
"Darah...keluar dari matanya?"
Senyum Cheshire tidak pudar, tapi ia sedikit mengeratkan pegangannya pada Ein dalam sikap yang sungguh posesif. Severus menatapnya. Ia tahu arti dari gestur itu.
"Aku tahu," katanya tersinggung sembari berbalik, dan langsung berjalan cepat ke arah rak-rak ramuannya. "Aku sudah bilang, 'kan?" tanyanya retoris. Tangannya mengambil sebotol ramuan berwarna cerah. "Kalau ramuan ini tidak selalu bisa dibuat setiap saat?"
Cheshire tidak menjawab. Severus hanya bisa menyalahkan diri sendiri. Dia lupa kalau Cheshire tidak bisa bicara.
"Sudahlah," gumamnya seraya mendekat dan membuka tutup botol cairan tak berbau itu. Namun, itu tak pernah terjadi. Cheshire merebut ramuan itu sebelum Severus sempat menyentuh tutupnya. Severus menahan diri untuk tidak meninggikan nada suaranya.
Senyum Cheshire tidak hilang sedetikpun. Ia lantas membalikkan badan, dan keluar dari ruangan tanpa berpamitan terlebih dahulu. Meninggalkan Severus Snape yang kini berwajah masam dan nampak seperti hendak bersungut-sungut.
Severus tidak tahu bagaimana Cheshire meminumkannya pada Ein, tapi beberapa jam kemudian, ia sudah melihat Einen Kleird yang sehat walafiat berdiri di hadapannya dan mengucapkan terima kasih dengan nada datar. Severus hendak mengatakan sesuatu, namun sorot mata Cheshire, yang saat itu bergantung di pundak Einen, terlihat mengancam. Ia kembali menutup mulutnya.
Pria itu itu mengangkat lengannya, mengelus puncak kepala Einen Kleird dalam gerakan halus dan tidak kentara. Seolah ia tengah menyapu debu dari rambutnya. Namun, gadis berambut panjang tahu bahwa arti dari perasaan yang tersampaikan lewat sentuhan itu lebih dalam dan penting.
Tatapannya merendah ketika permata hitam kelamnya tampak lebih gelap dari sebelumnya.
Ia tahu. Einen tahu. Apa yang ingin disampaikan oleh profesor Snape.
Atau apa yang ingin disembunyikan oleh Cheshire—yang biarpun tahu bahwa Einen telah menyadarinya, tetap tidak mau memberitahu penunggangnya itu apa-apa.
Mungkin...
tidak akan sampai hingga 5 tahun.
Jawaban untuk pertanyaan lama itu, tak ada yang mengatakannya. Namun, Einen Kleird lebih tahu bahwa pernyataan itu tidak salah. Buktinya,
biarpun telah meminum ramuan dengan rasa familiar itu,
ia masih belum bisa merasakan tangan kanannya.
xxx
Angin bertiup kencang hinga menyebabkan badai salju di bagian utara Britannia Raya, dimana ada seorang gadis berambut coklat berantakan. Yang membiarkan jejak-jejak merah di matanya menunjukkan keputusasaan pada dunia. Hermione Granger ingin menggeram dan berteriak pada laki-laki yang melihatnya dari jarak yang cukup jauh.
Mereka sudah bersiap untuk pertarungan yang harus terjadi.
Eternity sepertinya memang sudah menunggu kedatangannya. Namun, pria itu hanya menelengkan kepalanya dengan tatapan culas tanpa emosi. "Kau datang," ujarnya.
Hermione menatapnya dengan sorot mata yang tidak biasa. Gelap, permata coklat hazel yang gelap. Eternity menyadarinya. Seratus tahun berkelana dan berurusan dengan para wadah Roh, ia bisa tahu dalam sekejap bahwa gadis itu 'sudah dikendalikan'. Para Raja memang sulit ditebak, tapi Eternity lebih cerdas untuk melihat pola kepengecutan mereka yang selalu mengendalikan wadah Roh lainnya. Terutama wadah Roh Api Britania Raya yang terpilih saat ini.
Tak ada yang lebih pengecut dari penunggang Phoenix Api. Seorang gadis kecil sombong yang tidak pernah, yang tidak berani bertarung satu lawan satu tanpa menggunakan para pendampingnya sebagai tameng. Walaupun begitu, wadah Roh Api itu sepertinya menyayangi 'tameng' yang bertahan semenjak ia terpilih.
Jack Vessalius—atau si pembunuh Sqiedefs Knightsroot. Yang berdiri tak jauh di belakang penunggang Raven, dan seolah bertindak menjadi pengawas. Entah padanya.
(Sudut matanya mengejang.) Atau pada wadah Roh Udara.
Dia juga dikendalikan, pikir Eternity.
"Egois," katanya tiba-tiba, "kau datang dan meninggalkannya sendirian di sana."
Eternity tak pernah tersenyum, namun saat itu bibirnya mengulas senyum tipis dan dingin. "Meninggalkan Draco sekarat di sana."
Sepasang manik coklat kosong lantas membelalak. Giginya saling menggesek satu sama lain. Bergetar dan menggeretak geram.
"JANGAN SEBUT NAMANYA, SAMPAH! !"
Iris beku menyorot dingin.
"Dia akan mati," katanya tanpa emosi, "aku sudah memastikannya. Jiwanya begitu menggiurkan, walaupun tidak mengenyangkan seperti para wadah Roh."
"DIAM! !"
Jack Vessalius menonton dengan permata emerald yang gelap tanpa sinar. Tidak bergerak sedikit pun, kecuali berdiri bagai patung di sana.
Hermione Granger berteriak sekuat tenaga, memperdengarkan amarah yang menggumpal dan menjadi kekuatan pintas baginya. Ia menyentak tangan kanannya ke samping, membentuk pedang perak dari elemen udara.
Roh Udara seolah memekik bergairah saat Raven mengepakkan kedua sayap malamnya dan berkicau nyaring. Hati sang wadah goyah. Entah kenapa, kematian menjadi sesuatu yang sangat ia inginkan saat ini. Ia haus. Hermione lapar.
Gadis itu lantas tersenyum sinting.
Roh Udara seolah tertawa dengan kesenangan tak terkira.
"AKU TIDAK AKAN MELEPASKANMU! !"
Angin kencang seolah menarik-narik liar rambut panjang Eternity. Sorot matanya yang kosong samar-samar berkilat kesal. Benda tajam dengan oranemn-ornamen cantik dan unik lantas bermaterialisasi di tangannya yang kosong. Tombak sepanjang 110 sentimeter yang terbuat dari es menguarkan aura dingin.
"Coba saja."
Hermione melesat maju.
Eternity mengangkat dagunya. Tidak menunjukkan bahwa sebenarnya ia tengah membidik gadis itu.
Vash Edelstein akan membuat Hermione Granger memakan Roh Udara. Dan kemudian,
ia akan menyeret gadis itu ke hadapan sang Tuan.
Dan pertemuan antara dua senjata berbeda terjadi, menimbulkan kilatan dan suara melengking yang menggetarkan keberanian. Dua entitas saling beradu, saling menindih, dan menjegal demi meraih kemenangan yang begitu menggiurkan di akhir pertarungan.
Jack Vessalius menonton dari jauh. Tanpa emosi. Tanpa ekspresi. Tanpa simpati.
Hermione menggeretakkan giginya. Jack tahu artinya. Tangan pemuda itu perlahan bergerak, bertumpu di atas ganggang pedangnya. Gestur dan posisi yang sangat pas dan penuh kesiapan. Pemuda berambut kuning cerah itu jelas mengindikasikan bahwa ia siap menarik pedangnya kapan saja.
Ia masih mengkalkulasi. Ia masih bersabar (kata terbagus dari yang terburuk) untuk melihat apa yang hendak Hermione lakukan. Karena, Hermione Granger benar-benar tampak tidak sabar saat ini. Dan ketika itu, di antara hembusan angin dan serpihan es yang tajam, permata coklat hazel melirik dari sudut mata.
Raven.
Tatapan Hermione begitu liar dan mengerikan. Dia berniat melepas wujud tunggangan.
Sret.
Suaranya begitu halus dan nyaris tak terdengar, namun kilatannya begitu terang di tengah badai. Mata pedang wadah Roh Tanah telah nampak sejengkal.
Wadah Roh Udara kembali melesat maju. Jack bisa melihat apa yang akan dilakukan oleh gadis itu. Dan benar saja. Gadis itu tak bisa menahan tawa—kegilaan Roh Udara— ketika berpikir hanya Pemakan Roh tanpa otak yang mau menantang penunggang Raven seenaknya. Hermione Granger merentangkan satu tangannya ke samping.
Jack Vessalius menarik keluar pedang berwarna perak. Bagaimanapun juga, wadah Roh Udara tidak diperbolehkan untuk memperlihatkan wujud asli Raven pada Pencuri Roh. Dan Jack, berdasarkan instruksinya yang lain, tidak akan berbelas kasih pada sang wadah jika ia memang berani melanggarnya.
Si kuning cerah hendak bergerak tanpa suara.
Namun, tujuannya tidak pernah terjadi.
Tatkala warna merah membakar dan membara dengan tekstur yang lebih garang dan menantang. Warna terang menyala yang begitu familiar. Warna api yang dikatakan sebagai perwujudan amarah.
Merah.
Kedua permata emerald Jack Vessalius melebar terkejut.
Hermione Granger lantas menghentikan langkah di saat-saat terakhir, ketika melihat sayap raksasa dalam balutan lidah api melesat di atas kepalanya.
Eternity meloncat ke belakang. Menghentakkan tangannya yang bebas ke atas, membentuk cepat penghalang dari es yang seketika hancur dalam lelehan dan serpihan-serpihan tajam yang jatuh memenuhi hukum gravitasi.
Lengkingan tajam terdengar memekakkan telinga. Hermione lantas menutup kedua telinganya. Biarpun sering mendengar kicauan Raven, ia tidak bisa mentelorir suara tunggangan berbentuk burung dengan bulu api di sana.
Percikan-percikan bunga api bertebaran di sekitar sang tunggangan.
Eternity lantas menatap dingin sosok sang penunggang, yang duduk menyilangkan kaki dengan santainya di perpotongan leher sang burung berparuh melengkung nan tajam.
Sepasang permata biru pucatnya tak gentar saat menyebutkan nama itu.
"Wadah Roh Api Rusia," katanya dingin, "Iviry Romanov."
Anak laki-laki berambut hijau pucat menatapnya culas. Ia mengangkat tangannya, mengecup cincin kerajaan yang melingkar di jarinya. Bibirnya melengkung, mengulas senyum arogan.
Eternity, atau Vash Edelstein, tidak menunggu untuk melempar tombak esnya. Pertarungan sengit hendak dimulai. Atau itulah yang Hermione kira.
Akan tetapi, Iviry Romanov tidak akan arogan dan penuh percaya diri jika bukan karena tunggangannya. Permata merah anak itu menyipit dalam kesan meremehkan.
Gripphon Api kembali berkicau.
Mengusir awan musim dingin hanya dalam satu kibasan sayapnya saja.
Iviry merentangkan kedua tangannya dengan gaya meremehkan. Namun, kala itu, saat sepasang permata merah menyorot dingin ke bawah. Ia tampak seolah tengah memperingatkan seorang rendahan yang baru saja salah menyemir sepatu kulitnya.
"Kau dulu membunuh wadah Roh Tanahku, Alesteir yang bijaksana, penasihat Czar sebelumnya. Kau membunuhnya tepat di depan mataku dan menghancurkannya tanpa sisa. Nah, aku ingin bertanya."
Udara panas berbaur dan menelan kebekuan musim dingin.
"Apakah saat itu,"
Iviry membiarkan senyum mengerikan terulas di bibirnya.
"kau sedang menghinaku, darahi?"
Eternity tidak menjawab. Tidak berekspresi ketika wadah Roh Api Rusia melenyapkan tombak esnya dalam serpihan kecil hanya dengan gaya mencengkeram kecil di tangannya. Ia tidak melepas tatapannya.
Tidak membiarkan dirinya berpaling sedikitpun. Ataupun lengah sedetikpun.
Eternity membalik telapak tangannya ke atas, perlahan mewujudkan satu tombak lagi di sana, yang seolah terancang dengan sangat hati-hati.
Tidak apa-apa. Suara kecil yang terdengar jauh seolah memberinya rasa aman dan nasihat.
Tidak apa-apa.
Butiran salju meluncur di pipinya.
Saat ini matahari tidak bersinar dan membakar kulit kita, seperti musim yang paling kau benci itu. Suara itu kembali menari-nari di pikirannya. Jauh, jauh, dan jauh.
Ini musim dingin, Eternity menarik nafas—seolah ia baru saja menyadarinya.
Lalu, suara itu berbicara lagi dalam bisikan rendah yang seolah menggelitik di telinganya.
Ini—
Dan Eternity membayangkan senyum yang terulas di bibir seorang gadis yang wajahnya tak terlihat jelas.
Terasa familiar.
— musim kesukaanmu, Vash.
.
.
.
.
Einen Kleird mengangkat tatapannya ke arah jendela. Iris hitamnya menyorot dingin tanpa emosi. Namun, ada sesuatu. Ada sesuatu yang sekilas berkilat samar di sepasang batu sekelam malam itu.
Badai salju mendadak mereda tanpa alasan.
Einen memutuskan bahwa perubahannya terlalu cepat.
Eternity, sang Raja sudah memastikannya, adalah lawan wadah Roh Udara-nya. Pria itu adalah satu-satunya Pemakan Roh Air yang tak segan untuk memamerkan diri di hadapan para Roh.
.
"Irvina biasanya tidak 'menghampiri' sendirian. Dia kadang membawa satu gadis bermata coklat, namanya Torn Perhazel, Pemakan Roh Tanah.
Dan satu lagi, laki-laki. Dia tidak pernah ikut campur dalam pertarungan. Tapi, dia terlalu menjengkelkan," Iviry dengan jelas mengutuk, "dia terlalu sombong untuk menyembunyikan kehadirannya dan secara terang-terangan," nadanya suaranya berubah geram, "berani mengolok-olokku! Eternity sialan!"
.
Einen bisa menebak dari cerita Hagrid mengenai es merambat di sekitar pintu segel temuannya, bahwa satu-satunya yang senang menyombongkan diri seperti itu hanyalah Eternity—Iviry benar tentang kesombongan Eternity ini. Pencuri Roh, ah tidak, Pemakan Roh Air itu adalah yang tidak bisa diprediksi. Hanya sedikit informasi mengenai kekuatannya. Atau mungkin saja, masih ada trik lain yang tersembunyi di sakunya.
Yang sebenarnya ada kemungkinan yang bisa Einen tebak, mengingat Eternity memakan kekuatan Roh Air. Dan wadah Roh Udara yang belum matang, yang bahkan hanya bisa mengendalikan kekuatan Raven jika ia dikendalikan oleh Roh Udara sendiri, bukanlah teman bermain yang pas untuk laki-laki itu. Einen khawatir Pemakan Roh Air ini adalah salah satu penunggang yang tunggangannya tak mau ia sebutkan.
(Karena itulah, dia mengirim Jack sebagai Malaikat Kematian Hermione Granger.)
Namun, saat itu Einen merasakan setiap kabar yang dibawa angin dari tempat yang jauh. Hingga ia menghentikan seluruh langkahnya dan terdiam di anak tangga yang begitu sepi dan sunyi. Dengan aura tenang yang aneh ia berbalik dan membuka jendela yang tertutup dengan tangan kirinya.
Dan ketika dua sisi kaca itu terbuka, ada bau familiar yang menyapanya, yang seolah menembus dinginnya hujan salju hanya untuk menyampaikan kabar lain padanya.
Panas.
Jari-jemari pucat mengerat di bingkai jendela yang membeku.
Titik-titik salju terhembus masuk melewati bingkai jendela. Yang lantas meleleh sebelum sempat menyentuh lantai.
Panas.
Einen tidak berpikir bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk kunjungan kejutan dari Raja lain ke wilayahnya. Iviry terlalu lancang dan terlalu lama dimanjakan. Anak itu benar-benar sudah berbuat seenaknya dengan mengundang dirinya sendiri ke Britania Raya.
"Cheshire."
Cahaya api sontak membara entah dari mana di sampingnya dan kucing raksasa mendadak muncul di sana, berdiri di atas udara. Einen tidak menunggu lama untuk duduk menyamping di punggungnya.
Wajah datar tak menunjukkan perasaan sesungguhnya yang terpendam di hatinya.
"Manor."
Tak biasanya ia berbicara sedingin itu di saat dia sendirian bersama Cheshire.
Mungkin dia kesal.
Mungkin dia marah.
Rasanya belum pernah ia semarah ini sebelumnya. Bahkan lebih dari ketika pertemuannya yang pertama dengan Jack, atau ketika Dumbledore mempertanyakan pendiriannya. Perasaannya tidak stabil dan salju meleleh hingga sejauh satu meter dari tubuhnya.
Sorot matanya mendingin dan tanpa ampun.
Bagaimanapun juga, Einen Kleird tak bisa menjamu tamunya dengan tangan kanan lumpuh seperti ini, bukan?
xxx
Jack merasa tidak tenang. Sepasang permata emeraldnya lantas melirik khawatir ke luar jendela. Lalu, ke pendulum tua yang di panjang di koridor. Jack memaksa kakinya berjalan, lurus menuju ke arah pendulum dan berhenti tepat di sana.
Jarumnya tidak bergerak.
Pemuda itu mendadak merasa pusing.
"Ein! !" panggilnya, namun tak ada yang menjawab, kecuali suaranya yang menggema.
Einen tadi memanggilnya. Dan menggunakan kemutlakan perintah padanya. Jack yakin itu. Ia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, tapi...sejak kapan ia berpindah tempat?
Hospital Wing, ya, seharusnya ia berada di depan Hospital Wing. Jack mengatur nafasnya agar lebih tenang. Permata emeraldnya kembali menatap pendulum dengan tajam dan bingung.
Ngiiiiiiinng!
Jack berjengit, serta merta menutup telinganya ketika suara berdenging menyerang indra pendengarannya. Pemuda itu bersandar di samping jam, mengatur nafasnya yang lagi-lagi berubah sesak. Dilihatnya lagi koridor sepi dengan cahaya matahari yang masuk dari bingkai jendela.
Garis-garis yang mewarnai dinding di hadapannya mengingatkannya pada kenangannya yang dulu. Jack mengerjapkan kedua matanya. Kemudian, ia mengedarkan pandangannya. Mengamati seluruh sudut koridor yang terhubung entah kemana.
Jarum jam yang tidak bergerak dari angka 12.
Pendulum yang tidak berbunyi.
Dan tangisan Oz yang menggema.
Permata emerald melebar tak percaya. Jack Vessalius menolehkan kepalanya tajam ke dua arah, mencoba memastikan dugaannya. Kakinya melangkah menuju jalan keluar yang masih ia hafal di ingatannya. Seharusnya ia benar. Seharusnya tempat yang ia tuju akan membawanya ke kebun herbal mendiang ibunya.
Keringat meluncur dari pelipisnya.
Jack tidak bisa melihat apa yang menunggunya di ujung koridor. Tapi, angin berhembus pelan dari sana, mungkin saja perkiraannya benar. Mungkin saja saat ini ia memang berada di salah satu bangunan manor Vessalius. Jack memantapkan hati.
Tapi, pendulum tiba-tiba berdentang dan mengagetkannya.
Memaksanya untuk menoleh ke belakang.
Dan melihat seorang anak kecil yang berjalan pelan sambil terisak ke arahnya. Dan melewatinya, seolah Jack tidak terlihat di sampingnya.
Jack ingat.
'Tangisan Oz yang menggema'.
Tiba-tiba jantungnya serasa merosot dan secara bersamaan membuatnya lemas dan kaku bagai patung. Iris emerald terpaku pada sosok Oz. Ini...masa lalu?
Jack menyentakkan kedua tangannya. Mengusir mantra tak kasat mata yang membekukan seluruh pergerakannya. Pemuda itu lantas berlari mengejar punggung Oz yang semakin menghilang di ujung koridor, di ujung yang paling bercahaya. Jack menduga mungkin di sanalah kebun herbal itu berada.
Dong... dong...
Dentangan pendulum itu terdengar aneh di siang hari yang sunyi.
Dong...dong...
Aa, silau. Jack menutup kedua matanya.
Dong...dong...
Oz... waktu itu, kalau Jack tidak salah ingat, Oz menangis di koridor itu. Dia masih terlalu kecil untuk sendirian dan akhirnya menangis memanggilnya. Oz berjalan tak tentu arah sambil tetap memanggil namanya dengan isakan serak dan pilu. Waktu itu Jack berhasil menemukannya. Oz menangis keras sambil menarik-narik kakinya yang terlilit tanaman liar. Jack terdiam untuk sesaat. Waktu itu, ia menemukan Oz di kebun herbal, yang tak lagi diurus semenjak ibunya meninggal. Jack segera membawa Oz keluar dari tempat itu. Ia tak pernah menoleh, dan tak pernah lagi menginjakkan kaki ke tempat itu. Kenangan tentang ibunya begitu samar dan Jack merasakan hatinya menjadi aneh jika mengingatnya.
Dong...dong...
Suara pendulum kini terdengar jauh. Jack membuka kedua matanya. Dan pemandangan yang kini tersaji di hadapannya benar-benar berbeda dengan sebelumnya. Tidak ada koridor dengan garis merah di dindingnya, tidak ada rumput dan tanaman liar, tidak ada Oz.
Jack sudah kembali, dan berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Ia tidak mengerti kenapa ada Raven dan Hermione, atau kenapa—(Jack sedikit merapatkan bibirnya)
wadah Roh Api Rusia saat ini tengah bertarung di hadapannya.
Tapi, Jack adalah seorang prodigy. Dan dalam sekejap ketika melihat lelaki dingin berambut biru pucat di sana, ia bisa tahu bahwa mereka sedang menghadapi Pemakan Roh. Dan pengguna tombak.
Jack memperhatikan dengan seksama. Hermione tidak bergerak, namun sorot matanya letih dan terlihat kosong. Jack langsung menghampirinya, tiba-tiba mengkhawatirkan gadis itu. Hermione Granger tidak menoleh ke arahnya, dan tampak tidak menyadari apapun selain percikan bunga api dan serpihan es tajam yang terlihat menyakitkan.
"Aku..." gumamnya, "sedang apa?"
Hermione tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Apa yang harus ia lakukan. Apa yang tidak seharusnya terjadi. Raven tidak terlihat dimana pun lagi. Entah kenapa, tunggangan itu menghilang, menyisakan hujan bulu berwarna hitam pekat. Hermione tidak mengerti kenapa Raven menghilang.
"Hermione!"
Jack memanggilnya, namun gadis itu tak punya tenaga untuk membalasnya. Perasaannya mendadak terasa hampa. Perlahan ia menjatuhkan tatapannya pada kedua tangannya yang tak memegang apa pun.
Dia tidak menggenggam apa pun.
"Aku...sedang apa?"
Hermione tidak mengerti, kenapa…
Roh Udara tidak menjawab pertanyaannya.
Hermione Granger merasa asing dan sendirian. Biarpun Jack berdiri di hadapannya dan mengguncang-guncang bahunya, ia tetap tidak merespon. Hatinya terasa kosong.
Hampa.
Aah...
sesuatu telah menghilang. Mungkin jauh di sana, di Skotlandia, di Hogwarts yang megah, seseorang juga merasakan hal yang sama. Dengan permata kelabu yang letih, ia menatap kedua tangannya. Merasa kosong. Seolah ada lubang yang menganga lebar di dadanya.
.
.
Eternity melihat kembali masa yang telah ia lewati sendirian. Mungkin sudah terlalu lama, pikirnya.
Dia kembali melempar tombaknya.
Permata biru pucatnya terpejam.
Sudah terlalu lama, putusnya.
Czar Romanov yang masih sangat muda menyerangnya, melemparkan bola api yang merah dari seluruh penjuru arah. Namun, Eternity tidak memberikan seluruh perhatiannya pada Raja muda itu. Ia melihat Hermione Granger. Mungkin karena gadis itulah...mungkin dirinya dan Draco Malfoy telah membuat kisah lama yang ia pendam kini mencuat ke permukaan. Dan segala perasaan yang ia lupakan kini mengerubungi seolah ingin menghakiminya.
Eternity hanya bisa memejamkan kedua matanya.
Mungkin Irvina akan marah. Atau mungkin dia akan sedih. Atau mungkin akan kembali berkonvoi tentang pembalasan dendam atas kematiannya yang kedua kalinya. Atau mungkin berpaling dan bertingkah seolah tak terjadi apa-apa. Eternity menduga yang ketiga adalah yang selalu menjadi pilihan yang sangat menguntungkan bagi Irvina.
Raut wajahnya berubah melankolis. Perisai es yang begitu tebal, yang merupakan pertahanan terkuat, ia susuri dengan ujung jari-jemarinya yang panjang dan pucat. Sorot matanya tampak menerawang jauh melewati dinding es yang dingin.
"Vivianna yang tersayang..."
Geburan bola api bukanlah hal yang sulit untuk dihadapi. Namun, kali itu, Eternity seolah telah memutuskan sesuatu untuk terjadi. Ia menengadahkan wajahnya ke atas. Dan membiarkan kedutan kecil di bibirnya, untuk pertama kalinya setelah seratus tahun hidup dalam keabadian semu dan kekosongan yang menyesakkan.
"Vivianna-ku..."
Mungkin dia sedang bermimpi. Ketika ia memutuskan untuk menyelesaikan segalanya. Ketika es tebal dibiarkan meleleh begitu saja. Ketika pria itu tidak bergerak di dalam kobaran merah yang menyakitkan.
Mungkin dia sedang bermimpi. Bahwa ketika semua itu terjadi, ia seolah mendengar seseorang berbicara padanya. Dengan suara yang begitu familiar. Dengan senyum yang begitu menawan. Yang telah lama memudar di dalam ingatan. Yang kini menyambutnya di uluran tangannya yang begitu hangat dan tentram.
Keberadaan wadah Roh Air itu tidak pernah ia lupakan.
Selamanya akan menjadi musiknya.
Dan ketika nada pianonya kembali berdenting,
dia juga akan menjadi musik gadis itu.
Selamanya akan menjadi musik wadah Roh Air itu.
.
.
Ada yang hilang.
Ada yang kembali.
Jika ditanya lagi, mungkin jawaban pastilah yang akan diucapkan.
Tidak ada yang sama dari dua kisah yang telah disebutkan.
Tentu saja.
Pada dasarnya,
tak ada tangan ketiga yang mencampuri
perbelokan jalan sang takdir.
.
.
_to be continued_
Alhamdulillah,, chapter ini sudah selesai,, :3 Yosshaaa! Gomenasai, minna! Update-nya kelamaan! Jadi, supa gomen! !
Yosh, akhirnya Eternity gugur. Musuh yang dihadapi tinggal sedikit. Semoga aja seri ini cepat selesai,, fuuuh *?* :3
Mrs. D: Haloo lagi,, Dramione-nya memang mesti suram, coz saya kayaknya gak bisa bikin aura fic romance dengan aura merah muda sampai tamat. Ahaha, tenang aja, Draco cuma sekarat doang, kok... Anoo, namanya bukan Vivere (alien mana dia?), dan dia bukan cewek. Nama aslinya Vash Edelstein dan dia aslinya laki-laki tulen. Saat ngeceng di Hogwarts dia pake tubuh Valerius Reverie (anak laki-laki tahun keempat yang punya garis wajah yang agak ehem cantik). Dia nyamar jadi cewek dengan nama Valerie Reverie—yang kemudian dikenal sebagai pacar baru Draco atau parasit yang tiap hari makan jiwa Draco sampe sekarat. Draco balik ke Hermione? eeehm, lihat aja chapter depan #plak!. Harry pada saat itu masih terguncang atas kebangkitan pak Voldemort dan kematian bang Cedric, jadi dia lebih fokus ama dirinya sendiri. Dan Ron karna terlalu dekat sama Harry, akhirnya ikut terseret dalam arus kemuraman Harry. Ya udah gitu aja,, Yosh! ! boku wa gambarimasu! arigatou gozaimasu, Mrs. D! ! :D #Salam juga,,
CorollaxCally: Holaa! CxC udah paten nih? :3 Dramione adalah otp saya, tapi mana mungkin saya biarkan mereka hidup bahagia ampe akhir,, semua butuh proses, kawaaaan,, muahahaha! #tertawa keji. Kita lihat aja ke depannya,, saya menerapkan pantun 'berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian' atas pairing ini. Jadi, ending otp ini sudah pasti akan melibatkan rakit #plak! #sori, bercanda. Alhamdulillah, kalau fic ini bagus dan menyenangkan (serta membingungkan) bagi CxC-san,,, XD ,, Yosh! boku wa gambarimasu! Arigatou gozaimasu, xCallyCorolla-san! #eh? kok kayaknya ada yang salah? #au ah, gelep,
galuhtikatiwi: Halo, gatiti-san #namanya panjang banget, jadi disingkat aja, ya? #plak!,, #lalala #yeyeye ada Dramione, saya juga senang bisa nulis tentang kisah mereka di sini :3.. Yep, out-of-box karena saya tidak ingin sesuatu yang mediocrity. Alhamdulillah, kalau gatiti-san suka,, Yosh! boku wa gambarimasu! mo arigatou gozaimasu, gatiti-san! ! #digampar karena sebaris nama yang disingkat,, :3
Yosshhaaa! ! Thanks for reading!
Rozen91
_Just a Laurant in the mist.
