BZZZZZ... saya telat update... *kowtow 1000x* Maap sodara... saya beneran lupa... ToT
Hmmm... gini aja deh. Saya punya solusi baru untuk memecahkan masalah kita. Bagaimana kalau sodara membaca cerita ini hari Senin aja, meskipun saya bilang akan update hari Jumat? Soalnya kan ada kemungkinan saya lupa. Jadi, supaya anda nggak sia-sia berkunjung ke FFn dan melihat cerita ini belum di update, mending sodara cek setiap hari Senin ajaaa~ *seketika dihajar se-FFn karena kasih solusi nggak bener*
Mengenai reviewnya... Hmmm... saya reply satu aja, deh...
Kaien-Aerknard: Hohoho~ jangan salah... Meskipun cewe, tapi Yangmei sangking kayak cowo sampe sering disangka orang cowo betulan... XDDDD Neeway, makasih banyak udah dipinjemi OC, ya~
shouta-warrior: WAAAAAAA~ Tidak ada shoujo-ai, kok... Wkwkwkw... itu cuma si Yangmei kalo udah penasaran ama orang bakal diliatin terus... XDDD Dan tentu saja Hongxue akan muncul lagi ^^ Tapi sabar, ya~
Nakamura Aihara: Makasih banyak dah dipinjemi OC... ^^ Sudah saya baca dan reply PMnya (maap replynya lama...) Yups, Huo Li muncul, maka Huiyue pun akan muncul in a special way... *ketawa jahat abis itu digampar lemari*
Saika Tsuruhime: Makasih banyak dah dipinjemi OC... ^^ Akan saya tunggu PMnya~ Yah, salah satu bakat terpendam Yangmei adalah ketawa jahat kayak Sima Yi~ Hoooo... mau Ma Dai dimunculkan lagi? Wokey~ sabar, ya... XDDDD
Mocca-Marocchi: Wkwkwkw... sebenernya Yangmei bersedia menyamar jadi laki-laki karena pemikirannya seperti ini: 'mendingan aku disangka laki-laki karena menyamar jadi laki-laki, daripada disangka laki-laki padahal sudah berjuang keras bertingkah perempuan'... Kira-kira sama dengan pikiran anak jaman sekarang 'mendingan aku dapet jelek gara2 nggak belajar, daripada dapet jelek padahal sudah susah-susah belajar' XDDDD Yin Long? Hmmm... ntar bakal muncul lagi, kok... XDDDD
Runa-chan Ryuuokami: You Niang? Dia jadi cheerleader~ XDDDD *ditabok sangking ngawur* Hooo~ saya fans berat Yugi-Oh~ Apalagi Yugi-Oh! 5Ds... Hohoho~ saya suka semua main protagonistnya Yugi-Oh, tapi yang paling saya suka itu Yusei... XDDDD
That's it!
Tanpa banyak cing-cong, marilah kita mulai chapter ini! Happy reading! ^^
"Lalalalala..."
Bukan main ajaibnya hari itu. Zhou Ying dan Zhao Yun sampai bingung sendiri. Pertama, Yangmei yang biasanya tidak suka kalau disangka laki-laki, mendadak akhirnya memutuskan untuk menyamar jadi laki-laki sungguhan! Kedua, berhubung Yangmei ingin penyamarannya benar-benar sempurna, gadis bodoh itu minta dibelikan tinta berwarna hitam untuk mengecat rambutnya, padahal jelas-jelas uang mereka tidak cukup. Herannya, hari itu sepertinya mereka sedang beruntung. Uang mereka pas sekali dengan harga tinta itu! Gara-gara itulah Yangmei berjalan sambil melompat-lompat kegirangan.
Sebaliknya, dua orang yang berjalan di belakangnya bertampang lesu sekali. Sedikit pun tidak ada semangat.
"Ya sudahlah... biarkan saja You Ma itu..." Gumam Zhao Yun sambil berusaha menghibur diri. Sekarang di kantong uang mereka tidak tersisa sekeping pun. Ini berarti, sampai mereka memenangkan kompetisi nanti, mereka harus mengharapkan belas kasihan dari Ming furen!
Zhou Ying juga cuma bisa melakukan hal yang sama. "Setidaknya dengan begini penyamaran kita jadi lebih sempurna." Ucapnya.
Seharusnya, kalau mau lebih sempurna, Lu Xun kita suruh menyamar jadi perempuan saja. Begitu batin Zhao Yun dalam hati. Namun tentu saja ia tidak akan mengatakannya, takut melihat reaksi Zhou Ying dan khususnya, amukan Yangmei.
Mereka bertiga berjalan kembali ke penginapan Ming furen. Sayang sekali, mereka lagi-lagi tersesat sampai-sampai harus membuat mereka bertanya jalan pada penduduk kota Xiang Ke. Tentu saja orang-orang itu jadi heran bukan buatan. Gaibang tidak seharusnya tidak tahu jalan! Tapi, berhubung tiga orang ini hanyalah tiga Gaibang jejadian saja, pantaslah mereka agak buta arah di kota asing ini.
"Eh! Kakak pertama! You Niang! Lihat itu!"
Tiba-tiba saja, Yangmei menghentikan langkahnya. Senyumnya pudar seketika, begitu juga dengan nyanyian riangnya. Jari telunjuknya teracung ke suatu arah dan pandangan dua orang lainnya mengikuti. Tak hanya Yangmei, ini seketika membuat Zhao Yun dan Zhou Ying menjadi kaget dan panik.
Dari kejauhan, mereka melihat penginapan Ming furen dikerumuni banyak orang.
"Aku punya firasat buruk...!" Tukas Zhao Yun tiba-tiba. Dengan secepat kilat ia langsung berlari menghampiri kerumunan tersebut. "You Ma! You Niang! Ayo cepat!"
"I-iya, kakak pertama! Tunggu!"
Zhao Yun berlari paling depan, sementara kedua gadis itu mengikuti dari belakang. Pada akhirnya, laki-laki Shu itu sampai duluan dan berusaha menerobos kerumunan dengan susah payah. Orang-orang berdesak-desakkan, semuanya berusaha ingin melihat apa yang sedang terjadi! "Permisi! Permisi!" Setelah perjalanan penuh perjuangan, Zhao Yun sampai juga di baris paling depan.
Seperti yang sudah di dugaan Zhao Yun, di tengah kerumunan itu... adalah para shifu dari FengHuang Xian-Kota FengHuang.
Dan kalau ada para shifu di sana, dan mereka ada di depan penginapan Ming furen, maka ada Lu Xun pula di sana. Lu Xun berdiri berhadapan dengan para shifu itu. Di belakangnya adalah gadis berpenyakitan yang kemarin disembuhkannya, bersembunyi di balik punggungnya mencari perlindungan. Zhao Yun melihat dengan jelas kegeraman dan kemarahan para shifu itu, yang hanya dibalas Lu Xun dengan tatapan tajam tapi penuh ketenangan.
Ya Tian... Pikir Zhao Yun dalam hati. Apa lagi yang dilakukan Lu Xun? Kenapa cari gara-gara dengan orang-orang ini lagi? Kukira ia masih tidur!
Yang bisa Zhao Yun lakukan sekarang hanya berharap dengan sepenuh keberadaannya agar Lu Xun tidak akan melakukan apapun yang bisa membuat mereka jatuh dalam masalah.
"KAUUUU...!" Yang tertua di antara kelompok itu, Gai shifu, mengacungkan telunjuknya. "Apa yang kau lakukan? Kau... tidak mungkin perempuan itu sembuh!"
Lu Xun dengan suara yang dingin dan tajam membalas. "Yang jelas sekarang ia sembuh, bukan? Kau bisa melihatnya dengan mata kepalamu sendiri." Lu Xun melangkah ke samping, membiarkan gadis itu terlihat oleh mata para shifu. Memang benar, gadis itu sudah sembuh, sama sekali tidak ada bekasnya sedikitpun seolah-olah ia memang tidak pernah sakit sebelumnya. Yah, bagi Zhao Yun dan beberapa orang yang ada di sini, ini sama sekali tidak mengejutkan. Tetapi bagi shifu-shifu itu serta orang yang tidak melihat Lu Xun menyembuhkannya, ini membuat nafas mereka terhenti detik itu juga.
"Ya Tian...! Gadis itu sembuh!"
"Bagaimana bisa...?"
"Jangan katakan bahwa Gaibang itu... adalah...!"
"Tidak! Tidak mungkin!"
Suara-suara teriakan mereka memenuhi telinga Zhao Yun. Dalam benaknya hanya ada kekhawatiran. Celaka... kini orang-orang ini tahu siapa kami sebenarnya. Dan kalau masih kurang, bagaimana dengan orang-orang FengHuang Xian ini? Kalau mereka percaya Lu Xun adalah Phoenix, bisa gawat. Tapi kalau mereka tidak percaya, lebih gawat lagi! Ya Tian... kenapa jadi serba salah begini? Apa yang harus kami lakukan sekarang?
Tiba-tiba suara Gai shifu membahana, membuat semua pendengarnya terkejut. "Hei, kau, perempuan!" Teriaknya dengan suara yang kasar. Gadis itu, yang baru saja sembuh dari penyakitnya, terperanjat sampai-sampai mematung di tempat itu. "Katakan! Apa yang laki-laki ini lakukan padamu!"
Pertanyaan shifu tua itu seperti seolah Lu Xun telah melakukan sesuatu yang jahat pada gadis itu.
"S-shifu, xiansheng ini... kemarin..." Jawab si gadis pada akhirnya, sesudah menghimpun sebanyak-banyaknya keberanian. "... kemarin ia menyembuhkanku! Aku yakin, xiansheng ini adalah Phoenix! Sang Phoenix yang telah kita nanti-nantikan, shifu!"
Seketika itu juga, jantung Zhao Yun serasa terhenti. Sumpah, dia akan celaka kalau begini! Bisa-bisa gadis ini diseret dan dihajar habis-habisan oleh mereka! Pikir Jendral Shu itu dalam hati. Tapi... ada Lu Xun kan? Ah, tapi semisalkan Lu Xun pun diseret oleh mereka, bagaimana? Apa yang akan menjadi nasib kami selanjutnya? Apa yang harus kulakukan?
"PENYERANAH!" Seru shifu-shifu itu bersahut-sahutan, sambil menuding si gadis. "Cepat tangkap gadis ini!"
"Berani-beraninya kau menyebut Gaibang rendahan sepertinya sebagai seorang Phoenix!" Gai shifu berteriak, giginya mengertak dan wajahnya merah padam. Kasihan gadis itu, benar-benar ketakutan sampai hanya bisa berlindung di balik tubuh Lu Xun. "Dengar! Kau disembuhkan olehnya bukan dengan kekuatan cahaya Phoenix, tetapi dengan kekuatan kegelapan! Ya, Gaibang busuk ini adalah pengguna kekuatan kegelapan!"
Lu Xun tertawa pelan sekaligus tawa mengejek, seolah-olah kata-kata Gai shifu hanya celotehan orang gila saja. "Kau sudah kehabisan akal untuk membela diri, Gai shifu?" Tanyanya dengan suara rendah, menantang. "Kau adalah seorang shifu, bukan? Apakah orang sepertimu tidak tahu bahwa hanya kekuatan cahaya saja yang dapat menyembuhkan?"
Pertanyaan itu seketika membungkan para shifu. Prajurit-prajurit yang diperintah untuk menangkap gadis itu juga tidak berani maju barang selangkah pun. Kata-kata Lu Xun memang benar, dan mereka sama tidak bisa membantah.
"Sekarang, sesuai perjanjian..." Ucap Lu Xun lagi sesudah keadaan mulai menjadi hening. Salah satu tangannya terangkat, kemudian teracung ke arah pintu gerbang kota. "... PERGI DARI SINI!"
Perintah Lu Xun terdengar seperti dentuman terakhir pada sebuah melodi musik. Tidak ada lagi yang bersuara. Semuanya hening, khususnya para shifu itu yang begitu terperanjat sehingga tidak dapat melakukan apapun. Zhao Yun pun hanya bisa memandangnya dengan kepala yang kosong, sama sekali tidak bisa mencerna apa yang terjadi. Yangmei dan Zhou Ying yang sekarang melihat pun hanya bisa terpaku.
Suara itu bergaung sementara keheningan tercipta, seperti abu yang tecipta ketika api sudah berhenti berkobar.
Tak bisa dibayangkan lagi kebencian dan kemarahan para shifu, khususnya pemimpin bermarga Gai itu. "Ughhh...! Gaibang keparat...!" Desisnya menyumpah. Kini orang tua itu memandang orang-orang disekelilingnya sambil menuding Lu Xun. "Hei! Apa kalian buta? Seorang Gaibang penyeranah yang memiliki kekuatan kegelapan tinggal di tengah-tengah kalian, dan kalian membiarkannya begitu saja?" Bentaknya dengan nafas memburu.
"T-tidak begitu... shifu...!" Salah satu bapak maju, meski dengan penuh ketakutan. "Bukankah anda sendiri pernah berkata... bahwa kekuatan kegelapan tidak mungkin dapat menyembuhkan...? Siapa tahu laki-laki Wu ini adalah... Sang Phoenix!"
Bapak yang lain ikut maju. "Shifu...! Yang tinggal di tengah-tengah kami ini bukan kegelapan... melainkan cahaya!"
Satu demi satu orang mulai berani menyatakan pendapatnya, meski dengan penuh ketakutan dan ragu-ragu. Bagaimanapun, shifu-shifu ini dapat melakukan apapun yang mereka inginkan. Namun untuk kali ini, satu hal yang tidak dapat mereka lakukan adalah menaklukkan seorang Gaibang dari Wu. Seorang Gaibang yang bagi mereka hanya seperti serangga pengganggu saja.
Tidak peduli seberapapun orang-orang itu berusaha menyadarkan shifu mereka, shifu-shifu itu tetap berkeras hati. "Kurang ajar! Terkutuk kalian semua, manusia rendahan! Jika Sang Phoenix itu datang, ia akan memusnahkan hidup kalian semua yang cuma seperti nyawa anjing dan babi! Tentu saja, sesudah memusnahkan Gaibang ini!" Seru mereka penuh amarah dan kebencian.
Namun, tidak peduli seberapapun besarnya kemarahan parah shifu itu, kemarahan Sang Phoenix itu sendiri jauh lebih besar.
Ia berseru, menumpahkan segala kemarahannya. "Dasar orang-orang buta!"
Suaranya seolah sampai ke langit, menggetarkan hati setiap pendengarnya. Waktu terasa berhenti berdetak, tidak ada suara lain yang berani menganggu
"Kau bilang mereka terkutuk? Kalianlah yang sebenarnya manusia terkutuk! Kalian mengajari orang-orang ini, hanya untuk menjadikannya makhluk busuk seperti kalian! Munafik!" Teriaknya, seperti kobaran api yang hendak melahap segala yang ada.
Dan secara harafiah, hal itu benar. Mata Lu Xun berkilat-kilat, seperti ada lidah-lidah api yang berkobar di dalam bola emas itu. Udara musim gugur yang harusnya dingin dan sejuk, entah mengapa memanas. Seolah-olah memang ada api yang tidak kelihatan di sana.
Tanpa sadar Zhou Ying menggenggam tangan Zhao Yun erat-erat, seolah mencari keberanian. Yangmei pun hanya bisa menggenggam ujung bajunya. Baru kali ini mereka bertiga mendengar sumpahan keluar dari mulut Lu Xun! Bahkan pada Lao Zucong, Jendral Guan Yu dan Jendral Zhang Fei, siapapun, tidak pernah ia mengeluarkan kata-kata seperti itu!
Apa yang akan terjadi...? Pikir mereka dalam hati.
Tak ayal, shifu-shifu itu bukan main ketakutan melihat ini. Mereka marah, tetapi kemarahan mereka kalah oleh ketakutan mereka. Padahal hanya seorang Gaibang, tetapi bagaimana bisa mereka setakut ini?
"S-sial...!" Gai shifu hanya bisa memalingkan wajah dari lawan bicaranya, kemudian berjalan menerobos kerumunan itu dengan langkah lebar dan cepat. "Ayo pergi dari tempat ini!" Perintahnya kepada shifu-shifu yang lain. Mereka, dengan ketakutan bercampur kemarahan yang sama, hanya bisa mengikuti si pemimpin. Dengan sendirinya kerumunan orang itu membuka jalan, membiarkan para shifu meninggalkan kota itu.
"Dengar!" Ucap Gai shifu untuk terakhir kalinya, sebelum melewati gerbang itu. Matanya beradu dengan mata Lu Xun. "Ini belum selesai, hei penyeranah!"
Dengan demikian, mereka berjalan keluar dari gerbang kota itu. Perlahan-lahan sosok mereka tak terlihat lagi, dan semoga tidak akan terlihat untuk selamanya.
Akhirnya keributan itu usai. Ada yang menarik nafas panjang, ada yang menangis gembira, ada yang sampai berkowtow. Namun mungkin yang paling lega dari semuanya adalah Zhao Yun, Zhou Ying, dan Yangmei. Nyaris saja hidup mereka usai. Entah apa yang terjadi kalau sampai para shifu itu menangkap Lu Xun.
Sembari ketiga kawan itu mendekati Lu Xun, ia berbalik memandang gadis itu. Kemarahan sirna dari wajahnya. Ia tersenyum lembut. "Guniang, tidak perlu takut lagi." Katanya dengan suara yang menenangkan. "Pulanglah. Tidak akan ada orang lagi yang menganggumu."
"T-terima kasih, xiansheng..." Ucap si gadis dengan suara terbata-bata, sebelum meninggalkan Lu Xun dan ketiga orang kawannya di sana.
Tak berapa lama, keributan itu usai. Orang-orang mulai kembali ke aktifitas masing-masing, begitu pula dengan keempat Gaibang bohongan itu. Mereka berempat masuk ke penginapan Ming furen, dan duduk mengelilingi sebuah meja di ruang makan yang luas itu. Seorang pelayan menyuguhkan mereka sepoci teh sementara mereka saling berbincang-bincang. Tentu saja ketiga orang yang penasaran itu menanyakan apa yang terjadi pada Lu Xun.
Lu Xun menjawab sesudah meneguk teh di cangkirnya. "Pagi tadi, saat aku masih tidur, seorang pegawai penginapan membangunkanku dengan panik." Ia memulai. "Katanya shifu-shifu itu menuntut agar aku menghadap mereka. Ming furen sudah bilang pada mereka bahwa aku masih tidur. Tapi mereka tetap memaksa dan mengancam. Barulah akhirnya aku keluar." Jelasnya sebelum berhenti sejenak. "Tak tahunya, begitu aku keluar, mereka melemparkan gadis itu ke arahku, dan memaksaku untuk buka mulut tentang apa yang kulakukan padanya. Selebihnya, kalian sudah melihat sendiri."
Ketiga orang pendengar itu terkejut oleh dua hal. Pertama, betapa keterlaluannya para shifu-shifu itu! Menyuruh Lu Xun menghadap? Mereka menganggap Lu Xun hanya seperti budak saja! Dan menyeret gadis itu, bukankah hal seperti itu sangat melukai si gadis? Dan, hal kedua yang membuat mereka kaget adalah, suara Lu Xun begitu tenang sekarang, sangat berbeda dari saat ia marah tadi.
"Yahhh... syukurlah sekarang sudah baik-baik saja." Zhao Yun menghela nafas panjang. "Kuharap para prajurit Shu yang mencari kita tidak sampai di sini. Kalau mereka ada di sini dan orang-orang itu bilang bahwa kau adalah Phoenix, pasti kita semua akan celaka."
Lu Xun tertawa kecil. "Zhao Yun, kenapa kau takut pada orang-orang yang akan menangkap kita?"
Zhao Yun nyaris akan menjitak Lu Xun yang disangkanya bercanda di saat-saat seperti ini. Namun sesudah ia berpikir lagi... omongan Lu Xun ada benarnya. Jadi, Zhao Yun pun juga membalasnya dengan tawa. "Benar juga! Kan harusnya aku lebih takut pada bahaya yang sesungguhnya! Aku sampai lupa!"
Kedua gadis yang mendengar mereka, Yangmei dan Zhou Ying, mau tidak mau ikut membayangkannya. Benar juga. Kalau misalkan orang-orang itu datang, Lu Xun bisa menghentikan mereka dengan mudah seperti dulu, ketika mereka sehabis menyebrangi sungai Chang Jiang. Mereka pun ikut tertawa pula.
"Daripada kita membicarakan orang-orang menyebalkan itu..." Sahut Yangmei tiba-tiba. "... sebaiknya kita membicarakan ini! Lu Xun, ini ada kabar baik untukmu!"
"Eits! Tunggu-tunggu! Sebelum kita melanjutkan," Potong Zhou Ying sambil memandangi ruang restoran yang mulai ramai itu. "Jangan lupa! Kita sedang menyamar! Gara-gara tegang karena shifu-shifu itu, kita sampai lupa nama-nama kita semua!" Bisiknya.
Yangmei menepuk jidat. "Oh iya! Aku lupa!" Serunya. "Enggg... baiklah! Kakak kedua, ini ada kabar baik!"
Meski awalnya agak canggung, tetapi mereka harus memaksakan diri untuk menggunakan nama palsu, kalau tidak mau penyamaran mereka ketahuan. Lu Xun, sesudah mengingat-ingat nama palsu Yangmei, barulah membalas. "Oh, apa itu, You Ma?" Tanyanya.
"TADA!" Yangmei mengangkat sebuah kertas. Kertas itu adalah... tidak lain dan tidak bukan adalah kertas bersegel yang menyatakan mereka mendaftar dalam kompetisi bertarung Gaibang. Detik itu juga, wajah Zhao Yun dan Zhou Ying memucat seperti kertas! Yangmei ini bisa-bisanya menunjukkan dengan penuh senyum gembira seperti itu! Apa dia tidak tahu Lu Xun baru saja marah?
Bagaimanapun... membuat Lu Xun marah besar dua kali dalam satu hari bukan pilihan yang baik, kan?
"Apa ini?" Tanya Lu Xun sambil membaca kertas itu.
"Kita akan ikut kompetisi, kakak kedua!" Balas Yangmei. "Pesertanya adalah kakak pertama, kakak kedua, dan aku!"
Zhao Yun dan Zhou Ying hanya berpandang-pandangan sejenak sebelum mereka...
... cepat-cepat menjatuhkan diri dari kursi dan berkowtow berulang-ulang di depan Lu Xun!
"You Xing! Kau jangan marah! Biar aku jelaskan dulu!" Ucap Zhao Yun si 'kakak pertama' yang juga takut kalau sampai membuat si 'kakak kedua' marah.
"K-kakak kedua... ini cuma kesalahpahaman! Sama sekali tidak ada hal yang patut dikhawatirkan!" Imbuh Zhou Ying si 'adik terkecil'
Tentu saja Lu Xun heran bukan buatan. Apalagi pengunjung restoran yang melihat tingkah ajaib mereka. "Ya Tian! Kakak pertama dan You Niang ini ada apa-apaan?" Tanyanya sambil lantas membantu mereka berdiri. "Apanya yang perlu dijelaskan? Kita akan ikut kompetisi! Menyenangkan, bukan?" Lu Xun tersenyum lebar, seperti anak kecil yang baru saja diberi kabar bahwa ia akan diajak berlibur!
Gantian Zhao Yun dan Zhou Ying yang heran. "Lho?"
"Apanya yang lho?" Tanya Lu Xun dan Yangmei bersamaan.
"Lho? Lho? Lho?"
"Kakak pertama, kau jangan menyebut 'lho?' tiga kali dengan percuma begitu. Kau mengingatkanku pada seseorang..."
Zhao Yun pun cuma bisa menghela nafas panjang sangking bingung. "You Xing, kukira kau akan marah besar. Kau kan biasanya tidak mau You Ma ikut kompetisi-kompetisi seperti ini? Dan lagi, kau sendiri mana mau ikut kompetisi macam ini? Ini kan sangat merendahkan harkat dan martabat kita?"
Tentu saja ini sangat menarik perhatian pengunjung. Mana ada Gaibang yang merasa harkat dan martabatnya dijatuhkan gara-gara ikut kompetisi bertarung yang diadakan perkumpulan Gaibang sendiri...
"Harkat dan martabat apanya? Lihat ini!" Balas Lu Xun sambil menunjuk sebuah tulisan di kertas berpekara tersebut. "Kakak pertama, kalau kita memenangkan kompetisi ini, kita akan mendapat hadiah uang emas!"
Ini jelas membuat Zhao Yun dan Zhou Ying lebih kagok lagi. Mereka serasa menjadi orang paling bodoh di alam semesta sementara melihat Lu Xun dan Yangmei melompat-lompat kegirangan. Tidak hanya itu, Lu Xun kelihatan sangat terkejut sekali melihat 'kecerdikan' Yangmei yang membeli tinta untuk menyamarkan rambut peraknya, dan lebih-lebih-lebih lagi ia setuju!
"Aku tidak bisa membayangkan! Kau pasti keren sekali dengan rambut hitam, You Ma!" Ucap Lu Xun sambil tersenyum riang. "Biar kain di kepalamu itu bisa kau lepas! Menganggu pemandangan saja!"
"Benar! Aku sendiri merasa kepalaku makin berat dengan kain ini! Kakak kedua, nanti sekalian bantu aku memotong rambutku, ya?"
"Tenang saja! Nanti kubantu kau!"
Ini malah makin membuat Zhao Yun dan Zhou Ying kaget. Lu Xun membantu Yangmei menyamar jadi laki-laki? Apa-apaan ini?
"HEEEEEIIIIII!" Teriak Zhao Yun sangking bingung, heran, kaget, dan merasa bodoh. "You Xing! Apa-apaan ini? Kenapa kau malah setuju dengan You Ma? Apa kau tidak khawatir kalau sampai terjadi apa-apa padanya di kompetisi nanti? Kalau dia terluka bagaimana? Kalau dia sampai celaka bagaimana?"
Tawa riang sepasang manusia bertingkah ajaib itu berhenti.
Lu Xun hanya tersenyum. Ia memandang Yangmei sejenak sambil menepuk pundaknya. "Tenang saja, kakak pertama." Jawabnya. "You Ma sudah dewasa, kan? Dia sudah tahu kekuatannya, dan sudah tahu mana yang baik untuknya. Aku yakin You Ma ingin ikut kompetisi ini untuk mengetes kemampuannya, bukan sekedar asal-asalan. Ya kan, You Ma?"
Yangmei mengangguk kuat-kuat. "Ya! Ya! Ya!" Serunya. "Aku tidak akan jadi penganggu lagi!"
Pada akhirnya, Zhao Yun tidak bisa bicara apa-apa lagi. Lagipula, yang Lu Xun katakan bukan cuma sekedar seperti hubungan saudara angkat dalam kehidupan Gaibang. Itu benar-benar seorang Lu Xun yang percaya pada Yangmei. Dan benar-benar seorang Yangmei yang ingin membuktikan kemampuannya dan tidak mau menjadi gadis manja lagi. Si 'kakak pertama' hanya bisa melihat adik-adiknya dan menghela nafas. Ia tersenyum.
"Ya sudahlah..." Katanya. "Kompetisinya seminggu lagi. Kita harus berlatih!"
Tidak ada yang istimewa di Istana Wei di Luo Yang siang itu. Ya, setidaknya bagi seorang anak berusia sebelas tahun hari ini adalah hari yang biasa-biasa saja. Tidak akan ada sesuatu pun yang terjadi selain bangun pagi, sarapan bersama ayah dan ibu serta kakaknya, kemudian membaca di Yangxindian-Aula Penjernihan Pikiran seperti hari-hari biasanya. Mungkin menjelang sore barulah ayahnya akan memiliki waktu untuk mengajarinya berbagai hal seperti politik, hukum, pemerintahan, dan bahkan strategi.
Jadi begitulah Sima Zhao menjalani harinya. Sesudah sarapan, ia segera membawa beberapa buah buku dan berlari menuju tempat favoritnya itu.
"Wah... dinginnya... sudah musim gugur, ya..." Gumam Sima Zhao pada dirinya sendiri. "Tapi, tak masalah! Yang penting aku ingin ke Yangxindian! Pasti asyik kalau aku bisa bertemu Pangeran Cao Pi lagi di sana! Sepertinya, Pangeran Cao Pi tahu banyak tentang Phoenix, ya..."
Tak lama, sampailah ia di tempat tujuannya. Sesudah menyusuri tembok berukir yang menjadi pagar dari Yangxindian, ia masuk ke halamannya melalui sebuah pintu berbentuk lingkaran. Namun sebelum ia masuk...
"BAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! AKULAH HANTUUUUUUUU BERMATA SATUUUUUUU!"
"WAAAAAAAAAAAAAAA!" Dikageti begitu rupa, bocah sebelas tahun itu langsung mundur dan nyaris jatuh! Untung saja bocah lain yang mengagetinya itu langsung menarik tangannya sehingga ia tetap berdiri. Melihat siapa yang mengerjainya, jelas saja Sima Zhao marah besar! "Xiahou Ba! Apa-apaan kau ini? Gara-gara kau mengagetiku, jiwaku sampai tercerai-berai di langit!"
Xiahou Ba, bocah yang mengagetinya itu, tertawa riang. "Habis, kau kelihatan semangat begitu, sampai-sampai tidak peka pada sekelilingmu! Makanya kupikir biar kau kukageti saja!"
Sima Zhao cemberut sangking kesal. Anak laki-laki yang mungkin hanya setahun lebih muda di depannya ini adalah Xiahou Ba, anak dari Jendral Xiahou Yuan. Sebenarnya Sima Zhao jarang sekali bertemu dengan Xiahou Ba, apalagi bermain bersama. Padahal mereka tinggal di tempat yang sama, Istana Wei di Kotaraja Luo Yang. "Ngapain kau di sini? Biasanya aku tidak pernah melihatmu berkeliaran."
"Sebenarnya..." Bocah yang lebih muda menghela nafas panjang. "Selama ini aku sering bermain dengan kakak sepupuku, Xiahou Long. Tapi... sudah beberapa bulan ini dia tidak kelihatan. Dia cuma kelihatan satu kali saja, saat pulang dari mencari Sang Phoenix. Itu pun sangat cepat sekali! Soalnya beberapa bulan sesudah itu, Panglima Besar Yuan Shao datang dan mengajaknya ke Wu."
Alih-alih mendengar kata 'Phoenix', mata Sima Zhao membulat dan berbinar-binar. "P-phoenix? Xiahou Ba! Apakah kakakmu itu menceritakan sesuatu? Apa saja! Aku sangat-sangat ingin tahu! Ah, andai aku pun bisa melakukan perjalanan mencari Phoenix!"
Xiahou Ba tersenyum menang. "Aku mendengar banyak sekali dari Xiahou Long gege! Bahkan, aku juga mendengar banyak dari die! Sima Zhao, kau pasti ingin mendengar semuanya, kan?" Ucap bocah itu sambil tersenyum lebar. "Baiklah, persiapkan dirimu baik-baik, ya... Soalnya, ini pasti akan sangat mengejutkanmu!"
"Apa itu? Apa itu? Apa itu? Apa itu?" Sima Zhao melompat-lompat kecil sangking girang.
"Kemarikan telingamu..." Perintah Xiahou Ba sambil berbisik, seolah-olah akan memberitahukan sebuah rahasia yang penting.
Sima Zhao yang sangking senang sampai lengah, akhirnya menurut begitu saja apa yang dikatakan Xiahou Ba. Didekatkannya telinganya pada teman kecilnya itu. "Dengar baik-baik ya, Sima Zhao... aku tidak akan mengulangi lagi..." Kata Xiahou Ba dengan suara rendah yang misterius. Sayang sekali, betapa kagetnya Sima Zhao saat yang terdengar dari mulut Xiahou Ba, lagi-lagi, adalah sebuah 'BAAAAAAAAAAAAAAA!' yang sangat keras! Tepat di telinganya!
"Aduh! Aduh! Aduh! Kurang ajar kau, Xiahou Ba! Terima ini! Nih! Nih! Nih!" Seru Sima Zhao sambil memukuli kawannya yang tertawa terbahak-bahak dengan buku-buku yang dibawanya.
"Aiya...! Maaf... maaf... Sima Zhao! Hahaha..." Balas Xiahou Ba sambil berusaha melindungi diri. Suaranya masih saja bercampur dengan tawa, benar-benar membuat Sima Zhao kesal sampai mau menangis rasanya! "Tapi, aku sungguhan diberitahu banyak hal mengenai Phoenix, lho!"
"Kalau begitu cepat katakan!" Bentak Sima Zhao.
Xiahou Ba serius juga akhirnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam, ia memulai. "Sebenarnya, Sima Zhao... PHOENIX ITU PERNAH BERADA DI ISTANA WEI INI!"
"APAAAAAAA? Xiahou Ba! Kau bercanda, kan?" Sergah Sima Zhao seketika. Entah dia harus merasa senang atau sedih mendengar kabar ini. Senang karena Sang Phoenix itu pernah tinggal di tempat yang sama dengannya, sekaligus sedih kenapa pada saat itu tidak sempat bertemu dengannya. Oh, seandainya saja Sima Zhao tahu betapa seringnya ayahnya bertemu dengan Sang Phoenix itu!
Bocah yang lebih muda menggeleng. "Aku bicara serius, Sima Zhao! Dan ada yang lebih penting lagi..." Imbuhnya. "Kau suka berada di Yangxindian karena merasa lebih dekat dengan Sang Phoenix, kan? Itu sangat wajar sekali, Sima Zhao! Soalnya, die bilang, Phoenix itu tinggal di aula Yangxindian ini saat ia berada di sini!"
"B-b-b-benarkah?"
"Aku bersumpah! Kalau aku berbohong, maka biarlah di kehidupan selanjutnya aku menjadi binatang peliharaanmu!"
Sumpah Xiahou Ba tidak main-main! Dia pasti benar-benar serius! Pikir Sima Zhao dalam hati. Pada akhirnya, ia percaya. Lagipula ia sudah terlalu gembira untuk memikirkan apakah itu benar atau tidak. Satu hal yang ia inginkan sekarang adalah mengajak Xiahou Ba masuk, kemudian menjelajahi Yangxindian yang terlihat seperti petualangan yang sangat menarik! Kalau aku tidak bisa mencari Sang Phoenix seperti kakak sepupunya Xiahou Ba, setidaknya aku ingin bisa mengikuti jejaknya di sini! Begitulah pikirannya.
Sima Zhao langsung mengamit tangan Xiahou Ba. "Baiklah, Xiahou Ba! Ayo kita masuk! Kau pasti tertarik juga, kan?"
Xiahou Ba mengangguk kuat-kuat. "Iya! Aku sangat ingin masuk! Sebenarnya, Sima Zhao, sebelum kau kemari, aku sudah berada di sini dan mencoba untuk masuk ke dalam ruangannya!" Jelas Xiahou Ba. "Apa mau semua ruangannya dikunci. Soalnya, tempat ini juga tidak dipakai, sih! Yang paling jauh yang bisa kita capai cuma sebatas halaman saja!"
Memang itu benar. Sima Zhao yang gemar sekali membaca di Yangxindian juga tahu hal ini. Karena tidak ditinggali dan tidak pernah digunakan, Yangxindian dikunci dan hanya bisa dimasuki sebatas halaman saja.
Tapi kali ini, Sima Zhao tidak mau kalah cuma gara-gara sebatas kunci.
"Tak masalah, Xiahou Ba! Ayo kita masuk dan cari cara!"
Pada akhirnya, kedua bocah itu masuk. Ketika Sima Zhao mencoba membuka pintu depannya, benar-benar dikunci seperti kata Xiahou Ba. Mereka mencoba mencari pintu belakang dan pintu samping, yang sayangnya juga dikunci. Kalau misalkan ada seorang dewasa di sana, mereka pasti akan disuruh menyerah saja. Tapi, ini adalah dua anak kecil yang kemauannya sudah seribu kali lebih besar daripada logika orang dewasa.
"Kita masuk lewat atap saja, Xiahou Ba!" Usul Sima Zhao.
"Kau gila, ya? Bagaimana caranya?" Tanya Xiahou Ba balik.
Syukurlah di teras mereka menemukan sebuah meja kayu dan beberapa kursi. Kedua bocah itu dengan bersemangat menyusunnya di sebelah sebuah pilar yang menyangga atap bangunan Yangxindian. Syukurlah tempat itu sangat sepi, apalagi dengan udara yang dingin seperti ini dimana orang malas untuk keluar kamar. Tidak ada yang mengetahui aksi nakal mereka ini. Dan entah bagaimana, mungkin juga karena sedikit keajaiban, akhirnya mereka bisa sampai di atap.
Sekarang yang perlu mereka lakukan hanyalah melepaskan beberapa genteng dan melompat masuk ke dalam.
Sima Zhao menarik sebuah genteng batu. Sebenarnya melepaskan genteng-genteng itu bukan pekerjaan sulit. Namun berhubung terbuat dari batu, genteng-genteng itu terasa berat di tangan Sima Zhao. "Hei, Xiahou Ba! Jangan hanya diam saja! Cepat bantu aku!"
Kedua bocah itu bergotong-royong melepas beberapa genteng sampai akhirnya terciptalah sebuah lubang yang cukup untuk mereka masuki. Perlahan keduanya masuk melalui lubang tersebut, dimulai dari Sima Zhao kemudian Xiahou Ba. Mereka mendarat di plafon kayu.
"Nah, sekarang tingga menjebol plafon kayu ini." Ucap Sima Zhao sambil menghentak-hentakkan kakinya, mencoba mengetahui seberapa kuat plafon tersebut. "Kau ada ide, Xiahou Ba?"
Xiahou Ba tersenyum congkak. "Hahahaha! Aku tahu akan ada hambatan seperti ini! Makanya aku membawa... INI!" Xiahou Ba menunjukkan sebuah genteng batu yang berat di tangannya, yang tadi dipungutnya saat menjebol atap. Sebenarnya Xiahou Ba membawa genteng itu bukan karena dia sudah mempersiapkan diri untuk menjebol plafon, tetapi karena ia ingin menyimpannya sebagai kenang-kenangan. Setidak-tidaknya, ini adalah salah satu genteng dari bangunan yang pernah dihuni Sang Phoenix...
"Bagus!" Sima Zhao berteriak kegirangan. Di ambilnya genteng batu itu, kemudian ujungnya digunakannya untuk memukul-mukul plafon kayu itu. Ujung yang lumayan tajam itu akhirnya berhasil membentuk lubang. Mula-mula lubang kecil, kemudian membesar hingga mengizinkan mereka masuk. Sekarang yang bermasalah hanyalah bagaimana cara mereka melompat turun agar tidak cedera.
"Ah, aku ada ide!" Sahut Sima Zhao. "Xiahou Ba! Kau duluan saja yang melompat! Sesudah kau, baru aku! Aku akan jatuh di atasmu dan dengan begitu, kita tidak akan cedera!"
Tentu saja Xiahou Ba tidak terima! "Enak saja! Kenapa tidak kau duluan saja? Kenapa harus aku yang jatuh dan kau menimpukiku? Kau kira aku ini apa? Karung beras?"
"Tidak! Tidak! Tapi kau kan pakai baju besi setebal itu? Mustahil kau akan cedera?" Balas Sima Zhao berusaha mempertahankan idenya.
Dengan segala bujuk rayu dan bohongan, Sima Zhao berhasil membohongi kawannya yang lebih muda. Meski takut-takut, akhirnya Xiahou Ba setuju untuk menjatuhkan diri duluan. Lagipula, bagaimana bisa ia menyerah sesudah sampai sejauh ini? Tinggal melompati lubang ini, dan ia akan sampai ke tempat tujuan! Apa sulitnya? Pokoknya, aku harus sampai di bawah hidup-hidup! Kalau berhasil, setidak-tidaknya aku sudah selangkah lebih dekat kepada Sang Phoenix! Xiahou Ba berusaha menguatkan hatinya.
Namun, untuk seorang anak kecil, bagaimana mungkin bisa ia tidak takut melompat?
"Ayo, Xiahou Ba... tidak apa-apa! Tenang saja!" Sima Zhao mulai tidak sabaran.
"Tapi... nggg... aku takut...!"
Xiahou Ba terus memandang ke lantai di bawah plafon itu. Tidak begitu tinggi memang, tetapi dia jadi pusing sendiri melihatnya.
Ya, sampai akhirnya, seolah sebuah suara berbisik di telinganya.
"Tidak apa-apa..."
"H-hah?" Xiahou Ba terkejut. Suara itu jelas sekali bukan suara Sima Zhao!
"Jangan takut... aku sudah menyuruh seseorang menunggumu di bawah. Melompatlah..."
Bocah itu tidak pernah mendengar suara itu sebelumnya, dan memang tidak pernah! Tapi tidak tahu kenapa... rasanya suara itu akrab sekali, dan sangat bersahabat!
Akhirnya, hanya dengan mempercayakan dirinya pada kalimat itu, Xiahou Ba benar-benar melompat! Sima Zhao menahan nafas saat melihat tubuh temannya terjun bebas melalui lubang di plafon itu ke lantai.
MATILAH AKUUUUUUU! Jerit Xiahou Ba dalam hati ketika tubuhnya melesat dengan kecepatan luar biasa ke tanah.
Namun ia tidak akan pernah merasakan kerasnya lantai kayu itu saat tubuhnya menghantamnya. Ia juga tidak akan merasakan sakit apapun, apalagi cedera! Yang ia rasakan hanyalah tubuhnya ditopang oleh sepasang tangan yang kuat. Perlahan-lahan, sambil menyingkirkan ketakutan dan keterkejutannya, bocah itu membuka matanya.
"Didi, kau baik-baik saja?"
Suara asing yang lain mengejutkannya. Di depan matanya tampaklah seorang pemuda berambut merah diikat. Pakaiannya pun merah seluruhnya. Baru kali ini Xiahou Ba melihat pemuda yang mungkin usianya dua kali usianya di Istana Wei ini. Pemuda itu menurunkan tubuhnya sehingga ia bisa berdiri di lantai Yangxindian. Lantai yang sama dengan lantai yang pernah dipijak Sang Phoenix.
"Panggil temanmu yang satunya." Ucap pemuda berambut merah itu.
Xiahou Ba mengangguk. "Sima Zhao! Ayo lompat!"
Dan lagi-lagi pemuda itu menangkap Sima Zhao yang menjatuhkan diri dari plafon. Kedua bocah itu berhasil mendarat dengan selamat, tanpa cedera maupun lecet sekecil Apapun! Betapa heran dan takjubnya mereka! Siapa pemuda ini dan bagaimana caranya masuk? Seolah... seolah ini semua keajaiban saja! Tapi memang sejak awal, ini semua hanya keajaiban, dua orang anak kecil berhasil memanjat atap, melepaskan genteng, menjebol plafon, dan akhirnya mendarat dengan selamat di atas lantai.
Pemuda berambut merah itu memandangi mereka dengan tersenyum. Dua pasang bola mata yang bulat dan bening balas memandanginya dengan heran. "Kalian berdua tidak apa-apa, kan?" Tanya pemuda itu dengan ramah. "Apa kalian tidak takut melompat seperti itu?"
Xiahou Ba yang paling pertama menjawab. "T-tidak, gege! Soalnya... nggg... soalnya sebelum melompat, rasanya ada orang yang berbisik padaku agar jangan takut! Dan bahwa orang itu juga sudah menyuruh seseorang untuk menungguku di bawah!" Jelasnya panjang lebar, masih dengan suara terbata-bata sangking terkejut dan bingung. "Dan... dan... dan ternyata sungguhan! Ada gege yang menungguku di sini!"
"A-aku juga...!" Sima Zhao menambahkan. "Saat melihat Xiahou Ba jatuh, kukira ia akan mati! Sesudah mendengarnya berteriak padaku pun, aku masih saja takut! Sesudah aku mendengar suara bisikan yang aneh itulah, baru aku berani melompat!"
"Gege disuruh seseorang menunggu kami di sini? Benarkah?"
"Siapa yang menyuruh gege?"
Pemuda berambut merah itu tertawa kecil saat mendengar hujan pertanyaan dari kedua bocah itu. Diusapnya kepala mereka berdua sebelum menjawab. "Semisalkan aku menjawab bahwa Sang Phoenix-lah yang menyuruhku untuk menunggu kalian, apa kalian percaya?"
Sungguh mengejutkan! Dan khususnya mengejutkan untuk pemuda berambut merah itu. Kedua bocah yang polos itu mengangguk kuat-kuat. "Kami percaya!" Jawab mereka mantap. "Karena, aku yakin satu-satunya yang tidak akan memarahi kami kalau berbuat seperti ini hanyalah Sang Phoenix saja!" Kata Sima Zhao.
"Benar! Kalau orang dewasa lain, pasti cuma akan memarahi kami dan bilang nakal!" Tambah Xiahou Ba. "Apalagi kalau kami bilang bahwa kami ingin mencari Phoenix. Pasti kami akan dibilang bodoh! Padahal, tidak salah kan mencari Sang Phoenix? Aku sangat-sangat ingin bertemu dengannya sih!" Jelas Xiahou Ba panjang lebar sementara pemuda asing itu hanya memandanginya saja. Kali ini gantian pemuda itu yang heran dan takjub gara-gara mendengar jawabannya. Namun sangka Xiahou Ba adalah pemuda ini bingung karena ia tidak memperkenalkan diri dan asal menyerocos saja. "Oh! Maaf! Aku sampai lupa memperkenalkan diri! Namaku Xiahou Ba! Senang berkenalan dengan gege!"
"Oh, aku juga lupa!" Sima Zhao menepuk jidat. "Namaku Sima Zhao! Salam kenal, gege!"
Perkenalan yang tiba-tiba ini membuat si pemuda berambut merah terkejut. "Oh, nggg... namaku Ling Guang."
"Ling Guang gege, terima kasih banyak, ya!" Dua bocah itu berseru bersamaan, yang cuma dibalas Ling Guang dengan senyuman. "Sekarang kami bisa menjelajahi Yangxiandian ini!"
Tanpa perlu disuruh dua kali, kedua bocah itu mengelilingi bangunan itu. Seluruh isinya tidak ada yang luput dari pandangan mereka. Xiahou Ba menyimpan beberapa cangkir kecil di dalam baju besinya, lagi-lagi dengan alasan untuk kenang-kenangan. Bisa saja cangkir-cangkir itu pernah dipakai Sang Phoenix. Sementara Sima Zhao lebih tertarik mencari melihat-lihat lemari yang ada di ujung sana.
Lemari itu benar-benar aneh. Kelihatan sangat tua tetapi tidak berdebu. Dengan mudah Sima Zhao membuka pintunya, menemukan beberapa lembar kertas, buku, dan perkamen yang lagi-lagi sudah tua. Diambilnya sebuah kertas yang terlihat paling atas dari dari tumpukan tersebut. Ia hanya sempat membaca bagian akhir dari kertas itu.
... Tetapi kubilang, kemari dan lihatlah!
Ketika ketiga Kaisar melihatnya,
dan merasakan kedamaian yang dibawanya,
apa ada yang mampu membawa perang lagi?
Kalau ketiga negara bersatu,
China akan kembali merasakan kedamaian,
Dan dia yang akan menjaganya,
sudahkah mentari pagi menerangi pandangmu?
Kertas itu... tidak lain dan tidak bukan adalah naskah kuno(1)! Dan pasti adalah teks ramalan leluhur yang disimpan di Istana Wei! Oh, Sima Zhao tidak bisa lagi menggambarkan kegirangan hatinya. Tahulah ia sekarang, segala tumpukan kertas yang begitu banyak di dalam lemari itu adalah naskah-naskah kuno yang berisikan mengenai Sang Phoenix!
Dipungutnya tumpukan kertas yang lain. Kali ini, tumpukan kertas yang sepertinya sudah disusun dengan rapi. Sima Zhao membaca kalimat pertama dari kertas tersebut.
Kepada Cao Cao, rekan seperjuanganku dalam masa-masa kehancuran Han.
Ini memang bukan ramalah leluhur. Namun tetap saja Sima Zhao tekun membacanya.
Kau telah berkali-kali bertanya padaku mengenai Phoenix yang menjadi harapan seluruh China. Selama kita berjuang bersama, kita memang melewatkan banyak waktu untuk mendiskusikannya. Bahkan saat-saat kita tidak bertemu pun, aku mengirimkan padamu surat untuk menjawab pertanyaanmu tentang harta China itu. Sepertinya jika seluruh hal mengenai Phoenix harus kukatakan padamu, waktu kita yang sempit tidak akan mengizinkannya.(2)
"Ya Tian!" Pekik Sima Zhao. Tanpa sadar suaranya telah berhasil keluar dari mulutnya. "Ini pun tentang Phoenix!"
Xiahou Ba yang tertarik, langsung meninggalkan pekerjaannya menyimpan 'kenang-kenangan' dan menghampiri Sima Zhao. "Ada apa, Sima Zhao? Menemukan sesuatu yang menarik?"
"Ini! Ini! Ayo baca, Xiahou Ba!"
Keduanya membaca kertas-kertas itu dengan tekun dan teliti, benar-benar seperti sejarahwan saja! Surat-surat itu, yang rupanya berasal dari Kaisar Sun Jian, Kaisar Wu terdahulu, makin lama makin membuat mereka penasaran. Makin penasaran mereka, makin giat mereka membongkar lemari itu dan membaca kertas-kertas dan buku-buku yang ada di sana.
"Hei! Di sini ada tulisan 'Tubuhnya yang tercoreng oleh tanda budak sebagai ganti lambang kekuasaan'! Apa maksudnya, ya?"
"Benarkan? Ya Tian! Ada tanda budak di tubuh Sang Phoenix?"
Ling Guang yang bersandar di dinding hanya tersenyum melihat semangat kedua bocah itu. Anak-anak kecil ini sungguh sangat bertemu dengan Sang Phoenix, bukan? Sungguh aneh, khususnya bocah bernama Sima Zhao itu. Padahal dia adalah anak dari Penasihat Sima Yi! Betapa berbedanya ia dengan ayahnya. Semisalkan Sima Zhao berada di sini dua tahun lalu, dan melihat bagaimana ayahnya memperlakukan Sang Phoenix itu, apa yang akan dilakukannya? Apalagi jika Sima Zhao tahu ayahnya sendiri yang mengukir tanda itu di punggung Sang Phoenix...(3)
"Aku akan membawa pulang semuanya!" Seru Sima Zhao membulatkan tekad.
"Aku juga mau, Sima Zhao! Jangan serakah!" Balas Xiahou Ba tidak mau kalah.
Sekarang mereka berdua berebutan dan bertengkar sendiri.
"Hei! Jangan nakal!" Sahut Ling Guang yang melihat kedua bocah itu mulai mengemasi kertas-kertas, bukan untuk dikembalikan ke lemari tetapi untuk dibawa pulang! "Kembalikan itu ditempatnya!"
Tentu saja kedua bocah ini tidak terima! "Ah, gege sama saja dengan orang-orang tua lainnya!" Sergah Xiahou Ba.
"Benar! Selalu memarahi kalau kami mencari tahu tentang Phoenix!" Tambah Sima Zhao.
Ling Guang tersenyum. "Lho, aku bukan memarahi kalian. Kalian tidak butuh itu lagi, kan?" Si Xiang itu bertanya, dan segera menimbulkan tanda tanya besar di kepala keduanya. "Toh kalian sebentar lagi akan mencari Phoenix itu, kan? Dan kalau sudah melihatnya dengan mata kepala sendiri, memang kalian masih butuh kertas-kertas itu?"
Sangking kaget, Sima Zhao dan Xiahou Ba mengerjap-ngerjapkan mata. Sungguh, mereka tidak mengerti apa yang Ling Guang katakan.
"Selamat berpetualang!" Begitulah kata Ling Guang sebelum ia berbalik dan meninggalkan ruangan. Ia menghilang begitu saja dari pandangan kedua anak itu.
"Lho! Tunggu, Ling Guang gege!" Sima Zhao dan Xiahou Ba berdiri, meninggalkan tumpukan kertas-kertas itu di lantai. Ling Guang tidak ada di ruang tengah, tidak ada di dalam bangunan itu lagi. Akhirnya keduanya berlari menuju pintu depan dan membukanya kuat-kuat, nyaris membantingnya!
Hanya untuk menemukan...
"Hei, anak-anak... Sedang apa kalian..."
"WAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA ! MALING! PENCURI! MONSTER! HANTU!"
Sangking kaget melihat sosok yang baru datang itu, kedua bocah itu lari terbirit-birit dan bersembunyi di kolong meja! Jelas saja pendatang baru itu terkejut melihat aksi kedua bocah yang luar biasa berlebihan itu! Dihampirinya meja tempat kedua bocah itu bersembunyi.
"Hei, kalian ini berlebihan sekali!" Kata pendatang itu sambil mendengus.
Sima Zhao dan Xiahou Ba pun mulai mengenal suara yang sangat familiar itu. Perlahan mereka keluar dari tempat persembunyian dan mengenai sosok pendatang itu sebagai salah seorang Jendral Wei favorit mereka! Biasanya para jendral selalu keras dan kaku, tetapi lain halnya dengan jendral yang satu ini. Ia salah satu dari sedikit Jendral Wei yang murah senyum dan suka bercanda. Yah, kira-kira seperti Penasihan Guo Jia, hanya jauh lebih tidak terlihat misterius.
"Wah! Jendral Li Dian! Kukira siapa..." Xiahou Ba keluar sambil menggaruk-garuk kepalanya sangking malu. Sima Zhao mengikuti dari belakang.
Li Dian, Jendral Wei itu, berkacak pinggang memandangi keduanya. "Kalian ini lagi-lagi nakal. Pasti kalian juga yang membuka pintu Yangxindian ini, ya?"
Keduany menggeleng. "B-bukan! Kami masuk dengan menjebol atap... UPS!" Sima Zhao yang keceplosan langsung menutup mulut. Xiahou Ba, panik, berusaha membalikkan arah pembicaraan. "Nggg... tadi kami lihat ada gege berambut mereka di dalam sini! Pasti dia yang membuka pintu! Jendral Li Dian lihat gege itu, kan? Rambutnya merah dan dikuncir satu di atas! Bajunya juga merah semua!"
Jendral Wei itu makin bingung mendengar Xiahou Ba. Disangkanya bocah itu berceloteh saja. "Mana ada laki-laki berambut merah di sini? Apalagi bisa masuk ke Yangxindian yang dikunci ini? Kalian pasti bercanda!"
Gantian Sima Zhao dan Xiahou Ba yang bingung. Keduanya saling berpandang-pandangan.
"Ya sudah! Yang penting kita keluar sekarang." Kata Li Dian sambil menarik keduanya. Dengan pasrah dua anak kecil ini ikut. "Setelah ini aku harus cepat-cepat ke Chang An untuk bertemu dengan Penasihat Guo Jia. Ya Tian... ada-ada saja masalah di Wei ini. Tiba-tiba saja Pangeran Cao Pi dan Jendral Zhang He menghilang! Entah kenapa juga mereka pergi!" Jendral Wei itu menumpahkan frustrasinya, tanpa sadar ada dua bocah yang mendengarnya. "Mereka hilang, ya sudah(4)!"
Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa Cao Pi, Pangeran Wei itu, menghilang entah kemana. Tidak ada yang tahu jejaknya kecuali Xiahou Dun dan Xiahou Yuan. Namun mereka berdua pun juga, atas perintah Cao Pi sendiri, bersikeras tidak memberitahu kemana Cao Pi pergi dan apa tujuannya.
"Nggg... Jendral Li Dian," Sahut Xiahou Ba dengan suara perlahan, takut kenap semprot Li Dian yang sedang stres. "Sebenarnya... nggg... die memberitahuku alasan kenapa Pangeran Cao Pi pergi. Tapi die juga bilang agar tidak memberi tahu siapa-siapa..."
Li Dian menoleh dengan cepat. "BENARKAH ITU, XIAHOU BAAAAAAAAAA?" Tanyanya, yang sangking berlebihan sampai membuat kedua anak malang itu takut.
"I-i-i-i-iya...!"
"Kalau begitu, beritahukan padaku!"
Tepat sebelum Xiahou Ba menjawab, Sima Zhao membekap mulut sahabatnya itu. "Jendral Li Dian, sebelum Xiahou Ba memberitahu, Jendral harus berjanji pada kami sesuatu!" Tantangnya sambil tersenyum nakal.
"Apa itu?" Tanya Li Dian penasaran.
"Jendral Li Dian akan ke Chang An untuk bertemu dengan Penasihat Guo Jia, kan?" Tanya Sima Zhao. "Kami berdua sebenarnya sangat bosan sekali berada di Istana, Jendral! Jadi, bawa kami pergi ke Chang An!"
"Aku sih tidak masalah kalian ikut, asal orang tua kalian memberi izin." Balas Li Dian berusaha tegas. "Kalian mau ikut, dan orang tua kalian mengizinkan, ya sudah!"
Xiahou Ba yang juga tertarik sesudah mendengar ide Sima Zhao langsung ikut menambahkan. "Tapi kalau kami minta izin, pasti tidak diperbolehkan!" Katanya berusaha membantah. "Pokoknya, aku tidak akan beritahu sampai Jendral Li Dian mengajak kami ikut!" Xiahou Ba melipat kedua lengan dengan tampang menantang.
Li Dian yang sudah kesal malah makin kesal saja. "Aku ingin tahu kenapa Pangeran Cao Pi pergi, dan kalian tidak mau memberitahu, ya sudah!" Ucapnya sambil berjalan keluar hendak meninggalkan kedua bocah itu.
"Kalau Jendral Li Dian tidak mengajak kami," Balas Sima Zhao. "kami akan melakukan sesuatu sampai terjadi apa-apa!"
"Dan kalau sampai terjadi apa-apa pada kami, kami akan bilang ini gara-gara Jendral Li Dian! Biar Jendral Li Dian tahu rasa disemprot die!" Imbuh Xiahou Ba.
Awalnya jelas Li Dian tidak peduli. Tapi lama-lama ia takut juga mendengar ancaman itu. Akhirnya Li Dian berbalik... untuk menemukan kedua bocah itu wajahnya sudah berubah hijau! Ya Tian! Rupanya Sima Zhao dan Xiahou Ba tengah mati-matian menahan nafas sekarang! Benar-benar akan 'melakukan sesuatu sampai terjadi apa-apa'! Kontan Li Dian panik bukan buatan!
"Baiklah! Baiklah! Kalian menang!" Li Dian menyerah tanpa syarat. "Aku akan mengajak kalian ikut. Tapi hanya sampai Chang An saja, ya! Dan lagi, aku ke sana hanya untuk melaporkan pada Penasihat Guo Jia mengenai Pangeran Cao Pi yang hilang, sekaligus memintanya kembali ke Luo Yang."
Kedua anak laki-laki itu melompat dengan semangat dan ber-hore ria, sama sekali tidak menghiraukan Li Dian.
"Dan sekarang, giliran aku yang menagih janji." Sahut Jendral Wei itu. Sima Zhao dan Xiahou Ba berbalik memandanginya. "Xiahou Ba, kau bilang kau akan memberitahu alasan kenapa Pangeran Cao Pi pergi, kan?"
"Ah, iya! Aku juga mau tahu tentang itu!" Tambah Sima Zhao bersemangat. "Terakhir kali aku bertemu dengannya adalah di Yangxindian saat aku membaca dan ngomong-ngomong dengannya. Sesudah itu aku tidak pernah melihatnya lagi..."
Xiahou Ba memandangi sahabatnya dan Jendral Wei itu. Beberapa saat lamanya ia menimbang-nimbang apakah perlu memberitahukannya atau tidak. Pada akhirnya ia pun membuka mulut. "Kata die..." Xiahou Ba memulai. Kedua pendengarnya mulai penasaran bukan buatan, menunggu-nunggu kalimat yang keluar dari bocah itu. "... Pangeran Cao Pi pergi untuk mencari Sang Phoenix..."
"APAAAAAAAAAAAA?" Bukan main kagetnya Xiahou Ba melihat rekasi keduanya. Jendral Li Dian terkejut, tetapi menunjukkan wajah penuh keraguan sekaligus tidak percaya. Sementara Sima Zhao tersenyum lebar, kelihatan semangat alih-alih mendengar kata 'mencari Phoenix'. Xiahou Ba sangat maklum dengan temannya, bagaimanapun ia juga ingin mencari Sang Phoenix. Tapi Li Dian? Kenapa jendral itu terlihat sangat khawatir?
"Ada apa, Jendral Li Dian?"
"Apakah ayahmu memberitahu kenapa ia sangat ingin menemuinya?" Jendral itu balik bertanya. "Soalnya, Pangeran Cao Pi sangat membenci Phoenix itu..."
Gantian kedua bocah itu yang bingung dan kaget bukan buatan.
"T-t-t-t-tapi... kenapa, Jendral Li Dian? Kenapa bisa ada orang yang sangat benci pada Sang Phoenix?" Tanya Xiahou Ba. Suaranya mulai pecah, nyaris saja anak laki-laki yang masih kecil itu menangis.
Li Dian menggeleng dengan wajah sedih. "Aku pun tidak mengerti..." Jawabnya. "Yang pasti, dua tahun yang lalu Sang Phoenix itu pernah ada di sini. Dan Pangeran Cao Pi memperlakukannya dengan begitu rendah. Ya, bahkan sesudah ia keluar dari istana, Pangeran Cao Pi masih mencoba memburunya. Hanya itu saja yang kuketahui. Selebihnya mungkin ayah kalian lebih tahu."
"T-tunggu sebentar... Jendral bilang... Pangeran Cao Pi memperlakukan Phoenix itu dengan begitu rendah?" Tanya Xiahou Ba, benar-benar tidak percaya dengan pendengarannya. "Lalu... apa yang dilakukan Sang Phoenix?"
Jendral Wei itu hening sejenak, menunduk sampai wajahnya tidak kelihatan oleh kedua bocah itu. "Dia cuma diam, membiarkannya diperlakukan seolah dia berada di bawah kaki orang-orang yang menyakitinya. Sama sekali tidak membela diri."
Jawaban itu seperti petir yang menyambar bocah yang sedari tadi diam saja. Sima Zhao membelalakkan matanya. "Ya Tian! Pantas saja...!"
"Pantas saja apanya?"
Sima Zhao mulai mengingat kejadian beberapa minggu lalu. "Sebenarnya, sehari sebelum Pangeran Cao Pi menghilang, aku bertemu dengannya di Yangxindian ini." Jelas Sima Zhao. "Pangeran Cao Pi bertanya hal yang menurutku sangat aneh saat itu. Dia bertanya 'bagaimana kalau ada orang yang melukai Sang Phoenix'? Bahkan bertanya juga 'bagaimana kalau semisalkan Phoenix itu hanya diam saja dan membiarkan orang-orang itu melukainya?'"
"Lalu, kau jawab apa?" Tanya Li Dian. Penasaran, panik, khawatir, semua bercampur jadi satu dalam benaknya.
"Aku bilang bahwa itu artinya, apa yang dialami oleh Sang Phoenix sangat berat! Bayangkan saja, ia harus menahan amarah dirinya sendiri, dan menahan amarah para Abdi Langit yang melihatnya!" Ucapnya dengan suara bergetar hebat. Matanya mulai memerah dan terasa panas. "Soalnya... soalnya kalau satu detik saja Phoenix itu berpikir untuk balas dendam... pasti orang-orang yang menyakitinya akan musnah, kan? Ya, kan?" Sima Zhao menggenggam ujung baju Li Dian kuat-kuat, mengharapkan jawabannya.
Perkataan Sima Zhao tak lantas dijawabnya. Jendral Wei itu terdiam, memutar kembali segala ingatannya di masa lalu. Waktu itu ia tidak terlalu ikut campur masalah aneh Pangeran Cao Pi dan laki-laki Wu yang tidak jelas asal-usulnya itu. Yang ia ingat hanyalah suatu malam dimana ia mendapat undangan makan malam di Taihedian-Aula Keharmonisan Besar(4). Pasti malam itu bukan malam yang biasa kalau sampai Pangeran Cao Pi mengundang bawahan-bawahannya untuk makan, di Taihedian pula! Ia ingat malam itu ia pergi dengan penuh harap. Mungkin kenaikan pangkat? Atau berita kemenangan?
Namun perkiraan Li Dian jauh meleset. Malam itu malam yang biasa saja, tidak ada artinya. Selain makan-makan, hanya ada seorang laki-laki dari Wu yang dibawa masuk ke ruang itu, dan diperlakukan dengan rendah seolah dia binatang. Waktu itu Li Dian menyaksikannya dengan biasa-biasa saja. Lagipula, bukankah ini suatu hal yang wajar bagi tawanan perang manapun? Laki-laki Wu itu adalah tawanan, bukan? Dan memang sepantasnya itu menjadi nasibnya. Salah sendiri jika ia sampai tertangkap.
Barulah beberapa waktu kemudian ia tahu bahwa laki-laki itu adalah Sang Phoenix, namun tetap saja ia tidak mengindahkannya.
Detik inilah baru ia mendengar hal yang sangat mengejutkan dari Sima Zhao, anak kecil yang tidak tahu apa-apa ini.
"Soalnya... soalnya kalau satu detik saja Phoenix itu berpikir untuk balas dendam... pasti orang-orang yang menyakitinya akan musnah, kan? Ya, kan?"
Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepala Li Dian. Harusnya aku mati saat itu. Harusnya aku musnah... Kutuk Li Dian dalam hati. Memang benar bukan ia yang merencakan atau melakukan kejahatan itu. Tapi ia hanya diam saja, tidak menghentikan atau melakukan apapun. Ia mengangap sepi hari itu.
"Aku..." Gumam Li Dian tanpa sadar. "... harus bertemu Phoenix itu..."
Sima Zhao dan Xiahou Ba terkejut, bukan hanya karena ucapan tetapi juga ekspresi Li Dian yang tidak terbaca. Wajah jendral itu memucat seperti kertas, seolah baru saja melihat hantu. "Jendral Li Dian, ada apa?" Tanya Sima Zhao. "Apa yang terjadi sebenarnya? Aku tidak tahu apa-apa! Tolong beritahu aku!" Pintanya dengan memaksa. Kali ini bocah itu mulai merasakan ketakutan. Ada apa sebenarnya di Wei ini? Di tambah lagi, Sang Phoenix itu pernah ada di sini? Yang ada di kepala Sima Zhao adalah bahwa begitu melihat Sang Phoenix, semua pasti akan tersenyum gembira. Tapi... kenapa Pangeran Cao Pi malam membencinya? Dan kenapa sekarang Jendral Li Dian pun...?
Li Dian hanya memandangi Sima Zhao. Ia tahu anak sekecil ini tidak boleh tahu apapun. Namun toh pada akhirnya kenyataan yang pahit itu keluar dari mulutnya.
Digenggamnya bahu Sima Zhao kuat-kuat. "Sima Zhao, dengar baik-baik. Aku, ayahmu, Pangeran Cao Pi, semua orang yang ada di Wei ini pantas mati." Ucapnya dengan suara rendah. Kedua anak itu, khususnya Sima Zhao, bergidik ngeri. "Dan... dan... dan ayahmu... dengan tangannya sendiri telah mengukir huruf 'li', tanda budak itu, di punggung Sang Phoenix...(3)"
Detik itu juga, Sima Zhao merasa dunianya sudah hancur di hadapannya.
Airmata mulai memaksakan diri untuk keluar dari sepasang kelopak matanya. Sima Zhao tidak dapat menahan tangisnya lagi, dan memang tidak mau. Ia menangis sejadi-jadinya, membiarkan kedua orang itu dan kalau boleh langit dan bumi sekalian mendengar kesedihannya.
"Tidak mungkin...!" Seru Sima Zhao. "Jendral Li Dian! Itu cuma bohong, kan? Itu cuma bercandanya Jendral Li Dian saja, kan?" Seharusnya pertanyaan itu tidak perlu keluar. Dari melihat wajah Jendral Wei itu saja harusnya Sima Zhao harus mengetahuinya.
Namun toh Li Dian memberi jawaban. Ia menggeleng.
Sima Zhao mematung. Orang yang paling dekat dengannya, yang dikaguminya sebagai seorang ayah... rupanya telah merendahkan Sang Phoenix itu begitu rupa?
"KENAPAAAA...?" Teriaknya, suaranya pecah. "Kenapa die melakukannya? Apakah Sang Phoenix pernah jahat padanya? Tidak, kan?" Volume suaranya makin meningkat, sampai-sampai jeritannya mencapai halaman. Perasaannya tertumpah begitu saja. "Aku benci die! Aku benci! AKU TIDAK MAU PUNYA AYAH SEPERTINYAAAAAA!"
"SIMA ZHAOOOOO!"
Bocah yang satunya, yang lebih muda, dengan segera memeluknya. Xiahou Ba juga sedang menangis. Betapa terkejutnya Sima Zhao melihat kawannya itu.
"Jangan bilang... begitu! S-sima Zhao, kau jangan... sedih! Bukan hanya kau... yang mengalaminya...!" Seru Xiahou Ba sembari melepaskan pelukan pendeknya. Diamatinya mata temannya yang masih basah dan merah. "Die berkata padaku... bahwa dulu sekali dia juga pernah berbuat hal yang begitu jahat pada Sang Phoenix...(5)"
Xiahou Ba terdiam. Sima Zhao pun tidak membalas, seolah meminta kawannya untuk melanjutkan.
"Tapi... Sang Phoenix memaafkannya, dan sama sekali tidak membencinya..." Lanjutnya. "Sima Zhao, kupikir Sang Phoenix juga akan memaafkan ayahmu dan tidak membencinya... Jadi, kau pun tidak boleh membencinya, ya?"
"X-xiahou Ba..." Sima Zhao memandangi kawannya. Cepat-cepat disekanya matanya. "I-iya... aku mengerti..."
Li Dian terdiam mendengar perkataan Xiahou Ba. Sungguhkah? Benarkah Sang Phoenix itu akan memaafkannya? Dan karena itukah Cao Pi pergi mencarinya? Untuk memastikan hal ini? Jendral Wei itu terdiam. Tidak ada yang lebih sulit daripada percaya bahwa Sang Phoenix yang harusnya dapat menghancurkannya dengan begitu mudah, telah memaafkannya dan tidak membencinya.
Kurasa... sesudah menemui Penasihat Guo Jia... aku harus mencari Phoenix itu juga. Pikir Li Dian.
"Jendral Li Dian," Suara Sima Zhao dan Xiahou Ba membuyarkan lamunannya. "Jendral tidak apa-apa?"
"Tidak..." Jawabnya sambil menggeleng.
Kedua bocah itu tersenyum. "Baiklah, Jendral! Kita ke Chang An sekarang juga, ya!"
(1) Baca "Phoenix FORM: Unbroken Thread" chapter 4 (Which Must Be Through) kalo lupa~~~
(2) Baca "Phoenix FORM: Unbroken Thread" chapter 7 (Letter from An Old Friend) kalo lupa~~~
(3) Baca "Phoenix FORM: Unbroken Thread" chapter 3 (The Sign) kalo lupa~~~
(4) Mengikuti sahabat saya, Silvermoonarisato di Fanficnya 'STUCK!' di sini pun Li Dian punya kebiasaan bilang 'ya sudah!' Wkwkwkw...
(5) Baca "Phoenix FORM: Gentle Flame" chapter 3-4 (Tragedy of Wujun) kalo lupa~~~
Dua hari menjelang dipublisnya sang Fanfic abal... *coret*dan saya belum dapet judul yang pas*coret* Wokey~ sekali lagi, saya mau membuka kesempatan selebar-lebarnya untuk anda memunculkan OC baik di fanfic ini maupun di fanfic saya yang bakal di publish~ XDDD Trus, kalo anda punya kesan pesan tertentu pada character-character tertentu, bisa disampaikah melalui review~ XDDDD
Neeway, sekian dulu aja~ Jangan lupa update cerita ini adalah minggu depan hari Jumat~ Dan untuk fic baru saya adalah hari Selasa 1 Januari 2013 (that's it, kalo dunia belum kiamat... XDDDD)
