Tales Of Darkness And Light
By : Razux
.
.
.
.
Disclaimer : Gakuen Alice belong to Higuchi Tachibana
Chapter XXXV
"APA KATAMU!" teriak Nogi penuh kemarahan sambil berdiri dari kursi tahta kerajaan Issengard.
"Benar Yang Mulia… Kota Lixir telah jatuh." Jawab prajurit di depannya penuh kegugupan.
"Tidak mungkin. Kota Lixir memiliki sepuluh batang meriam sihir dan seratus ribu prajurit, mereka tidak mungkin akan kalah semudah itu. Berapa jumlah musuh yang menyerang? Dan siapa pemimpinnya?" tanya Kazumi yang ada di samping Nogi tidak mempercayai apa yang baru didengarnya. Sedangkan Tsuabasa yang berada di sampingnya segera membuka mulut menanyai nasib mereka serta sepupunya yang menjabat sebagai Jendral di Kota tersebut. "Bagaimana dengan semua yang ada di kota Lixir? Apakah Kaname, Narumi dan yang lainnya selamat?"
Pertayaan Tsubasa membuat prajurit itu terdiam sejenak, namun dengan mengumpul keberanian dan kekuatan yang dimilikinya, dia mengangkat kepalanya menatap lurus ketiga Raja yang ada di depannya. "Jendral Kaname selamat dan berada di Kota Elvix, namun, Walikota Lixir, Narumi-sama berserta enam puluh ribu prajurit kota Lixir tidak….."
Ketiga Raja yang mendengar kabar itu tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejut mereka lagi. Nogi langsung terduduk kembali di atas kursi tahtanya, sedangkan Tsubasa dan Kazumi hanya bisa berdiri mematung ditempat mereka. Kesedihan yang mendalam terlihat dengan jelas di wajah mereka. Mereka telah kehilangan Narumi dan juga lima puluh ribu prajurit mereka—kehilangan yang sangat besar sekali.
"Lalu.. Mereka yang selamat di Kota Lixir mengatakan bahwa musuh yang menyerang mereka berjumlah—satu orang…" Lanjut prajurit itu lagi.
Apa yang dikatakan prajurit tersebut langsung mendapat perhatian dari ketiga Raja tersebut. Kebingungan menyerang mereka. Satu orang? Tidak mungkin di dunia ini ada orang yang mampu mengalahkan dan membunuh orang sebanyak itu sendirian dalam semalaman. Namun, wajah Tsubasa dan Kazumi tiba-tiba memucat, sebab mereka tersadar bahwa di dunia ada seorang yang pasti dapat melakukan hal mustahil tersebut.
"T-tidak mungkin..," ujar Tsubasa terbata-bata penuh keraguan. " S-siapa orang itu?" tanyanya.
"Orang itu adalah… Natsume-sama…"
.OXOXO.
Kaname duduk diam membisu sambil mengenggam kedua tangannya. Dia menundukkan kepalanya yang diperban ke bawah sambil menutup matanya. Penyesalan dan perasaan bersalah memenuhi hatinya hingga terasa sangat sesak. Dia telah gagal. Dia yang seharusnya menjaga Kota Lixir telah gagal—Kota Lixir telah jatuh.
Dia tidak bisa mengingat apa yang terjadi dengan jelas. Yang dia ingat hanyalah Natsume membunuh Narumi di depan matanya dan kembali menyerang pasukan mereka tanpa pandang bulu—membantai mereka degan begitu sadis dan brutal. Dia berusaha menyerang Natsume dengan sihirnya, namun pemuda itu dengan mudah menghindar sihirnya sambil menyerangnya. Natsume benar-benar kuat, dia tidak dapat berbuat banyak dalam menghadapinya. Dia tidak bisa mengingat lagi apa yang terjadi setelah Natsume berhasil menendangnya hingga menabrak tembok rumah penduduk kota dengan kuat dan melukai kepalanya. Dia jatuh pingsan dengan suara teriakkan di sekelilingnya.
Saat dia sadar, yang dilihatnya adalah rumah-rumah penduduk kota yang telah hancur dan hangus terbakar, mayat-mayat para prajuritnya yang tercabik-cabik, bau anyir darah yang menyengat hidung, darah merah yang mengalir membasahi tanah, suara rintihan serta tangisan mereka yang masih hidup—pemandangan di depannya adalah pemandangan neraka. Kota Lixir tidak dapat ditinggalin lagi. Sebagian besar kota hancur, kota itu tidak bisa lagi menjadi benteng pertahanan mereka. Dan dia juga ragu ada yang masih berani tinggal di tempat itu saat melihat apa yang telah dilakukan Sang Kegelapan di atas tanah tersebut.
"Kaname-san, kau tidak apa-apa?" tanya seseorang tiba-tiba sambil menepuk pundak Kaname dengan pelan.
Kaname segera mengangkat kepalanya dan menemukan Ioran sedang menatapnya dengan wajah penuh kekhawatiran. Dengan mengumpulkan segenap keberanian di dalam hatinya, dia membuka mulutnya untuk bertanya pada Ioran. "A-apakah kalian menemukan, Luna?"
Ioran menundukkan kepalanya ke bawah dan mengelengkannya dengan pelan. Melihat sikap Ioran, Kaname tidak bertanya apa-apa lagi, dia hanya menutup matanya dan berusaha menahan perasaan sedih, takut serta gelisah yang ada dalam hatinya.
Saat tersadar dan menemukan kota Lixir telah hancur, dia berusaha untuk mencari Luna. Namun, dia tidak berhasil menemukannya, gadis itu menghilang tanpa pertunjuk sedikit pun. Dalam kekacauan tersebut ada berapa puluh ribu orang yang mati tanpa bisa diindifikasi. Dia hanya bisa terus berdoa dan berdoa semoga Luna tidak termasuk salah satu dari mereka yang telah mati.
Ioran mengangkat kepalanya menatap sekelilingnya. Mata coklatnya menatap sekelilingnya yang penuh dengan para prajurit yang terluka serta para tim medis yang berusaha menyembuhkan mereka. Gedung kesenian yang merupakan gedung terbesar di Kota Elvix kini telah berubah menjadi rumah sakit bagi para prajurit yang mengungsi dari Kota Lixir. Dia sudah mendengar apa yang terjadi dan berapa banyak orang yang telah mati dalam satu malam di tangan satu orang.
Natsume.
Dialah yang membantai dan menghancurkan Kota Lixir dalam satu malam. Terlalu mengejutkan, dia tidak bisa mempercayai apa yang diceritakan Kaname, tapi melihat ekpresi wajah Jendral muda dan juga luka para prajurit Kota Lixir, dia tahu, mereka tidak berbohong. Natsumelah pelakunya. Dia yang telah menghilang dari hadapan mereka tanpa sedikit petunjuk sedikit pun ternyata telah kembali dan bergabung dengan Kuonji.
Pikiran Ioran terus penuh dengan Natsume semenjak dia mengetahui apa yang terjadi. Dia merasa ada yang salah. Dia ingat dengan jelas bagaimana sikapnya terhadap Mikan. Senyum, pandangan mata yang begitu lembut serta ketakutan dan kekhawatiran di wajahnya saat melihat Mikan sakit. Sikapnya yang tetap pasif saat penduduk kota memaki, menghina dan melukainya dulu—itu tidak mungkin sebuah kebohongan ataupun sandiwara. Pasti telah terjadi sesuatu hingga membuatnya jadi seperti itu, hanya saja tidak ada yang tahu.
Ioran tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi di kedepannya. Sang Kegelapan yang memihak Theoden jelas telah menjadi musuh mereka. Apa yang akan terjadi dengan Mikan yang ada bersama mereka sekarang? Apa yang akan terjadi dengan Mikan jika dia mengatahui di mana dan apa yang telah dilakukan Natsume sekarang?
Takdir.
Sang Kegelapan dan Sang Cahaya. Apakah ramalan itu benar-benar akan menjadi kenyataan sekarang?
.OXOXO.
"Kenyang sekali!" seru Mikan sambil tertawa dan duduk di bawah pohon sakura dalam taman istana Issengar.
"Itu akan menjadi keajaiban dunia jika kau belum kenyang," ujar Yoichi yang ada di sampingnya tiba-tiba dengan wajah tanpa ekspresi. "Bahkan babi pun tidak akan makan sebanyak itu."
"Hei! Jangan berkata seperti itu, Yoichi! Aku makan sebanyak itu karena aku sangat lapar saja, tahu?" balas Mikan kesal, senyum di wajahnya menghilang dan digantikan dengan wajah cemberut.
"Apa yang dikatakan Yoichi tidak salah, aku juga setuju dengannya." Sela Hotaru menyentujuhi ucapan Yoichi dengan kalem.
"Hotaru! Masa kau juga?" teriak Mikan semakin cemberut. Sejenak kemudian dia menolehkan wajahnya menatap Nobara yang juga berada di sana. "Nobara, kau tidak akan berpikir seperti itu, kan?"
Nobara yang tiba-tiba ditanya seperti itu menjadi gugup, "A-aku tidak berpikir seperti itu.." Jawabnya pelan sambil terbata-bata.
"Kau tidak perlu berbohong untuk gadis bodoh itu, Nobara," potong Hotaru sambil menolehkan wajahnya menatap gadis bermata biru tua di depannya. " Itu hanya akan menambah beban dalam hatimu saja."
"HOTARU!" teriak Mikan sambil menolehkan kepalanya pada Hotaru lagi. Wajahnya memerah karena menahan kekesalan dalam hatinya, mata coklat madunya menatap tajam gadis bermata violet di depannya, namun yang bersangkutan sama sekali tidak mempedulikannya.
"A-aku benar-benar tidak berpikir seperti itu, Hotaru. A-aku.." Ujar Nobara tiba-tiba dan membuat Mikan segera menolehkan kapalanya menatap Nobara. "Benarkah?" tanyanya polos.
"Benar sekali, Mika—" Nobara tidak memiliki kesempatan untuk menyelesaikan ucapannya tersebut, sebab Mikan telah meloncat memeluknya sambil tertawa. "Terima kasih, Nobara. Kau memang yang terbaik!"
"Eh! Eh!" Seru Nobara terkejut bercampur bingung sebab dia tidak menyangka ucapan sederhananya barusan akan membuat gadis berambut coklat di depannya bersikap seperti ini. Namun, sejenak kemudian dia juga ikut tertawa dan membalas pelukkannya dengan erat.
Hotaru dan Yoichi yang melihat sikap Mikan tidak mengucapkan apa pun, mereka berdua hanya diam menatapnya dengan penuh kelegaan. Senyum di wajahnya sekarang bukanlah lagi senyum palsu, tapi senyum aslinya. Gadis itu akhirnya mulai kembali menjadi dirinya yang seharusnya. Semua orang tahu, mereka harus berterima kasih kepada Nobara untuk itu. Meskipun dia adalah putri dari musuh mereka, mereka menerimanya dengan baik, sebab hutang mereka kepadanya sudah terlalu banyak. Tanpa bantuannya dulu, mustahil mereka dapat meninggalkan istana Rohirrim dengan mudah.
"PUTRI HOTARU! PANGERAN YOICHI! PUTRI NOBARA!" teriak seseorang tiba-tiba hingga membuat Mikan, Hotaru, Yoichi dan Nobara yang ada di bawah pohon sakura menolehkan wajah mereka menatapnya. Kebingungan menyelimuti mereka saat melihat seorang dayang berlari ke arah mereka, "Putri.. Pangeran.. A-anda sekalian di-dipanggil Yang Mulia Raja Kazumi.." Ujar dayang itu terbata-bata karena napasnya yang tidak beraturan saat dia tiba di depan mereka.
Hotaru, Yoichi dan Nobara tidak tahu apa yang ingin disampaikan Kazumi, namun melihat sikap dayang di depan mereka, mereka merasa, apa pun yang ingin disampaikan pasti sangat penting. Tanpa membuang waktu lagi mereka langsung berdiri.
"Ayo, kita pergi, idiot. Paman bukanlah Raja bayangan bodoh itu. Apa yang ingin disampaikannya pasti penting." Ujar Yoichi kalem sambil mengulurkan tangannya pada Mikan yang masih duduk dia atas tanah.
"A-anu.. P-Pangeran Yoichi, Yang Mulia Raja Kazumi menyampaikan pesan pada hamba bahwa hanya anda bertiga saja yang dipanggil beliau. Sedangkan untuk Mikan-sama, anda diminta untuk menunggu mereka di sini…" Ucap dayang itu tiba-tiba penuh ketakutan sambil menatap Yoichi dan Mikan.
"Eh!" seru Mikan terkejut. "Kenapa?"
"Maaf, h-hamba tidak tahu, Mikan-sama." Jawab Dayang itu sambil menundukkan kepalanya meminta maaf.
"Paling Yang Mulia Kazumi ingin membahas strategi dalam perang," Ujar Hotaru tiba-tiba sambil menolehkan wajahnya yang tanpa ekspresi menatap Mikan. "Kau hanya akan menjadi penghambat kelangsungan rapat saja jika ada di sana, sebab kau pasti akan bertanya terus karena tidak tahu apa yang sedang kami bahas."
"HOTARU!" teriak Mikan penuh kesal.
"Apa yang dikatakan Kak Hotaru benar sekali. Lebih baik kau tunggu di sini saja, idiot." Tambah Yoichi mendukung apa yang dikatakan Hotaru.
"YOICHI! Masa kau juga!" teriak Mikan lagi. Dia tahu apa yang dikatakan mereka berdua benar, dia pasti hanya akan menjadi penghambat rapat. Namun, dia tidak mungkin mengakuinya. Dia ingin ikut dalam rapat itu, meski dia hanya akan menatap dan mendengar semua yang dibahas dalam diam. Dengan pelan sambil tersenyum, Mikan menolehkan wajahnya menatap Nobara. "Nobara, kau tidak akan berpikir seperti itu, kan?"
"Eh!" seru Nobara terkejut karena ditanyai tiba-tiba oleh Mikan.
"Jangan pedulikan pertanyaan bodohnya. Ayo, kita pergi," sela Hotaru dengan wajah tanpa ekspresi sambil menarik tangan Nobara menjauhi Mikan yang berdiri dengan wajah bengong. Dia kemudian menolehkan wajahnya menatap dayang di depannya. "Tunjukkan jalannya."
"B-baik. Silakan, Putri.." Balas dayang tersebut dan segera menuntun Hotaru dan Nobara menuju tempat Kazumi berada.
"Hei! Tunggu!" teriak Mikan ingin berlari mengejar mereka berdua. Namun baru tiga langkah dia berlari, Yoichi yang ada di sampingnya segera menghentikannya. "Kau tunggu di sini, Idiot. Jangan menganggu kami semua." Perintahnya.
"T-tapi—" balas Mikan terbata-bata.
"Tunggu kami di sini, kami akan segera kembali. Dan kami pasti akan menjelaskan semua yang kami bahas padamu." Potong Yoichi dan berlari mengejar Hotaru serta Nobara tanpa menolehkan wajahnya sedikit pun pada Mikan.
Mikan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tahu, tidak ada gunanya dia mengejar mereka yang ada di depannya sekarang, sebab dengan sikap Hotaru dan Yoichi yang seperti itu, mereka pasti tidak akan membiarkannya ikut dalam rapat yang akan diadakan.
Nobara yang menolehkan kepalanya ke belakang menatap Mikan yang berdiri seorang diri di bawah pohon sakura mulai merasa kasihan dan juga bersalah. "H-Hotaru, kurasa tidak akan ada masalah jika kita membiarkan Mikan ikut bersama kita." Ujarnya pelan.
Mendengar ucapan Nobara, Hotaru menolehkan wajahnya pada Putri Rohirrim di sampingnya. "Mikan tidak boleh ikut dengan kita sekarang. Aku tidak tahu apa yang ingin disampaikan Raja Kazumi, tapi jika dia tidak ingin Mikan ikut dan mengetahuinya, apa yang ingin disampaikannya pasti berkaitan dengan cowok buta itu..."
Melihat mereka yang berjalan meninggalkannya tanpa menolehkan kepala sedikit pun, wajah Mikan yang tadinya penuh kebingungan segera berubah cemberut dan kembali duduk di atas tanah sambil menyandarkan badannya pada batang pohon sakura. "Kenapa aku selalu di kesampingkan seperti ini? Aku, kan tidak begitu bodoh. Dan juga, aku kan bisa belajar tentang apa yang akan mereka bahas." Gerutu Mikan pelan penuh kekesalan.
Dengan pelan, dia mengangkat kepalanya menatap langit biru di atasnya. Angin yang berhembus dengan pelan memainkan rambut panjangnya. Kesendiriannya serta suasana tenang dan damai di sekitarnya membuatnya teringat lagi akan masa kecilnya. Sebuah senyum kecil terlintas di wajahnya. Keadaanya sekarang mirip sekali saat dia masih hidup bersama Natsume di dalam hutan terlarang—dia yang selalu menunggu Natsume kembali dari mencari makanan di bawah pohon sakura. Kerinduan akan pemuda bermata merah itu kembali memenuhi hatinya. Namun, dia tidak menangis lagi. Ketakutan, kesedihan, kebingungan memang masih ada, tapi itu tidak membuatnya kehilangan arah.
Kepercayaan.
Sejak dia memutuskan untuk mempercayai pemuda itu, dia kembali dapat melihat sekelilingnya dan berpikir dengan jernih lagi. Pasti ada alasan tidak terucapkan yang membuat Natsume bersikap seperti itu padanya, walau tidak ada seorang pun yang tahu apa itu. Dia mempercayai Natsume dengan segenap perasaannya, hal itu tidak akan pernah berubah sedikit pun seperti sepuluh tahun yang dihabiskannya semenjak terlahirkan di dunia ini bersamanya.
"Kau sedang apa? Kau baik-baik saja, kan, Natsume?" Gumamnya pelan
.OXOXO.
"Natsume…"
Natsume langsung membuka mata merah darahnya saat dia mendengar suara bagaikan denting lonceng yang memanggilnya dengan lembut. Dia segera bangkit dan menatap sekelilingnya. Namun saat dia menyadari di mana dia berada, dia segera tertegun. Gadis itu tidak mungkin ada di tempat ini, pemilik suara itu tidak mungkin berada di tempatnya berada sekarang. Mikan tidak akan ada di sini.
Pandangan matanya kemudian jatuh pada sekujur badannya. Pakaian yang koyak dan sangat kotor akibat darah yang telah mengering serta tubuh penuh dengan luka yang yang sudah mulai menutup. Dengan pelan dia mengangkat kedua tangannya yang penuh dengan darah kering dan menatapnya dalam kebisuan.
Darah ditangannya adalah darah dari para prajurit di Kota Lixir, darah dari mereka yang telah dia bunuh dengan brutal tanpa berpikir panjang. Dia memang telah berubah, berubah mendekati sosok dirinya yang sebenarnya saat menaklukkan Kota Lixir. Namun ada perbedaannya, dia tidak kehilangan kesadaraannya lagi. Dia tidak menjadi sosok makhluk yang hanya tahu membunuh dan menghancurkan lagi. Darah merah yang hangat, bau anyir darah yang menusuk hidung, suara teriakkan kesakitan dan ketakutan, serta kematian mereka yang dia bunuh—dia ingat itu semua dengan jelas.
Perasaan sakit, bersalah dan juga berat menghantuinya setiap kali dia mengakhiri kehidupan seseorang. Perasaan tidak menyenangkan itu sangat menyengsarakan dan seakan ingin membuatnya akan menjadi gila. Namun dia masih bisa menjaga kewarasannya dengan berpegangan pada seseorang—berpegang akan Mikan. Dia sudah bersumpah akan menjaganya untuk selamanya dan dia pasti akan menepatinya sampai akhir—untuk melindunginya, menjauhkannya dari kesakitan, untuk keselamatannya, dia akan melakukan apa pun, meski itu artinya melumuri tangannya dengan darah lagi.
Dia kembali membaringkan badannya di atas tanah. Mata merahnya menatap lurus pohon sakura kering di atasnya dalam taman istana kerajaan Theoden sejenak sebelum akhirnya dia kembali menutup matanya dengan pelan.
Lima hari telah berlalu semenjak Kota Lixir jatuh. Dia dan Luna telah kembali ke ibukota kerajaan Theoden, Thixen. Saat dia tiba di istana kerajaan Theoden, semua yang melihatnya menatapnya penuh kengerian dan ketakutan. Dia tidak menyalahkan mereka, sebab siapa yang tidak takut saat melihat dirinya yang penuh darah serta mendengar apa yang telah dia lakukan.
Dia tidak mempedulikan Kuonji yang menyambutnya dengan suka cita, dia langsung meninggalkannya, berjalan memasuki taman istana Theoden, membaringkan dirinya di bawah pohon sakura kering ini dan menutup matanya. Dia tidak membiarkan siapa pun mendekatinya, dan semua yang ada pun terlalu takut untuk mendekatinya, karena itu keadaanya masih sangat berantakkan. Dia tidak membersihkan dirinya, bahkan dia pun tidak memakan apa pun semenjak lima hari yang lalu.
"Kakak!" Panggil seseorang tiba-tiba dengan riang. Tanpa membuka matanya, Natsume tahu yang memangginya itu adalah Aoi. Hanya dia seorang sajalah yang berani memanggilnya seperti itu di tempat ini.
Aoi yang berlari dengan riang mendekati Natsume tidak dapat menyembunyikan perasaan gembiranya, sebab sudah lebih dari sepuluh hari dia tidak bertemu dengan kakaknya itu. Dia ditugaskan Kuonji untuk mengambil sesuatu dari Persona yang sedang menuju kerajaan Rohirrim. Namun, kegembiraan dalam dirinya segera menghilang saat dia melihat kondisi Natsume yang sangat berantakan.
"KAKAK!" teriakknya penuh ketakutan dan berlari mendekati pemuda di depannya, "A-ada apa denganmu? Kenapa kau menjadi seperti ini? Siapa yang melakukan ini padamu?" tanyanya penuh kepanikan.
"Jangan ribut, Aoi." Balas Natsume tanpa membuka matanya dengan kalem.
"T-tapi.. Tapi, kau terlu—"
"Itu luka yang di dapatkannya saat menaklukkan Kota Lixir, Aoi." Potong seorang wanita dari belakang Aoi tiba-tiba mengejutkannya.
Natsume tetap tidak membuka matanya karena dia sudah mengetahui kehadiran orang itu sejak awal, sedangkan Aoi segera menolehkan kepalanya ke belakang melihat pemilik suara tersebut. Mata merah darahnya langsung terbelalak saat melihat siapa orang di belakangnya. "L-Luna-san.."
Luna tersenyum melihat reaksi Aoi, dengan pelan dia berjalan mendekati mereka berdua. Aoi tidak mengatakan apa pun, dia hanya diam membisu karena tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak penah dapat akrab dengan Luna, dan dia juga merasa Luna tidak menyukainya. Semenjak dia membuka matanya dan bertemu dengannya, Sang Penjaga Cahaya memang selalu tersenyum padanya, namun dia bisa merasakan ada yang salah dengan senyumnya. Lalu matanya, dia selalu merasa mata violet tersebut selalu menatapnya dengan pandangan yang tidak dapat dijelaskannya.
Saat Luna tiba di samping mereka, dia segera membungkukkan badan sambil mengangkat tangannya untuk menggunakan sihir penyembuh menyembuhkan luka yang ada di sekujur badan Natsume.
Mata merah darah Natsume segera terbuka dan menatap Luna yang ada di sampingnya dengan tajam. "Apa maksudmu melakukan ini?" tanyanya dingin.
Senyum di wajah Luna semakin lebar mendengar pertanyaan tersebut. "Kau tidak membiarkan siapa pun menyembuhkan lukamu karena kau merasa ini adalah salah satu bentuk penembusan dosamu, kan? Tidak akan kubiarkan kau melakukan itu."
Natsume tidak membalas ucapan Luna, dia hanya diam membisu manatapnya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Dosamu tidak akan pernah tertembus tidak peduli apa yang kau lakukan. Kau harus mengingat dosamu seumur hidupmu, makhluk terkutuk. Tidak akan kubiarkan kau mati, akan kupastikan kau hidup selamanya dalam neraka di dunia ini." Lanjutnya lagi, senyumnya menghilang dan mata violetnya bersinar dengan penuh kebencian yang tidak terucapkan.
Aoi hanya bisa berdiri mematung melihat sikap Luna karena terkejut, sebab dia bisa merasakan kebencian yang diarahkan Luna pada Natsume dengan begitu jelas. Sedangkan Natsume hanya diam membisu tanpa menunjukkan ekspresi sedikit pun akan ancaman Luna. Wajahnya tetap tanpa ekspresi.
Luna kembali menegakkan badannya dan tanpa mengucapkan apapun lagi, dia membalikkan badannya berjalan menjauh. Aoi yang melihat itu tidak bisa berdiam diri lagi. Dia segera berdiri dan berlari mengejarnya. Apa maksud ucapannya barusan? Dan mengapa dia bersikap seperti itu pada Natsume?
Natsume tetap tidak bergerak sedikit pun, dia hanya kembali menutup matanya dengan pelan. Apa yang dkatakan Luna barusan memang benar, dia tidak akan mungkin dapat menembus dosa yang dimilikinya, dan dia juga tidak boleh melupakan dosanya. Sudah berapa banyak orang yang mati di tangannya, dia sudah tidak punya hak untuk meminta penembusan lagi.
"Natsume.."
Senyum manis Mikan kembali terlintas dalam kepalanya. Sebuah senyum kecil langsung terlukis di wajahnya yang tanpa ekspresi.
Neraka.
Dunianya sekarang dan untuk ke depannya mungkin memang neraka. Tapi jika itu yang harus dihadapinya agar Mikan bisa hidup di dunia ini, bebas dari kesakitan serta penderitaan, tersenyum dan tertawa lepas, maka semuanya sebanding. Neraka dalam hidupnya sebanding dengan keselamatan Mikan.
.OXOXO.
"LUNA-SAN! TUNGGU!" teriak Aoi menghentikan Luna yang ada di depannya.
Luna menghentikan langkah kakinya dan dengan pelan membalikkan wajahnya menatap Aoi. Wajahnya tanpa ekspresi hingga membuat Aoi menjadi ragu untuk membuka mulutnya. Namun setelah mengumpulkan segenap keberaniannya, dia akhirnya membuka mulutnya juga. "A-apa maksud ucapan anda barusan pada Kakak, Luna-san?"
Mendengar pertanyaan tersebut, sebuat senyum langsung merekah di wajah cantik Sang Penjaga Cahaya. "Kenapa kau bertanya seperti itu Aoi?" tanya pelan sambil melangkahkan kakinya mendekati gadis bermata merah darah di depannya.
"Eh!" seru Aoi terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba tersebut. "K-karena anda kelihatan tidak meyukai Kakak?"
Langkah kaki Luna langung terhenti begitu mendengar jawaban Aoi. Dia langsung mengangkat kepalanya ke atas dan tertawa terbahaK-bahak. Aoi menatapnya dengan penuh kebingungan tanpa bergerak sedikit pun dengan perasaan tidak enak yang menyelimuti hatinya.
Tawa Luna kemudian terhenti, dan dia menurunkan kepalanya kembali menatap Aoi. Aoi tidak dapat lagi menyembunyikan perasaan takutnya saat melihat mata violet di depannya itu bersinar penuh kemarahan dan kebencian yang sangat dalam. "Aku membencinya, Aoi. Aku sangat membencinya, hingga rasanya aku ingin membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri. Tapi.. kematian terlalu bagus untuknya, aku ingin dia hidup segan mati tidak bisa di dunia ini."
"K-Kenapa?" tanya Aoi lagi dengan terbata-bata. "Kita adalah satu keluarga, Luna-san. Yang Mulia Kuonji sudah mengatakan padaku, kita tidak boleh saling membenci, kita harus saling mencintai dan melindungi agar kita bisa hidup dengan bahagia kelak saat Kerajaan Theoden telah memenangkan perang ini meskipun kita adalah makhluk sihir."
Luna tidak membalas ucapan Aoi, dia membuang mukanya dan membalikkan badannya, kembali berjalan meninggalkan gadis bermata merah darah tersebut.
"L-Luna-san…" Panggil Aoi lagi sambil menatap luna penuh kebingungan. Dia benar-benar bingung dnegan sikap Luna. Mereka adalah satu keluarga, mereka seharusnya saling menjaga, menghormati dan menyanyangi agar mereka kelak dapat hidup dengan bahagia untuk selamanya.
"Kau tahu, Aoi," ujar Luna yang kembali berhenti berjalan tiba-tiba tanpa menolehkan wajahnya ke belakang. "Tidak seharusnya makhluk sihir memiliki wujud manusia seperti kita. Makhluk sihir seharusnya berwujud binatang, serangga atau sejenisnya. Kita bukanlah manusia ataupun makhluk sihir yang sesungguhnya, kita adalah makhluk yng tidak jelas. Dan makhluk seperti kita tidak mungkin dapat bahagia. Kita semua adalah makhluk yang tidak diijinkan untuk berbahagia di dunia ini…"
.OXOXO.
"Sampai kapan kau mau duduk di bawah pohon itu, bodoh? Sudah malam, tahu? Ayo masuk sekarang juga." Perintah Hotaru sambil menatap tajam Mikan yang berada di bawah pohon sakura.
"Iya." Jawab Mikan sambil tersenyum menatap Hotaru, Ruka dan juga Nobara yang ada di depannya.
"Ayo, Mikan." Senyum Ruka sambil mengulurkan tangannya pada Mikan. Mikan menerima uluran tangan Ruka dan bangkit dari atas tanah tempatnya duduk.
"Aku berharap ada kepiting hari ini." Ujar Hotaru tiba-tiba saat mereka semua berjalan memasuki istana kerajaan Issengard.
"Aku sudah meminta koki istana menyiapkannya untukmu, Hotaru," balas Ruka cepat dan kemudian menolehkan wajahnya menatap Nobara. " Kau tidak alergi akan makanan laut, kan, Nobara?"
Nobara tersenyum. "Tidak. Terima kasih atas perhatianmu, Ruka."
"Em… Ruka, Hotaru, Nobara, apa yang kalian bahas dalam rapat tadi?" tanya Mikan yang dari tadi diam membisu tiba-tiba sambil menatap ketiga temannya.
Ruka, Hotaru dan Nobara langsung terdiam mendengar pertanyaan yang dilontarkan gadis di depan mereka. Kebingungan bercampur ketakutan langsung menyerang Ruka dan Nobara, sebab mereka berdua tidak tahu harus bagaimana untuk menjawab pertanyaan sederhana tersebut. Hanya Hotaru seorang saja yang cukup tenang dan tahu bagaimana menjawabnya. "Apa yang kami bahas tidak ada kaitannya denganmu, bodoh."
Kekesesalan kembali menyelimuti hati Mikan. Dia benar-benar tidak suka dengan sikap orang di sekelilingnya yang selalu merasa dia ini bodoh dan tidak berguna. Dia juga ingin melakukan sesuatu untuk mereka dalam kondisi yang sangat kacau dan tidak menentu sekarang, sebab dia tidak ingin lagi menjadi seseorang yang hanya bisa menangis dan meyusahakan orang lain.
"Hotaru, meskipun aku ini memang bodoh, setidaknya aku bisa bela—" ucapan Mikan itu tidak pernah terselesaikan, ucapannya terhenti saat dia menyadari kehadiran Yoichi yang berada di depan mereka.
Yoichi yang diam membisu sambil menundukkan kepalanya ke bawah membuat Mikan, Ruka, Hotaru dan juga Nobara menjadi kebingungan. "Yoichi?" panggil Mikan pelan penuh kebingungan sambil berjalan mendekatinya.
Yoichi tetap tidak menjawab maupun mengangkat kepalanya menatap Mikan yang kini berada di depannya. "Yoichi, ada apa?" tanya Mikan lagi dengan pelan.
Tiba-tiba saja Yoichi mengangkat kedua tangannya dan memeluk Mikan dengan erat. Perasaan terkejut menyelimuti Mikan akbibat sikap Yoichi yang tiba-tiba, namun Yoichi tidak peduli, dia semakin mempererat pelukannya dan memendamkan wajahnya pada pinggang Mikan.
"AKU TIDAK MEMPERCAYAI APA YANG KALIAN KATAKAN!" teriak Ruka dengan wajah penuh kemarahan, sedangkan Hotaru, Yoichi, Nobara dan juga Yuu yang ada disampingnya hanya bisa berdiam diri dengan pandangan wajah tidak percaya.
"Aku juga tidak mau mempercayainya. Tapi, itu adalah kenyataan, Ruka." Balas Kazumi tenang.
"Itu tidak mungkin.. Natsume tidak mungkin memihak Theoden dan menaklukkan Kota Lixir," balas Ruka lagi dengan pelan. Kemarahan di wajahnya menghilang dan digantikan dengan ekspresi wajah penuh kebingungan. "Natsume tidak mungkin membunuh.. Narumi-san.."
Tidak ada yang membuka mulutnya untuk mengucapkan sepatah kata pun. Semuanya hanya diam membisu hingga akhirnya Shiki membuka mulutnya. "Itulah dirinya yang sebenarnya, Sang Kegelapan. Memanfaatkan siapa pun yang ada di sekelilingnya dan menghancurkannya."
Semua yang ada di sana menolehkan wajah mereka menatap Shiki begitu mendengar suaranya.
"Bukankah dulu sudah aku katakan pada kalian untuk membunuhnya, tapi kalian tidak mempedulikanku dan membiarkan makhluk haus darah itu be—" lanjutnya lagi, namun sebelum dia menyelesaikannya, tiba-tiba saja Yoichi telah berteriak menghentikannya. "HENTIKAN! HENTIKAN! JANGAN MENGATAKAN KAK NATSUME SEPERTI ITU! KAU TIDAK MENGENALNYA! JANGAN MENGATAKANNYA SESUKA HATIMU!"
"AKU TIDAK MENGENALNYA TAPI APA YANG DILAKUKANNYA SEKARANG SUDAH MEMJELASKAN PADAKU BAGAIMANA DIA SEBENARNYA! DIA ADALAH MAKHLUK TERKUTUK DAN TIDAK BERPERASA—"
"DIAM! DIAM! DIAM!' teriak Yoichi memotong teriakkan Shiki. Kemarahan memenuhi hatinya.
"DIA ADALAH PEMBUNUH AYAH KANDUNGMU, YOICHI! KENAPA KAU TERUS MELINDUNGINYA!" Shiki tidak pernah mengerti kenapa Yoichi terus saja melindungi Sang Kegelapan yang telah membunuh Izumi, bahkan dalam keadaan yang sudah seperti ini, dia tetap saja melindunginya.
Yoichi ingin sekali berteriak menjawab pertanyaan. Shiki sama sekali tidak mengenal Natsume. Dia tidak tahu apa yang selama ini telah pemuda bermata merah darah itu lalui dalam hidupnya semenjak dia membuka matanya di dunia ini, apa penyebab sesungguhunya dia berbuat seperti itu
"Jangan beritahu dia apapun, jangan biarkan dia tahu apa yang terjadi."
Ucapan Natsume tersebut tiba-tiba terlintas dalam kepala Yoichi dan membuatnya kehilangan suara yang sudah ingin melontarkan jawaban akan kenyataan sesungguhnya. Dia segera menundukkan kepalanya ke bawah, dan berusaha menahan perasaannya yang bagaikan ingin meledak. Dia merasa sangat membenci dirinya sekarang, tidak seharusnya dia berjanji pada Natsume untuk merahasiakan semuanya dulu, sebab dia tidak bisa melakukan apa pun untuknya sekarang—dia tidak bisa membelanya akan segala yang terjadi lagi.
"JANGAN KAU BIARKAN MAKHLUK ITU TERUS MENIPUMU, YOICHI! SADARLAH!" teriaknya lagi dan berjalan mendekati Yoichi. Dia mengangkat kedua tangannya dan mencengkeram erat kedua lengan Yoichi. "BUKALAH MATAMU!"
Yoichi tidak membalas teriakkan Shiki lagi. Air mata mengalir menuruni pipinya. Hatinya terasa sangat sesak hingga membuat dirinya seakan tidak bisa bernapas.
"Sudah! Hentikan Shiki-san!" ujar Tsubasa tiba-tiba sambil melepaskan kedua tangan Shiki yang mengenggam lengan Yoichi dan berdiri di depannya, berusaha untuk melindungi anak laki-laki berambut abu-abu itu dari Shiki.
"KENAPA ANDA JUGA MELINDUNGI MAKHLUK TERKUTUK ITU, YANG MULIA RAJA TSUBASA!" balas Shiki penuh kemarahan.
"SUDAH CUKUP! HENTIKAN SEMUANYA!" teriak seseorang tiba-tiba dan membuat ruangan tempat mereka semua berada kembali senyap. Semua yang ada di sana menolehkan wajahnya menatap pemilik suara tersebut, yakni Kazumi yang dari tadi diam membisu. "Tidak ada gunanya kita membahas itu sekarang, yang harus kita lakukan sekarang hanyalah satu, yaitu menentukan langkah yang harus kita ambil selanjutnya."
"Kazumi benar," ujar Nogi yang ada di samping Kazumi menyetujuhi ucapannya. "Jangan membuang waktu lagi untuk sesuatu yang tidak mungkin kita ketahui jawabannya. Kita perlu menyusun taktik baru dalam perang ini sekarang atau semuanya benar-benar akan habis."
Ucapan kedua Raja yang ada di depan membuat Shiki tidak dapat mengucapkan apa pun lagi. Apa yang dikatakan mereka benar. Tidak ada gunanya mereka membahas itu sekarang, taktik dan langkah selanjutnya yang harus mereka ambillah yang penting— langkah untuk menyelamatkan para penduduk yang tidak berdosa dan memenangkan perang ini.
"Jangan beritahu Mikan akan hal ini. Dia baru saja bangkit dari ketepurukkannya. Berita ini pasti akan menghancurkan dirinya lagi jika dia tahu," ujar Hotaru yang ada di samping Ruka tiba-tiba. Kedua mata violetnya menatap lurus semua yang ada di dalam ruang rapat dan kemudian berhenti pada Shiki. "Terutama anda, Shiki-san."
Shiki tidak membalas ucapan Hotaru, walau dia ingin. Dia tahu apa yang dikatakan Hotaru benar, dia tidak boleh memberitahu Mikan hal ini sekarang, sebab dia pasti akan kembali terpuruk. Namun dia tidak akan mungkin merahasiakan ini selamanya, dia pasti akan memberitahunya nanti pada saat yang tepat. Sang Cahaya harus tahu siapa Sang kegelapan sesungguhnya.
"Yoichi ada apa denganmu?" tanya Mikan lembut sambil membalas pelukan Yoichi dan membuyarkan pikirannya akan apa yang terjadi beberapa saat yang lalu.
Dengan pelan, Yoichi mengangkat kepalanya menatap wajah Mikan tanpa melepaskan pelukannya. Saat matanya bertemu dengan mata coklat madu besar di depannya, dia merasa sangat sedih, takut dan juga tidak berguna. Apa yang paling ditakutkannya telah terjadi, Natume benar-benar telah melakukan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali lagi. Lalu, Mikan. Gadis ini masih belum tahu apa yang telah Natsume lakukan, dan jika dia sudah tahu, akan jadi seperti apa dia nantinya? Mereka tidak mungkin dapat menyembunyikan hal sepenting ini selamanya, apalagi dalam situasi perang seperti ini.
.OXOXO.
"Aku ingin kau memimpin pasukan untuk menaklukkan Kota Elvix, Luna." Ujar Kuonji tenang sambil menatap Luna yang ada di depannya.
"Kenapa aku?" tanya Luna pelan.
"Aku ingin menunjukkan kepada mereka kalian semua. Aku ingin mereka tahu betapa lemah dan tidak bergunanya perlawanan mereka. Dan juga, Kucing Hitam pasti akan menghancurkan semua kota yang ditaklukkannya dengan sangat brutal. Semua kota itu tidak akan berguna bagiku jika hancur seperti itu kelak." Jelas Kuonji lagi sambil tersenyum menyeringai.
Luna tidak mengatakan apa pun, dia hanya diam membisu menatap Raja Theoden dengan wajah tanpa ekspresi.
"Kau bisa melakukan itu untukku, bukan?" tanya Kuonji lagi dengan senyum yang masih ada di wajahnya. Luna tetap tidak mengelurakan suara sedikit pun untuk menjawab pertanyaan tersebut, dia hanya mengangguk kepalanya.
"Bagus! Bagus sekali Luna!" tawa Kuonji penuh kegembiraan. "Berangkatlah ke Kota Elvix empat hari lagi."
"Baik, Yang Mulia." Balas Luna singkat sambil menundukkan kepalanya dan saat dia mengangkat kepalanya lagi, dia langsung mempermisikan dirinya "Hamba permisi dulu, Yang Mulia, jika sudah tidak ada yang ingin anda sampaikan lagi, sebab hamba ingin mempersiapkan pasukan hamba."
"Ya. Silakan Luna, aku tidak akan menyita waktumu lagi." Balas Kuonji sambil tersenyum.
Mendengar ucapan Kuonji, Luna segera menundukkan kepala memberi hormat padanya dan membalikkan badan berjalan keluar dari ruang kerja Raja Theoden. Kuonji hanya terus menatap sosok Sang penjaga Cahaya hingga dia menghilang di balik pintu ruang kerjanya.
Kota Lixir telah jatuh, begitu juga dengan kota lainnya di kerajaan Issengard tidak lama lagi. Persona yang membantu Rohirrim untuk menaklukkan Orthanc pasti tidak akan mengalami masalah. Jika Kerajaan Issengard dan juga Orthanc telah jatuh, saat itu juga dia akan menyerang Rohirrim. Kerajaan tersebut pasti tidak akan dapat berbuat banyak jika dia menyerang mereka.
Di dunia ini sudah tidak akan ada kerajaan yang mampu menandingi kerajaannya lagi. Sebab dia memiliki sejumlah besar pasukan yang sangat kuat. Namun, yang paling penting adalah, dia memiliki Sang kegelapan.
Tidak pernah dia menyangka makhluk sihir yang diramalkan akan menghancurkan di dunia itu memiliki kelemahan yang begitu mengejutkan. Sang Cahaya, makhluk yang ditakdirkan sebagai satu-satunya makhluk yang dapat membunuhnyalah kelemahannya.
Dia tidak pernah mempercayai informasi akan hal itu dari Luna untuk pertama kalinya. Namun saat dia mengetahui, makluk itu kehilangan kendali akan dirinya dan menghancurkan seluruh pasukan Mihara saat mengira Sang Cahaya telah mati, serta kenyataan Sang Cahaya dapat menghentikannya yang berada dalam keadaan seperti itu dengan begitu mudah, dia tahu, tidak salah lagi, Sang Cahayalah satu-satunya kelemahan Sang kegelapan di dunia ini.
Berkat racun yang diberikan Luna kepada Sang Cahaya atas perintahnya, dia berhasil membuat Sang Kegelapan tunduk padanya. Racun yang mengalir dalam tubuh Sang Cahaya adalah racun khusus yang diciptakannya untuk para makhluk sihir. Hanya dia seorang saja yang memiliki penawarnya di dunia ini. Dia tidak pernah menduga racun yang diciptakannya dengan tujuan untuk mengendalikan para makhluk sihir yang ditangkapnya justru membuahkan sebuah hasil yang tidak pernah disangkanya, yakni; mengendalikan Sang kegelapan. Sang kegelapan akan selalu menuruti perintahnya tanpa berani menolak sedikit pun, sebab dialah pemegang hidup matinya Sang Cahaya.
Namun, dia juga tahu, dia tetap harus berhati-hati dalam mengambil setiap tindakannya. Dia memang memiliki makhluk terkuat di dunia, yakni: Sang Kegelapan di pihaknya, namun itu hanya dikarenakan dia memegang kelemahannya, sebab dia tahu dengan jelas sekali betapa makhluk sihir itu membenci dan ingin membunuhnya.
Kuonji merasa tidak bisa menyerahkan tugas untuk menaklukkan Issengard pada Sang Kegelapan sekarang. Sang Kegelapan sekarang telah berbeda dengan Sang Kegelapan yang dibentuknya sepuluh tahun yang lalu, dia telah kembali menjadi seperti Sang Kegelapan yang dijumpainya untuk pertama kalinya di Kota yang hilang, Aureduil, yakni; makhluk yang berperasaan. Meski dia terus bersikap dingin dengan wajah tanpa ekspresi seakan apa yang dia lakukan tidak ada artinya, Kuonji dapat melihat dengan jelas betapa makhluk itu sebenarnya tidak mau melakukan apa yang diperintahkannya—membunuh dan menghancurkan semua yang ada. Namun yang terpenting, dia tahu, Sang Kegelapan yang sudah sangat besar ini, sangatlah kuat dan juga—sangat pintar. Makhluk itu dapat meyembunyikan keberadaan dirinya sendiri serta Sang Cahaya darinya selama sepuluh tahun tanpa meninggalkan bekas sedikit pun. Makhluk itu bukanlah makhluk polos yang tidak tahu apa-apa lagi, makhluk itu kini sudah tahu siapa serta kekuatan yang dimilikinya.
Jika dia terus memintanya membunuh dan menghancurkan Issengard, dia takut Sang Kegelapan akan berubah pikiran dan menghianatinya lagi seperti sepuluh tahun yang lalu. Dengan kepintarannya, dia pasti akan mencari akal dan melakukan sesuatu untuk balik melawannya, dan dia tidak bisa membiarkan itu terjadi, dia harus mengunci semua gerakkannya.
Tujuan awalnya sudah tercapai. Berita akan Sang kegelapan yang menghancurkan Kota Lixir di Issengard pasti telah membuat para prajurit musuhnya kehilangan semangat dan ketakutan. Dia percaya, dengan kekuatan Persona, Luna dan juga meriam sihir yang masih dimilikinya, kerajaan Issengard dan kerajaan Orthanc pasti dapat ditaklukkan. Dan jika pun Persona dan Luna tidak berhasil menaklukkan Kerajaan Issengard dan Orthanc, dia masih memiliki sebuah kartu rahasia. Sang Kegelapan adalah kartu terkuat dan terbahaya yang dimilikinya dalam perang ini, dia tidak boleh menggunakan kartu itu secara sembarangan.
Sebuah senyum menyeringai tiba-tiba merekah di wajahnya. Dia sama sekali tidak perlu terburu-buru, cepat atau lambat impiannya pasti akan jadi kenyataan. Dia akan segera menjadi satu-satunya raja di dunia ini.
.OXOXO.
"Jendral Persona, Yakumo berserta pasukan mereka akan tiba sekitar sepuluh hari lagi di Ibukota Rohirrim, Kota Ioreth ini." Ujar Seorang cowok berambut pirang sepundak dan bermata violet sambil menatap seorang pemuda berambut coklat dan bermata hijau di depannya.
"EH! Benarkah? Kau tidak berbohong padaku, kan, Rui?" tanya pemuda itu dengan mata terbelalak karena terkejut.
"Mana mungkin aku berbohong padamu mengenai hal ini, Hayate." Balas Rui sambil tersenyum.
"Baguslah kalau begitu," tawa Hayate penuh kegembiraan
"Kupikir kau menyukai keadaanmu sekarang. Tidak perlu berkerja, bisa bermalasan setiap hari." Sela Rui sambil tertawa.
Tawa di wajah Hayate langsung menghilang begitu mendnegar ucapan Rui. Dia mengangkat tangannya untuk menggaruk kepalanya dengan ekspresi wajah penuh kebosanan. "Aku sudah tidak ingin dipanggil terus oleh Raja Rohirrim dan mendengar kemarahannya mengapa kita tidak bergerak membantu mereka di Orca. Aku lebih memilih mengakhiri perang bodoh ini secepat mungkin dan pulang ke Thixen."
"Bukan kau seorang saja, tahu? Aku juga ingin kembali ke kota Thixen secepat mungkin. Tidak lama lagi musim dingin. Aku tidak mau melewati empat bulan musim dinginku dalam perang."
"Benar sekali!" seru Hayate menyetujuhi ucapan Rui dan tiba-tiba sebuah senyum terlintas di wajahnya. "Adikku, Aoi pasti sudah sangat merindukanku. Ingatkan aku mencari hadiah untuknya sebelum kita pulang ke Thixen, ya, Rui."
"Aoi bukan adikmu, bodoh! Dia adikku!" Ujar Rui tiba-tiba dan membuat senyum di wajah pemuda bermata hijau di depannya menghilang.
"Enak saja, kau gay sialan! Aoi itu adikku sebab kau tidak pantas menjadi Kakaknya!"
"APA BARUSAN KAU MEMANGGILKU!" teriak Rui penuh kemarahan saat teringat nama panggilan yang dialamatkan Hayate padanya. Mata violetnya menatap tajam pemuda di depannya.
"GAY SIALAN! MEMANGNYA KENAPA! KAUKAN MEMANG SEORANG GAY!" balas Hayate sambil menatap tajam Rui tidak mau kalah.
Mereka berdua hanya saling menatap dengan pandangan tajam. Hal ini sudah sangat lazim terjadi. Berdebat untuk memutuskan siapa yang lebih pantas menjadi Kakak Aoi.
Aoi.
Mereka tahu siapa Aoi itu sebenarnya sejak pertama kali bertemu dengannya, namun mereka yang tumbuh besar di istana Theoden yang besar, dingin dan sepi, tidak dapat menepis kehangatan kecil yang dibawa gadis kloning dari Sang Kegelapan pada mereka. Keceriaan, kepolosan dan tawa yang diberikan Aoi pada mereka membuat mereka menyayangi dan mencintainya bagaikan adik kandung mereka sendiri—anggota keluarga mereka yang sangat berharga.
"Aoi tidak mungkin mau kau yang seorang gay menjadi kakaknya." Ujar Hayate dingin.
"Kurasa Aoi lebih tidak ingin lagi memiliki orang aneh dan kekanakan sepertimu sebagai kakaknya." Balas Rui sama dinginnya.
"Oh, ya? Bagaimana kalau kita tanyakan saja padanya nanti saat kita sudah kem—" Hayate tidak berhasil menyelesaikan ucapanya, sebab pintu ruangan tempat mereka berdua berada tiba-tiba terbuka dan seorang prajurit berjalan masuk dengan tergesa-gesa."Rui-sama, Hayate-sama, Yang Mulia Raja Goshima memanggil anda berdua."
Hayate segera mengangkat kedua tangannya untuk menutup wajahnya sedangkan Rui hanya bisa mengela napas dengan penuh kepasrahan. Perdebatan mereka berdua barusan langsung terhentikan.
"Lagi-lagi dipanggil. Apakah dia masih belum puas juga dengan berita Jendral Persona yang sedang dalam perjalanan kemari.." Ujar Rui sambil menutup matanya.
"Kuharap kita tidak perlu mendengar kemarahan Raja Bodoh itu seperti biasanya hari ini.." ujar Hayate putus asa.
.OXOXO.
"Kerajaan Theoden telah bergerak, Yang Mulia. Tiga ratus ribu prajurit dan dua puluh batang meriam sihir di bawah pimpinan jendral Persona sedang berada dalam perjalanan menuju Rohirrim. Lalu, Dua ratus ratus ribu prajurit dan sepuluh batang meriam sihir dibawah pimpinan seorang jendral wanita tak dikenal juga akan segera bergerak menyerang Kota Elvix tidak lama lagi." Jelas Seorang prajurit sambil menatap para raja dan petinggi ketiga kerajaan di depannya.
"Jendral wanita tidak dikenal?" tanya Tsubasa kebingungan.
"Benar, Yang Mulia Tsubasa. Informan kami tidak dapat menemukan sedikit pun informasi akan wanita tersebut. Namun ada beberapa gosip yang beredar bahwa wanita itu selama ini selalu berkerja di belakang layar."
Semua yang ada di dalam ruangan terdiam memikirkan siapa jendral wanita misterius itu. Mereka tahu, siapa pun juga, wanita itu pasti sangat kuat, jika tidak Kuonji tidak mungkin akan menyerahkan tugas sepenting ini padanya.
"Bagaimana dengan Sang Kegelapan? Apakah dia juga ikut dalam pasukan tersebut?" tanya Shiki tiba-tiba.
Prajurit tersebut menggelengkan kepalanya. "Tidak. Sang Kegelapan tidak ikut serta dalam pasukan tersebut. Semenjak dia menaklukkan Kota Lixir, dia tidak melangkahkan kakinya sedikit pun keluar dari istana Theoden lagi."
"Baguslah kalau begitu.." Ujar Shiki pelan sambil bernapas lega, begitu juga dengan semua yang ada di dalam ruangan tersebut, sebab mereka tahu, tidak mungkin mereka dapat mempertahankan Kota Elvix jika Sang kegelapan juga berada dalam pasukan tersebut.
"Sekitar berapa lama lagi pasukan Theoden yang bergerak untuk menyerang Orthanc akan tiba di perbatasan Orca?" tanya Hotaru tiba-tiba dengan wajah tanpa ekspresi walau sesungguhnya jauh di dalam hatinya, dia juga sangat gelisah.
"Pasukan dibawah pimpinan Jendral Persona akan tiba di Rohirrim sekitar sepuluh hari lagi, dan jika tidak ada halangan mereka pasti akan langsung bergerak menuju Orca. Jadi kemungkinan mereka akan menyerang Orca adalah sekitar delapan belas hari lagi."
Hotaru tidak mengucapkan apa pun lagi, dia hanya diam membisu memikirkan sesuatu dalam otaknya.
"Bagaimana dengan Akira? Dia sudah tiba di Orca, kan?" tanya Sakurano
"Jendral Akira berserta pasukannya sudah tiba di Orca lima hari yang lalu, Pangeran Sakurano. Jumlah pasukan kita di Orca setelah Jendral Akira tiba memang telah mengungguli Rohirrim, yakni dua ratus lima puluh banding seratus lima puluh. Namun, jika Jendral Persona dari Theoden berserta pasukannya bergabung dengan pasukan Rohhirim, maka keadaan akan jadi terbalik, yakni dua ratus lima puluh ribu banding empat ratus lima puluh ribu."
Kebisuan kembali menyelimuti ruangan tersebut. Dua ratus ribu melawan empat ratus ribu. Perang di Orca jelas sekali tidak akan menguntungkan mereka. Mereka juga tidak bisa mengandalkan meriam sihir yang dibawa Akira bersama pasukannya lagi, sebab musuh mereka juga akan memilikinya.
Tok-Tok-Tok.
"Masuk." perintah Nogi begitu mendengar suara ketukan pintu ruangan dimana rapat sedang berlangsung. Pintu terbuka dan mata semua yang ada langsung terbelalak saat melihat siapa yang berjalan masuk. Nobara.
"A-Anu… Maaf karena aku menganggu rapat kalian. T-tapi bolehkan aku menyampaikan sesuatu.." Ujar Nobara terbata-bata dengan wajah penuh kegugupan.
Semua yang ada hanya menatapnya dengan penuh kebingungan, terutama para petinggi ketiga kerajaan yang ada. Mereka sama sekali tidak mengerti kenapa Putri dari kerajaan musuh mereka tiba-tiba masuk ke dalam ruang tempat rapat yang sedang berlangsung ini.
"B-Bisakah kalian memberikan aku sebuah kesempatn untuk berbicara dengan Kakakku dulu…" Pintanya terbata-bata.
"Maksudmu, Nobara?" tanya Nogi penuh kebingungan.
"Biarkanlah aku berbicara dengan Kakakku. A-Aku pasti akan membujuknya untuk menghentikan perang ini."
Mata semua yang ada di dalam ruangan kembali terbelalak begitu mendengar ucapan Putri kerajaan Rohirrim yang ada di depan mereka. "Apa kau yakin bisa membujuk Raja Goshima, Nobara? Kakakmu bukanlah tipe orang yang mau mendengarkan ucapan orang lain." Ujar Tsubasa pelan. Apa yang dikatakan Nobara mungkin memang merupakan sebuah jalan keluar dari sistuasi mereka yang tidak menguntungkan, namun dia ragu Nobara dapat menggerakkan hati Goshima yang terkenal keras.
Nobara menggigit bibir bawahnya dan menundukkan kepalanya ke bawah. Dia merasa takut, namun dia memberanikan dirinya, sebab dia tahu, inilah yang harus dia lakukan sekarang, "D-Dalam perjalan kemari, aku melewati banyak kota. Aku melihat banyak sekali orang yang ketakutan, bersedih serta menangis karena kehilangan orang yang mereka cintai. Sudah banyak yang mati dalam perang ini.. Aku tidak mau ada yang mati dan menangis lagi.." Ujarnya pelan.
Semua yang ada kembali diam membisu mendengar cerita Nobara tanpa mengataan sepatah kata pun.
"Berikan aku kesempatan. Aku pasti dapat menghentikan Kakakku." Lanjutnya sambil mengangkat kepalanya menatap semua yang ada. Mata birunya bersinar penuh tekad yang tidak pernah dipikirkan orang dimilikinya. Tidak ada yang dapat menyembunyikan perasaan terkejut di dalam hati mereka lagi, sebab ternyata putri yang selalu kelihatan lemah dan takut pada orang akan mengusulkan ide yang sangat mengejutkan ini.
Melihat ekspresi penuh tekad Nobara, Kazumi menolehkan kepalanya menatap Tsubasa dan Nogi yang ada di sampingnya. Mereka berdua membalas tatapan Raja Edoras tersebut dalam kebisuan. Mereka berdua tahu dengan jelas apa maksud tatapan Kazumi itu dan mereka juga tahu apa jalan terbaik yang mereka miliki dalam sistuasi seperti ini. Dengan pelan mereka berdua pun menganggukkan kepala mereka.
"Baiklah Nobara." Ujar Kazumi sambil menolehkan kepalanya kembali pada Nobara. "Kami akan memberikanmu kesempatan ini."
Sebuah senyum merekah di wajah Nobara dan air matanya yang langsung mengalir turun membasahi pipinya. Dia menundukkan kepalanya pada semua yang ada di depannya untuk berterima kasih. "Terima kasih! Terima kasih! Aku pasti tidak akan mengecewakan kalian semua!"
"Hentikan itu, Nobara." perintah Hotaru tiba-tiba.
"Eh!" seru Nobara terkejut dan mengangkat kepalanya menatap semua yang ada di depannya.
"Hotaru benar, Nobara. Kau tidak perlu berterima kasih pada kami semua," senyum Tsubasa dan bangkit dari tempat duduknya, diikuti semua yang ada. "Kamilah yang seharusnya berterima kasih padamu… Terima Kasih, Nobara." Lanjut Tsubasa lagi sambil menundukkan kepalanya diikuti semua yang ada, termasuk Hotaru, Sakurano, Ruka, bahkan Kazumi dan Nogi.
Mata Nobara terbelalak melihat apa yang terjadi. "Hentikan! Apa yang kalian lakukan! Angkat kepala kalian! Jangan bersikap seperti ini! Aku tidak melakukan sesuatu yang membuat kalian harus bersikap seperti ini padaku!" teriaknya penuh kepanikan.
Semua yang ada di sana tetap menundukkan kepala mereka untuk beberapa detik. Meskipun mereka tidak tahu, apakah rencana Nobara bisa berjalan dengan lancar atau tidak, mereka semua merasa sangat berterima kasih padanya, sebab apa yang dilakukan Nobara adalah sesuatu yang tidak mungkin dapat dilakukan mereka dan siapapun di dunia ini. Putri dari kerajaan musuh mereka bersedia membantu mereka. Dia tidak ingin ada yang mati lagi, tidak peduli itu adalah orang dari kerajaannya maupun kerajaan mereka. Mereka berhutang budi padanya.
"Terima kasih Nobara.." Senyum Nogi pelan begitu juga dengan semua yang ada.
Nobara tidak bisa membendung perasaan harunya lagi, air mata kembali mengalir menuruni pipinya debgan deras. Hatinya terasa sangat hangat sebab dia tahu, apa yang dilakukannya sekarang memang benar."Terima kasih karena mempercayaiku. Terima kasih.. Terima kasih.. Aku pasti akan berhasil. Aku akan segera pulang ke Rohirrim secepat yang aku bisa.
Semua yang ada mengangguk kepalanya, namun tiba-tiba Hotaru membuka mulutnya dan megucapkan sesuatu yang sangat mengejutkan mereka. "Aku akan ikut denganmu, Nobara…"
.OXOXO.
"Yoichi, berapa lama waktu yang kita perlukan untuk pergi ke Kota Lixir dari sini?" tanya Mikan yang sedang berbaring di atas tempat tidur dalam kamarnya tiba-tiba.
Yoichi yang juga sedang berbaring di sampingnya segera menolehkan wajahnya pada gadis bermata coklat madu besar itu begitu mendengar pertanyaannya. Perasaan takut memenuhi hatinya, apakah gadis ini sudah tahu apa yang sesunguhnya telah terjadi pada kota itu?
"Mengapa kau bertanya seperti itu?" tanya Yoichi kalem berusaha untuk tetap tenang.
Mikan bangkit dari atas temapt tidur dan memutarkan badannya menghadap Yoichi. "Aku ingin ke sana dan mencari petunjuk akan keberadaan Natsume."
Yoichi langsung terdiam begitu mendengar jawaban Mikan. Matanya terbelalak dan dia tidak tahu harus mengucapkan apa lagi pada gadis di depannya ini.
"Aku sudah tidak mau seperti ini, Yoichi," ujar Mikan pelan sambil menolehkan wajahnya menatap langit malam penuh bintang melalui jendela besar di samping tempat tidurnya. "Aku ingin mencari tahu alasan apa sesungguhnya dia meninggalkanku…"
Yoichi hanya bisa tetap diam membisu mendengar ucapan yang diucapkan Mikan dalam kebisuan.
"Aku selalu bersamanya selama ini. Aku mengenalnya dengan sangat baik, karena itu aku tahu, yang menatapku dengan penuh kebencian dan berkata dia membenciku pasti bukanlah Natsume yang sesungguhnya…" lanjutnya lagi dan kembali menolehkan kepalanya pada Yoichi sambil tersenyum.
Mikan tidak ingin berdiam diri tanpa melakukan apapun lagi, dia tidak ingin menjadi beban bagi orang di sekelilingnya lagi. Namun, yang terpenting dia ingin bertemu lagi dengan Natsume, satu-satunya pemuda yang selalu memenuhi hatinya sejak dulu sampai sekarang. Dan untuk bertemu dengannya lagi, dia harus kuat—kuat untuk menghadapi semua hal yang mungkin akan dihadapinya di kedepannya.
"Bagaimana jika kau salah? Bagaimana jika Kak Natsume tidaklah seperti yang kira selama ini?" tanya Yoichi tiba-tiba sambil menatap lurus Mikan.
Mikan tertegun mendegar pertanyaan tersebut, namun sejenak kemudia dia kembali tersenyum. "Aku percaya pada Natsume, Yoichi."
Melihat dan mendengar jawaban Mikan, Yoichi segera bangkit dan memeluk Mikan dengan erat. Dia memendamkan wajahnya pada pinggang Mikan.
Kepercayaan.
Berapa lama kepercayaan Mikan pada Natsume bisa bertahan? Dia takut kepercayaan gadis ini akan hancur saat dia mengetahui apa yang telah dilakukan Natsume. Pemuda bermata merah darah itu telah membunuh begitu banyak orang dan menghancurkan Kota Lixir dalam satu malam. Semua itu dilakukannya hanyalah untuk melindungi gadis bermata coklat madu ini semata.
Natsume tidak pernah ingin Mikan mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Jika keadaan terus seperti ini, cepat atau lambat, mereka pasti akan bertemu lagi. Dan di pertemuan mereka itu, Natsume pasti akan kembali berbohong dan melakukan sesuatu untuk menghancurkan kepercayaan Mikan akan dirinya, sebab pemuda itu pasti akan merahasiakan kenyataan sesungguhnya selamanya.
Takdir yang menyelimuti Natsume dan Mikan. Takdir sebagai Sag Kegelapan dan Sang Cahaya. Natsume pernah mengatakan padanya bahwa mereka tidak akan pernah dapat melarikan diri dari takdir tersebut—takdir untuk saling membunuh. Dia tidak perlu memikirkan siapa lagi yang akan hidup kelak jika mereka benar-benar harus saling berhadapan, sebab Sang kegelapan pasti akan menusukkan jantungnya pada pedang sihir Shire yang diarahkan Sang Cahaya padanya tanpa memikirkan apapun lagi.
Untuk Mikan, Natsume rela mengorbankan semua yang dimilikinya dan membunuh. Namun, apa yang akan didapatkannya dari pengorbanannya itu? Tidak ada. Dia selamanya akan diingat orang sebagai makhluk terkutuk, haus darah dan tidak berperasaan—makhluk yang tidak pantas hidup. Begitu juga dengan Mikan, dia pasti akan membuat Mikan berpikir seperti itu akan dirinya, sebab dengan begitulah gadis ini baru bisa melanjutkan hidup di dunia tanpanya.
Di dalam keberadaannya, Natsume rela dibenci dan dilupakan Mikan yang menjadi segala-galanya demi keselamatan gadis tersebut.
"Janjilah padaku, idiot," ujar Yoichi pelan. "Kelak, apa pun yang terjadi, apa pun yang kau dengar, apa pun yang kau lihat, percayalah pada Kak Natsume. Percayalah padanya selalu…"
Mikan tidak mengerti maksud ucapan dan sikap Yoichi yang diluar dugaan. Namun dia mengangkat tangannya membalas pelukan Yoichi. "Aku selalu mepercayainya, Yoichi. Aku akan mempercayainya selamanya…"
Yoichi mengangguk kepalanya dengan pelan tanpa melepaskan pelukannya. Dia hanya bisa berharap gadis ini akan selalu mengingat ucapannya hari ini—mempercayai pemuda bermata merah darah itu tidak peduli apa yang terjadi.
Tiba-tiba saja pintu kamar Mikan terbuka. Yoichi langsung melepaskan pelukannya dan menolehkan wajahnya melihat siapa yang masuk ke dalam kamar ini tanpa mengetuk terlebih dahulu, begitu juga dengan Mikan. Walau mereka berdua sebenarnya juga sudah tahu siapa itu, sebab yang berani bersikap seperti ini di istana Issengard ini hanyalah Hotaru seorang.
"Hotaru, Ruka, Nobara, ada apa? Rapatnya sudah selesai ya?" tanya Mikan saat melihat Ruka, Hotaru dan Nobara yang berjalan mendekatinya penuh kebingungan.
"Dengar, bodoh," Ujar Hotaru tanpa mempedulikan pertanyaan Mikan barusan. "Aku, Nobara dan Kak Sakurano akan berangkat ke Orthanc besok pagi, begitu juga dengan Ruka, Raja bayangan bodoh itu, serta Shiki-san, mereka akan berangkat ke Kota Elvix."
.OXOXO.
Kuonji yang berdiri di atas sebuah pondium dalam lapangan ibukota Thiex yang luas menatap lurus dua ratus ribu prajurit di depannya. "KERAHKAN SEMUA KEMAMPUAN DAN KEKUATAN KALIAN! AKU, RAJA THEODEN BERJANJI PADA KALIAN SEMUA, SETELAH PERANG INI SELESAI, AKU PASTI AKAN MENANUGERAHKAN KALIAN SEMUA HADIAH!"
Apa yang diteriakan Kuonji mendapat sambutan yang cukup hangat dari para prajurit di depannya. Kegembiraan terlukis di wajah mereka semua, sebab mereka semua cukup yakin dapat menaklukkan Kota Elvix yang akan mereka serang. Kemenangan demi kemenangan yang mereka dapatkan selama ini hingga berhasil menaklukkan dua kerajan yang sangat kuat di dunia ini, yakni Kerajaan Artahorn dan Edoras telah membuat mereka semua melupakan ketakutan mereka akan perang. Kerajaan mereka sekarang adaah kerajaan terkuat, tidak aka nada yang mampu mengalahkan mereka lagi.
Kuonji tersenyum melihat reksi para prajuritnya. Di dalam perang yang paling dibutuhkan para prajurit adalah keberanian, keyakinan serta semangat, dan para prajurit di depannya memilikinya. Tidak ada seorang pun yang terlihat takut—yang di depannya adalah sebuah pasukan yang sangat sempurna.
Kuonji kemudia menolehkan kepalanya ke belakang menatap menatap Luna yang telah berpakaian baju jirah lengkap dengan dua batang pedang di pinggangnya . "Kuserahkan semuanya padamu sekarang, Luna." Ujarnya sambil tersenyum.
"Terima kasih, Yang Mulia." Balas Luna sambil tersenyum dan berjalan ke depan menatap para prajurit di depannya—pasukan yang akan dipimpinnya.
Setiap pasang mata prajurit yang memenuhi lapangan Ibukota Thixen menatap Jendral mereka. Ini adalah pertama kalinya mereka melihatnya dengan jelas. Tidak ada seorang pun yang mengenalnya, dan sepintas dilihat mereka merasa jendral di depan mereka sangatlah lemah. Dengan wajah cantik dan tubuh yang ramping seperti itu, dia tidak akan mungkin dapat mengalahkan para prajurit musuh yang pasti akan mengincarnya.
Luna tahu apa yang dipikirkan para prajurit di depannya saat melihatnya. Siapa pun yang selama ini melihatnya pasti akan berpikir seperti itu, dan betapa bodohnya mereka yang berpikir demikian, sebab dia adalah salah satu makhluk terkuat dan tertua di dunia ini. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia tiba-tiba tersenyum menyeringai dan menyebarkan aura sebagai makhluk sihir yang dimilikinya.
Ketakutan langsung menyerang para prajurit yang ada dan membuat bulu kunduk mereka berdiri. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, namun tiba-tiba saja gadis di depan mereka terasa sangat menakutkan.
"Jangan pernah mengangap remeh aku karena aku kelihatan lemah," ujar Luna dengan pelan tiba-tiba. Dia mengankat tangan kanannya dan tanpa membuat lingkaran sihir maupun merapalkan mantra sihir dia membuat dua bola api besar ditangannya. "Kalian akan menyesal jika berani berpikir seperti itu lagi." Lanjutnya lagi sambil menatap tajam semua yang ada di depannya.
Tidak ada yang berani bersuara sedikit pun, perasaan terkejut bercampur takut menyerang mereka. Luna tersenyum puas melihat ekspresi pasukannya dan tanpa membuang waktu dia langsung berteriak dengan lantang, "PERSIAPKAN DIRI KALIAN SEMUA! TIDAK PERLU TAKUT ATAUPUN RAGU DALAM PERANG INI! AKU ADALAH JENDRAL KALIAN DAN AKU PASTI AKAN MEMASTIKAN KITA MENANG!"
"UO!" teriak para prajurit di depannya membalas apa yang dikatakan Luna. Keraguan mereka akan Jendral mereka telah menghilang tanpa bekas. Semangat mereka semakin meningkat. Mereka pasti akan menang, gadis yang merupakan Jendral mereka bukanlah gadis biasa, ada sesuatu yang mengerikan dan menakutkan pada dirinya. Tidak akan ada yang mampu mengehentikan mereka lagi.
Kuonji tersenyum melihat semua yang terjadi di depannya. Keputusannya ini tidak salah, Luna pasti dapat menaklukkan Issengard. Dia tidak perlu takut Luna akan menghianatinya. Sang Penjaga Cahaya pasti akan membantunya menaklukkan semua kerajaan yang ada dan menjadikan dirinya Raja satu-satunya di dunia ini, sebab perjanjian yang mereka buat sepuluh tahun yang lalu telah menjaminkannya kesetiaan sampai akhir hidupnya.
.OXOXO.
Aoi yang berdiri di atas salah satu atap rumah penduduk menatap Kuonji, Luna dan juga para prajurit yang berada di lapangan Ibukota Thixen. Walau jarak mereka cukup jauh, dia bisa melihat dan mendengar semua yang terjadi dengan jelas berkat pendengaran dan penglihatannya yang tajam.
Perang.
Gadis bermata merah darah itu tahu Luna dan para prajurit yang ada dibawah sana akan pergi berperang seperti Persona, Yakumo, Rui, Hayate.
"Mengapa anda meminta bantuanku untuk membuka pintu yang menyegel meriam sihir, Yang Mulia?" tanya Aoi yang berusia sekitar sembilan tahun penuh kebingungan sambil menatap Kuonji yang ada di depannya. Dia yang baru tersadar penuh empat bulan yang lalu, sama sekali tidak mengerti apa-apa.
"Untuk memenagkan perang yang akan berlangsung, Aoi." Jawab Kuonji sambil membelai rambut Aoi yang duduk di kakinya.
"Perang? Mengapa kita harus berperang, Yang Mulia?" tanya Aoi lagi.
"Karena aku ingin melindungimu, Aoi," senyum Kuonji. "Kau adalah makhluk sihir. Kau tidak akan pernah diterima manusia, dan aku tidak ingin itu terjadi. Jika aku memenangkan Perang dan menjadi satu-satunya Raja di dunia ini, aku pasti akan memiliki kekuatan dan kemampuan untuk membuat kau diterima semua yang ada. Dengan begitu, kau yang merupakan makhluk sihir baru bisa bahagia."
"Maksud anda, setelah kita memenangkan perang, aku, Persona-san, Luna-san serta Kak Yakumo pasti akan bahagia?" tanya Aoi lagi.
"Benar. Aku ingin kalian bahagia Aoi, sebab bagiku kalian semua adalah keluargaku yang berharga."
"Keluarga?"
"Iya. Kita adalah keluarga, karena itu kita harus saling menghormati, mencintai, tidak boleh saling membenci dan membantu untuk mengakhiri perang yang akan berlangsung, sebab dengan begitu kita baru bisa bahagia sampai akhir."
"Berarti kita perang untuk mendapatkan kebahagiaan kita, ya?" tanya Aoi sambil tersenyum dengan mata berbinar-binar.
Kuonji tertawa terbahak-bahak mendnegar pertanyaan gadis kecil tersebut. "Iya. Kita berperang untuk mendapatkan kebahagiaan."
Aoi ingat sekali apa yang dikatakan Kuonji saat itu dengan jelas. Kata Kuonji terpahat dengan begitu sempurna dalam hatinya. Itulah tujuan perang ini, supaya mereka kelak dapat diterima manusia, supaya mereka satu keluarga kelak dapt hidup dengan bahagia.
"Tidak seharusnya makhluk sihir memiliki wujud manusia seperti kita. Makhluk sihir seharusnya berwujud binatang, serangga atau sejenisnya. Kita bukanlah manusia ataupun makhluk sihir yang sesungguhnya, kita adalah makhluk yng tidak jelas. Dan makhluk seperti kita tidak mungkin dapat bahagia. Kita semua adalah makhluk yang tidak diijinkan untuk berbahagia di dunia ini…"
Apa yang dikatakan Luna padanya beberapa hari yang lalu kembali terlintas dalam pikirannya. Apa yang dikatakan Sang penjaga Cahaya padanya benar-benar sangat menganggu pikirannya. Dia tidak tahu lagi kenapa mereka berperang. Kakaknya yang kembali ke Thixen setelah berhasil menaklukkan Kota Lixir kelihatan sangat dingin dan semakin menyendiri, padahal pemuda itu seharusnya gembira karena kebahagian mereka sudah semakin dekat.
Kenapa mereka berperang? Benarkah mereka semua bisa bahagia jika Kuonji telah menjadi satu-satunya raja di dunia ini?
.OXOXO.
"Sampai jumpa lagi, Mikan-chan." senyum Nobara sambil menatap Mikan yang ada di depannya.
"Iya. Sampai jumpa lagi, Nobara.." Balas Mikan pelan dan menolehkan wajahnya menatap Ruka, Hotaru, Sakurano, Tsubasa serta Shiki yang berada di samping Nobara, "Kalian juga, sampai jumpa lagi.."
"Ya. Sampai jumpa lagi Mikan. Kami pasti akan segera pulang ke Kota Iserth setelah keperluan kami selesai." Senyum Ruka sambil menatap Mikan.
"Benar, bodoh. Ini bukan perpisahan, kita pasti akan segera bertemu lagi." Tambah Hotaru dengan wajah tanpa ekspresi.
Mikan menundukkan kepalanya ke bawah dan membalas perkataan mereka dengan lemah. "Iya…"
"Jangan bersedih seperti itu terus, Mikan. Masa kau mau mengantar kami dengan wajah seperti ini?" tanya Tsubasa sambil tersenyum dan menepuk kepala Mikan.
Mikan mengangkat kepalanya menatap Tsubasa dan tersenyum kecil. "Begini boleh, kan?"
"Ya." Tawa Tsubasa sambil mengacak-acak rambut gadis bermata coklat madu di depannya.
Ruka, Hotaru, Tsubasa, Nobara dan yang lainnya hanya bisa menatap Sang cahaya di depan mereka dengan kelegaan di dalam hati karena gadis tersebut akhirnya mau tinggal di Kota Iserth ini. Saat pertama kali dia mengetahui mereka akan meninggalkan kota ini, terutama saat mengetahui Ruka, Tsubasa dan Shiki akan pergi ke Elvix, dia memaksakan dirinya untuk ikut bersama. Dan alasannya tidak lain adalah untuk mencari petunjuk akan keberadaan Natsume.
Mereka semua tidak bisa membiarkannya ke Kota Elvix sebab mereka takut gadis ini akan mengetahui kenyataan yang mereka sembunyikan dengan rapat. Nama Natsume pasti telah menjadi buah bibir di kota itu, mengijinkannya pergi sama saja dengan memberitahunya segalanya. Lalu, meskipun sulit dan berat, mereka semua akhirnya berhasil juga menyakinkan Mikan tetap tinggal di Iserth dengan janji mereka akan segera pulang dan membawakannya informasi akan keberadaan Natsume.
"Kurasa kita tidak perlu membuang waktu lagi. Ayo kita berangkat." Ujar Hotaru tiba-tiba.
"Hotaru benar, cepatlah kalian pergi. Waktu sangat berharga bagi kita sekarang," tambah Misaki sambil manatap Tsubasa. "Jaga dirimu, Tsubasa. Jangan membuat masalah atau melakukan sesuatu yang tidak seharusnya, sebab kau harus ingat, kau adalah Raja Arathorn."
"Aku mengerti Misaki." Balas Tsubasa sambil tersenyum menatap tunangannya.
"Itu juga berlaku untukmu, Ruka," ujar Tsubaki, Ratu Issengard sambil menatap tajam anak satu-satunya. "Kau memang masih belum jadi Raja, tapi kau pasti akan menjadi Raja. Kau harus ingat itu."
Nogi tidak mengatakan sepatah kata pun, namun dia mengangguk kepalanya menyetujuhi ucapan istrinya hingga membuat Ruka hanya bisa pasrah dan menjawab, "Iya."
"Kalian juga mesti hati-hati, Sakurano, Shiki." Ujar Kazumi sambil menatap adik dan juga sahabat mendingan adiknya "Aku akan menunggu kepulangan kalian di sini.
"Aku mengerti, Kakak." Balas Sakurano sambil tersenyum.
"Aku mengeti, Yang Mulia." Balas Shiki sambil menundukkan kepalanya memberikan hormat.
"Jaga dirimu, Paman Sakurano." Ujar Yoichi yang dari tadi diam membisu di samping Kazumi tiba-tiba.
Sakurano tersenyum dan membungkukkan badannya untuk memeluk keponakan satu-satunya. "Ya. Kau juga, Yoichi. Ingatlah untuk berlatih sihir dan juga pedang yang telah aku ajarkan padamu."
Yoichi hanya mengangguk kepalanya dan kemudian dia mengangkat kepalanya menatap Shiki dari dalam pelukkan Sakurano. "Anda juga, Shiki-san."
Shiki hanya bisa tersenyum kecil dan mengangguk kepalanya. Dia hanya bisa berpikir betapa miripnya anak kecil berambut abu-abu ini dengan Yuka dan Izumi. Meski mereka masih bertengkar, meski pertemuan terakhir mereka sangatlah buruk, dia masih saja menghawatirkannya. Yoichi benar-benar mewarisi kebaikan hati kedua orang yang sangat penting baginya di dunia ini.
Setelah memberikan salam perpisahan mereka. Ruka, Hotaru, Tsubasa, Shiki, Nobara dan Sakurano segera menaiki kuda yang telah di sediakan untuk mereka.
"Yoichi. Jaga Mikan dengan baik, ya?" pinta Ruka tiba-tiba.
"Jangan membiarkan dia melakukan hal bodoh, Yoichi." Tambah Hotaru kalem
"Aku mengerti." Balas Yoichi dengan wajah tanpa ekspresi.
"HOTARU!" teriak Mikan dengan wajah cemberut akan ucapan Hotaru barusan.
Hotaru tidak mempedulikan teriakkan Mikan, dia menolehkan wajahnya menatap Ruka. "Kau juga, berhati-hatilah."
"Eh!" seru Ruka terkejut, sebab tidak pernah terlintas dalam pikirannya sedikit pun bahwa Hotaru akan berkata seperti itu padanya."I-Iya. Terima kasih, kau juga Hotaru."
.OXOXO.
"Yuu.." Panggil Mikan dari belakang pemuda berambut coklat itu tiba-tiba dan mengejutkannya yang sedang berjalan dalam koridor istana Issengard.
Yuu segera membalikkan badannya menghadap orang yang memanggilnya barusan, dan saat dia melihat orang itu adalah Mikan, dia segera tersenyum, "Ada apa, Mikan?" tanyanya.
Mikan menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan. Saat dia melihat tidak ada seorang pun di dekat mereka, dia segera berjalan mendekati pemuda di depannya. "Yuu.. Maukah kau membantuku?" pintanya pelan.
"Tentu saja, Mikan. Aku akan membantumu dengan senang hati jika aku bisa." Balas Yuu dengan senyum yang masih ada di wajahnya.
"Benarkah? Terima kasih, Yuu." Tawa Mikan penuh kegembiraan denganmata berbinar-binar.
"Katakanlah apa yang perlu aku bantu?"
Mendengar pertanyaan Yuu, Mikan kembali menolehkan kepalanya menatap sekelilingnya, dan saat dia memastikan benar-benar tidak ada seorang pun di sekitar mereka, dia membuka mulutnya. "Maukah kau mengantarkan aku ke Kota Lixir."
"Eh!" seru Yuu terkejut mendengar permintaan Mikan.
"Shh..," Desir Mikan sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir. "Yuu jangan terkejut seperti itu."
"M-Maaf.." ujar Yuu terbata-bata dengan wajah memucat. "A-aku tidak bisa membantumu melakukan itu, Mikan."
Yuu benar-benar tidak tahu harus bagaimana untuk meghadapi permintaan Mikan. Dia tidak mungkin mengantarkan gadis ini ke Kota yang telah hancur itu.
"Kalau begitu antarkan aku ke Kota Elvix." Balas Mikan dengan sedikit memaksa.
"A-Aku tida—" tolak Yuu lagi. Namun sebelum dia berhasil menyelesaikan kalimatnya itu, suara seseorang telah memotongnya. "Antarkan dia ke Kota Elvix."
Mikan dan Yuu segera menolehkan kepala mereka menatap pemilik suara itu dengan wajah penuh ekspresi terkejut, dan mereka lebih terkejut lagi saat melihat siapa pemilik suara itu.
"Antarkan aku dan Mikan ke Kota Elvix." Ulang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun dengan rambut berwarna abu-abu itu lagi.
"Y-Yoichi..." Panggil Mikan dan Yuu dengan pandangan tidak percaya dengan apa yang didengar mereka.
.OXOXO.
OMG! Akhirnya! Update! Lalu… ( tarik napas panjang dulu ) What going on with me! Ada apa dengan pikiranku ini? Ahhh! Uhhh! Haih… -_-" Kenapa akhir2 ini kepalaku tidak bisa konsentrasi? Otakku selalu saja kacau dan tidak tahu ada di mana T_T, makanya updatenya agak lama, maaf , ya -_-" Heck… Kerjaanku lebih parah lagi, salah terus sampai kena omel -_-" , trus makan obat vitamin yang membantu konsentrasiku juga gak efek T_T ( Author lagi stress, jangan dipedulikan -_-" )
Oke kembali ke awalnya lagi setelah curhat Author yang tidak jelas di atas. Bagaimana menurut kalian perkembangan cerita ini? ^^ tambah seru atau sebaliknya? Chapter ini tidak ada perang2nya sama sekali, tapi di chapter ke depannya pasti ada ^^ Chapter ini perlu perjuangan keras dan memeras otakku loh, aku hanya berharap pembaca tidak kecewa, walau ya.. agak pendek sih..-_-"
Saat mengetik chapter ini, aku hanya terus berpikir akan satu hal, yaitu 'Natsume dalam fic ini bodoh, ya?', 'Yoichi itu orangnya jujur bangat ya? Mau2nya menjaga janjinya pada Natsume walau kondisi sudah jadi seperti ini?', 'Shikiitu nyebelin, ya?','Aoi itu polos banget, ya?' hahahahaha aku rasa banyak yang juga berpikir seperti itu ^^ ( Author tidak bertangung jawab -_-"), apa boleh buat, demi ending yang aku inginkan, terpaksa harus seperti ini^^
Lagi-lagi seperti ini -_-" padahal masih ada banyak yang ingin aku sampaikan, tapi pas di saat seperti ini, semuanya pasti 'PLONG', kosong alias tidak tahu apa yang ingin aku sampaikan -_-"
Oh, iya! Hampir lupa aku, FIC INI SUDAH MEMECAHKAN 300 REVIEW! Terima kasih untuk dukungannya selama ini, tidak pernah kusangka fic ini akan disukai orang sebanyak ini^^ Aku benar2 terharu, ternyata ide gila nan aneh serta diluar batas kewajaran ini dapat diterima. Terima kasih pada siapa pun yang telah meriview maupun membacanya, TERIMA KASIH^^
Yukihara Ai : Terima kasih karena telah menyukai dan meriview fic-ku^^, aku senang sekali dan semoga chapter ini tidak mengecewakanmu^^ siapa yang akn mati nanti mash rahasia ya, dan mengenai BnB, aku akan berusaha ntuk menupdatenya deh, walau gak tahu kapan si, sebab otakku lai tidak jalan untuk yang bertema humor hancur berantakan ( hahahaha tertawa gugup -_-" )
Clssico Blu / Daiyaki Aoi : hehehehe di chapter ini Mikan sudah bangkit dan dichapter kedepannya dia pasti akan menjadi semakin kuat. Hehehehe memang dari awal alur dalam kepalaku begini kok, N yang akan membunuh demi M tanpa diketahui siapa pun ( kecuali Y, L dan K tentunya ), sebab menurutku itu sangat romantis dan indah loh (?) bukan di bagian membunuhnya ya? tapi perasan N pada M walau ya… kasihan juga sih ( Padahal aku Authornya sediri -_-" ) Lalu mengenai KxL, nantikan saja, chapter ke depannya mereka akan mendapat bagian yang lumayan banyak. dan juga nasib mereka dalam TODAL juga sudah komplit dalm kepalaku kok, semoga akhir dan kisah mereka akan kau sukai nantinya ^^ Yup, terakhir semoga chapter ini tidak mengecewakanmu^^
Icha Yukina Cyne : hahahaha Aku si tidak ingin nampar N, aku hanya geleg kepala dan erus berpikir dia bodoh ( Ini benar loh ). N gak bisa membunuh K karena K adalah satu-satunya yang memiliki obat penawar racun yang ada di dalam tubuh M ( walau alasan sebenarnya adalah bakal tamat dengan sangat membosankan dng, kalau K langsung mati di tangan N ahahahahah ) Ya, chapter sebelumnya dan chapter ini memang tidak begitu menyedihkan, tapi tunggu saja chapter ke deannya, sebab masih ada flashback akan masa lalu dua orang yang jika berhasil akan membuat semua orang menangis sebab pasti tidak kalah sedihnya dengan masalalu Yuka dan Shiki ( yakin banget o.O) , Yup. Naru mati dan ntar pasti bakal da yang mati lagi ^^ Thx utk dukungannya, aku akan berusaha! Semangat^^
SmileUpSunny : Iya. Tapi kurasa kata happy end itu tergantung pandangan pembaca akan fic ini deh, sebab menurutku fic ini bakal termasuk happy end kok. Pada akhirnya NxM akan tetap bersama ( kalau tidak ntar aku diprotes pembaca nanti ahahahaha ) Mikan akan jadi kuat kok dari chapter ke chapter, tenang saja ^^
Ether Star : Hahahaha nasib Narumi mang kayak gitu ^^, dan Nobara sudah mulai akan ambil alih kok bersama Persona juga ( aku gak sabar juga mau mengetik bagian mereka hahahaha ) Natsume itu mang egois kok, tapi rasanya juga gak bisa menyalahkan dia sih, karena yang dia lakukan sebenarnya adalah untuk melindungi satu2nya orang yang luar biasa berharga baginya. Lalu mengenai Luna, tidak lama lagi dia bakal jadi tokoh utama dalam sebuah chapter kok ^^
Neerval-Li : Yan kuputuskan untuk menaikkan ratingnya, supaya aku bisa mengetik sesuai keinginanku nantinya^^ Ya, benar sekali terkaanmu, akan ada yang mati lagi kok, tapi siapa itu, rahasia ya^^ dan mati ditangan Natsume atau bukan, silakan baca saja nanti^^. Mengenai Aoi dan Yoichi, mereka akan bertemu tidak lama lagi kok ( aku akan berusaha membuat pertemuan mereka itu lucu dan manis sekali deh^^ ) benar, semangat!^^
xxruxx : Benar berpisah^^ tenang saja Mikan sudah jadi semakin kuat kok^^ makasi untuk dukungannya ya, aku akan berusaha, semangat! Mengenai The Pray, aku pasti akan melanjutkannya setelah TODAL tamat^^
DarkCrimson Kagaye Himesaki : hahahaha gak pa2 kok, terima kasih karena sudah bersedia membaca dan meriview fic-ku. Novel? Hahahaha apa ada penerbit yang mau menerimanya ^^ ya, aku akan berusaha! Semangat! Gak perlu khawatir sebab aku sendiri juga sedikit kurang waras ( banyak yang bilang aku kayak gitu loh -_-" ahahahahaha )
Natsume Conan : hahahaha mang kasihan si.. Tapi itu yang bikin seru,kan? Tenang saja mereka akan bersama kok pada akhirnya^^
Rarasati : benar, masih sekitar 10 atau 11 chapter, tenang saja, aku akan menamatkannya tahun ini kok, sebab aku sudah mau melanjutkan ficku yang lainnya^^
Kin No Tsubasa : hahahaha terima kasih de^^ cara membuat konflik kerajaan ya... Uhh.. Aku juga gak tahu bagaimana menjelaskannya, sebab itu semua muncul dalam kepalaku dengan sendirinya saat aku berpikir bagaimana perang dalam TODAL akan berlangsung -_-" hehehe aku memang suka membuat Mikan seperti itu kok, lagian tidak mungkin Mikan langsung bisa jadi kuat dan tabah begitu ditinggalin Natsume, soal dunianya selama inikan hanya ada Natsume seorang, tapi tenang saja dia akan jadi kuat kok^^ Shiki mang jadi nyebelin tapi itu demi alur cerita kok -_-" KxL bukan pasangan favoku kok, tapi di fic ini mereka mungkin akan menjadi pas yang lumayan aku favo kan^^ benar, jangan patah semangat! Semangat!^^
Kierra : semoga chapter ini tidak mengecewakanmu deh^^ hehehehe masa menderitanya NxM sudah dimulai kok^^ Yup, Yoichi itu mang perlu diancung jempol de untuk menepati janjinya dan mengenai Aoi, tenang saja, dia pasti memihak yang benar dong nantinya^^ benra, sebab reviewmu itu berhasil membuatku tersenyum dan tertawa tidak peduli berapa kali aku baca hahahahaha^^
Crimson Brunette : NxM berpisah tapi akhirnya pasti akan bersama kok pada akhirnya^^ mengenai YxA, RxH, tenang saja, tidak lama lagi kok^^
Gyn Rinko : semoga chapter ini juga tidak mengecewakanmu^^ terima kasih untuk reviewnya^^
Thiex : hahahaha syukrlah kalau kau suka^^ dan mungkin sudah memang hobiku ya membuat Mikan jadi seperti itu hahahahaha bagian Rei x Nobara tidak lama lagi kok^^ siapa yang akan mati nanti masih rahasia dulu ya hahahahaha^^ mengenai KxL, nantikan saja kisah mereka semoga kau akan suka dengan kisah mereka nanti^^ kalau Natsume langsung membunuh Kuonji, gak seru dong fic ini nantinya hahahaha. Ya akan ada sedikit cuplikan strawberry kok nanti^^ ya! Ganbatte!
Austine Sophie : hahahaha menderitalah dahulu supaya kebahagiaan akan sangat terasa kelak^^ akan ada yang mati lagi kok nanti di depannya -_- hehehehe silakan membenci Luna, tapi jika sudah tahu kisahnya semoga kau tidak akan membencinya lagi^^ benar! Semangat!
See ya, next chapter ^^
Razux
