Disclaimer: All related things to Persona belong to ATLUS. Shadow the Hedgehog belongs to Sonic Team and SEGA. All things that have similiarities with character or name from other game, movie, anime, etc belong to their respective; And also my friends belong to themselves.


Chapter 35 Remaining Hope

Rabu, 16 September 2009
Dark Hour
Tartarus BS Basement ke-65

Aku merasakan keringat dingin keluar membasahi pipiku, dan seluruh badanku bergetar akibat melihat sosok yang paling tidak ingin aku lihat saat ini. "Sial! Di saat begini monster itu malah datang!" kata Hadi merasa kesal sekaligus panik. "Oh, bagus banget dia datang sekarang. Kalo begini kita semua bisa mati di sini!" kata Nana dengan sarkasme.

"Kenapa dia bisa ada di sini?" tanyaku tidak percaya. "Who knows? Maybe it's because someone made him really angry." tebak Shadow. "Are you blaming me?" protesku merasa dituduh. "I didn't say your name." elak shadow. "Yeah... right." kataku mengabaikan perkataannya.

"Cukup ributnya! Aku nggak peduli ini salah siapa, yang jelas kita harus segera pergi dari sini!" kata Helda menghentikanku dan Shadow. "Helda benar, kita nggak mungkin bisa melawan the Reaper dan dua Guardian shadows sekaligus!" kata Nana setuju. "Iya, tapi masalahnya transporternya ada di belakang mereka. Gimana caranya kita bisa ke sana tanpa mengalahkan mereka? Dari tadi posisi kita nggak pernah bisa berada di sebelah sana. Mereka selalu menutup setiap celah yang ada." jelas Hadi bingung.

"Kalo gitu kita lari di antara mereka aja!" usulku tiba-tiba. "Nggak mungkin! Udah aku bilang kalo mereka itu terus menahan kita pergi ke arah sana! Apalagi keadaan Shadow nggak memungkinkan buat lari seperti biasa." Komentar Hadi tidak sependapat denganku. "Jadi apa yang harus kita lakukan? Diam di sini dan biarin mereka menghabisi kita?" teriakku kesal. "Terserah kalo itu maumu, tapi aku lebih milih bertarung dengan mereka daripada cuma diam." jawab Hadi bersiap menyerang kedua Guardian shadows.

"He's right, this is the only thing we can do right now. You guys keep fighting those creature, I'll take care this one." perintah Shadow menghadang the Reaper. "Are you insane? That's impossible! I can't let you do it alone!" kataku segera berlari ke sisi Shadow. "So, what are you suggestion? We need to defeat those Guardian as fast as possible, not to defeat this creature!" kata Shadow tidak mau dibantu olehku.

"I know, but I'm sure my friends can handle them. Besides, what could you, a wounded black hedgehog do by yourself?" kataku tetap bersikeras membantunya. "Hmph, not much... but I'm sure I am much better than an annoying brat like you." kata Shadow tidak mau mengalah. "Yeah, whatever..." responku tidak peduli.

"Teman-teman, biar ku dan Shadow yang nahan the Reaper. Kalian cepat habisi kedua shadows itu!" kataku kepada yang lainnya. "Tapi Gir...". "Udah, biarin aja. Itu keputusan dia. Lebih baik kita bantuin Hadi." kata Nana segera menarik tangan Helda.

"Huaahh!"*bruk* tiba-tiba Hadi terjatuh di depan Helda dan Nana. "Sial... aku lupa kalo mereka punya serangan es!" kata Hadi berusaha bangkit. "Hm, kalo dipikir-pikir... mendingan kamu bantuin Anggir sama Shadow aja deh. Daripada kamu kena serangan melulu." saran Nana sambil menyembuhkan luka Hadi.

"Nggak ah! Kita 'kan harus segera menghabisi mereka!" kata Hadi kembali menyerang. "Hei..." belum selesai Nana berbicara, Hadi kembali terpental ke arahnya. Kedua wanita tersebut berusaha menahannya agar tidak memperburuk lukanya. "Ugh! Kenapa aku bisa kena melulu sih?" protes Hadi. "'kan tadi udah dibilangin." jelas Nana.

"Udah Di, kamu ke Anggir aja. Kami bisa kok menghadapi mereka berdua." kata Helda. "Diam kau! Aku nggak butuh saranmu!" bentak Hadi. "Tapi itu saranku. Lagian, bukannya kamu lebih suka melawan musuh yang lebih kuat?" kata Nana mengingatkan prinsip Hadi. Hadi terdiam, dia baru sadar akan hal itu. "Ah, benar juga! Baiklah, aku ke sana. Kalian berusahalah!" kata Hadi segera berlari penuh semangat.

"Jadi Hadi tuh orangnya kayak gitu ya... aku baru tau." kata Helda keheranan melihat perilaku Hadi. "Yup, itu kebiasaan yang bikin dia gampang dikerjain. Biarlah, dia senang kok. Mendingan sekarang kita fokus sama musuh di depan." kata Nana menyiapkan senjatanya. "Oke, Arcana Weapon!" kata Helda mengikuti Nana.

"Helda, aku yang maju. Kamu serang mereka aja dari belakang." perintah Nana. Helda segera memanah shadows yang berada di dekat Nana. Tetapi shadows tersebut berhasil menghindar. "Bagus, sesuai dugaanku! Heaahh!" Nana yang mengetahui gerakan musuhnya segera menebas perut shadows tersebut.

"Akhk!" teriak shadows itu kesakitan sambil mundur. Melihat temannya dalam bahaya, shadows yang satunya segera menyerang Nana dengan Bufula. "Hm, Yukina!" Persona milik Nana segera muncul dan menahan serangan tersebut dengan serangan yang sama. Pecahan es pun berpencar ke semua arah.

Sambil menghindari pecahan es, Nana kembali menyerang shadows yang baru terkena serangannya. "Mati kau!"*jlebb* terdengar suara pedang yang berhasil menembus sesuatu. "Apa dia kena?" tanya Helda menghindari pecahan es yang tersisa. Sayangnya serangan Nana hanya mengenai bagian piramid, makhluk itu masih bisa bertahan.

"Duh, nyangkut lagi!" kata Nana berusaha menarik pedangnya yang tertancap. Tetapi pegangannya terlepas saat shadows itu melayang. "Nana, cepat menghindar!" teriak Helda menyadari kalau musuh Nana balik menyerang. "Ugh, gawat!" Nana yang kehilangan keseimbangannya saat pedangnya terlepas tidak bisa bergerak. Makhluk itu berusaha menimpa Nana dengan ujung piramidnya yang lancip*dhuakk*.

Untungnya Persona Helda, Lumina berhasil menahan shadows itu. Sehingga Nana tidak jadi tertimpa. "Fyuh, hampir aja..." kata Helda lega. "Thanks Da!" kata Nana segera berdiri. "Bilang makasihnya nanti aja! Cepat mundur! Kamu 'kan nggak punya senjata!" teriak Helda memperingatkan Nana. "Oh, benar juga!" kata Nana langsung berlari. Tetapi kedua shadows tidak membiarkan Nana lolos begitu saja. Mereka berusaha menyerangnya dengan Garula.

"Na, cepetan! Mereka mulai nyerang lagi!" teriak Helda panik. Nana berlari secepat mungkin sambil melihat arah serangan musuhnya. Lumina pun berusaha melindungi Nana dari serangan tersebut. Setelah berada di dekat Helda, Nana langsung mengambil nafas akibat berlari terlalu cepat. "*hosh* Da, bisa ambilin senjataku *hosh* nggak?" tanya Nana kelelahan. "Bisa aja sih, tapi pedang kamu ada di mana?" tanya Helda bingung.

"Harusnya sih *hosh* masih nancep di shadows *hosh* yang tadi aku serang. Masa *hosh* nggak keliatan sih?" jelas Nana. "Tadi sih keliatan, tapi kalo sekarang..." kata Helda tidak meneruskan perkataannya. "Emang kena—pa?" tanya Nana yang terkejut saat melihat keadaan musuhnya.

Kini di hadapan mereka terdapat tiga shadows tipe Idol. Dan tidak satupun dari ketiga makhluk tersebut yang piramidnya tertancap pedang. "Pedangnya mana?" tanya Helda kebingungan. "Ah sial, pasti udah balik jadi kartu. Jangan-jangan jatuh ke lantai. Kalo begini sih kemungkinan menang kita makin kecil." jelas Nana kesal.


Di sisi lain, aku, Hadi dan Shadow sedang menghindari hujan tembakan yang diberikan oleh the Reaper. "Cih, kalo begini terus kita bisa mati kecapekan gara-gara menghindar melulu!" komentar Hadi. "Ya emangnya kamu punya ide selain menghindar?" tanyaku. "Nggak, tapi aku nggak mau terus-terusan kayak gini." Jawab Hadi. "Siapa juga yang mau terus-terusan dansa nggak jelas kayak gini? Kalo ku sempet nyerang sih, udah ku lakuin dari tadi!" komentarku.

"Guys, listen! There is a chance to attack it. We can attack when it ready it's bullet. Watch it's movement carefully, because it only happen for a moment!" jelas Shadow. "Great analysis you got there Shadow!" puji Hadi.

Kami pun berusaha menghindar sambil sesekali memperhatikan gerakan the Reaper. Tiba-tiba aku melihat the Reaper mengangkat kedua senjatanya ke atas kepalanya. "Now is the time!" teriak Shadow juga menyadarinya. "Heeahh!" aku dan Hadi segera berlari mendekati makhluk tersebut.

The Reaper menyadari perubahan gerakan kami dan sesegera mungkin mengarahkan senjatanya kepada kami *dor,dor*. Tetapi tembakan Shadow ke arah senjatanya berhasil menahannya untuk menyerang kami. *slash,dhuukk* Serangan kami berdua berhasil mengenai tubuhnya. "Grraahh!" the Reaper berteriak kesakitan dan mementalkan kami berdua menggunakan rantainya.

"Huahh!" serangan the Reaper memisahkanku dan Hadi. "Huff, are you alright?" tanya Shadow berhasil menangkapku. "Yeah... where's Hadi?" tanyaku mencari Hadi. "He is over there, with the girls." jelas Shadow. "Huh? Jump!" kataku melihat rantai yang menjalar ke arah kami berdua. Shadow segera melemparku ke udara. Aku berhasil menghindar, tetapi Shadow tertangkap oleh rantai tersebut. "No, Shadow!" teriakku panik.

"Ugh, this is bad!" kata Shadow berusaha melepaskan diri, tetapi ikatan rantai tersebut terlalu kuat untuknya. "Grr... Ziodyne!" the Reaper segera menyerangnya dengan listrik yang mengalir melalui rantainya. "Ghhuuaa!" teriak Shadow tersengat listrik. "Shadow!" aku berusaha memotong rantai tersebut dengan senjataku, tetapi aku justru ikut terkena aliran listrik tersebut. "Aaarggh!"

Lalu the Reaper melempar kami berdua ke arah yang lain berada *brukk*. "Anggir, Shadow!" teriak Nana terkejut melihat kami tersungkur di lantai. "Ugh... hai... mana Hadi sama Helda?" sapaku baru sadar dari sengatan listrik. "Mereka ada di... sana." tunjuk Nana mengarah ke Hadi dan Helda yang dikelilingi tiga shadows.

"What the Heck? Kenapa mereka bisa ada di sana?" teriakku shock. "Sorry, ini gara-gara tadi aku minta tolong Helda buat ambilin Arcana Card-ku. Tapi Hadi tiba-tiba muncul dan dia bilang dia yang bakal ambilin. Tapi Helda malah tetep ke sana karena Hadi lemah sama serangan mereka. Sisa detailnya... yah, kamu tau sendiri 'kan?" jelas Nana agak bingung.

"Iya, jelas, banget. Mereka berdua terlalu keras kepala untuk dihentikan. Begini nih yang ku nggak suka dari mereka berdua! Na, tolong heal dong, badanku lemes semua nih!". Aku ingin menolong mereka, tetapi tubuhku terlalu lemas untuk bergerak. "Mana bisa, 'kan tadi udah aku bilang kalo Arcana Card-ku ada di sana." jelas Nana. "Oh, great." kataku kesal.

"But this one will give us greater 'gift' if we can't get up and run." kata Shadow menarik perhatianku dan Nana. The Reaper mulai mendekati kami perlahan sambil mengarahkan senjatanya. "Okay, now I'm really pissed of by my own words." kataku pasrah.


"Sial, kenapa keadaannya selalu memburuk sih?" komentar Hadi melihat dirinya dalam keadaan terdesak oleh tiga shadows Idol. "Dan yang lebih parah lagi... kenapa kamu juga ada di sini?" tanya Hadi kepada Helda. "Udah berkali-kali aku bilang kalo kamu nggak akan bisa melawan mereka semua sendirian. Apalagi dengan kelemahan Personamu itu!" jelas Helda.

"Huh, aku nggak butuh bantuanmu. Aku bisa lawan mereka sendirian. Mereka itu nggak ada apa-apanya dibanding the Reaper yang barusan aku lawan." kata Hadi sok kuat. "Iya, sampe kamu dipentalin ke sini 'kan?" komentar Helda dengan sarkasme. "Itu karena aku udah capek aja. Kalo tenagaku pulih dia pasti langsung mati sama pukulanku!" kata Hadi membela diri.

"Oh, iya deh, cukup tau." kata Helda mengalihkan pandangannya dari Hadi. Dia melihat ketiga musuhnya bersiap menyerang mereka lagi. "Di, mendingan kamu mundur aja deh. Mereka mau nyerang lagi." kata Helda memperingatkan Hadi. "Biarin aja, aku bisa menghindar kok! Yang penting sekarang aku harus temuin kartu Nana dulu!" kata Hadi menghiraukan peringatan Helda.

"Thou...Mabufula!" kristal-kristal es mulai bermunculan dan menjalar ke arah Hadi dan Helda. Mereka berdua berusaha menghindar dengan bantuan Persona masing-masing. Tiba-tiba Hadi melihat selembar kartu tertancap di piramid salah satu shadows yang menyerangnya. "Ah, itu dia!" kata Hadi segera berlari menuju shadows tersebut.

Perhatian Hadi terlalu terfokus pada shadows yang ditujunya, hingga dia menyadari ada bayangan yang muncul di atasnya. "Hadi, awas!" teriak Helda segera mendorong Hadi yang hampir tertimpa piramid *bruukk*. "Ugh... hampir aja." kata Hadi lega. Akan tetapi rasa lega itu menghilang saat dia melihat tubuh Helda yang berada di bawah shadows.

"Hah?" teriak Hadi shock. "Ha-di... di-belakang-mu..." kata Helda terbata-bata. "Apa?" Hadi segera membalik badannya dan melihat shadows yang tadi dikejarnya telah berada di hadapannya dengan posisi piramid yang hampir menusuknya.


'Sial! Udah berapa kali aku ngomong sial malam ini? Apa aku terlalu gegabah? Bukan! Ini semua gara-gara Anggir bawa wanita sialan itu ke sini! Ya, ini semua gara-gara dia!' pikir Hadi panik.
'Benarkah begitu?' tiba-tiba dia mendengar sebuah suara.
'Huh? Siapa kau?'
'Oh, jadi kau sudah melupakanku ya?'

'Lupa? Tunggu dulu... apa ini yang dimaksud dengan moment sebelum kematian? Katanya kalo kita akan mati waktu serasa terhenti dan kita akan mengingat suara orang-orang yang pernah kita kenal.'
'Ya, mungkin saja bisa dibilang begitu. Tapi belum tentu itu benar.'
'Jadi apa dong yang benar?'

'Apa itu kebenaran? Apa kau sudah mengetahui semua kebenaran yang ada di sekitarmu?'
'Ya, aku tau kalo Ayahku yang menyebabkan kekacauan ini. Dark Hour, shadows, Tartarus, beserta Apathy Syndrome. Tapi aku juga tau kalo yang menyuruh ayahku adalah ayahnya Goman. Jadi dia juga bersalah!'

'Begitu ya? Lalu kenapa kau tidak membunuh Ayahnya Goman jika memang dia penyebab utamanya?'
'Itu karena... dia Ayah temanku. Aku tidak ingin temanku sedih hanya untuk membalas dendam. Lagipula dia sudah berjanji untuk membayar semua kesalahannya.'

'Kalau begitu, bagaimana dengan wanita yang baru saja menolongmu?'
'Kalo Helda berbeda! Dia telah menipu kami dengan berpura-pura menjadi teman. Dia juga telah menjebak Goman dan Aziz. Dan membangkitkan Darkness dari dalam diri Anggir! itu semua salah—'
'...dia. Tetapi dia menyesali perbuatannya dan sekarang berusaha untuk memperbaikinya. Bukankah itu sama saja dengan Ayahnya Goman?'

'Tidak! Itu pasti hanya rencana busuk lain darinya! Dengan adanya dia bersama kami, kehancuran SEES sudah dapat terlihat!'
'Kalau itu benar, kenapa dia mau mengorbankan dirinya untuk menolongmu? Seorang penipu tidak akan pernah mengorbankan dirinya sampai mati untuk menipu orang lain.'

'Ah! Itu...'
'kalau kau masih belum percaya, baiklah akan aku perlihatkan sekali lagi.'


"Apa?" Hadi melihat shadows yang tadi dikejarnya telah berada di hadapannya dengan posisi piramid yang hampir menusuknya. Tiba-tiba Lumina muncul dan menghalangi serangan shadows tersebut dengan tubuhnya. "Kau... Personanya Helda..." kata Hadi terkejut melihat Lumina melindunginya.

"Anggir, ternyata kamu benar..." kata Hadi teringat perkataanku. 'Kamu merasa bersalah dan kesal karena tidak bisa menerima kenyataan. Hal itulah yang membuat dirimu menjadi lemah.'. "Ternyata aku memang masih lemah. Baiklah, mulai sekarang aku juga akan mengubah cara pandangku terhadap dunia ini." kata Hadi tersenyum.

"Rai-Oh, Vicious Strike!" perintah Hadi sambil memukul shadows yang menimpa Helda. Rai-Oh segera memukul shadows yang ditahan oleh Lumina. Kedua shadows tersebut terpental dari serangan Persona dan User-nya hingga hancur.

"Helda, kamu nggak apa-apa 'kan? Bertahanlah!" kata Hadi segera mengangkat punggung Helda. "Uuhh... rasanya kaki kiriku patah deh." jawab Helda masih sadar. "Separah itu ya... baiklah, ayo kita ke yang lainnya." kata Hadi sambil menggendong Helda dipunggungnya.

"Oh, ternyata kamu nggak seberat Nana ya!" kata Hadi bercanda. "Awas didenger Nana, nanti kamu bisa dihajar lagi sama dia." kata Helda. "Oh iya... untung jauh. Hehe..." kata Hadi tertawa kecil. Hadi segera berlari sambil membopong Helda ke arah kami. Tetapi shadows Idol yang tersisa tidak membiarkan mereka lolos.

"Hadi, ada serangan Bufula mendekat!" kata Helda menoleh ke belakang. "Gitu ya... Rai-Oh, Mazionga!" petir-petir segera menyambar dan menghancurkan kristal es yang mendekati mereka.

"Hai teman-teman!" sapa Hadi setelah bertemu kami. "Oh, kalian selamat!" kataku merasa lega sambil tetap tiduran. "Nggak juga, kakinya Helda patah lho!" jelas Hadi sambil menurunkan Helda. "APA?" teriakku histeris. "Yah, salahku juga sih... tapi mendingan sekarang kita pikirin dulu cara keluar dari situasi apes ini." kata Hadi melihat the Reaper yang sudah berada di dekat kami.

"Jangan cuma lihat depan, belakang juga dilihat!" kata Nana memberitahu kami. Aku berusaha menoleh dan melihat empat, ya empat shadows tipe Idol mendekat. "Ah... rasanya ku nggak bakal bisa bangun lagi deh. Enaknya kalo kayak gini ngapain ya...?" kataku pasrah.


(Third Person POV)

Tartarus BS ruang ke-66 (Ruang Standby SEES)

"Feby, gimana keadaan yang lain di dalam sana?" Tanya Adipta kuatir. "Mereka masih kesulitan menghadapi Guardian shadows yang terus bermunculan. Ditambah lagi adanya the Reaper." jelas Feby muram. "Duh, ini gawat! Man, Ziz, ayo kita bantuin mereka!" kata Harry segera berlari menuju transporter.

"Tunggu dulu Har!" kata Adipta menghentikannya. "Tunggu apalagi? Lu mau liat mereka mati?" bentak Harry. "Bukan gitu, masalahnya kalo kita ke sana sekarang juga percuma. Dark Hour tinggal sepuluh menit lagi. Sementara kita nggak bisa langsung muncul di basement ke-65. Paling dekat cuma basement ke-63, belum lagi lawan shadows yang bakal muncul." jelas Adipta.

"Jadi lu lebih milih diam di sini dan nungguin berita kematian mereka?" kata Harry kesal. "Udah-udah, jangan pada ribut. Gimanapun juga apa yang Weton bilang emang benar. Kita cuma bisa berdoa agar mereka bisa lolos dari masalah ini." kata Goman melerai Harry dan Adipta.

"Tumben mau berdoa, ibadah aja jarang." ejek Aziz. "Enak aja... gini-gini aku juga masih suka beribadah tau!" protes Goman. "Iya, palingan cuma kalo pengen dapet cewek..." komentar Aziz pelan. "Apa Ziz?" tanya Goman tidak mendengar perkataan terakhirnya. "Ah, nggak..." elak Aziz.

"Hei, kalian kok malah pada ribut sih? Udah deh, mendingan kita tenangin diri dan berdoa biar mereka selamat!" teriak Feby menghentikan keributan para pria. Mereka pun segera terdiam. "Nah, itu 'kan lebih baik... (Tapi... seandainya aku juga bisa membantu mereka... apapun, walau hanya memulihkan kondisi mereka yang terluka)" kata Feby sambil berharap.

'Innis, apa tidak ada yang bisa aku lakukan selain melihat mereka bertarung?' tanya Feby.
'Masih ada harapan, asalkan kau dan teman-temanmu percaya.' jawab Innis.
'Benarkah? Tentu saja aku percaya, tapi yang lainnya...'
'Itu tandanya kalian belum saling mempercayai. Coba kau lihat mereka.'

Feby memperhatikan teman-temannya satu per satu. Sekarang mereka semua berdiam diri dan penuh rasa kuatir. Berharap akan suatu keajaiban muncul. Feby juga melihat teman-temannya yang terdesak. Meskipun dalam keadaan bahaya mereka terus bertahan bersama hingga saat-saat terakhir.

"Baiklah, aku percaya kalau mereka pasti bisa! Karena itu, aku ingin membantu mereka lagi. Lebih dari apa yang biasanya aku lakukan! Aku akan membantu dengan segenap kekuatanku!" kata Feby penuh keyakinan. Yang lain langsung menoleh kepadanya dengan rasa heran.

"Hm? Membantu? Ya, gue juga mau nolong mereka!" kata Harry seakan-akan mengerti maksud Feby. "Aku juga mau!" kata Aziz ikutan. "Ayo, kita pasti bisa!" teriak Goman bersemangat. "Itu benar, kita semua pasti akan membantu." jelas Adipta yakin.

Tiba-tiba Arcana Card yang mereka miliki bersinar. Dan sinar tersebut menyatu ke dalam tubuh Feby. "Inilah kekuatan yang bisa kami berikan untuk kalian!" kata Feby.


(Anggir POV)

Tartarus BS Basement ke-65

Kami berlima sudah terdesak oleh lima shadows yang kuat, bahkan salah satunya merupakan shadows terkuat di Tartarus. Aku tidak suka mengalami keadaan buruk seperti ini, tetapi apa boleh buat. Mungkin sudah takdir kami selesai di sini.

"Do you give up?". "Eh?" aku pun menoleh ke arah Shadow yang terbaring di sisiku. "Just because you can't move anymore then you're going to give up?" tanya Shadow sekali lagi. "What else could we do? There's nothing! Even both of us can't move our hands!" jawabku pasrah.

"Pathetic."
"Huh?"

"Idiotic boy. Mindless human. Useless creature." Shadow terus menghinaku. "Want me to say more?" tantang Shadow. "Nope, let me say the last word. Dasar bodoh!*bletak*" kata Hadi sambil memukul kepalaku. "Auoww! Kenapa ku pake dipukul? Gerak aja udah nggak bisa!" protesku kesakitan.

"Biar otakmu sadar kalo pikiranmu barusan itu benar-benar pikiran yang bodoh! Baru aja aku ingat kalo kamu dulu pernah bilang nggak akan menyerah. Tapi sekarang? Payah deh!*bletak*" jelas Hadi kembali memukulku.

"Oke, oke ku ngaku salah! Nggak usah pake mukul ku lagi dong!" teriakku berusaha menghentikan perbuatan Hadi. "Bagus, apapun yang terjadi jangan menyerah! Kita masih bisa bertarung!" kata Hadi kembali bersiap untuk bertarung.

"Hadi benar, nggak punya senjata bukan berarti aku udah nggak bisa bertarung lagi!" kata Nana sependapat. "Personaku masih bisa bertarung, jadi nggak mungkin aku diam aja di sini." kata Helda ikut-ikutan. "This kind of pains... are nothing beyond my spirit!" kata Shadow berusaha bangkit.

"Teman-teman... begitu ya... oh, well... ku juga nggak akan menyerah! Weapon Change!" kataku kembali bersemangat. Aku pun berusaha menopang tubuhku dengan tombakku. Lawan kami terlihat kaget melihat semangat pada diri kami, tetapi mereka tetap mendekati kami dengan niat membunuh.

"This is it! Let's do this! Heaahh!" teriakku penuh semangat. Tiba-tiba sebuah cahaya muncul dan menyilaukan mata kami semua. Aku pun menghentikan seranganku dan menutup kedua mataku. Sesaat setelah menutup mata, tubuhku terasa ringan. 'Perasaan hangat ini... teman-teman!'. Begitu aku membuka mataku, aku melihat Wild Card milikku melayang di depanku. Kartu tersebut menunjukkan gambar menara.

'Thou art I... I am thou. The bond thou hast nurtured hath finally matured. The innermost power of the Tower Arcana hath been set free. We bestow thee to unleash the Ultimate power of the Tower Arcana...'

'Tower Arcana…. Arcana yang berasal dari SEES Social Link. Inikah kekuatan dari teman-temanku?' pikirku menerima kartu tersebut. Begitu cahaya tersebut menghilang, posisi kami tidak berubah. Bahkan musuh kami masih berada di tempat semula, bersiap untuk menyerang kami. Tetapi ada satu hal yang berbeda.

"Hey, semua lukaku sembuh!" kataku melihat diriku bisa berdiri tegap. "Ah, benar! Kakiku juga bisa gerak lagi!" kata Helda sambil menghentakkan kaki kirinya. "My stomach... the wounds are gone." kata Shadow terkejut.

"Teman-teman! Syukurlah keadaan kalian pulih!" suara Feby tiba-tiba muncul. "Ini pasti dari kamu ya Feb!" tebak Nana. "Bukan, ini dari teman-teman yang bersamaku. Kami semua mengerahkan tenaga untuk membantu kalian karena kami percaya kalian pasti berhasil!" jelas Feby.

"Wah, thanks Feb! Kalo kayak gini kita pasti bisa menang!" jelas Hadi makin bersemangat. "Kalo gitu biar aku sama Helda yang urus Guardian shadows. Para cowok urus the Reaper." perintah Nana.

"Mau bertarung lawan gender sejenis ya? Boleh juga." kata Hadi tidak keberatan. 'Emangnya shadows juga ada perbedaan gender ya...?' pikirku sweatdropped. "Tapi sebelum itu... Anggir, Shadow, aku butuh bantuan kalian." kata Hadi menoleh kepadaku dan Shadow.

"Apaan?" tanyaku penasaran. "Pinjamkan aku kekuatan kalian berdua untuk sesaat." jelas Hadi. "Huh?... ku nggak terlalu ngerti sih, tapi oke deh!" kataku asal bicara. "Bagus, kalo gitu, Rai-Oh!" Hadi kembali memanggil Personanya.

"Anggir! Shadow! Arcana Change, Tower Arcana!"
"Hadi! Rai-Oh! Chariot Arcana!"
"Fusion Spell, Thunder Call!"

Sebuah awan mendung pun muncul dari langit-langit basement. Terdengar gemuruh petir yang siap keluar dari awan tersebut. Dalam sekejam mata, petir-petir turun seperti hujan dan menyambar semua musuh kami. Petir-petir tersebut seakan-akan menari dan terus menyambar hingga tersisa tiga shadows yang melemah. Dua shadows tipe Idol dan the Reaper.

"Nah, kurasa cukup adil kalo begini." kata Hadi puas. Aku dan yang lainnya hanya bisa terkejut melihat perbuatan kami barusan. "Se-sejak kapan kamu tau kalo kita punya skill kayak gitu?" tanyaku masih shock. "Entahlah, aku sih cuma iseng coba aja. 'kan kita punya jenis serangan yang sama." tebak Hadi.

'Cuma iseng... nggak mungkin!' pikirku tidak bisa mempercayai perkataannya barusan. "Yah, daripada mikirin soal begituan mendingan sekarang kita habisi shadows terkuat di Tartarus dengan sekali serang." usul Hadi. "Sekali serang? Entah kenapa ku merasa kita emang bisa melakukan hal itu sekarang..." kataku bingung dengan kemampuan diriku sendiri saat ini.

"Ayo kita maju!" kata Nana. Helda segera mengikuti Nana melawan dua Guardian shadows yang tersisa. Sementara aku mulai merasa kepercayaan diriku meningkat. "Okay, kalo gitu sekarang giliranku! Shadow, Hadi, pinjamkan kekuatan kalian berdua!"

"Anggir! Fool Arcana! Tower Arcana!"
"Shadow! Judgement Arcana!"
"Hadi! Chariot Arcana!"
"Gold Arcana Awakening!"

Kedua Dual Sword milikku berubah menjadi pedang listrik. "Now, behold my new power!" kataku kepada the Reaper. Makhluk itu tidak tinggal diam, dia berusaha menembakku dan melempar rantainya untuk menangkapku. Tetapi aku segera menghidar ke belakangnya seperti kilat.

"What are you shooting at?" tanyaku dengan nada mengejek. *slash* Aku segera melempar the reaper ke udara dengan pedang kananku. "This is just the beginning!" kataku melompat dan menebasnya dua kali dari sisi kiri dan kanan *slash,slash*. "Last one, Lightning Flash!" teriakku menebasnya dari atas seperti petir *dhuuarr*. Tubuh the Reaper pun rata dengan lantai yang retak akibat seranganku barusan.

"Oke, ku akui kalo serangan yang satu ini emang agak berlebihan. Tapi daya penghancurnya emang hebat!" kataku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku lakukan. "Ya, aku setuju soal itu." kata Hadi juga terkejut. "I have nothing to say about it." tambah Shadow.

Setelah kami menemui Nana dan Helda yang juga berhasil mengalahkan Guardian yang tersisa tanpa perlawanan yang sulit, kami segera berlari menuju transporter. "Wait, kenapa kita harus buru-buru balik?" tanyaku baru sadar. "Karena kita... oh iya, kita 'kan udah sembuh semua." kata Nana juga baru sadar.

"Tapi Dark Hour tinggal empat menit lagi! Kalo kita nggak segera pergi nanti kita semua terjebak di sini!" jelas Feby mengingatkan kami. "Iya, tapi kalo nggak salah tadi kamu bilang di basement ini ada pintu 'kan?" kataku berusaha mengingat perkataan Feby. "Iya sih..." kata Feby.

"Kalo gitu ku mau cek pintu itu bentar ya! Kalian balik duluan aja!" kataku melihat pintu hitam yang berada di ujung lorong. "Aku ikut Gir!" kata Hadi menyusulku. "*sigh* Gimana nih?" tanya Helda kepada Nana. "Ya udah, kita tungguin aja mereka di sini. Dasar cowok, nggak pernah bisa diam kalo lagi penasaran." komentar Nana.

Aku segera membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam. "Yah... cuma ruangan gelap yang kosong." kataku kecewa. "Bukannya di sana ada pintu ya?" tunjuk Hadi ke pojok kanan ruangan. Setelah kami mendekat, ternyata pintu putih tersebut hanyalah gambar dinding.

"Yah, sia-sia kita masuk ke sini. "I don't think so." kata Shadow melihat sebuah kunci yang tergantung di dekat gambar tersebut. "Kunci ini buat apa ya?" tanyaku penasaran. "Yang jelas bukan buat gambar ini. Soalnya lubang kunci aja nggak ada." tebak Hadi. "Yup, kau benar." kataku setelah mencoba memasukkan kunci tersebut ke gambar lubang kunci.

"Then we should keep it until we find out about it." usul Shadow. "Heh, cepetan dikit kenapa sih? Dark Hour tinggal dua menit lagi tau!" teriak Nana dari pintu masuk. "Iya-iya!" kataku segera menyimpan kunci tersebut dan berlari menyusul Nana dan Helda yang pergi duluan ke dalam transporter.

"The door... is it really just a picture?" tanya Hadi kepada Shadow. "I'm not sure... there must be a meaning from that symbol." kata Shadow melihat sebuah simbol berwarna hitam yang berada di 'pintu'. "Do you think so?". "Who knows?". Mereka berdua pun berjalan meninggalkan ruangan tersebut dan menyusul Anggir.


Looong time no see! Maaf udah bikin kalian semua nunggu hingga dua bulan lebih. Jadi mahasiswa tingkat akhir itu emang bener-bener super sibuk sih. Ya, mau gimana lagi? Setidaknya ku masih bisa update biarpun chapternya pendek.

Dan selagi istirahat (yup, bukan libur) di bulan puasa ini ku usahain bisa update satu chapter lagi. Well, akan ku kasih secuil spoiler buat next chapter: Powerful shadows. Sisanya tebak sendiri, problem?

Okelah, mendingan sekarang ku cek Reviewer Responds!

1st, siGANTENG:
'kan udah ku bilang kalo bakal dimasukin :v
Dan sekarang semuanya udah beres. Setidaknya untuk chapter ini...

2nd, Sync The Dragon Tempest:
Chapter ini climax dari Tartarus "Make Up Plan" Arc kok, jadi nggak ada cliffhanger-nya.
Soal the Reaper, ku setuju soal itu, makanya di sini ku buat lebih real. Lewatin tangga kecil aja bisa, masa naik tangga ke lantai berikutnya nggak berani? Tapi kalo di game kayak gitu ku pasti lebih sering mati.

3rd, Shaneeta Chornichels:
Mau jadi chara Social Link? Ah maaf, slot Social Link udah penuh. Di fanfict ini nggak semua (21 Arcana) jadi Social Link. Ngurus 8 Social Link aja udah susah...

4th, Aria Panda Chan:
Pulinpa di P3 sama di P4 beda lho! P3 bikin skill nggak bisa dipake, sementara di P4 bikin confuse, jadi bisa nyerang party sendiri atau buang uang, tapi kalo buang uang sih nggak penting :v
Ah, reviewer +1 YES! Tenang, udah diconfirm kok (Shadow: Responnya telat banget, fail)

5th, Kirazu Haruka:
(Shadow: Let me kill her!)
Jangan nanti ku -1! Wait, I mean, jangan terlalu dipikirin! Pendapat tiap orang 'kan macem-macem!
(Shadow: One more~~*brakk*)
Demi keamanan, ku nggak akan jelasin maksud Shadow barusan.
Oh btw, salam balik juga ya!

6th, Satia Vathi:
Ah, makasih tawarannya, tapi udah pada sembuh kok :v

7th, LucyLucielle:
Ah, ku juga sering di-troll sama Operamini
Oh, kalo soal komentar Hadi paling jago! *run*
Kalo yang ini udah tamat? Nungguin P5 (kalo ada dan nyambung banget sama P3) Kalo nggak, ya... liat aja nanti.

8th, Mocca-Marocchi:
Dari awal bikin fanfict emang ku udah punya rencana munculin the Reaper 1-2 kali. Soalnya kalo cuma sekali dan menangnya cuma kabur nggak akan seru. Tapi di chapter ini battle-nya nggak terlalu lama juga sih. Susah manjangin alurnya tanpa bikin kacau.

9, Shinichi kuroba:
Yang "Anti Hour" Arc 'kan cuma side story. Tapi ngaruh ke main story juga sih...
Yang namanya bakar muka biarpun apinya kecil juga lumayan terasa. Sisa pertanyaan anda akan dijawab oleh waktu. Nggak baik kasih spoiler terlalu banyak.

10th, :
Emang punya rencana buat dijadiin novel sih... tapi belum ada uang buat bikin cetakannya T_T
Plus, ku butuh ilustrator. Well, kalo yang ini sih sebenarnya ada.
Helda? Tsundere? Cukup hilangkan bagian "dere". Kalo nggak ku bisa mati.


WoW, 10 reviewer! Thank you very much! Dan ku juga mengucapkan terima kasih bagi semua reader yang pernah baca atau sekedar iseng buka fanfict ini. Ku akan berusaha meningkatkan alur cerita (Tapi nggak akan berat-berat kok, karena ku juga pusing bikinnya) plus kualitas cerita dan penulisan fanfict ini. ku harap para reader yang telah membaca semua fanfict ini bisa memahami tujuan specialku dalam membuat fanfict ini (Nggak usah repot, kalo nggak ngerti maksudnya ya nggak masalah. Toh ini buat hiburan kok :v)

Akhir dua kata, Selamat berjuang!