Sasuke mengekor di belakang Itachi, pandangannya tidak mau lepas dari pintu kamar yang dijaga Juugo.
"Kemari, Sasuke."
Keturunan Uchiha yang lebih muda itu menoleh. Punggung lebar kakaknya menyambut pandangannya yang dingin. Tapi Sasuke tidak memendam apapun. Ia hanya tidak tahu harus mengharapkan apa saat kakaknya itu berkata ingin membicarakan sesuatu.
Ia bisa merasakan tatapan Sai dan Ino di punggungnya saat mereka berdua menutup pintu kaca beranda, membuat suara tidak bisa terdengar dari luar maupun dalam.
Bau udara malam musim gugur memenuhi paru-parunya.
"Kau tidak perlu minta maaf."
Itachi memandangi adiknya.
"Aku pasti juga akan melakukan yang sama. Mungkin." imbuh Sasuke.
"Aku berencana menikahi Tenten."
Bola mata Sasuke meredup. Ia menoleh, membalas tatapan Itachi.
"Aku juga sama."
Suara serangga malam bersahutan. Tidak satupun dari mereka memutus kontak mata. Tidak satupun dari mereka berencana beramah-tamahーsayangnya, tidak.
Seperti yang Itachi bilang pada Tenten, ia akan mencari jalan keluar dari cinta segitiga konyol ini.
"Tidak akan ada yang mundur kecuali kau atau aku mati, huh?"
"Tepat sekali."
Tapi mereka berdua tahu lebih dari siapapun; saling membunuh bukan jawabannya.
...atau benarkah?
"Terakhir kali kekerasan digunakan, kita berdua justru menyakiti Tenten." kata Sasuke.
"...ya. Cintanya tidak pernah timpang sebelah." Itachi memelankan suaranya.
"Tenten pasti menginginkan kita kembali bersama. Bertiga."
"Aku juga mengharapkan hal yang sama."
Sasuke memejamkan matanya.
"Katakan, Itachi...apa yang membuatmu mencintai Tenten?"
Fokus pandangan Itachi mengabur. Pertanyaan yang cukup berat. Pada dasarnya, mereka berdua pasti memiliki alasan yang kurang lebih sama.
"Aku tidak punya alasan."
"..."
Dan Sasuke juga pasti sama. Tapi jika dipaksa memberitahu alasan...
"Well, damn. Dia gadis paling beruntung di dunia ini."
Itachi tersenyum tipis. Dicintai kedua kakaknya yang tidak lagi punya moral; tentu saja. Banyak gadis bersedia membunuh untuk berada di posisi Tenten.
Tenten ada di sana. Di saat keluarga mereka utuh. Di saat keluarga mereka mulai hancur. Di saat tidak ada lagi keluarga. Di saat cintanya dituntut. Di saat cintanya juga menuntut untuk tidak dibagi.
Di saat harusnya ia membenci.
"Sekarang bagaimana?"
"Entahlah."
Sasuke merengut. "Kau yang tertua. Putuskan sesuatu."
Itachi tertawa. "Baiklah. Aku yang menikah dengan Tenten. Kau menonton saja."
"Hei!"
"Kau meminta keputusanku, bukan."
"Tidak bisakah keputusanmu melibatkan Tenten menikah denganku dan kau mengalah?"
"Kalau begitu, jadinya bukan keputusanku. Tapi kemauanmu."
"Kenapa Tenten harus jadi saudara kita?"
Itachi terhenyak. Ia menoleh ke Sasuke.
"Apa aku harus menjawab itu juga?"
Sasuke tetap melanjutkan. "Kalau saja dia bukan saudara kitaーkalau saja kita semua terlahir kembaliー"
Plak!
"Aw!" Sasuke memegangi dahinya. "Apa yang kau lakukan?!"
Itachi memasang tampang serius.
"Kalaupun itu terjadi, aku pasti akan meminta untuk diberikan kehidupan ini."
Giliran Sasuke terhenyak.
"...lagi?"
Itachi mengangguk. Kehidupan di mana ada Fugaku, Mikoto, Sasuke dan Tenten. Kehidupan di mana kedua orang tua mereka mati dan mereka mencintai adiknya sendiri. Kehidupan di mana mereka bertiga dipertemukan kembali tanpa ada solusi; terjebak di status quo.
"Kenapa?"
"Di kehidupan lain, bisa saja Tenten terlahir sebagai milik orang lain. Kau dan aku bukan saudara, kita semua tidak pernah bertemu."
"Tapi bisa saja ia jadi milik salah satu dari kita. Tanpa semua kerumitan ini, Tenten bisa lebih bahagia."
"Aku bisa bertemu Tenten di dunia ini. Aku memilikinya sebagai adik. Ia mencintaiku sekarang, lebih dari sebagaimana saudara mencintai sesama. Aku mencintainya. Kau mencintainya. Tenten mencintaimu. Di kehidupan lain, kita bisa saja kembali bertemu di cinta segitiga, tapi akan ada yang terluka."
Tangan Itachi meraih kepala Sasuke, mengelusnya.
"Tidakkah kau pikir kehidupan ini lebih adil pada kita?"
Sasuke membuang muka. Karena tidak menyukai Itachi yang memperlakukannya seperti anak kecil atau karena perkataannya, Itachi tidak tahu.
"Aku tidak masalah mengorbankan perasaanku demi Tenten." gumam Sasuke.
"Hm?"
"Tapi dengan perasaan yang sudah seperti sekarang...Tenten bisa saja akan memilih salah satu dari kita. Seseorang selalu akan terluka."
"Kalau begitu, Tenten pasti memilihkuーow."
Sasuke mencengkram erat pergelangan tangan Itachi, perempatan jalan munchl di dahinya.
"Kau bicara apa? Tentu saja aku."
"Aku akan mengasingkanmu lagi. Apa Guatemala cukup jauh buatmu?"
"Fuck you, Itachi."
Sasuke mengumpat untuk kedua kalinya saat Itachi mendorong kepalanya hingga ia nyaris terjungkal ke depan, menuju tanah kebun.
"Kau tenang saja. Saat itu tiba, aku akan melakukan sesuatu."
"Sesuatu?"
Itachi tersenyum.
Sasuke merengut melihatnya.
