Tittle: Elf
Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi
Genre: Supernatural, Crime, Friendship
Rate: T
Warning: OOC, OC figuran, Typo pake es, bahasa tidak sesuai EYD
Enjoy...
Chapter 35: Case 6, Preparation
"Ryota-kun, sepertinya sesi pemotretan kedua akan ditunda karena menunggu model yang satunya datang. Tidak apa-apa kan?" Tanya Manager Kise yang berdiri di depan pintu ruang ganti.
"Tidak apa-apa, lagipula hari ini aku senggang, ssu." Balas Kise dengan senyum penuh sihirnya.
"Baiklah, aku tinggal dulu. Aku harus bicara dengan para staff." Lanjut si manager sambil meninggalkan ruangan tempat Kise beristirahat.
Si model bersurai kuning itu melonggarkan persendiannya yang lelah setelah pemotretan sesi pertama beberapa saat sebelumnya. Ia kemudian duduk santai sambil membaca majalah yang ada di hadapannya. Keningnya berkerut begitu membuka beberapa halaman majalah tersebut. Dapat dilihatnya wajah lelaki bersurai perak yang terpampang di sana, dengan beberapa pose menggoda, mata tajamnya yang menatap kamera lurus, kulit mulus dan bibir sedikit terbuka yang terlihat seksi–
Ehem!
Eeeh.. Kise memandangi foto si model tajam. Haizaki Shougo. Model berbakat yang tidak diragukan lagi kemampuannya. Meski begitu pemuda itu memiliki perangai yang cukup jelek sehingga ia tidak begitu disukai oleh mitra kerjanya. Sifat yang bertolak belakang dengan Kise si periang, membuat dirinya naik daun lebih cepat meski bisa dibilang anak baru.
Ia mengira hanya akan mendengar nama itu di dunia keartisan sebagai rekan kerja dan rival. Kise tidak pernah menduga bahwa Haizaki adalah lelaki yang sama yang membuatnya dan Divisi Keajaiban lain kerepotan satu tahun terakhir. Lelaki yang menjadi dalang dari hampir setiap kasus yang ditanganinya. Sekaligus orang yang seharusnya menjadi salah satu anggota dari Divisi Keajaiban bersama satu pembeontak lain.
"Haizaki… Shougo…" Kise tanpa sadar menggumamkan nama si model yang fotonya ia tatap tajam keras-keras.
"Kenapa kau sebut-sebut namaku?"
Suara sahutan yang datang dari arah pintu telah menyentakkan Kise dari lamunannya. Pemuda pirang itu berbalik dengan cepat menatap si pemilik suara yang masih berdiri di depan pintu sambil melipat tangannya. Orang yang sama dengan pemilik nama yang ia gumamkan tadi.
Mengikuti instingnya, tubuh Kise menegang dan ia memasang kuda-kuda bertahan. Matanya terus memandang Haizaki waspada. Tangannya yang mengepal telah mengeluarkan embun dingin, tanda kekuatannya siap diluncurkan kapan saja.
Berbeda dengan Kise, Haizaki hanya menanggapi reaksi orang yang berada di hadapannya dengan santai. Ia masih berdiri dengan tangan terlipat di dada dan wajah datarnya–kalau wajah bersungut ala Haizaki masuk kategori datar–serta alis terangkat sedikit. Tidak ada tanda bahwa ia akan menyerang ataupun bentuk profokasi lain yang bisa membahayakan Kise. Bahasa tubuhnya lebih seperti seseorang yang bingung karena melihat kucing berkicau.
"Kau tidak perlu pasang muka seram begitu. Di sini aku Haizaki Shougo, rekan kerjamu." Ucap Haizaki sambil menghela napas setelah tahu alasan kewaspadaan Kise yang tiba-tiba.
Kise tidak bergeming. Ia masih waspada dengan raut wajah yang makin mengeras.
Melihat tidak ada perubahan respon dari si surai kuning, Haizaki tertawa kecil. "Kau tidak bisa santai sedikit, ya. Apa Sora tidak mengajari kalian cara memisahkan kehidupan?"
Tahu siapa 'Sora' yang Haizaki maksudkan, Kise tidak menjawab dan malah mengajukan pertanyaan lain. "Apa maksudmu memisahkan kehidupan?"
"Itu adalah pelatihan khusus dari Divisi Keajaiban generasi sebelumnya yang hanya diajarkan padaku, Ogiwara, dan Sora. Kau tidak akan paham." Jawabna dingin. "Singkatnya, aku sebagai Haizaki Shougo tidak akan mengganggumu yang merupakan musuh Odin di sini."
"Aku tidak yakin kata-katamu bisa dipercaya." Bantah Kise. "Tidak ada alasan bagimu untuk bertahan pada pendirian itu."
"Pertarungan Divisi Keajaiban akan terjadi pada waktu dan tempat yang tepat. Aku tidak mau kehidupanku sebagai anak muda normal dirusak oleh kekacauan itu. Lagipula, kalau aku ingin menghajarmu, pasti sudah kulakukan daritadi." Balas Haizaki yang diakhiri seringaian sombongnya.
Jika dipikirkan Haizaki ada benarnya. Sebelum identitasnya sebagai Odin terungkap, pemuda itu sudah tahu kalau Kise adalah anggota Divisi Keajaiban, tetapi tidak sedikitpun ia mengambil tindakan untuk menyerangnya meski memiliki banyak kesempatan. Selain itu Kuroko pernah cerita kalau ia dan Ogiwara sering bertemu dan berbincang, namun tidak sedikitpun ada pertanda mereka bertarung satu sama lain.
Baru saja Kise ingin menjawab, managernya kembali dan menjemput kedua model tersebut untuk sesi pemotretan. Dengan mendengus, Kise melewati Haizaki yang masih dalam postur tubuh angkuhnya.
"Biar kulanggar batasan yang kujelaskan tadi sesaat." Pemuda bersurai perak itu berbisik ketika Kise berpapasan dengannya, membuat sang lawan bicara berhenti sejenak. "Jika Sora bersikeras mendekati perhiasanku, maka dia harus berhadapan langsung denganku."
Kise sesaat terpaku setelah Haizaki mengucapkan kata-kata itu. Berbeda dengan si lawan bicara, Haizaki berbalik dan keluar dari ruangan itu meninggalkan rekan kerjanya. Kise yang ditinggalkan hanya bisa mengerutkan alisnya bingung.
.
.
.
(Setting Skip)
Suara benturan antara dua benda menggema di aula luas milik Hunter Divisi Seirin yang sedang sepi. Itu dikarenakan para hunter muda di divisi tersebut sedang patroli masal, meninggalkan bukan-anggota berlatih sendirian di sana. Si bukan-anggota, Kuroko, tengah berlatih pedang melawan android khusus milik Seirin. Gerakannya begitu gesit dan lincah meski kekuatan ayunan pedangnya tidak seberapa tanpa sisi Demonnya. Namun tidak seperti biasanya, selama sparring, alis pemuda bersurai biru itu kadang berkedut tidak nyaman, menandakan bahwa ada sesuatu yang membuatnya gelisah dan terus kepikiran.
Baru saja Kuroko ingin memberikan serangan pamungkas, android yang dilawannya tiba-tiba berhenti berfungsi. Ia pun menghentikan serangannya dan berdiri di lapangan dengan bingung.
"Baiklah, cukup Kuroko-kun. Kau bisa merusaknya kalau terlalu lama." Pelatih wanita Seirin, Aida Riko, bersuara dari depan pintu aula dengan tab di tangan.
"Aida-san." Sapa Kuroko sambil terengah. "Selamat datang."
Membalas sapaan si pemuda dengan anggukkan, Aida berjalan mendekati android yang sudah dihentifungsikan itu. "Uwaah… Robotnya penyok sana sini! Kau benar-benar tidak menahan diri kali ini."
"Maafkan aku." Ucap Kuroko. "Tapi aku hanya menggunakan bagian tumpul pedang seperti biasa."
"Begitu? Syukurlah. Yah, meskipun aku sebenarnya ingin melihat aksimu menggunakan pedang itu. Mengingat punyamu itu bisa membelah apapun."
"Meski begitu pedang ini masih memiliki pengecualian." Ucap Kuroko sambil memandangi pedangnya. "Kalau berhadapan dengan kekuatan milik Divisi Keajaiban, maka pedangkulah yang kalah."
"Ah, iya." Gumam Aida dengan nada mengerti. "Karena milikmu ditempa menggunakan kespuluh kekuatan itu."
"Ngomong-ngomong, apa yang Aida-san lakukan di sini? Bukannya kalian sedang melakukan perburuan besar?" Tanya Kuroko mengalihkan topik.
"Jangan bilang perburuan dong, Kuroko-kun. Kedengarannya seperti kami ganas saja." Kesal Aida dengan nada bercanda sambil berkacak pinggang. "Sebut saja kami sedang 'patroli pengamanan'."
"Ngomong-ngomong, apa yang Aida-san lakukan di sini? Bukannya kalian sedang melakukan 'patroli pengamanan'?" Kuroko mengatakannya dengan polos dan memberi tekanan di kata terakhir.
"Pertanyaannya tidak perlu diulang juga." Gumam si cewek mungil sweatdrop. "Semuanya memang masih berkeliling, tapi aku bertugas mengawasi mereka dari jauh. Aku bukan tipe hunter yang turun ke lapangan. Yah, tugasku kurang lebih menjadi menara kontrol seperti yang dilakukan temanmu yang bernama Takao-kun itu."
"Maksudmu, anda menjadi support mereka?"
"Itu juga, seperti yang seharusnya kau lakukan. Yah, anggap saja aku ini manager mereka."
"Tapi tidak biasanya kalian turun ke lapangan sekaligus." Gumam si pemuda biru. "Setahuku Hunter cuma menurunkan paling banyak tiga dalam sekali jalan."
Aida tidak langsung menjawab. Ia menghela napas berat dan duduk di bangku panjang terdekat. Kuroko mengikuti gadis itu, meski ia hanya berdiri di hadapan Aida yang memijit keningnya. Kini Kuroko bisa melihat raut kelelahan yang sebelumnya tak begitu tampak di wajah cantiknya.
"Kami, Para Hunter, sudah menerima laporan dari Divisi Keajaiban mengenai Demon yang berada di bawah pengaruh narkotika. Asosiasi Hunter pun memutuskan untuk melakukan pengawasan lebih ketat terhadap Demon, dan memerintahkan kami untuk melakukan Program Pencegahan Ekstrim."
"Maksudmu dengan membunuh siapapun yang kalian lihat?"
"Tentu saja tidak!" Seru Aida tidak terima. "Kamu ini. Percaya sedikit pada kami dong! Kami bukan pembunuh berdarah dingin, tau!"
"Maaf."
Aida mendengus sebelum melanjutkan. "Hunter sadar sepenuhnya kalau dibirakan, Daemon akan membahayakan ras manusia serta Demon itu sendiri. Dalam kondisi ini kami tidak bisa membunuh Demon begitu saja, bisa-bisa nanti mereka punah. Jadi kami menangkap para Daemon bermasalah itu dan mengumpulkan mereka untuk diobati. Tim peneliti kami juga tengah berusaha mengembangkan obat penawar untuk menghilangkan efeknya. Intinya kami ingin mengembalikan mereka menjadi LD lagi.
"Masalahnya seperti yang kau tuliskan di laporanmu, mereka kecanduan. Hunter kesulitan merehabilitasi mereka karena efek sampingnya benar-benar berbeda dengan narkoba pada tubuh manusia. Obat saja hanya bisa menenangkan mereka sebentar. Jadi ayahku berusaha melakukan kerjasama dengan pemimpin Demon."
"Bagaimana hasilnya?"
"Mereka tidak mau bergerak tanpa adanya kerjasama dengan pemimpin manusia." Keluh Aida lelah. "Ayah kesulitan menghubungimu, dan pemimpin Demon tidak mau repot membantu."
"Maaf, semua barangku termasuk ponsel habis akibat kebakaran tempo hari, dan aku belum bertemu Pak Menteri bulan ini." Ucap Kuroko sedikit menunduk. "Aku akan membicarakan ini dengan Akashi-kun. Tolong katakan pada Pak Menteri kalau pemimpin manusia yang akan bicara dengan pemimpin Demon."
"Terima kasih, Kuroko-kun. Dengan begini paling tidak kita bisa mengurangi jumlah korban."
"Divisi Keajaiban juga sedang mengejar dalangnya. Untuk bagian penanganan Demon kami serahkan kepada kalian."
"Humm! Serahkan saja pada kami. Hunter pasti membantu kalian semaksimal mungkin." Senyum Aida percaya diri.
.
.
.
(Friday, 04.30 p.m.)
Kagami menyeruput minumannya dengan keras dan cepat sambil menopang kepalanya dengan tangan di atas meja. Jelas sekali, mood pemuda ini tidak begitu baik. Entah ia merasa seperti apa sekarang ini, dia tidak tahu. Tapi yang pasti kewaspadaannya meningkat sampai titik maksimal.
Tidak jauh berbeda dengan Midorima, si pemuda berkacamata ini sebenarnya hanya dimintai tolong oleh Kagami untuk menemaninya menemui seseorang di kafe dekat sekolah mereka. Tetapi ia tidak menyangka keputusannya untuk memberikan bantuan akan ia sesali. Saat ini, ia terus menyesali keputusannya dengan terus menegakkan postur tubuhnya dengan mata yang menyipit tajam. Jika ada yang bertanya, kewaspadaannya tiga kali lipat lebih besar daripada Kagami.
Lain lagi dengan orang ketiga yang duduk di seberang keduanya. Ia menyantap es krimnya dengan santai sambil berdendang kecil. Orang yang meminta mereka untuk bertemu itu tidak peduli setegang dan sewaspada apa kedua pemuda di hadapannya ini. Ia terus melakukan yang ingin ia lakukan dengan nada senang.
"Jadi, kau memanggil kami ke sini cuma untuk menemanimu makan es krim, Ogiwara Shigehiro?" Tanya Kagami yang sudah tidak bisa menoleransi sifat acuh tak acuhnya si orang, Ogiwara.
"Tidak kok." Jawabnya singkat.
"Lalu untuk apa kau memanggil kami, nodayo?"
"Pertama, aku cuma memanggil satu orang. Yah, tapi dua juga tidak masalah." Jawab Ogiwara tersenyum dengan bibir terkatup. "Kedua, aku sekedar ingin menanyakan sesuatu." Tubuh Ogiwara sedikit dimajukan sebelum bicara dengan nada yang tiba-tiba serius. "Apa kalian sudah tahu tentang kristal?"
"Hah? Anak dalam kristal? Untuk apa kami memberitahukannya padamu soal anak itu!?" Racau Kagami tidak jelas.
"Aku tidak bilang anak dalam kristal, kok." Ucap Ogiwara dengan nada diayunkan.
"Ah."
"Dasar bodoh." Midorima menutupi wajahnya sebelum menjawab. "Ya. Kami sudah tahu. Lalu apa hubungannya denganmu?"
"Tunggu! Pertanyaanku masih belum selesai!" Protes Ogiwara. "Apa yang akan kalian lakukan kedepannya?"
"Menangkap kalian tentu saja." Jawab Kagami gamblang. "Juga membebaskan anak itu!"
"Hmm.. begitu.." Gumam Ogiwara sambil mengulum sendok eskrimnya. "Kuberitahu ya. Kalau kalian menginginkan kristal itu, maka misi kalian kali ini akan sangat sulit.
"Kenapa begitu, nodayo?" Tanya Midorima yang mulai terbawa pembicaraan.
Sebelum menjawab, Ogiwara memandang Midorima dengan wajah aneh, seolah mengatakan 'serius lo?'. Kemudian ia kembali serius. "Karena pengamanannya yang sangat ketat dan lokasinya yang sulit dijangkau. Bahkan untukku."
Sesaat Ogiwara menggantungkan ucapannya, memperhatikan ekspresi dua orang di hadapannya. Mereka berdua penasaran, jadi pemuda bersurai gradasi hitam jingga itu melanjutkan. "Odin memastikan kristal itu tersembunyi di tempat yang sangat sulit didatangi. Bahkan meski kau menemukan lokasinya, belum tentu kalian menemukannya. Hanya segelintir orang yang mengetahui lokasi persisnya, salah satunya aku dan satu orang lagi." Ia menutup kalimatnya dengan kedipan entah kenapa.
"Kenapa pengamanannya begitu ketat, nodayo? Anak itu bahkan tidak bisa bergerak." Tanya Midorima lagi.
"Kristal itu kesayangannya Odin, tentu saja akan di simpannya rapat-rapat. Aku bahkan ragu dia mau melepaskan anak di dalamnya begitu dia selesai."
"Di mana anak itu?" Kagami kali ini yang bertanya.
"Itu adalah informasi yang kusimpan untuk nanti. Mengenai anak di dalamnya–"
"Tunggu dulu!" Sela Kagami. "Kenapa kau mengatakan hal ini pada kami? Apa untungnya bagimu?"
Ogiwara lama terdiam. Ia memikirkan kata-kata yang akan ia keluarkan dari mulut. Meski terlihat santai, tapi pemuda itu cukup hati-hati dengan ucapannya agar tidak membocorkan hal penting. Kemudian ia tersenyum penuh misteri sambil menjawab. "Tentu saja karena ini menyenangkan."
Kedua pemuda itu terpaku sesaat. "Hah!?"
"Melihat kalian yang seharusnya berdiri bersisian berada di pihak yang berbeda itu membuatku bersemangat. Tapi kupikir sangat tidak adil kalau kalian mengeroyok Odin yang sendirian, jadi kuputuskan untuk ikut party-nya. Menjadi penjahat asyik juga ternyata. Selain itu aku cukup penasaran dengan hasil akhirnya. Siapa kira-kira yang akan menang?" Ogiwara menjawab keterkejutan keduanya tanpa melunturkan senyumnya sedikitpun.
"Jadi kau anggap situasi ini permainan?" Geram Kagami. "Kau tahu kan berapa banyak korban yang jatuh dalam 'permainanmu'!?"
"Kalau Haizaki tahu, kau pasti akan menerima akibatnya, nodayo." Peringat Midorima dengan nada dingin.
"Hee?" Sahut si pemuda riang masih santai dengan menopang dagu di tangannya, meski matanya sedikit menyipit kali ini.
.
"Cih! Menyebalkan! Seharusnya aku tidak menerima ajakannya bertemu. Sekarang moodku malah jadi buruk." Gerutu Kagami di tengah perjalanannya menuju kantor Divisi. Ia sudah berpisah dengan Midorima yang harus ke rumah sakit sebelum ke kantor. "AKU BAHKAN TIDAK BANYAK MAKAAN!" Teriaknya tiba-tiba.
Merasa bodoh, pemuda bersurai hitam-merah itu pun menghela napas dan kembali berjalan. Ia memikirkan game apa yang akan ia mainkan begitu sampai kantor demi meningkatkan moodnya barang sedikit. Namun, sebelum sampai kantor, sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk. Akibatnya mood Kagami kembali memburuk, karena isi pesan yang begitu tidak jelas.
'Harimau mati meninggalkan belang
Yang tlah terpatri di tubuh putih zebra
Menyebabkan si zebra tak bisa jauh dari singa
Karena ia anjing gembala'
"Siapa yang iseng mengirim puisi? Bikin geli aja." Komentar Kagami merinding.
.
.
.
(Friday, Miracle Division's office, 06.00 p.m.)
"Oh. Artinya Ogiwara-kun tidak berpihak pada Odin." Kuroko menjawab pertanyaan Kagami di tengah-tengah permainan game mereka.
"Cepat sekali jawabnya!" Jerit Kagami antara tercengang dengan jawaban Kuroko dan kaget karena kena pukulan dari si pemuda datar (mereka main Mortal Combat).
"Lho? Kenapa jadi bawa-bawa Ogiwara-kun, ssu?" Tanya Kise yang menunggu siapapun yang game over.
"Nomor yang mengirim pesan ke ponsel Kagami-kun itu nomornya Ogiwara-kun. Aku tahu karena aku menyimpan nomornya." Jawab Kuroko sebelum ada yang bertanya.
Semua yang hadir di situ langsung mengalihkan pandangan mereka kepada pemuda bersurai langit tersebut. Mereka masih tidak bisa mencerna pernyataan Kuroko. Ogiwara, orang yang selama ini berada di sisi yang berlawanan dari mereka, orang sering mengganggu mereka, tidak memihak Odin? Yang benar saja.
"Kok kau bisa tahu maknanya secepat itu, Tetsu?" Aomine bertanya sambil menonton permainan Kuroko dan Kagami.
"Karena dulu kami bertiga belajar syair bersama. Dan aku cukup sering membaca karya yang lain sampai hafal cirikhasnya." Jawab si pemuda pendek enteng.
"Itu tidak menjelaskan jawabanku, bocah." Gerutu Aomine dengan suara pelan.
"Kalau dia tidak memihak Odin, berarti dia memihak kita?" Pikir Momoi.
"Itu juga bukan."
"Jadi dia benar-benar ingin mempermainkan kita." Gumam Kagami.
Kuroko berhenti bermain–karena karakternya sudah kalah–dan menghadap Kagami. "Kupikir bukan itu alasan sebenarnya. Menurutku, alasan tindakannya ini lebih personal."
"Maksudmu?"
"Aku pernah bilang kalau Ogiwara-kun itu anak angkat Nijikata-san, pemimpin generasi sebelumnya, kan?" Pertanyaannya dibalas anggukan. "Sebelum bertemu Nijikata-san, Ogiwara-kun ditelantarkan di panti asuhan tua di pinggiran kota. Sejak dulu Ogiwara-kun sangat menyayangi ayah angkatnya. Makanya mungkin dia ingin membuat Nijikata-san bangga."
"Dengan mengadu domba kita? Itu cara yang jahat." Komentar Murasakibara.
"Selama tinggal dengan Nijikata-san, aku yakin Ogiwara-kun sudah mendengar banyak ramalan, dan salah satunya kemungkinan berhubungan dengan alasannya mendukung Odin. Menurutku Ogiwara-kun mendapat pesan dari Nijikata-san berupa ramalan yang berhubungan dengan kita."
"Jadi, Tetsu. Kau ingin bilang kalau Ogiwara saat ini bergerak sesuai ramalan yang didapatkannya?" Kuroko hanya mengangguk membalas pertanyaan Aomine.
"Segala tindakannya demi memastikan ramalan itu terjadi." Gumam Kise. "Dan perselisihan antara kita dengan Odin juga bagian dari ramalannya, ya?"
"Singkatnya, Ogiwara ingin membanggakan ayahnya dengan mewujudkan ramalan yang diberikan padanya." Ucap Kagami. "Heh! Dia anak yang berbakti ternyata."
.
.
.
Akashi memijit pelipisnya lelah. Sudah yang keberapa kali ia dipanggil oleh anak di dalam kristal dalam seminggu ini, ia tidak tahu. Dan jika dihitung sejak pertama kali pemuda bermata dwi-warna itu bertemu dengannya di dalam mimpi, sudah tak terhitung lagi. Tapi yang pasti anak itu membuatnya kesal. Ia terus saja memanggil Akashi dan memintanya untuk datang. Begitu ditanya tentang siapa dirinya atau apa tujuannya, anak itu hanya menjawabnya dengan kalimat yang tidak ia mengerti.
"Jadikanlah aku satu, maka semuanya akan terungkap."
Tuh kan? Baru saja dipikirkan, anak itu lagi-lagi mengusiknya. Hal ini benar-benar mengganggu kestabilan hidupnya. Tak jarang ia terbangun di tengah malam akibat panggilan anak itu. Bahkan ia pernah terlonjak di kelas karena anak itu tiba-tiba bicara dalam pikirannya. Sungguh, hal itu menjadi pengalaman paling memalukan dalam sejarah pendidikannya yang sempurna.
Pemuda itu sudah tidak tahan lagi. Ia harus menemui anak itu segera jika ingin kehidupannya yang tenang tanpa bisikan gaib kembali. Sayangnya pemuda itu tidak memiliki petunjuk sedikitpun mengenai siapa dan di mana keberadaannya. Dan untuk itu ia membutuhkan bantuan.
Karena itulah ia di sini. Berdiri di depan pintu kantor para Generasi Keajaiban.
BRAKK!
"WAAAA! PENYUSUUUP!"
Baru saja membuka pintu, Akashi sudah disambut oleh segala jenis senjata dan kekuatan dari masing-masing orang yang berada di sana. Ingin rasanya ia membakar pemuda-pemudi ini karena dengan lancang mengancam nyawa sang penerus pemimpin Demon.
Yah, meskipun itu salahnya juga yang mendobrak pintu tanpa permisi.
"Turunkan senjata kalian. Aku mau bicara." Akashi dengan cepat meringankan atmosfir yang begitu berat–rasanya seperti langit yang runtuh–kemudian menyelonong masuk dan duduk di sofa yang tersedia. Sekilas diperhatikannya ruangan milik 'divisi di bawah umur' itu. Di sana terdapat video game, arcade, VR device, das segala macam benda lain yang tidak seharusnya ada di dalam kantor–kecuali rak buku. Begitu selesai mengobservasi ruangan, ia mendesah dan mengeluh dalam hati. "Inikah tim yang akan kupimpin nanti?"
"Akhirnya kau mengakui posisimu sebagai pemimpin Divisi ini, Akashi-kun." Ucap Kuroko yang membingungkan mereka semua. Akashi lupa kalau bocah ini bisa membaca pikiran.
"Kebetulan kau menyinggung masalah itu, Tetsuya." Balas Akashi mengikuti alur pembicaraan Kuroko. "Aku tahu cepat atau lambat aku akan memimpin tim ini. Tapi kalau juju kukatakan saat ini hatiku masih setengah-setengah, jadi aku tidak akan memimpin kalian dalam waktu dekat."
Ucapan Akashi tak ayal membuat anggota yang lain terlihat murung dan ia menyadari hal itu. Pemuda bersurai merah itu tahu Divisi ini mendambakan seorang pemimpin yang bisa membawa mereka ke dalam garis yang sama. Jika boleh dikatakan, tim ini memang sedang kacau dengan ego yang saling bertabrakan akibat tampuk kepemimpinan yang kosong. Mereka semua berlagak sebagai bosnya sedangkan anak buah mereka hanya Kuroko. Belum lagi keraguan mereka untuk memberi perintah pada Kuroko yang notabene lebih berpengalaman, meski si empunya nama sudah menyerahkan segala keputusan kepada mereka–bagi Akashi lebih terdengar seperti melepas tanggung jawab.
"Tapi!" Seruan mendadak Akahsi membuat semuanya memandang dirinya kembali. "Aku akan langsung mengambil posisi itu kalau kalian mau membantuku dengan satu hal."
Mendengar itu, dengan sumringah Kise bertanya. "Apa itu, Akashicchi? Apapun itu pasti kami bantu, ssu!"
"Temukan si Anak Dalam Kristal sekarang juga. Aku sudah muak diganggu olehnya."
.
.
.
(Setting Skip)
Haizaki tengah bersantai di ruang tamunya setelah hari yang melelahkan ketika salah satu ponselnya berdering. Tanpa repot-repot memeriksa nama si penelepon, lelaki itu langsung mengangkatnya. "Ada informasi apa?"
"Ogiwara Shigehiro." Jawab orang itu datar. "Dia memancing Divisi Keajaiban untuk mendatangimu."
"Begitu?" Balas Haizaki santai.
"Menurutku dia berniat mengkhianatimu." Orang di seberang telepon kembali bicara. "Apa yang harus kita lakukan terhadapnya."
"Biarkan saja." Titah Haizaki. "Mungkin tindakannya itu sesuai dengan jalannya ramalan."
"Tapi dia menggiring mereka ke tempat kristal. Divisi Keajaiban sangat tertarik dengan anak itu."
Begitu kalimat itu diucapkan, sambungan telepon mereka langusng terputus. Bukan karena Haizaki mematikan paksa koneksinya, bukan juga karena kehilangan sinyal. Penyebabnya karena ponsel yang dipegang Haizaki sudah rusak akibat cengkraman tangannya yang sudah berubah menjadi besi, meremukkan ponsel itu hingga tidak berbentuk.
Lelaki bersurai abu-abu itu geram sekali. Ia tahu Ogiwara berada di pihaknya demi memastikan jalannya sebuah ramalan—ia tahu jelas apa ramalan itu— dan ia yakin ramalan itu akan menguntungkan dirinya. Karena itulah ia membiarkan Ogiwara bertindak sesukanya selama hal itu tidak mengganggu tujuannya.
Tapi ia tidak pernah ingat mengijinkan Ogiwara melibatkan anak di dalam kristal itu dalam permainannya.
Sayangnya nasi telah menjadi bubur. Ia tidak bisa menghindari konfortasi para Divisi Keajaiban kalau tujuannya adalah anak itu. Maka dari itu hanya ada satu hal yang perlu ia lakukan. Haizaki segera merogoh ponselnya yang lain dan menghubungi seseorang.
"Zwei." Jeda cukup lama setelah panggilan itu. "Undang mereka. Urusanmu denganku bisa kita bereskan nanti."
.
.
.
TBC
A/N:
Wow, sudah setahun ya..
Saya kemana aja yak?
Entah sudah berapa kali saya minta maaf karena telat update, tapi saya akan tetap bilang lagi..
Maafkan saya…
(re: lu kelamaan gak update kita-kita udah kabur!
Nozo: Tydaaack! pembacaku…!)
Hah! Ngejar dosen ternyata sama susahnya sama ngedit skripsi. Dan saya gak bisa maju ke biro karena dosen saya yang pengen saya rampung total sebelum diparaf..
PAK! PLEASE PAK! SAYA CUMA BUTUH TANDA TANGAN BAPAK! PAAAAKKK! *meraung gak jelas
.
Untuk yang ini saya double saja updatenya buat membalas yang tahun kemarin lama gak update.
Apakah chapter ini boring? Karena saya cuma ngasih penjelasan dan beberapa tambahan gak penting. Saya pengen menyiapkan buat misi selanjutnya..
Oh iya, di story emang gak saya sebutkan, tapi Kagetora, ayahnya Aida Riko saya jadikan Menteri tempat Kuroko ngasih laporan di sini (hints chapter 22). Tapi belum ada rencana buat nongolin Kagetora sih.. saya cuma pinjam namanya.
Kayaknya saya gak mau ngomong banyak di A/N kali ini, jadi sekian dulu..
Akhirul kata..
RnR please…
.
.
.
Omake
Kise terus memperhatikan foto Haizaki yang terpampang di majalah. wajah lelaki bersurai perak itu begitu liar dengan beberapa pose menggoda, mata tajamnya yang menatap kamera lurus, kulit mulus dan bibir sedikit terbuka yang terlihat seksi, dan ototnya.
Ototnya…
OTOTNYA! Sungguh membuat Kise iri.
Si rambut kuning sendiri memandangi foto si model sambil gigit jari. Kemudian ia menutup matanya paksa.
"Jangan dilihat… dia tidak seksi… tidak tampan… ototnya tidak bagus…" Gumam Kise tidak guna.
Begitu ia membuka mata kembali..
"SIALL! DIA BENAR-BENAR SEKSII SSUUU!"
.
Sementara itu Haizaki berdiri diam di ambang pintu dengan wajah merah padam.
