1
2
3
~(The Begin)~
~ The Mission Of War II ~
At Place Naruto
Sesosok siluet berambut merah gelap terlihat di hutan bagian barat desa Konoha. Sosok siluet itu ternyata adalah pemuda tampan berambut merah darah yang berkibar diterpa angin malam. Dia menatap tajam bulan purnama yang bercahaya dimalam hari dengan beberapa suara hewan malam yang memecah keheningan ditempat tersebut.
"Ada apa kau memanggilku ditempat seperti ini...?" mata hijau toskanya melirik sekilas sesosok pria paruh baya yang berada dibelakangnya.
"Otou-san" lanjutnya dengan nada khasnya.
Pria paruh baya berjubah Hokage tersebut berjalan pelan kearahnya. Dia mensejajarkan tempat berdiri putranya dengan dirinya tersebut. "Aku ada misi untukmu dan seluruh anggota kelompokmu itu" jawabnya sembari mengeluarkan seluruh salinan berkas yang diberikan Menma kepadanya.
Berkas itu diberikan kepada putra bungsunya tersebut. "Pahamilah itu semua, selanjutnya tunggulah perintah dariku dan untuk masalah pengawalan Hokage..." mata beriris safir biru pudar itu menatap sekilas wajah putra bungsunya yang diteringi oleh cahaya rembulan.
"Kau tidak perlu mengawalku, lebih baik kau fokus untuk misi ini...biar kuberitahu sekilas saja. Misi ini adalah misi khusus dengan tingkat misi Rank-SS dengan keberhasilan misi harus 90% dan mungkin aku akan memberikan tambahan anggota ninja elite dalam meningkatkan keberhasilan misimu, tentunya kita juga akan mendapat bantuan dari beberapa desa besar dan akan kupastikan kau akan mendapatkan bantuan dari mereka" lanjutnya.
Naruto tampak memahami berkas laporan tersebut dan itu membuatnya tertarik dengan misi yang diberikan oleh Yondaime kepadanya. "Kau ingin aku bertaruh nyawa dengan melakukan misi ini Yondaime-sama?" ungkapnya dengan nada yang dingin dan itu membuat Minato tersentak atas perkataan putra bungsunya tersebut.
"Apakah kau keberatan dengan misi ini?" Yondaime mempertanyakan persetujuan putranya itu untuk melaksanakan misi yang diberikan olehnya.
Seringai tercipta diwajah orientalnya. "Tidak, aku hanya sedikit bernostalgia...dan aku akan menunggu perintah darimu Yondaime-dono" jawabnya dengan asal, lalu berbalik meninggalkan tempat tersebut.
Pri paruh baya yang dijuluki Kiroi Senkou itu menghela nafas panjang. "Apa aku sudah berlebihan memberikan Naruto misi tersebut?" gumamnya mempertanyakan keputusannya tersebut.
Mata safirnya menatap rembulan yang bercahaya terang dengan hiasan ribuan juta bintang sebagai penghias langit malam, entah kenapa dia begitu tenang setiap kali menatap langit malam sendiri seperti ini.
"Hm..Bagaimana keadaan pemuda itu yah saat ini.." Minato mengeluarkan kunai bermata tiga dari fuuin penyimpanannya. "Sai mantan anggota Anbu Ne, aku sedikit tertarik tentang keahliannya dalam memperoleh informasi" lanjutnya, kemudian menghilang bagai kilat ketika dia melempar kunai yang dia genggam.
At Place Sai
Wuusshhh Wuussshh
Arus angin yang berlawanan membuat dengungan suara yang terdengar ditelinga remaja yang berusia belasan tahun tersebut. Kulit pucatnya menjadi tambah pucat ketika dia mempercepat laju dari burung rajawali yang tercipta dari lukisan yang dibuatnya. Semakin cepat burung itu terbang maka tekanan angin malam yang dingin juga semakin kuat dan menusuk kulit putih pucatnya itu.
"Sedikit lagi aku akan melewati perbatasan desa kecil dan Iwagakure..." matanya menajam ketika dia melihat beberapa rumah penduduk yang berada dibawahnya, kemudian melesat cepat tanpa adanya niat untuk singgah kedesa tersebut.
"Mungkin sebentar lagi aku akan mencapai Iwagakure" lanjutnya dengan mata yang menatap sejenak kearah surat yang digenggamnya.
Lengkingan suara dari burung yang ditunggangi pemuda itu memecah keheningam malam, kemudian mendarat diantara rerimbunan pohon yang berada ditempat tersebut. Sepertinya jutsu lukisan pemuda itu sudah sampai batasnya, sehingga dia harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
"Dengan ini mungkin aku akan mencapai desa yang sekelilingnya bebatuan subuh nanti" gumamnya ketika dia melihat burung tunggangannya perlahan berubah menjadi tinta hitam yang menggenangi tanah.
Telinga terlatihnya mendengar beberapa suara yang dengan cepat mengarah ketempat ini. Pemuda bernama Sai itu dengan sigap mengeluarkan beberapa kunai dari kantong ninjanya, sebuah lesatan kunai mengarah kepemuda tersebut, tetapi dengan lihainya dia mematahkan serangan tersebut dengan kunai yang dia lemparkan kearah serangan yang mengarah kepadanya.
Tangan yang menggenggam surat penting itu. Dia masukan kedalam kantong ninjanya, lalu mengeluarkan beberapa kunai dan shuriken, semua fungsi indera pendengaran dan penglihatan dia tajamkan untuk melawan musuh yang diperkirakan tidak mencapai angka puluhan.
Wung Wung
Matanya melebar, ketika dia melihat fuma shuriken melayang tepat dikepalanya itu dan dengan terlatihnya dia menahan fuma shuriken itu dengan beberapa kunai dan shuriken yang dia genggam, kemudian dia menghindari puluhan kunai dan shuriken yang mengarah kepadanya.
Dia menjaga jarak dari musuh yang masih bersembunyin direrimbunan pohon yang berada disekitarnya. "Mungkin aku harus menghentikan permainan petak umpet ini" gumamnya dengan mengeluarkan gulungan kertas dan kuas yang sudah dicelupkan kedalam tinta.
"NINPOU CHOUJUO GIGA" terciptalah harimau dari lukisan yang diciptakan oleh Sai. Harimau itu melesat cepat kearah rerimbunan pohon, lalu beberapa saat kemudian terdengarlah teriakan yang berasal dari dalam rerimbunan pohon tersebut.
Setelah itu, terdengarlah gemuruh dari orang yang berlari menjauhi rerimbunan tersebut. Mereka adalah ninja yang sedari tadi menghunjani pemuda putih pucat itu dengan berbagai senjata ninja, diperkirakan mereka adalah ninja yang berasal dari desa kecil tersebut.
"Ninja Hishigakure (Desa Rerimbunan Tersembunyi)" gumam Sai, menatap tajam lambang hitai atei mereka.
Ninja itu terlihat sedang ketakutan dengan wajah yang pucat pasi dan detak jantung berdebar kencang. "Kau!! Mengapa kau berada disini, bukankah kami sudah memberikan penduduk kami kepada kalian!?" ucapnya dengan nada yang marah dan keras ditujukan kepada pemuda pucat tersebut.
Sai menyerngit bingung, karena dia masih memproses setiap perkataan yang ditujukan kepadanya dan pada akhirnya dia tidak tahu sama sekali situasi yang menjerat dirinya saat ini. " Apa maksudmu, Ojii-san? Kau mungkin sudah salah orang, aku baru disini beberapa saat lalu dan kalian menyerangku beberapa menit tadi?!" jawab pemuda itu dengan sejujurnya.
Pria paruh baya itu menggeram kesal, lalu muncullah beberapa ninja dari desa tersebut keluar dari rerimbunan pohon dengan wajah yang sama dengan pria paruh baya yang berada didepan pemuda itu. Serangkaian senjata mereka siapkan untuk mempersiapkan pertarungan yang entah kapan itu terjadi.
"Kau!..." telunjuk pria paruh baya itu mengarah ke wajah Sai. "Jangan pernah membohongi kami lagi, kau ingin penduduk kami lagikan...apa kau tak cukup puas dengan dua belas orang penduduk kami setiap bulannya dan kami berikan kepada kalian ninja Otogakure dan Kusagakure!!" teriaknya dengan wajah yang menunjukan kesedihan, sepertinya mereka dengan terpaksa memberikan penduduk desa mereka kepada dua desa kecil tersebut.
"Oto dan Kusa.."gumamnya yang tampak sedang berfikir, jadi mereka mengira Sai adalah ninja dari salah satu dua desa tersebut.
Sai mengeluarkan secarik kertas yang berisikan tanda tangan pengizinan jalur perbatasan luar desa yang diberikan oleh Yondaime kepadanya, jika suatu waktu terjadi kecurigaan atas dirinya saat melewati jalur luar desa Konoha dan itu berguna sekarang.
"Ini...dia bukan berasal dari dua desa biadab itu" ungkap salah satu ninja Hishi dan itu dipersetujui oleh mereka.
"Sudah kubilang bukan dan bisakah kalian ceritakan..." mata pemuda itu menajam kepada mereka, sepertinya dia ingin mencari informasi tentang dua desa tersebut dan itu cukup menarik baginya.
Ninja yang diketuai di Hishigakure itu memerintahkan mereka untuk menurunkan dan memasukan senjata mereka masing-masing, karena ancaman yang mereka waspadai ternyata hanya kesalapahaman belaka. Kemudian, ninja yang diketuai bernama Himura itu mempersilahkan Sai untuk duduk dibawah pohon bersama dengan dirinya dan menceritakan persoalan yang terjadi di desanya tersebut.
"Jadi, sudah beberapa bulan ini, kalian di intervensi oleh dua desa tersebut dan kalian diperintahkan untuk memberikan upeti berupa dua belas penduduk kalian kepada mereka?!" tanya Sai kembali mempertanyakan apa yang sudah dikatakan oleh Himura, mungkin untuk menambah keyakinan dirinya.
"Begitulah" balasnya dengan nada yang lemah.
Sai merengut bingung, bukankah dua desa itu sudah beraliansi dengan Kumo dan Iwa dalam perjanjian aliansi perdamaian dan tidak ada lagi pertarungan dengan desa kecil maupun besar selama masa ketenangan dan perdamaian itu berlangsung hingga terbentuknya aliansi perdamaian di lima desa besar secara resmi. Jika, itu benar dilakukan oleh dua desa kecil tersebut maka dia sudah menodai perjanjian damai dan kemungkinan besar mereka sudah tidak terikat lagi pada aliansi perjanjian perdamaian tersebut maupun aliansi Kumo dan Iwa.
"Kenapa kau tidak memberitahukan keadaan desamu ini kepada desa besar yang berada didekat sini, seperti Kumo dan Iwa?" tanya Sai.
Himura mengeratkan kepalan tangannya, lalu menatap Sai dengan tajam. "Kage desa kami sudah memberikan utusan kepada dua desa besar tersebut, tetapi utusan itu tidak pernah kembali kedesa ini setelahnya. Kemungkinan besar mereka terbunuh oleh ninja Oto atau Kusa, mungkin juga mereka ditangkap".
Pemuda itu mengeluarkan gulungan kertas dan kuasnya, kemudian dia menulis sesuatu di gulungan kertas tersebut. "Apakah kau mengetahui bahwa sekarang desa besar maupun kecil sedangan mengadakan perjanjian aliansi perdamaian?" tanya Sai disela-sela menulisnya.
Pria paruh baya itu menunjukan wajah keterkejutannya, mungkin dia tidak tahu tentang adanya perjanjian perdamaian tersebut. "Aku tidak mengetahuinya, karena desa ini tertutup direrimbunan pohon dan hutan yang lebat dan lagi kami terisolir dari luar desa oleh dua desa biadab tersebut" ungkapnya dengan helaan nafas yang perlahan.
"Aku mengerti" ucap Sai, dia merangkai segel tangan dengan cepat, kemudian bergumam pelan.
"NINPOU CHOUJUO GIGA" terciptalah burung dari tulisan tinta yang ditulis di gulungan kertas tersebut, kemudian burung tersebut melesat cepat kelangit malam.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Himura, ketika dia melihat seekor burung terbang melesat ke langit malam.
Sai tersenyum kecil. "Itu adalah burung pembawa pesan. Aku menuliskan permasalahan desa ini kepada desa Konoha, jadi kau tinggal menunggu kabar dari desa tersebut dan selanjutnya biar kami yang menangani masalah ini" jawabnya.
Pria yang berumur setengah abad itu mengeluarkan air mata kebahagiaannya kepada Sai. Dia sangat berterima kasih kepada pemuda itu, karena sudah bersedia membantu desa kecil seperti Hishigakure ini. "Arigato Gozaimasu" ungkapnya menunjukan rasa terimakasihnya yang teramat besar.
"Sama-sama, selanjutnya aku akan melakukan perjalananku yang tertunda Himura-san dan Arigato sudah memberikan informasi kepadaku" balasnya dengan senyuman kecil, mungkin Himura tidak tahu senyuman itu adalah senyuman palsu yang biasa ditujukan kepada orang-orang disekitarnya.
"Kenapa kau tidak bermalam di desa kami saja dan melanjutkan perjalananmu dipagi hari?".
Sai berjalan menjauhi Himura yang berteriak keras kearahnya, dia berbalik dengan menunjukan senyuman khasnya. "Arigato, tetapi aku harus menyelesaikan misiku dengan cepat Himura-san!!" balasnya dengan nada yang menggema dimalam hari.
Kemudian, Sai pergi meninggalkan ninja dari desa kecil tersebut dengan pikiran mereka yang berkecambuk tentang bagaimana nasib desa dan diri mereka sendiri. Wajah mereka begitu cemas dan tampak lelah dengan berbagai masalah yang desa mereka hadapi dan mereka bertanya kepada diri mereka sendiri bagaimana menyelesaikan permasalahan ini.
Di Barat Hutan Iwagakure
Salah satu ninja Iwa yang berada di menara pengawasan hutan melihat sosok ninja yang berasal dari desa lain dan tentu dengan sigapnya dia memberi sinyal kepada rekan-rekan yang berada disekitar hutan tersebut dengan menyalakan petasan waspada.
Ninja Iwa itu melompat dari menara lalu menghampiri ninja dari desa lain tersebut. Mata ninja Iwa menatap tajam kepada sosok tersebut. "Apa maumu mendatangi desa kami?" tanya Iwa-nin tersebut, dia sama sekali tidak tahu sosok tersebut berasal dari desa mana, karena sosok tersebut menutupi wajahnya dengan tudung yang dia gunakan.
Ninja dari desa lain tersebut membuka tudungnya kemudian memberikan surat khusus kepada Iwa-nin tersebut. Mata Iwa-nin itu membelak, karena dia tahu surat ini adalah surat penting dan mungkin dia akan mempertaruhnya jiwanya untuk menyampaikan surat tersebut kepada kagenya.
"Berikan surat ini kepada Tsuchikage dan dalam jangka waktu satu hari segera berikan kabar kepada desa kami..." mata ninja dari desa lain tersebut menatap kosong kepada Iwa-nin. "Karena kami tidak akan main-main mengenai masalah dari organisasi terlarang tersebut" lanjutnya denga nada dingin.
"Aku tahu dan sebaiknya kau benahi perkataan terlebih dahulu, sebelum menginjakan kaki ke desa kami ini..." balas Iwa-nin tersebut, sementara ninja dari desa lain tersebut tidak memperdulikan perkataannya dan lebih memilih melanjutkan misinya.
"Konoha-nin" lanjutnya.
Ninja dari desa lain tersebut membalikan tubuhnya, dia tersenyum palsu kemudian melompat ke langit. Dia mengeluarkan alat lukisannya, kemudian merangkai segel tangan dengan cepat, bibirnya berucap pelan.
"NINPOU CHOUJUO GIGA" terciptalah burung raksasa yang membawanya pergi dari hutan tersebut, mereka melesat cepat menghilang di kegelapan langit di pagi buta.
Follow
Comment
Like
@Fadillah212
*Log Out
TBC
See You Next Chapter
