Once Upon a Sleepless Night © Daaro Moltor

Harry Potter © JK Rowling

Alih bahasa oleh neko chuudoku.

.

CHAPTER 37

.

~Harry POV~

Dia sadar bahwa dadanya naik turun oleh napas, tapi juga sadar betapa sulit untuk melakukannya. Itu hal pertama yang dia sadari, dan sekarang sesuatu terasa menggelayutinya saat dia perlahan kembali ke alam sadar.

Setelah beberapa saat, napasnya menjadi lebih mudah dan dia tak perlu terlalu banyak berpikir untuk melakukannya. Dia merasa baik. Dia masih sedikit terlalu jauh untuk tahu sebabnya, tapi dia baik. Meski badannya terasa berat dan lemas. Tapi seseorang tengah mendekapnya; sebelah tangan di bawah punggungnya dan tangan lain menyokong kepalanya, merangkulnya dekat pada tubuh pemilik tangan.

Wanginya…bersih, menyenangkan, dan familiar. Malfoy.

Mata Harry bergetar terbuka dan dia mendapati pemandangan lekuk leher Malfoy. Bibirnya melengkungkan senyum lemah. Dia masih tak ingin bergerak.

Tiba-tiba tubuh Malfoy bergidik, dan dia mendekap Harry lebih erat lagi seraya gumaman parau meninggalkan bibirnya. "Harry…"

Sedikit cemas Harry berusaha menjawab, tapi mendapati tenggorokannya tak mau bekerja sama, dan dia berakhir batuk-batuk tak berdaya.

Harry pikir rusuknya akan patah bila Draco mendekapnya lebih erat dari ini.

"Kau hidup! Demi Merlin, kau hidup!" bisik Malfoy di telinganya, suaranya anehnya terdengar ringan.

Harry menggerakkan, dengan kesusahan, tangannya yang tergeletak di lantai dan menempatkannya ke punggung Draco.

"Anehnya," Harry menyetujui, suara paraunya akhirnya keluar. "Aku menduga ini karena kau."

"Benar," Malfoy mengkonfirmasi, dan tangan yang menyokong kepala Harry sedikit bergeser hingga dia merasakan jempol lembut Malfoy mengelus pelan lehernya. Dia ingin mengucap terima kasih, tapi mendapati dirinya belum terlalu sadar untuk membentuk kalimat koheren yang layak.

"Aku akan segera melepaskanmu," janji Malfoy, dan Harry tak yakin jika itu peringatan atau jaminan. "Aku hanya… Kupikir kau telah… Aku…"

"Tak apa," ujar Harry. Jujur. Sebab itu benar; segalanya baik saja sekarang. "Dia sudah lenyap sekarang, kan?" Harry berkata dengan senyum, meski dia tahu Malfoy tak bisa melihatnya.

"Habitatnya kepalamu, bukan kepalaku."

Harry hanya tersenyum lagi, senyum yang tak bisa dilihat si pirang. "Yeah, tapi aku tak ingat apa-apa," akunya.

Perlahan, dengan begitu hati-hati, Malfoy membaringkannya ke lantai. Harry memejam erat matanya pada pergerakan, mencoba dengan sia-sia menghalau sakit yang mengaliri badannya yang nyeri. Saat dia membukanya lagi, Malfoy telah membuang muka.

"Kau tak ingat apa-apa?"

"Yah…" Harry memulai, mencoba menggali pikiran, mendapatinya semakin mudah seiring detik-detik berlalu. "Aku ingat menolak membiarkan Voldemort melontarkan kutukan kematian padamu. Dan, tentu saja, menyuruhmu lari dan kau tak menurut. Sejujurnya, aku nyaris tak ingat bagaimana kita bisa sampai ke sini. Selain yang baru saja kukatakan padamu, segalanya hanya… gelap."

"Bagus." Datang jawaban singkat, nyaris muram, Malfoy.

Harry tak membalas.

Dia tahu mungkin dia harus duduk dan bercakap seperti orang normal, tapi dia tak bisa mengumpulkan kekuatan untuk melakukannya. Jadi dia hanya memiringkan kepala untuk melihat Malfoy; yang masih menghadap arah lain; dengan lebih baik.

"Kau berdarah," kata Harry khawatir saat dia melihat pakaian Malfoy.

"Ini darahmu, dasar Gryffindor yang terlalu memikirkan orang lain." Malfoy merengut. "Kau tidak melukaiku."

Tidak tersinggung oleh hinaannya, Harry menelengkan kepala ke sisi lain untuk melihat dampak yang mungkin dia sebabkan pada kantor kepala sekolah yang malang. Tapi kelihatannya tak ada yang rusak.

Saat itulah dia melihat pedang, tergeletak damai di lantai. Sejenak lupa sedang lemas, Harry terduduk tegak kaget.

"Malfoy, pedangnya…!" ucapnya terbata. "Kau mengeluarkan pedangnya!" Seruan kecilnya mengakibatkan batuk-batuk, nyaris memaksanya kembali berbaring.

"Ya," jawab Malfoy pelan.

Harry tertawa di tengah batuknya. "Draco Malfoy, seorang Gryffindor sejati! Sungguh Topi Seleksi telah membuat kesalahan!"

"Tidak sama sekali," datang jawaban kalem dari atas meja.

Kaget, kepalanya tersentak ke arah datangnya suara. Tapi dia mengenali suaranya; dia tak perlu melihat tatapan gelap Topi Seleksi dari balik lipatannya. "Draco Malfoy adalah Slytherin sejati, yang lainnya tidak benar."

"Aku tahu," jawab Harry, merasa tak enak soal godaannya di bawah nada menegur si topi kerucut. "Aku mengatakannya karena Dumbledore pernah berkata padaku bahwa begitulah cara pedangnya bekerja; hanya Gryffindor sejati yang dapat mengeluarkannya dari dalammu."

"Orang bijak bisa salah, Harry Potter, itu adalah pelajaran yang layak diingat," kata si topi. "Meski dalam kasus ini, aku tahu dengan yakin bahwa Albus berpikir kau butuh kepercayaan diri lebih dari kau perlu penjelasan; dia tahu keraguanku tentang asramamu yang seharusnya."

"Hanya yang memiliki keberanian dalam hati dan hasrat melindungi murni yang mampu menarik pedang Gryffindor. Yang penting hanyalah; sikap Gryffindor seperti pendirinya. Tanpa nama, tanpa gelar, dan tanpa hal lain selain kualitas yang diperlukan."

"Ah," ujar Harry dengan batuk kecil. "Dengar itu; di samping segala sifat Slytherin, rupanya kau seorang Gryffindor jauh di lubuk hati."

"Dan kau akan tutup mulut soal ini; jika tidak kau akan mendapati dirimu tanpa lidah," balas Malfoy, masih membuang muka.

Sekarang sedikit khawatir, bukan hanya karena mungkin dia telah menyinggungnya, Harry menempatkan sebelah tangan ke bahu Malfoy. "Aku tidak memaksudkannya sebagai hinaan, Draco. Aku… sangat bersyukur dan…" dia menyela diri sendiri, tak yakin seberapa banyak yang harus dia katakan. "Dan sejujurnya, aku bangga padamu."

Perlahan, Malfoy berbalik untuk memandangnya. Mulanya, Harry tak menyadari apa pun. Tapi tatapan di wajah Malfoy; seakan dia menunggu sesuatu yang tak dapat dicegah terjadi, membuat Harry mencermati. Saat itulah dia melihat merah di sekeliling mata kelabu itu dan basah di pipi serta dagu.

Malfoy pasti melihat mata Harry membelalak.

"Apa kau masih bangga padaku?" tanyanya muram.

Harry memindahkan tangannya dari bahu Malfoy ke wajahnya tanpa kata, perlu merasa lembab yang dia lihat, perlu merasa jika itu nyata. Itu nyata. Tentu itu nyata.

"Idiot," kata Harry, sembari mengeringkan air matanya dengan ibu jari. "Alasan apa yang bisa membuatku tak bangga? Mengapa kau menangis?"

"Tadi," Malfoy mengoreksi. "Sekarang tidak."

"Mengapa tadi kau menangis?" Harry mengulang dengan senyum.

"Sekarang kau yang idiot," balas Malfoy. "Jika kau menakutiku seperti itu lagi, kau tak akan bangun, aku janji padamu."

Terpicu dorongan kuat, dia menarik Malfoy dalam dekapan dan memeluknya erat. "Maafkan aku," ucapnya, bukan hanya mengacu pada malam-malam penuh kecemasan, tapi juga tak mampu membentuk kata-kata.

"Harry," kata Malfoy setelah sesaat.

"Ya?"

"Bila kau masih punya keraguan tentang asrama sejatimu, aku bisa memberitahumu bahwa dari sekian banyak Gryffindor dungu dan sangat menyebalkan yang pernah kutemui dengan tidak senang hati, kau dapat hadiah utama."

Harry tak bisa menahan senyum. "Terima kasih."

"Aku bisa menghinamu lebih kalau kau mau?"

Sekarang Harry tertawa. "Itu sudah cukup, tapi terima kasih atas tawarannya.'

"Kapan saja," janji Malfoy, seraya mendorongnya lembut. "Sekarang ayo kita bawa kau ke menaramu."

.

-bersambung-

.