Restu
Fma – Royai
Word count :399
"Besok aku akan pergi ke Central."
"ya. Aku tahu itu."
"dan beberapa bulan kemudian aku akan menyandang status alkimis kenegaraan."
"Mungkin akan….mungkin tidak."
"aww…jangan begitu. Kau tidak memberikan support padaku ?"
Riza kecil akhirnya membalikkan badannya, mendapati sahabatnya yang sedang bersenderan di tiang pintu dengan kedua tangannya yang disilangkan di dadanya.
"Kemiliteran bukan permainan, Roy."
Dia lebih terdengar seperti menyatakan fakta daripada peringatan.
"yap. Aku tahu."
(Dan daripada memberikan peringatan lainnya yang secara jelas tidak akan ada hasilnya, mempertimbangkan betapa keras kepalanya lelaki itu ketika dia sudah menentukan sesuatu, Riza menimbang untuk membicarakan hal lain yang lebih umum – dia lebih suka yang umum daripada yang spesifik.)
"pukul berapa keretamu akan berangkat ?"
"Setengah lima pagi. Mungkin kau tidak bisa mengantar…ah…tidak..tidak. Aku tidak mengharapkanmu untuk mengantarku, kok."
"Dari gayamu mengunjungiku, sepertinya kau sudah selesai belajar dan cukup percaya diri ?"
Lelaki itu menggessekkan kedua tangannya, mukanya malu-malu menghitung jumlah ubin di hadapannya. "err…ya dan tidak. Aku ke sini..untuk membulatkan hatiku. Mungkin kau bisa memberi jimat keberuntungan atau petuah ? Sejujurnya aku sudah berusaha tidur sejak tadi namun tidak bisa…dan…ya. Aku sudah selesai belajar."
Jemari halus gadis kecil itu mengisyaratkannya untuk mendekat. Roy mengikutinya.
(Riza sebenarnya tidak ingin Roy pergi. Dia akan kehilangan teman berbagi. Dia akan merindukan senyum arogan si rambut hitam pekat itu.
Roy bisa mati.
Dan dia akan kehilangan untuk selamanya.)
"BOO !"
(Riza akhirnya memilih untuk menjadi egois. Dia akan lebih bahagia kalau Roy gagal tes besok karena itu dia tidak akan memberikan restu padanya.)
"Ah ! Dasar…Ku kira kau sudah cukup dewasa untuk kuajak bicara serius… Rupanya kau masih tetap seorang setan kecil yang usil…"
Gadis itu memelototinya.
"Kukira kau akan mendekat dan memberikanku kecupan selamat berjuang…"
Kalau kata-kata itu tidak diintensikan untuk didengar, mengapa lelaki itu repot-repot mengucapkannya kencang-kencang ?
"Yucks !! Aku mendengarnya !!"
"oh…baguslah. Tanamkan itu baik-baik kalau begitu. Lain kali kalau aku melihatmu lagi, aku ingin bertemu dengan Riza dewasa yang memberikanku kecupan selamat berjuang. Ingatkan pada diri dewasamu nanti."
"iih ! Amit !!!"
"Sudah…aku tidur dulu."
Dan lelaki itu telah lenyap dari kamar itu sebelum Riza membalas berbisik pelan.
"Malam.."
(Setelah itu, di sisi kasurnya, Riza kecil berdoa kepada siapa pun yang memerintah di balik langit kelam dan bintang-bintang sebagai perhiasanNya, agar teman satunya itu gagal mengikuti ujian – dan kalau tidak, setidaknya dia minta agar siapa pun itu Dia, mengirimkan satu bintang ke sisi Roy untuk melindunginya dari segala mara bahaya.)
-
a/n : hmm…lumayan banyak untuk drabble…tapi kayaknya kurang tepat untuk diberdirikan sendiri….digabung aja, deh…hehe..
