Persona 3: Petualangan Sang Kakak
Disclaimer: Persona 3 milik Atlus
Warning: OC, OOC dan kemungkinan ada character's dead*Author dibunuh* penuh dengan CrossHover dan GAJE. Dan sepertinya bagian ini semi-M
Summary: Entah kenapa ketika selesai bertarung dengan Shadow Arcana Hierophant, Minato dan lainnya tidak bisa keluar dari hotel tersebut karena masih ada Shadow di sana. Bisakah mereka mengatasi masalah yang di timbulkan oleh Shadow tersebut?
Minato membuka matanya dan duduk di atas ranjang empuk yang belum dia ketahui. Pandangannya masih terlihat samar-samar sambil memegang kepalanya yang pusing. "Dimana ini? Apa yang telah terjadi?" Tidak lama kemudian telinganya menangkap suara seseorang yang sedang mandi, "A-ada yang mandi?" Minato terkejut akan hal itu. "Bintang kecil~ di langit yang kecil~" Sekali lagi telinga Minato menangkap suara seorang wanita yang sedang mandi di dalam kamar mandi tersebut. "Yu-Yukari?" Minato akhirnya menyadari seseorang yang mandi tersebut adalah Yukari. "A-aku di sini... Be-berduaan dengannya?" terlihat rona merah di pipi Minato.
~Chapter 36: Tragedi di Hotel Cinta~
Minato segera bangkit dari duduknya namun sebuah suara yang masuk ke dalam pikirannya mencegahnya untuk pergi. "Urgh!" karena hal itu Minato mendapatkan pusing kepala yang menyakitkan.
[Relax~, Aku adalah isi hatimu~. Tenangkan dirimu dan jangan melawan~] terdengar kalimat yang terlontar masuk ke dalam isi kepala Minato, [Bukankah ini yang kau inginkan?] tanya suara yang menyatakan isi hati Minato tersebut.
("Apa maksudmu?") tanya Minato melalui batin.
[Tenang dan nikmatilah kesenangan ini~] suara misterius itu kembali menghasut pikiran Minato.
("Kesenangan? Kesenangan apa?") Minato kembali bingung.
[Kesenangan untuk 'If You Know what i mean' dengan cewek gitu~] jelas suara misterius tersebut.
("Kesenangan dengan cewek itu seperti apa?") tanya Minato yang masih bingung.
[Kau memang tidak tahu atau polos ya?] tanya suara misterius tersebut yang sepertinya sweatdrop dengan tingkah laku Minato.
Akhirnya suara itu kembali bertanya kepada Minato, namun Minato tetap dengan polosnya tidak mengerti apa yang di maksud dengan kesenangan oleh suara yang ada di dalam pikirannya tersebut. Berkali-kali suara itu kembali bertanya, Minato tetap masih tidak mengerti artinya. [Ya ampun, di dunia masih ada saja manusia yang aneh sepertimu...] ucap suara Misterius itu yang sepertinya stress.
("Jujur, demi tuhan! aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan!") teriak Minato.
[Sudahlah aku pusing berurusan dengan manusia yang seperti dirimu, selamat tinggal~] akhirnya suara misterius tersebut pergi dan di saat bersamaan pula badan Minato bisa di gerakan.
"Badanku akhirnya bisa di gerakan, syukurlah." Minato merasa lega akan hal tersebut. Kemudian dia segera berjalan ke arah pintu keluar, tapi langkahnya terhenti saat dia tak sengaja menoleh ke arah pintu kamar mandi yang di buka oleh seseorang. "Siapa kau?" tanyak Minato kepada seorang gadis berambut ungu panjang dengan badan yang terbalut oleh kain handuk dari atas dada hingga ujung paha.
"Aku Yukari~" ucap gadis tersebut yang mengaku dirinya sebagai Yukari.
"Bohong, Yukari itu perempuan yang sedikit Tomboy, ceria, suka senyum, baik, tapi juga dia itu orang yang sangat cerewet, kadang marah, cengeng, memiliki suara cempreng dan kalau marah dia itu menyeramkan." Jelas Minato dengan polos dan tanpa dosa, "Tidak sepertimu yang memiliki rambut panjang berwarna ungu" lanjutnya.
"Tapi sungguh, namaku itu Yukari, alias Yukari Yuzuki" ucap gadis yang mengaku sebagai Yukari.
"Eh, nama lengkap Yukari yang aku kenal itu Yukari Takeba." Ucap Minato yang menjelaskan.
"Oh... tapi tidak apa-apa kan jika aku memiliki kamu?" Yukari Yuzuki perlahan mendekati Minato dan membuat laki-laki itu mundur dengan cepat, sampai pada akhirnya punggung Minato menempel pada dinding tanda bahwa dia tidak bisa mundur lagi. "Kau tidak bisa lari kemana-mana lagi~" ucap Yuzuki Yukari dengan senanngnya dan perlahan kedua tangannya mendekati wajah Minato. Minato menelan ludahnya, tanda bahwa dia ketakutan.
"MENJAUHLAH DARI MINATO!" teriak Yukari asli yang keluar dari kamar mandi dengan tubuh terbalut dengan kain handuk sama seperti Yuzuki Yukari.
"Eh?" Yuzuki Yukari yang melihat hal itu terkejut, "Kau memangnya siapa?" tanyanya.
"NAMAKU ADALAH YUKARI TAKEBA! INGAT ITU! DAN JANGAN PERNAH GANGGU MINATO!" teriak Yukari Takeba yang asli kepada yang palsu setelah selesai menendang yang palsu kembali ke kandang kelinci. Yukari yang asli kemudian menoleh ke arah Minato, "kau tidak apa-apa Minato?" tanyanya dengan khawatir kepada Minato.
"Tidak, aku baik-baik saja, tapi kau... memangnya tidak merasa dingin dengan hanya memakai itu?" tanya Minato sambil menunjuk Yukari dengan wajah bersemu merah.
Yukari kemudian menyadari bahwa dia keluar dengan memakai handuk yang sangat minim sekali sampai-sampai hampir membuat Minato mimisan. "KYAAAAA!" perempuan berambut coklat susu sedikit pendek itupun berteriak sambil memeluk dirinya. "JANGAN LIHAT! DASAR MESUM!" lalu menampar Minato dengan keras sampai wajahnya menabrak dinding dengan keras dan setelah itu berlari kembali masuk ke kamar mandi untuk mengganti bajunya.
"Aduh..." satu kalimat yang keluar dari mulut Minato setelah merasakan sakit yang teramat menyakitkan di wajahnya hingga hidungnya berdarah akibat hal tadi. "Sudah di tampar, tertabrak dinding pula... hiks..." gerutuhnya dengang air mata yang mengalir deras dari matanya karena menahan sakit di wajah. Setelah itu Minato bangkit kembali dan menyeka air mata di matanya juga membersihkan darah di hidungnya, lalu berusaha berhenti menangis.
Tidak lama setelah itu terdengar suara dari Fuuka, [Hei, apa kalian baik-baik saja? Maafkan aku karena Shadow yang satu ini bisa menangkal sinyal komunikasi dari Lucia] ucap Fuuka.
"Ti-tidak apa Fuuka, ka-kami ba-baik-baik saja. Bagaimana keadaan yang lain?" tanya Yukari dengan suara yang gugup di kamar mandi.
[Maaf, aku masih belum bisa menghubungi mereka, sepetinya ini ulah Shadow.] ucap Fuuka yang merasa sedih.
"Tidak apa, lebih baik kau berusaha untuk menghubungi mereka." Hibur Yukari. [Oke] Fuuka langsung memutuskan telekomunikasinya.
Tidak lama kemudian Yukari keluar dari kamar mandi dengan memakai pakaiannya. Namun terlihat wajah marahnya yang di tunjukannya pada Minato. "Oke kita harus keluar dari sini tapi ingat, jika kau memberitahu hal ini pada orang lain, aku tidak akan berbicara padamu untuk selama-lamanya! mengerti?" ancam Yukari kepada Minato yang menjawab dengan anggukan yang perlahan. Seketika kemudian raut wajah Yukari berubah kebingungan setelah memperhatikan dengan saksama wajah Minato yang sepertinya di basahi oleh air mata. "Ka-kau menangis?" tanya Yukari.
"Ti-tidak," Minato memalingkan wajahnya, "aku tidak menangis" untuk menutupi hal tersebut.
"Jangan bohong, kau pasti menangis iyakan?" tanya Yukari lagi yang mencoba menyentuh pipi Minato yang basah untuk memastikan, namun dengan cepat Minato menepisnya.
"Kita sebaiknya keluar dari sini" Minato berjalan ke arah pintu untuk keluar tanpa memperhatikan Yukari.
"Apakah aku tadi sangat berlebihan padanya?" gumam Yukari pada dirinya sendiri dengan raut wajah yang khawatir.
"Hei, ayo." Ajak Minato dengan dingin dengan masih tanpa menoleh ke arah Yukari.
.
Tatsuya membuka matanya dan sadar bahwa dia berada di kamar lain. "Dimana sekarang diriku berada?" tanya Tatsuya sambil melihat sekitarnya.
Tidak lama kemudian Yoshino keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membalut tubuh bagian bawahnya. "Aku sudah selesai mandi, sekarang mari kita bersenang-senang~" ucap Yoshino dengan nada banci yang terlihat tidak sadar. Seketika itu juga Tatsuya melempar batu bata tepat mengenai kepala Yoshino sampai berdarah.
TUK!
"Aduh!" Yoshino mengerang kesakitan, "KENAPA KAU MELEMPARIKU DENGAN BATU BATA?!" teriaknya yang kini sudah sadar sambil menarik kerah baju Tatsuya dengan marahnya.
"Maaf, tadi aku habis seperti melihat bencong... jadi aku lemparkan saja batu bata kearah bencong tadi untuk memastikan. Namun tidak kusangka itu adalah kau, jadi maaf ya." ucap Tatsuya tanpa dosa sambil meminta maaf.
Kemudian terdengar suara Fuuka di kepala mereka, [Suou-san, Hiroshi-san, kalian baik-baik saja?] tanya Fuuka.
"Baik" jawab mereka bersamaan.
[Maaf, aku tadi berusaha menghubungi kalian namun tidak bisa juga karena jalur komunikasi Lucia tengah di halangi oleh Shadow. Sekali lagi aku minta maaf] ucap Fuuka yang merasa bersalah.
"Tidak, ini semua bukanlah salahmu." hibur Yoshino yang melepaskan cengkramannya.
"Bagaimana keadaan yang lain?" tanya Tatsuya.
[Arisato-kun dan Yukari-chan bisa aku hubungi, tapi Junpei-kun, Akihiko-senpai, Reizato-san dan Sayu-nee-chan masih belum bisa] jelas Fuuka.
"Oh, coba cek pulsamu, mungkin pulsamu kurang kali?"tanyak Yoshino.
[Pulsaku masih banyak, tersisa Rp 1.000.000 dan tanggal kadarluarsanya itu tanggal 27 juni 2025] jawab Fuuka.
"Sudah periksa jaringannya belum?" tanya Tatsuya.
[Sudah, jaringannya mulus dan lancar] jawab Fuuka.
"Sudah tanyak sama operatornya belum?" tanya Ariel Noah yang tiba-tiba muncul entah darimana.
[Eh ada mas Ariel, Sudah mas dan katanya lancar-lancar saja, dan katanya lagi itu kesalahan operator yang di miliki oleh teman-temanku] jelas Fuuka.
"Ternyata kesalahan operator yang lain" ucap Tatsuya.
"Yah... nggak jadi promosi iklan kartu XXL di sini..." Arielpun sedih karena tidak bisa membuat promosi iklan di sana dan kembali bersama grup bandnya.
"Sudahlah, lebih baik kita mencari yang lain" Yoshino kemudian memakai bajunya dan mereka keluar dari sana.
.
Seperti keadaan di bagian Tatsuya, Akihiko terbangun dan menyadari bahwa dia berada di tempat lain. Setelah itu bertemu junpei yang tidak sadar lalu Akihiko berusaha menyadarkan Junpei dengan memukul kepalanya, menendang 'Adiknya', melemparinya dengan kaca, sepatu, besi, mobil, Balck Bery, uang senilai satu miliyar, T41 dan poster Jupe hingga akhirnya junpei tersadar berkat alunan lagu Justin Bueber yang lagi nyanyi di Indonesia. Kemudian Fuuka dapat menghubungi mereka dan menjelaskan apa yang terjadi dan berakhir dengan mereka berdua keluar untuk mencari yang lain.
.
Namun keadaan Reizato dan Sayu berbeda dengan yang lainnya bahkan lebih berbeda dari keadaan Minato dan Yukari. Karena di dalam ruangan tersebut...
"SAYU! HENTIKAN DAN SADARLAH!" berkali-kali Reizato berusaha tidak tertangkap oleh Sayu dan terus menghindar.
"Ayo Rei-chan~ kita mandi bersama~" dan berkali-kali juga Sayu berusaha mengejar dan menangkap Reizato.
Bagaikan kucing yang kabur saat mau di mandikan oleh majikannya atau bagaikan anak yang kabur saat mau di mandikan oleh ibunya, itulah kedua kalimat yang lebih tepatnya bisa di jelaskan dalam keadaan tersebut. "SIAPAPUN, TOLONG AKU!" teriak Reizato dengan keras namun sayang tidak ada yang mendengar.
[APA YANG KAU LAKUKAN DASAR BODOH!] terdengar suara Reito di kepala Reizato.
"Re-Reito?" Reizato kaget, "Dimana kau? Tolong aku!" teriaknya sambil menghindar dan menelusuri keberadaan Reito namun nihil.
[Pakaikan Persona Gear Arcana Priestess pada Sayu!] jelas Reito di kepala Reizato hingga Reizato mengerti artinya.
"Begitu ya, aku mengerti." Reizato dengan cepat dan tetap menghindari tangkapan Sayu memanggil sebuah Helm yang bertuliskan Helm Kesadaran tepat di saat dia kini terdesak.
"Mau lari kemana lagi~ Rei-chan~" Sayu perlahan-lahan mendekati Reizato dengan senyum cerianya, meski tidak memperdulikan balutan handuknya bisa lepas kapan saja.
"Harus menentukan waktu yang tepat." Gumam Reizato.
"Rei-chan~ sekarang~ YAAAA~" Sayu melompat ke arah Reizato.
"SEKARANG!" Reizato langsung memakaikan helm tersebut tepat sesaat Sayu menarbak badannya hingga Reizato tidak sadarkan diri. ("Berhasilkah?") Reizato membuka matanya dan di atas tubuhnya bagian dada, terlihat olehnya Sayu tengah memakai helm dan tertidur di atasnya. "Berhasil, tapi..."
Deg!
Jantung Reizato berdetak kencang dan badannyapun mulai gemetar ketakutan. "Ke-kenapa a-ada di a-atas tubuhku?" tanyanya pada dirinya sendiri lalu helm yang di pakai Sayu kembali ke bentuk kartu dan lenyap.
Tidak lama kemudian suara pintu di ketuk oleh seseorang. "Nii-san apa kau ada di dalam? Aku dan Minato akan masuk." Yang ternyata adalah Yukari bersama Minato. Dan saat pintu terbuka, muka Yukari dan Minato bersemu merah ketika melihat kakaknya tengah bersama Sayu dalam posisi tidur di atas lantai dengan mesranya. "Maaf kami mengganggu, lanjutkan saja." dengan cepat Yukari menutup kembali pintunya.
"INI TIDAK SEPERTI YANG KALIAN BAYANGKAN!" teriak Reizato pada mereka berdua sampai tidak sengaja membangunkan Sayu.
"Hm... Rei-kun..." Sayu menoleh ke arah Reizato dan menggosok matanya karena pengelihatannya belum jelas sepenuhnya, "Kenapa kau masuk di kamarku...?" tanyanya. "Hoam... Juga kok dingin?" tanyanya lagi sambil duduk dan melihat dirinya. "Eh?" seketika itu juga Sayu sadar dan berkali-kali dia menoleh ke arah Reizato dan tubuhnya yang masih terbalut oleh handuk.
"Sa-Sayu, i-ini tidak sep-"
"KYAAAAAAA! REI-KUN MESUM!" Sayu langsung menampar wajah Reizato dengan compedium tebalnya hingga wajah Reizato menabrak dinding sampai retak dan meninggalkanya ke arah kamar mandi untuk mengganti bajunya.
"Aduh..." Reizato mengerang kesakitan, "Hidupku benar-benar sial" lalu kembali berdiri dan memebersihkan topi bundarnya untuk di pakainya kembali. "Tapi Reito tadi dimana? Kok hanya suaranya saja yang terdengar?" Reizato mulai berpikir namun suara Fuuka telah membuyarkan hal tersebut di kepalanya.
[Reizato-san, apa kau dan Sayu-nee-san tidak apa-apa?] tanya Fuuka.
"kami berdua tidak apa-apa, lalu bagaimana keadaan yang lain?" tanya Reizato.
[Mereka semua baik-baik saja dan tengah menunggu di lantai 2.] jelas Fuuka.
"Baiklah, aku dan Sayu akan ke sana" ucap Reizato.
Krek...
Reizato menoleh ke arah pintu yang di buka oleh Sayu. Terlihat kedua pipi Sayu bersemu merah di matanya. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Reizato dengan dingin dan Sayu menjawabnya dengan sebuah anggukan kepala yang pelan. "Kalu begitu kita harus mencari yang lainnya" Reizato dan Sayu akhirnya keluar dari ruangan tersebut.
Di tengah jalan untuk bertemu yang lain, Sayu tengah memikirkan kejadian yang tadi. ("A-Apakah aku dan Rei-kun telah...") sebuah pikiran negatif menghampiri Sayu yang tengah melihat ke arah Reizato di depannya sambil memeluk dirinya sendiri. ("TIDAK-TIDAK! Aku tidak boleh berpikiran seperti itu!") Sayu mengeleng kepalanya berulang kali untuk tidak meyakini pikirannya. ("tapi... tadi...") pikiran negatif kembali menghampirinya di tengah perjalanan dan Sayu memeluk dirinya semakin erat.
"Sayu-san!" ucapan keras Yukari membangunkan lamunan Sayu.
"A-ada apa?" tanya Sayu yang kaget.
"Berjalan sambil melamun itu bahaya loh," Yukari berusaha memperingati Sayu.
"Maaf..." Sayu meminta maaf dan kembali berjalan sambil memandang kembali Reizato yang berada di depannya.
Tidak lama kemudian mereka bertemu dengan yang lainnya. Setelah itu Fuuka mulai memberitahu kepada semuanya bahwa pintu kamar di lantai 3 yang tadi mereka masuki masih terkunci oleh kekuatan dari Shadow yang membuat suatu masalah kepada mereka. Lalu Fuuka meminta pada mereka agar menghancurkan kekuatan Shadow tersebut yang berada di lantai 2 dan 3.
"Oke, akan kami hancurkan!" teriak Yoshino dengan penuh semangat.
Akhirnya mereka berpencar menjadi 2 kemlompok untuk mencari kekuatan yang menyegel pintu tersebut. Kelompok pertama Minato, Yukari, Akihiko dan Junpei mencari di lantai 3, sedangkan kelompok kedua yaitu Reizato, Sayu, Yoshino dan Tatsuya mencari di lantai 2. Pencarian tidak semudah yang mereka harapkan karena tiba-tiba Shadow-shadow muncul di lorong untuk menghalangi mereka. Beberapa detik kemudian kelompok 2 menemukan sebuah kaca yang terlihat gelap dan tidak menunjukan bayangan mereka.
"Kami menemukan kaca yang sama seperti sebelumnya" ucap Tatsuya pada Fuuka.
[Itu pasti kekuatan yang mengunci pintu di lantai 3, Kalau begitu hancurkan] pintah Fuuka.
"YOSH!" Yoshino dengan semangat menembakan pistolnya ke kaca tersebut sampai pecah. "HAHAHAHA! Aku benar-benar tidak sabar menghabisis Shadow yang satu ini" tawa Yoshino. Lalu kelompok 2 pergi ke lantai 3 menyusul kelompok 1.
Kelompok satu tengah mencari cermin yang sama seperti kelompok 2 sambil mengalahkan Shadow-Shadow yang menghalangi mereka. Tidak beberapa lama kemudian mereka menemukannya di sebuah ruangan di mana ada 3 peti hitam dan salah satu dari 3 peti tersebut dalam posisi tidur di atas ranjang.
"WHOA! SUGOI!" teriak Junpei yang melihat hal itu sementara yang lain hanya kebingungan.
"Aku menemukannya!" Minato yang menemukan kaca yang sama seperti kelompok 2 langsung memecahkannya.
Setelah itu suara Fuuka terdengar di kepala mereka. [Teman-teman, aku merasakan kekuatan Shadow yang mengunci pintu itu sudah hilang dan kini kalian bisa memasukinya untuk melawan Shadow tersebut dan kelompok Reizato-san sudah menunggu kalian di depan pintu tersebut] jelas Fuuka.
"Baik, kami akan kesana." Sahut Minato dan kelompok 1 pergi menuju kelompok 2. Setelah mereka semua berkumpul, mereka bersiap memasuki ruangan tersebut seperti sebelumnya. "Siapkan Evoker!" Pintah Minato dan mereka akhirnya masuk untuk berhadapan dengan Shadow yang memberi mereka masalah khusus. Shadow tersebut berbentuk hati yang besar sebagian terbuat kaca dan di dalam tubuhnya terdapat simbol laki-laki juga perempuan. Mengenai topengnya, tentu saja topengnya adalah topeng Shadow Arcana Lover.
"Karena kau... AKU JADI MENGALAMI KEJADIAN MEMALUKAN!" teriak Yukari yang marah.
"Karena kau... AKU HAMPIR SAJA KEHILANGAN KEPEJAKAANKU!" teriak Reizato yang ikut-ikutan marah. Setelah itu, dia menunjuk Shadow tersebut sambil menghadap ke samping. "Saa, Omae no Tsumi wo Kazoero!" Ucapnya meniru ucapan Kamen Rider W . Semuanya langsung mengeluarkan Persona mereka. "JOKER!" Joker menebas Shadow tersebut dengan pedang dari Persona Gearnya.
"Biarkan takdir... yang menentukan. AYO ICARUS-DYNAMES! TORENT SHOT!" Icarus-Dynames menembaki Shadow tersebut.
"Polydeceus! Zionga!" Polydeceus menyambarkan petir berukuran sedang ke arah Shadow tersebut.
"IO! GARULA!" Io menyerang Shadow tersebut dengan element angin.
"Andromeda! GARULA!" Andromeda juga memakai serangan angin yang sama seperti Io.
"HERMES!" Hermes membakar Shadow tersebut.
"Fortune! Garula!" Minato memanggil dewi Fortuna untuk menyerang Shadow tersebut dengan element angin yang sama seperti milik Yukari. Tapi Shadow Arcana Lover masih hidup.
"WUH! Shadow yang satu ini sepertinya sedikit kuat" puji Yoshino.
[Heartbreaker!] Shadow Arcana Lover mulai menyerang SEES dan berhasil mengenai Minato, Junpei dan Akihiko.
"Hey, kalian baik-baik saja?" tanya Reizato namun mereka bertiga tidak menjawab.
[Semuanya dengar, Minato, Junpei dan Akihiko sedang terkena Ailment Charm karena terkena serangan Shadow tadi] jelas Fuuka.
"Waduh gawat nih, ada yang bawa obat Dis-Charm tidak?" tanya Yoshino.
"Aku, tapi hanya ada 1" ucap Yukari.
Sayu mulai berbicara, "Maaf Rei-kun, a-".
"Oh ya, Kemarin aku melihat Minato membeli sesuatu di Aohige Pharmacy yang ada di Paulownia mall dan kemungkinan dia pasti membeli Dis-charm" sahut Tatsuya yang memotong ucapan Sayu.
"Kalau begitu, Yukari apa kau tahu yan harus kau lakukan?" tanya Reizato.
"Tentu Nii-san, aku akan menyadarkan Minato-kun dulu." Ujar Yukari dengan senyum.
"Bagus!" teriak Reizato senang. "AYO, KITA PANCING MEREKA!" teriaknya lagi, "JOKER!" Joker menyerang Fortuna. "Aku dan Yoshino akan mengalihkan Persona mereka!" ucap Reizato.
"Persona Change, Rakshasa!" Minato segera mengganti personanya dengan Rakshasa sehingga serangan pedang dari Joker dapat di tahan oleh pedang Rakshasa.
"Hermes!" Hermes lalu menendang ke arah Joker, tapi Icarus-Dynames menghalangi serangan Hermes dengan tubuhnya yang di tutupi oleh sayap Gundam Dynames.
"Mau memancingku ya, oh tidak bisa." Ejek Yoshino.
"Polydeceus!" Rakshasa dan Hermes menjauhi Joker dan Icarus karena Serangan petir dari Polydeceus menyambar ke arah Persona Reizato dan Yoshino.
"Persona-Gear Change, Moon!" Joker langsung melindungi Icarus-Dynames dengan perisai Gundam Kyrios yang tahan terhadap serangan listrik. "Hampir saja." Ucap Reizato lega.
"Sekarang!" Tatsuya berhasil mengunci posisi Minato karena Minato lengah.
"MAKAN INI!" Yukari langsung memaksa Minato memakan Dis-charm dan akhirnya Minato sadar.
"HOEK! DIS-CHARM ITU TIDAK PERLU SAMPAI DI MAKAN, HANYA DI CIUM SAJA!" teriak Minato yang sadar.
"Maaf," ucap Yukari yang tersenyum gugup.
"Minato, cepat gunakan Dis-charm untuk menyadarkan mereka!" ucap Tatsuya yang melepaskan Minato.
"Aku tidak punya minyak wangi itu." Ucap Minato polos.
"Apa? Lalu kemarin kau di Aohige Pharmacy sedang apa?" tanya Tatsuya.
"Oh, kemarin aku di sana sedang menjual barang-barang yang kudapat di tartarus pada Aohige untuk membeli pasta gigi, sikat gigi, obat sakit kepala, obat flu, obat demam, minyak kayu putih dan makanan ringan" ujar Minato.
"Apa?" Tatsuya dan Yukari tampak terkejut.
"TATSUYA! LOE TERNYATA PEMBERI HARAPAN PALSU!" Teriak Yoshino yang marah.
"Maaf, akukan hanya bilang 'pasti' saja" ucap Tatsuya yang menyesal.
"WOY! BISA DENGARKAN AKU BICARA DULU TIDAK?!" teriak Sayu yang dari tadi mau bicara tapi tidak ada yang mendengar.
"Ya sudah, bicaralah." Ucap Reizato yang sibuk menangani Persona Akihiko.
"Aku mau bilang Andromeda kini memiliki skill yang bisa menghilangkan efek Charm" jelas Sayu yang membuat semua yang mendengar sweatdrop.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?" tanya Tatsuya.
"Karena Tatsuya-san asal motong pembicaraan orang saja!" balas Sayu dengan marah.
"Maaf..." Tatsuya kembali merasa bersalah.
"CEPAT PAKAI!" teriak Yoshino dan Andromeda akhirnya memakai Skill tersebut namun Shadow Arcana Lover tidak membiarkan hal tersebut terjadi.
[Pulinpa!] sebuah bola hitam yang berisi mantra pelupa skill Persona di tembakan oleh Shadow Arcana Lover ke arah Andromeda.
[Hati-hati, Skill itu membuat kita tidak dapat memakai Skill Persona] ucap Fuuka dengan cepat.
"Joker!" perisai di tangan Joker terbang ke arah Andromeda untuk melindunginya dan Skill Pulinpa tersebut mengenai perisai Joker sehingga otomatis Joker terkena Efek tersebut. "AARGH!" Joker menghilang.
"REI-KUN!" Sayu mengkhawatirkan Reizato.
"Cepat sadarkan yang lain!" teriak Reizato yang tengah menghindari serangan Persona Akihiko.
"Andromeda, CHARMDI!" sebuah cahaya meledak di pikiran Junpei dan Akihiko.
"Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kita saling menyerang?" tanya junpei dan Akihiko.
"Tadi kalian di kendalikan," jelas Tatsuya.
"Oh..." Junpei dan Akihiko hanya ber-O ria.
"Sudahlah, kita serang Shadow itu lagi yang tengah mengobati dirinya." Jelas Yukari dan mereka kembali menyerang Shadow secara bersamaan. Tidak beberapa lama kemudian Shadow tersebut hancur dan tim SEES yang masuk berhasil keluar.
"Nii-san!" Minako langsung memeluk Minato. "Nii-san tidak apa-apakan? Aku tadi khawatir." Ucap Minako yang melepaskan pelukannya dan tersenyum simpul ke arah Minato.
"Ya, aku tidak apa-apa." Jawab Minato.
"Aku merasa bodoh di sana karena di kendalikan oleh Shadow" ucap Junpei yang jengkel dengan dirinya.
"aku juga" Ucap Minato.
"Benarkah? Oh iya, kau juga. Ternyata kita memang teman ya." Ucap Junpei.
"Sudahlah Junpei, kau tidak perlu sekawatir itu." Ucap Yukari.
"Khawatir? Kami ini dapat di kendalikan oleh Shadow karena lemah!" teriak Junpei yang marah.
"Sudahlah, aku juga lemah, benarkan?" Yoshino berusaha menghibur.
"Yoshino-san lemah?" tanya Junpei, "Tapi kaukan terlihat kuat, apalagi senjatamu adalah senjata api!" lanjutnya.
Yoshino membuka topengnya dan menunjukan kepalanya yang habis berdarah karena kejadian di kamar tadi. "Nih, bukti kepalaku berdarah karena lemah gara-gara di lempar batu bata oleh polisi tuh!" jelasnya sambil menunjuk ke arah Tatsuya.
"Sumpah, demi tuhan! Aku tidak sengaja" jelas Tatsuya tanpa dosa.
"Bohong tuh, jelas-jelas sengaja" ucap Yoshino.
"Kalau tidak percaya ya sudah, kita putus!" teriak Tatsuya.
"Sudah-sudah, kenapa kalian malah bertengkar?" tanya Sayu.
"Benar, dan kapan kalian jadian? Ternyata kalian... suka sesama jenis," jelas Reizato, "Sungguh... Ter~... la~... lu~..." lanjutnya dengan nada Rhoma irama.
"Aku hanya bercanda." Jelas Tatsuya.
"Becanda itu ada batasnya" sahut Yoshino dan perdebatan terus di mulai bersama Akihiko, Mitsuru, dan Junpei juga Minako. Fuuka hanya bisa tertawa kecil mendengar perdebatan itu, sementaraa Sayu hanya diam memikirkan kejadian yang dia alami bersama Reizato.
"Hei Minato" Yukari mendekati Minato di tengah perdebatan itu.
"Hn? Ada apa?" tanya Minato dengan dingin sambil menoleh ke arah Yukari.
"Tadi kau... menangis ya?" tanya Yukari dengan nada khawatir.
Minato kembali menoleh ke depan. "Yang namanya manusia pasti pernah menangis, itu berarti aku juga pernah." Jelasnya.
"Maafkan aku yang telah kasar padamu sampai kau menangis ketika kejadian tadi." Ucap Yukari dengan senyum.
"Kejadian apa?" tanya Minato yang membuat Yukari berhenti tersenyum.
"hm? Ya tentang aku memarahimu di tempat tadi." Jelas Yukari, "Jangan bilang kau lupa?" tanyanya.
"hm... itu, baiklah tapi dengan satu syarat," Minato kembali menoleh ke arah Yukari, "jangan ulangi kejadian waktu menyadarkanku dengan menelan Dis-charm, sumpah, itu minyak wangi mbak bukan obat. Main asal telen aja" Jelas Minato.
"O-ok, aku tidak akan mengulanginya asalkan kau memaafkanku" Yukari kembali tersenyum. "Oh ya Minato, apa kau tahu? Kau itu mirip dengan kakaku waktu kecil" ucapnya yang membuat Minato bingung.
Fuuka lalu menghampiri Yukari. "Yukari-chan, aku mendapatkan apa yang kau minta kemarin" Fuuka memberikan sesuatu yang sepertinya terlihat rahasia pada Yukari.
"Terima kasih Fuuka tapi jangan di sini, di tempat lain saja ya." Ucap Yukari yang mengambil benda tersebut dan mengajak Fuuka pulang bersama.
("Aku mirip seperti Reizato-san waktu kecil? apanya yang mirip?") batin Minato.
"Sudah Cukup, lebih baik kita pulang dari pada bertengkar di sini! Atau aku akan mengeksekusi kalian bertiga?" ancam Mitsuru pada Yoshino, Reizato dan Tatsuya.
"Bertiga? Aku juga?" tanya Reizato pada dirinya.
"Yap, benar!" jelas Mitsuru.
"ya sudah, kita pulang dari pada di hukum" ujar Yoshino dan kemudian mereka tim SEES pulang ke asrama.
"Hey Sayu, ayo jangan melamun!" ucap Reizato yang menyadarkan Sayu.
"Ba-baik" Sayu menyusul.
.
PLOK! PLOK! PLOK!
Laki-laki berambut perak panjang bermata kuning tajam yang tersenyum sedang bertepung tangan. "Cepat sekali mereka menyelesaikannya." Pujinya.
"Ya jelas cepat, jumlah mereka banyak, pasti main keroyokan." Ujar laki-laki berkacamata berambut biru berjaket hijau.
"Benar juga, jika kita bertiga yang melakukan hal itu, mungkin sedikit lama." Pikir laki-laki berambut perak panjang.
"Tapi sepertinya ada yang familiar dengan pria bermantel putih bertopi bundar putih itu." ucap perempuan berambut merah panjang yang di kuncir 2.
"Aku juga merasakannya demikian, Chidori?" tanya laki-laki berambut perak yang memanggil nama gadis itu Chidori.
"Lebih baik kita pulang untuk mengatur rencana, Takaya." ucap Laki-laki berambut biru pada laki-laki berambut panjang perak dengan panggilan Takaya.
"Baiklah Jin, karena masih ada waktu untuk hal ini." Sahut Takaya pada laki-laki berjaket hijau berambut biru berkacamata dengan sebutan Jin. mereka bertiga akhirnya kembali ke markas
.
"Can you see Riborn? Can you see they power? Because, i can see..." gumam sok keren. "I Can't wait for battle with them... HAHAHAHAHA!" Mr. Bushido langsung melompat jatuh kebawah dan menghilang di dalam kegelapan lorong sempit.
~To Be Continue~
Akhirnya update juga, terima kasih untuk yang membaca cerita aneh ini. Terima kasih untuk...
Luciano Fyro (Ch 35): begitulah yang saya nantikan di cerita ini ketika 2 orang yang memiliki bagian nama yang sama. HAHAHAHAHA! *di lempar sendal*
KagaHinaSato (Ch 35): Permohonanmu aku kabulkan, HAHAHAHAHA karena ada Yuzuki Yukari yang lagi ngerayu Minato dengan badan terbalut handuk *di panah Yukari Takeba*
IarIz (Ch 35): baiklah, saya akan pake gaya penulisan lama.
Sekali lagi terima kasih untuk kalian semua yang mereview cerita saya, maaf jika ada ke salahan dan jangan lupa untuk...
~Review~
