Chapter 38

Finale

Lelaki itu menoleh begitu mendengar suara ketukan dari belakangnya, melihat siapa yang ada diambang pintu, kemudian dia tersenyum.

"Halo, Ethel." Sapanya, lalu dia kembali memandang lembaran kertas berwarna kekuningan yang terhampar di depannya, kertas itu kelihatannya sudah sangat tua, sepertinya kertas itu bakal hancur berkeping-keping kalau seseorang menyentuhnya. Wajahnya nyaris menyentuh kertas rapuh itu, meskipun dia melihat aksara yang tertulis di kertas tersebut dengan kaca pembesar.

Tanpa dipersilakan lagi Ethel memasuki ruangan yang penuh dengan artefak-artefak kuno, kebanyakan dari artefak itu berasal dari Yunani, Profesor yang satu ini memang mengkhususkan dirinya pada mitologi Yunani kuno.

"Bagaimana kabarmu Profesor Kasch?" Tanya Ethel yang kini sudah duduk disalah satu kursi tinggi di depan meja yang bertebaran tablet batu berukir aksara Yunani.

"Seperti yang kau lihat, aku masih hidup dan bernafas" jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari meja

"Bagaimana Regno Dei Sogni? Apakah aku bisa kesana dalam waktu dekat ini?" Tanya Ethel lagi.
Sang Profesor menjawabnya hanya dengan gumaman tidak berarti. Tanpa membalikkan badannya dia terlihat tidak begitu mempedulikan ucapan Ethel.

"Lord Oneiros. Tidak kah kau tahu di dunia manusia sangat tidak sopan menjawab dengan punggungmu." Kata Ethel

Seketika, lelaki setengah baya itu menegakkan tubuhnya dan menjauhkan wajahnya dari manuskrip yang sepertinya hendak dilahapnya. Diapun membalikkan tubuhnya. Berjalan mendekati Ethel dan duduk didepan gadis itu.

Ethel tersenyum memandang sang profesor, namun tidak begitu dengan sang profesor, wajahnya terlihat datar tanpa emosi. Dari balik kacamata perseginya dia memandang Ethel dengan mata berwarna hijau daunnya.

Mereka terdiam sejenak, saling pandang.

"Sejak kapan kau bisa melihatku?"

"Belum lama ini"

Lelaki itu menyunggingkan bibirnya, tersenyum sinis.

"Waktunya sudah tiba bukan, karena itu kau ada disini, kalau kau mau aku sudah siap untuk pergi sekarang."

Profesor Kasch mendekatkan wajahnya pada Ethel. Ethel bisa melihatnya perlahan kulit keriputnya retak dan lepas seperti sepihan kertas wajahnya berubah menjadi seorang lelaki berwajah dingin "Belum saatnya kau pergi dari sini manusia." Ucapnya, dia mengarahkan jarinya kearah pintu dan langsung terdengan bunyi menceklik. Satu gerakan ringan dari tangannya seluruh jendela yang ada di ruangan itu langsung menutup.

Oneiros menjauhkan wajahnya dari Ethel. Melipat tangannya di depan dadanya.

"Lecca….kau pikir siapa dirimu, berkata seperti itu padaku, kau pikir kau istimewa? Kau tak lebih hanya manusia rendah." Kata Oneiros dia memandang Lecca sperti memandang sesuatu yang menjijikan.

Lecca terdiam dia tidak membalas omongan Oneiros yang tajam, dia hanya menatap Oneiros tanpa ekspresi.

"Apa dia masih tidak percaya padaku?" Lecca meremas jari-jarinya.

"Mungkin, aku tidak tahu." Oneiros mengangkat bahunya, "waktumu disini belumlah berakhir Lecca meskipun waktu yang dijanjikan sudah semakin dekat, tetapi jangan kau pikir semua ujianmu sudah selesai dengan adik dari Gold Saint Gemini itu."

Lecca mengerutkan keningnya, wajahnya terlihat tak percaya menanggapi perkataan Oneiros.

"Masih ada satu ujian besar untukmu, to fin finale sou (grand finale)" Oneiros menyunggingkan bibirnya. "Keluargamu." Lanjutnya

Lecca memejamkan matanya, dia sudah mengetahuinya, dia pasti mengujinya dengan hal yang baru saja diucapkan oleh Oneiros, bagi manusia Keluarga adalah segalanya, apapun akan dilakukan manusia untuk melindungi keluarganya, meskipun itu adalah cara yang sangat dibenci Tuhan atau dibenci oleh manusia itu sendiri, keluarga adalah satu-satunya tempat kembali seberapapun hancurnya dirimu. Tapi tidak menurut dewa yang satu itu, menurutnya manusia adalah makhluk yang sangat mudah berubah, dan munafik, makhluk kotor yang akan melakukan apa saja demi kepentingannya sendiri, maka itu, Lecca sangat memahami kenapa dia masih menguji dirinya dengan keluarganya. Lecca menghela nafas cepat.

"Ini adalah ujian terakhirmu Lecca, Yang Mulia mau kesempurnaan dalam takdirmu, kau juga akan pergi secara wajar sebagaimana manusia pergi, kali ini semua tergantung padamu Lecca, dan yang perlu kau ketahui keberadaanku selama ini bukan untuk melidungimu." Oneiros meopangkan kedua tangannya di meja "Aku ada disini, selama ini bukan untuk menjadi pelindungmu, tetapi keberadaanku disini untuk mengawasimu, karena jika takdirmu tidak sesuai dengan apa yang tertulis, aku akan…membunuhmu." Oneiros mengatakannya dengan suara nyaris berbisik.

Lecca bangkit dari duduknya dia berjalan melewati Oneiros, di belakang Oneiros ada dua patung batu, patung Dewa Tidur Hypnos dan adik Kembarnya Dewa Kematian Thanatos, tangannya menyentuh patung Thanatos, menelusur kasarnya batu di indera perabaannya.

"Aku mengerti mengapa dia belum sepenuhnya percaya padaku. Aku sangat memahaminya." Lecca menghela nafas sekali lagi. Kemudian dia berbalik berjalan menuju pintu, berhenti di depannya.

"Tolong katakan padanya Oneiros, apapun ujian yang dia berikan padaku, dia pasti mengetahui jawabanku, apa yang akan kulakukan." Lecca menatap patung yang ada dibelakang Oneiros "Aku pasti akan kembali dimana Dewaku berada. Sekalipun dia mengujiku dengan Ayahku." Lecca tersenyum, lalu iapun membuka pintu dan meninggalkan ruangan itu.

"Sepertinya dia mengetahui kalau anda ada disini Yang Mulia." Kata Oneiros

Sesosok tubuh keluar dari patung Dewa Kematian Thanatos seakan dia berjalan menembus patung batu tersebut. Pria bertubuh tinggi bermata keperakan itu memandangi pintu tempat Lecca keluar. Rambutnya dibiarkan tergerai melewati bahunya, dia memakai setelah jas serba hitam, diapun berjalan menuju meja dan duduk di depan Oneiros.

"Aku sama sekali tidak meragukanmu." Dia menatap tangannya. Lalu menghembuskan nafas panjang. "Lecca…."


"Apa yang anda katakan dokter!?" ujar Ashley dengan berderai airmata.

"Maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin nyonya, tetapi bayi anda tidak bisa kami selamatkan, kami harus memlihnya anda atau bayi itu." jelas dokter.

Ashley menarik baju dokter itu "Kenapa kau tidak biarkan aku mati saja bersamanya!" teriaknya histeris.

"Nyonya aku mohon tenanglah, anda masih dalam masa pemulihan." Tetapi Ashley semakin histeris dan para perawat harus memisahkan dirinya dengan sang dokter. Suntikan penenang membuat Ashley kehilangan kekuatan dan kesadarannya, rasa kantuk yang luar biasa, lalu semuanya berubah menjadi gelap dan sunyi.

Ashley membuka matanya dia mendapati wajah cemas ibunya, airmatanyapun kembali membanjiri pipinya.

"Apakah ini semua mimpi Ma?' ucapnya disela isak tangisnya. "Aku bahkan belum memberinya nama, memeluknya."

Ibunya tidak mengatakan apa-apa dia hanya memeluk putrinya yang kehilangan bayinya, dirinya juga pernah kehilangan seorang anak, jadi dia sangat memahami rasa sakit itu.

Ashley mencoba bangun dari tempat tidurnya, tetapi ibunya mencegahnya "Mau kemana kau nak?"

"Aku ingin melihatnya, aku ingin menggendongnya, Ma."

"Relakanlah, anakku…"

"TIDAK!" serunya gusar dan mencoba bangun lagi.

"Ba..baiklah aku akan bicara, untuk membawanya kesini" kata ibunya, tanpa banyak bicara ibunya pergi meninggalkannya tak berapa lama ibunya kembali dengan dokter dan perawat yang membawa sebuah selimut berwarna ungu dalam gendongannya. Ashley membekapkan tangannya ke mulutnya dia tahu itu adalah bayinya. Bayi yang beberapa waktu lalu masih benafas di dalam dirinya, karena kecelakaan yang dialaminya dia harus kehilangan bayinya. Padahal hanya beberapa hari lagi waktunya sampai dia dilahirkan ke dunia.

Ashley merentangkan tangannya, mengisyaratkan kepada perawat untuk memberikan bayinya pada dirinya. Perawat itu melirik pada sang dokter, dengan anggukan kecil pria berbaju putih itu menyetujuinya.

Bayi itu kini ada dalam gendongan dirinya, dokter memberitahunya kalau dia adalah bayi perempuan yang sangat cantik, dan, ya, bayi mungil ini memang sangat cantik, meski pipinya masih merah, dia seperti bunga di musim semi, Ashley menyentuh pipinya, halus, menyenangkan, matanya terpejam masih terpejam rapat, meskipun selimut yang menutupinya tebal Ashley bisa merasakan perlahan tubuhnya mendingin. Ah, lagilagi Ashley tidak bisa membendung tangisnya, dia mengeratkan pelukannya, dan berharap kalau ini hanya mimpi dan begitu ia memeluk bayinya dia akan terbagun dan menangis, dia hanya tertidur. Tapiitu mustahil bukan?

"Ku..kumohon tinggalkan aku sendiri." Pinta Ashley, ibunya saling pandang dengan sang dokter dan perawat. Wajah mereka sperti enggan dan khawatir dengan keadaan Ashlay yang sekarang.

"Aku tidak apa-apa Ma." Ashley meyakinkan, dia hanya ingin berdua saja dengan bayinya.

Ibunya memejamkan matanya dan menghela nafas, dia sangat memahaminya sifat putrinya yang keras kepala.

Kini Ashley hanya sendiri saja, berdua dengan bayi di gendongannya, matanya tidak lepas menatap bayi itu, tangannya terus mengusap kepala bayi mungil tersebut.

"Apa kau ingin dia hidup kembali?" ucap seseorang, Ashleypun mengangkat wajahnya, di depannya berdiri dua orang lelaki, mereka berdua memakai setelah jas serba hitam dengan kerah leher tinggi, satu lelaki bermata keperakkan sangat kontras dengan warna rambutnya yang hitam, dia begitu tampan hanya saja wajahnya dingin, entah kenapa Ashley merasakan aura gelap dari dalam dirinya. Di sebelah laki-laki itu berdiri laki-laki dengan kuncir kuda rambutnya sewarna dengan tanah liat cokelat kemerahan, dia membiarkan rambut depannya berantakan, mereka berdua sangat jangkung.

"Si..siapa kalian, bagaimana kalian bisa masuk?" Tanya Ashley

"Namaku Thanatos, Dewa Kematian."jawabnya datar, singkat, dingin

Ashley membelalakan matanya tak percaya, lalu ia melirik kearah pintu, dia berpikir dua orang ini sinting, bagaimana mungkin dia mengtakan kalau dia mengatakan dengan sangat santai kalau dia adalah sang dewa kematian Yunani, Thanatos, meski Ashley tidak mengetahuinya siapa yangh ada di sebelahnya, Ashley tidak mau menanyakannya, ini sinting.

"Percuma kau berteriak atau berbuat apapun, mereka yang ada diluar tidak akan mendengarmu." Kata lelaki itu

"Thanatos jangan membuang waktu lagi, waktu kita tidak banyak" desah lelaki disebelahnya, dia memegang jam saku ditangannya.

"Tenanglah." Jawabnya dengan suara yang begitu tenang lalu ia mengalihkan pandangannya lagi pada Ashley. "Lalu apa jawabanmu nona?"

"Jangan bercanda! Kau tidak mungkin melakukannya!"

"Apa aku terlihat sedang bercanda nona!" tukas Thanatos, sayap hitam besar mecuat dari balik punggungnya, membuat Ashley tercengang, Lelaki disebelahnya hanya menepuk keningnya.

"Ka..kau.."

"Kau masih tidak percaya? Nona Ashley, aku bisa menghidupkan lagi bayimu, itu hal yang sangat mudah bagiku."

Mengatasi rasa terkejutnya, dengan suara bergetar Ashlay menjawab, "Apa kau bisa melakukannya? Ji..jika kau bi..bisa melakukannya, kumohon biarkanlah dia hidup."

"Aku akan menghidupkannya, tetapi dengan satu syarat." Kata Thanatos

"Jiwaku…"

"Kami tidak membutuhkan jiwamu nona." potong lelaki kuncir kuda.

"Apa maksudmu?" ucap Ashley tidak mengerti "Apa syarat yang kau maksud, kalau kalian tidak menginginkan jiwaku apa yang kalian inginkan dariku!?"

"Bayimu…27 tahun dari sekarang." Jelas Thanatos

"Apa?" ucap Ashley takjub dengan kalimat Thanatos

"Bayimu sudah ditandai, dialah yang terpilih menjadi pengantin sang Dewa Tidur, Hypnos, dia menjalani reinkarnasinya untuk menjadi pengantin yang pantas untuk sang Dewa, menjadi panats untuk memsuki Elysium. Tugasmu hanyalah menjaganya sampai waktunya tiba, jangan melakukan apapun, jangan mencegahnya jika dia ingin kembali kepada takdirnya." Jelas Thanatos dia meraih tangan bayi mungil dalam gendongan Ashley lalu membalik tangannya, Ashley bisa melihat tanda pentagram terukir di lengan banyinya, seperti besi panas yang ditempelkan ke kulit. "Apa kau memahaminya Ashley?"

"Bagaimana jika aku menahannya, saat dia akan kembali pada takdirnya?" tanya Ashley

Thanatos mendekatkan wajahnya, "saat itulah dia mati, Ashley. Bukan hanya sekedar mati, dia akan dihapus dari dunia ini seperti dia tidak pernah ada, bahkan dalam ingatanmu." Rasa sakit menghujam dada Ashley mendengar perkataan Thanatos, sampai-sampai ia meremas pinggir tempat tidunya. Dan mengigit bibirnya. Ashley terdiam, dia berpikir dan menimbang persyaratan Thanatos, dia hanya dizinkan bersamanya selama 27 tahun, setelah itu entah bagaimana caranya Thanatos akan mengambilnya. Dia memejamkan matanya, mungkin ini yang terbaik, meskipun hanya 27 tahun Ashley akan memberikan kehidupan anaknya ini, meskipun Thanatos bilang ini adalah reinkarnasi dari seseorang yang terpilih, bayi ini tetap anaknya, dia merasakannya hidup didalam tubuhnya selam 9 bulan lamanya.

"Baiklah…sampai saatnya tiba aku akan menjaganya." Kata Ashley

Senyuman terukir diwajah Thanatos, dia merentangkan telapak tangannya dari udara kosong muncullah sebuah batu bening berkilauan bening seperti berlian, bersinar dengan spectrum warna, sangat indah.

Lalu Thanatos meletakkan batu itu di atas dada bayi kecil itu, langsung saja batu itu tenggelam ke dalam dadanya. Cahaya putih menyelimuti tubuh bayi itu, perlahan Ashley bisa merasakan kehangatan tubuhnya, tangannya mulai bergerak, Ashley tak mampu menahan rasa harunya, bayinya hidup kembali.

"Kami tinggalkan dia bersama Ashley, kita akan bertemu 27 tahun yang akan datang" Ucap Thanatos, dia membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu.

"Siapa namanya?" Tanya Ashley

Thanatos menghentikan langkahnya, dia memandang Ashley. "Lecca…Redwood" jawabnya

Untuk yang kesekian kalinya Ashley terkejut, dia sangat mengenal nama itu.

"Kau pasti mengetahuinya nama itu bukan Ashley Redwood, dan kurasa suamimu juga mengenalinya."

"Su..suamiku?"

"Tanyakanlah padanya, dia akan menjelaskan semuanya untukmu." Thanatos menyunggingkan bibirnya. Dalam kejapan mata dia menghilang, bersamaan dengan menghilangnya Thanatos, tangisan bayi itu pecah, tangisan bayinya terdengar seperti tangisan kesedihan seorang yang ditinggal orang terkasihnya. Ashley menggoyangkan mencoba menenangkan bayi mungil itu.

Pintu kamar Ashley menjeblak terbuka, ibunya menghambur masuk, wajahnyatak percaya melihat anaknya, dia mendengarnya, mendengar tangisan seorang bayi.

"Ashley…"

"Dia kembali Ma, dia kembali…"

"Anakku…" diapun memeluk Ashley, mereka tenggelam dalam rasa haru.


"Ma…Mama!" Ujar Noah di depan wajah ibunya membuat ibunya terkesiap.

"Mama Ashley apa kau sedang melamun?" tanya Noah lagi.

Ashley tersenyum pada anak laki-lakinya "Maaf, mama hanya ingat sesuatu saja." Ya Ashley baru saja mengingat kejadian 27 tahun yang lalu hari dimana Ethel dilahirkan, semuanya bagai mimpi, dan waktu berjalan sangat cepat, semua sedikit demi sedikit Ashley memahami bagaimana Ethel akan kembali pada takdirnya. Minggu depan adalah ulang tahun Athel yang 27 tahun. Hari perjanjian itu semakin dekat.

" Jadi apa yang akan kita beli untuk adik kecilku, mama?" Tanya Noah, dia memandang tumpukkan scarf dengan penuh minat.

"Kau pilihkan saja untuknya."

"Yah seleraku sangat beda jauh dengan Ethel, Ma, kenapa tidak kau saja yang memilihnya, tahun lalu dia sangat sebal dengan kaus pilihanku, dia bilang gambarnya norak."

"Tapi dia tetap memakainya kan?"

Noah tertawa renyah, lalu seketika senyumnya lenyap, pandangannya beralih ada ibunya.

"Apa dia datang tahun ini? Kurasa hadiah terbesar yang diinginkan Ethel bukanlah dari mama atau dariku. Tapi Ethel ingin dia datang sekali saja pada saat hari istimewanya."

Ashley tersenyum, memandang anak lelakinya.

"Lagian tempat kerjanya tidak akan lari kemana-mana ditinggal beberapa hari saja" gerutu Noah.

"Kau tidak membencinya kan, Noah?"

"Aku membencinya! Tapi kalau dia datang tahun ini demi Ethel aku akan memaafkannya."

"Anak baik" Ashley mengucek-ucek rambut anaknya.

Telepon pintar Ashley berdering, diapun mengangkatnya. Wajahnya berubah sumringah dia terklihat senang sekali.

"Siapa, Ma?"

"Hadiah Ethel sudah sampai rumah" jawab Ashley riang

Noah tersenyum lebar, dia yakin Ethel pasti senang sekali, orang itu sudah datang.

Sesampainya di rumah, Noah langsung menuju kamarnya, meski dia gembira karena Ethel, tetapi dia masih tidak menyukai orang itu, Ayahnya. Ayahnya adalah seorang arkeolog, dia jarang sekali pulang, dia hidup dengan penelitiannya, dia hanya pulang beberapa bulan sekali, bahkan setahun penuh dia tidak pulang, Ethel dan dirinya tumbuh tanpa peran besar dari ayahnya, hanya ibunya dan nenek dan kakeknya yang ada untuk dirinya dan Ethel, waktu Ethel kecil dia selalu menangis karena ayahnya tidak pernah ada di ulang tahunnya, meski demikian Ethel selalu gembira kalau ayah pulang, tapi tidak dengan Noah. Dia membenci ayahnya. Tapi demi ibu dan Ethel dia akan memaafkannya.

Ashley mengetahui perasaan Noah, dia tidak meminta anaknya untuk menemui ayahnya, Ashley yakin dia sudah dewasa dan bisa mengambil sikap untuk hal ini.

Ashleypun berjalan menuju kamarnya, dia membuka pintunya, dan mendapati suaminya di depan cermin tinggi berbalut handuk melilit pinggangnya yang ramping diatas perut six packsnya, tubuh atletisnya tidak berubah sejak pertama kali bertemu, rambut ikal pendeknya basah beberapa menutupi matanya.

Ashleypun tak kuasa menahan pesonanya dia langsung memeluk suaminya dari belakang.

"Ashley…!" kata suaminya dia kaget dengan tindakan impulsif Ashley. Diapun tertawa, dan membalikkan badannya "biar ku lihat wajahmu Ashley" dua tangannya yang besar memegang pipi Ashley, mereka saling pandang dalam diam.

"Aku merindukanmu….Aiolos." Kata Ashley.