Vocaloid (c) Crypton Future Media, Internet, Yamaha, et cetera. No commercial profit taken.
warning cliché, cell phone format. Kesamaan ide harap dimaklumi.
summer shade
by sabun cair
"Tentang Aria."
Akira dan Kaito menoleh.
Itu hari ke-7, bulan Juni. Gumiya sudah dapat ijin pulang. Kendati demikian, riwayat Gumiya yang kaya percobaan bunuh diri membuat dokter memberi ultimatum pada Akira serta Kaito untuk memperhatikannya. "Dia mudah sekali depresi."
Ketika itu, keduanya cuma menganggukkan kepala. Tapi di dalam benak, mereka membuat catatan mental untuk lebih berhati-hati pada Gumiya. Kawan baik mereka itu seperti gelas kaca.
"Ya?" Akira mengangkat alis. Tidak biasanya Gumiya mengawali topik tentang Aria.
"... bagaimana ... bagaimana jika sebenarnya dia bunuh diri?"
Keheningan menjawab. Mungkin mereka bingung ke mana topik ini mengarah, karena itu Gumiya melanjutkan:
"Dulu sekali, saat aku bilang ingin membangun gedung pencakar langit, dia bertanya …."
("... bagaimana rasanya jatuh dari puncak pencakar langit ya, Gumiya-kun?")
"Aku tahu pertanyaan semacam itu tidak bisa jadi bukti. Bisa saja Aria cuma bicara tanpa maksud. Tapi saat itu Aria ..."
(... dia menatap langit dengan pandangan tak terjangkau, nyaris kosong. Seolah sudah kehilangan minat menikmati birunya hamparan semesta.
Seolah semua api di dalam diri telah padam tanpa sisa. Tidak mungkin dikembalikan.
Saat itu, Gumiya melihat dirinya di dalam Aria. Hanya saja dalam versi lebih buruk. Lebih hancur. Lebur tak berbentuk.)
Kaito adalah yang menanggapi pertama kali. Bertanya kenapa Gumiya baru bicara detil sepenting ini sekarang, setelah tiga tahun dari kejadian.
Jawaban yang didapat mengejutkan.
"Aku pernah bilang pada Yuuma."
Pandangan Gumiya jatuh ke lantai ketika menyebut nama Yuuma. Rasa bersalah seketika membebani bahu kanan dan kiri.
"Dia bilang, aku mengarang cerita. Karena itu, kupikir lebih baik jika kusimpan sendiri. Karena tidak akan ada yang percaya."
Kini kepalanya tengadah, menatap Akira yang cuma bungkam.
"Akira, maaf."
Maaf karena tidak mengatakan apa pun.
Seandainya Gumiya bisa lebih peka dan gegas dalam bertindak, mereka mungkin bisa menyelamatkan Aria.
Tapi Gumiya malah diam dan sekarang lihat semua kekacauan yang ia buat!
"Maafkan aku."
Gumiya mundur selangkah. Tangannya berkeringat sementara detakan jantung tak beraturan. Inikah yang namanya disiksa rasa bersalah?
"Maaf—"
"Gumiya."
"Maafmaafmaaf—"
"Gumiya!"
Sebuah tangan hinggap di pundak kanan. Gumiya tersentak. Itu adalah tangan Akira. Lucu, sebab setelah semua yang terjadi, Gumiya mengira akan menerima tinju lagi. Bukan sebuah tangan yang bersedia jadi jangkarnya ketika nyaris goyah.
"Sudah."
Suara Akira bergetar oleh sesak, tapi dia menahan semuanya. Seketika, Gumiya menyadari satu hal: Sesal itu kini bukan cuma milik Gumiya, tapi juga milik Akira dan Kaito. Milik mereka semua.
Pandangan Gumiya mendadak berkaca-kaca.
Akira memeluknya. Kaito juga.
Sudah.
Mereka sudah terlambat tiga tahun untuk menyadari apa yang terjadi pada Aria.
Jadi ketimbang menangis, akan lebih aman untuk saling menjaga.
Sandarkan bahu dan bagi sedikit kekesalan terhadap dunia. Dengan begitu, semua akan baik saja.
