AN/ Thanks to Jovia Slyvestris, aquadewi, Aisyah Firdausi, Jheinechyeon, coco, ZeZorena, mrs. delacour, scorpryena, Staecia, Justmonday00, Riska662, Tsurugi De Lelouch dan guests untuk reviewnya di chapter kemarin!

Yap,, kita menghitung mundur untuk chapter-chapter terakhir...

Aurelian

By: BittyBlueEyes

HARRY POTTER MILIK JK. ROWLING

Chapter 38. All in Delivery

Hermione terbangun di pagi hari senin, canggung di antara dua tubuh hangat. Dia menatap ke langit-langit dan membenarkan posisinya. Dia terlentang dengan dua lengan melengkung sehingga setiap masing-masing tangannya berada di sisi kepalanya. Tubuh Draco meringkuk dengan kepalanya beristirahat di pundak Hermione sementara Aurelian bergelung di sisi lainnya, bagian atas kepalanya mencium bagian ketiaknya. Pengaturan itu membuatnya merasa cukup sesak dan tidak nyaman, tapi dia tidak tega untuk mendorong salah satu dari mereka pergi. Itu luar biasa untuknya, hanya satu bulan sebelumnya, dia tidur sendiri dan hidup dalam gaya hidup yang relatif soliter*, tapi bahkan semua tragedi yang sudah menimpa mereka, Hermione tidak bisa membawa dirinya untuk mengharapkan hal itu dan meneruskan hidupnya yang sebelumnya. Dia mencintai putranya dan dia hanya bisa mengharapkan yang terbaik untuknya mengakhiri perang rahasia yang mereka lawan.

Hilang dalam pikirannya, membuat Hermione menyadari bahwa dia tidak sadar kalau jari-jarinya berlari ke rambut pirang putih Draco. Dengan rasa ingin tau dia menatap Aurelian dan melarikan jari-jarinya ke rambutnya sekali lagi. Dia sekali lagi terkejut dengan perpaduan sempurna antara dia dan Draco. Rambut coklat terang Aurelian agak tipis, dan bergelombang. Pipinya yang merah seperti miliknya, sementara dagunya yang lurus seperti Draco, Aurelian pastinya memiliki mata abu-abu Draco, tapi bagian hidungnya, dibagian ujungnya sedikit melebar yang diturunkan darinya.

Draco bersenandung lembut dan Hermione berbalik menatapnya sekali lagi, menyadari lagi, bahwa dia membelai rambut Draco, dia berhenti tiba-tiba sehingga tidak membangunkannya.

"Mm, jangan berhenti," gumam Draco mengantuk dengan senyum damai di wajahnya. Hermione membalas senyum dan membelai rambut Draco lagi, memutar-mutar di jarinya saat mencapai ujung. Senyum Draco mengembang, dia membaui Hermione dan tangannya meliuk-liuk di bagian tengah Hermione. Dia tersentak, tangannya menarik terkejut ketika dia melakukan kontak dengan orang lain. Draco mengangkat kepalanya dan melihat Aurelian. Dia lupa kalau putra mereka meminta untuk tidur bersama mereka.

"Kau tau," Draco berbisik, menempatkan kepalanya kembali dan tangannya di perut Hermione. "Aku tidak pernah benar-benar baik dalam berbagi."

"Kau tau, untuk beberapa alasan, itu tidak mengejutkanku," Hermione terkekeh pelan. "Tapi, aku takut kau harus belajar melakukannya. Dia putraku."

"Putraku, juga. dan aku tidak masalah berbagi kasih sayang dengannya. Tapi di tempat tidur aku ingin kau untukku sendiri," kata Draco, menempatkan ciuman lebut di lehernya.

"Dan hanya apa yang ingin kau lakukan dengan ku ketika kau memilikiku sendiri di tempat tidur?" Hermione tersenyum nakal.

"Aku tidak bermaksud seperti itu," Draco mengerutkan dahi. Dia tidak suka di salah pahami.

"Aku tau kau tidak.. tapi aku iya," kata Hermione tersenyum puas.

"Kau ingin aku mengatakan padamu apa yang akan aku lakukan denganmu?" Draco menyerigai. Tanganya berpindah dari Perut ke pinggul dan dia membaui hidungnya ke sisi payudara Hermione.

"Mungkin sekarang bukan waktunya," kata Hermione merona. "Aku mendapatkan kesan, bahwa kau tidak lagi menentang untuk.." Hermione menelan ludah. Hanya dengan cara Draco memindahkan tangannya ke pinggul membuat tubuhnya membara.

"Menentang? Merlin, aku tidak pernah menentang," kata Draco keras, hampir lupa berbisik. "Aku hanya tidak ingin terburu-buru."

"Dan sekarang?"

"Dan, sekarang aku pikir adalah waktunya kita menemukan tempat lain untuk Aurelian tidur... dan segera." Draco membungkuk ke depan lagi dan menempatkan ciuman panas di pipinya.

"Aku .. aku pikir lebih baik jika bangun sekarang," kata Hermione sedikit gemetar dari keinginan yang membara. "Aurelian tidur terlambat. Aku tidak ingin dia bangun dulu."

Draco tersenyum di kulitnya, meletakan ciuman di lehernya, dan meluncur mundur dari tempat tidur. Hermione mengikutinya, perlahan dan tidak berisik, sehingga tidak membangunkan si bocah.

"Pagi," Katie menyapa ketika mereka memasuki dapur.

"Pagi," balas Draco. "Lama tak bertemu."

Draco tidak lagi terkejut menemukan orang di dapur tiap pagi ketika dia bangun. Tampaknya tidak lagi menjadi masalah seberapa pagi dia bangun, di sana selalu ada orang. Kebanyakan itu adalah Harry. Draco bertanya-tanya apakah pria itu tidur. Harry ada di sana lagi, tentu, bersandar ke meja saat dia berbicara dengan Katie dan Blaise.

"Nice hair," Blaise menggoda. Draco menyisir rambut pirangnya dengan jarinya. Dia biasanya suka menjaga penampilan segar dan rapi di depan orang lain, tetapi di Grimmauld Place, semua orang masuk ke dapur dengan piyama mereka. Blaise dan Katie pengecualian, karena mereka tidak tinggal di Grimmauld Place. Draco rasa bahwa mereka tiba tidak lebih dari tiga puluh menit. Mereka berdua tampak agak terjaga mengingat matahari baru saja naik.

"Baiklah, ayo kita ulang sekali lagi," kata Harry.

"Potter, kita tau," kata Blaise putus asa. "Di sana tidak ada banyak hal. Kami berangkat. Kami melihat. Kami menunggu. Setiap kali ada seseorang yang menaruh, kami akan mengambilnya dan pergi. Apa kau sering mencoba mempersulit hal-hal seperti ini?"

Harry menghela nafas dan bahunya merosot. Dia tau Blaise benar, tapi dia tidak hanya khawatir untuk keselamatan semua orang. Mereka semua menatapnya dan dia tidak mampu mengabaikannya.

"Jadi," kata Blaise, "Bagaimana si bocah, suka dengan karpetnya?"

"Kau bercanda?" Hermione tersenyum. "Kami kesulitan menariknya pergi. Kami tidak bisa cukup untuk berterima kasih. Dia membutuhkannya.. untuk mengalihkan perhatiannya."

"Apa dia belum menjadi pendukung Magpies?" tanya Blaise.

"Aku tau itu motifmu memberinya tim kedua," kata Draco, mengelengkan kepalanya geli.

"Itu lebih menyenangkan ketika kau bermain dengan dua tim," balas Blaise. "Tapi ya, aku yakin sekali dia melihat dengan baik setiap tim, dia akan melihat siapa tim pemenang sesungguhnya."

"Ya, Tornadoes," Drao menyerigai. "Kau tau dia bilang pada kami bahwa Tornadoes akan memenangkan piala untuk lima tahun ke depan?"

"The butterfly effect, man. Sesuatu sudah berubah. Tidak ada yang tau siapa yang akan menang sekarang," balas bLaise.

"Kau berhayal."

Saat dua pria itu bicara, mereka beringsut menjauh dari yang lain. Mereka sering bertemu setiap hari sejak Hermione, para Malfoy, dan para Weasley pindah ke Grimmauld Place, tapi mereka tidak benar-benar bicara secara prifat dalam beberapa hari.

"Jadi, apa kau siap?" tanya Draco serius, tangannya tersembunyi di kantung celana piyamanya.

"Yeah, kami mendapatkan jubah gaib Potter. Kami merencanakan ini. katie dan aku bersiap," jawab Blaise. "Meskipun masih sulit untuk percaya bahwa aku bagian dari ini, orang-orang Potter melawan pelahap maut."

"Katakan padaku tentang ini," Draco mencibir.

"Kau masih merasa aneh berada di sekitar mereka, kalau begitu?"

"Tidak, tidak terlalu," Draco agak terkejut dengan jawabannya. "Well, tidak semuanya benar, aku rasa. Aku jelas bagian dari grup ini sekarang, tapi mereka.. aku tidak tau. Mereka seperti keluarga, aku rasa, Katie juga."

"Ya, aku tau," balas Blaise. Itu ekspresi muram bahwa dia mengerti apa yang Draco rasakan. "Tapi itu kita, as well."

Draco merasa bersyukur dengan kalimat pendek itu. Selama di sekolah, Draco tidak pernah benar-benar menganggap Blaise sebagai temannya, tapi melihat kembali, dia menyadari bahwa dia tidak benar-benar tau apa itu teman sejati. Draco menyadari bahwa bahkan saat itu, Blaise adalah salah satu sahabat terbaiknya. Setelah perang bahwa dia benar-benar menghargai kehadiran Blaise dan sejak itu, mereka berdua menjadi seperti saudara.

"Pansy, juga," tambah Draco sedih. Pansy juga bagian dari keluarga kecil mereka, seperti saudara perempuan, hanya lebih dekat. "Ini membunuhku, Blaise. Ini seperti mengambil sebagian dariku. Aku melihatnya kemarin. Dia ketakutan dan tidak tau apa-apa dan itu membunuhku."

"Aku tau," balas Blaise, matanya menatap ke lantai. "Percayalah, aku juga."

"Kau iya dan kau tidak, aku tau kau ingin mengikutsertakannya sama seperti aku, tapi dia tidak tau seperti kau tau. Caranya memohon padaku.. urgh.. aku tidak tau jika dia bisa memaafkanku." Draco menggaruk matanya, mencoba menenangkan diri. "Aku senang dia tidak tau kau ambil bagian. Jika kau punya waktu malam ini, kau seharusnya pergi dan melihatnya. Dia benar-benar membutuhkanmu sekarang."

"Ya. Aku pasti akan ke sana," jawab Blaise.

"Aku senang kau di sini, Blaise," kata Draco serius. "Hati-hati untuk hari ini, alright? Aku tidak tau apa yang akan kau lakukan kalau sesuatu terja-"

"Hey, hey," Blaise menginterupsi dengan bermain-main. "Aku tau hati-mu sudah tumbuh lebih besar belakangan ini, tapi jangan menjadi cengeng padaku."

"Oh, diam kau," Draco menggerutu pelan.

"Kau tau, aku hanya bercanda," jawab Blaise dengan senyum miring. "Dan kau tau aku merasa hal yang sama, jadi jaga dirimu, juga."

Draco mengangguk dan keduanya melirik ragu kepada yang lain siapa tau ada yang melihat sebelum mereka dengan canggung berbagi pelukan laki-laki. Mengangguk satu sama lain, mereka bergabung bersama yang lain.

"Kau siap?" tanya Katie.

"Kau yakin, tidak ingin sarapan dulu?" Harry menawarkan.

"Tidak, kita akan baik-baik saja. Disana ada kafe dekat kantor yang buka di pagi hari. Kami akan mampir sebentar untuk mendapatkan sesuatu," kata Katie.

"Kau sudah akan pergi?" tanya Draco.

"Ya. Kami akan pergi ke kantor dulu. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," jawab Blaise.

"Kau tidak bisa menundanya? Bahkan belum ada orang di sana sekarang," Draco berpendapat.

"Ya, tapi masih ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Tidak banyak. Sesuatu yang harus aku serahkan. Akan banyak menarik perhatian kalau aku 'bekerja dari rumah' terlalu banyak, aku baru saja mendapatkan promosi. Itu akan mencurigakan jika aku tidak datang bekerja. Yang paling tidak aku inginkan adalah orang-orang menjadi ribut," Blaise menjelaskan.

"Aku mengerti," kata Harry. "Dan aku pikir itu ide yang bagus, tapi itu akan memakan waktu, aku tidak yakin. Kirimkan aku patronus sebelum kau ke Knockturn Alley, mengerti?"

"Tidak masalah, Harry. Tapi please, jangan terlalu khawatir. Kami akan baik-baik saja," Katie menyakinkan.

"Okay, seperti ke-lima kalinya kau mengatakan tentang Patronus, sebenarnya apa itu?" tanya Blaise, rasa penasaran menguasainya.

"Expecto Patronum!" paduan suara bernyanyi bersama.

"Bloody fuck!" Blaise berseru saat tiga hewan spektral berputar-putar di sekelilingnya dan membatasi sekitar ruangan: rusa jantan, berang-berang dan macan tutul.

"Kosa kata yang manis, Zabini," Harry menyerigai.

"Kau hampir membuatku mendapatkan serangan jantung," Blaise memarahi. "Aku pikir penjelasan lisan sederhana sudah cukup."

"Ya, tapi demonstrasi jauh lebih menyenangkan," kata Draco. Hermione dan Katie menekan bibir mereka rapat-rapat berusaha untuk menahan tawa mereka.

"Loads of fun," kata Blaise masam. Meskipun tidak puas, dia tampak geli pada dirinya sendiri. "Baiklah, ayo berangkat. Kau bisa bermain dengan peliharaanmu nanti. Mudah-mudahan itu bisa menakuti punya Potter, juga."

"Baiklah, kita akan baik-baik saja, Harry, jadi please, jangan khawatir," kata Katie lagi. Dengan lambaian kecil, mereka berdua meninggalkan dapur dan ketiga orang yang tertinggal menunggu tak berdaya lagi.

Menunggu sementara teman-teman yang lain dalam melakukan misi adalah hal yang membuat gugup dan tegang. Perlahan, satu demi satu, yang lain terbangun dan bergabung bersama mereka di dapur. Sarapan selalu agak tenang, seperti kebanyakan jamuan yang mereka lakukan sejak semua ini terjadi. Mereka mencoba membuat percakapan, mendiskusikan pekerjaan para Weasley yang berbeda, tapi percakapan itu tidak pernah lama dan sebelum mereka tau, Ron dan Arthur harus pergi bekerja.

Butuh pengalihan, Hermione kembali ke perpustakaan untuk mempelajari mantra Fidelius. Dia sudah mempelajari itu bersama Fred dan George beberapa jam pada sabtu kemarin dan mereka cukup senang dengan kemajuan yang mereka peroleh. Senin malam saat mereka datang dan beberapa jam mempelajari, mereka percaya mereka sebenarnya sudah menyelesaikannya. Agak terlambat ketika mereka menyelesaikannya, jadi mereka setuju untuk mencobanya di senin malam. Hermione tidak akan mencapai itu tanpa bantuan mereka, tapi dia merasa terdorong untuk memeriksa kembali. Sejauh ini, salah satu mantra yang paling sulit sudah mereka pecahkan. Hal itu dipisahkan menjadi empat bagian panjang latin dan gerakan tongkat rumit dan cepat. Hermione bermaksud untuk melakukan persiapan.

Setelah makan siang, Draco dan Aurelian mampu menyakinkannya untuk menjauh dari perpustakaan dan bergabung bersama mereka bermain dengan mainan Quidditch Aurelian. Meskipun Quidditch dan bermain dengan figur-figur itu bukanlah hal yang menarik baginya, tapi itu hal yang menyenangkan. Ketika mereka bosan dengan mainan, Hermione mencoba lagi untuk kembali memperlajari mantra Fidelius, tapi Draco menganggunya, belum lagi, dengan memintanya untuk mengajarinya bagaimana melakukan mantra Patronus. Hermione agak bangga ketika Draco bisa dengan cepat menguasainya.

"Sweet Salazar, terima kasih," kata Draco dengan lega melihat elang spectral mengelilingi ruangan. Dia terkesan dengan kesuksesannya, tapi lebih senang dengan bentuk mantra yang dihasilkannya. "Aku takut itu sesuatu yang bodoh seperti angsa atau kura-kura."

"Aku mau bebek," kata Aurelian dari tempatnya di atas meja perpustakaan. Dia agak kecewa, tapi tersenyum ketika si elang terbang ke kepalanya.

"Aku pikir musang akan lebih lucu," Hermione menyerigai.

Draco menatapnya heran, mengangga tak percaya. Alisnya berkerut dan dia tampak geli dan terhina. "Wow, Granger," Draco menyerigai. "Kau tau caranya memilih kata perang, ya kan?"

"Kata perang?" Hermione tersenyum, "Aku hanya ingat betapa menggemaskannya binatang pengerat, kau." Hermione menyeret jarinya ke bawah rahang Draco dan menempatkan ciuman, tapi Draco menarik ke belakang sedikit.

"Kau menghinaku dan kau pikir kau bisa mencapatkan ciuman?" tanya Draco menggoda.

"Baiklah, jika kau tidak mau, aku akan memberikannya untuk Aurelian," Hermione mendengus angkuh menahan tawa.

"Okay," kata Aurelian, berdiri di atas meja.

"Nuh-uh, aku pertama," kata Draco, menarik Hermione kembali saat dia mulai berjalan pergi. Bibirnya menekan lembut bibir Hermione dan mereka melepas senyum yang tersembunyi. Hermione baru bersandar ketika dia mendengar teriakan dari bawah.

"HARRY!"

Mata Hermione dan Draco tersentak ke pintu perpustakaan dan nafas Hermione menjadi pendek. Dia bergegas menyebrangi ruangan, meraup Aurelian, dan berlari ke bawah menuruni tangga. Teriakkan itu sepertinya tidak baik, tapi juga terlalu pagi untuk Ron kembali dari kantor. Sesuatu yang serius terjadi.

"Ron, apa yang salah? Ada apa?" tanya Hermione segera saat dia mendapati anak tangga terakhir dan bertemu dengan Ron di dekat pintu depan. Harry hanya dua langkah di belakangnya, datang dari dapur.

"Mereka mendobrak masuk," Ron menghela nafas, tampak sangat terburu-buru dan tertekan. "Itu rumah Andromeda."

Harrry langsung menerjang ke arah pintu depan, tongkatnya siap, tapi Ron menghentikannya, "Mereka okay, Harry. Andromeda membawa Teddy ke taman. Mereka di sana saat itu terjadi. Segera setelah dia melihat pintu, dia pergi ke kementrian."

Harry menutup wajahnya dengan tangan dan mengambil nafas pelan. Dia tampak lebih tua. "Dimana mereka sekarang?"

"Mereka sedang minum teh dengan Fleur di Shell Cottage. Aku pikir mereka aman di sana," jawab Ron.

"Rumahnya?" tanya Harry berat.

"Semuanya terbalik," kata Ron. "Tapi utuh. Sepertinya mereka tidak benar-benar mencari sesuatu. Waktu kami yakin sudah aman, kami membawa Andromeda kembali untuk melihat. Sepertinya tidak ada satupun yang hilang. Kami mengembalikan semuannya dan dia berkemas untuknya dan Teddy. Fleur mengundang mereka untuk tinggal. Aku tidak tau kau, tapi aku pikir mungkin itu tempat yang bagus untuk mereka sekarang."

"Ya," kata Harry muram setuju.

"Kami belum tau siapa itu dan tidak juga Andromeda. Tapi aku tau itu mereka. Aku menemukan ini ditempel di dinding. " Ron mengulurkan sepotong perkamen yang dilipat. Ketika mereka melihat nama 'Ron Weasley' tertulis dalam huruf besar di bagian depan, Harry dan Hermione bertukar pandang cepat membuka kertas dan membaca. "Katakan pada Granger, kami mengingin anak itu."

Keheningan yang mencekam melingkupi ruangan, tidak ada yang tau bagaimana merespon.

"Ada apa, Mummy?" tanya Aurelian.

Hermione menurunkan dan memegang tangan si bocah. "Tidak ada, love. Ron hanya kembali lebih cepat dari kantor."

"Paman Won bermain gobstones denganku?" tanya Aurelian berharap.

"Maaf, little guy, tapi aku masih perlu bicara dengan paman Harry," kata Ron muram.

"Aku pikir ini waktunya kau untuk tidur siang," kata Hermione.

"Tidak, tidak tidur siang," Aurelian merengek.

"Ya, tidur siang, kau anak yang sedang tumbuh dan perlu istirahat," kata Hermione mengangkatnya dalam pelukan dan dengan lembut membelai rambutnya.

"But my don't want to," Aurelian cemberut.

"Aku tau, tapi kau harus," jawab Hermione, menelusuri jarinya ke dagu. Hermione menatap mata Aurelian dan merasa sakit. Apa yang diinginkan Bellatrix dengan anak kecil tak bersalah? Hermione bertanya pada dirinya sendiri. Ide bahwa Bellatrix berada di dunia yang sama dengan Aurelian membuatnya sakit.

"Aku akan membawanya ke atas," Molly menawarkan. Hermione berbalik kaget. Dia tidak melihat Molly. Dia melihat lebih jauh dan melihat Narcissa juga ada disana, melihat dan mendengar dalam diam dari bawah tangga. Molly melanjutkan, "Kau tau dimana terakhir kali kau taruh buku Sleepy Monkeys? Aku bisa membacanya sebelum tidur siang."

"No mongkey. Sneezy dragon book? Pwease?" tanya Aurelian.

"Baiklah. Dimana yang itu?"

"Kami meninggalkannya di kamarnya dan Ron," jawab Narcissa. "Kami menaruhnya di rak kecil di dekat pintu. Kau bisa menemukannya"

"My sleep in Mummy's bed," kata Aurelian.

"Oh, kau terlalu besar untuk tidur di kasur ibumu, terus. aku pikir bagus untukmu untuk tidur siang di kasurmu sendiri. Paman Ron kesepian tidur di kamar sendirian, kau tau?"

Molly mengambil Aurelian dari tangan Hermione dan mulai menaiki tangga.

Helaan nafas Harry terdengar seperti geraman dan tangannya di dahinya lagi, mencoba menggaruk menghilangkan sakit kepalanya. "Aku tidak tau apa yang akan aku katakan padanya.. andromeda. Itu pertanyaan yang sama yang terus ada di kepalaku sejak semua ini di mulai. Siapa yang akan kita beritahu? Apa yang kita harus katakan? Dilain pihak, Andromeda ada di daftar target, tapi.. urg.. aku tidak tau."

"Aku tau, Harry," kata Ron simpati. "Aku juga berpikir begitu. Sejujurnya, aku pikir lebih baik jika kita mengatakan pada-"

Handel pintu depan bergerak dan pintu yang berat terbuka. Langsung saja Harry menarik tongkat sihirnya dan menunjuk ke beranda kosong.

"Mau lihat kemana kau kau mengarahkan tongkatmu, Potter?" tanya Blaise menarik jubah gaib menampakkan Katie dan dirinya.

"Oh, terima kasih Godric, kau kembali." Harry menurunkan tongkat sihirnya dan mengambil jubah yang disodorkan padanya. "Bagaimana?"

"Seperti yang direncanakan," balas Blaise, menyapu keringat di alisnya. Mereka berdua terengah-engah kepanasan. "Dia menaruhnya, Greengrass sendiri."

"Dia tidak ingin ambil bagian dari ini. Dia tampak ketakutan, Harry," Katie melaporkan.

"Bagus, itu bagus," balas Harry, pikirannya mulai merencanakan langkah berikutnya.

"Apa sekarang?" tanya Blaise.

"Kita menemuinya," kata Ron. "Tanpa pemberitahuan kali ini. kita langsung saja."

"Kau harus hati-hati kali ini. kita tidak mengenal Greengrass seperti kita mengenal Mr Parkinson," Draco memperingatkan. Blaise mengangguk setuju.

"Kita akan," kata Harry. "Seperti kata Ron, tanpa peringatan. Kita akan muncul tanpa pemberitahuan dan dengan orang yang lebih banyak. Kita akan mengintimidasinya kali ini. kita tau banyak apa yang terjadi dan kita tidak ingin bermain-main."

"Apa kau mendapatkan uangnya?" tanya Ron.

"Ya," jawab Katie, menarik kantong besar, berat berisi koin.

"Berapa banyak disana?" tanya Draco.

"Kami tidak tau. Kami hanya mengambilnya segera setelah dia meninggalkannya dan datang ke sini." Kata Katie.

"Ini," Blaise mengulurkan. Dia membuka kantung itu di atas tangan Katie dan memutar-mutar tongkatnya. "Dua ratus galeons."

"Dua ratus?" tanya Hermione, terdengar terkejut dan kaget. "Itu lima puluh galeon lebih banyak dari Parkinson. Itu hampir £ 1.000 mata uang muggle dan mereka memintanya setiap tiga atau empat minggu sekali? Apa yang mereka lakukan dengan semua uang itu?"

"Membentuk pasukan."

"Jadi, kapan kita akan menemuinya?" tanya Blaise.

"Hari ini, aku harap. Malam ini. kita punya masalah sekarang dan aku perlu ke Shell Cottage segera," balas Harry, menutup matanya saat bicara. Kepalanya berdenyut-denyut parah membuat matanya sakit. Mungkin itu juga karena kurang tidur. Dia mengingatkan dirinya sendiri untuk menanyakan pada Molly jika dia punya sesuatu untuk menyembuhkan sakit kepala dan Ginny jika dia punya ramuan penyegar badan. Dia tidak bisa memita keduanya sekaligus atau mereka akan memberinya ramuan tidur.

"Beritahu aku waktunya. Aku akan ikut pesta intimidasimu," Katie mengajukan diri.

"Aku menghargainya, Katie, lebih dari yang kau tau, tapi aku pikir lebih baik kau tidak ikut. Kau juga Blaise," kata Harry serius. "Ini belum diketahui publik bahwa kalian anggota Order Phoenix sekarang, kecuali untuk persahabatan Blaise dan Malfoy. Lebih aman untuk kalian berdua dan keuntungan untuk menjaga rahasia keikutsertan kalian."

"Siapa lagi yang kau pikirkan, kalau begitu?" tanya Ron. "Kau tau semua keluargaku ikut. Tidak pernah menjadi rahasia bahwa kami berdiri bersamamu."

"Aku tau," kata Harry dengan senyum tulus "Aku berpikir Bill dan Charlie. Fred dan George akan bagus juga jika mereka bisa-"

"HARRY!" suara laki-laki dari dapur.

"Bloody hell," suara Ron bergetar. "Tidak bisakah kita semenit saja bernafas?"

Harry sudah menuruni tangga sebelum Ron menyelesaikan kalimatnya. Hermione mendesak Ron maju dengan tepukan di bahu. Ketika mereka mencapai dapur hanya kemudian, Bill dan Harry sedang bicara.

"Aku di stadion, aku tidak tau kapan atau bagaimana mereka melakukannya," kata Bill, lubang hidungnya melebar marah dan frustasi.

"Tapi, jika kau tidak melihat mereka, lalu apa yang terjadi?" tanya Harry, wajahnya sekali lagi keras seperti batu.

"Ketika selesai latihan, aku pergi ke ruang ganti untuk mandi," Ginny menjelaskan. Hermione melangkah lebih memasuki ruangan dan akhirnya bisa melihat Ginny. Dia tampak pucat dan kotor dalam seragam Harpies, tapi juga membara. Harry beringsut setengah langkah dan Ginny tidak mengenai pandangan Hermione lagi karena Harry berdiri protektif menutup si mugil redhead. "Waktu aku masuk ke dalam aku menemukan ini." Ginny memberikan selembar perkamen pada Harry dan Hermione melangkah ke belakang, merasa mual di perutnya.

"Itu tidak ada di sana sebelum latihan dimulai," kata Bill. "Aku tidak melihat ke arah pintu, tapi aku tidak tau bagaimana mereka bisa masuk tanpa menarik perhatian."

"Apa yang tertulis?" tanya Katie gelisah.

"Katakan pada Granger, kami menginginkan anak itu?" kata Ron jelas, gema Hermione dari kalimat yang sama dalam bisikan.

"Bagaimana kau tau?" tanya Ginny curiga, menatap Ron dan menyandar Harry sehingga bisa melihat Hermione.

"Aku dapat satu, juga," kata Ron muram.

"Lagi dan lagi, Aurelian," kata Harry muram saat dia membaca perkamen itu. "Kenapa? Apa yang dia inginkan dari Aurelian?"

Keheningan menyelimuti ruangan membayangkan bocah laki-laki yang manis yang berada di ruangan atas.

"Itu karena notepad. Pasti," kata Draco. "Aku pikir pertamanya, dia hanya menginginkan Aurelian untuk membuat marah Hermione dan aku. Tapi sekarang,... terlalu banyak usaha hanya untuk itu. Aku pikir dia benar-benar menginginkan Aurelian... dan sangat. Dia tau kami memiliki cincin dan dia tidak mengatakan apapun tentang itu. Pasti karena kertas yang dia temukan. Disana ada tanggal untuk peristiwa di masa depan. Dia pasti tau Aurelian berasal dari masa depan. Itu satu-satunya yang masuk akal."

"Benar, tapi juga tidak," balas Ginny. "Bahkan jika dia tau Aurelian berasal dari masa depan, apa yang akan membantunya kalau memiliki Aurelian?"

"Dia tidak tau tentang memori," Ron mengingatkan. "Dia mungkin berpikir seperti bahwa semua informasi yang kita dapatkan datang langsung dari Aurey."

"Meskipun begitu, itu tetap konyol," Ginny beragumen. "Dia belum bisa bicara dengan jelas dan Bellatrix berpikir Aurelian memberikan tanggal yang spesifik? Dan bahkan itu cukup bodoh kalau dia mempercayainya, bagaimana mungkin ini membantunya? Hal-hal ini sudah berubah. Ini tidak seperti yang di jalani Aurelian akan membantu mereka mempredeksi apapun."

"Dan dia tau, kita tidak akan ada yang menyerahkan Aurelian," kata Blaise. "Jadi, kenapa dia menghabiskan waktunya?"

"Tepat!" Ginny setuju, menunjukkan apresiasi pada Blaise.

"Aku tidak bilang dia berpikir logis," kata Draco bertahan. "Aku hanya-"

"Kau benar," kata Hermione pelan, matanya menatap jauh. Tanpa melihat dia menarik kursi dari meja dan duduk. "Dia tidak mengharapkan kita hanya menyerahkannya saja. Pesan itu bukan surat, bukan artinya, itu pengiriman. Mereka mengancam."

Hermione menatap ke atas dan matanya menatap setiap wajah. Setiap dari mereka menelitinya dengan serius, memperhatikan dengan hormat yang membuatnya semakin menyusut turun. Harry mendapatkan tempat sebagai pemimpin dan tidak ada orang yang mempertanyakan ketika dia memberi perintah, tapi Hermione, suaranya adalah logika dan alasan, orang yang bahkan si pemimpin mempertimbangkannya. Semua orang diruangan bisa saja berpendapat satu sama lain untuk di dengar, tapi ketika Hermione mengatakan sesuatu, semua berhenti untuk mendengar. Itu sesuatu yang biasanya yang dia ingin abaikan dan hentikan, dan mungkin untuk diberikan, tapi untuk sesaat, dia berharap dia tidak bicara sama sekali.

"Dia mencoba menunjukan betapa rapuhnya kita; betapa cepatnya dia merusak mantra perlindungan di rumah orang tuaku, dan menerobos rumah Andromeda," suara Hermione bergetar saat berbicara. Banyak yang terkesima dengan berita itu. "Jika dia ingin mencelakai Andromeda atau Teddy, dia bisa saja melakukannya. Aku yakin bahwa dia menunggu mereka pergi. Surat untuk Ron membuktikan dia bisa menariknya kemanapun dia inginkan. Surat untuk Ginny sama saja. Dia tau dimana Ginny dan menerobos di bawah pengawasan kita. Apapun alasannya, dia menginginkan Aurelian dan mengirim pesan pada kita bahwa jika kita mencoba mencegahnya, dia akan menyakiti kita sekeras yang dia bisa sampai kita menyerah."

Dua teriakan yang hampir mirip untuk Harry berdering di dalam rumah siang itu, keduanya bersamaan dengan surat yang hampir sama. Surat dari Charlie ditinggalkan di meja kerjanya di Reservasi Naga Hijau Weles hanya lima menit dia keluar dari ruangannya. Yang lebih menganggu dari semua itu adalah surat untuk Arthur, dimana yang dikirimkan ke tangan sekertaris di lantai dua, markas Departemen Penegak Hukum Sihir. Apa yang lebih baik untuk menunjukan keberanian para pelahap maut untuk langsung memberikannya ke mentri sihir, di lantai yang dipenuhi dengan auror dan Regu Penegak Hukum Sihir? Setidaknya itu mengerikan.

Diskusi mengikuti kedatangan Bill dan Ginny menjadi percuma, tidak lebih dari penjelasan singkat pada setiap kedatangan berikutnya. Ketegangan hampir nyata mengantung di udara, menciptakan suasana keresahan. Tampaknya kesepakatan tak tertulis untuk menjaga pikiran yang satu ke satunya yang lain. Suspensi menantang mereka untuk bicara diatas bisikan, tapi tidak ada yang perlu dibicarakan, untuk semuanya mereka merasa dan melihat bahwa mereka berbagi pikiran yang hampir sama, bahkan Aurelian merasakan keresahan dan menatap setiap orang dengan ketidak pastian.

Saat mendekati makan malam, mereka menarik diri ke ruang duduk. Satu demi satu, Fred, George dan Percy diantara mereka. Lebih banyak kursi di sihir sebagaimana dibutuhkan, tapi disana masih banyak yang merasa lebih baik berdiri. Keheningan itu sangat pekat mereka menunggu Harry kembali.

Setelah kedatangan Arthur, Harry meninggalkan mereka untuk mengunjungi Andromeda di Shell Cottage dan membawa Narcissa bersamanya. Mereka setuju kalau Andromeda perlu diberi tau untuk waspada terhadap kegiatan pelahap maut, tapi memutuskan lebih baik menyembunyikan kembalinya Bellatrix. Ketika akhirnya Harry kembali ke Grimmauld Place, posisinya digantikan Fleur. Meskipun ketegangan menyelimut, sesuatu menghangatkan bahwa Narcissa memutuskan untuk menemani saudaranya sementara waktu.

Harry memasuki ruang duduk dengan punggung ke belakang dan menahan kepalanya tinggi. Tidak mengherankan kalau Patronusnya adalah rusa jantan, untuk sesaat dia menahan dirinya sebagai seseorang yang solid dan kuat dalam cara yang tenang. Rantai pada setiap lidah telah dibuka, tapi keheningan masih, tidak ada orang yang tau dimana harus memulai.

"Aku tidak melihat yang lain selain ini," kata Molly akhirnya. "Kita semua tinggal disini, tidak usah bekerja, sampai ini semua... selesai," katanya dengan otoritas keibuan, tapi tidak ada pertanyaan yang mengharapkan oposisi dan siap melawannya.

"Kau tau itu tidak bisa s-"

"Tentu itu bisa," bentak Molly, memotong kata-kata Ron. "Kita berhasil mengaturnya waktu perang terakhir. Kita bisa melakukannya lagi."

"Aku harus pergi bekerja, Mum," Ron beragumen pelan. "Sekarang lebih dari sebelumnya. Itu pekerjaanku untuk menjaga-"

"Kau harus menjaga dirimu sendiri dulu!" kata Molly panas.

"Itu yang aku coba lakukan, apa yang kita semua coba lakukan- menjaga diri kami sendiri, keluarga kami, dan semua orang di luar sana," kata Ron dengan kesabaran. Dia tau betapa menyedihkan itu untuk ibunya dan itu bukan niatnya untuk membuatnya lebih sedih.

"Kau tau ini tidak semudah kita hanya bersembunyi, mum," Charlie setuju, meminjam pendekatan Ron yang halus. "Jika mereka tidak mendapatkan kita di sini, dia akan menemukan cara lain untuk menyakiti kita. Aku pikir kita semua hanya harus mencoba melanjutkan seperti biasa. Kita kembali bekerja, tapi kita mengelilingi diri kita dari orang lain setiap saat."

"Aku setuju," kata Percy, "Dengan pengecualian. Ginny, kau-"

"Aku tau itu!" kata Ginny, langsung berdiri dengan tangannya mengepal. "Selalu aku. Ak-"

"Dia benar, Ginny dan kau tau itu bukan karena kau saudara kami yang paling kecil. Kami sedang tidak bermain-main," kata Bill serius. Ginny melihat ketulusan di mata Bill dan memalingkan muka, melipat lengannya di dada. Untuk sebuah alasan, dia cenderung untuk menghormati Bill dari pada semua keluarganya dimana itu membuat lebih sulit untuk beragumen dengannya. Sementara dia mengambil tempat sebagai si bungsu dalam keluaga, bayi perempuan yang dijaga, Bill berdiri kuat dan kebanggaan di atas yang lain. Dia selalu mengemukakan alasan, pembawa kedamaian, dan stabil, kehadirannya mendukung dan Ginny tau bahwa dia adalah kesayangan Bill. Ginny berpaling padanya hampir seperti sosok orang tua, cara Ginny melihatnya, tapi mereka masih saudara dan membahas hal satu sama lain yang mereka akan bagi tidak dengan yang lain.

"Aku tau kau sudah bekerja keras untuk pertandingan hari kamis. Aku tau seberapa besar arti ini untukmu dan timmu, tapi kami tidak bisa membiarkan kau pergi. Pekerjaanmu tidak seperti kami. Kau harus terbang sendiri di tempat terbuka, dengan ratusan orang menonton. Tidak ada cara untuk bisa mengawasi banyak orang," Bill menjelaskan.

Ginny sudah menyadari dan menerima fakta ini sebelumnya, tapi itu tidak menjaganya dari merasa kesal. Bibirnya cemberut dan matanya masih menghindar, dia tersinggung menjatuhkan dirinya langsung ke kursinya. Dia sudah bermain untuk Harpies sepanjang tahun. Dia dan rekan-rekannya sudah mendorong diri mereka dari batas usaha mereka untuk memenangkan piala dan mereka sudah sangat dekat. Pertandingan itu sangat penting baginya. Dia tau perang rahasia ini lebih penting, tapi dia tidak bisa menahan rasa sakit di dalam hatinya.

Harry meneliti semua orang dan bertemu dengan mata Molly memohon. Dia tau mereka semua menunggu pendapatnya dalam masalah ini. "Aku pikir diskusi ini seharusnya tergantung dengan peribadi masing-masing. Kalian semua tau posisi kalian lebih baik dari pada aku dan kalian memiliki cukup tanggung jawab untuk diri kalian masing-masing. Seperti yang dikatakan Charlie, aku pikir bahwa jika kalian kembali bekerja, kalian harus berhati-hati dan dikelilingi oleh orang lain. Juga, aku tau ini masih musim panas, tapi aku sarankan untuk semua orang menggunakan jubah pelindung kemanapun kalian tidak di Grimmauld Place. Jubah itu ringan dan cukup modis dan mereka seharusnya tdak menarik perhatian."

"Terima kasih," kata George dan Fred bersama. Harry membalas menyerigai, hanya kemudian mengakui pujian yang tidak sengaja diberikan.

"Bagaiama pertemuanmu dengan Mr Greengrass, Harry?" tanya Hermione.

"Aku lebih senang kalau bisa melakukannya malam ini, mungkin setelah makan malam, tapi aku membutuhkan sukarelawan. Kita ingin untu-"

"Kau bisa mengandalkan kami," kata George, menunjuk dirinya dan Fred.

"Aku juga," kata Percy.

"Kita semua, Harry," kata Bill. "Kau tau kau bisa mengandalkan kami. Semakin banyak semakin bagus."

Ginny, Draco, Fleur, Arthur dan Charlie mengangguk setuju.

"Aku tidak kali ini," kata Hermione pelan, memeluk putranya di pangkuannya. "Aku tinggal bersama Aurelian dan Molly kali ini," Harry mengangguk padanya, senang karena Hermione kali ini mudah mengalah.

"Kami, juga. kami akan menunggu disini," kata Katie bicara untuknya dan Blaise.

"We pwas toys?" tanya Aurelian. Setiap mata menatap bocah itu simpati.

"Tentu, buddy," kata Blaise tersenyum. Pesonanya yang sempurna memutus suasana muram dan membujuk senyum tulus dari si bocah. "Apapun yang kau suka."

Dengan perasaan sedikit lebih ringan, Harry melanjutkan, "Katie, aku perlu mengambil uang yang ada padamu. Kami mungkin perlu menunjukkan bukti, bukan berarti kita berniat menyimpannya.. sekarang, Ron lebih mengenal daerah ini dari pada aku jadi-"

"Hermione?" tanya Draco perhatian. Ekspresi khawatir Hermione membuat perhatian seluruh orang dalam ruangan sekali lagi. Dia cepat-cepat menyerahkan Aurelian ke pangkuan Draco dan tangannya masuk ke kantung jubahnya, mengambil keluar kertas yang memanas melawan kakinya. Ketika jari-jarinya mendapatkan kontak dengan kertas yang memanas dia menariknya keluar dan langsung mencari.

"Dimana kali ini?" tanya Harry, duduk di ujung kursinya.

Hermione berhenti pada kertas perkamen ketiga dan jawaban terjawab datar dari bibirnya saat dia menatap apa yang tertulis. "Malfoy Manor."

"Berapa banyak?" tanya Charlie, memanggil jubah pelindung bersamaan.

"Tidak," kata Hermione dengan menggelengkan kepala ekspresi bingung. "Ini Pansy."

Dalam waktu singkat dia bicara dua kata, Hermione sudah setengah jalan menyebrangi ruangan.

"Pansy?" tanya Blaise dan Draco. Draco dengan cepat memberikan Aurelian ke pangkuan Ginny dan mengikuti Hermione. "Dia di Manor?"

"Tidak, Blaise," Harry memerintah, menempatkan tangan menakutkan di dada Blaise. "Dia tidak tau kau bersama kami." Harry melihat ketidak yakinan pada setiap wajah yang lain, setiap orang disana menunggu arahan. Tanpa memberi jawaban, Harry berbalik dan berlari mengikuti Hermione dan Draco. Ketika dia masuk dapur matanya jatuh pada Hermione. Hermione berdiri di dekat api dengan sejumput bubuk floo di tangannya, jubah pelindungnya sudah ada di tempat, dan menatapnya menantang. Hermione menunggunya sebelum menggunakan floo. Hermione sudah berjanji tidak akan pergi tanpa permisi, tapi dia menantang Harry untuk protes. Ketika Harry tidak protes, dia melempar bubuk floo ke dalam lidah api dan menghilang.

"Pansy?" teriak Draco saat dia melangkah ke dalam kegelapan di lorong masuk Malfoy Manor. Dia melesat cepat melewati ruangan, melirik setiap pintu yang dia lalui dan segera berjalan ke tangga, "Pansy?"

"Draco?" teriak Pansy membalas. Dia berhenti di tengah koridor, hanya beberapa kaki dari pintu masuk kamar Draco. Draco bertemu dengannya disana dan menarik bahunya. Mata abu-abunya intens dengan ketakutan dan kelegaan.

"Apa yang kau lakukan di sini? Apa yag terjadi? Apa keluargamu baik?" tanya Draco mengoceh cepat.

"Aku datang mencarimu," jawab Pansy lemah. "Kau tidak datang lagi kemarin. Aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku ke sini dan di sini gelap dan aku tidak bisa menemukan ibumu, Pernie atau.. aku takut aku menemukanmu.. aku takut kau mungkin.." kata Pansy tersedak, terisak dan Draco menarik Pansy ke dadanya dan Pansy langsung menangis.

"Pansy kau tidak seharusnya meninggalkan rumah," Draco menegur lembut.

"Aku tau, tapi kau tidak bisa hanya-"

"Ini bukan tempat yang tepat untuk bicara," Harry menginterupsi. Pansy mendongak dari dada Draco dan akhirnya memberikan perhatian kepada dua yang lain yang diam berdiri di ujung koridor. Draco mengangguk, menempatkan tangan ke punggung Pansy dan membimbingnya kembali ke lorong masuk.

"Please," Pansy meminta saat mereka mendekati perapian. "Kau tidak bisa-"

"Potter, kenapa tidak, aku-?"

"Grimmauld Place," kata Harry datar, matanya menatap Pansy.

"Apa?" tanya pansy gugup.

"Nomer dua belas Grimmauld Place. Katakan itu," perintah Harry.

"N-Nomer dua belas Grimmauld Place," kata Pansy.

"Lagi," Harry memerintah, melemparkan segegam penuh bubuk ke dalam perapian. Sekilas memperhatikan Pansy, Draco mengangguk semangat dan mendorongnya ke depan. Pansy menelan ludah, melangkah ke dalam api, dan dengan ragu mengulang, "Nomer dua belas Grimmauld Place."

"Sekarang kau, Hermione," kata Harry, dia menawarkan vas berisi bubuk hijau. "Draco setelahmu, sebentar"

"Draco? Tapi ke-?"

"Sekarang, Hermione," kata Harry tegas.

Hermione tampak marah dengan cara Harry memerintahnya, tapi dia tidak protes. Dia menatap Draco dan dalam diam memohon padanya untuk bersikap pengertian pada sahabatnya yang keras kepala. Hermione tidak tau apa yang Harry pikirkan, tapi dia tau lebih baik daripada menanyakan padanya. Harry membiarkannya pergi ke Manor melawan penilainya dan dia tidak akan membiarkan keberatan apapun yang Hermione harapkan untuk melawan penilainya kemudian.

Hermione dalam diam mengambil sejumput diantara ibu jari dan jari telunjuknya dan melemparkannya ke dalam lidah api. Dengan lirikan terakhir pada Harry, dia melangkah memasuki lidah api mengikuti Pansy.

"Kemana kau akan pergi, Potter?" tanya Draco atas nama Hermione.

"The Parkinson Estate," jawab Harry. "Aku harus memberitahu Mr Parkinson bahwa Pansy aman. Aku juga harus mengulang mantra perlindungan. mantra itu hanya bekerja jika semua anggota keluarga tinggal di sana."

"Lalu, Pansy.."

"Dia ada di Grimmauld Place sekarang. Kita akan mencari tau nanti," jawab Harry.

"Apa yang akan kau katakan padanya?" pinta Draco menantang.

"Jangan menungguku. Akan lebih baik kalau kau yang menjelaskan. Katakan semuanya," kata Harry berat. "Juga dengan harapan ayahnya. Dia bukan anak-anak dan meninggalkannya tanpa tau apa-apa bukanlah hal yang melindunginya. Dia tidak bodoh; dia khawatir. Katakan padanya apapun yang dia ingin tau."

Draco tidak pernah sekalipun membayangkan dia kan mersa sangat senang pada Harry. Hal ini menghancurkannya dan Blaise untuk merahasiakan semuanya dari Pansy. Pansy berada dalam kecemasan dan kesedihan, meskipun bertentangan dengan keinginan ayahnya dan situasi yang harus di rahasiakan, Draco merasa benar jika Pansy mengetahui apa yang sedang terjadi dan bagaimana hal ini mempengaruhinya.

"Terima kasih, Potter," Kata Draco sungguh-sungguh.

Harry berhenti dengan sejumput bubuk floo di tangannya dan menatap ke dalam api. Draco menatapnya tertarik, bertanya-tanya apa yang dipikirkan pria dengan rambut berantakan itu.

"Kita bukan lagi musuh. Kita aliansi," kata Harry.

"Baru paham?" tanya Draco, lebih penasaran dari pada sarkatis.

"Tidak," jawab Harry sedih. "Tapi, kita masih menjaga jarak."

Harry berbalik dan untuk pertama kalinya dalam memori Draco, dia menatap langsung pada mata itu, mata hijau Harry yang tajam di bawah kacamatanya, tapi masih menyimpan ketulusan.

"My name is Harry," kata Harry. "Kita melihat memori dimana kita menjadi aliansi selama bertahun-tahun, tapi aku hanya menyebut namamu sekali sebelum aku mati. Jadi sejauh yang aku tau, kau tidak pernah menyebut namaku di depan muka ku."

Draco mempertimbangkan pria di depannya; rival masa kecilnya; anak laki-laki yang menganggapnya hina lebih dari siapapun. Dalam satu titik dalam hidupnya, dia mempertimbangkan untuk mengutuk keberadaan Potter. Mereka bukanlah teman, tidak lagi, tapi mereka jauh dari musuh. Mereka seperti yang dia bilang adalah aliansi, sekutu. Dia mempercayai Potter dengan hidupnya dan sebagai imbalan, Potter mempercayainya tidak hanya dengan hidupnya sendiri tapi juga sahabatnya. Dan lagi, tidak peduli permusuhan mereka sudah lama hilang, mereka masih menjaga jarak satu sama lain. Potter benar. Dengan menolak memanggil satu sama lain dengan intim dan informal dari nama depan mereka, mereka menjaga jarak diantara mereka. Itu adalah kesepakatan tidak tertulis diantara mereka karena keduanya merasa takut dan rentan dengan apa yang akan terjadi jika mereka mempercayai satu sama lain yang dulunya adalah musuh. Namun, Draco mengakui bahwa dia sudah mempercayai pria ini.

"My name is Draco," balas Draco.

"Bagus." Harry mengangguk. "Sekarang kau seharusnya kembali. Mereka akan menunggumu.. Draco."

Draco memiringkan kepalanya. "Harry."

Harry menyerigai dengan bagaimana anehnya namanya terdengar, datang dari pria yang pernah memanggil nama belakangnya dengan penuh racun. Akhirnya, menggunakan bubuk di tanggannya, dia menghilang dalam hembusan lidah hijau.

_TBC_