Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M

Genre : Tragedy, hurt/comfort, fantasy

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)

Note : Dilarang copy paste sebagian atau pun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya! Yang tetep bandel saya kutuk ngejomblo seumur hidup!

Golden Cage

Chapter 35 : Hilangnya Cahaya di Langit Konoha

By : Fuyutsuki Hikari

Di perkemahan, Naruto mengerjapkan mata pelan, bersyukur karena panas pada bahu kanannya kini telah hilang. Wanita itu melirik ke sisi ranjang, dan mendapati Sasuke tengah menatapnya dengan sebuah senyum yang membuat wajah suaminya itu terlihat semakin tampan.

Perlahan Naruto mengangkat satu tangannya untuk membelai pipi Sasuke dengan lembut. "Apa kau marah?"

Sasuke mendengar Naruto bertanya dengan nada tenang dipaksakan. Istrinya mengulum sebuah senyum simpul, terlihat biasa, namun kekhawatiran dikedua bola mata milik Naruto tidak bisa membohongi Sasuke. Naruto tengah resah, dan Sasuke tahu betul alasan keresahan wanita itu.

"Marah?" beo Sasuke, setengah berbisik. Pria itu menangkap pergelangan tangan Naruto lalu mencium punggung telapak tangan wanita itu lembut.

Sasuke terdiam untuk beberapa saat. Kedua bola matanya menatap lekat wajah istrinya dengan penuh pemujaan. Sikap diam keduanya menciptakan sebuah keheningan yang kali ini terasa membuai.

Pria itu memerlukan lebih banyak waktu untuk mengagumi dan memuja keseluruhan yang ada dalam diri Naruto dan sepertinya Sasuke akan melakukannya hingga tiga kehidupan selanjutnya.

Diletakkannya telapak tangan Naruto di dadanya. Telapak tangan itu kini terasa begitu dingin hingga Sasuke menarik selimut yang terbuat dari bahan sutra lembut untuk menutupi tubuh Naruto hingga sebatas dada.

"Kenapa aku harus marah?" Sasuke kembali bertanya, masih dengan nada yang sama.

Naruto kembali membelai pipi Sasuke dengan satu tangannya yang bebas. Ia menyusuri wajah suaminya dengan perlahan dan menyimpan kenangan itu dalam benaknya. "Kehamilanku," jawab Naruto serak. "Seharusnya aku tidak menunggu hingga kembali ke Ame untuk memberitahumu mengenai kabar gembira ini," sambungnya lirih, merasa bersalah.

Naruto tahu ada yang salah dalam dirinya karena tamu bulanannya datang terlambat hingga lebih dari sepuluh hari. Berbekal pengetahuanilmu pengobatan, ia pun memeriksa kondisi tubuhnya sendiri.

Wanita itu sedikit terkejut saat mendapati jika ia tengah hamil muda. Namun karena merasa tidak percaya, Naruto pun memutuskan memberanikan diri untuk meminta Temari memeriksa kondisi kesehatannya.

Naruto akhirnya percaya dan menangis haru saat Temari memberitahunya jika ia tengah hamil. Ia menangis dibahu sahabatnya itu untuk beberapa saat dan hanya bisa ditenangkan setelah Temari memberikan segelas teh hangat untuknya.

Naruto mengerjapkan mata untuk mengembalikan pikirannya ke alam nyata sementara Sasuke tidak langsung menjawab.

Pria itu bergerak perlahan, menjadikan satu tangannya untuk jadi bantalan kepala Naruto, sementara tangan lainnya mendekap tubuh istrinya yang balas memeluknya erat. "Tidak apa," jawabnya setelah terdiam lama.

Dalam pelukan Sasuke, Naruto memejamkan mata. Ia berusaha untuk mengendalikan diri, namun perubahan hormon karena faktor kehamilan sepertinya membuat Naruto tidak bisa mengontrol emosinya dengan baik.

Ia melepaskan diri dari pelukan itu. Naruto menatap lekat Sasuke dan air mata pun memenuhi kedua matanya. Tatapannya mengabur oleh air mata hingga membuat Sasuke terlihat kaget karenanya.

"Ada apa? Apa kau merasa sakit lagi?" tanya Sasuke dalam satu tarikan napas.

Naruto menggelengkan kepala pelan. "Tidak," jawabnya, diakhiri sebuah senyum lemah. "Aku hanya terlalu bahagia," akunya membuat senyuman Sasuke kembali terkembang lebar. "Aku bahagia karena akan menjadi seorang ibu."

Sasuke terbahak pelan. "Demi Dewa Langit, kau membuatku takut," ujarnya sembari menarik kembali tubuh istrinya ke dadanya. Sasuke mengecup pucuk kepala Naruto lembut lalu menempatkan pipi kirinya di sana.

Sasuke terdiam sejenak dan berkata lirih, "Terima kasih karena kau membuatku menjadi pria paling bahagia di dunia ini." Jutaan emosi berkilat dikedua mata Sasuke setelah ia mengatakan kalimat itu.

Ia kembali terdiam. Tenggorokannya tercekat. Untuk sesaat ia seolah kehilangan kata. Sasuke tidak pandai mengungkapkan emosi yang berkaitan dengan rasa bahagia, namun untuk kali ini ia tidak akan merasa malu untuk menangis sebagai ungkapan kebahagiannya.

Pria itu berdeham lalu menghapus air mata disudut mata dengan ujung kain lengan bajunya. Ditatapnya Naruto lekat. "Kenapa kau menekuk keningmu seperti itu?" Sasuke kembali bertanya, merobek keheningan yang menggantung diantara mereka. "Apa yang cemaskan?" sambungnya saat Naruto tidak menjawab.

Keheningan kembali datang setelahnya. Keheningan itu tak tertahankan, namun Sasuke memutuskan tetap menunggu dengan kesabaran menakjubkan. Ia memberi Naruto kesempatan untuk menenangkan diri.

"Ada yang aneh dengan tanda feniks yang kumiliki," terang Naruto setelah merasa siap untuk bicara. Ia tidak bisa menutupi getaran yang terselip dalam nada bicaranya. Naruto bergerak untuk mengubah posisi tidurnya hingga terlentang. Ia menyikap gaunnya untuk memperlihatkan bahu kanannya yang telanjang pada Sasuke. "Tiba-tiba saja simbol feniks yang kumiliki terasa sangat panas dan membuat tubuhku seperti terbakar karenanya."

Naruto bergidik. "Entah kenapa aku merasa jika sesuatu yang sangat jahat tengah mengintai kita," sambungnya seraya menarik kembali kain lengan gaun berwarna hijau lembut yang dikenakannya untuk menutup bahu telanjangnya.

"Kau berpikir jika simbol feniks itu tengah memberi kita peringatan?"

Naruto mengangguk.

Bohong jika Naruto tidak cemas. Reaksi pada simbol feniks di bahu kanannya membuatnya ketakutan. Ia tidak pernah mengalaminya selama ini.

Naruto menutup mulutnya. Pemikirannya memang terdengar tidak masuk akal. Ia tidak mau membuat Sasuke khawatir, karenanya ia menutup mulut dengan kedua tangannya dan menahan diri untuk tidak menangis hanya karena alasan tidak jelas.

Sasuke menempelkan dahinya pada dahi Naruto. Kedua matanya terpejam saat ia bicara, "Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja. Kau tidak perlu takut," katanya dengan nada membujuk.

Namun itu sebuah dusta. Sasuke tidak mau Naruto berpikir keras dan khawatir berlebihan, terlebih saat istrinya itu dalam kondisi hamil muda. Jauh dalam dirinya, Sasuke pun merasa gelisah. Ia bisa merasakan jika sesuatu yang buruk akan terjadi dan berpengaruh besar pada masa depannya bersama Naruto.

"Sasuke…"

Naruto tersenyum, menempelkan pipi pada telapak tangan Sasuke. Sejenak ia memejamkan mata, lalu bergerak untuk menyurukkan kepalanya di dada suaminya. Naruto tidak mampu untuk mengangkat wajah karena takut suaminya bisa membaca apa yang ada dalam benaknya saat ini.

"Kau benar. Apa yang harus kutakutkan?" tanyanya dengan suara sedikit gemetar. "Ada kau yang menjagaku. Jadi kenapa aku harus takut?" sambungnya sebelum tenggelam kembali ke alam mimpi dengan Sasuke yang terus mendekapnya sepanjang malam hingga fajar datang mengganti malam.

.

.

.

Ebisu dan Konan menerobos lebatnya hutan dengan jubah yang membalut tubuh mereka rapat. Udara terasa semakin dingin saat mereka membawa kuda tunggangan mereka masuk semakin dalam ke wilayah hutan timur.

Ada perasaan aneh yang bergelayut dalam hati saat keduanya mencapai tepi jurang. Sejauh mata memandang hanya ada kegelapan yang menyambut mereka. Ebisu menatap ke depan dengan mata menyipit. Rasanya aneh karena mereka memerlukan waktu lebih lama saat masuk ke dalam hutan, seolah hutan yang mereka masuki ini tidak berpenghujung.

Suara-suara lirih terdengar di kejauhan, membuat keduanya saling melempar tatapan dan siaga. Ebisu meletakkan satu jarinya dibibir, sementara Konan mengangguk samar. Keduanya segera turun dari atas kuda tunggangan mereka, lalu bersembunyi dibalik sebuah batu besar berlumut dan licin karena terkena air hujan yang terus mengguyur sepanjang sore tadi.

Kilat yang menyambar-nyambar di atas langit menjadi satu-satunya sumber cahaya yang membantu Ebisu dan Konan apa yang bergerak dikejauhan dan mendekat ke arah mereka.

Deru angin meraung-raung, membuat malam semakin terasa mengerikan. Binatang malam bahkan enggan menyuarakan nyanyian mereka di tempat ini, sementara dua kuda tunggangan milik Ebisu dan Konan terlihat semakin gelisah di tempat mereka ditambatkan.

Konan melirik lewat bahunya. Ia terlihat cemas. Angin bisa menghembuskan suara kuda tunggangan mereka ke telinga musuh. Hal itu sangat berbahaya, terlebih mereka belum tahu makhluk apa yang tengah mereka intai.

Seumur hidup, Konan baru merasakan perasaan tidak aman seperti sekarang. Sebagai salah satu anggota pasukan elit Kekaisaran Konoha, Konan sudah terbiasa menghadapi musuh sekuat apa pun, namun kali ini berbeda. Entah kenapa ia merasa jika lawan yang tersembunyi dibalik kegelapan itu bukan manusia biasa.

Ebisu menyipitkan kedua matanya, berusaha menerobos kegelapan di depannya. Mungkin ini hanya perasaannya saja, namun kegelapan disekitar mereka terasa semakin menggelap. Ia menarik pergelangan tangan kanan Konan, tanpa kata Ebisu menuliskan sesuatu di telapak tangan wanita itu.

Konan terbelalak. Ia menggelengkan kepala dengan gerakan cepat, tidak setuju. Konan tidak mungkin meninggalkan Ebisu di tempat ini seorang diri. Demi Dewa Langit, Konan lebih baik mati daripada meninggalkan koleganya seorang diri.

Keteguhan dalam ekspresi Ebisu tidak melumerkan kekerakepalaan Konan. Sekali lagi Konan menggelengkan kepala dengan gerakan cepat membuat Ebisu mengetatkan rahang dan mengeraskan ekspresinya.

Konan tidak mengatakan apa pun.

Ebisu memandang Konan dalam-dalam lalu kembali menulis menggunakan jari tangannya di telapak tangan wanita itu. Ia memerintahkan Konan untuk melaporkan masalah besar ini pada kaisar secepatnya, itu sebuah perintah, namun sayangnya hal itu harus tertunda karena musuh telah mencium dan mengetahui keberadaan mereka.

Suara perang beradu memecah keheningan malam beberapa saat kemudian. Ebisu dan Konan berdiri, saling memunggungi. Keduanya memasang posisi siaga dengan pedang teracung tinggi, siap untuk menghabisi musuh yang kini mengelilingi mereka.

"Mereka makhluk apa?" Suara Konan datar. Makhluk yang menyerang mereka tidak memiliki wajah. Hanya ada kegelapan yang menyelimuti wajah mereka. Makhluk itu bahkan tidak mengeluarkan deru napas seperti makhluk hidup umumnya.

Konan mengamati para penyerangnya lekat. Ekspresi wajah wanita itu tidak menampakkan ketakutan dalam dirinya. Konan berusaha untuk mengendalikan ketakutannya dan berdiri dengan dagu terangkat tinggi, disisi lain, Ebisu meloncat tinggi lalu menyabetkan pedang tajamnya yang berkilat tepat ke perut penyerangnya. Untuk sejenak kedua bola matanya melebar, tak percaya saat tubuh penyerang yang terkena sabetan pedangnya berubah menjadi gumpalan asap hitam sebelum menghilang tertiup angin yang berhembus kencang.

"Mereka makhluk kegelapan." Ebisu akhirnya bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Konan. "Kita tidak bisa menghabisi mereka semua," sambungnya sembari melakukan gerakan menusuk ke depan. Untuk kedua kalinya makhluk dari kegelapan itu berubah menjadi gumpalan asap hitam dan menghilang.

Tidak lama berselang, suara geraman menakutkan terdengar begitu dekat. Ebisu dan Konan saling menatap dengan ekspresi khawatir.

Konan kembali ke alam sadar saat merasakan tangan Ebisu menggenggam pergelangan tangannya yang bebas. Wanita itu menatap ke bawah, lalu mengangkat wajah untuk menatap wajah Ebisu.

Keheningan diantara mereka terasa seabad. Konan bernapa putus-putus, sekali lagi berusaha untuk menekan ketakutan akibat suara geraman kasar yang kembali terdengar semakin dekat. Konan memegang pedangnya semakin mantap. Ia mengangguk pelan, seolah mengerti makna yang tersirat dikedua bola mata Ebisu yang menatapnya lekat.

Kekeraskepalaannya tidak akan membantu mereka. Konan bahkan belum bergerak dari tempatnya saat sebuah bola api berwarna biru tua kehitaman meluncur dengan cepat ke arah mereka dan membakar apa pun yang dilewatinya, menyisakan sebuah kobaran api besar.

Konan terengah, menatap bekas kerusakan yang ditinggalkan oleh api kegelapan itu dengan ekspresi ngeri. "Ebisu!" Konan berbisik. Ebisu hanya mengangguk pelan sebagai jawaban panggilannya. "Apa kau yakin bisa bertahan?"

Ebisu mengangguk, berusaha memusatkan konsentrasi, namun tiba-tiba saja dua makhluk hitam berbaju zirah perak kembali menyerangnya secara membabi-buta. Ebisu memutar gagang pedang yang digenggamnya lalu menusukkannya ke arah belakang hingga menusuk tepat pada ulu hati salah satu penyerangnya.

Di sampingnya, Konan melancarkan gerakan memukul dan menendang yang dengan cepat menguras tenanganya. Ia berusaha untuk memberikan perlawanan, namun dengan cepat ia sudah kewalahan. Konan bahkan terus menyabetkan pedangnya dengan gerakan membabi-buta, wanita itu nyaris frustrasi karena musuh yang mengepung mereka bertambah banyak setiap kali ia dan Ebisu melumpuhkan satu musuh.

Sial. Musuh yang dihadapi mereka seolah tidak ada habisnya. Latihannya selama bertahun-tahun sepertinya tidak mempan untuk makhluk-makhluk dari kegelapan ini. Jika ia tidak bisa melawan makhluk-makhluk ini, lalu bagaimana ia akan bisa melindungi Kaisar Konoha ke depannya?

"Pergi dan laporkan perihal ini pada Yang Mulia!" bisik Ebisu di belakang punggung Konan. Lidahnya bahkan belum kering saat sebuah bola api berwarna biru tua kehitaman kembali meluncur ke arah keduanya dengan cepat. Konan dan Ebisu melompat untuk mengindar.

Tubuh Konan berguling-guling di atas tanah becek sementara Ebisu mengangkat kembali pedangnya untuk menahan serangan seorang makhluk kegelapan. Pria itu sedikit terkejut, namun dengan sigap ia menghadang serangan demi serangan yang diterimanya. Hanya tekad kuat yang membuat Ebisu bisa bertahan. Pria itu bahkan bergeming saat senjata penyerangnya mengenai dadanya, meninggalkan sebuah luka memanjang yang menganga.

Tubuh Ebisu tersentak ke belakang. Pria itu menopang tubuhnya dengan pedang yang tertancap di atas tanah. Napas Ebisu memburu karena lelah.

"Cepat pergi!" Itu sebuah perintah yang dilontarkan Ebisu dengan suara gemetar. Pria itu berusaha untuk kembali berdiri tegak, mengabaikan darah segar yang merembes keluar dari lukanya hingga membuat pakaian berwarna hitam yang dikenakannya basah sementara Konan segera naik ke atas punggung kudanya, tanpa menoleh ke belakang ia terus memacu kuda tunggangannya untuk melaporkan apa yang terjadi di tempat ini.

.

.

.

Perubahan cuaca di wilayah Konoha tidak membuat perburuan Kisame mulus. Pria itu harus menekan keinginannya untuk menikmati arak berkualitas dan wanita karena ketiadaan uang di dalam sakunya.

Kisame merasa lelah karena harus terus mengendap-ngendap, bersembunyi dan melarikan diri dari kejaran prajurit-prajurit Konoha. Pria itu mendesah berat saat menatap langit yang kini kembali menggelap karena awan gelap yang kembali bergulung di langit Konoha.

"Jika cuaca terus berubah-ubah secara drastis seperti ini kita tidak akan mendapatkan mangsa untuk dirampok," keluh Kisame terdengar kesal. "Kenapa ketua memilih tempat ini untuk bersembunyi?"

Prajurit Konoha memang tengah memburu kelompok mereka, tapi melarikan diri ke hutan wilayah timur sepertinya keputusan yang kurang bijak. Tempat ini terkenal angker dan jarang sekali penduduk yang melewati daerah ini.

Pria itu menancapkan belati miliknya ke atas tanah lalu melirik ke arah ketua kelompoknya—Zetsu yang meletakkan telunjuknya di depan bibir.

Kisame mengerjapkan mata. Ia mengangguk samar, mengangkat satu tangannya di udara untuk memerintahkan anggota kelompoknya yang berjumlah sepuluh orang untuk mengikutinya.

Kelompok Zetsu itu menunggu dibalik semak-semak. Suara derap kuda yang datang semakin mendekat membuat Kisame tersenyum semakin lebar. Akhirnya setelah satu minggu berpindah-pindah tempat dan tidak mendapatkan mangsa, mereka memiliki satu kesempatan untuk bersenang-senang.

"Wanita?" bisiknya, senang. Zetsu menyipitkan mata. Perasaan tidak enak menyergapnya, tetapi gerakan Kisame terlalu cepat.

Dalam sekejap Kisame dan kesepuluh bawahannya berlari keluar dari tempat persembunyiannya. Ia mengacungkan pedang dan kapak yang digenggamnya ke udara. Melihat hal itu Konan memaki pelan. Ia terus mengendarai kudanya tanpa memperdulikan hadangan para perampok yang berdiri berjajar tidak jauh dari tempatnya saat ini.

Konan menengok ke belakang. Seharusnya ia sudah berhasil keluar dari wilayah timur hutan ini. Namun entah kenapa ia memerlukan waktu lebih lama untuk keluar dari tempat terkutuk itu. Pasukan kegelapan masih mengejar di belakangnya.

Konan menelan kering. Suara geraman menakutkan dari belakang punggungnya sepertinya berhasil menarik perhatian kelompok perampok yang dipimpin oleh Zetsu.

"Suara apa itu?" tanya Kisame dengan kedua alis saling bertaut. Pria itu berdiri mematung, tersihir oleh aura mistis yang mengikuti wanita berkuda di hadapannya. Kedua belas pria itu bahkan bergeming saat Konan melewati mereka dengan cepat.

"Apa yang kalian lakukan?" teriak Konan setelah mendapatkan kembali suaranya. "Cepat lari! Selamatkan diri kalian!" sambungnya tanpa menurunkan kecepatan lari kudanya.

Zetsu dan Kisame saling melempar tatapan. Kecurigaan menyelinap ke dalam benak keduanya. Apa yang membuat wanita itu begitu ketakutan? Zetsu bahkan bisa bersumpah melihat kengerian pada ekspresi wanita tadi.

Suara geraman kembali terdengar. Bumi bergetar, membuat kedua belas pria itu limbung dan jatuh hingga berlutut. Erangan berat dan mengerikan kembali terdengar untuk ketiga kalinya. Zetsu dan Kisame bahkan berlum berkedip saat ratusan jarum meluncur ke arah mereka dengan kecepatan tinggi.

Suara erangan kesakitan membelah kesunyian hutan itu. Tubuh kedua belas pria itu tergeletak, meronta-ronta di atas tanah dengan luka disekujur tubuh. Beberapa diantara mereka langsung meregang nyawa, sementara sisanya harus melawan rasa sakit akibat tusukan ratusan jarum disekujur tubuh mereka.

Mereka tidak bisa memberikan perlawanan apa pun saat prajurit kegelapan berjongkok di hadapan mereka, sambil mengulurkan tangannya yang keriput.

Zetsu pun hanya terbelalak, ngeri. Suaranya tertahan ditenggorokannya. Ratusan serangga keluar dari balik tangan keriput yang terulur itu. Pria itu harus menahan napas karena aroma busuk yang menguar dari tubuh prajurit aneh di hadapannya.

Ia bahkan tidak bisa menjerit saat salah satu prajurit bayangan itu menusukkan tangannya tepat ke dada kirinya dan mengambil jantungnya dalam satu tarikan napas, dan setelah merasa cukup mendapatkan mangsa, prajurit kegelapan itupun kembali menghilang bersama angin untuk kembali ke sisi majikannya yang telah menunggu.

.

.

.

Pasukan besar yang dipimpin oleh Fugaku telah tiba di perbatasan Rouran—Konoha tepat pukul tiga pagi. Pasukan besar itu hanya beristirahat secukupnya dan kembali melakukan perjalanan agar tidak membuang waktu.

Prajurit yang berjalan kaki dan prajurit berkuda berjalan serentak, sementara kereta-kereta kuda yang membawa perbekalan dan obat-obatan bergerak beriringan. Panji-panji Kekaisaran Ame berkibar-kibar ditiup angin lembah Rouran.

Sebentar lagi mereka akan memasuki wilayah Konoha, Fugaku mempercepat laju kudanya, meninggalkan jejak-jejak debu yang bercampur air hujan di belakang rombongan pasukan besar itu.

Dari perbatasan Rouran—Konoha, perlu waktu tiga jam hingga pasukan besar itu sampai di perkemahan.

Fajar pun sudah menyingsing. Namun kegelapan masih menyelimuti wilayah itu. Fugaku memusatkan konsentrasi. Mungkin ini hanya perasaannya saja, tetapi saat menatap langit di kejauhan ia bisa merasakan sesuatu yang sangat berbahaya.

Pria itu menggelengkan kepala samar, memutuskan untuk menghapus perasaan itu dari dalam dirinya. Ia menatap ke sekeliling hanya untuk mendapati jika perkemahan itu telah kosong. Kekecewaan terlihat jelas pada ekspresi wajahnya, walau ia tidak mengatakan apa pun.

Fugaku kembali menunggu, kewaspadaannya tiba-tiba meningkat saat indra pendengarannya menangkap sebuah pergerakan aneh tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Seorang jenderal muda yang juga mendengar pergerakan itu segera bergerak. Dia mengeluarkan pedang yang tersarung dipingganggnya, sementara prajurit pemanah memasang anak panah mereka dan mengarahkannya ke satu titik target yang sama.

Suara ringkikan kuda terdengar dari balik semak-semak. Sang jenderal muda mengangkat pedangnya semakin tinggi siap menyerang siapapun yang berada dibalik semak-semak itu. Pria itu tersentak kaget saat seseorang menyerangnya secara tiba-tiba. Gerakan penyerangnya begitu efisien, terlalu cepat untuk ditangkap oleh netranya.

Sang jenderal mendesis, terkejut sekaligus malu karena penyerangnya ternyata seorang wanita. Dinginnya pisau belati yang menempel dilehernya membuat gigi pria itu gemeretak, menahan marah.

Konan menatap nyalang, napasnya memburu. Luka-lukanya terus mengeluarkan darah, kedua kakinya bergetar, nyaris tidak mampu menopang tubuhnya untuk berdiri. Tubuhnya terasa sangat lelah, tapi ia tidak bisa mati sebelum memastikan keselamatan sang kaisar Konoha.

Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, Konan menahan tubuh sang jenderal muda. Wanita itu menjadikan tubuh sang jenderal sebagai tameng dari serangan panah yang terarah padanya, dengan cepat ia mengamati kondisi disekitarnya. Konan merasa gagal karena ia datang terlambat untuk melapor pada kaisar.

"Berani sekali kau meletakkan senjatamu di leher salah satu jenderal-ku."

Konan bisa menangkap nada dingin penuh ancaman dari suara pria beraura agung di hadapannya. Wanita itu menyipitkan mata. Netranya kini terarah lurus pada panji-panji kekaisaran yang berkibar-kibar ditiup angin.

Panji Kekaisaran Ame?

Panji-panji itu tidak mungkin dikibarkan jika tidak ada anggota keluarga kekaisaran di dalam rombongan pasukan.

"Mohon ampun untuk kelancangan hamba. Namun izinkan hamba bertanya. Apakah Anda Kaisar Fugaku?" Konan memberanikan diri untuk bertanya. Wanita itu dengan segera melepaskan tahanannya dan jatuh berlutut dengan satu kaki. Ia menghaturkan hormat dan berkata cepat saat Fugaku mengangkat tangannya ke udara, memerintahkan pasukan pemanahnya untuk menahan tembakan mereka.

"Hamba Konan, salah satu pengawal Yang Mulia Kaisar Minato."

Fugaku tidak cepat percaya. Banyaknya luka pada tubuh Konan membuat pria itu semakin curiga.

Konan tidak memiliki jalan lain saat ini. Konoha memerlukan bantuan pasukan walau sekecil apa pun, karena musuh yang akan dihadapi oleh kaisar bukan musuh biasa yang bisa segera dilenyapkan oleh anggota pasukan bayangan.

Konan berpikir keras: bagaimana caranya untuk meminta bantuan pria berkuasa di hadapannya? Meminta bantuan seorang Kaisar Ame pasti bukan perkara mudah.

"Saat ini rombongan Kaisar Konoha tengah dalam bahaya," lapor Konan dalam satu tarikan napas.

"Apa maksudmu?"

Wanita itu menundukkan kepala, sama sekali tidak tertipu oleh nada tenang yang diucapkan Fugaku. Saat ini ia telah mendapatkan perhatian kaisar, dan ia tidak akan menyia-nyiakannya. Dengan nada penuh penghormatan ia menjawab, "Pasukan kegelapan tengah mengincar rombongan besar Kaisar Minato."

"Aku akan memenggal kepalamu jika yang kau laporkan hanya sebuah dusta," ancam Fugaku.

"Hamba tidak berdusta, Yang Mulia. Saat ini kita kehabisan waktu," jawab Konan tenang.

"Siagakan pasukan!" seru Fugaku kemudian setelah menimbang-nimbang keputusannya. "Kita akan bergerak menuju Istana Konoha," sambungnya dengan nada tak terbantahkan.

.

.

.

Ada rasa puas dalam diri Sara ketika wanita itu kembali menginjakkan kaki di istana. Wanita itu menyunggingkan sebuah senyuman penuh kemenangan. Ia memang tidak bisa melihat, tetapi ia bisa merasakan aura kegelapan di sekelilingnya.

Wanita itu mendesah keras, sedikit menyesal karena ia tidak melakukan hal ini sejak lama.

Sara mengernyit. Tidak. Tidak ada yang perlu disesalinya. Semua hal sudah diatur oleh langit, dan sekarang sudah waktunya bagi Sara untuk menikmati kemenangannya. Wanita itu bergerak anggun. Tanpa kesulitan ia berjalan diantara lorong-lorong istana yang dingin.

Lolongan serta jeritan kesakitan terdengar dari seluruh penjuru istana, dan hal itu menambah kegembiraannya. Sara membuka pintu balairung dengan kekuatan sihir yang kini dimilikinya.

Ia melangkah pelan ke dalam balairung, dan dengan langkah anggun ia menaiki satu per satu anak tangga menuju kursi takhta. Sara terdiam sejenak. Ia mengangkat kedua tangannya. Hidungnya mendengus kasar, terdengar jijik saat indra penciumanna mencium bau anyir darah yang menempel lengket pada gaun hitamnya.

Dengan satu jentikan jari ia mengganti gaun hitamnya dengan gaun kebesarannya yang berwarna merah darah dan bersulam benang emas. Sara tertawa penuh dengki lalu mendudukkan diri di atas kursi takhta.

Dalam kegelapan ia menunggu. Kedua kakinya diangkat ke atas kursi. Wanita itu memejamkan mata.

Tidak ada bedanya, pikirnya. Saat membuka mata pun ia hanya melihat kegelapan, tapi semua itu seimbang dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya sekarang.

Sara sudah memastikan Nawaki tertidur lelap di dalam kamarnya, hingga putra sulungnya itu tidak mendengar dan melihat kengerian yang terjadi di dalam istana.

Sebuah nada pekik ketakutan terdengar dari luar balairung. Sara kembali menarik sisi mulutnya ke atas, tipis. Ia menopang kepala dengan satu tangannya, terlihat begitu nyaman dengan posisinya yang setengah berbaring.

"Permaisuri?"

Ada nada tidak percaya yang terselip dalam suara kasim tua. Pria itu terbelalak saat menyadari siapa yang duduk di atas kursi takhta.

"Terkejut melihatku?"

Sara tertawa keras setelah mengatakannya sementara prajurit-prajurit kegelapan mendorong tubuh anggota keluarga kekaisaran masuk ke dalam balairung. Tubuh mereka yang dibalut oleh baju zirah berwarna perak.

Suara tangis seorang dayang pecah seketika. Tubuhnya bergetar hebat karena rasa takut sementara lainnya saling memeluk, terlalu takut untuk mengangkat wajah mereka.

Bau busuk dari udara yang dilepaskan prajurit-prajurit kegelapan itu menguar, menguasai udara di dalam balairung. Mereka menunggu dengan setia, sadar jika sebentar lagi perut mereka akan segera dikenyangkan oleh darah dan jantung penghuni istana.

"Kalian semua hanya bisa bicara di belakang punggungku," kata Sara, terdengar tajam dan dingin. Sara bergerak dari atas kursi, berjalan menuruni satu per satu anak tangga dengan dagu terangkat tinggi. Ekspresinya sangat angkuh.

Ia mencondongkan tubuh, hidungnya mengendus dan dalam satu gerakan cepat ia menarik tubuh seorang dayang muda ke arahnya. Sara mencekik dayang muda itu yang terus meronta, meminta ampun dengan suara tercekik.

"Bunuh mereka semua!" perintah sang permaisuri kemudian sambil melepaskan tubuh dayang muda yang telah mati di tangannya.

.

.

.

Rombongan yang dipimpin Minato terus melakukan perjalanan tanpa istirahat. Namun anehnya perjalanan pulang mereka kali ini terasa lebih lama daripada seharusnya.

Matahari sudah berada di puncak kepala saat rombongan itu tiba di perbatasan ibu kota.

Perubahan cuaca kembali terjadi secara tiba-tiba membuat Minato semakin bertekad untuk kembali ke istana secepat mungkin. Kesehatan para prajurit dan Naruto menjadi pusat perhatiannya saat ini. Ia menoleh sekilas kereta kuda yang ditumpangi Naruto dan Ino lewat bahunya.

Minato melepas sebuah helaan napas panjang. Ia berkata pelan, "Masih belum ada kabar dari Ebisu dan Konan?" tanyanya terdengar biasa. Minato menyembunyikan kegelisahannya dengan sangat baik. Tidak biasanya Ebisu dan Konan pergi begitu lama tanpa kabar yang menyertai mereka. "Apa terjadi sesuatu pada mereka?"

Kakashi menggelengkan kepala samar. "Keduanya pasti memiliki alasan hingga tidak kembali tepat waktu, Yang Mulia," jawabnya membuat kecemasan dalam diri Minato tidak berkurang. Kakashi tahu jika sesuatu yang besar pasti tengah terjadi, tetapi ia tidak bisa mengatakan kerisauannya tanpa bukti yang cukup kuat.

Rombongan mereka terus berjalan dengan kecepatan yang sama. Kesunyian yang menemani perjalanan mereka sedikit mengganggu Minato. Pria itu mengangkat wajah untuk menatap langit yang kembali terlihat begitu gelap. Cahaya di wilayah Kekaisaran Konoha seolah menghilang dalam satu jentikan jari.

Perasaan aneh menyelimutinya, terlebih saat pria itu memasuki pintu gerbang ibu kota. Tidak ada prajurit yang berjada di pintu di sana. Keningnya ditekuk dalam, para prajurit yang mengawalnya segera merapatkan barisan, mendampinginya dengan sikap siaga.

Kenapa ibu kota tidak ada bedanya seperti sebuah kota yang ditinggalkan? Kota ini begitu sepi. Sesepi pekuburan.

Minato mengangkat satu tangannya ke udara. Kurama, Sasuke dan Neji segera maju ke depan. "Ada yang tidak beres," ujar Minato dengan ekspresi serius. Pria itu memerintahkan beberapa prajuritnya untuk masuk ke dalam beberapa rumah penduduk dan terkejut saat mendapati jika rumah-rumah penduduk kosong tanpa penghuni, begitupun dengan beberapa kedai dan toko yang biasanya ramai kini kosong tanpa pengunjung.

"Sasuke, lindungi Naruto!" perintah Minato tegas.

Sasuke mengangguk cepat. Pria itu menarik tali kekang kudanya dan kembali memutar kembali menuju kereta kuda yang ditumpangi oleh Naruto.

"Bersiaplah!" seru Minato dengan ketenangan menakjubkan. "Kita tidak tahu apa yang menanti kita di istana," sambungnya tanpa rasa takut yang terselip dalam suaranya, dan rombongan itupun kembali bergerak dengan kecepatan tinggi menuju Istana Kekaisaran Konoha.

.

.

.

TBC

Sampai jumpa dibab berikutnya!

#WeDoCareAboutSFN