Prolog:
Sabaku no Gaara, pewaris Sabaku corporation, karena deadline berumah tangga kakak perempuannya sudah dekat dan kenyataan kalau kakak lelakinya sama sekali tidak punya bakat memimpin perusahaan. Maka, mau tidak mau (walaupun Gaara benar-benar tidak mau), dia harus bersedia menerima pertunangannya dengan salah satu Hyuuga yang merubahnya jadi HOMO.
AU, OOC, Special for Mendy.d'LovelyLucifer.
Main pairing: NejiGaara
Slight pairing: SasuNaru, ShikaTema, SaiIno, KibaHina, LeeSaku, SasoDei, PeinKonan, KisaIta, dll.
Summary:
Air mata Gaara meleleh, dia menggeleng. Inilah mimpinya. Neji meninggalkannya. NejiGaara. Chapter 38
XxXxX
NARUTO © MASASHI KISHIMOTO SENSEI
CAN WE PRETEND TO LOVE, THEN WE'LL MARRY? © HELENA NEGA
XxXxX
Temari mengucek matanya dan melirik jam meja, jam 2 pagi. Dia bertanya-tanya apa yang bikin dia terbangun, sewaktu telinganya mendengar langkah kaki di luar kamarnya dan bantingan pintu. Maling?
Temari duduk tegak. Udah dua puluh tahun lebih dia tinggal di Sabaku manor, rumah ini aman banget. Lagi pula maling pasti berusaha ngebuat dirinya nggak terdengar, sedangkan orang di luar sana kayaknya nggak sama sekali.
Temari bangun, lampu lorong hidup otomatis waktu dia berjalan, dadanya berdebar-debar. Temari agak nyesel waktu memutuskan nggak membawa tongkat besbol pemberian Shikamaru yang ada di belakang lemarinya, gimana kalo yang diluar bener-bener maling? Kenapa Temari nggak nelpon Shikamaru dulu tadi? Tapi Temari langsung lega dan jantungnya nggak lagi ngelompat-lompat waktu ngeliat kepala merah adiknya di ruang tengah.
"Sayang... Kenapa bangun?" kata Temari.
Gaara berbalik dan Temari langsung kaget. Adiknya ngos-ngosan kayak habis tanding basket, keringat ngalir di dahinya dan matanya merah.
"Gaara-chan, kenapa? Kamu mimpi buruk, sayang?" kata Temari sambil mendekat, tangannya memeluk kepala adiknya. Badan Gaara gemetaran.
"Neji-san mana?" kata Gaara serak.
Temari menarik adiknya ke sofa dan mereka berdua duduk, "Pulang pas kamu tidur. Neechan ambilin minum ya..."
Temari nggak siap sama reaksi adiknya, tiba-tiba Gaara melepaskan diri, berdiri dan berlari ke lorong luar. Temari nggak sempat berfikir, dia baru bangun tidur. Gaara udah di pintu samping menuju garasi dan Temari baru sadar rencana adiknya sewaktu suara keras pagar garasi terbuka dan mesin Aston Martin menderu.
"Sayang, kamu mau kemana?" teriak Temari.
Mobil Gaara udah meluncur keluar, nyaris menabrak pagar luar yang telat terbuka dan berdecit ke jalan raya.
Kepala Temari blank. Dia di halaman, berdiri tanpa alas kaki dan masih memakai gaun tidur renda-renda, melongo ngeliat pintu pagar yang otomatis tertutup dan mobil adiknya yang hilang di ujung belokan.
Lalu panik menyerangnya, Temari lari masuk kedalam, dia nangis terisak-isak dan menelpon Shikamaru. Entah udah berapa kali redial, baru Shikamaru menjawab dengan suara mengantuk. Temari nggak tau harus cerita apa, dia masih terisak-isak, tapi dia lega sewaktu dengar deru mobil Shikamaru di latar belakang perintah, "Aku kesana sekarang, tetaplah di dalam rumah, dan jangan panik!"
Setelah itu Temari menelpon Neji, untunglah Neji mengangkat di redial ketiga.
"Gaara-chan?" tanya Neji ragu-ragu.
Temari menelpon dari telpon rumah dan dia belum bilang "Halo," karena masih terisak-isak. Wajar kalo Neji bingung.
"Ini neesan,"
Temari bisa mendengar kalo Neji diseberang menahan nafas panik. Temari menelan ludah.
"Neji-kun... Gaara-chan keluar beberapa menit yang lalu," kata Temari pelan, air matanya mengalir "mungkin dia kesana,"
"Apa sesuatu terjadi?" tanya Neji.
"Nggak ada yang terjadi. Kayaknya dia mimpi buruk, waktu tau kamu nggak ada Gaara-chan langsung ngeluarin mobil."
"Ok, Temari-nee jangan panik. Aku tunggu Gaara-chan di parkiran, kalo dalam dua puluh menit dia nggak nyampe ke sini, akan kususul. Dia nggak bawa hp kan?"
"Nggak bawa,"
"Baiklah, aku ke bawah,"
Neji menutup hpnya, dia baru mau nelpon sekuriti waktu interkom menyala, sambungan dari basement.
"Halo,"
"Neji-sama, maaf mengganggu anda malam-malam, ada anak kec... ehm maksud saya remaja, mencari anda. Apakah boleh saya persilahkan naik?"
Neji menghela nafas lega, "Ya, suruh naik... Eh jangan, biar aku yang kebawah,"
Neji menutup interkom, menyambar mantel dan berlari turun. Dia menekan tombol lift dengan nggak sabar. Neji udah sampai di basement dan ngeliat pacarnya duduk di kursi di depan sekuriti dan Neji bisa dengar kalo sekuriti lagi menanyai Gaara.
"Apa kamu masih SMP? Kenapa keluar malem-malem?"
Neji menghela nafas lega. Pacarnya masih pake piyama dan nggak pake sendal. Neji bisa ngeliat jari kakinya bergerak risih di lantai.
"Sayang..."
Gaara melompat memeluk Neji. Neji bisa merasa kalo tangan Gaara dingin banget. Neji langsung memakaikannya mantel.
"Trimakasih pak, lain kali kalau dia datang, langsung disuruh naik aja. Dia tunangan saya," kata Neji.
Mata sekuriti membulat dan dia bengong.
"Dan dia udah SMU,"
"Oh maaf, Neji-sama,"
Neji tersenyum ke arah Gaara yang meluknya, "Kami permisi,"
Neji baru aja mau berbalik waktu sekuriti bertanya, "Kalau boleh tau, nama tuan muda ini siapa?"
Gaara reflek memeluk Neji erat-erat.
"Maksud saya, biar saya nggak lupa kalo tuan muda datang ke sini lagi," kata sekuriti dengan ngeles no jutsu.
"Sabaku no Gaara,"
"Senang bertemu anda, Gaara-sama. Selamat malam untuk anda berdua,"
Lalu Neji membawa Gaara ke apartment-nya, nyaris menggendongnya kerena Gaara jalannya lelet banget. Di depan pintu Neji menurunkan Gaara.
"Udah kukasih tau password-nya?"
Gaara menggeleng, mereka memang jarang kencan di apartment Neji.
"Perhatikan,"
Neji menekan sejumlah angka dan pintu mencklek terbuka. Wajah Gaara mendadak merah, itu tanggal jadian mereka.
Neji menarik Gaara lagi ke peluknya dan berjalan masuk. Gaara susah payah mengikutin, kakinya melayang-layang dari lantai karena sekali lagi Neji kayak menggendongnya. Mereka berhenti di dapur dan Gaara di dudukin di counter. Neji menggeledah kulkas, memasukkan tempat susu ke oven terus mendatangi Gaara lagi.
"Kamu habis mimpi buruk, sayang?" Neji menanyai Gaara, tapi Gaara nggak sempat menjawab karena setelah itu Neji mencium bibir Gaara.
Gaara mengerang waktu Neji mencari jari Gaara yang tenggelam di mantelnya yang kebesaran dan menempelkan tangan Gaara yang dingin ke lehernya. Gaara baru mau memeluk Neji tapi Neji keburu melepas ciuman dan bergerak menjauh. Untuk sesaat Gaara merasa ditolak, tapi dia baru sadar kalo ternyata Neji menjauh buat ngambil lap dan ngeluarin susu dari oven yang berbunyi nyaring. Neji menuang susu ke cangkir, meletakkan di meja ruang duduk dan ngampirin Gaara lagi. Neji menggendong Gaara ke sofa, menyodorkan susu dan duduk di samping Gaara.
"Gaara-chan ngabisin ini, aku nelpon Temari-nee,"
Gaara meringis, "Apa neechan marah?"
Neji cuma nyengir, "Minum,"
Gaara bersender ke dada Neji dan mulai mengangkat gelasnya, rasa hangat menjalar dari tangannya ke tenggorokan.
Neji menelpon hp Temari tapi nggak diangkat, telpon rumah juga nggak diangkat, baru waktu Neji menelpon hp Shikamaru telpon diangkat Temari.
"Halo?"
Suara Temari kayak habis lari maraton 3 kilometer.
"Neechan, Gaara-chan udah di sini," kata Neji, "baru aja nyampe. Sekarang lagi kusuruh minum hangat,"
"Dia nggak apa-apa kan?" tanya Temari.
"Utuh, tanpa kurang apapun,"
"Dia tadi nggak pake mantel," kata Temari.
"Udah kupakekan," kata Neji, dia memeluk Gaara erat-erat.
"Nggak pake sendal,"
Neji melongok ke bawah, kaki Gaara nggak keliatan, tapi dia bakal ngecek nanti. Kalo jari kaki Gaara hilang satu, pasti darahnya udah bercecer di lantai.
"Neechan mau ngomong, kasih hp-nya ke Gaara-chan," kata Temari.
Neji menjauhkan hp dari telingannya, "Sayang, Temari-nee mau ngo..."
Kalimat Neji berhenti. Dari tadi Gaara nyender padanya dan Neji memeluknya dari belakang. Ternyata Gaara udah tidur, mulutnya terbuka, mendengkur pelan dan gelasnya yang kosong terpegang longgar, nyaris jatuh.
"Gaara-chan tidur," kata Neji, dia ngambil gelas di tangan Gaara dan meletakkan di meja.
"Oh... Ya udah deh. Kami juga udah mau nyampe,"
Neji mengantongi hpnya dan mengangkat Gaara ke kamar. Pacarnya lelap banget, walaupun Neji udah mencium bibirnya, meraba perutnya, ngusap selangkangannya, Gaara nggak kebangun.
Neji nyengir, nyelimutin badan pacarnya yang terlentang pasrah dan keluar buat membuka pintu yang belnya bunyi dengan nggak sabar, pasti Temari, padahal Neji baru meraba Gaara dikit, Temari cepat amat.
XxXxX
Neji menguap, ditelinganya ada klipphone dan dia lagi menelpon sekretarisnya sambil minum kopi dan ngutak-atik laptop di ruang duduk.
Hari masih pagi banget, mungkin jam 6. Temari jadi dateng tadi malem, tapi pulang lagi setelah tau kalo adiknya nggak mungkin diseret balik karena udah tidur kayak orang mati.
Tapi belum sempat Neji ngapa-ngapain Gaara, Temari udah datang lagi, jadilah Neji ngungsi ke ruang duduk dan pura-pura sibuk kerja padahal dia horny berat ngeliat pacarnya terlentang pasrah.
Tapi rupanya pura-pura kerja nggak bisa ngalihin otak Neji mikir yang nggak-nggak, apa lagi ternyata Gaara akhir-akhir ini jadi anak baik dan nggak minta tolong Neji nyelesain tugasnya di Sabaku corporation. Jadilah otak Neji perlahan tapi pasti jadi kayak Pein, penuh bokep.
Neji melepas earphone-nya, sekretarisnya mulai ngomong ngaco gara-gara ditelpon pagi-pagi buta. Neji udah berfikir mau keluar buat joging aja waktu di kamarnya terdengar suara ribut. Neji baru mau melongok ke dalam waktu dadanya mendadak ditabrak sesuatu. Gaara melompat memeluknya.
Neji baru mau bercanda yang mesum-mesum sewaktu dia nyadarin kalo badan pacarnya gemetaran.
"Gaara-chan?"
Neji menangkap pacarnya tepat waktu, sebelum badannya merosot ke lantai.
"Hei, kenapa?"
Neji mendudukkan Gaara di sofa. Pacarnya pucat pasi, keringat dingin mengaliri dahi putihnya.
"Sayang..." kata Temari yang sudah ikut berlutut di depan Gaara, "mimpi buruk lagi?"
Gaara berjengit mendengar kalimat kakaknya dan Neji buru-buru memeluknya.
"It's okey, semuanya baik-baik aja,"
Temari mengambil minum dan dari lirikan berapi-api Temari, kayaknya dia ngasih kesempatan buat Neji mengorek cerita selama dia pergi.
"Mimpi apa?" tanya Neji.
Gaara diam.
"Soal Feilong?"
Gaara menggeleng.
"Soal kita?"
Wajah Gaara memucat, Neji nggak perlu jawaban 'Iya' karena pacarnya udah keliatan mau nangis.
"Kita bubaran?"
Gaara menggeleng.
"Aku pergi?"
Gaara pun nangis beneran.
Temari bediri di belakang sofa dengan nggak sabar selagi Gaara tersedu-sedu dipelukan Neji.
"Hei... Aku nggak akan kemana-mana." kata Neji, "itukan cuma mimpi,"
Gaara mendongak menatap Neji, tampangnya ngeri, "Tapi aku mimpi itu terus..."
"Itu karena Gaara-chan takut kehilanganku, makanya kepikiran terus sampe kebawa mimpi,"
Niatnya Neji cuma mau bercanda untuk mencairkan suasana, tapi joke-nya nggak ditangkap Gaara dan Gaara malah ngangguk setuju. Neji blushing beneran.
XxXxX
Jam udah menuju ke angka 1 waktu Neji masuk ke ruangan kerja pacarnya.
"Boy friend delivery," kata Neji jahil.
Gaara mendongak dari tumpukan kerjanya.
"Neji-san," sapanya riang.
Neji masuk dan duduk di sandaran tangan kursi Gaara, "Mau makan siang ato makan aku?"
Gaara yang tumben otaknya bego malah milih, "Makan strawberry cake,"
Neji ketawa ngakak, "Oke, tunggu sebentar. Aku ke tempat Neechan-mu. Siap-siap aja, aku balik kita langsung jalan,"
Neji keluar dan Gaara bediri buat ke toilet.
Gaara cuci muka, di cermin westafel dia ngeliat kalo tampangnya masih acak-acakan. Lingkaran gelap masih keliatan di bawah matanya. Gaara mengeluh. Ini semua gara-gara mimpinya yang kerasa nyata banget. Bukannya Gaara nggak mau cerita ke Neji tapi Gaara nggak kuat kalo ngingat mimpinya yang serem banget.
Cermin bergetar dan Gaara mundur selangkah. Gempa bumi. Lalu tiba-tiba sekitarnya bergoyang kencang. Gaara menyingkir dari depan wastafel tepat waktu. Cermin jatuh ke bawah dan lampu meledak terus mendadak padam.
Gaara mangap-mangap, tangannya gemetaran. Sekelilingnya gelap gulita dan Gaara nggak berani bergerak, takut kejatuhan sesuatu. Dia merapat ke dinding yang masih bergoyang.
"Neji-san..." rintihnya hopeless.
Sesuatu yang besar menjatuhi kakinya, Gaara kaget setengah mati, rasanya sakit banget. Dia terjebak, kakinya nggak bisa ditarik. Tangan Gaara masuk ke kantong, mencari hp. Untunglah dia ingat masukin hp ke kantong, nggak digeletakin gitu aja di meja kayak biasa. Thanks to Naruto yang mengomelinya kemaren gara-gara sering telat latihan basket.
Tangan Gaara gemetaran, susah buat buka kunci hpnya, mana gelap banget. Setelah nyaris nangis, hpnya nyala, keypad locknya berhasil terbuka. Tapi nggak ada sinyal. Habis gempa, nggak ada sinyal itu lumrah, paling nggak sekarang nggak gelap gulita.
Gaara merosot duduk, berusaha doa daripada nangis. Ternyata yang jatuhin kakinya itu ac dan Gaara nggak bisa nyingkirinnya karena ac-nya berat dan gede banget. Gaara yakin kakinya nggak apa-apa, paling-paling memar dikit, soalnya posisi ac jatuhnya miring, persis di atas tempat sampah. Kaki Gaara nggak tau gimana bisa nyempil diantara ac dan tempat sampah, celahnya pas untuk pergelangan kaki doang, ditarik nggak bisa, dipaksa maju apa lagi, salah-salah malah ac-nya mendadak nibanin dia.
Gaara narik nafas panjang. Semuanya akan baik-baik aja, pasti nggak lama lagi Temari akan sadar kalo adiknya masih kejebak di dalam dan cari bantuan.
Tapi gempanya masih berlanjut. Ac diatas kakinya makin miring. Gaara terjebak diantara dinding. Dia nggak bisa bertahan diposisi ini, salah-salah bukan cuma kakinya yang terancam patah, tapi juga punggung dan leher.
Gaara menarik nafas lagi, berusaha mendorong ac, tapi jangankan bergerak menjauh, ac-nya malah makin nempel ke dia.
Nggak tahan, akhirnya Gaara nangis juga. Dia takut nggak bisa ketemu Neji lagi. Mungkin ini arti mimpinya, bukan Neji yang ninggalin dia. Gaara terisak-isak. Matanya menatap layar hp yang screen savernya foto mereka berdua.
"I love you, Neji-san,"
Tiba-tiba terdengar gedoran dari luar. Gaara terdiam.
"Gaara-chan..."
Suara Neji.
"Aku disini," teriak Gaara nyaris histeris, "Neji-san... Aku takut,"
"Bentar aku ke sana." teriak Neji, "Shit, pintunya nggak mau kebuka,"
Gaara menyenteri pintunya. Dindingnya retak dan separonya udah ambrol. Pantas.
"Menjauh dari pintu. Aku akan mendobraknya," teriak Neji.
"Aku nggak deket pintu," kata Gaara, berusaha nggak menjelaskan kalo dia nggak bisa gerak dan sebelah tangannya udah kebas nahanin ac.
Dua kali benturan kencang, terus yang ketiga barulah pintu roboh, bergantung di engselnya. Neji masuk, dahinya berdarah tapi dia langsung menyingkirkan ac dari badan Gaara.
"Oh my God, sayang. Sukurlah kamu baik-baik aja. Jantungku nyaris copot waktu inget kalo kamu masih di dalam," kata Neji sambil memeluk Gaara, "kamu nggak apa-apa?"
Gaara ngangguk, "Neji-san berdarah,"
Neji ngibas tangannya, "It's okey. Kakimu sakit?"
Gaara menggeleng.
"Okey, kita nggak bisa turun. Tangganya udah ambrol dan lift nggak berfungsi. Kita cuma bisa nunggu Neechanmu meminta bantuan ato naik ke lantai paling atas. Aku udah menghubungi emergency call dan bilang kalo kita terjebak di sini,"
Gaara memasang tampang ngeri.
Neji melepas jasnya, "Tutupi kepalamu pake ini. Langit-langitnya bisa runtuh kapan aja,"
Lalu Neji memeluk Gaara dan menariknya ke luar, Gaara bahkan belum siap berlari. Mereka masuk ke ruang kerja Gaara. Ada lampu emergensi menyala di bekas meja Gaara. Tempat itu udah berantakan banget, separo dinding dan atap udah ambrol, berderak-derak karena gempanya masih ada. Guncangan tambah kencang, Neji menarik Gaara turun ke bawah meja tepat sebelum beton gede menjatuhi tempat dimana mereka bediri sedetik yang lalu. Meja berderak-derak ditimpa runtuhan atap.
Kaki Neji bergerak keluar, menarik sofa putih ke arah mereka.
"Mejanya nggak akan kuat, Gaara-chan bisa lari ke arah sofa?" tanya Neji.
Gaara bingung.
"Sofanya akan kubalik, ruangnya pasti muat buat kamu,"
Mendadak wajah Gaara berubah horor, "Tapi Neji-san?"
"Aku tetap disini,"
"Aku nggak mau!"
Neji berdecak frustasi, "Nggak ada waktu buat berdebat. Kepalamu bisa pecah ketimpa beton,"
"Aku mau sama Neji-san aja," rengek Gaara, dia mulai nangis.
Tiba-tiba Neji mencium Gaara tepat di bibir, penuh penghayatan seolah mereka cuma berdua kayak di resort dulu, "I love yo so much, Gaara-chan. Kalo kita selamat dari sini. Aku akan langsung melamarmu ke Temari-neechan,"
Air mata Gaara meleleh, dia menggeleng. Inilah mimpinya. Neji meninggalkannya.
Getaran gempa tambah kuat, Neji menarik pinggang Gaara, melemparnya ke arah sofa dan berlari untuk membalik sofa menutupi badan Gaara.
Gaara terisak-isak, tangannya yang keluar dari balik sofa nggak dihiraukan Neji. Neji melompat balik ke bawah meja.
"Neji-san..."
Gempa kembali menggila. Debu berhamburan waktu atap runtuh. Semuanya mendadak gelap gulita. Gaara dan Neji tak sadarkan diri terimpit puluhan beton yang jatuh dari langit-langit.
XxXxX
To be continue
XxXxX
chapter kemaren gue salah tulis, mo ngetik wastafel malah ketulis kloset. Hehehe, sorry ya. Jadinya horrible banget.
Oh ya, buat yang nanya-nanya, maaf banget, kayaknya ga akan ada MPreg di fict ini, paling ga buat saat ini. Gue suka MPreg, tapi sampe sekarang gue tetep ga dapet penjelasan logis kenapa cowok harus hamil walopun disemprot sperma. Gue jadi ngebayangin gimana Gaara perutnya gede dan Neji diuber Temari n Kankuro. Sorry ya :D
eniwei, Thanks udah mampir :-*
