THE LEGENDIARY OF KORRA

Disclaimer: Inspired by Twilight Saga by Stephenie Meyer

.

Kierra POV

.


.

35. Mayor

Sunday, July 21, 2013

5: 54 AM

.


.

Berkas sinar pagi menyapaku, menyelusup dari kisi-kisi tirai jendela. Hangat kurasa di pipi. Tanpa sadar aku melenguh, merasakan kenikmatan itu. Kapan terakhir kali aku merasakan sensasi kala kehangatan menyentuh kulitku? Empat bulan lalu? Tidak, mungkin lebih… Aku tak ingat.

Kubuka mataku, menarik napas panjang. Segar rasanya memasukkan suplai oksigen ke paru-paru. Kuangkat tanganku, menyaring cahaya matahari. Pikiranku memerintahkan jemari-jemari itu bergerak. Seirama dengan tiap impuls perintah yang kusampaikan, kurasakan neuron dalam otakku saling terhubung, meneruskannya pada syaraf-syaraf penggerak otot. Reaksinya bekerja begitu instan. Detik idku menurunkan perintah, detik itu pula otot-otot di tubuh itu bergerak seirama dengan keinginanku.

Rasanya seperti memiliki tubuh sendiri. Akhirnya. Setelah sekian lama…

Kutolehkan kepala ke sisi. Bayangan wajah Korra memandangku dari cermin kecil di meja di sisi ranjangnya. Tak seperti biasa, tak lagi kulihat bola mata coklat yang biasanya berbinar-binar itu. Sebagai gantinya, ada mata yang suram, kelam bak malam pekat, yang sama sekali tak bercahaya. Kenapa, Tup? Tidakkah kau bahagia?

Sekali lagi kuperhatikan jemari-jemari itu. Tampaknya Korra memang sama sekali tidak peduli dengan tubuhnya sendiri. Kulitnya begitu kusam. Kukunya begitu pendek, dan sama sekali tidak bercahaya. Aku mengangkat tubuh dan berdiri, memandang ujung-ujung jari kaki mungilnya yang kotor. Mendesah, kutarik laci-laci, mencari pemotong kuku, kikir, dan buffer. Kalau tidak salah aku sempat menyuruh Korra membeli satu set dan menyimpannya di sana. Kini tidak ada. Di mana Korra menyimpan peralatan manikurku?

Kugali ingatan Korra. Seperti lazimnya semua memori, kesadaran Korra secara otomatis memilah-milah ingatan, pengalaman, keinginan, dan pikiran ke dalam tingkat-tingkat derajat kepentingan. Bagian yang menurutnya paling tidak penting dengan mudah terlupakan, tapi tidak sepenuhnya lenyap. Di sanalah aku menemukan ingatan tentang peralatan manikur itu.

Aku bangkit dan menuju toilet, membuka lemari tampat ia meletakkan seluruh peralatan mandinya. Set manikur yang waktu itu kupesan masih terbungkus rapat, tersempil di pojok. Jelas ia sama sekali tak pernah menggunakannya. Kuku Korra memang tak pernah bertambah satu mili senti pun sejak aku mengklaim tubuhnya. Tidak, bahkan sebelumnya, sejak Marcus menggigitnya. Mungkin itu alasannya ia tak pernah peduli bahkan untuk menggunting kuku. Tapi kurasa Korra melupakan satu poin penting di sini: tidak tumbuh bukan berarti kuku itu takkan kotor.

Entah bagaimana aku akan menghabiskan entah-berapa-lama masaku dalam tubuh ini. Aku rindu tubuhku yang lama. Dengan wajah eksotis, rambut ikal sebahu, kulit nan halus, postur tinggi semampai, kaki dan leher yang jenjang, tangan yang lentik, tubuh yang langsing dan berlekuk indah… Pendek kata tubuh orang dewasa. Bukannya Korra tidak manis, tapi bagaimanapun ia masih anak-anak. Rambutnya begitu pendek dan tubuhnya bisa dikatakan aseksual. Bagaimana aku bisa memikat pasangan dengan tubuh seperti ini?

Aku ingat ketika aku mengklaim tubuh Sirabhorn Sobhon. Ia berusia 19 ketika aku merasukinya, tapi tubuhnya mengalami pertumbuhan sangat lambat sejak usia 9 tahun, sehingga waktu itu ia kelihatan seperti berusia 13 atau 14. Tentu saja aku bisa mengambil selir atau pasangan dari mana saja. Pasti ada saja makhluk-makhluk pedofil di antara para shifter. Kalaupun tidak, aku toh bisa memaksa. Tapi aku yang tidak mau. Aku takut tubuh Sira tidak bisa mengakomodasi kebutuhan itu. Alhasil selama itu aku hidup selibat bak biarawati. Tambah lagi ia termasuk inang yang bisa bertahan cukup lama. Tigapuluh tiga tahun, bayangkan.

Kuharap dengan Korra, setidaknya aku lebih beruntung.

Jadi apa agendaku setelah mengklaim tubuhnya?

Karena ini hari pertamaku kembali, kurasa belum banyak tugas menanti. Tentu saja aku harus menyelesaikan apapun masalah yang katanya disebabkan Korra selama aku tak ada, tapi kurasa menunggu sehari saja tak apa. Mungkin terdengar tak bertanggung jawab, tapi kurasa masalah kawanan bisa dikesampingkan sejenak. Jika kepalaku ringan dan aku sudah terbiasa dengan sirkuit otak Korra yang agak kacau, pasti aku bisa berpikir lebih baik. Prioritas utamaku sekarang adalah membuat tubuh ini lebih layak huni. Itu penting. Kesan muncul dari pandangan pertama.

Jadi, mumpung waktuku luang, kurencanakan hari ini aku akan memperbaiki penampilan. Melakukan facial, men-scrub tubuh, berendam lama-lama dengan air hangat bercampur aromaterapi, manikur-pedikur… Oh, bahkan rambutku pun perlu sedikit sentuhan… Creambath dan coloring kurasa cukup. Rambut Korra terlihat kusam dan bercabang, tapi ini akan membaik nanti kalau aku sudah makan. Tak perlu menghabiskan waktu terlalu banyak untuk treatment. Kalau waktunya masih cukup, aku ingin pergi ke salon untuk mencari model rambut yang lebih baik. Berharap saja rambut Korra belum harga mati.

Untungnya kemarin, sepulang dari kebun binatang, aku sempat mampir dulu ke toko kosmetik untuk membeli produk perawatan tubuh. Si pemuda yang bersama Korra agak heran melihatnya. Pasti aneh setelah dipikirnya Korra masih shock akibat diserang serigala, tapi malah begitu bersemangat belanja. Mungkin juga ia heran Korra yang biasanya cuek mendadak memborong kosmetik. Tapi kurasa ia tak keberatan, malah merasa bersyukur Korra tidak apa-apa. Buktinya, ia sendiri malah ikut-ikutan belanja sembari merekomendasikan ini-itu.

Setelah sekitar empat jam kuhabiskan di toilet, aku keluar dengan tubuh berbalut kimono mandi dan wajah masih disaputi masker. Kurasakan tubuhku lebih segar dan langkahku lebih ringan. Kepalaku pun lebih jernih. Aku kembali ke kamar Korra, membuka jendela, duduk mencakung di ambangnya. Sementara aku mulai mengikir kuku, pandanganku melayang melintasi pekarangan, ke kerimbunan pohon di luar sana. Pikiranku mengambang tak tentu arah.

Siang, Alfa, kudengar sapaan Kacchan.

Aku tersenyum. Semenjak aku memasuki tubuh Korra empat bulan lalu, tak pernah lagi kudengar sapaan itu darinya.

Siang…, balasku.

Mana Korra? kurasakan ia mencari-cari. Agak bingung juga, mungkin.

Sejujurnya, itu juga yang ingin kutanyakan.

Kucoba merasakan kehadiran Korra di dalam diriku. Pikiranku, kesadaranku, di manapun. Aku yakin ia masih ada di sana. Ia tidak melebur. Tapi jejaknya begitu pudar. Begitu tipis. Seakan sengaja ia menenggelamkan dirinya, membuat kesadarannya sendiri menghilang.

Menurutmu ia mundur sejenak untuk mengukur kapan kau lemah, supaya ia bisa kembali mengklaim tubuhnya?

Kacchan seperti biasa bersikap skeptis kalau menyangkut kesadaran Korra. Ia memang tetap menghormati kedudukan Korra dan bersikap loyal sesuai tugasnya, tapi aku tahu ia menyimpan perasaan, atau lebih tepatnya penilaiannya sendiri. Ia dulu yang paling menentang klaimku atas tubuh Korra. Menurutnya, gadis itu terlalu muda, dan sifatnya kelewat dominan untuk mau dengan sukarela menyerahkan diri. Kacchan memintaku untuk bersabar dan menunda klaim atas Korra hingga ia cukup dewasa. Menyarankan agar aku mencari sosok sementara. Tapi aku tidak bisa menunggu. Atau tepatnya, takdir tak memberiku kesempatan untuk menunggu.

Tapi untuk berpikir bahwa Korra sengaja mundur agar ia bisa kembali mendominasi, kurasa Kacchan terlalu overestimate padanya.

Kau tahu ia bisa bersikap taktis jika ia mau, Alfa… Jangan menganggapnya remeh.

Ya, aku tahu itu.

Aku sudah mengenal Korra cukup lama untuk tahu seperti apa dia. Keras, tak pernah mau kalah, tak pernah mau mengalah. Lahir sebagai serigala muda yang terasing mengajarkannya untuk hanya mengandalkan dirinya untuk melindungi satu-satunya teritori yang ia tahu: dirinya. Ia Alfa bagi dirinya sendiri. Setelah terbukti gagal melindungi orang-orang yang ia cintai, ia menambah tembok perlindungan nan kokoh, menjadikannya begitu overdefensif dan overprotektif. Bahkan setelah ditaklukkan dulu, butuh waktu lama baginya untuk benar-benar mau menerima perintahku. Butuh waktu lama juga baginya untuk belajar bahwa memegang kendali bukan berarti tak mau tunduk. Mungkin aku salah mengajarkannya yang terakhir, karena begitu memahami satu hal itu, ia berubah menjadi sosok manipulatif yang akan melakukan apapun untuk mendapatkan yang ia inginkan.

'Biarkan penampilan luar menipumu' adalah konsepku yang ia terapkan total.

Tapi kali ini aku tidak merasa begitu. Korra telah menyerah. Itu yang bisa kutangkap darinya kemarin, pada kali terakhir aku bisa mendengar suaranya.

.

Ia mungkin bersikap tenang-tenang saja sewaktu kami bicara dalam koneksi antar-Alfa, tapi selanjutnya kutahu itu poker face, atau lebih tepatnya poker mind. Aku telah mengajarkannya lebih dari cukup untuk bisa memblokade pikiran dan perasaannya hingga taraf tertentu, lebih lagi untuk menunjukkannya lewat sikap. Tapi begitu aku bisa mendengar pikirannya secara langsung, bisa kurasakan gumpalan perasaan itu. Tanpa tedeng aling-aling. Kemarahannya, kekecewaannya, kebingungannya, kesedihannya, keputusasaannya, dan lebih dari segalanya: ketakutannya.

Pemuda yang bersamanya menarik ia menjauh dari kerumunan orang di depan kandang serigala, membawanya ke tempat yang agak sepi untuk mengecek keadaannya. Ia menanyakan pertanyaan-pertanyaan standar yang biasa diutarakan dokter untuk mengecek keadaan pasien yang baru saja mengalami shock. Korra tidak menjawab satu pertanyaan pun. Pikirannya sibuk bertarung denganku.

'Kenapa kau mengklaim serigala betulan?' Setelah sekitar setengah jam berusaha menjelaskan hubungannya dengan si lintah, akhirnya tanpa sadar ia mengeluarkan pertanyaan, atau tepatnya tuduhan, yang terus menghantui batinnya.

'Korra, tenang…,' bisikku, berusaha meredam kemarahannya. Tapi ia tak menungguku melanjutkan untuk terus mencecar.

'Apa aku sudah begitu tidak berharganya bagimu hingga kau tak bisa menunggu untuk mencampakkanku, Alfa? Kau tahu kau sudah tak pernah mengklaim serigala lagi sejak pertama kali kau merasuk raga. Bagaimana jika kau terseret? Bagaimana jika kau tak bisa keluar?'

Ia ada benarnya. Mengklaim tubuh hewan tidak semudah tampaknya. Hewan berbeda dengan manusia. Jiwanya dikendalikan insting. Pikirannya sederhana, tapi justru kesederhanaan itulah yang membuatnya bagai jaring yang memerangkap. Hewan hanya punya satu insting sederhana: bertahan hidup. Artinya mengenyahkan apapun yang kiranya mengancam eksistansi dirinya, termasuk dalam level roh. Memasuki tubuh hewan artinya siap mempertaruhkan kesadaranku sendiri. Aku terjebak dalam kesadarannya atau aku bisa menaklukkan kesadarannya. Tidak ada dialog, tidak ada kesadaran untuk meminggirkan diri, atau upaya untuk melebur.

Aku bahkan tak ingat bagaimana ketika pertama kali aku merasuki raga seekor serigala, berabad-abad yang lalu. Kesadaranku hampir tak ada waktu itu. Aku hanya tahu aku meninggalkan tubuh kasarku, dan aku melayang … untuk kemudian aku bangun dan mendapati diriku di dalam tubuh seekor serigala betina. Entah berapa bulan atau bahkan berapa tahun aku menjadi dirinya, menjadi serigala. Sebelum akhirnya kesadaranku menang dan aku bisa menggerakkannya dengan akalku, bukan instingnya yang menggerakkanku. Bahkan ketika rohku cukup kuat sehingga mampu mengubahnya, aku tak pernah bisa benar-benar mengenyahkan sisi serigala dalam diriku. Masih butuh waktu sekian dekade, dan upaya melebur dengan sekian jiwa manusia, hingga sisi humanitasku kembali mengemuka.

'Maaf, Korra,' kataku. 'Aku butuh makan…'

'Ha! Alasan macam apa itu? Roh tidak perlu makan…'

'Oke. Alasan sebenarnya adalah aku butuh berkomunikasi denganmu. Kau tahu kau tidak bisa bicara denganku dalam wujud roh.'

'Agar kau bisa tertangkap manusia dan diliput, supaya aku tahu kau di mana dan menjemputmu? Hah! Konyol benar!'

'Keadaan agak sulit, Korra…'

'Oh, keadaan agak sulit karena aku begitu tololnya hingga tidak punya kemampuan spiritual yang cukup untuk bisa merasakan rohmu ketika kau mendekat? Kau tahu, Alfa, aku sungguh marah padamu. Kau pergi dariku begitu saja, bahkan tanpa kutahu! Aku panik setengah mati di sini, mengingat aku juga tidak bisa menghubungi Alexandra tanpa kehadiranmu. Kau tahu apa efeknya pada tubuhku? Oh, aku sekarat di sini! Lantas aku meng-sms Alexandra dan dia tak menjawab apapun! Tidak kabarnya, tidak kabarmu… Dan kau tahu apa? Begitu kau bisa menghubungi Alexandra si Alfa dukun, ia menghubungi Kuroi! Kuroi! Apa ada yang masih menghargai kedudukanku sebagai marionette? Oh, kau bahkan tidak sempat menyampaikan pesan bahwa kau mau pulang agar aku bisa menjemputmu!'

Aneh sekali setelah setengah jam sebelumnya aku yang marah, kemudian ia merasa berhak marah padaku untuk sesuatu yang sebenarnya kesalahannya. Tapi kukesampingkan itu dan kufokuskan diri untuk menenangkannya.

'Korra, dengar…'

'Dengar apa! Aku tidak mau dengar apapun! Oh ya, aku lupa… Apa pesanmu pada Alex? Bahwa kau menyuruh Kuroi menarik Phat dari pos untuk mencari penggantiku? Benar… Aku memang sudah tidak diinginkan…'

Ia merajuk. Sangat khas dia. Lantas sejam kemudian aku habiskan dengan berusaha membujuk, menjelaskan, merendahkan diri. Apapun untuk membuatnya mengerti.

Kadang aku bertanya-tanya siapa sebenarnya yang Alfa di sini: aku atau Korra.

Antara aku dan Korra, terus terang saja, aku yang harus banyak mengalah. Bersikap sabar, menahan diri. Mundur sejenak jika ia di ambang kemarahannya, berusaha memberinya pengertian sedikit demi sedikit hingga ia bisa mencerna. Phat agak kesal dengan ini, selalu. Sikapku yang terlalu memanjakan Korra, menurutnya, menjadikannya bocah badung besar kepala yang tak tahu kedudukan.

Ya, tentu saja, sebagai Alfa atas para Alfa, seharusnya aku bisa melontarkan satu kata dan ia terpaksa harus menurut. Tapi tidak. Ini bukan cuma masalah kematangan dan kedewasaan menghadapi anak kecil, mengingat usiaku dua abad di atasnya. Nyatanya, jika dilihat dari status, aku hanya parasit tambahan di salah satu kesadarannya. Aku membutuhkan tubuhnya. Dengan segala situasi tak jelas yang mengondisikanku tak bisa berada di posisi dominan dalam kesadarannya, aku tidak bisa memandangnya hanya sekadar inangku yang biasa. Ia entah bagaimana punya kekuatan dalam level spiritual yang tak kutahu. Mungkin ini karena insting defensifnya mencegah dirinya melebur, walau aku tak yakin. Yang jelas, Korra bukan sesuatu yang bisa aku lawan dengan sama membabi buta. Jika aku bersikap keras, aku tak tahu, bisa jadi ia malah menendangku. Kemungkinan yang lebih buruk adalah jika entah bagaimana kesadarannya menjebakku untuk melebur dengannya, bukan sebaliknya.

'Dan aku tahu apa yang paling membuatku sakit, Alfa?' ia masih ribut dengan pikirannya. 'Kau mengklaim serigala betulan! Oh Tuhan… Kau bahkan tidak bisa menunggu hingga kami membawamu ke calon inangmu yang baru, ya?'

Tapi kadang, mengalah itu sulit. Ia terlalu sering melewati batas. Dan kali itu, aku merasa amarahnya berlebihan. Akulah yang seharusnya marah, melihatnya berhubungan dengan lintah. Lintah itu bahkan mengancamnya, dan ketika aku berusaha membela, Korra menyebutnya 'bukan musuh'. Aku tahu sudah seharusnya ia mengambil alih kepemimpinan tatkala aku tak ada, tapi itu bukan berarti membuat keputusan penting seenaknya. Dan setelah itu masih juga mencecarku perkara marionette, seolah bukan salahnyalah aku membutuhkan inang lain.

Jadi kali itu aku sedikit menyentaknya. Kuberi ia dua pilihan: ia diam, atau aku akan meninggalkannya. Tahu Korra, biasanya ancaman seperti apapun takkan mempan padanya. Apalagi jika itu diucapkan olehku—anak pembangkang itu sudah tahu bahwa aku tak pernah bisa benar-benar keras padanya dan ia selalu memanfaatkan kelembekanku. Anehnya, kali itu ia menanggapi ultimatumku dengan serius. Bisa kudengar pertimbangannya yang tarik-menarik, kekacauan hatinya, penyesalannya, dan begitu saja: ia menyerah.

'Berjanjilah kau akan melindungi dan menyayangi Ayah, Alfa…,' itu kalimat terakhirnya sebelum tak kudengar ia lagi.

.

Aku mengingat satu sesi ketika Korra tidur beberapa minggu lalu, sebelum aku pergi. Kawanan dibuat kesal oleh ulah Korra yang seperti biasa memaksaku mundur, sementara ia sendiri sibuk membuat masalah dan bertengkar dengan Phat.

'Kau seharusnya menunjukkan siapa yang berkuasa,' setelah beberapa lama berdebat mengenai mengapa aku membiarkan Korra, suara Kacchan berdenging, mengemukakan hal yang entah sudah berapa kali ia utarakan. Mau tak mau aku tertawa.

'Aku tidak bertarung dengan Korra memperebutkan dominasi atas tubuhnya, Kacchan. Secara teknis itu tubuh-nya.'

'Tidak semenjak kau memasukinya. Tidak ada kesadaran yang bisa melampauimu sekali kau mengklaim tubuh siapapun. Aku tak melihat alasan Korra harus dikecualikan.'

'Tubuhnya adalah teritori yang tak tergugat, Kacchan. Dia Alfa bagi tubuhnya sendiri, dan aku tetap harus menghormati. Aku tidak bisa begitu saja merebut kemerdekaan atas tubuhnya sendiri dan membuangnya jika memang ia tak menghendaki.'

'Apa bedanya itu dengan prinsip penaklukan serigala?'

Ya, Kacchan menggarisbawahi sesuatu yang penting.

Tapi ada perbedaannya, tentu saja. Menaklukkan serigala hanya menjadikannya bawahanku. Aku tidak menjajah teritorinya, tidak mengambil kemerdekaannya, tidak merebut otoritas atas kawanannya. Faktanya aku justru melindungi mereka. Bukankah itu berbeda?

'Kau harus berupaya melihat dari posisinya, Kacchan…,' kulontarkan sensasi yang kuterima dari Korra selama ini. Kegelisahannya, kesepiannya, harapannya untuk merasakan cinta seorang ayah… Berada di antara orang-orang yang menyayanginya. Asal-usulnya. Sukunya. Keluarganya. 'Jika memang aku yang pada akhirnya akan mengakhirinya, setidaknya aku ingin ia mendapatkan hal yang ia inginkan. Merasakan apa yang tak pernah kurasakan. Bisa kauanggap itu sebagai ucapan terima kasih?'

Kacchan mendesah. 'Itu sebabnya kubilang kau terlalu lembek kalau berurusan dengan Korra…'

'Hahaha. Kau bicara seolah kau cemburu…'

'Bukan itu, Alfa. Kautahu ia membuat nyaris semua orang di ambang batas? Aku tidak yakin ia takkan lepas tanpa kudeta.'

Itu mempengaruhi kadar keseriusan pembicaraan. 'Kau takkan mengkudeta Korra, Kuroi,' tekanku, memanggil nama formalnya.

'Tidak. Dan tidak akan berani… Tapi kau harus benar-benar meninjau ulang sikapmu berkaitan dengan Korra. Caramu memperlakukannnya seolah ia anak emas… Kadang aku bosan harus terus mengingatkanmu akan efeknya pada kawanan.'

Hanya padaku Kacchan membuka pikirannya seluas-luasnya, dan aku mengerti. Bahkan sebelum aku mengklaim Korra sebagai inangku, sejak pertama kali ia melangkah masuk ke dalam kawanan, aku sudah menempatkannya di posisi strategis. Aku punya alasan logis. Satu, aku melihat potensinya sebagai ujung tombak dalam menghadapi Alfa-Alfa liar. Tubuhnya yang kecil, kelincahannya, ditambah kekeraskepalaannya dalam pertempuran membuatku yakin bahwa ia adalah permata yang jika diasah akan tampak demikian bercahaya. Dua, aku ingin mempersiapkannya karena aku merasa tubuh Gwen sudah tak sanggup menanggungku lagi. Bahkan aku tak yakin aku akan sanggup menunggu hingga ia cukup dewasa—hal yang ternyata benar.

Tapi tentang perlakuanku yang kelewat istimewa?

Mungkin, ya… Urusan bahwa ia berhubungan dengan suku yang pernah menjadi rumahku selama … nyaris seabad, belum lagi menjadi asal tak kurang dari lima inangku, pastinya berpengaruh besar pada caraku memperlakukannya. Seakan aku menganggapnya benar-benar keluarga…

'Kami keluargamu, Alfa,' bisa kurasakan perih dalam pikiran Kacchan. Seketika aku merasa bersalah.

Aku tahu Kacchan menempatkan kepentinganku di atas segalanya. Ia yang membuktikan kesetiaannya padaku sekian lama. Orang pertama yang bisa kuandalkan. Tak pernah memandangku dengan pandangan benci , padahal jelas aku seakan memaksanya mendampingiku selama keabadian. Meniadakan kemungkinannya mendapatkan pasangan. Hebatnya lagi, ia tidak pernah sedetik pun menyesal. Dan seolah tidak cukup berterima kasih, aku seakan meletakkan Korra di atasnya…

'Tidak. Kau memberiku lebih dari apa yang bisa ditawarkan kehidupan. Aku bersyukur takdir mengikatku untuk mendampingimu, Alfa.'

Sungguh menyesal, kali itu pun, aku tak bisa berkata selain, 'Maaf…'

'Kau bisa kapanpun pergi dari Korra,' ucap Kacchan, mengatasi suasana melodramatis yang mendadak menguasai.

Sejak menghuni salah satu sisi pikiran Korra, aku kadang merasa sifat melankolis-terpendamnya mempengaruhiku. Ini salah. Korra yang seharusnya menjadi-aku. Bukan aku menjadi-Korra.

'Kau tahu,' Kacchan agak menelan ludah, 'kami bisa mencarikanmu calon lain…'

'Ya,' kataku sambil tertawa sinis. 'Dan pastikan dia Quileute agar aku masih bisa memasuki tempat ini.'

.

Tak kuduga Kacchan membawa candaanku sampai taraf serius.

Detik aku memasuki tubuh Korra, kutahu di balik kemarahannya, ia merasa terintimidasi dan tidak aman. Seseorang telah dipilihkan Kacchan dan Phat untuk menjadi calon penggantinya. Calon serigala yang bahkan belum berubah. Tannya Cameron.

Tannya, dari kesan yang kudapat, adalah seorang yang sangat mengesankan. Secara fisik ia mengagumkan. Secara spiritual … hmmm, katakan saja bahwa bahkan auranya dapat dirasakan oleh Korra yang kemampuannya sedang berada dalam titik terendah membuktikan betapa kuatnya aura itu.

Kubayangkan aku, menggenggam satu tubuh yang baru. Tubuh dengan aura kuat. Darah yang masih murni, belum teracuni. Dan tentu saja, tubuh dewasa dengan penampilan mempesona. Tak perlu ditanya betapa air liurku mengalir.

Terus terang, mengklaim seorang dengan darah shifter non-aktif atau shifter yang belum berubah jauh lebih mudah. Semua inangku memiliki darah shifter, tetapi hanya beberapa yang memang sudah berubah pada saat aku memasukinya. Korra salah satunya. Entah mengapa, mereka cenderung memberikan penolakan. Mungkin ada hubungannya dengan seperti ketika aku mengklaim serigala betulan: insting animalistik mereka tanpa sadar membuat benteng untuk melindungi jiwanya, membuat kesadarannya tak bisa melebur denganku sepenuhnya. Itu hanya sekadar teori, tentu. Kebenarannya sama sekali tak kuketahui.

Tentu saja pikiran Korra memberikan jawaban alternatif. Tepatnya jawaban yang ia terima dari si lintah yang waktu itu kuserang.

Semua berhubungan dengan kutukan si jahanam…

Itu artinya, siapapun putri Quileute yang kuklaim, jawabannya tetap sama. Tak masalah ia pembawa gen atau shifter, entah ia sudah berubah atau tidak. Tak masalah aku membawanya ke luar tanah ini untuk melakukan klaim. Tak masalah aku merasukinya di luar teritori yang seharusnya memang tak pernah bisa kujamah. Jiwaku tak hanya terlarang bagi tanah ini, tapi juga bagi darah mereka. Tubuh mereka.

Ya, pada akhirnya semua tidak semudah kelihatannya. Jalan buntu.

Kita tidak bisa yakin pada hal itu, Alfa, suara Kacchan memasukiku. Aku tak heran ia mendengar pikiranku dari tadi. Korra mungkin hanya satu kasus. Bagaimanapun ia adalah adik Alfa tanah ini, yang berarti pewaris utamanya jika ia menjadi bagian dari mereka.

Benar. Keluarga Black ini mungkin turunan langsung kepala suku yang menggantikanku. Dan siapa yang mengambil alih kekuasaanku? Dia. Aku takkan heran jika Korra adalah cicit buyut buyutnya. Kalau begitu, mungkin memang darahnya, atau serigalanya, secara otomatis membentengi jiwa mereka dariku.

Lantas, apakah aku akan menemukan kesempatan lebih baik dengan tubuh inang baru?

.


.

Ponsel Korra mendadak berdering ribut dari tempatnya bertengger di meja kecil di sisi tempat tidur. Nada soundtrack film animasi yang memekakkan telinga, sungguh khas dia. Entah kapan Korra akan tumbuh dewasa, di luar masalah fisiknya... Tak berniat membiarkan dering itu lama-lama menggangguku di pagiku yang tenang, aku mendesah, menjulurkan tangan menggapainya.

Sms rupanya.

Unknown Number

Kau bisa menghubungi kami kapanpun kau butuh bantuan. Kami ada di pihakmu. Berharap bisa memperbaiki kesalahan apapun di masa lampau.

-Edward Cullen-

'Cullen…'

Aku tertawa getir. Kapan terakhir kali nama itu mampir di hidupku?

Aku mengingat sosok itu. Vampir yang ada di tempat ketika aku kembali ke tubuh Korra. Ia terus mengawasi. Setelah pemuda yang dipanggil 'Seth' itu menarik Korra, kulihat seorang gadis vampir juga menarik vampir itu menjauh. Tak lagi kulihat sosoknya sejak saat itu. Tidak ia berusaha mendekat, dengan Seth yang terus memelototinya dan menggeram dengan sikap defensif.

Korra begitu antusias dengan kata 'bantuan' dan 'harapan' hingga ia sama sekali lupa satu hal. Motif. Apa motif seekor lintah berusaha membantu kami? Sudah jelas ia juga punya kepentingan tertentu.

Apalagi jika bantuan itu ditawarkan oleh seekor 'Cullen'…

Tak mungkin aku tak mengingat nama itu. Terpatri terus di benakku, bagai luka yang mengoyak jiwaku dari dalam.

Kubalas cepat, meski masih ingat untuk bicara sopan. 'Cullen', sebagaimana ia menyebut dirinya, rupanya kini sudah membangun klan dengan anggota delapan orang, belum termasuk seekor hibrida—jika apa yang aku dapat dari Korra dan Kuroi benar. Klan yang terdiri tak kurang dari seekor penggunting dalam lipatan, seekor pembantai, dan seekor ancaman, tak kurang. Betapa indahnya menjalin persekutuan dengan yang semacam itu.

AvaT4rKorRa

Harap sampaikan terima kasih kami pada pemimpin Anda. Tapi maaf, saat ini kami terpaksa menolak tawaran itu. Harap maklum. Apa yang terjadi tak semudah itu diperbaiki.

Jawabannya datang bagai kilat. Aku sampai berpikir mungkin ia bukan mengetik dalam kecepatan vampir, tetapi memiliki software yang bisa menerjemahkan pikiran ke teks.

Unknown Number

Tawaran kami masih berlaku, Kierra. Kau hanya perlu mencoba untuk sedikit percaya.

Aku nyaris tertawa. Percaya? Pada lintah?

AvaT4rKorRa

Rupanya anda tidak mengerti. Sebaik apapun kepingan-kepingan vas porselen yang hancur dilekatkan kembali, takkan bisa menyembunyikan bahwa benda itu pernah jatuh dan hancur. Kini harap Anda tidak mengganggu kami lagi.

Secepat datangnya, secepat itu pula balasan smsnya menyinggungku.

Unknown Number

Kami tahu saat ini kau sedang lemah. Kami hanya menawarkan bantuan.

Seketika sms itu membuatku blank. 'Lemah', ia bilang?

Kelemahan adalah sesuatu yang krusial dalam kedudukanku. Tidak hanya menimbang posisiku sekarang dan dampaknya bagi aliansi secara global. Di masa lalu, kelemahan adalah pangkal kehancuranku.

Bahkan walau aku mencoba menghalaunya, kilatan gambar-gambar itu muncul juga di kepalaku. Kepala Korra, tepatnya.

.

Sosok itu. Sosok dengan rambut pirangnya. Senyumnya. Sikapnya yang lembut. Kata-katanya yang bijak dan menenangkan.

Aku percaya padanya. Sangat.

Ia yang mengenalkanku pada banyak hal. Pengetahuan. Kearifan. Kasih sayang. Pengampunan. Ajaran bahwa menjadi pemimpin bukan berarti aku dapat menggunakan hak tunggalku untuk memerintah dengan tangan besi. Bahwa pemimpin yang dicintai rakyatnya lebih baik daripada pemimpin yang ditakuti.

Tapi di mana dia sewaktu aku mulai menaruh kepercayaan pada idenya yang absurd? Di mana dia ketika nyata bahwa kepercayaan dan kasih yang kuberikan justru balik menggigitku? Ketika mereka memandang sikap welas asihku sebagai tanda kelemahan dan memanfaatkan hal itu untuk menyingkirkanku?

Oh ya, dia bersamanya. Di balik bayangan, diam-diam ikut ambil bagian dalam kejatuhanku.

Tak mungkin kulupa ketika aku melayang, mengawasi potongan-potongan tubuh inangku dilempar ke dalam api yang membumbung tinggi. Mereka—orang-orang yang kupercaya—bersorak riuh, menari penuh kemenangan. Kulihat pemuda itu di antara mereka, diam menatap api. Ada senyum keji di sana. Di tangannya kulihat sesuatu terbungkus rapat kain berwarna putih. Bisa kurasakan kemarahanku, kehendak untuk melemparkannya ke dalam api dan merebut bungkusan itu dari tangannya. Dan bisa kurasakan juga kengerian memuncak, kala kulihat ia seakan hendak melempar bungkusan itu ke dalam kobaran api.

Tapi itu tak terjadi. Pepohonan tersibak dan satu sosok, manusia—bukan, lintah—keluar dari baliknya. Wajahnya tampak kaku melihat bumbungan api. Merasakan kehadirannya, seketika tarian para serigala berhenti.

"Apa yang kaumau?" bisik si wajah yang kubenci.

Sosok lintah itu mendekat. Kukira ia akan membelaku. Kukira ia akan membalas dendam atas kematianku. Kukira ia akan menyerang si makhluk jahanam. Tapi tidak. Ia bicara kaku, tanpa emosi, "Kau telah mendapatkan yang kauinginkan. Kini kuminta apa yang menjadi hakku."

Lama si jahanam terdiam sebelum akhirnya ia tersenyum. "Baik," katanya, memberikan bungkusan di tangannya. "Pergi dan pastikan kau tak pernah menginjak tanah ini lagi."

"Tentu…"

Dengan satu kata itu ia pergi. Begitu saja. Bahkan tanpa melirik dua kali. Membawa bungkusan kain putih itu di pelukannya…

Kegelapan menyelimutiku seketika, menarikku ke dasar tak bertepi.

Ya. Ia bagian dari mereka… Kusadari saat itu. Kedua orang itu yang paling tahu kelemahanku, tapi si jahanam takkan begitu pintar, atau berani, untuk melakukannya. Jenderal dari seluruh operasi itu bukan si serigala iblis, tapi dia. Lintah keji busuk. Ia dalang di balik semuanya.

.

Aku mengetik cepat, berusaha menahan kemarahan yang menggelegak.

AvaT4rKorRa

Jika ada sesuatu yang kupelajari, adalah untuk tidak menggantungkan kelemahanmu pada lintah, terutama jika ia bernama Cullen.

Ini adalah akhir pembicaraan. Kali ini kulepas kalian. Tapi jika lain kali kalian coba-coba menghubungiku lagi, akan kupastikan kalian musnah tiada bersisa.

-Tupkuk-

Ya, apa harus kuberikan kepercayaan?

Ia pernah meminta kepercayaanku. Dan ketika kuberikan, ia mengkhianatiku.

Dan ia mengambil satu-satunya yang kumiliki…

'Cullen'… Betapa kukutuk nama itu.

.


.

Kulayangkan pandangan kembali ke pekarangan. Sebuah truk memasuki halaman rumah Korra, parkir di depan garasi kakaknya. Tak lama pintunya terbuka. Seorang anak kecil turun dan berlari, diikuti seorang perempuan dan seorang laki-laki.

Sang laki-laki kelihatan menyadari keberadaanku, atau setidaknya keberadaan Korra, lantas berhenti untuk mendongak menatapku. Kulihat ia mengangguk kecil memberi salam dengan senyum tersungging di wajahnya, sebelum kembali berjalan menuju beranda.

Terdengar sedikit kehebohan di lantai bawah ketika ayah Korra menyambut mereka. Suara anak kecil merambah rumah dengan ribut. Kelihatannya ia menuju dapur, mengacaukan kulkas, dan kembali ke ruang tengah untuk menyalakan televisi dengan suara kencang. Kudengar percakapan akrab ayah Korra dengan kedua orangtuanya di latar belakang, sebelum kemudian terdengar suara lelaki tua itu di dekat tangga.

"Korra," panggilnya. "Turunlah, Nak… Sam dan Emily datang."

Ya. Sam.

Senyum menjelma di wajahku kala kesempatan itu datang. Aku tahu Korra memiliki ketakutan tertentu dengan Sam, sehingga selama ini cenderung menghindar darinya. Dengan kesadarannya memonopoli tubuhnya, aku tak pernah bisa mendekati Sam. Apalagi waktu pertemuan mereka di awal begitu singkat, sangat, dan sejak itu aku tak pernah menemuinya lagi.

Namun kesempatan ini selalu kunantikan. Kontak dengan Sam.

Aku berdehem kecil, mengetes suaraku sejenak sebelum kemudian menjawab dengan menggunakan nada Korra. Atau tepatnya lagi nada Korra yang ia pakai di rumah ini. Satu dari setumpuk topengnya.

"Ya, Daddy… Sebentar…"

Kuganti kimono mandi Korra dengan baju yang biasa ia pakai. Korra selalu berpakaian standar: jeans dan kaos, lengkap dengan jaket dan syal kalau ia keluar rumah. Aku tidak terlalu keberatan dengan gaya kasualnya—semua orang juga berpakaian seperti itu. Yang membuatku agak tidak nyaman, ia selalu memakai pakaian tertutup. Berada di tubuhnya, memang kurasakan kebutuhan itu: suhu tubuhnya yang rendah membuatnya terus merasa kedinginan. Lagipula, kutahu ia ingin menyembunyikan seluruh bekas luka di tubuhnya, tak ingin seorang pun tahu. Tapi kali itu aku tak hendak mengikuti Korra.

Kukenakan kaos lengan pendek yang biasanya hanya dikenakan Korra sewaktu bersantai sendirian di kamar. Bekas luka di lengan atas yang pernah kusebabkan bertahun-tahun yang lalu mengintip di bawah lengan kaos itu. Sam, atau ayahnya, mungkin akan menyadari bahwa Korra pernah melakukan kontak dengan serigala. Dan aku takkan berusaha menutupinya.

Kupatut diri di depan cermin. Kusisir rambut Korra, kupasang lensa kontak, dan kurapikan pakaian sekali lagi. Sentuhan terakhir: parfum untuk menyamarkan bauku, atau mungkin lebih tepat dikatakan 'menguatkan bau Korra'. Kembali kucek suaraku, dan aku melangkah tenang keluar kamar.

Mungkin baik juga jika aku mengecek apa yang mereka ketahui…

.


.

Wanita dengan luka codet di wajah itu menyambutku begitu aku menuruni tangga. Rasanya aku tak perlu heran soal bekas luka itu. Jadi aku turun dengan wajar, menghampirinya, dan membalas pelukannya.

"Halo, Korra," ia mengecup pipi kiri dan kananku. "Apa kabar? Kok kau tidak pernah datang lagi ke rumah?"

Apa Korra sempat pergi ke rumah Sam?

Aku melayangkan mata melampaui Emily. Kulihat Sam dan ayah Korra sedang duduk di sofa ruang tengah, bersama anak kecil usia balita. Sam mengalihkan pandangan dari layar, mengangguk sopan memberi salam, lantas kembali menonton entah-apa sambil berbincang-bincang.

Detik ketika aku menangkap sosok tiga orang itu, mendadak, ingatan Korra terasa begitu jauh dariku. Tak bisa kujangkau seluruhnya. Tak ada yang dapat kukonfimasi, sehingga aku memutuskan untuk bereaksi wajar.

"Maaf, Emily…," itu jika tak salah nama yang tadi diucapkan ayah Korra. "Aku sibuk sekali. Sekolah dan lainnya…"

Emily tersenyum ramah. "Ya, tentu. Kudengar dari sepupu iparku, kau termasuk murid teladan di sekolah… Pasti kau sangat sibuk belajar."

Aku bertahan untuk tidak tertawa. Korra belajar adalah hal yang nyaris menggelikan. Ia memang hobi membaca dan mendulang pengetahuan di mana-mana, tapi subyeknya sangat acak. Jangan harap ia mau membaca buku teks standar. Tahu dia, besar kemungkinan dia mencuri pengetahuan komunal kawanan untuk mendongkrak nilai. Tapi tidak curang pun, sebenarnya ia anak yang cerdas dan mudah menangkap informasi. Dia bagai spons, menyerap apapun di sekitarnya. Itu kalau dia tidak sedang error dan malah sibuk bertengkar dengan Phat saat seharusnya mendengarkan gurunya bicara, tentu.

"Sepupu ipar?" aku berupaya beramah tamah, memperpanjang pembicaraan dengannya.

"Abraham White itu paman Sam," jelas Emily.

Gambaran-gambaran mengenai Abraham White melayang di otakku. Ya, aku sendiri pernah melihatnya. Guru Matematika yang waktu itu memuji hasil tes masuk Korra.

Jadi dia berhubungan dengan Sam? Mengapa itu tak membuatku kaget, atau bahkan takut? Seolah aku tak heran Sam diam-diam mengimplantasi mata-mata di sana-sini.

"Wah, berarti kau sering dengar darinya tentangku?" dengan sengaja aku mengerling ke arah Sam. Sam tidak terlalu mempedulikanku, tengah memangku anaknya di depan televisi. Anak itu kelihatannya agak hiperaktif, terus saja berusaha menyambar remote dan memindah-mindah channel. Tapi walau konsentrasi Sam tidak padaku, aku tahu ia memperhatikan.

"Uhm, kadang-kadang, sih…" Emily kelihatannya sadar aku melirik Sam. Sikapnya agak kikuk sejenak sebelum mendadak ia menyambar tanganku, menarikku ke dapur. "Aku membawakan kalkun panggang dan muffin. Mau membantuku menyiapkannya?"

Kuikuti Emily ke dapur tanpa banyak bicara.

Terus terang, dapur bukan benar-benar keahlianku. Dulu mungkin ya, tapi tidak pernah dalam sekitar dua abad terakhir. Perkembangan teknologi dapur kelewat pesat belakangan, dan aku terlalu banyak menghabiskan waktu di tempat-tempat lain, hutan misalnya, atau membiarkan orang lain mengurus makananku sementara aku mengurus hal lain. Otomatis aku agak-agak gagap soal yang satu ini. Jadi kubiarkan saja Emily mengurus makanan sementara aku memutuskan melakukan hal yang lebih mudah: membuat limun.

Emily memperhatikanku kala aku mengangkat tangan kiriku untuk mengambil gelas-gelas dari lemari makan. Ia terkesiap sejenak, tapi lantas menunduk, tak berkomentar apa-apa, dan beranjak ke sisi lain dapur. Aku tak tahu, ia pergi ke kulkas memang dengan niat awal untuk membantuku atau menghindar dariku. Tak lama, ia kembali dengan beberapa butir jeruk lemon, dan tanpa bicara memotong-motongnya.

"Biar kuperaskan," tawarku.

Ia tidak bilang apapun sewaktu menyerahkan butir-butir lemon itu padaku. Wajahnya banyak menunduk, seakan larut dalam pikirannya sendiri. Yang kutahu, ia mencoba tidak melihat padaku.

"Putramu manis sekali, Emily," aku mengajaknya bicara sementara memeras lemon di sebuah mangkuk besar. "Berapa tahun usianya?"

"Empat…," jawabannya begitu lirih. Seakan ia tak ingin berada di situ, di sisiku. Dalam hati aku tersenyum. Astaga, beda betul sikapnya dengan yang tadi.

"Oh," kataku tenang, mengambil toples berisi gula dan garam, menakarnya dan memasukkannya ke mangkuk. "Dia bersekolah?"

"Eh, ya… Di taman kanak-kanak…"

"Wow… Kelihatannya dia cerdas dan aktif, ya… Menurutmu apa ia akan, kau tahu, tumbuh seperti ayahnya? Besar dan kuat…" aku menekankan dua kata terakhir.

Reaksinya sungguh unik. Ia menahan napas dengan mata membelalak menatapku, mundur selangkah. Kengerian jelas ada di sana.

"Kenapa, Em?" tanyaku santai. "Bukankah wajar bila seorang anak laki-laki mirip ayahnya begitu dewasa nanti?"

Ia kelihatan berusaha mengumpulkan ketenangannya, meski gagal. "I, iya…," katanya terbata, kembali berdiri di sisiku dan memotong lemon lagi.

"Kau tahu, Emily," kataku, "boleh aku menjadi baby sitter anakmu? Aku suka anak kecil... Dan aku juga butuh uang saku tambahan…"

"Ta, tapi… Aku ibu rumah tangga dan setiap saat ada di rumah, jadi…"

"Kau pasti sibuk mengurus rumah. Biar mulai besok aku membantumu menjemputnya di sekolah…"

Ia makin gugup. Panik, bisa dibilang.

"Oh, aku tidak minta bayaran mahal…," kataku lagi. "Berada di dekat anak-anak selalu membuatku senang…"

Emily, bagaimanapun, belum sempat mengeluarkan reaksi apapun lagi karena Sam muncul di ambang dapur. Ketegangan terlukis di wajahnya, sebelum ia sadar untuk bersikap kasual dan berdehem-dehem.

"Ada apa, Em?" tanyanya.

Karena Emily tampak terlalu tegang untuk menjawab, aku yang menjawabkan untuknya. "Tidak, Sam. Aku hanya menawarkan jasa baby sitter… Tampaknya Emily tidak tertarik. Atau mungkin aku melakukan suatu kesalahan hingga tidak diterima lagi di rumahmu?"

Sam mengerjap beberapa kali, lantas menjawab, "Ti, tidak… Tentu kau diterima, Korra. Mana mungkin tidak?" Kelihatan benar ia terpaksa.

Kukembangkan senyum ramah sembari menatap Sam. Orang yang bersangkutan tampak bergerak ke kanan-kiri, seolah tanah yang dipijaknya siap merekah kapan saja.

Ya, bisa dibilang mereka memasang penjagaan kelewat tinggi. Kegugupan yang sama sekali tak perlu. Huh, memangnya ini bisa disimpulkan apa lagi?

Belum aku kembali membuka mulut, ayah Korra sudah menggelindingkan kursi rodanya menghampiri kami, menepuk punggung Sam.

"Hei, sedang apa kalian berkumpul di dapur?" kata-katanya yang begitu santai membuat kami semua berpaling padanya. Ia sekilas memandang Sam dengan tatapan yang kutangkap sebagai peringatan sebelum beralih menatapku. Tawa lebar tersungging di sana. "Kulihat kau membuat limun, Korra? Dan katanya kau juga membawa muffin dan cake, Em? Ayo bawa ke ruang tengah…"

"Ya, Daddy," aku meniru nada ceria Korra. Di bawah tatapan canggung Emily dan Sam, kutuang limun di mangkuk ke dalam pitcher, lantas membawanya ke ruang tengah beserta setumpuk gelas. Sam mengikuti di belakangku, membawa loyang besar berisi kalkun panggang yang baru keluar dari oven. Sedangkan Emily masih di dapur, menata muffin dan memotong-motong cake.

"Kenapa kau malah membawa kalkunnya ke sini? Taruh di meja makan, lah!" seru ayah Korra, begitu Sam, agak tidak berkonsentrasi karena matanya sibuk mengekorku, menyusul kami ke ruang tengah. Sam bergumam tak jelas, berbalik ke dapur. Ayah Korra mengikutinya, menyuruhnya menurunkan piring-piring dan alat makan dari lemari dapur, lantas menatanya di meja.

Aku menatap jam kukuk di dinding. Pukul 1 siang rupanya, sudah lewat dari jam makan siang. Kurasakan rasa lapar dan haus di tenggorokanku. Kuingat semalam aku belum makan.

Suara celotehan anak kecil terdengar di antara keributan televisi dan denting piring di meja. Ayah Korra tengah sibuk memberi perintah di sana-sini, sementara Sam dan Emily bulak-balik menata makanan. Kuletakkan nampan berisi limun di meja pendek di depan televisi, lantas mendudukkan diri di sofa, meraih remote hendak mengoper televisi. Namun gerakanku terhenti ketika kusadari putra Sam menatapku dari ujung sofa dengan pandangan ingin tahu.

Sejujurnya tadi itu aku berbohong. Aku tak pernah terbiasa dengan anak kecil seusia itu, tapi melihatnya membuat memoriku merambah ke tempat-tempat yang tak pernah lagi kusentuh. Bagaimana rasanya memeluk seorang anak di dadamu? Bagaimana rasanya menyesap kehangatannya? Bagaimana kala detak jantung kecilnya teraba di kulitmu?

Tanpa kusadari benar-benar, tanganku terulur.

"Hai anak manis," sapaku pelan. "Siapa namamu?"

Ia mengerjapkan mata bundarnya dan menjawab dengan suaranya yang cadel, "Joshie…"

"Aku Korra," kataku. "Mau ke sini?"

Kukira ia akan menggeleng dan lari ke ayahnya, menghindar dari orang asing sepertiku. Tapi tidak. Ia mengangguk manis, dan begitu saja, anak kecil itu merangkak menghampiriku, memanjat pangkuanku. Melingkarkan tangan mungilnya di leherku dan mendekapku.

Kupeluk ia. Kurasakan kehangatannya. Detak jantungnya. Dan segala sesuatu di sekitarku memudar.

Hingga mendadak, kudengar suara pekik pelan dan denting logam membentur lantai. Aku menoleh, dan melihat Emily membeku di ambang dapur. Menatapku bagai menatap hantu. Tangannya membekap mulutnya.

Sam dan ayah Korra segera berpaling ke arahku. Dan betapa aku ingin tertawa, ketika kusadari wajah Sam berubah biru melihatku sedang memangku anaknya. Bocah 4 tahun itu, yang dari ingatan Korra kutahu bernama Joshua Uley, dengan akrabnya bergelayut padaku. Satu tangannya memeluk leherku sementara satunya lagi meraih remote dari tanganku dan dengan asyiknya mengoper-oper channel. Tidak seperti sebelumnya ketika ia selalu bertingkah hiperaktif, kali itu ia begitu tenang.

Sedetik Sam membelalak, dan detik kemudian ia sudah menjembatani jarak sepuluh meter antara meja makan dan ruang tengah. Sikapnya antisipatif, tapi ia menahan diri. Di belakangnya, ayah Korra mengikuti dengan wajah tegang.

Senyum mengembang di wajahku.

Kuciumi rambut dan tengkuknya, membuat mata Sam lepas dari rongganya. Kurasa napasnya terputus di situ.

Butuh waktu sekian detik sebelum akhirnya Sam bisa menemukan napasnya, kini mendekat hati-hati. "Korra, bisa tolong turunkan Josh?"

"Kenapa?" tanyaku, bangkit dan berputar menghadap Sam dengan pandangan tidak mengerti. "Kelihatannya dia menyukaiku…" Kupalingkan wajahku pada anak itu dan bicara bahasa bayi, "Ummmm… Auntie Kolla chayang Jocchie yaaaaa… Auntie Kolla bukan olang jahat kan yaaaa?"

Joshie tidak menjawab, masih sibuk dengan mainannya. Kusapukan pipiku ke pipinya. Joshie melepaskan perhatiannya dari televisi, kini mendekapku lebih erat.

"Kumohon, Korra…," suara Sam terukur, sementara ia mendekat langkah demi langkah. Ia mengulurkan tangan, beranjak hendak mengambil alih anaknya dariku.

Tapi si anak begitu lengket padaku, menolak berpindah ke gendongan ayahnya. Menepis tangannya dan berteriak, "Tidak mau!" dengan suara cadelnya. Bahkan kini ia memeluk leherku erat-erat.

"Lihat, dia benar-benar suka aku!" seruku riang. Kembali kuhujani ia dengan ciuman. Kupejamkan mataku. Kuendusi rambutnya yang beraroma strawberry. Kuletakkan hidungku di lehernya, menghirup aromanya dalam-dalam.

Sam kelihatan seakan hampir meledak. Gemetar terlihat di tangannya ketika seakan siap mengambil ancang-ancang menerjangku untuk merebut anaknya, jika perlu menarik tanganku hingga putus. Namun ayah Korra lebih cepat, menggulirkan kursi rodanya dan menahan Sam bahkan sebelum ia sempat mendekat.

"Oh, tenanglah, Sam," celanya. "Anakmu apet dengannya. Korra takkan melukainya. Ya kan, Korra?" walau ia jelas berusaha keras tampak biasa-biasa saja, matanya yang penuh kekhawatiran mengkhianatinya.

"Tentu, Daddy," senyumku.

Pasti beberapa tahun hidup bersama dan berbagi pikiran dengan Korra, ditambah beberapa bulan terakhir ada di dalam tubuhnya, bukan tanpa hasil sama sekali. Mana mungkin aku sama sekali tak bisa memainkan topengnya?

"Oh, aku benar-benar suka anak ini…" kataku dengan keriangan berlebihan. Meniru adegan di film keluarga manapun yang dulu sering ditonton Korra sambil bercucuran air mata, aku melakukan gerakan afeksi standar. Mengayunkannya berputar, lantas memeluknya erat. Joshie tertawa-tawa riang, tapi kemudian ia terbatuk ketika pelukanku makin kencang.

"Kumohon, hentikan…," Emily menghambur ke arahku, tapi Sam menahannya. "Kau akan membunuhnya…" jeritnya pilu, sementara menggelayut di pelukan Sam. Ia kelihatan hampir menangis.

"Kenapa aku akan membunuhnya? Satu pelukan toh takkan berbahaya…" aku bersikap tak tahu menahu, memeluk Joshie makin kuat. Kini ia terlihat seperti sesak napas. Matanya berair dan ia mulai menjerit kesakitan. Tangannya memukul-mukulku. Mata tiga orang di situ melebar. Emily mulai menangis dan Sam bergetar makin hebat.

Aku tersenyum, melonggarkan pelukanku.

"Oooh, Jocchie chayang… Maafkan Auntie Kolla yaaaa...," aku menggosok-gosokkan pipiku ke kepalanya. "Auntie gemaaaaassss… Habis Jocchie manis sekaliiii…" Ia masih menangis, tangannya liar menggapai-gapai ke arah orangtuanya. Tapi baik Sam maupun Emily masih tak berani bergerak.

"Apa maumu?" bentak Sam.

"Astaga, Sam, aku minta maaf…," aku masih bersikap sok tidak bersalah. "Aku benar-benar tak sengaja…"

"Aku sudah menerima pesanmu. Jelas sekali," katanya lagi. "Tak usah pura-pura lagi. Sekarang katakan apa maumu!"

Emily memberanikan diri mendekat dan kali itu aku tidak menahan Joshua lagi. Kuserahkan anak itu padanya, yang segera saja mulai tenang di dalam pelukan ibunya.

"Sederhana," kataku memulai. Mataku tak lepas dari Sam, menggarisbawahi bahwa aku bicara padanya. Seakan menunjukkan bahwa aku tahu, pemimpin di antara mereka bukan ayah Korra, tapi Sam.

Belum lagi aku membuka mulut, tahu-tahu terdengar seruan dari pintu.

"Korra! Kok kau masih di sini?"

.


.

Semua yang ada di ruangan menoleh seketika. Sam bahkan sampai menampakkan wajah kejam dan hampir menggeram, ketika dilihatnya sosok pemuda berkemeja kotak-kotak merah muncul seenaknya di ambang pintu. Senyum riang menempel di wajahnya.

"Eh? Apa?" seketika senyuman itu hilang, berganti menjadi kebingungan, demi melihat sikap Sam. Atau tepatnya, demi melihat betapa anehnya adegan yang muncul di hadapannya: aku yang berdiri di depan tiga orang dengan posisi dan sikap yang aneh. Emily yang menangis, berusaha menenangkan anaknya. Ayah Korra yang membeku seperti vampir yang mengalami serangan jantung. Dan terutama, Sam yang memandang kaku penuh amarah.

Sam mengerjap, menggeleng. "Ti, tidak… Kami hanya … bicara…"

"Tidak begitu yang kulihat…," pemuda itu menghampiriku, kerutan curiga tampak di wajahnya. "Ada apa, Korra?" tanyanya padaku.

Aku merenung sejenak, menatap wajahnya, berusaha mengenalinya. Oh ya, ini Collin, sepupu Korra.

Kuputuskan melakukannya sesuai cara Korra.

Kupasang wajah sedih dan menyesal. Spontan, Collin mengulurkan tangan. Aku menyambutnya, memasuki rengkuhannya.

"A, aku gemas... Tak sengaja memeluk Joshie terlalu kencang," kataku, sengaja menambahkan gemetar di suara dan bahuku. "Ia kesakitan dan Sam marah…"

Collin terperanjat, tapi ia memelukku dan menepuk-nepuk bahuku. "Ssssh, sudahlah, Korra… Kau kan tak meniatkannya…"

"Tidak meniatkan apa!" jerit Emily. "Dia bisa membunuh anakku!" Kontan sang anak kaget dengan jeritan ibunya. Ia mulai menangis lagi.

"Sudah, Em, jangan berlebihan!" bentak Collin protektif. "Satu pelukan takkan membunuh siapapun!"

"Jangan membentak istriku!" seru Sam.

"Dia duluan yang membentak Korra!" balas Collin. Mereka tampak sudah saling siap tempur sebelum ayah Korra menggulirkan kursi rodanya ke antara mereka berdua.

"Cukup!" katanya. Bisa kulihat ia memandang tajam padaku, seolah akulah yang menjadi biang keladi semua ini. Dalam hati aku tersenyum.

Dari kesan yang kudapat dari Korra tentang ayahnya, kutahu lelaki tua itu sangat menyayanginya. Korra juga sama. Jika tidak, tak mungkin ia memberiku pesan terakhir untuk menjaga sang ayah sebelum ia menenggelamkan kesadarannya. Tapi apa yang kulihat di sini sama sekali berbeda. Tatapan sang ayah, reaksinya yang berlebihan… Dan juga kesan selintas yang kutangkap dari memori Korra, kebingungannya ketika sang ayah panik sewaktu ia pulang sekolah, pada hari yang sama ketika di televisi disiarkan berita mengenai penangkapan serigala putih.

Oh, tidak hanya sang ayah. Sam. Emily.

Aku tak perlu berpanjang-panjang lagi. Kesimpulan hanya mengarah pada satu hal.

Mereka tahu.

Dan bukan sekadar tahu. Mereka tahu banyak.

Namun menghadapi mereka sekarang bukan sesuatu yang layak kulakukan. Tidak karena tak hanya ada satu serigala, tetapi dua. Jika aku meneruskan permainan, dua serigala ini akan saling berhadapan. Sam sudah siap menyerangku dan Collin sudah siap membelaku. Bahkan aku tak perlu menambahkan hasutan untuk membuat mereka bertempur.

Permasalahannya: apa gunanya?

Ketika kesadaran Korra menghilang tanpa melebur denganku seperti saat ini, aku tak dapat menggunakan kekuatannya untuk merasakan aura, sehingga aku tak bisa menilai peta kekuatan mereka berdua begitu mudah. Namun dari pandangan Korra dulu, ia menyebut Sam 'Alfa yang dikalahkan' atau 'Mantan Alfa' atau semacamnya. Auranya kuat dan megah, tapi bernoda. Sedangkan pemuda Collin ini, ia memakai kata 'Putra Mahkota'. Calon Alfa dari kawanan yang berkuasa sekarang. Sudah pasti di kasus manapun juga, mereka yang telah dikalahkan menempati posisi yang tidak strategis.

Lantas apa yang terjadi jika Sam kalah?

Aku tahu lebih logis membiarkan saja semua itu. Ia kalah, dan mungkin diusir dari sini atau bahkan mati terbunuh, artinya aku aman. Jika Sam memegang rahasiaku, jauh lebih baik jika ia sekalian saja disingkirkan. Namun ada sisi lain dari diriku yang terus berbisik, menahan. Mengatakan bahwa pengetahuannya adalah sesuatu yang tak bisa kusepelekan. Bahwa itu bisa mengarah pada sesuatu yang … bukan 'bagus', tapi 'penting'.

Dan jika Sam menang?

Tidak perlu ditanyakan apa yang akan terjadi. Ia akan menganggapku sengaja melancarkan hasutan. Ayah Korra jelas di pihaknya. Mungkin mereka akan dengan senang hati menendangku dari sini seperti dulu. Mengusir tubuh Korra. Lantas aku harus mulai lagi sejak awal, mencari putri Quileute yang bisa membawaku masuk… Aku bahkan belum sempat mengutarakan apapun, atau mencari tahu apapun. Penyelidikan Korra selama ini, bisa dibilang, terlalu lamban… Ia malah mengurusi hal-hal lain dan tidak fokus sama sekali pada tugas awal.

Bukankah sudah jelas, apa yang harus kupilih?

Aku membiarkan kantung mataku terisi air. Korra biasanya begitu mudah berpura-pura menangis dan ketika aku di sini, kusadari aku pun bisa dengan mudah memanfaatkan bakat Korra yang satu itu.

"A, aku benar-benar minta maaf, Sam, Em…," kataku dengan nada mengiba. Sebagai aksentuasi, kutampakkan sikap gugup, menggigit bibir dan menautkan alis.

Betul dugaanku, di mata Sam aku mulai menjelma sebagai sang penghasut, atau ia tak tahan karena aku melibatkan anaknya dalam skema yang jelas ia nilai sebagai ancaman. Berbeda dari Sam yang pertama kulihat, yang dengan tenangnya terus menekan; atau kesan mengenai Sam di mata Korra, sosok yang menggerakkan biji-biji caturnya dengan penuh perhitungan, kali itu ia kehilangan kepala dinginnya dan membentak, "Cukup! Kau wanita keji…"

"Sam!" seruan itu tidak datang dari Collin, tetapi dari ayah Korra. Kudengar geraman dalam Sam, tapi ayah Korra tidak mundur. "Masalah ini selesai sampai di sini dan aku tidak ingin ada keributan lagi!" serunya dengan otoritas yang mengingatkan pada sosok seorang Alfa.

Tak lama ia berpaling pada Collin.

"Kau," katanya. "Ada perlu apa kau ke sini?"

Collin agak mengerjap, tapi lantas katanya, "Um… Aku mau mengajak Korra untuk latihan di rumah Brady. Sebenarnya sudah mulai sejak jam 11, sih… Tapi Korra tak kunjung datang, jadi anak-anak menyuruhku menjemput…"

"Latihan?"

"Untuk penampilan di acara api unggun minggu depan."

Ayah Korra tampak mengerutkan kening, lantas melirik ke Sam. "Aku tak bilang Korra akan datang…"

"Aku mengundangnya," kata Collin. "Sebenarnya kami mengundangnya: Brady, Pete, Ben, dan aku." Sebelum dua Tetua di situ menggugatnya, ia sudah melanjutkan, "Korra pandai menari dan ia pasanganku di kelas Budaya. Dan mengingat ia … kau tahu," ia melirik sejenak ke arahku, "kurasa tak ada salahnya…"

"Kau tahu itu pertemuan tertutup."

"Tapi anak-anak akan membawa im … ehm, 'pasangan' mereka."

"Kau tahu hukum itu."

"Tapi ia juga…"

"Cukup. Di sini aku yang memutuskan, Collin, bukan kau," kata ayah Korra tajam yang membuat Collin menunduk.

"Maaf…"

Dari kadar keseriusan pertimbangan mereka mengenai kehadiranku, kutahu itu bukan acara sembarangan. Pasti ada sesuatu yang penting di sana.

"Kurasa aku ingin ikut, Daddy," kataku langsung. "Aku pernah beberapa kali mengikuti acara serupa di mana-mana. Mungkin akan menyenangkan…," kutambahkan pandangan tajam bak tantangan, langsung ke mata Sam.

Sam menangkap mataku. Lama ia tampak sibuk dengan dirinya sendiri di balik mata yang membalas tatapanku dengan intens, tak berkedip sekali pun, sebelum akhirnya ia bicara, "Baik, Cole. Korra boleh ikut."

Collin melonjak, tapi ayah Korra berdesis memperingatkan, "Sam!"

"Oh, kurasa tak apa Korra ikut, Billy," katanya. "Lagipula Korra pasti ingin tahu sesuatu. Kurasa ia berhak tahu… Benar begitu, Korra?"

Ia tersenyum mengerikan, yang bagiku tampak justru bak satu kemenangan.

Aku balas tersenyum. "Benar…"

.


.

Catatan:

'...' = kalimat pikiran langsung dalam adegan flashback.

Ada bagian-bagian tertentu dalam Kierra POV yang dia ga terlalu kelihatan berwibawa. Aku nyoba bikin dia aga humanis, dan sedikit banyak kepengaruh sifat Korra pas dia ga lagi ngomong formal. Soalnya, pas chapter 'Adik' juga, sosok Kierra pas di tubuh Keumala dan Sira agak berbeda.

Thx untuk dukungan pada cerita ini, khususnya yang masih terus baca n ripiu… Balasan buat yang ga bisa di-PM:

Rhie: alasan Kierra n ngapain aja selama dia pergi nanti dijabarinnya, hehehe... Ya Ed nongol ntar muncul lagi kok. Makasih untuk pertanyaan-pertanyaannya...

Perusak suspense: hahaha... yah ketauan deh :( aduh, Akashinya kemana ya? lagi gunting rumput kayanya...

Cwellia: pertanyaannya banyak. ntar dikit2 bakal dijawab ya... :D yang ngejalin hubungan sama volturi tu korra. kalo kierra baru ditawarin doang tapi dia nolak (karena maruk, sebenernya)

Miss Elaine: emang dia karakter dengan banyak segi, tapi biasanya banyak orang begitu kan? phat nyarinya tanpa sepengetahuan alfa, tapi mereka ngelakuin bukan tanpa dasar. cosetta alfa yang lama, hubungan sama kuroi di luar hubungan profesional? hmmmm... aku punya konsep tersendiri soal batas fanfic n orific, jadi walo banyak oc ak tetep masukin ini ke fanfic.

Korra Korrahatwr & Guest: waduhhhh... moga2 walo pada ga suka korra, tetep stay tune ya...

Katy Cullen: ya, pertemuan di bonbinnya jadi. gimana?

Thx sekali lagi... R&R? Show me love by hit the review box below...