"Ck!" Arrum berdecak sambil memasuki kamar Kyuhyun dan Changmin.
Beberapa menit yang lalu, Changmin kembali ke rumah bersama dengan Kris, dan yang paling membuat seisi rumah terkejut adalah keberadaan Kyuhyun di dalam gendongan Changmin. Mereka tidak tahu sama sekali kalau Kyuhyun keluar, karena terakhir yang mereka ingat, Kyuhyun meminta izin karena dia ingin istirahat.
"Minwoo menculiknya," jawab Changmin.
"Menculiknya?!" seru mereka.
"Ya, sesuatu semacam itu." Changmin segera menaiki tangga. Tidak mempedulikan seluruh orang dirumah sedang kebingungan.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Arrum, meletakkan baskon air hangat di atas nakas.
Kyuhyun yang sedang berbaring di tempat tidur hanya mengangkat bahu. Dia terlalu malas menceritakan semuanya karena tubuhnya benar-benar lemas. Lagi pula, dia juga tidak begitu ingat. Dia hanya ingat ketika memasuki kamar, ada Minwoo di tempat tidur, mereka berbicara sebentar sebelum akhirnya dia diseret menuju hutan. Lalu dia tidak ingat apapun.
"Dimana Kris?" tanya Changmin yang baru keluar dari kamar mandi. Namja itu sudah terlihat seperti biasa. Tanpa ada lebam ataupun luka sedikitpun.
"Di bawah. Menjelaskan apa yang terjadi pada semua orang." Arrum mencelupkan handuk ke baskom yang berisi air hangat, lalu mengusapkan handuk yang sedikit lembab itu pada pipi Kyuhyun yang terlihat membengkak. "Umma menyuruhku mengobati pipi Kyuhyun, karena kau pasti tidak bisa melakukannya." Arrum melirik Changmin sinis. "Dasar suami tidak berguna!"
Kyuhyun menyenggol lengan Arrum. Memperingatkan.
Changmin mendelik. "Hanya luka kecil seperti itu aku bisa mengobatinya." Changmin segera menghampiri tempat tidur, lalu mengusap pipi Kyuhyun yang membengkak dengan tangannya. Sekian detik kemudian pipi Kyuhyun terlihat normal. "Kau lihat?"
Arrum mendengus, lalu melempar handuk yang dia gunakan untuk mengompres pipi Kyuhyun ke dalam baskom. "Lalu kenapa Umma menyuruhku kesini, kalau kau bisa melakukannya?!"
Changmin kembali tersenyum sinis. "Tentu saja karena Umma tidak ingin kau memelototi Woobin seolah kau akan memakannya saat itu juga!"
Wajah Arrum langsung memerah. "Aku tidak seperti itu!"
Changmin menggeleng tidak setuju. "Kau memang begitu. Tidak perlu mengelak." Lalu tatapan Changmin berubah serius, "Kenapa Woobin bisa disini?"
"Bukan urusanmu, kan?" balas Arrum ketus. "Sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi!"
"Aku ingin istirahat." Changmin langsung bangkit dari posisi duduknya, memutari tempat tidur, dan baru akan membaringkan tubuhnya disamping Kyuhyun ketika Arrum mengarahkan tatapannya pada Kyuhyun. "Jangan tanya-tanya pada Kyuhyun. Kyu, kau harus istirahat!"
Kyuhyun terkekeh melihat Arrum cemberut.
Arrum bersidekap. "Aku tidak akan pergi dari sini."
"Memangnya aku peduli?" balas Changmin tak acuh. Lalu benar-benar membaringkan tubuhnya sambil memejamkan mata.
"Dasar menyebalkan!" Arrum keluar dari kamar sambil membawa baskom air hangat, dan membanting pintu.
"Kenapa kau menyebalkan sekali?" tanya Kyuhyun.
"Kau tidak usah meniru Arrum," kata Changmin tanpa membuka matanya sama sekali.
"Bukankah kau memang menyebalkan," gerutu Kyuhyun dengan suara rendah, lalu memutar tubuhnya membelakangi Changmin.
Tanpa membuka matanya sama sekali, Changmin ikut memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan punggung Kyuhyun. Sambil tersenyum samar, Changmin mengangkat tangannya dan meletakkannya di pinggang yeoja itu. Memeluknya. "Kau tidak menyesal menikah denganku, kan?"
"Apa?"
"Tidak ada," jawab Changmin, sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Kyuhyun. "Selamat istirahat, Kyu."
oOoOoOoOo
Kyuhyun membuka matanya ketika merasakan rambutnya di tarik-tarik. Dia tersenyum lebar ketika melihat Min Hyun tengah menatapnya dengan matanya yang bening. Dengan gerakan pelan –berusaha untuk tidak membuat Hyun Min terbangun, Kyuhyun merubah posisinya menjadi duduk, dan meletakkan Min Hyun ke atas pangkuannya.
"Kenapa Minnieterbangun?" tanya Kyuhyun nyaris bebrisik.
Kyuhyun menoleh ke arah jam, dan menguap ketika mendapati jam masih menujukkan pukul 2 dini hari. Min Hyun di pangkuannya sibuk berceloteh dengan bahasa bayi yang tidak Kyuhyun mengerti sama sekali, hingga akhirnya anak keduanya itu menunjuk pintu balkon.
"Minnie ingin keluar?"
Min Hyun tertawa, sambil mengangguk.
Kyuhyun mencium pipi Min Hyun gemas. "Baiklah. Tapi jangan berisik dan membuat saudara kembarmu terbangun."
Min Hyun kembali tertawa.
Kyuhyun membuka tirai yang ada di pintu balkon. Melihat keadaan di luar. Tampaknya cukup terang. Tapi tidak seterang bulan purnama. Mungkin satu atau dua hari lagi baru bulan purnama.
"Minnie lihat hutan itu? Appa sedang disana," ujar Kyuhyun sambil menunjuk hutan yang ada di taman belakang. Saat ini mereka berdua sudah berdiri di ujung balkon dan menikmati suasana dini hari. Terdengar suara-suara binatang kecil yang bersahutan, dan hutan yang di sana terlihat berkabut padahal sedang musim panas.
Min Hyun mencondongkan tubuhnya ke depan, seolah ingin menggapai hutan tersebut.
"Anniyo, kita tidak boleh kesana." Kyuhyun duduk di lantai balkon sedangkan Min Hyun berdiri dengan memegang besi balkon tersebut. "Duduk manis disini."
Min Hyun berbicara dengan bahasanya sendiri seolah mengatakan kalau dia benar-benar ingin pergi ke hutan itu.
"Disana ada banyak hantu, dan hantu itu memakan anak kecil sepertiu Minnie. Minnie mau di makan oleh hantu itu?" tanya Kyuhyun, menakut-nakuti putrinya sendiri.
Min Hyun menatap Kyuhyun tak mengerti. Bayi berusia satu tahun lebih itu mengerutkan kening.
Kyuhyun tertawa. "Astaga! Kau benar-benar mirip Appa-mu saat bingung seperti itu."
"Kyuhyun!"
Kyuhyun tereranjat, lalu menoleh ke bawah. Dia mengerutkan kening, sangsi. "Arrum?"
"Yes. Aku Arrum. Yeoja tercantik di keluarga Shim."
Kyuhyun tergelak. "Naiklah."
Beberapa saat kemudian, Arrum sudah berada di balkon bersama dengannya dan Min Hyun. Putrinya itu tampak senang melihat Arrum, karena begitu Arrum tiba di atas, dia langsung mengejar bibinya itu.
"Kenapa kau diluar sendirian? Bagaimana kalau ada vampire yang tiba-tiba datang?" protes Arrum setelah Min Hyun duduk manis di pangkuannya.
Kyuhyun menunjuk Min Hyun dengan dagunya. "Dia membangunkanku, dan memintaku untuk membawanya ke balkon."
Arrum mengangguk mengerti. Dia mencium kepala Min Hyun berkali-kali hingga yeoja kecil itu tertawa senang. Sedetik kemudian, dia langsung menatap Kyuhyun serius. "Sebenarnya apa yang terjadi ketika di hutan?"
"Bukankah kau sudah tahu?"
"Menurutmu, aku tahu dari mana?" balasnya kesal.
"Memangnya orang rumah tidak menceritakannya padamu?"
Arrum menggeleng. "Begitu aku turun, mereka sudah selesai bicara."
"Aku tidak ingat," ujar Kyuhyun pelan. "Yang aku tahu, Minwoo tiba-tiba muncul di kamar. Membicarakan hal yang tidak kumengerti. Nyawa di bayar nyawa? Entahlah. Intinya, dia lah dalang dari semua ini. Dia yang membuat Changmin tidak bisa membaca pikiranku, dia yang menculik Hyun Min, dia yang menyadap telepon Changmin, semuanya. Dia pelakunya. Lalu dia membawaku ke hutan dan aku tidak ingat apapun."
"Sedikitpun?" tanya Arrum.
Kyuhyun mengangguk. "Dia ingin balas dendam kurasa. Tapi, semuanya sudah berakhir. Aku tahu itu."
"Kau yakin?" tanya Arrum sangsi. Bagaimana mungkin Kyuhyun seyakin itu?
"Kau tahu, terakhir kali yang kuingat adalah mata milik Minwoo. Lalu semuanya berubah gelap. Aku merasa berada di suatu tempat yang cukup nyaman. Tempat yang aku merasa bahwa disana tidak ada kesedihan, keputus-asaan, atau hal menyedihkan yang lainnya. Yang ada hanya kebahagiaan, kedamaian, dan jenis tempat yang membuat semua orang betah berada disana." Kyuhyun menghembuskan napas perlahan. Dan bayangan akan New Zealand kembali muncul di pikirannya. "Tempat itu tidak ada apa-apanya dibanding New Zealand."
"Lalu?" tanya Arrum penasaran.
"Tapi aku tidak ingin berada disana. Tempat itu jelas tidak nyata. Maksudku, kenapa aku harus berada disana? Bukannya hidup tanpa ada hal menyakitkan sama sekali bukan hidup? Bukankah tanpa itu semua kita tidak akan tahu apa itu kebahagiaan?"
Arrum menatap Kyuhyun takjub.
"Meskipun aku tidak ingin berada disana, aku tidak bisa pergi begitu saja. Aku ingin bangun dan membuka mata, tapi semuanya terasa sulit. Sesuatu disana menahanku, membayangiku dengan segala macam kebahagiaan, keindahan, dan hal-hal yang tidak mungkin kurasakan selamanya di dunia nyata." Kyuhyun mantap hutan yang kabutnya bertambah parah. "Tapi aku tahu, hal-hal di dunia nyata jauh lebih sempurna dari pada yang ada disana. Bagaimanapun mereka membayangiku, keinginanku untuk kembali jauh lebih kuat. Aku punya keluarga dan sahabat. Aku juga punya Changmin dan keempat anak-anak kami. Dengan kesempurnaan itu, menurutmu aku akan bertahan disana?"
Arrum terus menatap Kyuhyun.
"Lalu entah bagaimana, tiba-tiba saja tubuhku terasa di tarik, dan aku sudah berada dalam pelukan Changmin. Dan saat itu juga, aku yakin bahwa semuanya telah selesai. Masalahku dengan Minwoo. Atau masalah kau dengan Minwoo."
"Aku?" Arrum menunjuk dirinya sendiri.
Kyuhyun berdecak. "Aku tahu kau Changmin, jadi berhentilah meniru rupa kembaranmu sendiri!"
Sedetik kemudian, rupa Arrum yang duduk di hadapannya berganti dengan Changmin. Namja itu tertawa sumbang. "Sejak kapan kau tau ini aku?"
Kyuhyun mendelik. "Tampaknya, aku benar-benar bodoh dimatamu."
"Kau tidak mungkin sepintar itu, kan?" balas Changmin sambil menyeringai.
"Aku langsung tau begitu kau duduk di hadapanku sambil mencium Minnie." Kyuhyun melirik Min Hyun yang sudah tidur nyenyak di pelukan Changmin. "Arrum tidak suka mencium kepala Min Hyun, apalagi berulang-ulang. Bukankah itu kebiasaanmu? Lagi pula, sejak kapan Arrum memakai cincin kawinmu?"
Changmin melirik jari manisnya dan mengumpat dalam hati karena lupa melepas cincin itu. Dia berdehem dan wajahnya kembali datar. Dia tidak akan membiarkan Kyuhyun membuatnya tampak bodoh.
"Jadi kau tidak perlu bertanya-tanya lagi," ujar Kyuhyun sambil menatap Changmin serius.
"Tentang?"
"Sore tadi kau bertanya, apakah aku menyesal menikah denganmu. Dan jawabannya adalah tidak."
Changmin menatap Kyuhyun tak berkedip. Dia memang sudah memikirkan itu dari tadi. Penasaran akan jawaban Kyuhyun. Karena itulah dia merubah dirinya menjadi Arrum. Berharap akan mendapatkan jawaban. "Kenapa?" tanya Changmin pelan.
"Walaupun aku sering menderita, menangis, dan terluka yang disebabkan karena aku menikah denganmu, aku tahu, semuanya pasti berbalas. Setelah aku menangis, kau akan menghiburku dan aku kembali tersenyum. Lalu ketika aku terluka, kau akan mengobatinya hingga luka itu sembuh."
Changmin tidak dapat menahan senyumnya mendengar ucapan Kyuhyun.
"Bukankah tidak akan ada senyum tanpa air mata?" Kyuhyun mengulum senyum, lalu tatapannya berubah menerawang. "Semua hal menyedihkan mengajarkan kita untuk percaya bahwa selalu ada kebahagiaan yang menunggu kita di ujung sana. Dan yang kita butuhkan hanya kesabaran bahwa semua kesedihan itu pasti berakhir."
"Kau semakin dewasa, Kyu." Changmin terkekeh. "Rasanya baru kemarin kau meneleponku dan merengek untuk di jemput ke Mall karena Eunhyuk dan Kibum sudah pulang."
Kyuhyun kembali mendelik. "Astaga! Pujilah istrimu sedikit!"
Changmin tertawa ketika Kyuhyun memalingkan wajah darinya. "Kyu?" panggilnya pelan.
"Kalau kau hanya ingin mengejekku lagi, lebih baik tidak usah bicara!"
"Aku serius."
Kyuhyun menatap Changmin dengan malas-malasan. "Apa?" tanyanya ketus.
Changmin memajukan tubuhnya dan berhasil mencuri sebuah ciuman dari bibir yeoja itu. Dia tersenyum kecil ketika melihat kedua pipi Kyuhyun merona. "Saranghae."
oOoOoOoOo
