Warning : T rate, OC, banyak tokoh minor Naruto, chara death.
Genres : Action/Adventure/Romance/Friendship/Humor/Angst/Tragedy.
Pairing : SasoSaku/KaoMa/ReiSasa.
Disclaimer : Semua tokoh Naruto milik Masashi Kishimoto (kecuali OC).
This Story belong to Riyuki18.
Dedicate to all reader, please enjoy it!
.
Neverland Side Story
Chapter 36
( Is it over?)
.
.
Nathan dan kawan-kawannya berlari menyusul Rei dan Sasame. Di belakang mereka terlihat ada Izky yang juga ikut mengejar bersama Raijin dan Fujin. Tampak dari masing-masing pengejar membawa senjata yang cukup berbahaya.
"SASAME! REI!" Nathan berusaha meneriaki Sasame dan Rei yang berlari tak jauh dari mereka, tapi tampaknya kedua orang di depannya itu terus saja berlari tanpa mempedulikan teriakan dari Nathan.
"Rei, sepertinya aku mendengar seseorang memanggil kita dari belakang!" kata Sasame yang sedang berlari disisi Rei sambil menoleh sedikit ke belakang.
"Jangan berhenti Sasame! Itu paling Izky!" balas Rei yang meminta Sasame untuk terus berlari.
"Tunggu dulu, Rei! Bukankah itu Nathan dan yang lain?" gadis itu menarik Rei untuk berhenti. Sasame dapat melihat sosok Nathan yang berada paling depan, selain itu dia juga melihat ada Jun, Vliss dan Serena di belakang Nathan.
"Apa katamu?" Rei yang tak percaya dengan yang dikatakan Sasame akhirnya ikut menoleh ke belakang. Dia memicingkan matanya untuk melihat sosok yang perlahan-lahan semakin mendekat ke arahnya.
Sosok-sosok itu semakin lama semakin jelas dan memang benar mereka adalah Nathan, Jun, Vliss dan Serena yang tengah berlari dan menghampiri Rei serta Sasame.
"Ka-kalian… Bagaimana caranya kalian bisa kemari? Kenapa kalian semua bisa ada disini?" tanya Rei yang kali ini menatap shock melihat kehadiran semau teman-temannya sekarang.
"Bicaranya nanti saja, kita harus cepat pergi dari sini! Izky juga yang lainnya mengejar kita di belakang!" sambar Vliss yang langsung mendorong Rei untuk bergegas kembali berlari karena Izky dan yang lainnya juga sedang mengejar. Tanpa banyak bicara mereka akhirnya sama-sama kembali berlari.
Sunagakure's Office…
.
.
Sementara itu mendadak saja muncul Shiori. Gadis itu tanpa permisi lagi langsung mendobrak ruang kerja Gaara dan memanggil pemuda yang sedang bingung itu.
BRAK!
"GAARA!" gadis itu langsung masuk begitu saja dan meneriaki Gaara yang sedang duduk di bangkunya.
"Shiori? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Gaara yang setengah kaget melihat kedatangan gadis cerewet itu di kantornya.
"Apa yang aku lakukan disini?" Shiori tampak terlihat marah dan dia maju ke depan meja Gaara sambil menggebrak meja itu dengan sengit. "Harusnya aku yang bertanya! Apa yang kau lakukan disini? Kau, Rei, Vliss, Serena juga Nathan tiba-tiba saja kalian semua hilang secara bersamaan dari sekolah! Kenapa kalian tidak memberitahukanku soal Sasame dan Arashi?" bentak Shiori yang merasa tak dianggap karena dia tidak tau apa-apa soal ini semua dan dia baru mengetahuinya dari berita televisi yang dia lihat satu jam yang lalu.
"Maaf Shiori, kami tak bermaksud menyembunyikan semuanya darimu… Hanya saja Nathan tak ingin kau tau dan membuatmu terlibat karena ini sangat berbahaya… Dia mungkin mengkhawatirkan dirimu," jawab Gaara sambil sedikit menghela napas.
"Sigh… " Shiori juga terlihat menghela napas sambil duduk untuk menenangkan dirinya sendiri dan mengatur napasnya. "Lalu sekarang Nathan dan yang lainnya kemana?" tanya gadis itu dengan kalem.
"Mereka saat ini sedang mencoba menyelamatkan Rei dan Sasame yang diculik oleh Izky dan teman-temannya," jawab Gaara menjelaskan situasi Nathan dan yang lainnya saat ini.
"APAAAA!" Shiori kembali berteriak kali ini lebih histeris dari yang sebelumnya. "Bagaimana bisa kau duduk santai disini tanpa melakukan apa-apa! Kita harus menyusul mereka, Gaara!" sambungnya lagi sambil berusaha menarik Gaara dari tempat duduknya.
"Aku tidak bisa meninggalkan tempat ini, Shiori! Aku sedang mengawasi wilayah ini dan menjaganya dari serangan lain yang kemungkinan akan segera terjadi… Shiori, kau harus percaya pada mereka. Teman-teman kita, mereka semua kuat! Aku percaya mereka akan baik-baik saja… Jadi kuminta padamu juga untuk percaya pada Nathan dan teman-temannya." Gaara menepis tarikan tangan Shiori. Dia tau kalau Shiori mencemaskan Nathan juga yang lain, hal itu juga sama dengan apa yang dia rasakan sekarang, tapi saat ini dia tak bisa meninggalkan tempatnya karena dia harus menjaga wilayah Sunagakure dan keselamatan para penduduknya. Dia meminta gadis itu untuk percaya dan tak membuat masalah.
" … Aku mengerti… Aku akan menunggu mereka di gerbang perbatasan Negara! Kalau mereka semua kembali akan kumarahi mereka karena telah membuatku secemas ini!" balas Shiori yang kemudian memutuskan untuk menunggu teman-temannya di perbatasan Negara. Gadis itu akhirnya pergi dan meninggalkan Gaara.
o0o
Sementara itu Nathan beserta yang lainnya terus berlari menelusuri hutan dan semak-semak dijalan setapak yang sempit itu.
"Lihat, disana ada goa!" Rei menunjuk ke arah samping mereka dimana terdapat sebuah goa yang cukup besar berada diantara rerimbunan pohon yang menutupi bagian depan goa tersebut.
"Sepertinya begitu… " balas Jun sambil mengamati goa tersebut.
"Ayo kita kesana!" tanpa menunggu pendapat dari yang lain, Rei segera berlari menuju goa itu. Teman-temannya yang lain segera mengikutinya.
.
.
"Bagaimana kalau kita masuk saja kemari?" tanya Rei memberi usulan pada yang lainnya untuk masuk ke dalam goa.
"Entahlah, Rei… Perasaanku sedikit tidak tenang saat melihat goa ini… " balas Sasame yang terlihat ragu.
"Jangan cemas… Aku akan selalu menjagamu, Sasame!" sambar Rei dengan cepat sambil menguatkan genggaman tangannya pada Sasame. Gadis itu menoleh sesaat dan melihat Rei sedang tersenyum lebar untuknya. Seutas senyum tipis terukir di wajah Sasame yang terlihat agak pucat. Dia merasa sangat lega dan nyaman saat mendengar perkataan Rei barusan.
"Gawat, itu Izky dan yang lainnya melihat kemari!" Nathan menunjuk Izky yang sedang berlari dari kejauhan menuju ke arah mereka.
"Cepat masuk!" Vliss langsung mendorong yang lainnya untuk segera masuk ke dalam goa. Bertepatan dengan itu Izky melepaskan tembakan, tapi untungnya tembakan itu tidak mengenai siapapun karena mereka semua sudah masuk ke dalam.
"Kurang ajar! Ayo kejar!" melihat tembakannya meleset membuat Izky semakin panas. Mereka mengikuti jejak Rei dan kawan-kawan mengejarnya ke dalam goa.
Sunagakure University…
.
.
Sementara di kampus mahasiswa dari kampus Suna terlihat sibuk menata ulang halaman kampus untuk acara besok. Kuromizu kembali mengawasi bersama dengan Hery, sementara Marie memilih untuk diam dan duduk sendiri sambil melamun. Gadis itu masih teringat dengan perkataan Kaoru yang menitipkannya kepada Fei.
"Mau minum?" tanya Fei yang tiba-tiba saja menghampiri Marie.
"Tidak terima kasih… " balas Marie yang menggeleng dengan lemah dan kembali dengan aktifitas melamunnya.
"Sigh… Pasti ada yang sedang kau pikirkan… " Fei kemudian menghela napas dan ikut duduk di sebelah Marie. Untuk sesaat Marie sempat menoleh kepada pemuda itu, kemudian dia kembali diam dan menatap kosong ke arah depan.
"Begitulah… " balas gadis itu dengan pelan. Sepertinya meskipun dia dan Fei belum terlalu lama mengenal, tapi pemuda itu dapat membaca situasi perasaannya.
"Memikirkan Kaoru… ?" tanya Fei yang sudah bisa menduganya, karena siapa lagi yang ada dipikiran gadis itu selain Kaoru? Pasti saat ini Marie sedang memikirkan pemuda itu.
"Aku hanya tidak mengerti dengan ucapannya yang mengatakan kalau dia menitipkanku padamu… " jawab gadis itu dengan terus-terang. Jujur saja dia jadi merasa seperti beban saat mendengar ucapan pemuda itu sebelumnya. Apakah Kaoru benar-benar sudah tidak menginginkannya lagi?
"Jangan terlalu dipikirkan… Aku yakin dia tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya!" balas Fei yang mencoba untuk membuat perasaan Marie lebih tenang. Gadis itu memang memiliki banyak pikiran dan masalah akhir-akhir ini dan hal itu sungguh tidak baik untuknya. "Lagipula kalau dia meninggalkanmu berarti dia itu bodoh!" sambung Fei yang sepertinya sedikit keceplosan dengan ucapannya sendiri. Marie yang sedikit kaget dengan ucapan Fei segera beralih menatapnya dengan tatapan yang begitu penasaran.
"Ma-maksudku… Kau itu punya banyak kelebihan… Selama ini kau sudah setia untuknya, kan? Ja-jadi kurasa dia tak akan mungkin meninggalkanmu… " kata Fei menjelaskan apa yang sebenarnya ingin dia katakan dengan sedikit canggung. "Maaf kalau perkataanku ada yang menyinggungmu… " sesaat setelah itu baik Fei maupun Marie hanya saling terdiam.
"Lebih baik kau lupakan saja badut aneh itu dan jadi pacarku!" sambar Pein yang tiba-tiba saja muncul dari belakang.
BUAGH!
Dua buah tonjokan dari Marie dan Fei mendarat telak di wajah Pein, membuatnya jatuh ke belakang dengan bunyi gemerincing.
"Apa sih? Setiap muncul pasti aja kena tonjok!" Pein langsung protes, misuh-misuh di semak-semak.
"Kalau muncul jangan kebiasaan dong! Bikin kaget aja!" dengus Marie sambil mainin jarinya. Siapa suruh muncul mendadak begitu?
"Tapi ngomong-ngomong, kenapa tadi kau bicara seperti itu?" tanya Marie sambil memicingkan matanya pada Pein yang sekarang sedang berusaha untuk berdiri.
"Yah… Bagaimana ya… Soalnya sepertinya Joker itu ada rencana mau di-upgrade ulang… Jadi kemungkinan semua ingatannya akan dihapus seiring dengan dihapus program-nya." Ternyata Pein mengetahui sesuatu mengenai Joker yang akan di-program ulang.
"Darimana kau tau soal itu?" tanya Marie yang sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Pein barusan. Dia jadi penasaran apakah yang dikatakan Pein itu sungguh-sungguh atau dia hanya sedang asal bicara saja.
"Tidak… Aku hanya asal bicara saja! Tapi ada kemungkinan hal itu bisa terjadi… " jawab Pein yang malah seperti sedang bermain teka-teki dengan Marie. Jawabannya membuat gadis itu semakin bingung saja.
"Aku semakin tidak mengerti dengan maksudmu… Sebenarnya apa sih yang mau kau katakan?" tanya Marie sambil memiringkan kepalanya dan menatap Pein dengan penuh kebingungan.
"Ah… Marie… Jangan menatapku seperti itu! Aku jadi malu!" bales Pein yang malah kedipin mata ke Marie sambil pasang gaya malu-malu yang sayang sekali terlihat seperti cowok mesum.
"Jangan ambil kesempatan, Pein!" saat itu juga muncul Konan dengan aura-aura hitam yang siap merobek-robek Pein kalau cowok berambut jabrik itu berani bersikap yang aneh-aneh.
"Hehehehe… Tapi Konan tetep yang paling cakep kok!" samber Pein langsung nyengir.
"Lalu, Pein. Bisa kau jelaskan maksud ucapanmu tadi? Program ulang? Kenapa kau bisa bicara seperti itu?" sela Marie yang tampaknya masih penasaran dengan perkataan Pein sebelumnya.
"Yah, kejadian ini pasti membuat server Neverland mengalami crash karena banyaknya NPC yang menghilang dan mengalami error… Ada kemungkinan para NPC yang hilang akan diprogram ulang salah satunya Joker yang memang mengalami seperti bug… Jadi… Kau mengerti, kan apa artinya kalau itu sampai terjadi?" Pein akhirnya menjelaskan dengan apa yang dia maksud sebelumnya. Mendengar itu tiba-tiba saja raut wajah Marie menjadi sedih.
"Hey… Jangan pasang wajah sedih begitu! Kita masih ada kesempatan kalau Joker kembali ke Neverland sebelum itu terjadi, iya kan?" Konan yang melihat wajah sedih Marie langsung mencoba menghiburnya. Dia sangat mengerti dengan perasaan Marie karena dia juga perempuan dan mungkin dia akan memiliki perasaan yang sama kalau itu terjadi padanya dan Pein.
"Kau benar… Aku berharap hal itu tidak sampai terjadi… " jawab Marie sambil tersenyum tipis.
"Makanya semangat! Lalu, bagaimana perkembangan ingatan Joker? Apa ada kemajuan?" tanya Konan yang mengalihkan pembicaraan agar suasana tidak menjadi semakin suram.
"Sudah ada kemajuan yang sangat besar! Dia bahkan sudah mengingatku! Hanya saja… Dia masih butuh waktu untuk benar-benar mengingat kehidupannya di Neverland… Tapi aku yakin dia akan segera ingat setelah melihat festivalnya besok!" jawab Marie yang sedetik kemudian wajahnya menjadi cerah. Dia terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya.
'Syukurlah… Dia sudah bersemangat kembali seperti biasanya!' diam-diam Fei membatin dengan lega sambil tersenyum tipis saat melihat Marie bisa kembali ceria.
Inside the cave…
.
.
Rei serta teman-temannya masih berlari dari kejaran Izky yang tanpa henti memburu mereka. Lorong-lorong goa di dalam menyulitkan mereka dalam bergerak, tapi mereka tak punya waktu untuk berpikir memilih jalan mana yang harus mereka ambil. Setiap lorong mereka ambil dengan acak dan berharap agar mereka dapat lolos dari Izky. Tapi yang bahaya bukan itu saja, karena semakin lama mereka semakin dalam memasuki goa tersebut.
"Rei, lo tau kemana ini jalannya?" tanya Nathan penuh kecurigaan kalau Rei asal ambil jalan doang.
"Gak tau… asal aja, emang kenapa?" bales Rei dengan santai dan sukses mendapat getokan dari Nathan.
"Jadi kita semua ikutin lo lari yang ambil jalan secara asal? Astaga! Kita bisa nyasar di dalam goa nih!" Nathan langsung aja histeris dan udah mulai mikir yang macem-macem kalau mereka bakalan tersesat di dalam goa.
"Habisnya gimana? Masa mau diem dulu sambil mikir? Keburu ketangkep sama Izky!" bales Rei yang setengah mendengus melihat Nathan yang jadi panikan begitu. Nyasar tentunya masih jauh lebih baik daripada mati konyol.
"Udah-udah! Saat ini kita gak punya waktu untuk berdebat! Terus lari karena kurasa Izky semakin mendekat!" Jun berusaha menengahi kedua pemuda tersebut dan menyuruh agar mereka tetap berlari karena dia dapat mendengar derap langkah Izky dan yang lainnya semakin mendekat.
o0o
Sementara itu para polisi Otogakure sudah sampai di tempat pengawal Jun berada dan mereka menanyakan informasi dari pengawal tersebut. Setelah mengumpulkan informasi yang cukup banyak, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi mencari.
Setelah melakukan penelusuran selama beberapa saat, akhirnya mereka menemukan dua buah mobil dalam keadaan yang cukup berantakan berada di sisi jalan dan pengawal Jun dapat mengenali kalau salah satu dari mobil itu adalah mobil yang ditumpangi oleh Jun.
"Astaga… Apa yang terjadi disini? Apa telah terjadi kecelakaan? Tanya salah satu polisi Otogakure sambil melihat kedua mobil tersebut. Maklumlah daerah itu termasuk daerah sepi yang jarang ada patroli polisi.
"Tapi sepertinya tidak ada satu orangpun di dalam kedua mobil itu… " celetuk polisi di sebelahnya sambil mengamati kedua mobil yang berada di sisi jalan itu.
"Itu mobil yang dinaiki tuan muda dan teman-temannya! Tolong berhenti disini!" sambar Takashi yang langsung menunjuk mobil yang dia kenali. Begitu mobil patroli polisi berhenti, dia segera turun dan menghampiri kedua mobil tersebut. Polisi lain mengikutinya dari belakang.
"Lalu apa yang terjadi pada pemilik kedua mobil ini?" tanya salah seorang polisi dengan penasaran dan bertanya-tanya.
"Mungkin mereka semua masuk ke dalam hutan… " kepala polisi tersebut menoleh ke arah jalan masuk hutan dan kemungkinan para penumpang mobil tersebut ada di dalam hutan sana.
"Tunggu apa lagi? Ayo cepat kita susul mereka!" Takashi tampak sangat tidak sabaran. Dia begitu mencemaskan tuan mudanya dan tak ingin pemuda itu mengalami hal buruk. Pria itu segera berlari masuk duluan ke dalam hutan.
"Hey! Jangan pergi duluan! Arghhh… Kalian susul dia! Lalu, kalian periksa daerah sini!" kepala polisi tersebut akhirnya hanya bisa geleng-geleng pasrah melihat Takashi yang sudah masuk menerobos ke dalam hutan duluan. Dia segera membagi timnya menjadi dua, dimana yang sebagian ikut mengejar sedangkan yang sebagiannya lagi mencari di tempat lain. Setelah itu dia beserta anak buahnya ikut masuk menelusuri ke dalam hutan.
Inside the cave…
.
.
"Kita sudah berlari cukup jauh… Tapi sepertinya kita tidak menemukan ujung jalan untuk keluar dari goa ini… " Vliss tampaknya mulai mengeluh. Dia sudah malas dari tadi lorong yang mereka telusuri seperti tidak ada ujungnya, malah kembali bertemu dengan jalan yang bercabang.
"Entahlah… Jangan-jangan tempat ini memang tidak ada jalan keluarnya lagi!" celetuk Nathan dengan asal.
"Jangan bicara sembarangan! Pasti ada jalan keluarnya!" sambar Serena yang memarahi Nathan agar pemuda itu tidak berpikiran yang aneh-aneh, karena sejak tadi Nathan selalu memikirkan hal-hal yang buruk saja dan membuat orang lain ikutan cemas.
"Kuharap semoga saja ada bantuan yang datang menolong kita… " ucap Nathan yang berharap sambil berdoa.
"Kalau memang tak ada jalan keluar… Sepertinya kita tak punya pilihan lain selain melawan mereka… Kuharap kalian semua siap dengan kemungkinan itu," kata Rei dengan serius dan membuat suasana menjadi tegang. Yang lainnya mengangguk mengerti sambil menelan ludah. Tentu saja kemungkinan yang dikatakan Rei sangat mereka pahami dan bisa saja terjadi, tapi biar bagaimanapun mereka berharap bahwa kemungkinan buruk itu tidak terjadi.
Sementara itu para polisi Otogakure beserta Takashi sudah berada di luar goa. Mereka berhasil mengikuti jejak yang mengantar mereka tiba di depan goa.
"Kurasa jejaknya berakhir disini… " kata salah satu tim pelacak sambil membawa seekor anjing khusus untuk melacak jejak dan anjing yang dibawanya berhenti tepat di depan goa itu.
"Tunggu apa lagi, ayo cepat kita susul mereka!" perintah sang kepala polisi menyuruh mereka semua untuk masuk. Satu-persatu polisi itu mulai masuk ke dalam goa, begitu juga dengan Takashi.
o0o
Meanwhile out there…
.
.
Sakura yang merasa bosan dan bimbang memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar taman kota. Dia memang butuh udara segar untuk menenangkan pikirannya yang sedang kalut. Disaat yang bersamaan di tempat yang sama, Kaoru juga sedang berada disana. Pemuda itu tengah duduk bersandar di bawah sebuah pohon yamg membelakangi pemandangan taman kota Sunagakure.
Sakura berjalan mendekati pohon dimana pemuda itu berada tanpa dia sadari. Sambil menghela napas gadis itu duduk disana.
"Sigh… " keduanya sama-sama melakukan hal yang sama, tentu saja baik Sakura ataupun Kaoru sangat kaget saat menyadari adanya kehadiran orang lain di dekat mereka.
"Sepertinya di belakangku ada orang lain… " kata Kaoru tanpa melirik ke belakang.
"Ma-maaf… Apa aku mengganggu?" balas Sakura yang jadi merasa tidak enak dan merasa kalau dirinya mengganggu.
"Tidak… Kurasa kita sedang mengalami hal yang sama, terdengar dari keluhanmu." Kaoru menebak-nebak dengan apa yang sedang dialami orang di belakangnya itu sambil setengah tertawa kecil.
"Dan kau juga mengalami hal yang sama?" tebak Sakura yang ikut terkekeh. Pemuda yang ada di belakangnya ikut tertawa kecil. "Hey! Boleh tidak aku tanya sesuatu?" tanya Sakura secara tiba-tiba.
"Hm?" balas orang di belakangnya dengan pelan tapi Sakura dapat menangkap itu sebagai suatu persetujuan kalau dia bersedia ditanya.
"Apakah… Cowok itu selalu sulit mengungkapkan perasaan pada orang yang mereka sukai? Kenapa mereka selalu bertindak sebaliknya dari apa yang mereka rasakan sebenarnya? Kau tau… Mereka seperti bermain tebak-tebakan dan sulit dimengerti… " tanya Sakura sambil setengah tersenyum tipis dengan pertanyaannya sendiri. Entah kenapa dia merasa nyaman dengan orang yang ada di belakangnya itu.
"Dari pertanyaanmu sepertinya kau sedang mengalami kegelisahan perasaan, ya?" balas Kaoru yang malah bertanya balik pada Sakura membuat wajah gadis itu merona seketika.
"Hey! Aku yang bertanya disini, jangan bertanya balik padaku!" sambar Sakura dengan cepat sambil setengah mendengus.
"Mungkin sebagian yang kau katakan itu benar… " akhirnya Kaoru mau juga menjawabnya dengan serius. "Terkadang sikap yang dilakukan memang tidak sesuai dengan kata hati mereka… Dan kadang keputusan memang diambil sepihak. Sebenarnya bukan sulit dimengerti hanya saja cowok itu memang kesulitan untuk bersikap di depan orang yang mereka sukai dan kadang memang bertindak yang sebaliknya. Tapi apapun itu, semua sikap mereka demi kebaikan orang yang mereka sukai… " sambungnya lagi sambil menghela napas. Minimal itulah yang dia lakukan pada Marie, meskipun dia tau Marie akan merasa sakit hati dan dia sendiri juga merasa sedih tapi tindakannya semua demi gadis itu. dia tak mau berlama-lama membelenggu perasaan gadis itu sementara dia sendiri tak bisa menjanjikan kebersamaan padanya.
Setelah mendengar jawaban dari Kaoru, Sakura terdiam sejenak. Dia jadi semakin yakin kalau sikap Sasori itu terlalu aneh dan pasti ada yang dia sembunyikan. Apapun itu dia merasa Sasori sedang berusaha untuk melindunginya entah dari apa.
"Payah… Justru sikap kalian yang seperti itu membuat para cewek jadi bingung dan merasa frustasi!" gerutu Sakura yang tiba-tiba saja jadi sedikit menggerutu. "Sikap kalian yang begitu itu membuat para cewek jadi tidak yakin kalau kalian benar-benar menyukai mereka atau tidak! Huh! Kalau orang yang kalian suaki kabur baru tau rasa!" balasnya lagi sambil mengembungkan pipinya dengan kesal.
"Kau ini gadis yang aneh… Kenapa jadi marah-marah padaku? Bukannya kau sendiri yang tadi bertanya? Asal kau tau, perempuan itu juga sangat aneh dan sangat moody! Memangnya kalian pikir cowok itu dukun yang harus bisa tau isi hati kalian? Dalam hal perasaan perempuan itu jauh lebih buruk karena mereka susah jujur dan kebanyakan berpikir!" Kaoru juga membalas perkataan Sakura dan tak mau kalah. Entah sejak kapan pemuda itu jadi keras kepala dan banyak bicara seperti itu.
"Sudahlah… Satu saranku, kalau kau memang sedang menyukai seseorang lebih baik terus terang saja jadi kau tidak perlu bingung seperti ini… " Kaoru akhirnya memutuskan untuk pergi. Pemuda itu berdiri dan sempat menghela napas sesaat.
Sakura sempat melirik ke belakang karena dia penasaran ingin mengetahui seperti apa orang yang mengajaknya bicara ini. Gadis itu menoleh ke belakang dan mendapati sosok pemuda berambut putih yang sedang berdiri membelakanginya.
"Dia… " Sakura sempat merasakan hal yang aneh saat melihat pemuda itu. Dia merasa seperti mengenal sosok itu. Gadis itu akhirnya hanya bisa terbengong sampai pas dia tersadar sosok Kaoru sudah tidak ada lagi di tempatnya. "Hah… Sudahlah, lebih baik aku kembali saja… " kata gadis itu yang sedikit kecewa karena tidak berhasil melihat pemuda itu. Sakura memutuskan untuk pulang karena hari sudah gelap.
Apakah yang akan terjadi lagi selanjutnya? Bagaimana dengan acara festival tersebut? Apakah di hari itu Alice akan benar-benar menyerang? Bagaimana nasib Rei dan kawan-kawan? Apa mereka bisa lolos dan keluar dari goa itu? Apakah bantuan dari Otogakure bisa datang tepat waktu?
TBC...
A/N : Saia sudah berusaha semaksimal mungkin mengetik chapter ini sedikit demi sedikit sambil menjaga Riku dan keadaan dia sudah sedikit membaik, tapi dia masih butuh banyak istirahat. Saia juga mau mengucapkan maaf karena fic yang lain jadi banyak yang kepending dan maaf bila banyak menemukan typo disini, saia memang kurang bisa konsentrasi dan saia benar-benar minta maaf kalau typo yang bertebaran buat yang membaca jadi tak nyaman.
Mengenai judul saia mengambil dari sudut pandang Marie dan Sakura.
Sebelumnya saia minta pada teman-teman pembaca tidak usah mengurusi flamer aneh itu (or should I said he's/she's fans of mine? XD). Mungkin itu cara dia buat naikin rating profile dia biar banyak dibaca orang. Saia ada satu pertanyaan buat kamu wahai mbah Kunai89... Kira-kira yang ini akun yang keberapa yak? Tolong jawabannya kirim ke 889 tujuan neraka (saia heran kok kamu tau saia itu tinggal di neraka karena kecemplung neraka?) lalu reg jawaban kamu.
Buat yang lain terima kasih sudah membaca dan benar-benar mohon maaf atas pendingnya cerita ini yang cukup lama. Saia berharap minggu depan Riku benar-benar membaik dan tak ada halangan lagi.
.
.
"Thanks for reading".
