"Hei yang di sana! Kenapa gak gabung sama kami?!"
Dia mengusap kedua matanya yang menangis lalu memandang ke arah sumber suara cempreng yang memanggilnya. Di depannya berdiri tiga anak bersurai merah, 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan.
"Hee? Kau menangis? Kenapa kau menangis?" si suara cempreng memajukan wajahnya mendekati dia. Mata anak itu biru seperti langit yang jernih tanpa awan.
"Heei…jawab pertanyaanku." Kata anak itu. Istilahnya…kepo. Dia mengernyit sejenak sebelum kemudian memutuskan untuk menjawab pertanyaan dari anak bermata biru tersebut.
"Orang tuaku baru saja meninggal…a-aku sendirian di sini."
"Orang tuamu?" anak yang satunya menggaruk belakang kepalanya. Dia memiliki mata violet dan rambut merah yang lurus "Apa orang tuamu itu dua shinobi Uzu yang gugur dalam misi kemarin?"
Dia terkejut. Matanya yang memerah karena menangis membulat "K-kau tahu darimana?"
"Ayahku yang menceritakannya." Kata anak bermata violet itu. Masih menggaruk belakang kepalanya.
"Siapa namamu?" Tanya si anak bermata biru tiba-tiba. Dia sedikit terkejut dan memandang bergantian tiga bocah sebayanya. Si mata violet, si mata biru dan si anak perempuan cantik dengan hiasan bunga kertas di kepala merahnya. Semuanya memandang dia seperti teman…
"Ya-Yahiko. Namaku Uzumaki Yahiko." Katanya agak gugup. Ketiga anak di depannya saling berpandangan dan mengangguk, terlebih yang di tengah si mata biru…dia menyengir seperti orang gila.
"Aku Uzumaki Naruto! Salam kenal Yahiko."
"Namaku Uzumaki Nagato…"
"Aku Konan."
Saat dia ingin bertanya, anak perempuan berambut biru langsung menyambung kalimatnya "…Tentu saja aku Uzumaki." Kata anak perempuan tersebut. Si mata violet dan mata biru tertawa terbahak-bahak.
"Ayo Yahiko, daripada kau duduk menangis di ayunan…" si anak bermata biru berlari ke belakangnya dan mendorong ayunan yang ia duduki dengan kencang "lebih baik kita bermain bersama di sini! Taman bermain Uzu ini sangat asyik lho jika bermain bersama!"
Plak! Kaki dia terkena kepala anak bermata violet yang tepat berada di depannya. Si anak bermata violet bangkit sambil mengusap kepalanya yang benjol.
"WOY NARUTO! BISA TIDAK MAIN AYUNAN ITU LIHAT ORANG?! KAU LIHAT, KEPALAKU JADI BENJOL TAHU!"
"Hahaha…ini bukan salahku, salahkan anak cengeng ini yang menaiki ayunan tanpa melihatmu!" si anak bermata biru menangkap rantai ayunan dia dan mendorongnya sekuat tenaga.
"Tetapi kau yang mendorongnya bodoh!"
"Kalian berdua yang bodoh…" kata anak perempuan manis dengan nada datar serta wajah non-ekspresif.
Sementara dia perlahan-lahan mulai tersenyum. Air mata di sudut matanya melayang lembut di udara, berkilauan diterpa sinar mentari sore.
"Ingat ini Yahiko, kau tidak akan pernah sendiri…karena masih banyak orang disekelilingmu yang akan menyayangimu. Emm mungkin contohnya kami, iya gak Nagato? Konan?"
Dia melirik ke belakang dengan wajah mendengarkan. Anak bermata biru terus mendorong ayunannya dengan cengiran yang menenangkan hati.
"Aa, tentu saja…karena kita adalah teman." Kata si mata violet. Si anak perempuan tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
"Ya, karena kita adalah teman, MULAI SEKARANG DAN SELAMANYAAA~!"
Suara cempreng itu membangunkan Yahiko dari mimpinya. Dia memandang langit-langit kamar yang redup di kediaman Shibuki. Tatapannya datar dan sedikit hampa…tiba-tiba dia bangkit duduk lalu meringis pelan, bahu kanannya masih terasa sakit.
"Keh…tanggal berapa ini, aku harus membantu Naruto untuk menyelamatkan istrinya." Matanya menatap tajam ke depan. Tidak peduli pada kondisi tubuhnya yang belum sembuh total dari cidera pertarungan, kelelahan dan Hipotermia…Yahiko berusaha berdiri untuk keluar dari kamar yang nyaman ini.
'Aku harus menolongmu Naruto…' Yahiko jatuh terduduk di atas kasur, tangan kanannya mencengkram selimut yang dipakainya tadi dengan kuat '…Karena kita adalah TEMAN!'
THE UZUKAGE
BY DONI REN AND ICHA REN
NARUTO IS ALWAYS BY MASASHI KISHIMOTO
THE UZUKAGE PROJECT
STORYLINE PART 2, THE RISE OF UZUSHIOGAKURE
IwaSuna Arc (Arc Pernikahan Shion)
"Prepare to War!"
Uchiha Shisui Vs Midoru Shizukesa!
WARNING: OUT OF CHARACTER, OUT OF CANON, IMAGINATION, SOME HARD LANGUANGE AND 18+ LANGUANGE, A LITTLE BIT 18+ SCENE (NO SEX SCENE), A LITTLE BIT GORE AND H-AUTHOR
GENRE: ADVENTURE-ROMANCE-DRAMA
PAIR: UZUMAKI NARUTO x SHION
POV: NORMAL POV
HAVE FUN READ, BRO AND SIS!
.
.
.
The Rise of Uzushiogakure
Chapter 36
29 Desember, Takigakure (Kejadian dimundurkan 1 tanggal dari cerita lalu)
Konan dan Nagato terkejut melihat sosok pemuda bersurai merah jingga jabrik berjalan tertatih-tatih ke arah mereka sambil memegang bahunya dan berkata "Aku ingin ikut."
Nagato tahu kalau dia kurang tidur semalam akibat berdiskusi soal rencana Yondaime Uzukage bersama Konan, Yugito dan Shibuki di ruang tamu, tetapi kata-kata yang diucapkan Yahiko tadi bagai ilusi di telinganya. Yahiko ingin ikut? Janga bercanda…orang awam pun tahu kalau temannya berkepala merah-jingga itu sedang berada dalam kondisi yang tidak fit.
"Jangan tinggalkan aku..aku akan ikut." Kata Yahiko keras kepala. Nagato menyikut rusuk Konan dan memberi tatapan "Tolong-beri-pengertian-kepadanya", Konan melirik sekilas Nagato dan berjalan mendekati pacarnya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Kau akan melarangku Konan-chan?"
"Ya, kau benar." Kata sang pacar tanpa menyembunyikan maksudnya.
"Keh…jangan bercanda. Aku tidak akan bisa tidur nyenyak saat semua sahabatku sedang bertarung."
"Kau akan tidur di sini-"
"Tidak akan!" Yahiko memegang bahu kanan pacarnya dengan tangan kanannya "Konan-chan, aku tidak akan pernah meninggalkan kawanku, aku adalah komandan militer Uzu…aku-lah yang diberi amanah oleh Yondaime Uzukage untuk menjaga kalian saat terjadi apa yang disebut perlakuan militer, atau pertarungan dan peperangan."
Konan terdiam. Wajahnya memang terlihat seperti wanita kejam tanpa hati, tetapi jika diperhatikan dari sorot matanya, bisa diketahui bahwa wanita cantik dengan rambut biru itu menatap Yahiko cemas. Perasaan yang tak terbohongkan.
"Yahiko..jika kau ikut, kamilah yang tidak akan 'nyenyak' saat bertarung karena memikirkanmu."
Yahiko terkekeh mendengar jawaban pacarnya. Dia menegakkan tubuhnya dan berjalan melewati Konan, kemudian menatap barisan Uzumaki Taki yang rapi di belakang Nagato. Yahiko tersenyum sambil memandang matahari pagi yang sejuk di musim dingin.
"Mau bagaimanapun kalian menahanku, aku akan pergi. Walaupun kalian sekuat apapun melarangku, aku akan menolong temanku. Bahkan jika kalian memaksa, kita bisa bertarung di sini…" Yahiko menelan ludah perlahan "Ini demi Uzu dan demi seorang teman…Nagato, Konan…kalian,"
Nagato, juga Konan agak terkejut karena nama mereka disebut perlahan oleh Yahiko.
"Kalian ingat janji kita saat kecil dulu, sewaktu pertama bertemu denganku di Taman Uzu. Saat di mana Naruto mengatakan aku anak cengeng?"
Keduanya tersentak. Nagato menghela napas saat mengingat masa indah itu. Wajah Konan kini tidak terlihat murni non-ekspresif, muncul guratan-guratan emosi di mimik wajahnya.
"Ya, karena kita adalah teman, MULAI SEKARANG DAN SELAMANYAAA~!"
Yahiko menyebut kalimat itu, tentu saja dengan nada dan suara yang berbeda saat Naruto mengatakannya 19 tahun yang lalu. Kalimat sederhana seorang bocah yang mengikat 3 bocah lainnya dalam hubungan sosial indah yang disebut pertemanan…Konan dan Nagato mengerti. Mereka juga berjanji, tetapi…tetapi tubuh Yahiko yang belum fit akibat-
"Tidak apa-apa," Uzumaki Sara muncul dari teras kediaman Shibuki bersama Karin dan Shibuki sendiri, dengan kata lain di belakang Yahiko, lalu berjalan memegang tangan Konan sambil memasang wajah menyemangati. Yahiko menoleh ke belakang, begitu pula Nagato dan semua Uzumaki Taki. Semuanya memandang ke arah adik Yondaime Uzukage.
"Aku mengerti apa yang ada di hati Paman Yahiko, aku juga mengerti apa kekhawatiran di hati Paman Nagato dan Bibi Konan…tetapi jika aku menjadi hatinya Naruto-nii," wajah Sara terlihat serius. Tangan kanannya yang memegang tangan Konan mengerat "Aku akan memperbolehkan Paman Yahiko ikut berbaris bersama Uzumaki…" Nagato dan Konan terlihat terkejut dengan pernyataan Sara, Sara sendiri tersenyum lebih mantap dan mengangguk kepada Yahiko dengan yakin "…Karena Paman Yahiko adalah Uzumaki, Paman Nagato dan Bibi Konan adalah Uzumaki, kita adalah Uzumaki…dan juga, TEMAN!"
Hyusshhh…angin musim dingin berhembus pelan. Yahiko yang menoleh ke arah Sara kembali memandang ke depan, lalu menundukkan kepalanya ke bawah. Dia tersenyum tipis. Konan menutup matanya, lalu membukanya kembali. Nagato menghela napas dan menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum susah.
"Kau memang adiknya Naruto, Sara-chan…" gumam Yahiko "Kau memiliki bakat kata-kata penyemangat keparat di mulutmu."
"Ya…tentu saja," Nagato tertawa pelan "Karena gen mereka sama, hahaha…"
"HIDUP SARA-SAMA, HIDUP NARUTO-SAMA, HIDUP UZUMAKI DAN BANGKITLAH UZUSHIOGAKURE!" teriak salah seorang Uzumaki bersemangat.
"Ya, ayo kita selamatkan Ratu kita, istri Yondaime Uzukage-sama, yakni Yang Mulia Ratu Shion!" teriak seorang Uzumaki wanita tak kalah semangatnya.
"BENAAAAR! DEMI UZU DAN UZUMAKIIII!" teriak yang lainnya karena semangat mereka telah terpompa. Sara ikutan berlari menuju barisan Uzumaki lalu mengangkat tangan kanannya penuh semangat bahkan melompat-lompat.
"ITU BARU NAMANYA DARAH SPIRAAAL!" teriak Sara, agak gaje.
"YEAAAAAAAHH! DARAH SPIRAAAAL!" teriak semua Uzumaki walaupun ada beberapa yang nyeletuk "Darah spiral itu maksudnya apa ya?".
Karin tersenyum lalu menepuk bahu Konan. Wanita bersurai biru itu lebih mengangkat kepalanya dan memandang Karin kebingungan.
"Tidak apa-apa Konan, kita pasti menang. Uzumaki Naruto adalah pemimpin kita…dan dia kuat. Dia adalah seorang Uzukage."
Alis Konan agak mengerut karena berpikir, tetapi perlahan-lahan wanita itu menganggukkan kepala setuju.
"Ya, aku percaya dengan Naruto."
"Ooh, jadi kau tidak memanggilnya dengan panggilan super formal Yondaime Uzukage plus sama-nya lagi?" Tanya Karin jahil. Konan tersentak kaget. Ya, dia lupa.
"Apa karena emosi telah menguasai seluruh hatimu yang dilatih kaku, Konan-chawn?"
"Bu-bukan begitu!" Konan berbalik lalu memandang semua Uzumaki. Tatapannya datar dan tajam tapi sorotan matanya terlihat bersemangat. Yahiko di depannya terlihat maju mendekati barisan Uzumaki dan juga ikutan bersorak untuk Uzushiogakure.
"Aku hanya terlalu bersemangat…" gumam Konan pelan.
"Nah, sepertinya persiapan fisik, mental dan semangat sudah siap, ninjaku juga mengabari bahwa Yugito sudah memeriksa 300 meter daerah di depan kita, semuanya aman. Kita bisa langsung jalan…" Shibuki membenarkan ikat kepala di dahinya yang berlambangkan Desa Taki. Dia juga akan ikut bertarung dan menyerahkan desa sementara kepada asistennya "…Yugito mengabari akan menunggu di sana."
Karin mengangguk mengerti lalu berteriak sambil membenarkan kacamatnya kepada semua Uzumaki di sana "BAIKLAH MINNA, YUGITO-SAN BILANG KITA BISA BERANGKAT SEKARANG. SIAPKAN HATI DAN JIWA PETARUNG KALIAN," Karin mengangkat tangan kanannya yang terkepal "KINI SAATNYA KITA MEMBUKTIKAN KEPADA DUNIA SHINOBI, UZUSHIOGAKURE DENGAN ORANG-ORANG UZU DI DALAMNYA ADALAH PARA BRENGSEK YANG TAK MUDAH DIKALAHKAN HANYA OLEH 5 DESA BESAR! KITA SELAMATKAN RATU KITA..." semua Uzumaki mengangguk khidmat mendengar pidato spontan Karin yang dipenuhi emosi
"…DAN JADIKAN MIMPI YONDAIME UZUKAGE-SAMA UNTUK MELAKUKAN MALAM PERTAMA DENGAN ISTRINYA MENJADI KENYATAAN!"
"HAAAIII'!" teriak semuanya bagai api yang disiram minyak, berkobar gila.
Walaupun pidato Karin secara tak langsung menghina Yondaime Uzukage apalagi soal malam pertamanya…
.
.
.
29 Desember, Sunagakure (Kejadian dimundurkan 1 tanggal dari cerita lalu).
Akasuna no Sasori mengetuk pelan pintu rumah Kunoichi terkuat di Sunagakure. Begitulah yang ia dengar. Beberapa kali mengetuk, pintu dibuka lalu menyembul wajah cantik seorang wanita berusia 30 tahun dengan rambut hijau yang disanggul dan dua helai rambut melingkup pipinya berwarna jingga. Matanya sedikit membulat melihat sosok Sasori yang berdiri di depan rumahnya dengan mata sayu. Mau apa Ketua Anbu Suna itu datang ke rumahnya.
"Ada perlu apa, Sasori si Pasir Merah?!" Tanya Pakura agak sedikit galak.
Alis Sasori sedikit naik sebelah mendengar nada agak membentak dari Kunoichi bertipe Tsundere di depannya. Dia langsung menendang pintu rumah Pakura sehingga si empu rumah termundur ke belakang.
"Hei, apa maumu?!" Tanya Pakura menjadi kesal.
"Aku hanya membawa surat perintah resmi dari Kazekage kita," Sasori menunjukkan gulungan putih berlambang cap resmi Suna "Kau akan diikutsertakan kembali dalam sebuah misi, kau-"
"Aku sudah tidak menjadi Shinobi lagi…" Pakura memotong kata-kata Sasori sambil melipat kedua tangannya di bawah dadanya yang besar. Dia hanya memakai tanktop hitam dengan celana panjang berwarna senada. Mata sayu Sasori otomatis melirik sekilas goyangan pelan di dua gunung tersebut akibat gerakan Pakura sebelum kembali lagi memandang wajah Kunoichi itu, tampaknya ini akan membuatnya menunggu…
"Setelah apa yang dilakukan Suna saat menjadikanku umpan untuk bekerja sama dengan Kiri, aku sudah tidak mempercayai desa ini lagi."
Sasori memandang teliti wajah Pakura yang memalingkan wajah dari dirinya. Sang Master Kugutsu menghela napas bosan. Wanita memang membuatnya selalu menunggu karena mereka membuat suatu masalah menjadi besar. Ingat, dia benci menunggu.
"Kalau begitu jangan tinggal di desa ini lagi…kenapa kau masih mau tinggal di sini?"
Pakura menghadapkan wajahnya ke wajah imut pemuda bersurai merah tersebut. Mata mengantuk Sasori seperti mengejek dirinya. Beberapa lama mereka berdiam hingga akhirnya Sasori berdehem pelan karena suasana tadi dirasakannya seperti suasana sedang menunggu.
"Karena aku masih mempunyai murid yang perlu kulatih." Jawab Pakura singkat. Sasori kembali mengangkat alisnya, dia juga mengerti maksud Pakura.
"Maki ya…"
"Hmh! Iya…jika tidak ada Maki, tentu saja aku akan pergi dari desa ini.
"Kalau begitu aku bunuh Maki dulu ya-"
Grep. Pakura memegang lengan Sasori dengan wajah kesal. Sasori yang sedang melangkah santai keluar rumah menoleh ke arah Pakura dengan wajah tanpa dosa, plus mata mengantuk menyebalkannya.
"Apa?"
"Apanya yang apa?! Kau ingat kata-katamu tadi?"
"Aku akan membunuh Maki-" Syat! Pakura menarik Sasori ke arahnya dan melayangkan pukulan tangan kirinya yang bebas ke wajah pengguna Kugutsu tersebut. Sebelum tinjuan Pakura sampai di hidungnya, Sasori menundukkan kepalanya lalu menarik tubuh Pakura berputar dan memeluknya dari belakang. Wajah Pakura sedikit memerah dan dia memberontak marah.
"Lepaskan!"
"Hm?"
"Lepaskan aku mata sayu sadis! A-akan kubunuh kau!"
"Aku dapat melihat belahan dadamu dari belakang…" gumam Sasori dengan nada anak-anak polos, tentu saja membuat kepala Pakura berasap "Aku bisa saja membuatmu pingsan dengan racunku, lalu pergi membunuh Maki agar kau pergi dari desa yang kau benci…" mata Pakura terbuka lebar.
"Pilih Maki atau ikut misi, Pakura?"
Pakura berhenti memberontak. Tangan Sasori yang memegang pergelangan tangan kanannya yang terangkat perlahan-lahan menurunkan tangan tersebut, lalu Sasori melepaskannya. Dia sudah tahu jawaban pengguna Shakuton tersebut.
"Baiklah…aku akan ikut." Pakura berjalan satu langkah dan menutup belahan dadanya menggunakan tangan kirinya "Dasar hentai!" gumamnya pelan, namun Sasori tidak mendengarkannya.
Sang Master Kugutsu pun memberikan Pakura surat perintah Kazekage sekaligus menjelaskan soal misi tersebut kepada Pakura, tujuan misi serta anggota-anggota misi di ruang tamu Pakura. 3 jam berbincang dan saling tukar pikiran, Maki, murid Pakura yang sering berkunjung ke rumah datang sambil membawakan sekantong Dorayaki. Dia menutup mulutnya terkejut saat melihat gurunya berduaan dengan seorang pria. Wajah Pakura memerah begitu mengerti isi pikiran Maki. Bahkan saat Maki pulang pun Pakura berjingkrak-jingkrak tidak elit sambil berteriak-teriak bahwa tidak ada hubungan apa-apa antara dirinya dan Sasori kepada Maki, bahkan sampai Maki menghilang dari pandangannya.
"AKU TAK MAU ADA GOSIP BODOH DIANTARA DIRIKU DAN SI SADIS MATA MENGANTUK INI!" teriak Pakura sambil menundukkan kepala suram di depan pintu. Sasori berjalan mendekati Kunoichi itu dan menepuk bahu mulusnya pelan. Pakura sedikit terkejut lalu menepis tangan Sasori kesal.
"A-ada apa?!" Tanya Pakura dengan wajah kesal. Sasori, dengan mata mengantuknya memandang tajam ke depan.
"Aku lupa…Kazekage-sama ingin mengajakmu ikut rapat besar soal misi ini. Kau harus ikut. 1 jam lagi kita akan rapat," Sasori berjalan keluar rumah Pakura sambil memasukkan kedua tanganya di kantong celana "Pakai baju Shinobimu, siapkan juga alat-alat ninja yang sering kau pakai. Emm, aku akan ke rumah Nenek Chiyo untuk menyiapkan Boneka Kugutsu-"
"Tunggu dulu!"
Sasori menoleh ke arah Pakura dengan wajah kebingungan. Alisnya mengernyit.
"Aku akan ganti baju, kita sama-sama ke sana."
"Ke rumah nenek-ku juga?" Tanya Sasori kurang yakin.
"Aku ingin memberikan nenek-mu Dorayaki," saat Pakura memandang piring Dorayaki di ruang tamu, semuanya lenyap. Dia menoleh ke arah Sasori dan Ketua Anbu Suna itu kabur dengan Dorayaki di kantung celananya.
Begitulah Sasori si Pasir Merah. Sadis, kuat, ahli Kugutsu dan benci menunggu…
.
.
.
Keduanya berjalan dalam diam saat perjalanan menuju rumah Nenek Chiyo, nenek Sasori ssekalIgus guru si Pasir Merah. Pakura sudah berganti pakaian standar-nya saat misi, yang terakhir kali dipakai yakni 5 tahun yang lalu. Dia berjalan di samping Sasori sambil memikirkan poin-poin yang dipaparkan Sasori tadi soal misi mereka.
"Emm…" Pakura mengerling ke arah Master Kugutsu tersebut. Sasori sedang melahap sebuah Dorayaki dengan tatapan sayu ke depan. Dia bahkan tampak tidak ingin mengajak Pakura mengobrol atau sejenis-nya. Pakura merasa sedikit kesal dengan sikap Ketua Anbu Suna itu. Memaksanya ikut misi dari Kazekage dengan jaminan kehidupan Maki, dan kali ini memperlakukannya seperti angin lalu. Pakura, Pahlawan Sunagakure, Kunoichi terkuat di desa ini…dia merasa harga dirinya dihina pemuda bermata sayu di sampingnya.
Tunggu dulu, kenapa dia banyak ambil hati karena tidak diajak berbicara? Pakura mendengus pelan dan berusaha kembali memikirkan poin-poin misi yang dijabarkan Sasori.
"Abha bphapha?"
"Habiskan dulu makanan di mulutmu baru bertanya bodoh." Pakura mendecih pelan lalu kembali memasang wajah berpikir.
"Bhau bhabhi bemhbembhus dheshal?"
"Apa sih yang kau omongkan?!" oke, Pakura mulai kesal.
"Bhaa..phau pheshbhal smbahbu bhan…" tangan Pakura melesat ke perut Sasori hingga pengguna Kugutsu itu memuntahkan kunyahan Dorayakinya. Tanpa perasaan, dia meninggalkan Sasori yang masih memegang perutnya dengan ekspresi kesakitan.
"Ku-kuso…berani-beraninya cewek itu," mata Sasori menajam "Sialan!" dia berlari dan kembali berjalan di samping Pakura. Akasuna no Sasori kini menampilkan ekspresi sedikit kesal.
"Oke, ada yang ingin kau bicarakan? Kenapa kau menghembus napas kesal tadi?" Tanya Sasori dengan wajah mengernyit. Pakura menghela napas lalu memasang wajah serius.
"Menurutmu apakah itu ide bagus ketika kita menculik Shion-hime dari Iwa? Tidak mengacaukan perjanjian 5 desa besar yang sudah dibuat pasca menghancurkan Uzushiogakure kah?"
Sasori memandang lurus ke depan. Saat itu sekelompok anak berlari melewati mereka sambil tertawa senang. Mata Pakura sekilas melihat pergerakan bocah-bocah tersebut.
"Ide bagus dan ide buruk. Pertimbangannya adalah apa yang terjadi jika kita tetap tidak bergerak dan apa yang terjadi jika kita bergerak. Kau tahu kan kalau fakta terbaru dan mengejutkan bahwa Yondaime Uzukage masih hidup?"
"Hmph…kau sudah menjelaskannya tadi."
"Nah, hidupnya Yondaime Uzukage membuat pilihan itu menjadi sulit. Kebenaran pertama, Gerbang Saiken masih hidup. Kebenaran kedua, Uzumaki Naruto bisa langsung ke Iwa untuk merebut istrinya. Kebenaran ketiga, Oonoki kemungkinan besar tidak akan melakukan apa-apa kepada Ratu Negeri Iblis. Kebenaran keempat, jika 3 kebenaran di atas terjadi…maka Ramalan Rikudou Sennin di kitab tuanya menjadi kenyataan."
Sasori terdiam sejenak, mungkin mencoba memberi waktu bagi Pakura mengambil poin-poin penjabaran yang ia katakan tadi.
"Jika kita tidak bergerak, Yondaime Uzukage akan lebih dulu bergerak dan mereka berdua akan menyatu. Jika kita bergerak, Suna pasti akan bentrok dengan Iwa. Kazekage-sama sudah memprediksi jikalau Tsuchikage-sama membuat suatu alasan yang membuat Suna tidak bisa mengambil Shion-hime untuk dibawa ke Suna. Maka satu-satunya cara adalah ini…" mata Sasori menajam "…Kita menculik Ratu Negeri Iblis dari Iwagakure."
Tak terasa, mereka sudah berada di depan ruman Nenek Chiyo. Sasori meninggalkan rumah neneknya semenjak dirinya diangkat menjadi Ketua Anbu oleh Kazekage ketiga. Mundur ke belakang, Sasori tinggal bersama neneknya sejak masih kecil…ketika orang tuanya gugur dalam sebuah misi.
"Baa~san!" teriak Sasori dengan nada tidak sopan "Chiyo-baa baa, aku izin masuk…" Sasori langsung masuk ke rumah tanpa izin. Jelas saja Pakura agak ilfeel dan tidak mengerti dengan sikap Ketua Anbu tersebut, apalagi saat berteriak dengan nada alay itu , Sasori tetap memasang wajah polosnya. Pakura ikutan masuk saat Sasori mempersilahkannya masuk seperti si Pasir Merah itu-lah pemilik rumah.
Dia mengikuti Sasori hingga sampai di belakang rumah, lebih tepatnya disebut gudang. Saat Sasori sedang membuka pintu gudang, seseorang sudah ada di sana sambil mengutak-atik sebuah boneka.
"Chiyo-baa baa, eh?! Ebizou-kono jiji, kenapa kau ada di sini?!"
Sasori memang kurang ajar, pikir Pakura. Bahkan memanggil adik neneknya sekaligus salah satu guru Kugutsu terbaik di Suna dengan imbuhan kono-jiji…imbuhan macam apa itu?! Lihat! Pakura memandang selidik Sasori yang hanya berdiri tenang dengan kedua tangan di saku celananya.
"Aku diminta bantuan Kazekage-sama untuk ikut dalam sebuah misi, jadi aku datang ke rumah nenekmu dan minta bantuan kepadanya membenarkan sedikit sendi-sendi bonekaku yang agak kaku. Tampaknya jadi begini karena sudah lama tak kugunakan…" kata Ebizou menjelaskan.
"Bonekamu berkarat karena sama bau kuburnya dengan usiamu." Kata Sasori santai. Ingat, santai! Di mana sopan santunmu! Teriak Pakura di dalam hatinya.
"Hahahahaha!" Nenek Chiyo dan Kakek Ebizou tertawa terbahak-bahak, menganggap kata-kata sadis dari Sasori tadi adalah lelucon. Pakura tak habis pikir kedua orang uzur di depannya tidak mengerti mana candaan mana ejekan.
"Aku tak tahu Kazekage-sama mengikutsertakan Ebizou-kono jiji ke tim yang aku pimpin," gumam Sasori pelan. Kazekage memang menyerahkan dirinya dalam misi penculikan Ratu Negeri Iblis, sedangkan sang Kazekage sendiri juga termasuk anggota tim-nya, jadi Sasori-lah yang punya kekuasaan besar di misi kali ini.
'Tetapi aku harus maklum, selain sering dijadikan penasihat oleh Sandaime Kazekage-sama, kemampuan Ebizou-kono jiji dalam ilmu Kugutsu hampir menyamai Chiyo-baa baa…aku juga banyak belajar darinya…' Sasori berjalan ke pojok gudang dan membuka sebuah kain hitam yang menutupi suatu barang.
"Kau kenapa ke gudang Sasori? Ada boneka yang ingin kau ambil?" tanya Nenek Chiyo penasaran. Mata Chiyo sedikit membulat begitu melihat dua boneka yang telah Sasori buka penutup kain hitam-nya. Ebizou juga nampak terkejut. Pakura yang merasakan aura tak enak saat ini berusaha mengintip boneka apa yang membuat dua guru dari sang Puppet Master sedikit terkejut.
Sasori memandang boneka ayah dan ibunya dengan wajah datar tanpa perasaan. Perlahan-lahan alisnya menajam.
.
.
.
29 Desember, Pukul 11. 35 malam Sunagakure (Kejadian dimundurkan 1 tanggal dari cerita lalu)
"Ayo berangkat!"
Sasori menginjak sebuah batu yang tersembul di tanah bersalju di gerbang desanya dengan senyuman tipis. Di belakangnya sudah ada Pakura, Ebizuou, Rasa dan Kazekage ketiga…bersama 50 Jounin dan 20 Anbu terpilih. Rembulan malam terlihat berwarna perak di atas kepala mereka.
Sasori melesat ke depan dan bergumam senang "Kita rebut Ratu Negeri Iblis!"
.
.
.
31 Desember, Konohagakure
Uchiha Itachi baru saja selesai mengadakan rapat empat mata dengan Ketua Anbu Konoha, Hatake Kakashi, di kantor rahasia Anbu yang tidak bisa dijelaskan di peta. Dia pulang ke rumah dan menyapa Kaa-san nya yang sedang memasak di dapur. Itachi masuk ke ruang keluarga, Uchiha Sasuke sedang tertidur di sana dalam balutan kain bayi yang lucu. Itachi mencium kening adiknya yang baru berusia 5 bulan lalu berjalan ke belakang rumah. Ayahnya sedang melempar shuriken di halaman belakang. Ada 10 target dan kesepuluhnya tertancap shuriken tepat di tengah-tengahnya. Soal kemampuan dasar seorang Uchiha, ayahnya memang nomor satu.
"Tou-san…"
"Hm?" Fugaku mengangkat tangan kanannya yang memegang shuriken tinggi-tinggi, kemudian melemparkannya ke target pertama.
Tak! Dua shuriken menancap tepat di tengah target pertama.
"Ada yang ingin kubicarakan soal rencana kudeta kita."
Fugaku berhenti sejenak untuk melempar shuriken.
"Apa itu?" Tanya Fugaku datar, kemudian melemparkan shurikennya ke target kedua. Tepat menancap di tengah-tengahnya.
"Mengevaluasi yang akan kita lakukan 1 Januari nantinya. Menurutku tidak tepat jika kita harus memulainya dengan menyerang para warga Konoha…itu akan menimbulkan kepanikan dan kekacauan, maka kudeta kita bukan hanya dibilang kudeta, tetapi pemberontakan kasar."
Fugaku melempar shuriken ke arah target ketiga. Shuriken itu berputar lalu menancap tepat di tengah target.
"Saranku, kita harus melakukan penyerangan diam-diam terhadap Yondaime Hokage saat ini…Danzo."
Nada suara Itachi yang terdengar menekan membuat Fugaku menghentikan lagi kegiatan pelemparan shurikennya. Dia menoleh ke arah anaknya dan memandang Itachi tajam.
"Kenapa harus dimulai dari orang yang dijaga penuh oleh Anbu Ne-nya itu? Bukankah akan lebih mudah kita menyandera warga sipil lalu meminta Danzo turun dari jabatan Hokage?" Fugaku menunggu jawaban Itachi. Anak sulungnya tiba-tiba mengambil dua shuriken dari tangan ayahnya dan menargetkan target lemparan kesepuluh, di mana Itachi yang berada di jam 6 sedangkan target tersebut berada di jam 3, benar-benar delevasi lemparan yang jauh.
"Karena Danzo tak akan peduli kepada warganya…" Itachi mengambil ancang-ancang. Fugaku mendengarkan serius anak sulungnya sambil memandang kagum teknik shuriken Itachi "Dan dia akan menggunakan warga untuk mempertahankan entetitas yang bernama Konoha…cara sekotor apapun akan Danzo lakukan demi Konoha, walaupun mengorbankan warganya sendiri."
Itachi melempar shuriken pertama yang membelok 30 derajat dari garis lemparan lurusnya, kemudian melemparkan shuriken kedua yang memantulkan shuriken pertama.
Tak! Shuriken itu tepat menancap di target kesepuluh. Fugaku begitu takjub dengan kemampuan anak pertamanya itu.
"Bagaimana Tou-san?" tanya Itachi.
"Akan kupertimbangkan. Hm…bukankah pacarmu Izumi adalah anggota Ne? coba kau hubungi dia soal idemu ini. Dia sudah beberapa hari tidak ikut rapat rahasia klan kita, aku khawatir dia akan dipengaruhi Danzo…"
Itachi mengangguk lalu masuk ke rumah. Dia mandi beberapa menit lalu keluar rumah lagi saat hari sudah beranjak sore. Sang Prodigy Uchiha masuk kembali ke rumahnya hanya untuk mencium adiknya Sasuke.
"Cepatlah besar agar Nii-san mu bisa melatih Teknik Shuriken…" gumam Itachi lalu menepuk pelan kepala Sasuke yang sudah mulai-mulai terbentuk style pantat ayamnya. Sasuke yang sudah bangun hanya tersenyum lebar menampilkan gigi serinya yang besar.
Itachi berjalan hingga sampai di pusat Konoha, masuk ke kedai Ramen Teuchi dan bertemu Uchiha Obito, Rin, Asuma dan Kurenai. Dia menanyakan apakah ada yang melihat Shisui dan keempatnya menjawab tidak tahu.
"Mungkin dia sedang di Training Ground 7 Itachi…" saran Obito sambil melahap mi ramennya. Itachi mengucapkan terima kasih lalu melakukan sunshin ke sana.
Saat sampai di Training Ground nomor 7, Itachi tidak menemukan satu orangpun. Dia hanya melihat sebuah kertas terlipat di kayu bagian tengah diantara tiga kayu yang ada di Training Ground tersebut. Itachi membuka lipatan kertas dan membaca isinya. Tulisan di kertas adalah tulisan Shiusi.
Itachi, aku sedang dikejar seseorang. Saat ini aku sedang menyelidiki hilangnya Izumi beberapa hari yang lalu. Tou-sanku menyarankan untuk menemui Danzo karena rahasia umum si tua itu adalah pemimpin Anbu Ne. Saat berusaha menyelidiki markas mereka, seseorang menyerangku. Aku buat surat ini di sini dengan cepat dan tolonglah ke Hutan Kematian. Aku sudah mempersiapkan pertarungan di sana melawan musuh tersebut.
Itachi, dia kuat. Aku bahkan tak akan mampu melawannya. Tetapi jika kita berdua, mungkin seimbang.
Shisui.
Itachi segera melipat kertas itu lalu memasukkannya ke dalam saku celana standar shinobi-nya. Dia segera melompat keluar Training Ground menuju Hutan Kematian yang berada di tepi desa.
'Kuso! Kenapa kau selalu berusaha bertindak sendiri Shisui?!' batin Itachi dengan Sharingan yang telah menyala.
.
.
.
Uchiha Shisui memandang musuh di hadapannya dengan Sharingan yang telah aktif. Lawannya sendiri melepas topengnya dengan gerakan angkuh dan memperlihatkan wajah cantik yang memandangnya rendah. Mata Shisui menajam. Anbu Ne yang dilawannya ini bukan orang sembarangan.
"Aku tidak pernah melihatmu di desa. Bahkan sebagai Anbu pun aku tidak tahu jika ada orang seperti dirimu di desa…"
"Karena kami tinggal di bawah tanah, karena kami adalah akar yang menopang Konoha dari kegelapan." Midoru Shizukesa maju selangkah. Shisui mulai waspada.
"Maaf saja Shisui, aku tak mau berpanjang lebar…" Shizu mengangkat topengnya "Matamu harus diambil sekarang juga!" dia melemparkan topeng Anbu Ne-nya ke Shisui dan topeng itu terbelah dua.
Tang! Tanto Shisui bertemu dengan tanto Shizu. Shisui tiba-tiba sudah berada di belakangnya, tetapi Shizukesa ternyata memiliki kesigapan yang sangat baik.
Syaat! Saat sang Midoru berkedip, Shisui tiba-tiba berada di depannya dan menendang perut Shizu. Anggota Anbu Ne itu terseret ke belakang lalu melempar dua shuriken ke arah Shisui. Shisui menangkisnya dengan mudah, lalu di depannya muncul sebuah kunai peledak. Shizu sepertinya memanfaatkan serangan beruntun jarak jauh dengan alat-alat ninjanya.
Dhuaarhhh! Ledakan terjadi. Beberapa salju berhamburan di tanah. Mata Shizu bergerak liar ke belakang, kiri, depan, atas dan bawah. Tidak ada tanda Shisui muncul dengan shunshin cepatnya. Shizu mundur dua langkah ke belakang dan tiba-tiba dari balik pohon yang berada di belakang kirinya, Shisui melompat dengan kunai terhunus ke punggung Shizu.
Sraak! Shizu menendang berputar salju di tanah sehingga gumpalan salju menyerbu tubuh Shisui. Mata Shizu melirik ke kiri, Shisui sudah ada di sana dan melayangkan kaki kanannya ke rusuk Shizu.
Duakh! Shizu terpental ke kanan tetapi dapat berpijak sempurna di tanah bersalju. Dia tersenyum, kecepatan sunshin Shisui memang patut diacungi jempol. Sangat cepat. Kalau tidak ada kemampuan merasakan kebaikan dan kejahatan hati manusia, Shizu mungkin tidak akan sempat menangkis serangan-serangan kilat tersebut.
"Katon: Goukakyuu no Jutsu!" Shisui menembakkan bola api raksasa ke arah Shizu. Mata cantik Shizu melebar, dia menggerakkan handseal dan tembok bercahaya muncul di hadapannya.
"Jinsoku: Kabe Kogen."
DHUAARHHH! Bola api raksasa Shisui menghantam dinding bercahaya Shizu dan terbelah, membakar dua pohon yang ada di samping kanan-kiri Shizukesa. Di balik temboknya Shizu menggerakkan handseal dan bergumam pelan.
"Jinsoku: Hoippu no Shuryo."
Ctassh! Puluhan tali kecil bercahaya keluar dari tembok Shizu dan menyatu menjadi sebuah tali raksasa. Mata Shisui menajam. Tali itu melesat ke arahnya dan menghantam tanah yang baru saja dipijaknya. Salju berhamburan di sana. Saat Shisui melirik ke depan, Shizu sudah ada di depannya dengan kaki kanan yang melayang menuju dagunya.
Syaaat! Shisui menghilang dengan cepat lalu muncul di belakang Shizukesa. Mata lentik Shizu melebar, saat tangan Shisui sudah memegang bahunya, sepuluh jari tangan Shizukesa sudah selesai menggerakkan handseal.
"Jinsoku: Supia Kogeki."
Dari tembok muncul dua tombak cahaya yang melesat ke arah Shisui. Shisui mencengkram bahu Shizu hingga si empu bahu mengaduh kesakitan, lebih tepatnya sang Shizukesa agak terdengar seperti perempuan yang mendesah. Shisui mengangkat Shizu lalu memutarnya ke belakang, membuat si klan Midoru itu menghadap ke arah tombak cahayanya.
"Hebat Uchiha Shisui!"
Sraang! Shizu menghilang dalam semburan cahaya dan membuat Shisui terpental ke belakang. Punggungnya menghantam tanah dan terseret ke belakang meninggalkan jejak. Salah satu tombak Shizu berubah menjadi Shizu sendiri dan tombak yang satunya menukik ke bawah menuju Shisui.
"Shun Gendan!" teriak Shiusi. Mata Shizu melebar.
Tombaknya hanya menghantam tanah kosong dan Shisui sudah berada di depannya dengan kunai yang terhunus ke lehernya. Kunai itu perlahan-lahan masuk ke tengah lehernya sehingga darah kental mengalir ke bawah. Darah kental yang menghitam.
"Kai!" Shizu membentuk segel release dari Genjutsu mematikan Shisui, dua detik..Shisui sudah berada di belakang Shizu dengan tubuh berapi.
"Ninpou: Katon Shun!"
Braaarhhh! Tangan bercahaya Shizu menahan serangan cepat Shisui yang dikombinasikan dari teknik Sunshin dan Katon. Shizu mendecih pelan "Jinsoku: Karui Dageki-ku keluar…"
Tiba-tiba mata Shizukesa terbelalak lebar. Shisui masih sempat menggerakkan handseal dan mundur cepat ke belakang.
"Katon: Gouryuuka no Jutsu!"
Belum sempat Shizu bernapas untuk memikirkan bagaimana caranya menahan serangan naga api raksasa yang melesat ke arahnya, Shisui sudah menembakkan serangan Katon lagi dari mulutnya.
"Katon: Dai Endan!"
'Keparat! Semuanya adalah jutsu api Rank-A!' Shizu berputar lalu mengarahkan tinjuan bercahayanya ke mulut naga api Shisui yang terbuka lebar.
"Ghoaaaaaa!" api itu bahkan berbunyi seperti naga. Shizu mengambil sebuah kunai dengan tangan kirinya yang bebas.
"Jinsoku: Karui Dageki!"
Terdengar bunyi dentuman dhaarh dhaarh dhaarh tiga kali di mana api berbentuk naga dari Shisui pecah oleh tinjuan bercahaya Shizukesa, tetapi peluru api raksasa sudah menunggu sang Midoru. Shizu tetap maju dan melayangkan pukulan cahayanya yang mengerikan.
BLAAAARHHH! Peluru api Shisui pecah, mata sharingan Shiusi melebar. Shizu muncul di balik kepulan asap dan melempar kunainya ke arah mata kanan Shisui. Dengan cepat Uchiha itu menangkap kunai dengan tangan kanannya.
"Hm…" Shizu tersenyum tipis "Jinsoku: Supia Kogeki…" gumam sang Midoru dan beberapa saat kemudian kunai yang dipegang Shisui bersinar lalu berubah menjadi tombak cahaya yang berkilauan. Telapak tangan kanan Shisui bagian depan, yang ada jari telunjuk hingga kelingkingnya terputus. Potongan itu berputar ke bawah dengan darah merah yang melayang-layang di udara. Shizu maju dan menghantam wajah Shisui dengan tangan bercahayanya. Tubuh Shisui melayang ke belakang lalu menghantam sebuah pohon di bagian atas-nya. Batang pohon yang besar itu retak. Saat tubuh Shisui ingin jatuh ke tanah, Shizu melesat cepat ke arahnya dan menancapkan tanto-nya ke dada tengah Shisui hingga sang Uchiha menancap di batang pohon. Gumpalan darah keluar dari mulut Shisui dan mengenai helaian depan rambut Shizukesa. Coklat keemasan itu kini dipenuhi hiasan kemerahan.
Warna kematian…
'Apa aku harus menggunakan Koto Amatsukami?!' Shisui terbatuk lalu mengeluarkan darah lagi dari mulutnya. Saat kepalanya mendongak memandang Shizukesa, dia langsung berteriak kesakitan karena sang Midoru sudah mencongkel mata kanannya.
"GHAAAAAAAAAAAAA!"
"!" Itachi yang sudah memasuki Hutan Kematian mengangkat kepalanya terkejut ketika mendengar suara teriakan sahabatnya. Shisui adalah tipe orang yang tenang bahkan saat bertarung sekalipun, jika dia berteriak…Itachi mempercepat lompatannya. Sahabatnya sedang berada dalam bahaya!
"SHISUIII! SHISUIII!" teriak Itachi, sedikit emosi. Sharingannya mulai kesakitan, entah kenapa dia mulai merasakan ada sesuatu 'panas' yang membakar iris matanya. Dia berbelok ke kanan dan melompat cepat dengan wajah cemas.
"SHISUIIII!"
Shizukesa yang sudah siap mencongkel mata kiri Shisui mendecih pelan. Saat dia melirik ke belakang, sebuah kaki melayang ke arah kepalanya. Shizukesa menahan dengan pergelangan kirinya lalu melompat salto ke samping kanan. Dia berpijak di salah satu cabang pohon, bersamaan, Midoru Shizukesa melempar enam kunai peledak secara cepat dan beruntun ke arah Itachi yang mencabut tanto sang Midoru dari Shisui. Shizukesa memang tidak kehabisan akal. Mata Itachi memandang ke arah Shizu dan sang Midoru langsung jatuh terduduk.
DEG! Kegelapan yang pekat menyesakkan dadanya. Saat dia mengangkat kepalanya, Itachi sempat membawa Shisui menghindar dari lemparan 6 kunai peledaknya sehingga 6 kunai itu hanya meledakkan batang pohon dan tanah.
"Menarik…dia membangkitkan Mangenkyou Sharingannya" gumam Shizu pelan, dia berdiri dan memandang bola mata Sharingan dengan Genjutsu terkuat milik Uchiha Shisui.
'Satu saja sudah cukup…' batin sang Midoru dengan hembusan salju yang menyapu ke arahnya. Dia menghilang dari pandangan saat setumpuk salju yang melayang di hadapannya tadi juga kembali jatuh ke tanah.
.
.
.
Itachi membaringkan Shisui di sebuah padang rumput di mana bagian ujungnya adalah jurang yang berada di atas sebuah sungai yang deras. Itachi menggigit bibirnya, dia terisak pelan dan mata Mangenkyou-nya yang masih menyala meneteskan air mata. Air itu jatuh perlahan-lahan ke dagu Itachi lalu menetes di wajah Shisui. Shisui membuka matanya perlahan lalu memandang wajah menyedihkan Itachi.
"Keh…wajahmu menyedihkan." Ternyata Shisui menyadarinya.
"Shi-Shisui?! K-kau…"
"Baka, jangan buat adegan kita seperti sepasang homo, Itachi…" Shisui tiba-tiba bergerak duduk sambil memegang luka di bagian tengah dadanya. Terasa perih dan sulit bernapas. Mata kanannya tertutup serta memperlihatkan liquid merah kental yang mengalir di pipi kanannya. Keadaan Shisui sangat menyedihkan…seharusnya Itachi-lah yang mengatakan hal itu kepada sahabatnya! Bukan dirinya yang tak berguna ini…
"Kau tak boleh menangis hanya karena satu Uchiha saja," Shisui bangkit perlahan-lahan dan berjalan terhuyung ke tepi jurang. Mata Itachi bergetar pelan.
"Shi-Shisui…Shisui?! Apa yang kau lakukan?!"
Shisui memandang ke bawah sungai dengan senyuman tipis. Itachi bangkit perlahan dan memandang getir sahabatnya. Tidak pernah dia merasakan kesakitan hati yang begitu amat perih.
"Maaf aku tidak bisa mencari tahu soal Izumi…tetapi aku harap dia baik-baik saja," Shisui berhenti sejenak "Oh ya…kau tahu arti ninja yang sebenarnya Itachi?"
Mata Itachi membulat pelan.
"Ninja adalah pahlawan yang bergerak dalam bayang-bayang. Ingat itu! Kita hidup demi desa yang kita cintai…kau tahu kan kenapa burung gagak selalu muncul di ilusimu?" Shisui tertawa renyah "Karena kau memandang dunia ini secara suram."
"Shi-Shisui…" gumam Itachi pelan. Dia berjalan mendekati sahabatnya. Matanya kembali normal menjadi Sharingan tiga tomoe.
"Kau akan tahu nanti jika bertapak di jalan yang berliku dan orang meneriakimu ninja, padahal kau tidak melakukan arti ninja yang sebenarnya…" Shisui mengusap mata kirinya yang tersisa, lalu membalikkan badannya ke arah Itachi.
"Ambil-lah, walaupun jasadku tidak berguna untuk menyelamatkan Konoha dan Klan kita, kuharap mataku akan membantu…"
Itachi menggigit bibirnya. Wajah putra sulung Fugaku yang selalu cool dan kalem itu terlihat 1000 super nista bagi Shisui. Jika Izumi melihatnya, dia pasti akan memutuskan Itachi sekarang.
"Hahaha, hentikan wajah bodohmu itu….kau akan membuat Sasuke kecil tertawa," Shisui mengambil mata kirinya dengan tangan kirinya lalu memberikannya kepada Itachi. Tangan Itachi bahkan bergetar saat menerima hadiah terakhir dari temannya tersebut.
"Selamatkan desa dan orang yang kita cintai…Itachi," Shisui tersenyum sambil menjatuhkan dirinya ke sungai "Sampaikan salamku untuk orang-orang Uzu yang kita selamatkan, jika Yondaime Uzukage masih hidup…aku minta tolong kepadanya,"
Itachi jatuh terduduk dengan lutut, tangan, bahu, mata, dan seluruh tubuh yang bergetar hebat.
"Wujudkan impianku dan impian sahabat terbaikku, Uchiha Itachi, agar semua yang dicintainya selamat. Dia tidak harus menanggung kebencian seorang diri, karena ninja juga…"
"…Punya hati."
Itachi menundukkan kepalanya. Hanya hembusan angin musim dingin yang menyambut isakan pelan Itachi saat itu.
TBC
Jutsu Update
Midoru Shizukesa-The Best Anbu Ne Konoha
Jinsoku: Kabe Kogen. Shizukesa membuat dinding cahaya yang sangat kuat, sebagai pertahanan terbaiknya.
Jinsoku: Hoippu no Shuryo. Dari dinding cahaya Shizu, muncul cambuk-cambuk kecil yang nantinya menyatu menjadi cambuk besar untuk melecut/menyerang musuh.
Jinsoku: Supia Kogeki. Shizukesa membuat tombak cahaya yang bisa dikombinasikan menjadi berbagai macam teknik.
Jinsoku: Karui Dageki. Shizukesa melapisi tangannya dengan elemen cahaya yang menambah damage kekuatan pukulan sang Midoru
(Cat: semua jutsu Midoru Shizukesa diambil dari referensi Fic The Best Team.)
Uchiha Shisui-The Best Anbu Konoha, Prodigy's Uchiha, Shunshin no Shisui
Katon: Goukakyuu no Jutsu. Jutsu Bola api khas klan Uchiha.
Shun Gendan. Teknik penggabungan Shunshin dan Genjutsu cepat yang dimiliki Shisui. Lawan akan terperangkap dalam Genjutsu cepat sementara Shisui sudah berada di depan lawan untuk melumpuhkan.
Ninpou: Katon Shun. Gabungan antara teknik api Uchiha dan Shunshin. Shisui menciptakan api yang menyambar dengan gabungan dua teknik tersebut.
Katon: Gouryuuka no Jutsu. Jurus Ryuuka no Jutsu dengan ukuran yang lebih besar sehingga api bahkan terlihat mirip dengan bentuk naga.
Katon: Dai Endan. Shisui membuat peluru-peluru api raksasa yang menyerang lawan dengan cepat.
Sharingan: Koto Amatsukami. Genjutsu terkuat yang bisa mengendalikan pikiran lawan tanpa sadar dan tanpa perantara . Genjutsu ini hanya dimiliki Sharingan Shisui dengan kemampuan luar biasanya.
Author Note:
Waduh, kok jadi angst gini? Ya sudahlah, Uchiha Shisui sudah melakukan yang terbaik untuk jalannya fic ini, terima kasih atas kata-kata terakhirnya yang menakjubkan lewat isi pikiran Icha.
Beberapa status warga dan ninja Konoha sudah diketahui, seperti umur Sasuke dan juga status Obito yang ternyata masih ada di Konoha. Readers bisa menyimpulkan alur cerita ini selanjutnya.
Jujur saja, arc ini masih cukup panjang sebelum mencapai arc terakhir The Uzukage part 2. Ane harap masih bisa memberikan Happy Fun Read kepada readers di Fandom Naruto ketika anime-nya sendiri mencapai batasnya.
Final Chapter akan segera rilis kan? Naruto Vs Sasuke pertarungan kedua…hm, semoga saja Pierrot mengerjakannya dengan serius menjadi pertarungan terbaik di anime tersebut.
Ane akan memberikan rangkuman jawaban dan pertanyaan dari para Reader di chapter 35 dan 34 di sesi Question and Answers. Check Out!
Q: Naruto punya sisi gelap?
A: Pertanyaan bagus dari beberapa Readers. Saya mungkin jawabnya agak mengaburkan. Saya menjawab kemungkinan iya maupun kemungkinan tidak. Tetapi menilik *bahasa (?)* dari chapter lalu ketika Shizukesa bisa merasakan kegelapan yang menyesakkan dadanya, Readers bisa membuat kesimpulan sendiri.
Q: Akan ada perang ninja dengan tujuan Mugen Tsukuyomi (sama seperti di Cannon)?
A: Ehem, pertanyaan yang cukup jauh, tetapi saya hanya bisa katakan…tunggu di cerita selanjutnya.
Q: Akan ada perang Uzu Vs Konoha?
A: Saya hanya bisa jawab kemungkinan besar ada, karena konfrontasi awal dari pihak Danzo menjadi pemicu perang tersebut. Ah…kita lihat next story.
Q: Fugaku paling kompeten? Kenapa tidak Minato? Apa Minato sudah mati?
A: Maksud dari rencana Shisui sendiri adalah bahwa Uchiha Fugaku paling kompeten di generasi para Uchihanya sendiri gan. Yap, status Minato yang belum diketahui dan di chap 1 diketahui bahwa sudah 'kalah' melawan 5 Kage kemungkinan menjadi indikasi besar bahwa beliau sudah mati, tetapi baru kemungkinan gan.
Q: Itachi akan membantai semua Uchiha?
A: Hehehe, kita lihat tindakan Itachi selanjutnya bro.
Q: Sumi-Kyo Zero adalah Yami?
A: Unknown status. Saya hanya bisa katakan, mari kita lihat di next story.
Q: Final Battle, Uzumaki Naruto Vs Midoru Shizukesa?
A: Belum diketahui gan. Masih banyak yang saya pikirkan siapa yang berhak melawan Yondaime Uzukage di akhir fic.
Baiklah, terima kasih atas reviewnya. Semoga kalian terhibur dan bisa mengambil hikmah dar cerita yang ane paparkan, walaupun mungkin ga ada hikmahnya haha.
RnR?
Tertanda. Doni Ren
