Ahh ahhh ahhh! Saya udah ngak tahan mau ngetik! Padahal besok masih ada 2 pelajaran UTS! Aaaahh! Biar deh! Gak lama-lama amat kan ngetik? *konsentrasi penuh*
Sepertinya saya harus menjawab beberapa pertanyaan yang cukup populer.
# About Rated: This story will NEVER be rated M. Why? Because:
1. I'm such a kid. Not an adult.
2. I dunno what kind of bullshit that i would write about it
3. My friend gonna give me a BUFUDYNE, every second in my live
4. I hate, hate, totally hate disgusting things
5. I never-ever-ever wanna try to write about IT
6. The last.. I don't want to tarnishing Seta and Amagi name in my fic. If it your fic, i will shut up.
# About How Long This Story To The End:
Well, i dunno. Hehehee, I think this will be 40 or 50 chapter. Sorry if it takes too long. But, i would try my best to keep the story not boring. If you guys don't mind, keep waiting, please?
Siapa sangka, tidur berdua itu sangat nyaman?
07.10...
Aku membuka mata. Hmmm, nyenyak sekali tidurku. Aku baru mau menggeliat ketika menyadari Yukiko masih di pelukanku. Kutatap wajahnya. Damai. Ini pertama kalinya aku memperhatikan Yukiko tidur dari jarak sedekat ini. Wajah manisnya tak berubah. Namun, ada kesan lebih tenang. Pengen gigit wajahnya, tapi kasian Yukiko-nya.
Aku mendekap Yukiko dan membiarkan waktu berjalan tanpa melakukan apa-apa.
07.45..
Yukiko bergerak sedikit. Aku melepas pelukanku. "Mmmmhhh.." Yukiko bersuara, lalu ia mengucek-ngucek mata. "Hei." Sapaku semangat. "Souji?" Ia memanggilku. "Ya?" Balasku. "Kau sudah bangun? Kenapa tak membangunkanku?" Ia bertanya. Aku bingung, "Kenapa aku mesti membangunkanmu?" Aku balas bertanya. Yukiko menatapku, "Kaukan sering bangun duluan. Kenapa tak sekalian bangunkan aku?" Ia bertanya lagi.
Aku menarik selimut hingga menutupi leher, "Aku senang melihatmu tidur." Aku berbisik tiba-tiba. Yukiko kaget, lalu wajahnya merah, "Kau menontoni aku tidur?" Tanyanya tak percaya. Aku mengangguk sambil tersenyum. "Bandel!" Ia menjitak keningku dengan main-main. Aku terkekeh.
"Selamat pagi, Yukiko." Ucapku setelah wajahnya tak merah. "Met pagi juga." Balasnya. Kami sama-sama tersenyum. "Mandi yuk!" Tiba-tiba Yukiko berdiri dan bersiap-siap mandi. Aku tetap di kasur dan berguling-guling seperti anak anjing. Yukiko tertawa dan menggeleng-geleng.
08.15.
Aku keluar kamar mandi. Aku melihat Yukiko sedang menyisir rambut di kaca. Lalu, aku menjemur handuk. Aku teringat, ini adalah hari terakhir kami. Aduh, rasanya belum cukup. Aku mendesah. Egoisnya aku.
Saat aku masuk ke kamar lagi, Yukiko sedang beres-beres kasur dengan lesu. "Ada apa?" Tanyaku. Yukiko mengangkat bahu, "Kita akan pulang siang ini, eh?" Ucapnya. Aku mengangguk, ternyata Yukiko juga kepikiran. Yukiko mendesah.
"Ya, aku tau. Rasanya kurang lama." Kataku. Yukiko mengangguk setuju, "Mentang-mentang sudah senior, tugas jadi 3x lipat lebih banyak. Try out di mana-mana. Dan tak banyak waktu untuk bersantai." Kata Yukiko dengan lemas. Memang sih, kami sudah dewasa. Akhir musim semi nanti, kami sudah ujian nasional. Aku ikutan lemas.
Kami terdiam cukup lama. Aku memutuskan, lebih baik tak mengeluh dulu sekarang. "Kau pakai warna apa, Yukiko?" Tanyaku jahil. Hanya butuh 2 detik untuk Yukiko menyadari kalau aku menanyai pakaian dalamnya. Ia ternganga dan wajahnya terbakar merona. Aku mulai khawatir, apakah Yukiko bernapas..?
"Mesum!" Ucapnya sambil berjalan ke pintu. Wajahnya masih merah, aku tertawa.
10.00..
"Bip bip bip bip! Makanan sudah siaaaaapp!" Ujar Rise.
Tadi, anak-anak cewek sepakat. Karena ini hari terakhir, kami akan masak sendiri. Sarapan, giliran anak cewek. Nanti saat makan siang, giliran anak cowok. Kelompok yang masakannya lebih tidak enak, akan kena detensi menjajani kelompok pemenangnya selama sebulan penuh. Jadi, kami semua harap-harap cemas.
Makanan anak-anak cewek di hidangkan di depan kami. Berupa..
*gulp* ...
Sesuatu mirip.. Sop..? Dengan warna hijau ke unguan..
Daging berwarna... Hitam.. Gosong, maksudku..
Ada sesuatu yang awalnya kukira susu. Namun, saat kuhirup baunya...
Bau kambing.. Aku segera menaruhnya jauh-jauh.
Nasi putih, normal..
Dan, oh syukurlah, ada telur dadar. Tak gosong, tak cacat, dan pakai cabe.
Anak-anak cowok bertukar pandang. "Selamat makaaaaan!" Anak-anak cewek meneriaki kami. Mau apa lagi? Kami terpojok. Aku mengambil nasi, seduikit, dan telur. Ke-tiga anak cowok lain mengikutiku. Namun, sayang, si Teddie mengambil susu. Saat ia meminumnya... "Buuuffffkkkhh!" Ia menyemburkannya.
"Hei. Ada apa?" Tanya Chie.
Teddie batuk-batuk. "Se-sepertinya.. Susu ini sudah basi, Senpai!" Ujar Teddie. "Eh? Masa?" Chie mengambur ke dapur. Seketika ia kembali. "Hehehee, maaf ted!" Chie cengengesan bersalah.
Chie = FAILED
Aku melihat Yosuke dan Kanji menggeleng-geleng. Lalu, "Hei, makanlah sopku. Kujamin, akan membuatmu melayang!" Kata Yukiko. Anak-anak cowok menelan ludah. Kanji jadi korban, karena ia yang berada paling dekat dengan letak sop itu. Ia terpojok, dan terpaksa memakannya. Seketika, ia berlari ke toilet. Kami mendengar suara muntahan.
Yukiko = FAILED
"Senpai senpai senpai! Souji Senpai! Makanlah dagingku! Yah, luarnya sih gosong. Tapi, dalamnya pasti enaaak~!" Rise menyuruhku. Ugh, aku gantian terpojok. Aku mengambilnya, memotongnya, dan memakannya. "Bagaimana? Bagaimana?" Rise heboh. Aku membeku.
Rasanya... Pahit...
Kosong...
Kenyal..
Tak dapat di telan..
Dan asam..
Aku berlari mengikuti Kanji.
Rise = FAILED
"Berarti.. Yang bikin nasi dan telurnya.." Ucap Yosuke saat aku, Kanji, dan Teddie sudah smaput. "Aku, Senpai." Ucap Naoto. "Ohh, baik. Kumakan!" Ucap Yosuke senang hati. Karena.. Kelihatannya, telur dan nasi itu tak buruk sama sekali. Sempurna malah. Tapi Yosuke.. "BUAAAAHKHKH!" Ia menaruh piring di meja dan segera berlari ke dispenser. Ia minum seperti dari keran, padahal itu dispenser.
"PEDAAAASSH! Kau kasih apa saja NAOTO?" Yosuke masih minum dari dispenser. Naoto mencoba masakannya sendiri. "Hmmm.. Wasabi, cabe rawit, cabe ijo, cabe merah, dan bawang." Katanya sambil makan telur buatannya dengan baik-baik saja. Yaaahhh, Naoto mungkin tahan dengan segala macam cabe-cabe-an itu. Tapi Yosuke MANUSIA BIASA!
Naoto = FAILED
Anak-anak cowok langsung tak mood makan.
11.00..
Sejak sarapan tadi, kami dapat waktu bebas mau ngapain saja dengan siapa aja ke mana saja yang dekat-dekat sini. Well, tentu aku sama Yukiko. Ngapain? Pacaran di belakang villa. Heehehe, gak modal yah..?
Nah, sekarang ini waktunya anak cowok unjuk kebolehan. Sementara anak-anak cewek di ruang TV, aku dan kawan-kawan di dapur. "Siapa yang bisa masak?" Tanya Kanji. Aku mengangkat tangan. "Whoa! Serius Sou?" Tanya Yosuke tak percaya. Aku mengangguk setengah bingung.
"Ooohh, kalau begitu, Master Seta! Mohon bantuannya!" Ucap Teddie. "Yap, kau harus menyuruh kami melakukan sesuatu, Senpai." Lanjut Kanji. Aku mengangguk pasrah. "Yosu, potong bahan-bahan yang kutunjuk. Kanji, tolong belikan apa yang ada di daftar. Teddie, masak nasi lalu bantu aku." Ujarku. Kamipun bekerja.
13.13..
"Taaa daaaa!" Ucapku saat aku membuka tudung saji. Anak-anak cewek terkesiap.
Aku membuat..
Beef yakiniku, tempura, semangkuk besar oden, dan sashimi!
Hehehehe, dan ada nasi putih juga. Untuk minuman.. Tadi Kanji sudah menyiapkan sirup.
"Selamat makaaaann!" Anak-anak langsung mengambil piring dan makan.
Yep, dengan ini, aku bisa menghemat uang jajan selama sebulan. Hahahahaaa! XD
14.00..
Yep, anak-anak cewek sudah mengakui kekalahan mereka. Dan mereka sudah berjanji akan menjajani anak-anak cowok selama sebulan. Chie dan Rise sempat mengeluh karena sebagian besar aku yang masak. Well, now is time to go home.. Hhhh, we're packing..
Aku dan Yukiko sibuk membereskan kamar kami. Lalu menaruh barang-barang kembali ke koper. "Makananmu lezat, Souji-kun." Kata Yukiko. Aku tersenyum, "Terimakasih." Kataku. "Kapan-kapan, bikini aku bekal ya." Yukiko merayuku. Aku tertawa, "Tentu tentu."
15.00..
Kami sudah di mobil. Tadi, saat aku sudah mau naik mobil, aku sempat bertanya pada bodyguard akan kabar si pelayan yang ada di kantor polisi itu. Mereka bilang, proses hukumannya akan segera keluar, dan mereka menyuruhku tak usah khawatir. Mereka juga sudah mengontak Ayah Rise tanpa sepengetahuan Rise. Sekarang, semuanya sudah teratasi di tangan Ayah Rise. Fuuhh, syukurlah.
18.00..
Sekarang, aku tengah berjalan berdua dengan Yukiko menuju rumah Yukiko. Kami berdelapan di turuni di dekat pertokoan, Rise iseng-iseng ikut turun. Dan kami berpencar, berpasangan menuju rumah masing-masing. Kecuali aku, yang memastikan Yukiko pulang dengan selamat setiap hari.
Barangku dan Yukiko tak sebanyak Kanji atau Teddie, jadi kami cukup enteng berjalan-jalan. Aku dan Yukiko belum bicara hingga saat ini.
"Apa kau masih sedikit takut?" Tanyaku mengisi keheningan. Yukiko menggeleng, "Kuharap tidak." Jawabnya perlahan. Aku mengangguk, "Memangnya kenapa?" Yukiko gantian bertanya padaku. "Yah, tentu saja karena malam ini kita tak bisa tidur bareng lagi." Sahutku enteng. Wajah Yukiko merah padam.
Love, Love, Love, Love, Love
Giving me
Love, Love, Love
More than I ever need
"D-dasar bodoh. Nanti, kalau sudah menikah juga bisa." Jawab Yukiko, keceplosan. Mendengar kalimat itu datang dari Yukiko, membuatku kaget. Wajah Yukiko merah padam. "Tunggu. B-bukan maksudku.. A-ku.. Emm.." Ia gagap. Aku tersenyum senang, "Kau mau jadi istriku, kalau begitu?" Tanyaku semangat.
Love, you're so distracting
Am I overreacting, For feeling this way
And ever, since I met ya, I can't keep my attention
And you are to blame
Wajah Yukiko makin merah, ia membuang muka. Aku menunggu jawaban yang tak kunjung datan. "Hei, kau tak mau?" Aku memelankan suara, sedih. Aku sedang memancing Yukiko, hehehe. Yukiko segera menjawab, "W-well, mana mungkin aku tak mau." Wohoooo! Yukiko terpancing. Wajahnya lagi-lagi merah. Aku tersenyum dan memeluk Yukiko.
You're love's a permanent distraction, a perfect interaction
a feeling so extreme
I lost my appetite to eat, and I barely get to sleep
Cause you're even in my dreams
And I thought that I was strong but I knew that all along, this was out of my control
So I fell into your hands, and i don't know where we'll land,
I'm just going with the flow
"Kapan-kapan, kalau kau sudah siap, mari kita wujudkan!" Bisikku di telinganya. Kepulan asap dingin keluar dari mulutku. Yukiko membalas pelukanku dengan malu, "Y-yeah.." Ia balas berbisik. Begitu saja, kami telah membuat janji.. Untuk masa depan kami.
Love, Love, Love, Love, Love
Somedays, I want to run away
This feels so perfect, it's breaking my heart
Yeah we could, we could stay here happy
Or after summer, be two worlds apart
Setelah cukup lama, aku melepas Yukiko. Wajahnya masih merah. Aku tertawa. "H-hei! Tak lucu ta-!" Aku membekap mulut Yukiko dengan bibirku. Yukiko kaget, namun setelah beberapa saat menyesuaikan diri, ia membalasnya. Seakan ada peringatan dari alam karena aku kebanyakan menciumi Yukiko.. Tiba-tiba...
BHUAK!
Tumpukkan es dari pohon menjatuhi kami.
You're love's a permanent distraction, a perfect interaction
a feeling so extreme
I lost my appetite to eat, and I barely get to sleep
Cause you're even in my dreams
And I thought that I was strong but I knew that all along, this was out of my control
So I fell into your hands, and i don't know where we'll land,
I'm just going with the flow
Giving me, Love Love Love, Love Love
More than i ever need
Giving me Love Love Love
Kepalaku dan Yukiko terselimuti es. Kami segera melepaskan diri. "Ahh! Dingin!" Aku menggosok-gosok rambutku yang berselimut es. Sambil tertawa, Yukiko melakukan hal yang sama. Aku ikutan tertawa.
You're Love, Is coming like a freight train
Ain't nothing gonna stop it,
It's heading for my heart,
You're Love, is bigger than a rain cloud
It covered up my whole skies
It's filling up my heart,
My heart with
Love, Love, Love, Love, Love
More than I ever need
giving me
Love, Love, Love
"Kalau begitu, mari latihan meng-ikrarkan janji." Ajakku. Yukiko menatapku bingung, "Janji..?" Ia bertanya. Aku mengangguk. Lalu aku mulai bersiap-siap. Aku berdiri di hadapan Yukiko. Menggenggam kedua tangannnya. Seketika, semburat merah tersirat di wajah Yukiko.
You're love's a permanent distraction, a perfect interaction
a feeling so extreme
I lost my appetite to eat, and I barely get to sleep
Cause you're even in my dreams
And I thought that I was strong but I knew that all along, this was out of my control
So I fell into your hands, and i don't know where we'll land,
I'm just going with the flow
"Sudikah kau, Yukiko Amagi, menjadi pendamping hidupku? Saat sakit, saat miskin, hingga sekarat. Selamanya?" Ucapku penuh penghayatan.
...
"Yes, I do." Balasnya dengan gaya pengantin bule. Wajahnya merona.
...
"Dan sudikah kau, Souji Seta, menemaniku sepanjang hidup, sebagai pasanganku?" Yukiko bertanya.
...
"No way I say no." Balasku. Kami saling mendekatkan wajah...
Giving me
Love, Love, Love, Love, Love
More than I ever need
Giving me
Love, Love, Love, Love, Love
More than I ever need
Giving me
Love, Love, Love, Love, Love
Giving me
Love, Love, Love, Love, Love
More than I ever need*
*= Hope feat Jason Mraz – Love Love Love
Hihihihii, nih Author sarap mau ngasi tau...
Kalau, cerita ini sudah mau sampai ke arah ending.
Sesuai janji saya, saya tak memberitau apakah akan happy end. atau tragic end.
Kira-kira yang mana yaaaaaa...?
Well, info selanjutnya!
Saya kepikiran bikin "Let Go (Different Story)"..
Tentang apa? Tentang Yosuke & Chie. Namun, saya bikin waktu, kejadian, dan tempatnya sesuai di sini. Dari cara pandang Yosuke. Ngak ngerti? Well, sebagai contoh:
# Waktu Souji dan Yukiko baru pacaran, dan sesekolah gempar. Apa pendapat Yosuke? Di mana Yosuke saat itu? Di sana, saya bahas.
# Kalau di sini, kan Souji sukanya ngodain Yukiko di balik punggung teman-temannya. Nah, di sana, kita jadi Yosuke. Bisa aja kan, Yosuke tak sengaja mendengar.
#Di sana, kalian bisa mendengar apa pendapat Yosuke pada hal-hal yang terjadi.
# Di sana, kita mengikuti segala yang Yosuke tahu dan apa yang terjadi pada Yosuke.
Itulah ide saya. Mungkin saya akan mulai mengerjakan different story itu setelah ini tamat. Tak tahu deh apa bakal abal atau lumayan.
Mohon dukungannya ya! Arigatou!
...
And i wish your pray for my test result! Please?
Cause if I get red score, I'll dead.. .
